{"id":15797,"date":"2025-11-10T07:53:47","date_gmt":"2025-11-09T23:53:47","guid":{"rendered":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/?post_type=blog&#038;p=15797"},"modified":"2025-11-15T08:54:04","modified_gmt":"2025-11-15T00:54:04","slug":"kontribusi-studi-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-tafsir","status":"publish","type":"blog","link":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/kontribusi-studi-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-tafsir\/","title":{"rendered":"Kontribusi Studi Qur&#8217;an terhadap Perkembangan Ilmu Tafsir"},"content":{"rendered":"<p>Oleh: <em><strong>Muhammad Farid Wajdi<\/strong><\/em> *)<\/p>\n<p><strong>BLOGGURU<\/strong> &#8211; Salah satu topik bahasan yang menarik untuk dikaji, ditelusuri, dan didiskusikan dalam Mata Kuliah Studi Qur&#8217;an adalah Kontribusi Studi Qur&#8217;an terhadap Perkembangan Ilmu Tafsir.\u00a0 Tulisan ini bermaksud menyediakan Kerangka Makalah Akademik Komprehensif dengan Pendahuluan, Pembahasan Detail per Kontribusi, Kesimpulan, dan Kepustakaan. Semoga dengan catatan ini dapat berpotensi menyediakan fondasi yang kuat untuk dikembangkan lebih lanjut.<\/p>\n<p>Artikel\/Makalah ini juga merupakan langkah awal pengumpulan bahan <strong>Kontribusi Studi Qur&#8217;an terhadap Perkembangan Ilmu Tafsir <\/strong>sebagai pemenuhan tugas Mata Kuliah &#8220;Studi Qur&#8217;an&#8221; yang diasuh oleh Dr Muhammad Daming Kaluku, M.Ag. dan Dr Abdul Ghany Musrif, M.Ag pada Program Pascasarjana Dirasah Islamiyah &#8211; Kelas Non Reguler Konsentrasi Sejarah Peradaban Islam (SPI) di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">***<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>Kontribusi Studi Qur&#8217;an terhadap Perkembangan Ilmu Tafsir<\/strong><\/p>\n<p><strong>Abstrak<\/strong><\/p>\n<p>Ilmu Tafsir dan Studi Qur&#8217;an (<i>&#8216;Ul\u016bm al-Qur&#8217;\u0101n<\/i>) adalah dua disiplin ilmu yang saling melengkapi dan tidak terpisahkan. Studi Qur&#8217;an berfungsi sebagai <i>tools<\/i> atau ilmu instrumental (<i>al-&#8216;ilmu al-\u0101liah<\/i>) yang memberikan kerangka metodologis, historis, dan linguistik yang esensial bagi <i>mufassir<\/i> (penafsir) dalam menafsirkan Al-Qur&#8217;an secara benar, akurat, dan komprehensif. Makalah ini bertujuan menganalisis kontribusi fundamental Studi Qur&#8217;an\u2014khususnya melalui disiplin <i>Asb\u0101b al-Nuz\u016bl<\/i>, <i>N\u0101sikh wa al-Mans\u016bkh<\/i>, <i>Qir\u0101&#8217;\u0101t<\/i>, dan <i>I&#8217;j\u0101z al-Qur&#8217;\u0101n<\/i>\u2014terhadap evolusi dan diversifikasi Ilmu Tafsir, mulai dari era <i>Tafsir bi al-Ma&#8217;th\u016br<\/i> hingga Tafsir <i>Maudh\u016b&#8217;\u012b<\/i> kontemporer. Kontribusi ini memastikan objektivitas, koherensi, dan relevansi penafsiran Al-Qur&#8217;an di berbagai zaman.<\/p>\n<p><strong>I. Pendahuluan<\/strong><\/p>\n<p>Al-Qur&#8217;an, sebagai <i>kal\u0101m All\u0101h<\/i> (firman Allah), merupakan sumber utama syariat Islam. Usaha untuk memahami dan menggali maknanya secara sistematis melahirkan disiplin Ilmu Tafsir. Namun, proses penafsiran tidak dapat dilakukan secara sembarangan, melainkan harus didasarkan pada seperangkat kaidah yang terstruktur. Kaidah-kaidah inilah yang terangkum dalam Kontribusi Studi Qur&#8217;an terhadap Perkembangan Ilmu Tafsir\u00a0atau <i>&#8216;Ul\u016bm al-Qur&#8217;\u0101n<\/i>.<\/p>\n<p>Secara historis, Tafsir muncul lebih dulu\u2014sejak masa Nabi \ufdfa dan para Sahabat. Namun, kaidah-kaidah yang kini kita kenal sebagai <i>&#8216;Ul\u016bm al-Qur&#8217;\u0101n<\/i> (seperti <i>Asb\u0101b al-Nuz\u016bl<\/i> atau <i>N\u0101sikh wa al-Mans\u016bkh<\/i>) dipraktikkan secara informal. Baru pada abad-abad pertengahan Islam, disiplin-disiplin tersebut dikodifikasi dan dihimpun menjadi satu ilmu tersendiri, seperti yang dilakukan oleh Imam al-Zarkasyi dalam <i>Al-Burh\u0101n f\u012b &#8216;Ul\u016bm al-Qur&#8217;\u0101n<\/i> dan Imam al-Suyuthi dalam <i>Al-Itq\u0101n f\u012b &#8216;Ul\u016bm al-Qur&#8217;\u0101n<\/i>.<\/p>\n<p>Tujuan makalah ini adalah untuk menguraikan secara mendalam bagaimana formalisasi <i>&#8216;Ul\u016bm al-Qur&#8217;\u0101n<\/i> tidak hanya menstabilkan Ilmu Tafsir tetapi juga mendorongnya untuk berkembang menjadi berbagai corak penafsiran modern yang teruji secara metodologis.<\/p>\n<p><strong>II. Studi Qur&#8217;an sebagai Fondasi Metodologis Tafsir<\/strong><\/p>\n<p>Studi Qur&#8217;an menyediakan lensa metodologis yang memungkinkan <i>mufassir<\/i> menghindari kesalahan fatal dalam interpretasi dan menjamin bahwa penafsiran tetap terikat pada <i>maq\u0101\u1e63id al-shar\u012b\u2019ah<\/i> (tujuan syariat). Kontribusi ini dikelompokkan menjadi tiga aspek utama: Historis, Hukum, dan Linguistik.<\/p>\n<p><strong>A. Kontribusi Historis: Memahami Konteks Wahyu<\/strong><\/p>\n<p>Kontribusi historis Studi Qur&#8217;an berfungsi untuk merekonstruksi latar belakang penurunan ayat-ayat Al-Qur&#8217;an, memastikan bahwa penafsiran tidak hanya terpaku pada makna literal (<i>laf\u1e93<\/i>) tetapi juga merangkul konteks aslinya (<i>siy\u0101q<\/i>).