{"id":15806,"date":"2025-11-13T22:21:45","date_gmt":"2025-11-13T14:21:45","guid":{"rendered":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/?post_type=blog&#038;p=15806"},"modified":"2025-11-16T07:18:20","modified_gmt":"2025-11-15T23:18:20","slug":"kontribusi-studi-al-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-qiraat","status":"publish","type":"blog","link":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/kontribusi-studi-al-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-qiraat\/","title":{"rendered":"Kontribusi Studi Al-Qur&#8217;an Terhadap Perkembangan Ilmu Qira&#8217;at"},"content":{"rendered":"<p>Oleh:\u00a0<em><strong>Muhammad Farid Wajdi<\/strong><\/em> *)<\/p>\n<p><strong>BLOGGURU<\/strong> \u2013 Salah satu topik bahasan yang menarik untuk dikaji, ditelusuri, dan didiskusikan dalam Mata Kuliah Studi Qur\u2019an adalah Kontribusi Studi Qur\u2019an terhadap Perkembangan Ilmu Qiraat.\u00a0 Tulisan ini bermaksud menyediakan Kerangka Makalah Akademik Komprehensif. Semoga dengan catatan ini dapat berpotensi menyediakan fondasi yang kuat untuk dikembangkan lebih lanjut.<\/p>\n<p>Artikel\/Makalah ini juga merupakan langkah awal pengumpulan bahan\u00a0<strong>Kontribusi Studi Qur\u2019an terhadap Perkembangan Ilmu Qiraat <\/strong>sebagai pemenuhan tugas Mata Kuliah \u201cStudi Qur\u2019an\u201d yang diasuh oleh Dr Muhammad Daming Kaluku, M.Ag. dan Dr Abdul Ghany Musrif, M.Ag pada Program Pascasarjana Dirasah Islamiyah \u2013 Kelas Non Reguler Konsentrasi Sejarah Peradaban Islam (SPI) di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">***<\/p>\n<p><strong>Kontribusi Studi Al-Qur&#8217;an Terhadap Perkembangan Ilmu Qira&#8217;at<\/strong><\/p>\n<div>\n<div class=\"response-container ng-tns-c1469585282-20 response-container-with-gpi ng-star-inserted response-container-has-multiple-responses\" data-hveid=\"1\">\n<div class=\"presented-response-container ng-tns-c1469585282-20\" data-hveid=\"2\">\n<div class=\"response-container-content ng-tns-c1469585282-20\">\n<div class=\"response-content ng-tns-c1469585282-20\">\n<div id=\"model-response-message-contentr_5df9df39a4fc796a\" class=\"markdown markdown-main-panel enable-updated-hr-color\" dir=\"ltr\" aria-live=\"polite\" aria-busy=\"false\">\n<p data-path-to-node=\"3\">Studi Al-Qur&#8217;an, yang mencakup segala upaya intelektual dan praktis untuk memahami, memelihara, dan menafsirkan teks suci, memiliki hubungan yang simbiotik\u00a0dan\u00a0eksistensial\u00a0dengan\u00a0<b>Ilmu Qira&#8217;at<\/b>. Jika Studi Al-Qur&#8217;an adalah payung besar yang mencakup berbagai disiplin (<i>Ul\u016bm al-Qur\u2019\u0101n<\/i>), maka Ilmu Qira&#8217;at adalah salah satu disiplin paling fundamental yang lahir dan berkembang sebagai respons langsung terhadap kebutuhan untuk\u00a0<b>merefleksikan, menstandardisasi, dan mempertahankan keotentikan<\/b>\u00a0cara pelafalan Al-Qur&#8217;an sebagaimana yang diwariskan dari Rasulullah \ufdfa. Kontribusi Studi Al-Qur&#8217;an terhadap Ilmu Qira&#8217;at bukan sekadar mendukung, melainkan\u00a0<b>melahirkan dan memetakannya<\/b>\u00a0secara sistematis.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"3\">1. Definisi dan Basis Historis Ilmu Qira&#8217;at<\/p>\n<p data-path-to-node=\"3\">A. Pengertian Ilmu Qira&#8217;at<\/p>\n<p data-path-to-node=\"6\">Secara etimologi,\u00a0<i>qir\u0101\u2019at<\/i>\u00a0(\u0642\u0650\u0631\u064e\u0627\u0621\u064e\u0627\u062a) adalah bentuk jamak dari\u00a0<i>qir\u0101\u2019ah<\/i>\u00a0(\u0642\u0650\u0631\u064e\u0627\u0621\u064e\u0629) yang berarti bacaan. Secara terminologi,\u00a0<b>Ilmu Qira&#8217;at<\/b> didefinisikan sebagai:\u00a0Ilmu tentang cara-cara mengucapkan lafaz-lafaz Al-Qur&#8217;an dan perbedaannya, yang dinisbatkan kepada para imam qira&#8217;at, baik perbedaan tersebut bersifat konsensus (<i>ittif\u0101q<\/i>) maupun variatif (<i>ikhtil\u0101f<\/i>), disertai dengan sanadnya yang bersambung kepada Nabi Muhammad \ufdfa.