{"id":13681,"date":"2024-01-22T13:56:39","date_gmt":"2024-01-22T05:56:39","guid":{"rendered":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/?post_type=blog&#038;p=13681"},"modified":"2024-09-20T14:08:10","modified_gmt":"2024-09-20T06:08:10","slug":"kitab-akhlaq-lil-banat-djuz-3-6-adab-berkunjung-dan-minta-izin-adab-menjenguk-orang-sakit-dan-adab-orang-sakit","status":"publish","type":"blog","link":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/kitab-akhlaq-lil-banat-djuz-3-6-adab-berkunjung-dan-minta-izin-adab-menjenguk-orang-sakit-dan-adab-orang-sakit\/","title":{"rendered":"Kitab Akhlaq lil Banat \u2013 Djuz 3 (6): Adab Berkunjung dan Minta Izin, Adab Menjenguk Orang Sakit dan Adab Orang Sakit"},"content":{"rendered":"<p><strong>BLOGGURU<\/strong>\u00a0\u2013 Berikut ini terjemah dari Kitab Dasar Akhlaq \u2013 Djuz 3, yang diperuntukkan bagi Perempuan (Remaja Putri pada khususnya), yang diajarkan kitabnya pada banyak Pondok Pesantren atau Madrasah setingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah.<\/p>\n<p><strong>Adab Berkunjung dan Minta Izin<\/strong><\/p>\n<p>1. Wahai putri! patutlah engkau memperhatikan kunjunganmu kepada para kerabatmu, karena hal itu berarti menjalankan silaturrahmi. Di samping itu perhatikan pula untuk mengunjungi teman-teman wanitamu agar tetap terjalin hubungan saling mencinta dengan mereka.<\/p>\n<p>Dalam hadits: \u201cBarangsiapa menjenguk orang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Allah, maka dua malaikat menyerunya: Berbahagialah engkau dan amanlah perjalananmu serta akan engkau tempati sebuah rumah di surga nanti.\u201d<\/p>\n<p>2. Hendaklah engkau jalankan adab-adab dalam berkunjung sebagaimana berikut ini, yaitu: Hendaklah engkau minta izin terlebih dahulu sebelum masuk, dengan berdiri di depan pintu luar rumah, supaya tidak melihat orang yang ada di dalamnya. Dalam hadits dikatakan: \u201cSesungguhnya minta izin itu diharuskan, demi menjaga pandangan.\u201d<\/p>\n<p>Disunnahkan bagimu untuk memberi salam, kemudian meminta izin dengan berkata, \u201d Assalamu\u2019alaikum, bolehkah saya masuk?\u201d Apabila pintu telah terbuka, maka menghadaplah ke sisi kanan atau kiri. Disebutkan dalam hadits: \u201cAdalah Rasulullah SAW. apabila beliau mendatangi pintu rumah seseorang tidaklah beliau menghadap pintu dari depannya, tetapi dari sisi kanan atau kirinya. Kemudian beliau mengatakan: Assalamu\u2019alaikum, Assalamu\u2019alaikum.\u201d Hal itu disebabkan rumah-rumah pada waktu itu tidak memakai tabir\/tirai.<\/p>\n<p>3. Bilamana pintunya tertutup, maka ketuklah dengan pelan. Jika ada bel, maka bunyikanlah tanpa mengejutkan dan \u2018 tanpa keras-keras. Allah telah mengajari kita adab-adab untuk minta izin, yaitu dalam firman Allah Ta\u2019ala: \u201cHai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu selalu ingat. Jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin\u201d (An-Nuur: 27, 28).<\/p>\n<p>4. Minta izin itu bisa dilakukan sampai tiga kali. Dalam hadits disebutkan: \u201cApabila seseorang dari kamu minta izin sampai tiga kali sedang ia tidak diberi izin, maka hendaklah ia pulang.\u201d<\/p>\n<p>Jika dikatakan kepadamu: siapa kamu? atau siapa yang di pintu? maka jawablah dengan menegaskan namamu. Jangan menjawab: saya, atau temanmu, dan yang semacam itu. Kecuali apabila pemilik rumah sudah mengenal suaramu, maka tidaklah mengapa kalau begitu.<\/p>\n<p>Dalam hadits Mi\u2019raj disebutkan : Ketika Jibril minta dibukakan pintu langit, dikatakan kepadanya,\u201d Siapa ini?\u201d Jibril menjawab, \u201cJibril.\u201d<\/p>\n<p>Sahabat Jabir r.a. berkata: Suatu ketika aku mendatangi Nabi SAW., lalu kuketuk pintu. Nabi SAW. berkata, \u201cSiapa ini?\u201d Aku menjawab, \u201cAku.\u201d Maka Nabi SAW. berkata, \u201cAku, aku.\u201d Nampaknya beliau tidak menyukai jawaban itu.<\/p>\n<p>Pernah pula seorang laki-laki mengetuk pintu seorang ulama\u2019. Orang alim itu berkata, \u201cSiapa?\u201d Orang itu menjawab, \u201cSaya.\u201d Maka orang alim itu berkata, \u201cAku tidak mengenal seorang pun dari saudara-saudara kami yang bernama saya.\u201d Apabila dikatakan kepadamu pemilik rumah sedang tidak ada, maka janganlah marah dan berburuk sangka bahwa ia tidak suka menemuimu.