<\/p>\n<h4>1. <i>Asb\u0101b al-Nuz\u016bl<\/i> (Sebab-Sebab Turunnya Ayat)<\/h4>\n<p>Pemahaman terhadap konteks historis spesifik suatu ayat diturunkan adalah kontribusi paling penting. Tanpa <i>Asb\u0101b al-Nuz\u016bl<\/i>, ayat dapat ditafsirkan secara <i>mutlaq<\/i> (absolut) tanpa mempertimbangkan batasan dan ruang lingkupnya.\u00a0\u00a0<span class=\"\">Disiplin ini mempelajari kejadian atau pertanyaan spesifik yang melatarbelakangi turunnya satu atau sekelompok ayat.<\/span><span class=\"\"> Kontribusinya sangat fundamental karena menentukan <\/span>lingkup hukum<span class=\"\"> dan <\/span>cakupan makna<span class=\"\"> suatu ayat.<\/span><\/p>\n<p><span class=\"\">Tanpa <\/span><i class=\"\">Asb\u0101b al-Nuz\u016bl<\/i><span class=\"\">,<\/span><span class=\"\"> risiko penafsiran menjadi <\/span><i class=\"\">mutlaq<\/i><span class=\"\"> (absolut) dan <\/span><i class=\"\">a-historis<\/i><span class=\"\"> sangat tinggi.<\/span><span class=\"\"> Misalnya,<\/span><span class=\"\"> jika seorang <\/span><i class=\"\">mufassir<\/i><span class=\"\"> menemukan ayat yang berbicara tentang perang (<\/span><i class=\"\">jih\u0101d<\/i><span class=\"\">),<\/span><span class=\"\"> pemahaman <\/span><i class=\"\">Asb\u0101b al-Nuz\u016bl<\/i><span class=\"\"> akan mengungkap apakah ayat tersebut merupakan respons defensif terhadap agresi atau inisiatif ofensif,<\/span><span class=\"\"> yang pada gilirannya akan memengaruhi bagaimana konsep <\/span><i class=\"\">jih\u0101d<\/i><span class=\"\"> tersebut diterapkan di masa kini.<\/span><\/p>\n<p><span class=\"\">Secara metodologis,<\/span> <i class=\"\">Asb\u0101b al-Nuz\u016bl<\/i><span class=\"\"> membantu <\/span><i class=\"\">mufassir<\/i><span class=\"\"> menerapkan kaidah <\/span>bahwa pelajaran diambil dari keumuman lafalnya, bukan kekhususan sebabnya (<i>al-\u02bfibrah bi \u02bfum\u016bm al-laf\u1e93 l\u0101 bi khu\u1e63\u016b\u1e63 al-sabab<\/i>)<span class=\"\">.<\/span><span class=\"\"> Artinya,<\/span><span class=\"\"> meskipun suatu ayat diturunkan karena kasus tertentu (sebab khusus),<\/span><span class=\"\"> hukum yang dikandungnya berlaku umum (<\/span><i class=\"\">laf\u1e93 umum<\/i><span class=\"\">) sepanjang relevan,<\/span><span class=\"\"> kecuali ada dalil lain yang membatasinya.<\/span><span class=\"\"> Ini adalah mekanisme kunci untuk membuat Al-Qur&#8217;an relevan sepanjang masa.<\/span><span class=\"\"> Penafsir yang hebat seperti <\/span>Imam al-Thabari<span class=\"\"> selalu menyertakan riwayat <\/span><i class=\"\">Asb\u0101b al-Nuz\u016bl<\/i><span class=\"\"> di awal penafsirannya untuk memberikan kerangka kontekstual sebelum memulai analisis linguistik dan hukum.<\/span><\/p>\n<p><b>Dampak pada Tafsir<\/b><\/p>\n<p>Menentukan apakah hukum atau makna dalam ayat berlaku spesifik pada kasus yang menjadi sebab turunnya ayat (<i>&#8216;ibrah bi khush\u016bsh al-sabab<\/i>) atau berlaku universal (<i>&#8216;ibrah bi &#8216;um\u016bm al-lafzh<\/i>). Misalnya, ayat-ayat yang terkait dengan perang pada masa Nabi \ufdfa harus dipahami dalam konteks konflik saat itu, bukan sebagai perintah perang tanpa batas.<\/p>\n<p><b>Perkembangan Tafsir Fiqh\u012b<\/b><\/p>\n<p>Para fuqaha (ahli hukum) sangat mengandalkan <i>Asb\u0101b al-Nuz\u016bl<\/i> untuk menyusun <i>istinb\u0101th al-ahk\u0101m<\/i> (pengambilan kesimpulan hukum).<\/p>\n<h4>2. <i>Makki wa Madani<\/i> (Klasifikasi Ayat Berdasarkan Tempat Turun)<\/h4>\n<p>Klasifikasi kronologis ini membagi wahyu menjadi dua periode utama, yaitu Periode Makkiyah (sebelum Hijrah, fokus pada akidah, tauhid, dan etika) dan Periode Madaniyah (setelah Hijrah, fokus pada hukum, organisasi sosial, dan tata negara).<\/p>\n<p>Kontribusi disiplin ini adalah pada pemahaman gradualisme Syariat (<i>tadarruj al-tashr\u012b\u02bf<\/i>). Dengan mengetahui bahwa sebuah ayat adalah Makkiyah, <i>mufassir<\/i> dapat memahami bahwa ayat tersebut bertujuan membentuk fondasi akidah yang kuat. Sebaliknya, ayat Madaniyah berfungsi membangun struktur komunitas, yang menjelaskan mengapa hukum-hukum terperinci (seperti warisan, <i>mu&#8217;\u0101malah<\/i>, dan hukuman) lebih banyak ditemukan di periode ini. Bagi <i>mufassir<\/i> kontemporer, pemahaman <i>Makki wa Madani<\/i> sangat berguna untuk memetakan prioritas dakwah: mendahulukan pembentukan karakter (inti Makkiyah) sebelum penegakan hukum formal (inti Madaniyah). Klasifikasi ini juga membantu menganalisis perkembangan retorika Al-Qur&#8217;an; gaya Makkiyah seringkali lebih pendek, puitis, dan menggunakan sumpah, sementara Madaniyah lebih panjang, prosedural, dan berbasis argumen hukum.<\/p>\n<p>Pembagian ayat menjadi Makkiyah (sebelum hijrah) dan Madaniyah (setelah hijrah) memberikan kerangka kronologis perkembangan ajaran.<\/p>\n<p><b>Dampak pada Tafsir<\/b><\/p>\n<p>Memungkinkan <i>mufassir<\/i> memahami <b>tahapan Syariat<\/b> (hukum bertahap). Ayat-ayat Makkiyah yang fokus pada akidah dan tauhid menjadi dasar bagi ayat-ayat Madaniyah yang fokus pada implementasi hukum sosial, ekonomi, dan politik. Hal ini penting untuk menafsirkan konsep teologis secara bertingkat.