{"id":13694,"date":"2023-12-09T21:36:48","date_gmt":"2023-12-09T13:36:48","guid":{"rendered":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/?post_type=blog&#038;p=13694"},"modified":"2024-09-20T21:45:38","modified_gmt":"2024-09-20T13:45:38","slug":"terjemah-kitab-akhlaq-lil-banin-djuz-4-5","status":"publish","type":"blog","link":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/terjemah-kitab-akhlaq-lil-banin-djuz-4-5\/","title":{"rendered":"Terjemah Kitab Akhlaq Lil Banin \u2013 Djuz 4 (5)"},"content":{"rendered":"<p><strong>BLOGGURU<\/strong>\u00a0\u2013 Berikut ini terjemah dari Kitab Dasar Akhlaq \u2013 Djuz 4 yang diperuntukkan bagi Laki-laki (Remaja Putra pada khususnya), yang diajarkan kitabnya pada banyak Pondok Pesantren atau Madrasah setingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah.<\/p>\n<p><strong>11. Bersyukur dan Mengingkari Nikmat<\/strong><\/p>\n<div class=\"elementor-toggle-item\">\n<div id=\"elementor-tab-content-16013\" class=\"elementor-tab-content elementor-clearfix elementor-active\" role=\"region\" data-tab=\"13\" aria-labelledby=\"elementor-tab-title-16013\">\n<p>1. Ketahuilah! Sesungguhnya Allah Yang Maha Agung memberimu nikmat yang banyak dan besar, khusus dan umum. Nikmat-nikmat yang khusus misalnya, iman, Islam, wujud (terciptanya diri), akal, ilmu, rezeki, kesehatan, keselamatan, makan, minum, tidur serta nikmat lain yang tidak terhitung banyaknya. Allah Ta\u2019ala berfirman: \u201cDan jika kamu menghitunghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya \u2026.\u201d (QS. An-Nahi: 18).\u00a0 \u201cDan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya) \u2026.\u201d (QS. An-Nahl: 53).<\/p>\n<p>Adapun nikmat-nikmat umum, yaitu: Allah menciptakan langit dan isinya: berupa matahari, bulan dan bintang-bintang untuk digunakan para hamba-Nya. Begitu pula bumi dan isinya : berupa lautan, sungai-sungai, gunung-gunung, angin, berbagai hewan dan pohon-pohon.<\/p>\n<p>Allah Ta\u2019ala berfirman: \u201cAllah-lah yang menundukkan lautan untukmu, supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya, dan supaya kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya. Mudah-mudahan kamu bersyukur.<\/p>\n<p>Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian Itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.\u201d (QS. Al-Jaatsiyah: 12-13).<\/p>\n<p>2. Oleh karena itu, kamu wajib bersyukur kepada Tuhanmu atas nikmat-nikmat ini. Allah Ta\u2019ala berfirman: \u201cKarena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.\u201d (QS: al-Baqarah: 152). \u201c.. maka carilah rezeki itu di sisi Allah dan sembahlah Dia serta bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan.\u201d (QS. Al-Ankabut: 17).<\/p>\n<p>Apabila kamu bersyukur kepada Tuhanmu, maka tidaklah diragukan bahwa Allah akan membalasmu atas rasa syukur kepada-Nya. Allah Azza wa Jalla berfirman: \u201c\u2026 dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.\u201d (QS. Ali-lmran: 144). Di samping itu, Allah akan menambah nikmat-Nya bagimu, sebagaimana firman-Nya: \u201cSesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu \u2026\u201d (QS. Ibrahim: 7).<\/p>\n<p>Apabila kamu tidak bersyukur kepada-Nya, maka Dia akan murka kepadamu, sebagaimana firman-Nya: \u201c\u2026 dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.\u201d (QS. Ibrahim: 7). Barangsiapa yang tidak mensyukuri nikmat-nikmat Allah atas dirinya, maka dia telah membiarkan kehilangan nikmatnikmat itu. Tersebut dalam hadits: \u201cMensyukuri nikmat itu menimbulkan rasa aman dari kehilangannya.\u201d<\/p>\n<p>Penyair berkata:<\/p>\n<p><em>Apabila kamu dalam kenikmatan, maka peliharalah kenikmatan itu karena maksiat menghilangkan kenikmatan.<\/em><\/p>\n<p><em>Jagalah kenikmatan itu dengan bersyukur kepada Tuhan, karena Tuhan cepat menghukum.<\/em><\/p>\n<p>3. Banyak orang hanyut dalam nikmat-nikmat Allah Yang Maha Pemurah, tetapi mereka lalai dari mensyukuriNya. Allah Ta\u2019ala berfirman: \u201cDan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.\u201d (QS. Saba\u2019: 13). Tidaklah diragukan bahwa faedah syukur akan kembali kepadamu, karena Allah tidak membutuhkan dari seorang pun.<\/p>\n<p>Allah Ta\u2019ala berfirman: \u201cBarangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendirinya, dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.\u201d (AlQS. Lukman: 12).<\/p>\n<p>Di antara doa-doa Nabi saw.: \u201cYa, Allah, jadikan aku orang yang bersyukur. Jadikan aku orang yang sabar. Jadikan aku kecil di depan pandanganku dan besar dalam pandangan orang-orang.\u201d Dalam hadits lain: \u201cSungguh mengherankan keadaan orang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah kebaikan dan tidaklah hal itu terjadi untuk semua orang, kecuali bagi orang mukmin. Jika mengalami kesenangan, dia pun bersyukur. Maka hal itu menimbulkan kebaikan baginya. Jika mengalami kesusahan, dia pun bersabar. Maka hal itu menimbulkan kebaikan baginya.