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"8\">Ilmu ini membahas variasi dalam pelafalan huruf (<i>makhaarij al-\u1e25ur\u016bf<\/i>), sifat huruf (<i>\u1e63if\u0101t al-\u1e25ur\u016bf<\/i>), harakat,\u00a0<i>waqaf<\/i>\u00a0(berhenti),\u00a0<i>ibtid\u0101\u2019<\/i>\u00a0(memulai), dan\u00a0<i>fa\u1e63l<\/i>\u00a0(pemisah) yang semuanya bersumber dari riwayat lisan yang mutawatir.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"8\">B. Basis Historis: Pewarisan Al-Qur&#8217;an<\/p>\n<p data-path-to-node=\"10\">Kontribusi Studi Al-Qur&#8217;an bermula dari\u00a0fase transmisi lisan\u00a0Al-Qur&#8217;an. Rasulullah \ufdfa menerima wahyu dan membacakannya kepada para sahabat. Riwayat-riwayat sahih menunjukkan bahwa Nabi \ufdfa mengajarkan Al-Qur&#8217;an dengan\u00a0tujuh variasi dialek atau cara baca\u00a0(<i>sab\u2019atu a\u1e25ruf<\/i>).<\/p>\n<h4><b>Fenomena <i>Sab&#8217;atu A\u1e25ruf<\/i>\u00a0(Tujuh Huruf)<\/b><\/h4>\n<p data-path-to-node=\"12\">Konsep\u00a0<i>Sab&#8217;atu A\u1e25ruf<\/i>\u00a0adalah titik tolak munculnya Qira&#8217;at. Para ulama berbeda pendapat mengenai makna pasti dari\u00a0<i>Sab&#8217;atu A\u1e25ruf<\/i>, namun pandangan yang paling dominan mengarah pada variasi dialek, kosakata, dan sedikit perbedaan gramatikal di antara suku-suku Arab yang berbeda, yang semuanya diizinkan oleh Allah sebagai bentuk\u00a0kemudahan\u00a0(<i>takhf\u012bf<\/i>) bagi umat. Studi Al-Qur&#8217;an dalam tahap awal (masa Nabi dan Sahabat) melegitimasi variasi ini sebagai bagian dari wahyu ilahi, bukan kesalahan manusia. Ini adalah kontribusi pertama:\u00a0pengakuan formal terhadap variasi bacaan sebagai bagian integral dari Teks Suci.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"12\">2. Kontribusi Kodifikasi: Dari <i>\u1e62u\u1e25uf<\/i>\u00a0ke\u00a0<i>Ma\u1e63\u0101\u1e25if<\/i><\/p>\n<p data-path-to-node=\"15\">Fase kodifikasi Al-Qur&#8217;an adalah kontribusi paling signifikan dari Studi Al-Qur&#8217;an yang secara langsung melahirkan Ilmu Qira&#8217;at sebagai disiplin mandiri.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"15\">A. Kodifikasi Pertama (Masa Abu Bakar): Menjaga Teks<\/p>\n<p data-path-to-node=\"17\">Setelah Perang Yamamah (12 H), di mana banyak penghafal (Qurr\u0101&#8217;) gugur, Khalifah Abu Bakar a\u1e63-\u1e62idd\u012bq memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan seluruh Al-Qur&#8217;an dari pelepah kurma, batu, dan hafalan. Hasilnya adalah\u00a0<b>Mushaf (lembaran-lembaran) yang tersusun rapi<\/b>\u00a0(<i>a\u1e63-\u1e62u\u1e25uf<\/i>). Kontribusi ini adalah:\u00a0<b>Memastikan tidak ada ayat yang hilang<\/b>.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"17\">B. Standardisasi Utsmani: Melahirkan\u00a0<i>Rasm<\/i>\u00a0dan Batasan Qira&#8217;at<\/p>\n<p data-path-to-node=\"19\">Seiring meluasnya kekuasaan Islam, perbedaan cara baca Al-Qur&#8217;an (<i>ikhtil\u0101f al-qir\u0101\u2019\u0101t<\/i>) mulai menimbulkan perselisihan serius di kalangan umat. Perbedaan dialek (<i>lahjah<\/i>) yang dibawa oleh para sahabat dan Tabi&#8217;in di berbagai wilayah (Syam, Kufah, Basrah, Madinah) mengancam persatuan umat.<\/p>\n<h4><b>Peran Sentral\u00a0<i>Rasm \u2018Utsm\u0101n\u012b<\/i><\/b><\/h4>\n<p data-path-to-node=\"21\">Khalifah Utsman bin \u2018Affan (w. 35 H) mengambil langkah monumental dengan:\u00a0Mengumpulkan Mushaf yang ada,\u00a0Menyalinnya menjadi beberapa salinan resmi (<i>Ma\u1e63\u0101\u1e25if al-Im\u0101m<\/i>), serta\u00a0Mengirimkan salinan-salinan tersebut ke pusat-pusat peradaban Islam, disertai dengan seorang\u00a0<b>Q\u0101r\u012b\u2019<\/b>\u00a0(guru baca) yang akan mengajarkan cara bacanya yang benar (sesuai dialek Quraisy dan yang didengar langsung dari Nabi).<\/p>\n<p data-path-to-node=\"23\">Studi Al-Qur&#8217;an melalui inisiatif Utsman membatasi\u00a0ragam bacaan yang sah (<i>Qir\u0101\u2019\u0101t Sha\u1e25\u012b\u1e25ah<\/i>) hanya pada variasi yang\u00a0sesuai dengan kaidah bahasa Arab dan sesuai dengan\u00a0<i>Rasm \u2018Utsm\u0101n\u012b<\/i>, meskipun\u00a0<i>Rasm<\/i>\u00a0tersebut masih bersifat\u00a0tanpa titik (<i>i\u2019j\u0101m<\/i>) dan tanpa harakat (<i>tashk\u012bl<\/i>). <i>Rasm \u2018Utsm\u0101n\u012b<\/i>\u00a0(cara penulisan Utsman) yang \u2018telanjang\u2019 ini mampu mengakomodasi mayoritas Qira&#8217;at yang mutawatir, seperti perbedaan dalam kata \u0645\u0644\u0643 (M-L-K) di QS. Al-Fatihah: 4, yang bisa dibaca\u00a0<i>M\u0101lik<\/i>\u00a0(\u0645\u064e\u0627\u0644\u0650\u0643) atau\u00a0<i>Malik<\/i>\u00a0(\u0645\u064e\u0644\u0650\u0643). Inilah yang menjadi basis fisik bagi variasi Qira&#8217;at.