<\/p>\n<p><strong>B. Kontribusi Hukum: Menjamin Konsistensi Syariat<\/strong><\/p>\n<p>Disiplin hukum dalam Studi Qur&#8217;an memastikan bahwa interpretasi Al-Qur&#8217;an terikat pada prinsip-prinsip hukum Islam yang konsisten dan koheren, terutama dalam bidang <i>fiqh<\/i> (jurisprudensi).<\/p>\n<h4>1. <i>N\u0101sikh wa al-Mans\u016bkh<\/i> (Ayat yang Menghapus dan Dihapus)<\/h4>\n<p>Ini adalah disiplin krusial yang mengidentifikasi ayat hukum yang <b>dibatalkan (<i>mans\u016bkh<\/i>)<\/b> status hukumnya oleh ayat lain yang turun belakangan (<b><span class=\"math-inline\" data-math=\"n\u0101sikh\">$n\u0101sikh$<\/span><\/b>). Pembatalan ini hanya berlaku pada hukum praktis, bukan pada informasi atau janji.<\/p>\n<p>Kontribusi vitalnya adalah dalam <b>pencegahan kesalahan hukum<\/b> dan <b>penjaminan finalitas syariat<\/b>. Seorang <i>mufassir<\/i> yang tidak menguasai <i>N\u0101sikh wa al-Mans\u016bkh<\/i> berisiko mengambil hukum dari ayat yang sudah tidak berlaku (misalnya, ayat tentang tahapan puasa, atau tahap awal pengharaman <i>khamr<\/i>). Imam <b>Al-Qurthubi<\/b> dalam tafsirnya seringkali mendedikasikan bagian khusus untuk membahas status <i>N\u0101sikh<\/i> dan <i>Mans\u016bkh<\/i> suatu ayat sebelum menyimpulkan hukumnya. Disiplin ini menegaskan bahwa Al-Qur&#8217;an, meskipun turun selama 23 tahun, memiliki mekanisme internal untuk menyempurnakan dan menggantikan ketentuan yang diperlukan seiring perubahan zaman Nabi \ufdfa.<\/p>\n<p><b>Dampak pada Tafsir<\/b><\/p>\n<p>Disiplin ini mengidentifikasi Ayat-ayat hukum yang telah digantikan atau dibatalkan oleh ayat lain yang turun kemudian. Ini adalah kontribusi vital dalam Tafsir <i>al-Ahk\u0101m<\/i>,\u00a0Mencegah <i>mufassir<\/i> menggunakan ayat hukum yang statusnya telah dibatalkan, sehingga menjamin <b>konsistensi<\/b> dan <b>validitas<\/b> penetapan hukum Islam. Contoh klasiknya adalah perubahan hukum arah kiblat atau tahapan pengharaman <i>khamr<\/i> (minuman keras).<\/p>\n<h4>2. <i>Muhkam wa Mutash\u0101bih<\/i> (Jelas dan Ambigu)<\/h4>\n<p>Ayat <i>Muhkam<\/i> (jelas, definitif) adalah tulang punggung hukum dan akidah; ayat <i>Mutash\u0101bih<\/i> (ambigu, multi-interpretasi) adalah ayat yang maknanya tersembunyi, seringkali terkait dengan sifat-sifat Allah atau kejadian gaib.<\/p>\n<p>Kontribusi disiplin ini adalah menetapkan <b>hirarki interpretasi<\/b> dan <b>metode penyikapan<\/b>. <i>Mufassir<\/i> harus menjadikan ayat <i>Muhkam<\/i> sebagai <b>dasar rujukan<\/b> (<i>umm al-kit\u0101b<\/i>) ketika menafsirkan ayat <i>Mutash\u0101bih<\/i>. Hal ini mencegah penafsiran <i>mutash\u0101bih<\/i> yang menghasilkan penyimpangan akidah atau hukum. Sebagai contoh, dalam menafsirkan ayat tentang <i>Yad All\u0101h<\/i> (Tangan Allah), <i>mufassir<\/i> harus merujuk pada ayat <i>Muhkam<\/i> (QS. 42:11) yang menyatakan bahwa &#8220;Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia,&#8221; sehingga menghindari interpretasi <i>tajs\u012bm<\/i> (menggambarkan Allah memiliki fisik). Dengan demikian, <i>Muhkam wa Mutash\u0101bih<\/i> berfungsi sebagai <b>guardrail teologis<\/b> bagi Ilmu Tafsir.<\/p>\n<p><b>Dampak pada Tafsir<\/b><\/p>\n<p>Membantu <i>mufassir<\/i> menentukan prioritas dan membedakan <b>Muhkam<\/b> (Ayat-ayat yang maknanya jelas dan tidak menimbulkan keraguan, menjadi tulang punggung hukum),\u00a0<b>Mutash\u0101bih<\/b> (Ayat-ayat yang maknanya ambigu atau hanya diketahui Allah (seperti sifat-sifat Allah).\u00a0Ayat <i>Muhkam<\/i> harus digunakan sebagai dasar interpretasi, dan ayat <i>Mutash\u0101bih<\/i> tidak boleh ditafsirkan secara <i>mutlaq<\/i> dan literal yang bertentangan dengan prinsip dasar akidah dan <i>Muhkam<\/i>.<\/p>\n<p><strong>C. Kontribusi Linguistik: Menggali Kedalaman Makna<\/strong><\/p>\n<p>Studi Qur&#8217;an menyediakan alat <i>hermeneutika<\/i> (ilmu penafsiran) yang bersumber dari keahlian bahasa Arab, memungkinkan <i>mufassir<\/i> menggali kedalaman makna yang tersembunyi di balik susunan kata yang dipilih Allah.<\/p>\n<h4>1. <i>Qir\u0101&#8217;\u0101t<\/i> (Ragam Bacaan)<\/h4>\n<p>Ilmu Qiraat bertugas mempelajari berbagai cara baca Al-Qur&#8217;an yang disepakati (umumnya 10 <i>qir\u0101&#8217;\u0101t<\/i> yang mutawatir). Ilmu ini adalah studi mengenai berbagai cara pembacaan (<i>recitation<\/i>) Al-Qur&#8217;an yang otentik dan mutawatir (disampaikan oleh banyak jalur periwayatan). Umumnya terfokus pada 10 <i>Qir\u0101&#8217;\u0101t<\/i> utama.<\/p>\n<p>Kontribusinya adalah <b>pengayaan makna (<i>ithr\u0101&#8217; al-ma\u02bfn\u0101<\/i>)<\/b> dan <b>ekspansi hukum<\/b>. Seringkali, perbedaan pada <i>Qir\u0101&#8217;\u0101t<\/i> (misalnya perbedaan vokal atau konsonan) dapat membuka dimensi makna atau hukum baru. Misalnya, perbedaan <i>Qir\u0101&#8217;\u0101t<\/i> pada kata yang terkait dengan wudu dalam QS. 5:6 dapat memengaruhi apakah anggota tubuh tertentu harus dicuci atau cukup diusap. <i>Mufassir<\/i> yang piawai menggunakan perbedaan ini untuk memberikan nuansa yang lebih kaya pada penafsiran ayat, seperti yang sering dilakukan oleh <b>Imam al-Zamakhsyari<\/b> dalam tafsirnya <i>Al-Kashsh\u0101f<\/i> yang terkenal dengan analisis linguistiknya.