\u201d<\/p>\n<p>4. Rasa syukur itu ialah: Pengalihan pandangan hamba atas semua kenikmatan yang diberikan Allah kepada-Nya menjadi renungan untuk apa dia diciptakan. Rasa syukur itu dinyatakan dengan hati, lisan dan anggota tubuh. Pernyataan syukur dengan hati: Apabila kamu selalu mengingat Tuhanmu dengan hati yang disertai ke cintaan dan pengagungan serta menggambarkan Seimuz kenikmatan dari Allah.<\/p>\n<p>Pernyataan syukur dengan lisan: Apabila kamu mengingat-Nya dengan puji-pujian yang menunjukkan rasa syukur kepada-Nya. Yang paling utama menurut hadits ialah mengucapkan: \u201cSegala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam, dengan pujian yang sesuai dengan kenikmatan-Nya dan setimpal dengan tambahan-Nya.\u201d<\/p>\n<p>Hendaklah kamu gunakan lisanmu untuk membaca AlOur\u2019an, hadits, perkataan ulama dan menyebut nama Allah serta mengucap shalawat atas Nabi saw., di samping berbicara yang baik. Allah Ta\u2019ala berfirman: \u201cTidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat makruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia \u2026.\u201d (QS. An-Nisaa\u2019: 114).<\/p>\n<p>5. Pernyataan syukur dengan anggota tubuh: Apabila kamu beribadah kepada-Nya. Yaitu mengerjakan shalat, mengeluarkan zakat untuk hartamu, berpuasa, pergi haji ke Baitullah dan menggerakkan anggota tubuhmu untuk perbuatan yang diridhai Allah SWT. Engkau pun berjalan dengan kedua kakimu untuk menuntut ilmu, menunaikan shalat dan memenuhi keperluanmu serta keperluan orang lain, terutama kedua orang tua dan guru-gurumu.<\/p>\n<p>Hendaklah kamu hindari berjalan kaki menuju maksiat, agar kamu tidak mengingkari nikmat kedua kakimu. Hendaklah kamu bekerja dengan kedua tanganmu dalam melaksanakan berbagai pekerjaan dan mengkhususkan tangan kanan dengan pekerjaan-pekerjaan yang bersih. Disebutkan dalam hadits:<\/p>\n<p>\u201cNabi saw. menjadikan tangan kanannya untuk makan, minum, wudhu\u2019, berpakaian, mengambil dan memberi, sedangkan tangan kirinya untuk selain itu.\u201d<\/p>\n<p>Hendaklah kamu hindari mengganggu seseorang dengan kedua tanganmu: baik dengan cara memukul, mencuri harta, mengkhianati dalam suatu amanat atau titipan, ataupun menulis sesuatu yang tidak boleh kamu bicarakan, karena pena adalah satu lisan. Adapun cara mensyukuri nikmat kedua mata ialah, apabila kamu membaca Al-Our\u2019an yang mulia dan hadits yang terhormat serta kitab-kitab yang berguna dengannya.<\/p>\n<p>Di samping itu, untuk memandang orang-orang fakir miskin, anak-anak yatim dan cacat serta mengasihi dan menolong mereka. Kamu juga memperhatikan orang-orang yang bodoh dan sesat, lalu kamu ajari dan bimbing mereka ke jalan menuju keselamatan dan kebahagiaan. Dengan kedua mata, kamu perhatikan tujuan-tujuanmu yang baik dan keajaiban-keajaiban makhluk ciptaan Allah serta kamu pikirkan kebesaran dan kekuasaan-Nya.<\/p>\n<p>Hendaklah kamu tidak menggunakan kedua mata untuk memandang hal-hal terlarang atau aurat. Disebutkan dalam hadits: \u201cAllah melaknat orang yang memandang dan yang dipandang (bilamana terlarang).\u201dAtau jangan menggunakannya untuk menyelidiki aib orang lain dan memandang kepadanya dengan penghinaan dan ejekan.<\/p>\n<p>Dalam hadits dijelaskan: \u201cBeruntunglah orang yang disibukkan oleh aibnya hingga tidak mengurusi aib orang lain.\u201d Dalam hadits lain: Cukuplah kejahatan seseorang bila dia menghina saudaranya yang muslim.\u201d<\/p>\n<p>Mensyukuri nikmat dua telinga: Apabila kamu menggunakannya untuk mendengarkan kebaikan, misalnya, bacaan Al-Our\u2019an, nasihat-nasihat dan ilmu pengetahuan: serta menjaga\u201d keduanya dari kejahatan, misalnya, mendengarkan ghibah (pergunjingan), namimah (mengadu domba) serta perkataan yang keji.<\/p>\n<p>Dalam hadits disebutkan: \u201cSesungguhnya pendengar itu adalah sekutu dari orang yang mengucapkan pergunjingan, dan dia termasuk salah seorang penggunjing.\u201d<\/p>\n<p>6. Kamu harus membesarkan nikmat Allah atas dirinya dengan memandang orang yang di bawahmu dalam berbagai, urusan dunia, agar kamu bersyukur kepada Tuhanmu, Allah Ta\u2019ala, dan tidak meremehkan nikmat-nikmat-Nya. Adapun dalam urusan-urusan agama, maka kamu harus memandang orang yang diatasmu, agar bertambah kegiatanmu dalam ke. baikan dan menjadi besar keinginanmu akan ketaatan. Nabi saw. bersabda:<\/p>\n<p>\u201cBarangsiapa dalam urusan dunia memandang kepada orang yang di bawahnya dan dalam masalah agama memandang kepada orang yang di atasnya, maka Allah menetapkannya sebagai orang yang sabar dan bersyukur. Dan barangsiapa dalam urusan dunia memandang kepada orang yang di atasnya dan dalam masalah agama memandang kepada orang yang di bawahnya, maka Allah tidak menetapkannya sebagai orang yang sabar dan bersyukur.