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"24\">3. Kontribusi Metodologis: Pembentukan Ilmu Qira&#8217;at sebagai Disiplin<\/p>\n<p data-path-to-node=\"27\">Setelah\u00a0<i>Rasm \u2018Utsm\u0101n\u012b<\/i>\u00a0menjadi standar penulisan, upaya untuk mengkaji dan membakukan transmisi lisan variatif terus berlanjut. Ini adalah fase di mana Ilmu Qira&#8217;at lahir sebagai disiplin keilmuan dengan metodologi yang ketat.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"27\">A. Pembatasan dan Standardisasi Imam Tujuh (<i>Al-Qurr\u0101\u2019 as-Sab\u2019ah<\/i>)<\/p>\n<p data-path-to-node=\"29\">Pada masa Tabi&#8217;in dan Tabi&#8217;ut Tabi&#8217;in, muncul banyak ulama yang menjadi rujukan dalam bacaan Al-Qur&#8217;an di berbagai kota. Untuk mengatasi kerancuan dan membedakan antara bacaan yang sahih (<i>\u1e63a\u1e25\u012b\u1e25<\/i>) dari yang ganjil (<i>sh\u0101dh<\/i>), para ulama Studi Al-Qur&#8217;an berinisiatif\u00a0menyeleksi dan membakukan\u00a0ragam bacaan.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"30\">Peran Sentral Ibn Mujahid:\u00a0Abu Bakar A\u1e25mad bin M\u016bs\u0101 Ibn Muj\u0101hid\u00a0(w. 324 H) di Baghdad adalah tokoh kunci. Dalam bukunya,\u00a0<i>Kit\u0101b as-Sab\u2019ah f\u012b al-Qir\u0101\u2019\u0101t<\/i>, ia membatasi Qira&#8217;at Mutawatir hanya pada tujuh imam besar, yang kemudian dikenal sebagai\u00a0Qurr\u0101\u2019 as-Sab\u2019ah\u00a0(Imam Tujuh), yaitu:<\/p>\n<ol start=\"1\" data-path-to-node=\"31\">\n<li>\n<p data-path-to-node=\"31,0,0\">N\u0101fi\u2019 (Madinah)<\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p data-path-to-node=\"31,1,0\">Ibn Kath\u012br (Makkah)<\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p data-path-to-node=\"31,2,0\">Ab\u016b \u2018Amr (Basrah)<\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p data-path-to-node=\"31,3,0\">Ibn \u2018\u0100mir (Syam)<\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p data-path-to-node=\"31,4,0\">\u2018\u0100\u1e63im (Kufah)<\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p data-path-to-node=\"31,5,0\">\u1e24amzah (Kufah)<\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p data-path-to-node=\"31,6,0\">Al-Kis\u0101\u2019\u012b (Kufah)<\/p>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p data-path-to-node=\"32\">\u00a0Studi Al-Qur&#8217;an, melalui Ibn Mujahid dan ulama lain, memberikan kriteria dan kerangka metodologis yang ketat untuk menentukan keabsahan suatu Qira&#8217;at. Kriteria tersebut adalah: (1)\u00a0Kesesuaian dengan Sanad Mutawatir. Harus memiliki mata rantai periwayatan yang tak terputus dan pasti (mutawatir) sampai kepada Nabi Muhammad SAW.\u00a0 (2) Kesesuaian dengan\u00a0<i>Rasm \u2018Utsm\u0101n\u012b<\/i>.\u00a0Harus sesuai, meskipun hanya secara kemungkinan (<i>i\u1e25tim\u0101l<\/i>), dengan Mushaf standar Utsman. (3)\u00a0Kesesuaian dengan Kaidah Bahasa Arab (<i>Lughah \u2018Arabiyyah<\/i>). Harus sesuai dengan kaidah Nahwu dan Sharaf yang fasih.\u00a0Pembatasan ini adalah kontribusi ilmiah yang monumental, mengubah Qira&#8217;at dari praktik lisan yang tersebar menjadi\u00a0disiplin ilmu terstruktur.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"34\">B. Pengembangan Qira&#8217;at Sepuluh dan Empat Belas<\/p>\n<p data-path-to-node=\"36\">Meskipun Qira&#8217;at Tujuh menjadi sangat populer, ulama kemudian menambahkan tiga imam lagi (Abu Ja&#8217;far, Ya&#8217;qub, dan Khalaf) yang memenuhi kriteria mutawatir, sehingga lahirlah\u00a0Qira&#8217;at Sepuluh (<i>Al-Qir\u0101\u2019\u0101t al-\u2018Ashr<\/i>)\u00a0yang disahihkan oleh\u00a0Ibn al-Jazar\u012b\u00a0(w. 833 H) dalam kitabnya,\u00a0<i>An-Nashr f\u012b al-Qir\u0101\u2019\u0101t al-\u2018Ashr<\/i>.