{"id":15891,"date":"2025-11-20T08:53:08","date_gmt":"2025-11-20T00:53:08","guid":{"rendered":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/?post_type=blog&#038;p=15891"},"modified":"2025-11-29T09:01:04","modified_gmt":"2025-11-29T01:01:04","slug":"aspek-aksiologis-dalam-ulumul-quran","status":"publish","type":"blog","link":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/aspek-aksiologis-dalam-ulumul-quran\/","title":{"rendered":"Aspek Aksiologis dalam Ulumul Qur&#8217;an"},"content":{"rendered":"<p>Oleh: <em><strong>Muhammad Farid Wajdi<\/strong><\/em> *)<\/p>\n<p><strong>BLOGGURU<\/strong> &#8211;\u00a0<b>Aspek Aksiologis<\/b> (<i>axiology<\/i>), sebagai cabang filsafat yang mengkaji nilai (<i>value<\/i>), adalah pilar ketiga dan paling praktis dari filsafat ilmu, melengkapi ontologi (apa yang ada) dan epistemologi (bagaimana pengetahuan diperoleh). Dalam konteks <b>Ulumul Qur&#8217;an<\/b> (ilmu-ilmu Al-Qur&#8217;an), aksiologi berfokus pada <b>tujuan akhir<\/b> dari pengetahuan wahyu, <b>nilai-nilai<\/b> yang terkandung di dalamnya, dan <b>implementasi praktis<\/b> yang dihasilkan oleh pemahaman Al-Qur&#8217;an.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"4\">Jika epistemologi membahas <i>bagaimana<\/i> kita memahami Al-Qur&#8217;an, aksiologi membahas <i>untuk apa<\/i> dan <i>bagaimana<\/i> pemahaman itu digunakan demi kemaslahatan umat manusia (<i>mashlahah<\/i>). Aksiologi <i>Ulumul Qur&#8217;an<\/i> bukan sekadar tentang etika dan moralitas, tetapi juga tentang hierarki nilai, tujuan syariat (<i>maqashid al-syari&#8217;ah<\/i>), dan dampak sosial-budaya dari penafsiran Al-Qur&#8217;an.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"5\">Inti dari aksiologi <i>Ulumul Qur&#8217;an<\/i> adalah menjadikan wahyu sebagai <b>sumber utama nilai<\/b> yang menuntun tindakan (<i>amal<\/i>), keputusan hukum (<i>istinbath al-ahkam<\/i>), dan pembangunan peradaban. Nilai tertinggi (<i>al-qimah al-&#8216;ulya<\/i>) yang dicari adalah mencapai <b>ridha Allah SWT<\/b> melalui pelaksanaan perintah-Nya dan pengamalan nilai-nilai universal yang dibawa Al-Qur&#8217;an.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"5\">1. Konsep Dasar Aksiologi dalam Islam<\/p>\n<p data-path-to-node=\"8\">Aksiologi dalam perspektif Islam dikenal sebagai <b>falsafah al-qiyam<\/b> (filsafat nilai) atau <b>&#8216;ilm al-akhlaq<\/b> (ilmu etika), namun cakupannya lebih luas dari sekadar akhlak. Nilai-nilai (<i>qiyam<\/i>) dalam Islam terbagi menjadi dua kategori utama:<\/p>\n<p data-path-to-node=\"8\">A. Nilai Instrumental (<i>Wasail<\/i>)<\/p>\n<p data-path-to-node=\"10\">Nilai-nilai yang menjadi sarana atau alat untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi, seperti kejujuran, disiplin, kerja keras, dan menuntut ilmu. Dalam <i>Ulumul Qur&#8217;an<\/i>, nilai instrumental ini tercermin dalam <b>metodologi tafsir<\/b> yang ketat (misalnya, kehati-hatian dalam periwayatan, penguasaan bahasa Arab, dan objektivitas).<\/p>\n<p data-path-to-node=\"10\">B. Nilai Intrinsik\/Terminal (<i>Ghayat<\/i>)<\/p>\n<p data-path-to-node=\"12\">Nilai-nilai yang merupakan tujuan akhir itu sendiri dan memiliki kebenaran mutlak, seperti keimanan kepada Allah (<i>Tawhid<\/i>), keadilan (<i>&#8216;Adl<\/i>), dan kemaslahatan (<i>Mashlahah<\/i>). Nilai-nilai ini bersifat <b>normatif<\/b> dan <b>universal<\/b>, menjadi pondasi bagi seluruh ajaran dalam Al-Qur&#8217;an.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"13\">Aksiologi <i>Ulumul Qur&#8217;an<\/i> berupaya memastikan bahwa seluruh ilmu yang dipelajari (seperti <i>Asbabun Nuzul<\/i>, <i>Nasikh wa Mansukh<\/i>, <i>I&#8217;jaz al-Qur&#8217;an<\/i>) pada akhirnya bermuara pada penguatan dan implementasi nilai-nilai intrinsik ini.