\u201d<\/p>\n<p>Penyair berkata:<\/p>\n<p><em>Barangsiapa ingin kehidupan yang lapang dalam masa yang panjang atas agama maupun dalam keduniaannya menjadi makmur,<\/em><\/p>\n<p><em>Hendaklah ia memandang kepada orang yang shalih (takwa) di atasnya.<\/em><\/p>\n<p><em>Dan memandang kepada orang yang lebih Sedikit harta daripadanya.<\/em><\/p>\n<p>Apabila kamu lihat seseorang terkena musibah dalam agama, akal, badannya ataupun selain itu, maka bagimu disunahkan melakukan sujud kepada Allah atas keselamatan dari cobaan tersebut. Disunahkan pula mengucapkan secara perlahan, aga! tidak terdengar: oleh penderita sehingga dia tidak meras3 sedih atas ucapan itu: \u201cSegala puji bagi Allah yang menye lamatkan aku dari cobaan yang menimpamu dar melebihkan aku dari makhluk banyak yang diciptakan Nya. \u201c<\/p>\n<p>Disebutkan dalam hadits: \u201cBarangsiapa mengucapkan perkataan itu, maka dia tidak ditimpa cobaan tersebut selama hidupnya.\u201d<\/p>\n<p>7. Termasuk pernyataan syukur kepada Allah Ta\u2019ala Apabila kamu bersyukur kepada orang yang berbuat baik kepadamu, khususnya kedua orangtua dan guru-gurumu. Dalam hadits dijelaskan: \u201cOrang yang paling bersyukur kepada Allah lalah orang yang paling bersyukur kepada manusia.\u201d<\/p>\n<p>Dalam hadits lain: \u201cBarangsiapa berbuat baik kepadamu, maka balaslah dia. Jika kamu tidak dapat membalasnya, maka doakanlah dia hingga kamu mengetahui bahwa kamu telah bersyukur, karena Allah mencintai orang-orang yang bersyukur.\u201d Sabda yang lain: \u201cTidaklah bersyukur kepada Allah orang yang tidak beryukur kepada manusia.\u201d<\/p>\n<p>Adapun orang yang tidak berterima kasih kepada orang yang berbuat baik kepadanya, maka dia adalah orang yang hina dan jahat jiwanya. Penyairberkata:<\/p>\n<p><em>Aku ajari dia memanah setiap hari, ketika sudah tepat bidikannya, dia pun memanahku<\/em><\/p>\n<p><em>Betapa banyak aku ajari dia membuat bait syair, Setelah pandai bersyair, dia mencaci aku.<\/em><\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<div class=\"elementor-toggle-item\">\n<div id=\"elementor-tab-title-16014\" class=\"elementor-tab-title elementor-active\" tabindex=\"0\" role=\"button\" data-tab=\"14\" aria-controls=\"elementor-tab-content-16014\" aria-expanded=\"true\" aria-selected=\"true\"><i class=\"elementor-toggle-icon-opened fas fa-plus\"><\/i><a class=\"elementor-toggle-title\" tabindex=\"0\"><strong>12. Teladan Tinggi dalam Hal Kesabaran<\/strong> <\/a><\/div>\n<div id=\"elementor-tab-content-16014\" class=\"elementor-tab-content elementor-clearfix elementor-active\" role=\"region\" data-tab=\"14\" aria-labelledby=\"elementor-tab-title-16014\">\n<p>1. Sayyidah Aisyah ra., berkata: Nabi saw. melakukan shalat pada waktu malam hingga pecah-pecah kakinya. Maka aku bertanya kepadanya: \u201cMengapa Anda lakukan ini, waha, Rasulullah, padahal telah diampuni dosamu terdahulu dan terkemudian?\u201d\u201d Beliau menjawab: \u201cBukankah aku harus menjadi seorang hamba yang bersyukur?\u201d<\/p>\n<p>2. Al-Faqih Abu Ishaq: Muhammad bin Oasim bin Sya\u2019ban Al-Qurtubi rahimahullah \u2014tidak keluar dari rumahnya, melainkan bila beliau memegang kaki ibunya, lalu meletakkan di pipinya seraya berkata: \u201cYa Allah, Engkau katakan dalam Kitab-Mu: \u201cDan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan.\u201d (OS. Al-Isra\u2019:24). Sesungguhnya aku telah merendahkan diriku kepadanya, maka ampunilah dosaku, wahai Tuhan Yang Maha Penyayang.\u201d<\/p>\n<p>3. Diceritakan, seorang laki-laki yang sudah tua digendong oleh putranya dan dipelihara serta diberi makan olehnya seperti anak kecil. Pada suatu hari putranya berkata kepadanya: \u201cHai Ayahku, aku telah membalas dan memeliharamu sebagaimana engkau memelihara aku. Kita telah sama-sama berbuat begitu.\u201d Maka ayahnya berkata: \u201cSekalikali tidak.\u201d Putranya berkata: \u201cBagaimana itu?\u201d Sang ayah menjawab: \u201cKetika aku memeliharamu, aku mengharapkan hidupmu dan menanti masa mudamu, sedangkan kamu sekarang mengharap kematianku.\u201d<\/p>\n<p>4. Dalam kitab Tarikh Ibnu Khallikan diriwayatkan, seorang laki-taki dari umat terdahulu sedang makan dan di depannya ada seekor.ayam panggang. Kemudian seorang pengemis datang kepadanya, namun dia menolaknya dengan tangan hampa. Padahal orang itu hidup mewah. Pada suatu ketika, terjadi percerdian antara dia dengan istrinya, maka habislah hartanya.<\/p>\n<p>Kemudian pengemis itu kawin dengan istrinya. Di saat suami kedua sedang makan ayam panggang di hadapannya. tiba-tiba datang kepadanya seorang pengemis. Lalu orang itu berkata kapada istrinya: \u201cBerikanlah ayam itu kepadanya.