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"37\">Ibn al-Jazar\u012b menyusun sistem sanad dan riwayat Qira&#8217;at Sepuluh dengan sangat rinci, merangkumnya dalam puisi\u00a0\u1e6cayyibat an-Nashr\u00a0, yang menjadi rujukan hingga kini. Kontribusi ini memastikan bahwa\u00a0hanya variasi yang paling autentik\u00a0yang diakui sebagai wahyu, sementara Qira&#8217;at Ganjil (<i>sh\u0101dh<\/i>) dipelajari hanya untuk kepentingan linguistik dan tafsir, bukan untuk dibaca dalam shalat.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"37\">4. Kontribusi Terhadap Cabang Ilmu Qira&#8217;at: <i>Tajwid<\/i>\u00a0dan\u00a0<i>Faw\u0101\u1e63il<\/i><\/p>\n<p data-path-to-node=\"40\">Studi Al-Qur&#8217;an tidak hanya melahirkan\u00a0<i>Qir\u0101\u2019\u0101t<\/i>\u00a0secara umum, tetapi juga cabang-cabangnya yang spesifik.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"40\">A. Melahirkan Ilmu Tajwid<\/p>\n<p data-path-to-node=\"42\">Ilmu Tajwid\u00a0adalah aplikasi praktis dari Ilmu Qira&#8217;at, berfokus pada cara pengucapan setiap huruf dan kata Al-Qur&#8217;an agar sesuai dengan kaidah yang benar. Kontribusi Studi Al-Qur&#8217;an di sini bersifat\u00a0mikro-linguistik\u00a0dan\u00a0aplikatif:<\/p>\n<p data-path-to-node=\"43,0,0\">Dengan lahirnya Ilmu Tajwid, maka dimungkinkan dilakukan penyempurnaan Pelafalan (<i>Tahq\u012bq<\/i>).\u00a0Al-Qur&#8217;an menuntut bacaan yang sempurna (<i>tart\u012bl<\/i>). Kebutuhan ini mendorong studi mendalam tentang\u00a0<i>makh\u0101rij<\/i>\u00a0(tempat keluar huruf),\u00a0<i>\u1e63if\u0101t<\/i>\u00a0(sifat huruf),\u00a0<i>mad<\/i>\u00a0(panjang pendek),\u00a0<i>ghunnah<\/i>\u00a0(dengung),\u00a0<i>idzhar, idgham, iql\u0101b, ikhf\u0101\u2019<\/i>, dan lain-lain.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"43,1,0\">Ulama seperti Ibn al-Jazar\u012b\u00a0dalam\u00a0<i>al-Muqaddimah al-Jazariyyah<\/i>\u00a0mengkodifikasi kaidah-kaidah\u00a0<i>Tajwid<\/i> yang semuanya didasarkan pada observasi dan riwayat dari para Q\u0101r\u012b\u2019 yang membaca Al-Qur&#8217;an, sementara Studi Al-Qur&#8217;an memengaruhi penambahan tanda-tanda bacaan (harakat, tanda\u00a0<i>sukun, syaddah, mad<\/i>, dll.) ke dalam Mushaf, yang dikenal sebagai\u00a0Dhabt al-Ma\u1e63\u0101\u1e25if, untuk membantu non-Arab membaca dengan\u00a0<i>Tajwid<\/i>\u00a0yang benar. Tokoh seperti\u00a0Abu al-Aswad ad-Du&#8217;ali\u00a0(penambahan titik sebagai harakat) dan\u00a0Al-Khal\u012bl bin A\u1e25mad al-Far\u0101h\u012bd\u012b (penambahan harakat modern) adalah hasil dari dorongan Studi Al-Qur&#8217;an.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"43,2,0\">B. Ilmu\u00a0<i>Faw\u0101\u1e63il<\/i>\u00a0(Kepala Ayat)<\/p>\n<p data-path-to-node=\"45\">Ilmu\u00a0Faw\u0101\u1e63il\u00a0atau\u00a0\u2018Add al-Ay\u00a0(Ilmu Penghitungan Ayat) adalah disiplin yang secara historis berkembang paralel dengan Qira&#8217;at. Ilmu ini mempelajari tentang\u00a0jumlah ayat\u00a0dan\u00a0tempat berhenti\u00a0(<i>waqaf<\/i>) yang diwariskan dari para sahabat dan Tabi&#8217;in, yang kadang-kadang berbeda antar wilayah (Kufah, Madinah, Makkah, Syam).<\/p>\n<p data-path-to-node=\"45\">Ilmu Qira&#8217;at menetapkan kapan dan di mana harus berhenti (<i>waqaf<\/i>) dan memulai (<i>ibtid\u0101\u2019<\/i>), serta bagaimana cara menyambung (<i>wa\u1e63l<\/i>) dua kalimat. Penentuan kepala ayat seringkali bergantung pada riwayat Qira&#8217;at tertentu. Studi Al-Qur&#8217;an memetakan perbedaan ini, memastikan bahwa bacaan tetap mempertahankan kesatuan makna dan keindahan retorika.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"45\">5. Kontribusi Terhadap Ilmu Tafsir dan Hukum<\/p>\n<p data-path-to-node=\"49\">Ilmu Qira&#8217;at tidak hanya berperan dalam menjaga lafaz, tetapi juga menjadi\u00a0sumber signifikan bagi penafsiran\u00a0(Tafs\u012br) dan penetapan hukum (<i>Fiqh<\/i>).<\/p>\n<p data-path-to-node=\"49\">A. Memperkaya Makna Tafsir<\/p>\n<p data-path-to-node=\"51\">Perbedaan Qira&#8217;at yang mutawatir seringkali menghasilkan\u00a0<b>variasi makna<\/b>\u00a0yang memperkaya Tafsir. Para mufassir harus menguasai Ilmu Qira&#8217;at untuk menjelaskan kedalaman makna Al-Qur&#8217;an.