<\/p>\n<p>Allah Ta\u2019ala berfirman: \u201cDan jika dikatakan kepadamu: \u201cKembali sajalah,\u201d maka hendaklah kamu kembali. Itu lebih bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan\u201d (An-Nuur: 28).<\/p>\n<p>Setiap keluarga yang tinggal dalam satu rumah ada kalanya masing-masing mempunyai kamar khusus. Maka wajiblah meminta izin untuk memasukinya. Janganlah seseorang membuka kamar orang lain tanpa seizin pemiliknya, sekalipun orang terdekat dengannya, sebagaimana ayah dan ibunya.<\/p>\n<p>Dalam hadits disebutkan: \u201cSeorang laki-laki bertanya kepada Nabi SAW.: \u201cApakah aku harus minta izin untuk masuk ke kamar ibuku?\u201d Nabi SAW. menjawab, \u201cYa\u201d. Dia berkata, \u201cAku tinggal bersamanya dalam satu rumah.\u201d Nabi SAW. berkata, \u201cMintalah izin untuk masuk kepadanya.\u201d Orang itu berkata, \u201cAku melayaninya.\u201d Rasulullah SAW. menjawab, \u201cMintalah izin kepadanya. Apakah engkau suka melihat ibumu dalam keadaan telanjang?\u201d Orang itu menjawab, \u201cTidak.\u201d Nabi SAW. berkata, \u201cKalau begitu, mintalah izin kepadanya.\u201d<\/p>\n<p>5. Termasuk tata krama dalam berkunjung adalah engkau berkunjung pada waktu yang sesuai, bukan waktu makan atau tidur ataupun pada waktu bekerja, supaya orang perempuan yang kau kunjungi tidak merasa berat dan tidak membenci kunjunganmu.<\/p>\n<p>Berkunjunglah yang tidak terlalu sering. Jangan berkunjung setiap hari atau dalam hari-hari yang berdekatan supaya ia tidak jemu dengan kedatanganmu. Termasuk tata kramanya pula adalah jangan engkau terlalu jarang berkunjung kepadanya supaya tidak menimbulkan kesepian dan pemutusan hubungan.<\/p>\n<p>Dalam hadits: \u201cBerkunjunglah kadang-kadang supaya dengannya dapat menambah kecintaan.\u201d Janganlah berkunjung terlalu lama, terutama bila orang yang dikunjungi sedang sibuk atau bersiap untuk keluar atau juga akan makan, kecuali bila hal itu atas permintaannya, maka tidaklah mengapa kalau begitu.<\/p>\n<p>6. Hendaklah engkau berpakaian yang bersih, berpenampilan yang bagus lalu duduk di tempat yang pantas. Jangan mendahului orang yang lebih tua umur atau kedudukannya.<\/p>\n<p>Jangan mempermainkan buku-buku dan surat-surat yang terdapat di ruang tamu, alat-alat, bunga-bunga atau juga yang lainnya. Jangan mengambil sesuatu tanpa seizin tuan rumah. Apabila menemukan sepucuk surat janganlah lalu membacanya karena sifat ingin tahu. Dalam hadits dikatakan: \u201cBarangsiapa membaca surat saudaranya tanpa seizinnya, maka ia seakan-akan mengintai dalam neraka.\u201d<\/p>\n<p>Jangan meludah di atas lantai atau permadani, tetapi lakukanlah di tempat membuang ludah atau di manapun yang pantas. Hendaklah engkau ikut serta merasakan suka dan dukanya orang yang dikunjungi.<\/p>\n<p>Dan mintalah izin darinya bila ingin pulang. Jika ia mengizinkannya, tapi keburu datang tamu yang lain, maka tinggallah sebentar dan jangan langsung keluar, supaya tamu yang lain itu tidak menyangka engkau pulang karena dia, dan engkau tidak suka bertemu dengannya. Kecuali bila engkau tergesa-gesa, maka beritahulah dia apa sebab engkau pulang dan kemukakan alasan kepadanya.<\/p>\n<p>7. Apabila seorang perempuan mengunjungimu, maka Sambutlah dia dengan wajah cerah dan penuh gairah seraya berkata, \u201cAhlan wa Sahlan wa Marhaban\/ Selamat datang.\u201d Jabatlah tangannya dengan keadaan engkau sangat gembira atas kunjungannya. Kemudian dudukkan dia di tempat yang pantas dengannya serta bertanyalah kepada dia tentang kesehatannya dan kesehatan keluarganya. Lalu berbicaralah dengannya dengan suara yang lemah lembut dan sopan serta wajah yang berseri-seri.<\/p>\n<p>Berdirilah untuk melayani tamumu sendiri. Allah Ta\u2019ala telah memuji Sayyidina Ibrahim a.s. dengan firman-Nya: \u201cSudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang dimuliakan?\u201d (Adz-Dzaariyaat: 24).<\/p>\n<p>Mereka itu dimuliakan karena Ibrahim melayani sendri kepadanya dan menyuruh istrinya sebagai pelayan untuk menyegerakan mengeluarkan hidangan.<\/p>\n<p>Allah Ta\u2019ala berfirman: \u201cMaka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang\u201d (Huud: 69). \u201cMaka ia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar)\u201d (Adz-Dzaariyaat: 26).