<\/p>\n<h4>2. <i>I&#8217;j\u0101z al-Qur&#8217;\u0101n<\/i> (Kemukjizatan Al-Qur&#8217;an)<\/h4>\n<p>I&#8217;jaz Al-Qur&#8217;an adalah Studi tentang keunggulan dan kemukjizatan Al-Qur&#8217;an dalam berbagai aspek\u2014linguistik (<i>bal\u0101ghah<\/i>), ilmiah, dan legislatif.\u00a0Disiplin ini mengkaji sifat unik Al-Qur&#8217;an yang tidak dapat ditiru oleh manusia. Fokusnya meliputi mukjizat linguistik (<i>bal\u0101ghah<\/i>), ilmiah (<i>&#8216;ilm\u012b<\/i>), dan legalitas (<i>tashr\u012b&#8217;\u012b<\/i>). Kontribusi ini melahirkan dua corak tafsir modern, yaitu: (1)\u00a0<b>Tafsir Bal\u0101gh\u012b:<\/b> Berfokus pada keindahan retorika dan kesempurnaan <i>i&#8217;j\u0101z<\/i> Al-Qur&#8217;an, menunjukkan mengapa pilihan kata dan susunan kalimat tidak dapat digantikan. Ini sangat mempengaruhi <b>Tafsir Adab\u012b Ijtim\u0101&#8217;\u012b<\/b> (Sastra Sosial) yang dipelopori oleh Muhammad Abduh. (2)\u00a0<b>Tafsir &#8216;Ilm\u012b:<\/b> Mendorong <i>mufassir<\/i> untuk mencari isyarat-isyarat ilmiah modern dalam ayat-ayat kosmik (misalnya penciptaan alam, tahapan embrio). Meskipun harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak memaksakan interpretasi, <i>I&#8217;j\u0101z<\/i> memberikan justifikasi filosofis bagi <i>mufassir<\/i> untuk mengaitkan wahyu dengan realitas empiris.<\/p>\n<p><b>Dampak pada Tafsir<\/b><\/p>\n<p>Variasi bacaan seringkali menghasilkan <b>variasi makna<\/b> (bukan kontradiksi), yang memperkaya <i>istinb\u0101th<\/i> (penarikan kesimpulan). <i>Mufassir<\/i> dapat menggunakan perbedaan <i>qir\u0101&#8217;\u0101t<\/i> untuk memperluas cakupan hukum atau makna teologis.\u00a0 Studi Al-Qur&#8217;an terkait Kontribusi Linguistik ini melahirkan <b>Tafsir Bal\u0101gh\u012b<\/b> (retorika) dan munculnya <b>Tafsir &#8216;Ilm\u012b<\/b> (ilmiah). Tafsir <i>Bal\u0101gh\u012b<\/i> fokus pada keindahan susunan kata dan pilihan diksi, sementara Tafsir <i>&#8216;Ilm\u012b<\/i> mencoba mencari korelasi antara isyarat ayat-ayat kosmik dengan penemuan ilmu pengetahuan modern.<\/p>\n<p><strong>III. Evolusi Ilmu Tafsir Berkat Studi Qur&#8217;an<\/strong><\/p>\n<p>Formalisasi <i>&#8216;Ul\u016bm al-Qur&#8217;\u0101n<\/i> telah secara langsung memengaruhi evolusi metodologi tafsir menjadi corak-corak yang kita kenal saat ini. Kodifikasi Studi Qur&#8217;an secara historis telah memberikan disiplin dan arah yang jelas bagi <i>mufassir<\/i>, memungkinkan Ilmu Tafsir berkembang dari sekadar penyampaian riwayat menjadi ilmu yang terstruktur dan beragam.<\/p>\n<p><strong>A. Konsolidasi Tafsir <i>Bi al-Ma&#8217;th\u016br<\/i> (Tradisional)<\/strong><\/p>\n<p>Tafsir <i>Bi al-Ma&#8217;th\u016br<\/i> adalah penafsiran yang bersumber dari Al-Qur&#8217;an sendiri, hadis Nabi \ufdfa, ucapan Sahabat, dan Tabi&#8217;in. Kontribusi Studi Qur&#8217;an di sini adalah peningkatan <b>akuntabilitas riwayat<\/b>. Lahirnya Ilmu <i>Asb\u0101b al-Nuz\u016bl<\/i> dan kaidah periwayatan (bagian dari <i>&#8216;Ul\u016bm al-Qur&#8217;\u0101n<\/i>) berfungsi sebagai <b>filter kritis<\/b>. Para <i>mufassir<\/i> klasik, seperti <b>Ibn Jarir al-Thabari<\/b> dalam <i>J\u0101mi&#8217; al-Bay\u0101n<\/i>, menggunakan metodologi <i>tash\u012bh al-riw\u0101yah<\/i> (validasi riwayat) untuk menolak riwayat <i>Isr\u0101&#8217;\u012bliy\u0101t<\/i> (kisah yang berasal dari sumber Yahudi\/Kristen) yang bertentangan dengan Al-Qur&#8217;an atau akal sehat. Studi Qur&#8217;an mengubah <i>Bi al-Ma&#8217;th\u016br<\/i> dari sekadar kumpulan riwayat menjadi tafsir yang <b>teruji secara transmisi dan kontekstual<\/b>.<\/p>\n<p>Studi Qur&#8217;an memberikan kriteria ketat untuk validasi sumber (<i>tash\u012bh al-mas\u0101dir<\/i>). <i>Mufassir<\/i> seperti Ibn Jarir al-Thabari menggunakan kaidah riwayat (yang merupakan bagian dari <i>&#8216;Ul\u016bm al-Qur&#8217;\u0101n<\/i>) untuk menyeleksi riwayat-riwayat <i>isr\u0101&#8217;\u012bliy\u0101t<\/i> (kisah-kisah yang berasal dari sumber Yahudi\/Kristen) dan riwayat palsu yang tidak sahih, sehingga Tafsir <i>bi al-Ma&#8217;th\u016br<\/i> menjadi lebih kuat dan teruji.<\/p>\n<p><strong>B. Rasionalisasi Tafsir <i>Bi al-Ra&#8217;yi\u00a0<\/i>(Ijtihad)<\/strong><\/p>\n<p>Tafsir <i>Bi al-Ra&#8217;yi<\/i> adalah penafsiran yang melibatkan <i>ijtih\u0101d<\/i> (usaha penalaran) <i>mufassir<\/i> setelah merujuk kepada sumber-sumber <i>ma&#8217;th\u016br<\/i>. Studi Qur&#8217;an menjadi <b>kaidah pembatas<\/b> agar ijtihad tidak menyimpang. Kaidah bahasa (<i>I&#8217;r\u0101b al-Qur&#8217;\u0101n<\/i>, <i>Bal\u0101ghah<\/i>) dan hukum (<i>N\u0101sikh wa al-Mans\u016bkh<\/i>) membatasi <i>mufassir<\/i> untuk menafsirkan ayat berdasarkan hawa nafsu atau opini pribadi. Misalnya, seorang <i>mufassir<\/i> yang ingin menafsirkan ulang ayat hukum harus terlebih dahulu memastikan status <i>N\u0101sikh wa al-Mans\u016bkh<\/i>-nya, serta memastikan interpretasi bahasanya sesuai dengan kaidah <i>Nahu<\/i> dan <i>Sharf<\/i>. Tafsir rasional yang terkenal, seperti <b>Tafsir al-Kab\u012br<\/b> karya <b>Fakhruddin al-Razi<\/b>, menunjukkan betapa luasnya penggunaan ilmu kalam, filsafat, dan bahasa (semua merupakan ilmu turunan <i>&#8216;Ul\u016bm al-Qur&#8217;\u0101n<\/i>) untuk memperkuat argumen.