<\/p>\n<div class=\"horizontal-scroll-wrapper\">\n<div class=\"table-block-component\">\n<div class=\"table-block has-export-button\">\n<div class=\"table-content not-end-of-paragraph\" data-hveid=\"0\" data-ved=\"0CAAQ3ecQahcKEwiW576zpfSQAxUAAAAAHQAAAAAQeQ\">\n<table data-path-to-node=\"52\">\n<thead>\n<tr>\n<td data-path-to-node=\"52,0,0,0\">Ayat Al-Qur&#8217;an<\/td>\n<td data-path-to-node=\"52,0,1,0\">Qira&#8217;at<\/td>\n<td data-path-to-node=\"52,0,2,0\">Makna Utama<\/td>\n<\/tr>\n<\/thead>\n<tbody>\n<tr>\n<td data-path-to-node=\"52,1,0,0\">QS. Al-Fatihah: 4<\/td>\n<td data-path-to-node=\"52,1,1,0\"><b>M\u0101lik<\/b>\u00a0(pemilik)<\/td>\n<td data-path-to-node=\"52,1,2,0\">Menekankan kekuasaan mutlak Allah atas Hari Pembalasan.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td data-path-to-node=\"52,2,0,0\">QS. Al-Fatihah: 4<\/td>\n<td data-path-to-node=\"52,2,1,0\"><b>Malik<\/b>\u00a0(raja)<\/td>\n<td data-path-to-node=\"52,2,2,0\">Menekankan kekuasaan dan pemerintahan Allah atas Hari Pembalasan.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td data-path-to-node=\"52,3,0,0\">QS. Al-Baqarah: 196<\/td>\n<td data-path-to-node=\"52,3,1,0\"><b>wa-atmim\u016b al-\u1e25ajja wa-l-&#8216;umrata<\/b><\/td>\n<td data-path-to-node=\"52,3,2,0\">&#8220;Sempurnakanlah haji dan umrah (keduanya wajib).&#8221; (Mayoritas)<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td data-path-to-node=\"52,4,0,0\">QS. Al-Baqarah: 196<\/td>\n<td data-path-to-node=\"52,4,1,0\"><b>wa-atmim\u016b al-\u1e25ajja wa-l-&#8216;umratu<\/b>\u00a0(dengan\u00a0<i>raf\u2019<\/i>\u00a0pada &#8216;umrah)<\/td>\n<td data-path-to-node=\"52,4,2,0\">&#8220;Sempurnakanlah haji, dan umrah adalah (sunnah\/opsional).&#8221; (Qira&#8217;at Ibn Kath\u012br yang memengaruhi pandangan Fiqh)<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<\/div>\n<div class=\"table-footer hide-from-message-actions ng-star-inserted\"><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<p data-path-to-node=\"53\">Studi Al-Qur&#8217;an mendorong Mufassir untuk melihat Al-Qur&#8217;an tidak sebagai teks monolitik, tetapi sebagai teks dengan dimensi <i>polysemic<\/i>\u00a0(banyak makna) yang diizinkan oleh Allah, di mana setiap variasi bacaan yang sahih mengungkap lapisan makna baru. Ini menghasilkan genre tafsir khusus yang berfokus pada\u00a0<i>tafs\u012br al-qir\u0101\u2019\u0101t<\/i>.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"53\">B. Sumber Pengambilan Hukum (<i>Fiqh<\/i>)<\/p>\n<p data-path-to-node=\"55\">Perbedaan Qira&#8217;at kadang-kadang memengaruhi penetapan hukum Fiqh (<i>istinb\u0101\u1e6d al-a\u1e25k\u0101m<\/i>). Contoh Wudhu sebagaimana termaktub dalam QS. Al-M\u0101\u2019idah: 6, <i>&#8230;wa-am-sa\u1e25\u016b bi-ru\u2019\u016bsikum wa\u00a0arjulakum\u00a0(dengan\u00a0fathah)<\/i>, dibaca\u00a0<i>man\u1e63\u016bb<\/i>\u00a0(objek), menunjukkan kewajiban membasuh kaki. Sementara Qira&#8217;at\u00a0\u1e24amzah dan Al-Kis\u0101\u2019\u012b\u00a0membacanya\u00a0<i>wa\u00a0arjulikum\u00a0(dengan\u00a0kasrah)<\/i>, dibaca\u00a0<i>majr\u016br<\/i>\u00a0(bersambung dengan\u00a0<i>ru&#8217;\u016bsikum<\/i>), yang mengimplikasikan kewajiban mengusap kaki (seperti mazhab Syiah dan sebagian ulama lain).<\/p>\n<p data-path-to-node=\"57\"><b>Kontribusi:<\/b>\u00a0Ilmu Qira&#8217;at menjadi\u00a0<b>salah satu sumber dalil<\/b>\u00a0(<i>ma\u1e63dar<\/i>) dalam Fiqh, memastikan bahwa mujtahid mempertimbangkan seluruh variasi teks yang otentik saat merumuskan hukum.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"57\"><strong>6. Kesimpulan<\/strong><\/p>\n<p data-path-to-node=\"60\">Kontribusi Studi Al-Qur&#8217;an terhadap perkembangan Ilmu Qira&#8217;at bersifat\u00a0<b>tak terpisahkan<\/b>; keduanya adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Ilmu Qira&#8217;at lahir dari kebutuhan internal Studi Al-Qur&#8217;an untuk\u00a0<b>memelihara otentisitas lafaz<\/b>\u00a0(transmisi lisan) setelah otentisitas penulisan (<i>Rasm \u2018Utsm\u0101n\u012b<\/i>) berhasil dijamin.