<\/p>\n<p>Dalam hadits: \u201cPada suatu hari datang utusan Raja Najasyi (Raja Habasyah di Ethiopia) kepada Rasulullah SAW. Kemudian Nabi SAW. berdiri melayani mereka. Maka sahabat-sahabatnya berkata, \u201cWahai Rasulullah kami yang mencukupimu. Nabi SAW. menjawab, \u201cJangan.\u201d<\/p>\n<p>Mereka dulu memuliakan sahabat-sahabatku maka aku ingin membalas budi baik mereka.\u201d Imam Asy-Syafi\u2019i datang kepada Imam Malik rahimahumallahu, lalu Imam Malik menyuguhkan makanan kepadanya. Dan beliau sendiri yang menuangkan air dengan kedua tangannya sambil berkata, \u201cJanganlah engkau heran terhadap apa yang engkau lihat. Melayani tamu adalah wajib.\u201d<\/p>\n<p>8. Suguhkaniah kepada tamumu makanan dan minuman yang Sesuai dengannya dengan seadanya, tanpa memaksakan diri Sehingga engkau tidak merasa berat atas kedatangannya. Jangan engkau katakan, \u201cMaukah aku hidangkan makanan kepadamu?\u201d Akan tetapi suguhkanlah hidangan terlebih dulu. Jika ia suka biar dimakannya. Kalau tidak, maka angkatlah makanan itu.<\/p>\n<p>Sahabat Salman Al-Farisi r.a. berkata, \u201cRasulullah SAW. menyuruh kami untuk tidak memaksakan diri menyediakan makanan yang tidak ada kepada tamu kami, dan menyuruh kami menyuguhkan makanan yang ada pada kami.\u201d<\/p>\n<p>Janganlah engkau membatasi dalam menghormati tamumu. Dalam hadits disebutkan: \u201cRasulullah SAW. pernah singgah pada seorang laki-laki yang memiliki unta dan sapi yang banyak, namun ia tidak menjamunya sebagaimana seorang tamu. Kemudian beliau singgah pada Seorang perempuan yang mempunyai beberapa ekor kambing. Perempuan itu pun menyembelih seekor kambing untuknya.<\/p>\n<p>Nabi SAW. berkata: lihatlah kedua orang tadi. Sesungguhnya akhlak ini di tangan Allah. Barangsiapa yang dikehendaki Allah diberi akhlak yang baik, ia pun akan melakukannya.\u201d Dalam hadits lain: \u201cBarangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menghormati tamunya.\u201d<\/p>\n<p>Dalam riwayat lain: \u201cAku dan orang-orang yang bertakwa dari umatku bebas dari sikap memaksa diri.\u201d Seorang Penyair berkata, &#8220;Wajah ceria manusia lebih baik daripada hidangan&#8221;.\u00a0Maka bagaimana dengan orang yang menyuguhkan makanan sambil tertawa<\/p>\n<p>9. Disunnahkan bagimu menganjurkan tamu agar giat untuk makan. Dalam hadits yang panjang riwayat dari Abi Hurairah r.a. disebutkan bahwa Nabi SAW. menyuruh memanggil ahli Shuffah (Faqir miskin yang tinggal di masjid Nabi). Ketika mereka datang, Nabi SAW. membuat mereka kenyang dengan segelas susu yang disuguhkannya.<\/p>\n<p>Abu Hurairah r.a. menceritakan hadits itu hingga ia . berkata: Rasulullah SAW. berkata kepadaku, \u201cTinggal aku dan kamu.\u201d Aku berkata, \u201cEngkau benar, wahai Rasulullah.\u201d Rasulullah SAW. lalu berkata, \u201cDuduk dan minumlah.\u201d Aku pun duduk dan minum. Nabi SAW. berkata lagi, \u201cMinumlah.\u201d Maka aku pun terus minum dan beliau selalu berkata kepadaku, \u201cMinumlah,\u201d hingga aku berkata, \u201cTidak demi Tuhan yang mengutusmu dengan kebenaran. Aku tidak menemukan jalan untuk memasukannya.\u201d<\/p>\n<p>Kemudian Nabi SAW. berkata, \u201cBerikan kepadaku.\u201d Kemudian aku memberinya gelas. Maka beliau memuji Allah dan menyebut nama-Nya kemudian baru meminum sisanya.<\/p>\n<p>10. Apabila seseorang datang kepadamu untuk mengunjungimu, janganlah engkau bersembunyi darinya dan menyuruh pelayan perempuanmu berkata kepada tamu bahwa engkau sedang tidak ada di rumah atau engkau lagi tidur. Ini bukan akhlak yang baik. Perbuatan ini haram karena merupakan dusta. Engkau harus menemui tamumu. Jika engkau merasa payah, maka tahanlah kepayahan itu.<\/p>\n<p>Kalau sekiranya tamumu minta izin untuk pulang, janganlah terburu-buru mengizinkannya, tetapi tahanlah ia lebih lama, kecuali bila ia mendesakmu meminta izin. Maka izinkan ia pulang dan antarkan dia sampai ke pintu rumah atau ke jalan, sambil menunjukkan penyesalan atas ketergesaannya dan berterima kasih atas kunjungannya serta mengharap agar ia sering berkunjung. Dalam hadits dikatakan: \u201cSesungguhnya termasuk sunnah adalah apabila seseorang keluar mengantar tamunya menuju pintu rumah.