<\/p>\n<p>Tafsir rasional (<i>bi al-ra&#8217;yi<\/i>) yang menggunakan ijtihad dan akal untuk menggali makna, menjadi sah dan terhindar dari tuduhan kesesatan hanya karena didasarkan pada kerangka Studi Qur&#8217;an. <i>Mufassir<\/i> dapat berijtihad dalam batas-batas yang ditetapkan oleh ilmu bahasa (<i>Ghar\u012bb al-Qur&#8217;\u0101n<\/i> dan <i>I&#8217;r\u0101b al-Qur&#8217;\u0101n<\/i>) dan hukum (<i>N\u0101sikh wa al-Mans\u016bkh<\/i>). Hal ini membuka jalan bagi <b>Tafsir Fiqh\u012b<\/b> (jurisprudensi), <b>Tafsir Lughaw\u012b<\/b> (linguistik), dan <b>Tafsir Falsaf\u012b<\/b> (filosofis). Fiqh\u012b, Lughaw\u012b, dan Filosofis.<\/p>\n<p><strong>C. Munculnya Metodologi Tafsir Kontemporer<\/strong><\/p>\n<p>Perkembangan Ilmu Tafsir di abad ke-20 dan ke-21 bergantung penuh pada aplikasi sistematis dari Studi Qur&#8217;an untuk menjawab tantangan modern.\u00a0Corak Tafsir modern, seperti <b>Tafsir <i>Maudh\u016b&#8217;\u012b<\/i><\/b> (Tematik) dan <b>Tafsir Kontekstual-Sistematis<\/b>, adalah produk langsung dari perkembangan Studi Qur&#8217;an.<\/p>\n<h4>1. Tafsir <i>Maudh\u016b&#8217;\u012b<\/i> (Tematik)<\/h4>\n<p>Metode ini, yang dipelopori oleh tokoh-tokoh seperti Muhammad al-Ghazali dan &#8216;Abd al-Hayy al-Farmawi, mengharuskan <i>mufassir<\/i> mengumpulkan seluruh ayat yang relevan dengan satu tema (misalnya, riba, wanita, jihad) di seluruh Al-Qur&#8217;an untuk mendapatkan kesimpulan yang holistik. Tafsir\u00a0<i>Maudh\u016b&#8217;\u012b<\/i> didasarkan pada asumsi Kesatuan Organik Al-Qur&#8217;an (<i>Wahdat al-Bin\u0101&#8217; al-Qur&#8217;\u0101n\u012b<\/i>), suatu kajian fundamental dalam <i>&#8216;Ul\u016bm al-Qur&#8217;\u0101n<\/i> yang menyatakan bahwa Al-Qur&#8217;an adalah satu kesatuan yang terintegrasi. Tanpa <i>&#8216;Ul\u016bm al-Qur&#8217;\u0101n<\/i> untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasikan ayat-ayat tersebut (<i>Makki wa Madani<\/i>, <i>Muhkam wa Mutash\u0101bih<\/i>), penyusunan <i>Maudh\u016b&#8217;\u012b<\/i> akan menjadi mustahil.<\/p>\n<h4>2. Tafsir Kontekstual-Sistematis<\/h4>\n<p>Pendekatan ini, yang dikembangkan oleh sarjana seperti Fazlur Rahman, menggunakan kerangka Studi Qur&#8217;an untuk membedakan antara makna etis-moral universal dan aplikasi legalitas spesifik suatu ayat. Rahman menggunakan <i>Asb\u0101b al-Nuz\u016bl<\/i> bukan untuk membatasi makna, tetapi untuk memahami &#8220;semangat&#8221; atau &#8220;tujuan&#8221; historis ayat tersebut (<i>Maq\u0101\u1e63id al-Tanz\u012bl<\/i>).<\/p>\n<p>Pendekatan ini adalah kontribusi Studi Qur&#8217;an yang paling berpengaruh di dunia akademik modern, memungkinkan <i>mufassir<\/i> untuk menafsirkan ulang hukum yang bersifat partikular (misalnya, beberapa aspek hukum perbudakan pada masa Nabi) dengan mengembalikannya pada tujuan universal Al-Qur&#8217;an (misalnya, keadilan dan pembebasan manusia). Dengan demikian, Studi Qur&#8217;an menjadi jembatan antara teks klasik dan realitas kontemporer. Pendekatan ini sangat mengandalkan perbedaan antara <span class=\"math-inline\" data-math=\"Asb\u0101b\\ al-Nuz\u016bl\">Asb\u0101b al-Nuz\u016bl <\/span>(konteks spesifik) dan <span class=\"math-inline\" data-math=\"Maq\u0101\u1e63id\\ al-Shari'ah\">Maq\u0101\u1e63id al-Shari&#8217;ah <\/span>\u00a0(tujuan universal) untuk merelevansikan hukum Islam dengan tantangan modern.<\/p>\n<p><strong>IV. Tantangan Kontemporer dan Peran Studi Qur&#8217;an<\/strong><\/p>\n<p>Pada abad ke-21, Ilmu Tafsir menghadapi tantangan yang kompleks dan multidimensi, mulai dari serangan liberalisasi interpretasi hingga derasnya arus informasi di ruang digital. Dalam konteks ini, Studi Qur&#8217;an (<i>&#8216;Ul\u016bm al-Qur&#8217;\u0101n<\/i>) bukan lagi sekadar alat akademik, melainkan menjadi <b>benteng metodologis<\/b> yang menjaga otentisitas, objektivitas, dan koherensi interpretasi Al-Qur&#8217;an dalam menghadapi modernitas.<\/p>\n<p><strong>1. Menghadapi Liberalisme Tafsir dan Eskapisme Tekstual<\/strong><\/p>\n<p>Globalisasi dan munculnya pemikiran pasca-struktural telah memunculkan interpretasi Al-Qur&#8217;an yang sangat liberal, di mana beberapa pihak cenderung menafsirkan ulang ayat-ayat fundamental (terutama yang berkaitan dengan hukum dan akidah) untuk disesuaikan sepenuhnya dengan nilai-nilai Barat kontemporer.<\/p>\n<p>Studi Qur&#8217;an, khususnya disiplin <b><span class=\"math-inline\" data-math=\"Muhkam\\ wa\\ Mutash\u0101bih\">Muhkam\\ wa\\ Mutash\u0101bih <\/span><\/b>(ayat yang jelas dan ambigu), memainkan peran krusial sebagai penentu batas interpretasi. Ayat-ayat <i>Muhkam<\/i> (seperti keesaan Allah, kewajiban salat, atau larangan riba) harus dijaga makna dasarnya (<i>thaw\u0101bit<\/i>) dan menjadi tolok ukur penafsiran. Studi Qur&#8217;an menyediakan kaidah bahwa ayat <i>Mutash\u0101bih<\/i> harus selalu dikembalikan kepada ayat <i>Muhkam<\/i> untuk menghindari kesimpulan yang bertentangan dengan prinsip dasar akidah dan syariat. Ini mencegah <b>eskapisme tekstual<\/b>, yaitu praktik menjauhkan teks dari makna aslinya di bawah dalih kontekstualisasi.<\/p>\n<p>Dalam menghadapi upaya beberapa sarjana untuk mengabaikan ayat hukum tertentu, pemahaman yang akurat tentang <i>N\u0101sikh wa al-Mans\u016bkh<\/i> membantu mengidentifikasi hukum mana yang bersifat final (<i>ghair mans\u016bkh<\/i>) dan harus dipertahankan.