\u201d Maka istrinya memberikan ayam panggang itu dan memandang kepadanya. Ternyata dia adalah suaminya yang pertama. Kemudian diceritakannya kisah itu kepada suaminya. Maka suami kedua itu berkata: \u201cDemi Allah, akulah orang miskin yang pertama itu, yang disia-siakan olehnya. Maka Allah memindahkan kenikmatan dan istrinya kepadaku. karena dia kurang bersyukur.\u201d<\/p>\n<p>5. Seorang laki-laki mengeluh mengenai kemiskinannya kepada seorang arif bijaksana dan menampakkan kesedihannya yang sangat. Orang bijaksana itu bertanya: \u201cApakah kamu senang apabila dirimu buta dengan imbalan 10.000 dirham?\u201d Orang itu menjawab: \u201cTidak\u201d. Orang bijaksanra itu bertanya: \u201cApakah kamu senang apabila dirimu bisu dengan imbalan 10.000 dirham\u201d? Orang itu menjawab: \u201cTidak.\u201d Kemudian orang bijasana itu bertanya: \u201cApakah kamu senang apabila kedua tangan dan kedua kakimu buntung dengan imbalan 20.000 dirham?\u201d Orang itu menjawab: \u201cTidak.\u201d Orang bijaksana itu bertanya: \u201cApakah kamu senang \u201d apabila kamu gila dengan imbalan 10.000 dirham?\u201d Orang itu menjawab: \u201cTidak.\u201d Maka orang bijaksana itu berkata: \u201cTidakkah kamu merasa malu apabila kamu mengeluh pada Tuhanmu, sedangkan Dia mempunyai harta padamu sebanyak 50.000 dirham?\u201d<\/p>\n<p>6. Ibnu Sammak masuk menemui seorang khalifah, sedang di tangannya membawa kendi air yang diminumnya. Khalifah itu berkata kepadanya: \u201cNasihatilah aku.\u201d Ibnu Sammak bertanya: \u201cSeandainya kamu tidak diberi minuman ini, kecuali dengan memberikan semua hartamu atau kamu tetap haus, apakah engkau mau memberikannya?\u201d Khalifah menjawab: \u201cYa\u201d. Ibnu Sammak bertanya: \u201cSeandainya kamu tidak diberi minum air, kecuali dengan imbalan seluruh kerajaanmu, apakah kamu mau meninggalkannya?\u201d Khalifah menjawab: \u201cYa.\u201d Ibnu Sammak berkata: \u201cMaka jangan gembira dengan kerajaan yang tidak menyamai seteguk air.\u201d Maksudnya, nikmat Allah atas hamba-Nya dalam meminum air pada waktu haus, lebih besar daripada kerajaan bumi seluruhnya.<\/p>\n<p><strong>13. Sifat Menahan Diri dan Marah\u00a0<\/strong><\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<div class=\"elementor-toggle-item\">\n<div id=\"elementor-tab-content-16015\" class=\"elementor-tab-content elementor-clearfix elementor-active\" role=\"region\" data-tab=\"15\" aria-labelledby=\"elementor-tab-title-16015\">\n<p>1. Sifat menahan diri, adalah mengendalikan nafsu pada waktu marah. Sifat ini termasuk akhlak paling mulia dan adab yang paling baik. Maka, kamu harus memiliki akhlak itu, agar kehormatan dirimu selamat dari celaan dan hatimu tenang dari kekhawatiran serta mendapat pujian yang baik dan pahala yang banyak.\u00a0 Allah Azza wa Jalla berfirman: \u201c\u2026 dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.\u201d (QS. Ali-Imran:134)<\/p>\n<p>Nabi saw. bersabda: \u201cCarilah kemuliaan di sisi Allah.\u201d Para sahabat bertanya: \u201cApakah itu, wahai Rasulullah?\u201d Beliau menjawab: \u201cSambunglah hubungan dengan orang yang menjauhi kamu dan berilah orang yang tidak memberimu dan menahan diri terhadap orang yang mengganggumu.\u201d Di antara doa Nabi saw.: \u201cYa Allah, cukupilah aku dengan ilmu. Hiasilah aku dengan sifat menahan diri dan muliakanlah aku dengan takwa serta baguskanlah aku dengan kesehatan.\u201d<\/p>\n<p>Jika seseorang mengganggumu, maka maafkanlah, dan jika dia mengemukakan alasan, maka terimalah alasannya. Disebutkan dalam hadits: \u201cBarangsiapa yang dikemukakan alasan kepadanya oleh saudaranya, sedang dia tidak mau menerimanya, maka dia pun berdosa, Seperti pemungut pajak gelap.\u201d<\/p>\n<p>Dalam hadits lain: \u201cBarangsiapa yang dikemukakan alasan kepadanya oleh saudaranya yang bersalah, sedang dia tidak mau menerimanya, maka dia pun tidak bisa menemui aku di Al-Haudh (telaga Nabi di hari Kiamat).\u201d<\/p>\n<p>Penyair berkata:<\/p>\n<p>Terimalah alasan dari orang yang datang mengemukakan alasan, walaupun ia berkata baik atau buruk kepadamu.<\/p>\n<p>Telah tunduk kepadamu orang yang lahirnya membuatmu ridha dan telah mengagungkanmu orang yang mendurhakaimu secara tersembunyi.<\/p>\n<p>2. Sifat menahan diri mempunyai banyak sebab. Pertama, kasih sayang terhadap orang-orang bodoh. Disebutkan dalam hadits: \u201cSeorang badui kencing di masjid, lalu orang-orang menghampiri untuk memukulnya. Kemudian Nabi saw. bersabda: \u201cBiarkan dia, dan tuangkan di atas kencingnya seember air. Sesungguhnya kamu diutus untuk memberi kemudahan dan tidak diutus memberi kesulitan\u2019.<\/p>\n<p>Kedua, kemampuan untuk membalas dendam. Disebutkan dalam hadits: \u201cApabila kamu dapat mengalahkan musuhmu, maka jadikanlah maaf sebagai rasa syukur atas kemenangan itu.\u201d Rasul saw. telah memaafkan Du\u2019tsur, yang ingin membunuhnya dan orang badui yang menarik serbannya hingga membuat pundaknya membekas dan sakit.