\u201d<\/p>\n<p><strong>Adab Menjenguk Orang Sakit<\/strong><\/p>\n<p>1. Dianjurkan bagimu menjenguk perempuan yang sedang Sakit, terutama bila ia masih kerabatmu, gurumu ataupun temanmu.<\/p>\n<p>Apabila engkau mendengar salah seorang dari mereka sakit, maka segeralah engkau menjenguknya untuk mengetahui keadaannya dan menghibur hatinya sambil mendo\u2019akannya supaya lekas sembuh. Dalam hadits disebutkan: \u201cKewajiban seorang muslim atas orang muslim yang lain ada lima yaitu: menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengantarkan jenazah, memenuhi undangan dan mendo\u2019akan orang yang bersin.\u201d<\/p>\n<p>Dalam hadits lain: \u201cTidaklah seorang muslim menjenguk muslim lainnya pada waktu pagi, melainkan ia dido\u2019akan oleh 70.000 malaikat sampai sorenya, dan jika ia menjenguknya pada waktu sore, maka ia dido\u2019akan oleh 70.000 malaikat sampai pagi harinya, dan di surga nanti ia akan mendapatkan buah yang siap petik.\u201d<\/p>\n<p>Sebelum menjenguk orang sakit, engkau harus bertanya lebih dulu, apakah ia bisa menerima tamu atau tidak? supaya tidak memberatkan baginya. Apabila ia sanggup menemui, maka segeralah menjenguknya. Tapi apabila ia tidak kuasa atau penyakitnya jenis penyakit menular, maka cukuplah engkau memberi salam kepadanya dan mendo\u2019akannya agar lekas sembuh. Tanyakanlah selalu tentang kesehatannya kepada salah seorang dari keluarganya.<\/p>\n<p>2. Termasuk tata krama berkunjung adalah, engkau hanya duduk sebentar saja di hadapan si sakit, supaya ia tidak merasa payah atau kesal karena. menemuimu, kecuali Dila ia senang atas keberadaanmu, maka hal itu tidaklah mengapa.<\/p>\n<p>Dari sahabat Ibnu Abbas r.a., ia berkata, \u201cTermasuk sunnah Rasulullah SAW adalah mempercepat duduk dan tidak bersuara keras pada waktu menjenguk orang sakit.\u201d Dalam hadits: \u201cWaktu untuk menjenguk orang sakit adalah waktu antara dua perahan susu unta.\u201d<\/p>\n<p>Seorang Ulama Sufi bernama Sariyyu As-Saqathiy Rahimahullah berkata, \u201cAku sakit di kota Thursus. Kemudian sekelompok orang datang menjengukku, mereka duduk berlama-lama hingga membosankanku. Setelah itu mereka meminta do\u2019a dariku. Maka kuangkat tanganku seraya berdo\u2019a, \u201cYa Allah, ajarilah kami bagaimana cara menjenguk orang sakit.\u201d Termasuk adab pula, jangan menanyakan keadaannya dengan perkataan yang singkat apabila ia tidak keberatan menjawabnya.<\/p>\n<p>Kalau berat, cukuplah engkau tanyakan siapa yang merawatnya dan ajukan pertanyaanmu dengan suara yang sedang, karena suara yang sangat pelan bisa menimbulkan rasa takut di hatinya, sedangkan suara yang keras mungkin saja bisa membuatnya lebih gelisah dan memperparah penyakitnya.<\/p>\n<p>Letakkan tanganmu di atas dahi atau tangannya. Dalam hadits: \u201cKesempurnaan menjenguk orang sakit apabila seseorang dari kamu meletakkan tangan di atas dahinya, atau di atas tangannya sambil bertanya kepadanya, bagaimana oa?&#8221; Dalam suatu riwayat: \u201cBagaimana keadaanmu pada waktu pagi?\u201d, atau \u201cBagaimana keadaanmu pada waktu sore?\u201d f Orang yang sakit menjawab, \u201cAku dalam keadaan baik, Alhamdulillah.\u201d<\/p>\n<p>Apabila engkau melihat perubahan pada warnanya atau kelemahan badannya, maka jangan tunjukkan kegelisahanmu atas hal itu, supaya\u2019ia tidak takut dan tidak terkejut yang dapat menambah sakitnya. Akan tetapi berilah ia semangat hidup dan do\u2019akan dia Dari sahabat Ibnu Abbas r.a., ia berkata, \u201cTermasuk sunnah Rasulullah SAW adalah mempercepat duduk dan tidak bersuara keras pada waktu menjenguk orang sakit.\u201d Dalam hadits: \u201cWaktu untuk menjenguk orang sakit adalah waktu antara dua perahan susu unta.\u201d<\/p>\n<p>Seorang Ulama Sufi bernama Sariyyu As-Saqathiy Rahimahullah berkata, \u201cAku sakit di kota Thursus. Kemudian sekelompok orang datang menjengukku, mereka duduk berlama-lama hingga membosankanku. Setelah itu mereka meminta do\u2019a dariku. Maka kuangkat tanganku seraya berdo\u2019a, \u201cYa Allah, ajarilah kami bagaimana cara menjenguk orang sakit.