<\/p>\n<p><strong>2. Akurasi Digital dan Otentisitas Teks (<i>Rasm al-&#8216;Uthmani<\/i>)<\/strong><\/p>\n<p>Perkembangan teknologi digital telah membuat Al-Qur&#8217;an dapat diakses secara instan oleh miliaran orang melalui berbagai aplikasi dan platform. Meskipun ini adalah berkah, ia membawa risiko manipulasi atau kesalahan transmisi yang cepat menyebar.<\/p>\n<p>Disiplin <b><span class=\"math-inline\" data-math=\"Rasm\\ al-'Uthmani\">Rasm al-&#8216;Uthmani <\/span><\/b>(Cara Penulisan Al-Qur&#8217;an pada masa Khalifah Utsman) adalah kontribusi Studi Qur&#8217;an yang paling penting dalam konteks ini. Ilmu ini menetapkan standar ortografi yang diakui secara <i>mutawatir<\/i> (otoritatif) bagi mushaf. Di era digital, <i>&#8216;Ul\u016bm al-Qur&#8217;\u0101n<\/i> memastikan bahwa <i>font<\/i> dan tampilan mushaf di aplikasi digital (termasuk penempatan <i>waqf<\/i> dan <i>ibtida\u2019<\/i>\u2014tanda berhenti dan memulai bacaan) sesuai dengan kaidah <i>Rasm<\/i> dan <i>Dhabt<\/i> (tanda baca dan vokal). Hal ini menjamin <b>keutuhan dan otentisitas<\/b> teks, memastikan bahwa dasar bagi seluruh Ilmu Tafsir adalah teks yang tidak diragukan.<\/p>\n<p><b>Akurasi <i>Qir\u0101&#8217;\u0101t<\/i><\/b>. Studi <i>Qir\u0101&#8217;\u0101t<\/i> juga menjadi krusial dalam aplikasi audio Al-Qur&#8217;an, memastikan bahwa ragam bacaan yang disajikan kepada publik telah melalui jalur sanad yang sahih dan diakui.<\/p>\n<p><strong>3. Integrasi Trans-Disipliner dan Batasan Tafsir <i>Ilmi<\/i><\/strong><\/p>\n<p>Tantangan kontemporer menuntut <i>mufassir<\/i> untuk berdialog dengan ilmu pengetahuan dan disiplin sosial modern (seperti sosiologi, psikologi, dan ekonomi). Studi Qur&#8217;an menjadi jembatan antara wahyu dan sains\/sosial, namun sekaligus memberikan batasan.<\/p>\n<p><b>Batasan Tafsir <i>Ilmi<\/i><\/b>. Meskipun disiplin <b><span class=\"math-inline\" data-math=\"I'j\u0101z\\ al-Qur'\u0101n\">I&#8217;j\u0101z al-Qur&#8217;\u0101n <\/span><\/b>mendorong <i>mufassir<\/i> untuk mengeksplorasi isyarat-isyarat ilmiah dalam Al-Qur&#8217;an (yang melahirkan <b>Tafsir <i>Ilm\u012b<\/i><\/b>), Studi Qur&#8217;an menekankan perlunya kehati-hatian. Kaidah yang berlaku adalah: interpretasi ilmiah tidak boleh <b>dipaksakan<\/b> pada teks (<i>al-tafs\u012br al-&#8216;ilm\u012b al-ghair al-maqb\u016bl<\/i>) dan tidak boleh bertentangan dengan makna <i>Muhkam<\/i> yang jelas. Studi Qur&#8217;an mencegah <i>mufassir<\/i> menjadikan Al-Qur&#8217;an sebagai buku sains, melainkan sebagai kitab petunjuk yang isyaratnya terbukti sejalan dengan realitas alam.<\/p>\n<p><b>Metode Kontekstualisasi Sosial<\/b>. Ilmu <i>Asb\u0101b al-Nuz\u016bl<\/i> yang dikombinasikan dengan ilmu sosial kontemporer memungkinkan <i>mufassir<\/i> mengidentifikasi akar masalah sosial-ekonomi dalam konteks modern dan memberikan solusi tafsir yang relevan. Misalnya, dalam menafsirkan ayat tentang keadilan ekonomi, <i>mufassir<\/i> menggunakan Studi Qur&#8217;an untuk membedakan antara prinsip keadilan universal (inti <i>Makkiyah<\/i>) dan mekanisme penerapan yang berubah sesuai sistem sosial-ekonomi saat ini. Ini memastikan bahwa tafsir bersifat <b>responsif<\/b> tanpa mengorbankan akar teks.<\/p>\n<p><strong>V. Kesimpulan<\/strong><\/p>\n<p>Studi Qur&#8217;an (<i>&#8216;Ul\u016bm al-Qur&#8217;\u0101n<\/i>) adalah prasyarat epistemologis dan metodologis bagi Ilmu Tafsir. Kontribusinya sangat fundamental, mencakup validasi historis (<i>Asb\u0101b al-Nuz\u016bl<\/i>), kepastian legalitas (<i>N\u0101sikh wa al-Mans\u016bkh<\/i>), serta pendalaman linguistik dan estetika (<i>I&#8217;j\u0101z al-Qur&#8217;\u0101n<\/i> dan <i>Qir\u0101&#8217;\u0101t<\/i>). Ilmu-ilmu instrumental ini telah menstabilkan Tafsir Tradisional dan merangsang lahirnya corak Tafsir Kontemporer, khususnya Tafsir <i>Maudh\u016b&#8217;\u012b<\/i>. Penguasaan yang komprehensif terhadap Studi Qur&#8217;an menjamin bahwa interpretasi Al-Qur&#8217;an tetap autentik, objektif, dan relevan bagi umat manusia di setiap era.<\/p>\n<p><strong>Kepustakaan<\/strong><\/p>\n<p><b>Al-Qaththan, Manna&#8217; Khalil.<\/b> (2000). <i>Mab\u0101\u1e25ith f\u012b &#8216;Ul\u016bm al-Qur&#8217;\u0101n<\/i>. Kairo: Maktabah Wahbah. (Klasik kontemporer mengenai studi Al-Qur&#8217;an).<\/p>\n<p><b>Al-Zarkasyi, Badruddin.<\/b> (1988). <i>Al-Burh\u0101n f\u012b &#8216;Ul\u016bm al-Qur&#8217;\u0101n<\/i>. Beirut: D\u0101r al-Kutub al-&#8216;Ilmiyyah. (Karya klasik pertama yang mengkodifikasi <i>&#8216;Ul\u016bm al-Qur&#8217;\u0101n<\/i>).<\/p>\n<p><b>Al-Suyuthi, Jalaluddin.<\/b> (1973). <i>Al-Itq\u0101n f\u012b &#8216;Ul\u016bm al-Qur&#8217;\u0101n<\/i>. Beirut: D\u0101r al-Fikr. (Karya ensiklopedis dan komprehensif setelah Al-Zarkasyi).<\/p>\n<p><b>Shihab, M. Quraish.<\/b> (1997). <i>Membumikan Al-Qur&#8217;an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat<\/i>. Bandung: Mizan. (Perspektif kontemporer Indonesia tentang tafsir dan konteks).<\/p>\n<p><b>Al-Zarqani, Muhammad &#8216;Abd al-&#8216;Azhim.