<\/p>\n<p>Beliau memaafkan orang yang mengeraskan suaranya ketika dia datang menagih utang. Para sahabat bermaksud memukulnya, namun beliau berkata: \u201cBiarkan dia, karena sesungguhnya pemilik hak boleh berbicara.\u201d<\/p>\n<p>Nabi saw. memaafkan penduduk Makkah yang telah mengganggunya dengan sangat, selama 13 tahun, hingga mereka mengeluarkan dari negerinya, Makkah. Beliau memaafkan banyak orang. Dalam hadits dijelaskan: \u201cRasulullah saw. tidak mem. balas dendam untuk dirinya sedikit pun, kecuali apabila larangan Allah dilanggar. Jika demikian, beliau membalas karena Allah.\u201d<\/p>\n<p>Ketiga: menghindari caci maki. Dalam hadits diceritakan: \u201cDua orang yang saling memaki adalah dua setan yang saling memusuhi dan menjauhi\u201d. Terutama laknat. Nabi saw. bersabda: \u201cOrang mukmin bukanlah orang yang suka memaki dan melaknat, serta tidak suka berkata keji maupun kotor.\u201d<\/p>\n<p>Penyair berkata: Katakan apa saja berupa kepalsuan dan dusta Maafku tuli, tapi telingaku tidak. Penyair lain berkata:<\/p>\n<p><em>Aku menyukai akhlak mulia sekuat tenagaku dan aku tidak suka mencela maupun dicela.<\/em><\/p>\n<p><em>Aku maafkan makian orang karena menahan diri.<\/em><\/p>\n<p><em>Seburuk-buruk orang adalah yang suka mencaci maki.<\/em><\/p>\n<p>Diceritakan, seorang laki-laki berkata kepada Dhirar bin Qa\u2019ga\u2019:. \u201cDemi Allah, seandainya kamu katakan kepadaku sekali, tentu kamu dengar sepuluh kali.\u201d Maka Dhirar berkata kepadanya: \u201cDemi Allah, seandainya kamu katakan sepuluh kali, tentu kamu tidak mendengar sekali pun\u201d. Dari Sayyidina Ali bin Husein bin Ali ra.: Bahwasanya Seorang laki-laki memakinya. Maka dia pun melemparkan baju yang dipakainya dan memberi dia uang 1000 dirham.<\/p>\n<p>3. Adapun sifat marah, maka ia sangat tercela dan merupakan kunci setiap kejahatan. Sabda beliau: \u201cMarah itu merusak iman, sebagaimana jadam merusak madu.\u201d Beliau juga bersabda: \u201cTidaklah seseorang marah, melainkan dia mendekati Jahanam.\u201d<\/p>\n<p>Seseorang bertanya kepada Nabi saw.: \u201cSesuatu apakah yang paling berat?\u201d Beliau menjawab: \u201cMurka Allah.\u201d Orang itu bertanya: \u201cApakah yang menjauhkan aku dari murka Allah?\u201d Beliau menjawab: \u201cJangan marah.\u201d Sayyidina Ali Karramallahu Wajha berkata: \u201cMarah itu sebagian dari gila, karena pelakunya akan menyesal. Jika dia tidak menyesal, maka kegilaannya akan menguat (sempurna).\u201d<\/p>\n<p>Sifat marah terkadang menyebabkan pelakunya bunuh diri, seperti murid yang gagal dalam ujian atau orang yang mengeluh karena kesusahan dan kemiskinan. Semua itu berasal dari was-was setan dan kelemahan iman. Dalam hadits dijelaskan: \u201cBarangsiapa yang menjatuhkan diri dari gunung hingga membunuh dirinya, maka dia masuk neraka Jahanam, menjatuhkan diri ke dalamnya. Dia kekal abadi di neraka untuk selama-lamanya.<\/p>\n<p>Barangsiapa meneguk racun sehingga membunuh dirinya, maka racun itu kelak berada di tangan dan diteguknya di neraka Jahanam. Dia kekal abadi di tempat itu untuk selama-lamanya. Barangsiapa membunuh dirinya dengan sepotong besi, maka itu berada di tangan dan ditusukkannya ke perutnya di neraka Jahanam. Dia kekal abadi di tempat itu untuk selama-lamanya.\u201d (HR. Bukhari).<\/p>\n<p>4. Apabila kamu marah, maka tahanlah marahmu itu. Jangan bicara pada waktu marah, agar kamu tidak menguCapkan perkataan yang akan kamu sesali. Dan, duduklah bila kamu berdiri. Dalam hadits disebutkan: \u201cApabila seseorang di antara kamu marah, maka hendaklah dia diam.\u201dDalam hadits lain: \u201cApabila seseorang di antara kamu marah, maka hendaklah duduk. Jika dia masih marah, hendaklah berbaring.\u201d<\/p>\n<p>Pada waktu marah, janganlah kamu lupa memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Allah Ta\u2019ala berfirman: \u201cDan jika kamu ditimpa suatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah \u2026.\u201d (QS. Al-A\u2019raaf:200).<\/p>\n<p>Hendaklah kamu membaca do\u2019a sesuai dengan hadits: \u201cAku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Ya, Allah, Tuhan dari Nabi Muhammad, ampunilah dosaku, hilangkan kejengkelan hatiku dan lindungilah aku dari fitnah-fitnah yang menyesatkan.\u201d Jika kamu masih marah, maka berwudhu\u2019lah, sesuai dengan sabda Nabi saw.: \u201cApabila seseorang di antara kamu marah, hendaklah dia berwudhu\u2019 dengan air, karena marah itu dari api.\u201d<\/p>\n<p>5. Di antara cara-cara menenangkan marah, hendaklah memperhatikan hal-hal sebagai berikut: Pertama, renungkanlah ayat-ayat Al-Our\u2019an dan haditshadits Nabi, yang menerangkan keutamaan menahan diri dan memberi maaf. Beliau bersabda: \u201cSeorang malaikat berseru di hari Kiamat: \u2018Barangsiapa mempunyai pahala yang menjadi tanggungan Allah Azza wa Jalla, hendaklah ia berdiri.