\u201d<\/p>\n<p>Termasuk adab pula, jangan menanyakan keadaannya dengan perkataan yang singkat apabila ia tidak keberatan menjawabnya. Kalau berat, cukuplah engkau tanyakan siapa yang merawatnya dan ajukan pertanyaanmu dengan suara yang sedang, karena suara yang sangat pelan bisa menimbulkan rasa takut di hatinya, sedangkan suara yang keras mungkin saja bisa membuatnya lebih gelisah dan memperparah penyakitnya.<\/p>\n<p>Letakkan tanganmu di atas dahi atau tangannya. Dalam hadits: \u201cKesempurnaan menjenguk orang sakit apabila seseorang dari kamu meletakkan tangan di atas dahinya, atau di atas tangannya sambil bertanya kepadanya, bagaimana oa?\u201d<\/p>\n<p>Dalam suatu riwayat: \u201cBagaimana keadaanmu pada waktu pagi?\u201d, atau \u201cBagaimana keadaanmu pada waktu sore?\u201d Orang yang sakit menjawab, \u201cAku dalam keadaan baik, Alhamdulillah.\u201d<\/p>\n<p>Apabila engkau melihat perubahan pada warnanya atau kelemahan badannya, maka jangan tunjukkan kegelisahanmu atas hal itu, supaya\u2019ia tidak takut dan tidak terkejut yang dapat menambah sakitnya. Akan tetapi berilah ia semangat hidup dan do\u2019akan dia 4. Disunnahkan bagimu untuk membangkitkan selera makannya.<\/p>\n<p>Dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah SAW. menjenguk seorang laki-laki Anshar. Kemudian Nabi SAW. berkata, \u201cMakanan apa yang engkau sukai?\u201d Orang itu menjawab, \u201cAku suka roti gandum.\u201d Kemudian seorang lakilaki berdiri, lalu pergi dan datang membawa sepotong roti. Maka Nabi SAW. memberinya makanan itu. Kemudian Nabi SAW. berkata, \u201cApabila orang yang sakit di antara kamu menyukai sesuatu, hendaklah ia memberinya makanan itu.\u201d Disunnahkan pula mendo\u2019akannya dengan do\u2019a yang diriwayatkan dari Nabi SAW. yaitu: \u201cAku mohon kepada Allah Yang Maha Agung. Tuhan Pemilik \u201cArsy Yang Agung, agar menyembuhkanmu.\u201d<\/p>\n<p>Dalam hadits lain disebutkan: \u201cBarangsiapa menjenguk orang sakit yang belum datang masa ajalnya, lalu mengucapkan do\u2019a tadi dihadapannya sebanyak 7 kali, maka Allah akan menyembuhkannya dari penyakit itu.\u201d Disunnahkan pula bagimu untuk meminta do\u2019a darinya. Disebutkan dalam hadits: \u201cJenguklah orang-orang sakit dan suruhlah mereka mendo\u2019akan kamu, karena do\u2019a orang sakit itu mustajab dan dosanya diampuni.\u201d<\/p>\n<p><strong>Adab Orang Sakit <\/strong><\/p>\n<p>1. Termasuk adab orang sakit adalah bersabar atas penyakit yang dideritanya. Maka ia tidak boleh menggerutu (gelisah\/cemas) dan tidak boleh banyak mengeluh, tetapi ridha dengan penyakit yang telah ditakdirkan Allah kepadanya supaya ia mendapat pahala yang banyak.<\/p>\n<p>Telah disebutkan dalam hadits: \u201cTidaklah orang mukmin yang menderita kepayahan maupun penyakit, kesusahan dan kesedihan, gangguan dan keresahan, bahkan duri yang mengenai kakinya, melainkan Allah menghapus dosa-dosanya dengan semua itu,\u201d<\/p>\n<p>Hendaklah ia berdo\u2019a kepada Allah supaya dirinya lekas sembuh. Sebagaimana dalam hadits: \u201cSeorang laki-laki mengeluh kepada Nabi SAW. atas rasa sakit yang dialami badannya. Maka Rasulullah SAW. berkata kepadanya letakkan tanganmu pada bagian tubuhmu yang sakit dan ucapkan: Bismillah (tiga kali). Dan katakan (tujuh kali): aku berlindung dengan Keperkasaan dan Kekuasaan Allah dari kejahatan apa yang aku rasakan dan aku takuti.\u201d<\/p>\n<p>2. Hendaklah ia menggunakan obat yang berfaedah untuk kesehatannya. Dalam hadits: \u201cBerobatlah kamu sekalian, karena tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan Allah menurunkan obat baginya.\u201d<\/p>\n<p>Hendaklah ia berkeyakinan bahwa kesembuhan itu berasal dari Allah, bukan dari obat. Sebagaimana dikatakan Allah Ta\u2019ala ketika menceritakan tentang Nabi-Nya Ibrahim a.s.: \u201cDan apabila aku sakit, maka Dialah (Allah) yang menyembuhkan aku\u201d (AsySyu\u2019ara:80).<\/p>\n<p>Janganlah sampai ia meninggalkan shalat selama menderita sakit atau menunda pada waktu sesudahnya. Hendaklah ia shalat menurut kemampuannya. Nabi SAW. berkata kepada sayyidina Imran bin Hushain r.a. yang menderita penyakit bawasir (penyakit di dubur): \u201cShalatlah sambil berdiri. Jika tidak sanggup, maka sambil duduk. Jika tidak sanggup maka shalatlah di atas sisi tubuhmu. Jika tidak sanggup lagi maka shalatiah sambil berbaring. Allah tidak memaksa seseorang, melainkan sesuai dengan kemampuannya.