<\/b> (1995). <i>Man\u0101hil al-&#8216;Irf\u0101n f\u012b &#8216;Ul\u016bm al-Qur&#8217;\u0101n<\/i>. Beirut: D\u0101r al-Kutub al-&#8216;Ilmiyyah. (Sumber rujukan penting abad ke-20).<\/p>\n<p><b>Al-Farmawi, &#8216;Abd al-Hayy.<\/b> (1977). <i>Al-Bidayah fi al-Tafsir al-Mawdhu&#8217;i<\/i>. Kairo: Al-Azhar University Press. (Metodologi Tafsir Tematik).<\/p>\n<p><b>Rahman, Fazlur.<\/b> (1982). <i>Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition<\/i>. Chicago: University of Chicago Press. (Pendekatan hermeneutika ganda untuk tafsir kontekstual).<\/p>\n<p><b>Ibn Jarir al-Thabari, Muhammad ibn Jarir.<\/b> (2001). <i>J\u0101mi&#8217; al-Bay\u0101n f\u012b Ta&#8217;w\u012bl al-Qur&#8217;\u0101n<\/i>. Beirut: Mu&#8217;assasah al-Risalah. (Contoh Tafsir <i>Bi al-Ma&#8217;th\u016br<\/i> yang sangat mengandalkan riwayat).<\/p>\n<p><b>Al-Razi, Fakhruddin.<\/b> (1999). <i>Maf\u0101t\u012b\u1e25 al-Ghaib (al-Tafs\u012br al-Kab\u012br)<\/i>. Beirut: D\u0101r I\u1e25y\u0101&#8217; al-Tur\u0101th al-&#8216;Arab\u012b. (Contoh Tafsir <i>Bi al-Ra&#8217;yi<\/i> yang kaya dengan analisis linguistik, filsafat, dan teologi).<\/p>\n<p><b>Zaid, Nasr Hamid Abu.<\/b> (1994). <i>Mafh\u016bm al-Na\u1e63\u1e63: Dir\u0101sah f\u012b &#8216;Ul\u016bm al-Qur&#8217;\u0101n<\/i>. Kairo: D\u0101r al-Fun\u016bn. (Karya kritis kontemporer tentang teks Al-Qur&#8217;an dan hermeneutika).<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>(* <em><strong>Muhammad Farid Wajdi<\/strong><\/em>, Mahasiswa Pascasarjana Program Dirasah Islamiyah, Konsentrasi Sejarah Peradaban Islam (SPI) UIN Alauddin Makassar.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":6740,"comment_status":"open","ping_status":"closed","template":"","blog-kat":[105,73],"class_list":["post-15797","blog","type-blog","status-publish","has-post-thumbnail","hentry","blog-kat-artikel-esai","blog-kat-sejarah-kebudayaan-islam"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.6 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Kontribusi Studi Qur&#039;an terhadap Perkembangan Ilmu Tafsir - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) BLOGGURU - Salah satu topik bahasan yang menarik untuk dikaji, ditelusuri, dan didiskusikan dalam Mata Kuliah Studi Qur&#039;an\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/kontribusi-studi-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-tafsir\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Kontribusi Studi Qur&#039;an terhadap Perkembangan Ilmu Tafsir - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) BLOGGURU - Salah satu topik bahasan yang menarik untuk dikaji, ditelusuri, dan didiskusikan dalam Mata Kuliah Studi Qur&#039;an\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/kontribusi-studi-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-tafsir\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-11-15T00:54:04+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/istimewa-usia-3-tahun-hafidz-sudah-hafal-3-juz-alquran-2AKtkCWWPK.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"490\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"16 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/kontribusi-studi-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-tafsir\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/kontribusi-studi-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-tafsir\\\/\",\"name\":\"Kontribusi Studi Qur'an terhadap Perkembangan Ilmu Tafsir - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/kontribusi-studi-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-tafsir\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/kontribusi-studi-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-tafsir\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/07\\\/istimewa-usia-3-tahun-hafidz-sudah-hafal-3-juz-alquran-2AKtkCWWPK.jpg\",\"datePublished\":\"2025-11-09T23:53:47+00:00\",\"dateModified\":\"2025-11-15T00:54:04+00:00\",\"description\":\"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) BLOGGURU - Salah satu topik bahasan yang menarik untuk dikaji, ditelusuri, dan didiskusikan dalam Mata Kuliah Studi Qur'an\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/kontribusi-studi-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-tafsir\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/kontribusi-studi-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-tafsir\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/kontribusi-studi-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-tafsir\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/07\\\/istimewa-usia-3-tahun-hafidz-sudah-hafal-3-juz-alquran-2AKtkCWWPK.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/07\\\/istimewa-usia-3-tahun-hafidz-sudah-hafal-3-juz-alquran-2AKtkCWWPK.jpg\",\"width\":800,\"height\":490,\"caption\":\"Hafidz Qur'an\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/kontribusi-studi-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-tafsir\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Blog Guru\",\"item\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":3,\"name\":\"Kontribusi Studi Qur&#8217;an terhadap Perkembangan Ilmu Tafsir\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\",\"name\":\"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\",\"description\":\"Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#organization\",\"name\":\"IMMIM Pangkep\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/06\\\/cropped-immim.