\u2019 Maka berdirilah orang-orang yang suka memaafkan orang lain.\u201d Kemudian beliau membaca ayat: \u201c\u2026 maka, barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah \u2026\u201d (QS. Asy-Syura:40).<\/p>\n<p>Kedua, hendaklah kamu mengingat Allah dan membayangkan bahwa kekuasaan Allah atas dirimu lebih besar daripada kekuasaanmu untuk membalas orang yang berbuat jahat kepadamu. Allah Ta\u2019ala berfirman: \u201cDan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa \u2026.\u201d (QS. Al-Kahfi:24).<\/p>\n<p>Sahabat Ikrimah berkata, yakni, \u201cJika kamu marah.\u201d Diriwayatkan bahwa Nabi mengutus seorang pelayan dalam suatu keperluan. Ternyata pelayan itu lambat. Ketika dia datang, Nabi saw. bersabda: \u201cKalau bukan karena takut Oishash, tentu aku telah menyakitimu.\u201d (Qishash yaitu pembalasan hukuman di akhirat).<\/p>\n<p>Ketiga, janganlah kamu mendengarkan perkataan setan, bahwa tidak membalas dendam itu merupakan kerendahan dan kehinaan. Ini adalah kedustaan dari setan terkutuk. Yang benar adalah hal itu merupakan kemuliaan dan kehormatan. Sebagaimana tersebut dalam hadits: \u201cSifat rendah hati tidaklah menambahi seorang hamba, kecuali kemuliaan. Maka, bersikap rendah hatilah kamu. Semoga Allah Ta\u2019ala mengangkat derajatmu. Maaf itu tidaklah menambah seorang hamba, kecuali kemuliaan. Maka, berilah maaf. Semoga Allah memuliakan kamu.\u201d<\/p>\n<p>Keempat, hendaklah kamu memperingatkan diri akan keburukan akibat pembalasan dendam, karena ia menambah permusuhan dan memperbanyak musuh, serta mendatangkan rasa gembira mereka terhadap musibah-musibah (bencana) yang menimpa dirimu, sehingga hidupmu menjadi keruh. Kemarahan itu tidak dapat memusatkan pikiranmu untuk menuntut ilmu dan beribadah, tidak pula untuk pekerjaanpekerjaanmu yang khusus.<\/p>\n<p>Kelima, hendaklah kamu berpikir tentang keburukan rupamu pada waktu marah. Wajah yang cemberut, kedua mata yang memerah, pipi yang membengkak dan anggotaanggota tubuh yang bergetar. Terkadang menginjak bumi dengan kedua kaki dan memukul dadanya serta bersikap Seperti anjing atau hewan buas yang menyerang. Mungkin juga seperti orang gila yang mengamuk. Karena kemarahan telah menghilangkan kesadaran akalnya. Terkadang memaki pintu bila sulit baginya untuk membuka. Mematahkan pena yang digunakan untuk menulis. Melaknat kendaraan yang dinaiki dan memaki angin jika tertiup ke arahnya. Sebagai. mana diriwayatkan, seorang laki-laki diterpa angin hingga serbannya terlepas, kemudian dia melaknatnya. Maka Nabi saw. bersabda: \u201cJanganlah kamu melaknat angin, karena ia diperintahkan dan tunduk. Sesungguhnya orang yang melaknat sesuatu yang tidak patut dilaknat, maka kembalilah laknat itu menimpa dirinya.\u201d<\/p>\n<p>6. Kebalikan dari itu adalah sifat menahan diri. Sifat tersebut bisa menjadikan kamu musuh sebagai teman. Sebagaimana firman Allah Ta\u2019ala: \u201c\u2026. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara kamu dan dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.\u201d (QS. Fush Shilat:34).<\/p>\n<p>Orang yang pandai menahan diri akan mendapat pertolongan dari orang lain. Sebagaimana kata Imam Ali karramallahu wajha: \u201cImbalan pertama bagi orang yang pandai menahan diri, adalah orang-orang akan membelanya terhadap orang yang bodoh.\u201d<\/p>\n<p>Maka patutlah orang berakal tidak melakukan permusuhan antara dia dan seseorang menurut kemampuannya. Disebutkan dalam hadits: \u201cMemperlihatkan cinta (kasih sayang) kepada orang lain adalah setengah dari akal.\u201d<\/p>\n<p>Apabila dia tidak pandai menahan diri dan suka membalas dendam, maka boleh jadi kemarahan akan menyebabkan dia membunuh musuhnya. Apabila dia tidak mampu, barangkali dia akan membunuh dirinya, karena sangat marah dan kesal. Semua itu termasuk dosa besar.<\/p>\n<p>Allah Ta\u2019ala berfirman: \u201cDan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka Jahannam. Dia kekal didalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutuk serta menyediakan baginya azab yang besar.\u201d (QS. An-Nisa\u2019:93).<\/p>\n<p>Dalam hadits disebutkan: \u201cMembunuh orang mukmin itu lebih besar akibatnya di sisi Allah daripada kelenyapa\u201d dunia.\u201d\u00a0 Sifat menahan diri dan pemaal, termasuk akhlak para Nabi dan Rasul, ulama dan orang-orang shalih. Marah dan balas dendam termasuk akhlak setan yany sombong dan orang-orang yang bodoh serta rendah budinya. Orang yang sangat kuat ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika bangkit kemarahannya.<\/p>\n<p>Sebagaimana dijelaskan dalam hadits: \u201cBukanlah orang yang kuat itu karena pandai bergulat, tetapi orang yang kuat ialah yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.