\u201d<\/p>\n<p>Perempuan yang sakit boleh menjama\u2019 (menggabung) antara shalat Zhuhur dan Ashar, baik taqdim (dimajukan) maupun ta\u2019khir (diakhirkan). Demikian pula antara Maghrib dan Isya\u201d, bila ia merasakan penyakit itu dalam Takbirotul Ihram pada kedua waktu itu dan ketika mengucap salam dari yang pertama dan di antara keduanya.<\/p>\n<p>Jika ia tidak sanggup berwudhu, maka hendaklah meminta orang lain untuk membantunya berwudhu. Jika tidak ada yang membantunya, ia boleh bertayammum. Hendaklah ia berhati-hati sekali terhadap najis karena najis adalah masalah yang berat. Janganlah menggampangkannya\/menganggap ringan sebagaimana yang biasa dilakukan sebagian orang sakit.<\/p>\n<p>Janganlah ia meninggalkan puasa ramadhan bila ia mampu atau kalau tidak kuasa, boleh mengqodhonya (menggantinya) segera setelah ia sembuh.<\/p>\n<p>3. Bila ia sudah sembuh, hendaklah ia banyak bersyukur kepada Allah atas kesembuhannya dan mohon kepada Allah agar diberi panjang umur dalam ketaatan kepada-Nya disertai perlindungan dan keafiatan.<\/p>\n<p>Dalam hadits disebutkan: \u201cMohonlah pengampunan dan kesehatan kepada Allah, karena tiada seorang pun yang diberi sesuatu sesudah keyakinan, yang lebih baik selain daripada sehat walafiat.\u201d<\/p>\n<p>Dalam hadits lain disebutkan: \u201cSebaik-baik kamu sekalian adalah yang terpanjang umurnya dan terbaik amalannya.\u201d<\/p>\n<p>Hendaklah ia mengingat kebaikan orang-orang yang melayani dan menjenguknya pada waktu ia masih sakit. Sebab ia pun patut berterima kasih kepada mereka dan berkunjung ke rumah-rumah mereka sesuai dengan kemampuannya. Dalam hadits disebutkan: \u201cBarangsiapa tidak bersyukur kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.\u201d<\/p>\n<p>Hendaklah ia menepati apa-apa yang dijanjikannya kepada Allah pada waktu masih sat-itnya, yang berupa taubat dan melakukan amal-amal shalih. Telah disebutkan dalam hadits, bahwa Nabi SAW. menjenguk Khawwaat bin Jubair r.a. pada waktu sakitnya, lalu berkata kepadanya, \u201cWahai khawwaat, apakah sehat badanmu.? Aku menjawab, Dan badanmu, wahai Rasulullah.\u201d Nabi SAW. berkata, \u201cTepatilah apa yang telah engkau janjikan kepada Allah.\u201d<\/p>\n<p>Aku berkata, \u201cAku tidak menjanjikan apa-apa kepada Allah \u2018azza wa jalla.\u201d Nabi SAW. berkata, \u201cBenar, sesungguhnya tidaklah seseorang hamba sakit, melainkan ia telah berjanji melakukan kebaikan kepada Allah \u2018azza wajalla. Maka tepatilah apa yang engkau janjikan kepada Allah.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>(Bersambung &#8230;. )<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":13673,"comment_status":"open","ping_status":"closed","template":"","blog-kat":[146],"class_list":["post-13681","blog","type-blog","status-publish","has-post-thumbnail","hentry","blog-kat-adab-akhlak"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.6 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Kitab Akhlaq lil Banat \u2013 Djuz 3 (6): Adab Berkunjung dan Minta Izin, Adab Menjenguk Orang Sakit dan Adab Orang Sakit - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"BLOGGURU\u00a0\u2013 Berikut ini terjemah dari Kitab Dasar Akhlaq \u2013 Djuz 3, yang diperuntukkan bagi Perempuan (Remaja Putri pada khususnya), yang diajarkan kitabnya\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/kitab-akhlaq-lil-banat-djuz-3-6-adab-berkunjung-dan-minta-izin-adab-menjenguk-orang-sakit-dan-adab-orang-sakit\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Kitab Akhlaq lil Banat \u2013 Djuz 3 (6): Adab Berkunjung dan Minta Izin, Adab Menjenguk Orang Sakit dan Adab Orang Sakit - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"BLOGGURU\u00a0\u2013 Berikut ini terjemah dari Kitab Dasar Akhlaq \u2013 Djuz 3, yang diperuntukkan bagi Perempuan (Remaja Putri pada khususnya), yang diajarkan kitabnya\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/kitab-akhlaq-lil-banat-djuz-3-6-adab-berkunjung-dan-minta-izin-adab-menjenguk-orang-sakit-dan-adab-orang-sakit\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2024-09-20T06:08:10+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/2854c24a192ed66f1d0b70e3682ef942.