\u00a0Studi Al-Qur&#8217;an melalui para ulama Tabi&#8217;in dan ulama Baghdad (Ibn Mujahid) menciptakan kerangka metodologis (kriteria sahih) dan standardisasi (Qira&#8217;at Tujuh\/Sepuluh) yang mengubah praktik lisan menjadi disiplin ilmu yang kokoh.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"61,1,0\">Studi Al-Qur&#8217;an melahirkan Ilmu Tajwid dan Dhabt al-Ma\u1e63\u0101\u1e25if, memastikan bahwa Qira&#8217;at dapat dipraktikkan secara benar oleh seluruh umat. Hal ini berarti Studi Qur&#8217;an telah melahirkan Pengayaan Intelektual dimana Qira&#8217;at menjadi alat penting bagi Tafsir dan Fiqh, yang memperluas cakrawala pemahaman Islam.\u00a0Singkatnya,\u00a0Ilmu Qira&#8217;at adalah produk tak terelakkan dari pemeliharaan ilahiah dan upaya intelektual manusia (<i>Studi Al-Qur&#8217;an<\/i>) untuk mengabadi\u00a0<i>Kalamullah<\/i>\u00a0sebagaimana diturunkan secara lisan oleh Rasulullah SAW.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"61,1,0\">Semoga bermanfaat adanya. <em>Barakallahu fiikum<\/em>. (*)<\/p>\n<p data-path-to-node=\"62\">Minasatene-Pangkep, 13 November 2025<\/p>\n<p data-path-to-node=\"62\">(* <em><strong>Muhammad Farid Wajdi<\/strong><\/em>, Guru\/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"62\"><strong>Referensi:\u00a0<\/strong><\/p>\n<p data-path-to-node=\"66,0,0\">Ibn al-Jazar\u012b, Muhammad bin Muhammad.\u00a0<i>An-Nashr f\u012b al-Qir\u0101\u2019\u0101t al-\u2018Ashr<\/i>. Beirut: D\u0101r al-Kutub al-\u2018Ilmiyyah.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"66,1,0\">Ibn al-Jazar\u012b, Muhammad bin Muhammad.\u00a0<i>Muqaddimah al-Jazariyyah<\/i>\u00a0(Matan).<\/p>\n<p data-path-to-node=\"66,2,0\">Adh-Dhahab\u012b, Muhammad Husain.\u00a0<i>At-Tafs\u012br wa al-Mufassir\u016bn<\/i>. Kairo: Maktabah Wahbah. (Membahas hubungan Qira&#8217;at dan Tafsir).<\/p>\n<p data-path-to-node=\"66,3,0\">Az-Zarkash\u012b, Badruddin Muhammad. <i>Al-Burh\u0101n f\u012b \u2018Ul\u016bm al-Qur\u2019\u0101n<\/i>. Beirut: D\u0101r al-Ma\u2019rifah. (Bagian yang membahas\u00a0<i>Sab&#8217;atu A\u1e25ruf<\/i>\u00a0dan\u00a0<i>Ikhtil\u0101f al-Qir\u0101\u2019\u0101t<\/i>).<\/p>\n<p data-path-to-node=\"66,4,0\">As-Suy\u016b\u1e6d\u012b, Jal\u0101l ad-D\u012bn.\u00a0<i>Al-Itq\u0101n f\u012b \u2018Ul\u016bm al-Qur\u2019\u0101n<\/i>. Beirut: D\u0101r al-Fikr. (Bagian mengenai\u00a0<i>T\u0101r\u012bkh al-Ma\u1e63\u0101\u1e25if<\/i>\u00a0dan\u00a0<i>Ilm al-Qir\u0101\u2019\u0101t<\/i>).<\/p>\n<p data-path-to-node=\"66,5,0\">Az-Zarq\u0101n\u012b, Muhammad \u2018Abd al-\u2018A\u1e93\u012bm.\u00a0<i>Man\u0101hil al-\u2018Irf\u0101n f\u012b \u2018Ul\u016bm al-Qur\u2019\u0101n<\/i>. Beirut: D\u0101r I\u1e25y\u0101\u2019 al-Kutub al-\u2018Arabiyyah. (Bab-bab khusus tentang\u00a0<i>Qir\u0101\u2019\u0101t<\/i>).<\/p>\n<p data-path-to-node=\"66,6,0\">Ibn Muj\u0101hid, Ab\u016b Bakar.\u00a0<i>Kit\u0101b as-Sab\u2019ah f\u012b al-Qir\u0101\u2019\u0101t<\/i>. Kairo: D\u0101r al-Ma\u2019\u0101rif.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"66,7,0\">Al-Qaththan, Manna\u2019 Khalil.\u00a0<i>Mab\u0101\u1e25ith f\u012b \u2018Ul\u016bm al-Qur\u2019\u0101n<\/i>. Riyadh: Maktabah al-Ma\u2019\u0101rif. (Bab tentang Kodifikasi Al-Qur&#8217;an dan Ilmu Qira&#8217;at).<\/p>\n<ol start=\"1\" data-path-to-node=\"66\">\n<li>\n<p data-path-to-node=\"66,8,0\">Shahrur, Muhammad. &#8220;The Quran, Morality, and Critical Reason: The Essential Link between I&#8217;rab and the Seven Ahruf.&#8221; (Kajian modern tentang implikasi linguistik Qira&#8217;at).<\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p data-path-to-node=\"66,9,0\">Sani, M. S. A. &#8220;The Role of Qira&#8217;at in Ijtihad and the Derivation of Islamic Legal Rulings.&#8221;\u00a0<i>Journal of Islamic Law and Culture<\/i>.