\u201d<\/p>\n<p>7. Adapun marah karena Allah, bukan karena menuruti hawa nafsu, adalah sifat terpuji dan diperintahkan melakukannya serta dinamakan keberanian yang bersifat pendidikan. Hal itu disebabkan melihat kemungkaran yang dikerjakan dan kezaliman dilakukan serta kebenaran diingkari. Sifat menahan diri pada waktu itu sangat buruk dan dilarang.<\/p>\n<p>Aliah Ta\u2019ala berfirman: \u201cDan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru pada kebajikan, menyuruh pada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar: merekalah orang-orang yang beruntung \u2026\u201d (QS. Ali-Imran:104).<\/p>\n<p>\u201cTelah dilaknati orang-orang kafir dari bani Israel dengan lisan Dawud dan Isa, putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.\u201d (QS. Al-Maidah:78-79).<\/p>\n<p>Dalam hadits disebutkan: \u201cBarangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran, hendaklah mengubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan li\u2019sannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya. Itulah Selemah-lemah iman.\u201d<\/p>\n<p>Macam kemarahan yang paling utama, ialah kemarahan \u2018 terhadap raja yang zalim, atau penguasa yang berkhianat dan menjual negerinya atau merusak urusan-urusan agama dan negara. Dalam hadits diceritakan, Rasulullah saw. ditanya: \u201cJihad apakah yang paling utama?\u201d Beliau menjawab: \u201cPerkataan yang hak di hadapan raja yang zalim.\u201d<\/p>\n<p>8. Maka, jadilah kamu termasuk kaum yang dicinta. Allah dan mereka mencintai-Nya. Allah Ta\u2019ala berfirman: \u201cHai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersifat keras terhadap orang yang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut pada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui \u2026\u201d (qS. Al-Maidah:54).<\/p>\n<p>Janganlah kemarahan dan kecemburanmu menjadi lemah ketika menyaksikan kemungkaran, sehingga kamu menjadi penjilat (mencari muka) dan penakut yang tidak berdaya.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>(Bersambung &#8230;. )<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":13690,"comment_status":"open","ping_status":"closed","template":"","blog-kat":[146],"class_list":["post-13694","blog","type-blog","status-publish","has-post-thumbnail","hentry","blog-kat-adab-akhlak"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.6 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Terjemah Kitab Akhlaq Lil Banin \u2013 Djuz 4 (5) - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"BLOGGURU\u00a0\u2013 Berikut ini terjemah dari Kitab Dasar Akhlaq \u2013 Djuz 4 yang diperuntukkan bagi Laki-laki (Remaja Putra pada khususnya), yang diajarkan kitabnya\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/terjemah-kitab-akhlaq-lil-banin-djuz-4-5\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Terjemah Kitab Akhlaq Lil Banin \u2013 Djuz 4 (5) - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"BLOGGURU\u00a0\u2013 Berikut ini terjemah dari Kitab Dasar Akhlaq \u2013 Djuz 4 yang diperuntukkan bagi Laki-laki (Remaja Putra pada khususnya), yang diajarkan kitabnya\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/terjemah-kitab-akhlaq-lil-banin-djuz-4-5\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2024-09-20T13:45:38+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Akhlaq-lil-Banin-Djuz-4.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"700\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"521\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"19 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/terjemah-kitab-akhlaq-lil-banin-djuz-4-5\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/terjemah-kitab-akhlaq-lil-banin-djuz-4-5\\\/\",\"name\":\"Terjemah Kitab Akhlaq Lil Banin \u2013 Djuz 4 (5) - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/terjemah-kitab-akhlaq-lil-banin-djuz-4-5\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/terjemah-kitab-akhlaq-lil-banin-djuz-4-5\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/09\\\/Akhlaq-lil-Banin-Djuz-4.jpg\",\"datePublished\":\"2023-12-09T13:36:48+00:00\",\"dateModified\":\"2024-09-20T13:45:38+00:00\",\"description\":\"BLOGGURU\u00a0\u2013 Berikut ini terjemah dari Kitab Dasar Akhlaq \u2013 Djuz 4 yang diperuntukkan bagi Laki-laki (Remaja Putra pada khususnya), yang diajarkan kitabnya\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/terjemah-kitab-akhlaq-lil-banin-djuz-4-5\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/terjemah-kitab-akhlaq-lil-banin-djuz-4-5\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/terjemah-kitab-akhlaq-lil-banin-djuz-4-5\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/09\\\/Akhlaq-lil-Banin-Djuz-4.