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"477\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"406\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"15 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/kitab-akhlaq-lil-banat-djuz-3-6-adab-berkunjung-dan-minta-izin-adab-menjenguk-orang-sakit-dan-adab-orang-sakit\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/kitab-akhlaq-lil-banat-djuz-3-6-adab-berkunjung-dan-minta-izin-adab-menjenguk-orang-sakit-dan-adab-orang-sakit\\\/\",\"name\":\"Kitab Akhlaq lil Banat \u2013 Djuz 3 (6): Adab Berkunjung dan Minta Izin, Adab Menjenguk Orang Sakit dan Adab Orang Sakit - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/kitab-akhlaq-lil-banat-djuz-3-6-adab-berkunjung-dan-minta-izin-adab-menjenguk-orang-sakit-dan-adab-orang-sakit\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/kitab-akhlaq-lil-banat-djuz-3-6-adab-berkunjung-dan-minta-izin-adab-menjenguk-orang-sakit-dan-adab-orang-sakit\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/09\\\/2854c24a192ed66f1d0b70e3682ef942.jpg\",\"datePublished\":\"2024-01-22T05:56:39+00:00\",\"dateModified\":\"2024-09-20T06:08:10+00:00\",\"description\":\"BLOGGURU\u00a0\u2013 Berikut ini terjemah dari Kitab Dasar Akhlaq \u2013 Djuz 3, yang diperuntukkan bagi Perempuan (Remaja Putri pada khususnya), yang diajarkan kitabnya\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/kitab-akhlaq-lil-banat-djuz-3-6-adab-berkunjung-dan-minta-izin-adab-menjenguk-orang-sakit-dan-adab-orang-sakit\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/kitab-akhlaq-lil-banat-djuz-3-6-adab-berkunjung-dan-minta-izin-adab-menjenguk-orang-sakit-dan-adab-orang-sakit\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/kitab-akhlaq-lil-banat-djuz-3-6-adab-berkunjung-dan-minta-izin-adab-menjenguk-orang-sakit-dan-adab-orang-sakit\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/09\\\/2854c24a192ed66f1d0b70e3682ef942.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/09\\\/2854c24a192ed66f1d0b70e3682ef942.jpg\",\"width\":477,\"height\":406,\"caption\":\"Akhlaq lil Banat - Djuz 3\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/kitab-akhlaq-lil-banat-djuz-3-6-adab-berkunjung-dan-minta-izin-adab-menjenguk-orang-sakit-dan-adab-orang-sakit\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Blog Guru\",\"item\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":3,\"name\":\"Kitab Akhlaq lil Banat \u2013 Djuz 3 (6): Adab Berkunjung dan Minta Izin, Adab Menjenguk Orang Sakit dan Adab Orang Sakit\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\",\"name\":\"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\",\"description\":\"Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#organization\",\"name\":\"IMMIM Pangkep\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/06\\\/cropped-immim.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/06\\\/cropped-immim.png\",\"width\":512,\"height\":512,\"caption\":\"IMMIM Pangkep\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Kitab Akhlaq lil Banat \u2013 Djuz 3 (6): Adab Berkunjung dan Minta Izin, Adab Menjenguk Orang Sakit dan Adab Orang Sakit - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","description":"BLOGGURU\u00a0\u2013 Berikut ini terjemah dari Kitab Dasar Akhlaq \u2013 Djuz 3, yang diperuntukkan bagi Perempuan (Remaja Putri pada khususnya), yang diajarkan kitabnya","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/kitab-akhlaq-lil-banat-djuz-3-6-adab-berkunjung-dan-minta-izin-adab-menjenguk-orang-sakit-dan-adab-orang-sakit\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Kitab Akhlaq lil Banat \u2013 Djuz 3 (6): Adab Berkunjung dan Minta Izin, Adab Menjenguk Orang Sakit dan Adab Orang Sakit - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","og_description":"BLOGGURU\u00a0\u2013 Berikut ini terjemah dari Kitab Dasar Akhlaq \u2013 Djuz 3, yang diperuntukkan bagi Perempuan (Remaja Putri pada khususnya), yang diajarkan