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/06\\\/cropped-immim.png\",\"width\":512,\"height\":512,\"caption\":\"IMMIM Pangkep\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Kontribusi Studi Qur'an terhadap Perkembangan Ilmu Tafsir - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","description":"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) BLOGGURU - Salah satu topik bahasan yang menarik untuk dikaji, ditelusuri, dan didiskusikan dalam Mata Kuliah Studi Qur'an","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/kontribusi-studi-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-tafsir\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Kontribusi Studi Qur'an terhadap Perkembangan Ilmu Tafsir - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","og_description":"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) BLOGGURU - Salah satu topik bahasan yang menarik untuk dikaji, ditelusuri, dan didiskusikan dalam Mata Kuliah Studi Qur'an","og_url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/kontribusi-studi-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-tafsir\/","og_site_name":"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","article_modified_time":"2025-11-15T00:54:04+00:00","og_image":[{"width":800,"height":490,"url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/istimewa-usia-3-tahun-hafidz-sudah-hafal-3-juz-alquran-2AKtkCWWPK.jpg","type":"image\/jpeg"}],"twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Estimasi waktu membaca":"16 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/kontribusi-studi-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-tafsir\/","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/kontribusi-studi-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-tafsir\/","name":"Kontribusi Studi Qur'an terhadap Perkembangan Ilmu Tafsir - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","isPartOf":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/kontribusi-studi-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-tafsir\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/kontribusi-studi-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-tafsir\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/istimewa-usia-3-tahun-hafidz-sudah-hafal-3-juz-alquran-2AKtkCWWPK.jpg","datePublished":"2025-11-09T23:53:47+00:00","dateModified":"2025-11-15T00:54:04+00:00","description":"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) BLOGGURU - Salah satu topik bahasan yang menarik untuk dikaji, ditelusuri, dan didiskusikan dalam Mata Kuliah Studi Qur'an","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/kontribusi-studi-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-tafsir\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/kontribusi-studi-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-tafsir\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/kontribusi-studi-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-tafsir\/#primaryimage","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/istimewa-usia-3-tahun-hafidz-sudah-hafal-3-juz-alquran-2AKtkCWWPK.jpg","contentUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/istimewa-usia-3-tahun-hafidz-sudah-hafal-3-juz-alquran-2AKtkCWWPK.jpg","width":800,"height":490,"caption":"Hafidz Qur'an"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/kontribusi-studi-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-tafsir\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Blog Guru","item":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/"},{"@type":"ListItem","position":3,"name":"Kontribusi Studi Qur&#8217;an terhadap Perkembangan Ilmu Tafsir"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#website","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/","name":"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","description":"Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan","publisher":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#organization","name":"IMMIM Pangkep","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/cropped-immim.png","contentUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/cropped-immim.png","width":512,"height":512,"caption":"IMMIM Pangkep"},"image":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#\/schema\/logo\/image\/"}}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/blog\/15797","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/blog"}],"about":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/types\/blog"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15797"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6740"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15797"}],"wp:term":[{"taxonomy":"blog-kat","embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/blog-kat?post=15797"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}