<\/p>\n<\/li>\n<\/ol>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":10869,"comment_status":"open","ping_status":"closed","template":"","blog-kat":[439,214],"class_list":["post-15806","blog","type-blog","status-publish","has-post-thumbnail","hentry","blog-kat-ilmu-qiraat","blog-kat-ulumul-quran"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.6 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Kontribusi Studi Al-Qur&#039;an Terhadap Perkembangan Ilmu Qira&#039;at - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Oleh:\u00a0Muhammad Farid Wajdi *) BLOGGURU \u2013 Salah satu topik bahasan yang menarik untuk dikaji, ditelusuri, dan didiskusikan dalam Mata Kuliah Studi Qur\u2019an\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/kontribusi-studi-al-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-qiraat\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Kontribusi Studi Al-Qur&#039;an Terhadap Perkembangan Ilmu Qira&#039;at - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh:\u00a0Muhammad Farid Wajdi *) BLOGGURU \u2013 Salah satu topik bahasan yang menarik untuk dikaji, ditelusuri, dan didiskusikan dalam Mata Kuliah Studi Qur\u2019an\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/kontribusi-studi-al-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-qiraat\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-11-15T23:18:20+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/ilmu-qiraat.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"809\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"558\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"10 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/kontribusi-studi-al-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-qiraat\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/kontribusi-studi-al-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-qiraat\\\/\",\"name\":\"Kontribusi Studi Al-Qur'an Terhadap Perkembangan Ilmu Qira'at - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/kontribusi-studi-al-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-qiraat\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/kontribusi-studi-al-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-qiraat\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/05\\\/ilmu-qiraat.png\",\"datePublished\":\"2025-11-13T14:21:45+00:00\",\"dateModified\":\"2025-11-15T23:18:20+00:00\",\"description\":\"Oleh:\u00a0Muhammad Farid Wajdi *) BLOGGURU \u2013 Salah satu topik bahasan yang menarik untuk dikaji, ditelusuri, dan didiskusikan dalam Mata Kuliah Studi Qur\u2019an\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/kontribusi-studi-al-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-qiraat\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/kontribusi-studi-al-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-qiraat\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/kontribusi-studi-al-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-qiraat\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/05\\\/ilmu-qiraat.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/05\\\/ilmu-qiraat.png\",\"width\":809,\"height\":558},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/kontribusi-studi-al-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-qiraat\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Blog Guru\",\"item\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":3,\"name\":\"Kontribusi Studi Al-Qur&#8217;an Terhadap Perkembangan Ilmu Qira&#8217;at\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\",\"name\":\"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\",\"description\":\"Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#organization\",\"name\":\"IMMIM Pangkep\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/06\\\/cropped-immim.