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/09\\\/Akhlaq-lil-Banin-Djuz-4.jpg\",\"width\":700,\"height\":521,\"caption\":\"Akhlaq lil Banin Djuz 4\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/terjemah-kitab-akhlaq-lil-banin-djuz-4-5\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Blog Guru\",\"item\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":3,\"name\":\"Terjemah Kitab Akhlaq Lil Banin \u2013 Djuz 4 (5)\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\",\"name\":\"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\",\"description\":\"Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#organization\",\"name\":\"IMMIM Pangkep\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/06\\\/cropped-immim.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/06\\\/cropped-immim.png\",\"width\":512,\"height\":512,\"caption\":\"IMMIM Pangkep\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Terjemah Kitab Akhlaq Lil Banin \u2013 Djuz 4 (5) - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","description":"BLOGGURU\u00a0\u2013 Berikut ini terjemah dari Kitab Dasar Akhlaq \u2013 Djuz 4 yang diperuntukkan bagi Laki-laki (Remaja Putra pada khususnya), yang diajarkan kitabnya","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/terjemah-kitab-akhlaq-lil-banin-djuz-4-5\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Terjemah Kitab Akhlaq Lil Banin \u2013 Djuz 4 (5) - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","og_description":"BLOGGURU\u00a0\u2013 Berikut ini terjemah dari Kitab Dasar Akhlaq \u2013 Djuz 4 yang diperuntukkan bagi Laki-laki (Remaja Putra pada khususnya), yang diajarkan kitabnya","og_url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/terjemah-kitab-akhlaq-lil-banin-djuz-4-5\/","og_site_name":"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","article_modified_time":"2024-09-20T13:45:38+00:00","og_image":[{"width":700,"height":521,"url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Akhlaq-lil-Banin-Djuz-4.jpg","type":"image\/jpeg"}],"twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Estimasi waktu membaca":"19 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/terjemah-kitab-akhlaq-lil-banin-djuz-4-5\/","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/terjemah-kitab-akhlaq-lil-banin-djuz-4-5\/","name":"Terjemah Kitab Akhlaq Lil Banin \u2013 Djuz 4 (5) - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","isPartOf":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/terjemah-kitab-akhlaq-lil-banin-djuz-4-5\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/terjemah-kitab-akhlaq-lil-banin-djuz-4-5\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Akhlaq-lil-Banin-Djuz-4.jpg","datePublished":"2023-12-09T13:36:48+00:00","dateModified":"2024-09-20T13:45:38+00:00","description":"BLOGGURU\u00a0\u2013 Berikut ini terjemah dari Kitab Dasar Akhlaq \u2013 Djuz 4 yang diperuntukkan bagi Laki-laki (Remaja Putra pada khususnya), yang diajarkan kitabnya","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/terjemah-kitab-akhlaq-lil-banin-djuz-4-5\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/terjemah-kitab-akhlaq-lil-banin-djuz-4-5\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/terjemah-kitab-akhlaq-lil-banin-djuz-4-5\/#primaryimage","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Akhlaq-lil-Banin-Djuz-4.jpg","contentUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Akhlaq-lil-Banin-Djuz-4.jpg","width":700,"height":521,"caption":"Akhlaq lil Banin Djuz 4"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/terjemah-kitab-akhlaq-lil-banin-djuz-4-5\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Blog Guru","item":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/"},{"@type":"ListItem","position":3,"name":"Terjemah Kitab Akhlaq Lil Banin \u2013 Djuz 4 (5)"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#website","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/","name":"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","description":"Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan","publisher":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#organization","name":"IMMIM Pangkep","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/cropped-immim.png","contentUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/cropped-immim.png","width":512,"height":512,"caption":"IMMIM Pangkep"},"image":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#\/schema\/logo\/image\/"}}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/blog\/13694","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/blog"}],"about":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/types\/blog"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13694"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13690"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13694"}],"wp:term":[{"taxonomy":"blog-kat","embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/blog-kat?post=13694"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}