kitabnya","og_url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/kitab-akhlaq-lil-banat-djuz-3-6-adab-berkunjung-dan-minta-izin-adab-menjenguk-orang-sakit-dan-adab-orang-sakit\/","og_site_name":"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","article_modified_time":"2024-09-20T06:08:10+00:00","og_image":[{"width":477,"height":406,"url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/2854c24a192ed66f1d0b70e3682ef942.jpg","type":"image\/jpeg"}],"twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Estimasi waktu membaca":"15 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/kitab-akhlaq-lil-banat-djuz-3-6-adab-berkunjung-dan-minta-izin-adab-menjenguk-orang-sakit-dan-adab-orang-sakit\/","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/kitab-akhlaq-lil-banat-djuz-3-6-adab-berkunjung-dan-minta-izin-adab-menjenguk-orang-sakit-dan-adab-orang-sakit\/","name":"Kitab Akhlaq lil Banat \u2013 Djuz 3 (6): Adab Berkunjung dan Minta Izin, Adab Menjenguk Orang Sakit dan Adab Orang Sakit - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","isPartOf":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/kitab-akhlaq-lil-banat-djuz-3-6-adab-berkunjung-dan-minta-izin-adab-menjenguk-orang-sakit-dan-adab-orang-sakit\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/kitab-akhlaq-lil-banat-djuz-3-6-adab-berkunjung-dan-minta-izin-adab-menjenguk-orang-sakit-dan-adab-orang-sakit\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/2854c24a192ed66f1d0b70e3682ef942.jpg","datePublished":"2024-01-22T05:56:39+00:00","dateModified":"2024-09-20T06:08:10+00:00","description":"BLOGGURU\u00a0\u2013 Berikut ini terjemah dari Kitab Dasar Akhlaq \u2013 Djuz 3, yang diperuntukkan bagi Perempuan (Remaja Putri pada khususnya), yang diajarkan kitabnya","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/kitab-akhlaq-lil-banat-djuz-3-6-adab-berkunjung-dan-minta-izin-adab-menjenguk-orang-sakit-dan-adab-orang-sakit\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/kitab-akhlaq-lil-banat-djuz-3-6-adab-berkunjung-dan-minta-izin-adab-menjenguk-orang-sakit-dan-adab-orang-sakit\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/kitab-akhlaq-lil-banat-djuz-3-6-adab-berkunjung-dan-minta-izin-adab-menjenguk-orang-sakit-dan-adab-orang-sakit\/#primaryimage","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/2854c24a192ed66f1d0b70e3682ef942.jpg","contentUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/2854c24a192ed66f1d0b70e3682ef942.jpg","width":477,"height":406,"caption":"Akhlaq lil Banat - Djuz 3"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/kitab-akhlaq-lil-banat-djuz-3-6-adab-berkunjung-dan-minta-izin-adab-menjenguk-orang-sakit-dan-adab-orang-sakit\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Blog Guru","item":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/"},{"@type":"ListItem","position":3,"name":"Kitab Akhlaq lil Banat \u2013 Djuz 3 (6): Adab Berkunjung dan Minta Izin, Adab Menjenguk Orang Sakit dan Adab Orang Sakit"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#website","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/","name":"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","description":"Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan","publisher":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#organization","name":"IMMIM Pangkep","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/cropped-immim.png","contentUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/cropped-immim.png","width":512,"height":512,"caption":"IMMIM Pangkep"},"image":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#\/schema\/logo\/image\/"}}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/blog\/13681","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/blog"}],"about":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/types\/blog"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13681"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13673"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13681"}],"wp:term":[{"taxonomy":"blog-kat","embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/blog-kat?post=13681"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}