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/06\\\/cropped-immim.png\",\"width\":512,\"height\":512,\"caption\":\"IMMIM Pangkep\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Kontribusi Studi Al-Qur'an Terhadap Perkembangan Ilmu Qira'at - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","description":"Oleh:\u00a0Muhammad Farid Wajdi *) BLOGGURU \u2013 Salah satu topik bahasan yang menarik untuk dikaji, ditelusuri, dan didiskusikan dalam Mata Kuliah Studi Qur\u2019an","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/kontribusi-studi-al-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-qiraat\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Kontribusi Studi Al-Qur'an Terhadap Perkembangan Ilmu Qira'at - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","og_description":"Oleh:\u00a0Muhammad Farid Wajdi *) BLOGGURU \u2013 Salah satu topik bahasan yang menarik untuk dikaji, ditelusuri, dan didiskusikan dalam Mata Kuliah Studi Qur\u2019an","og_url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/kontribusi-studi-al-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-qiraat\/","og_site_name":"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","article_modified_time":"2025-11-15T23:18:20+00:00","og_image":[{"width":809,"height":558,"url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/ilmu-qiraat.png","type":"image\/png"}],"twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Estimasi waktu membaca":"10 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/kontribusi-studi-al-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-qiraat\/","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/kontribusi-studi-al-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-qiraat\/","name":"Kontribusi Studi Al-Qur'an Terhadap Perkembangan Ilmu Qira'at - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","isPartOf":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/kontribusi-studi-al-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-qiraat\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/kontribusi-studi-al-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-qiraat\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/ilmu-qiraat.png","datePublished":"2025-11-13T14:21:45+00:00","dateModified":"2025-11-15T23:18:20+00:00","description":"Oleh:\u00a0Muhammad Farid Wajdi *) BLOGGURU \u2013 Salah satu topik bahasan yang menarik untuk dikaji, ditelusuri, dan didiskusikan dalam Mata Kuliah Studi Qur\u2019an","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/kontribusi-studi-al-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-qiraat\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/kontribusi-studi-al-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-qiraat\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/kontribusi-studi-al-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-qiraat\/#primaryimage","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/ilmu-qiraat.png","contentUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/ilmu-qiraat.png","width":809,"height":558},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/kontribusi-studi-al-quran-terhadap-perkembangan-ilmu-qiraat\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Blog Guru","item":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/"},{"@type":"ListItem","position":3,"name":"Kontribusi Studi Al-Qur&#8217;an Terhadap Perkembangan Ilmu Qira&#8217;at"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#website","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/","name":"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","description":"Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan","publisher":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#organization","name":"IMMIM Pangkep","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/cropped-immim.png","contentUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/cropped-immim.png","width":512,"height":512,"caption":"IMMIM Pangkep"},"image":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#\/schema\/logo\/image\/"}}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/blog\/15806","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/blog"}],"about":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/types\/blog"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15806"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10869"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15806"}],"wp:term":[{"taxonomy":"blog-kat","embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/blog-kat?post=15806"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}