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"13\">2. Tujuan Fundamental Aksiologis (<i>Maqashid al-Syari&#8217;ah<\/i>)<\/p>\n<p data-path-to-node=\"16\">Aspek aksiologis <i>Ulumul Qur&#8217;an<\/i> paling jelas terwujud dalam konsep <b>Maqashid al-Syari&#8217;ah<\/b> (Tujuan-Tujuan Hukum Islam), yang berfungsi sebagai kerangka aksiologis tertinggi dalam penafsiran dan penetapan hukum. Konsep ini menegaskan bahwa setiap ayat hukum (<i>ayat al-ahkam<\/i>) dan ajaran Al-Qur&#8217;an memiliki tujuan luhur untuk melindungi lima kebutuhan primer manusia (<i>al-dharuriyyat al-khams<\/i>):<\/p>\n<p data-path-to-node=\"16\">A. Perlindungan Agama (<i>Hifz ad-Din<\/i>)<\/p>\n<p data-path-to-node=\"18\"><b>Aksiologi Primer:<\/b> Menjaga keimanan yang murni dan ibadah yang benar. <b>Implementasi <i>Ulumul Qur&#8217;an<\/i>:<\/b> Ilmu-ilmu tentang akidah dan teologi (<i>Ulum al-Kalam<\/i>) yang bersumber dari ayat-ayat tauhid. Tafsir yang benar harus menghasilkan keyakinan yang kokoh dan menolak syirik (<i>kemusyrikan<\/i>).<\/p>\n<p data-path-to-node=\"18\">B. Perlindungan Jiwa (<i>Hifz an-Nafs<\/i>)<\/p>\n<p data-path-to-node=\"20\"><b>Aksiologi Primer:<\/b> Menjamin kelangsungan hidup dan keamanan fisik. <b>Implementasi <i>Ulumul Qur&#8217;an<\/i>:<\/b> Ayat-ayat yang melarang pembunuhan, penindasan, dan perusakan lingkungan. Aksiologi di sini mendorong penafsiran yang mendukung hak asasi manusia dan keadilan sosial.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"20\">C. Perlindungan Akal (<i>Hifz al-&#8216;Aql<\/i>)<\/p>\n<p data-path-to-node=\"22\"><b>Aksiologi Primer:<\/b> Menjaga kemampuan berpikir jernih, mencari ilmu, dan memahami wahyu. <b>Implementasi <i>Ulumul Qur&#8217;an<\/i>:<\/b> Ayat-ayat yang mendorong penggunaan akal (<i>tadabbur, tafakkur<\/i>). Larangan terhadap segala sesuatu yang merusak akal (misalnya, minuman keras). Aksiologi ini melahirkan etos ilmiah dan pendidikan.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"22\">D. Perlindungan Keturunan (<i>Hifz an-Nasl<\/i>)<\/p>\n<p data-path-to-node=\"24\"><b>Aksiologi Primer:<\/b> Menjamin kelangsungan keturunan dan menjaga kehormatan keluarga. <b>Implementasi <i>Ulumul Qur&#8217;an<\/i>:<\/b> Ayat-ayat hukum keluarga (<i>munakahat<\/i>) dan larangan perzinaan. Aksiologi ini menekankan nilai moralitas publik dan struktur keluarga yang stabil.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"24\">E. Perlindungan Harta (<i>Hifz al-Mal<\/i>)<\/p>\n<p data-path-to-node=\"26\"><b>Aksiologi Primer:<\/b> Menjaga kepemilikan pribadi yang sah, mendorong distribusi kekayaan yang adil, dan melarang eksploitasi. <b>Implementasi <i>Ulumul Qur&#8217;an<\/i>:<\/b> Ayat-ayat tentang zakat, riba, waris, dan muamalat (transaksi). Aksiologi ekonomi ini bertujuan menciptakan keadilan distributif dan menolak kapitalisme yang eksploitatif.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"27\">Dengan <i>Maqashid al-Syari&#8217;ah<\/i>, aksiologi <i>Ulumul Qur&#8217;an<\/i> memberikan <b>uji nilai<\/b> (<i>value testing<\/i>) terhadap hasil penafsiran. Jika sebuah penafsiran ayat (misalnya ayat hukum) bertentangan dengan tujuan fundamental syariat ini, maka penafsiran tersebut dianggap lemah atau tidak sah.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"27\">3. Nilai-Nilai Kunci dalam Teks Al-Qur&#8217;an<\/p>\n<p data-path-to-node=\"30\">Aksiologi <i>Ulumul Qur&#8217;an<\/i> juga tergambar melalui penekanan Al-Qur&#8217;an terhadap nilai-nilai inti yang harus diwujudkan oleh individu dan masyarakat:<\/p>\n<p data-path-to-node=\"30\">A. Nilai Keadilan (<i>Al-&#8216;Adl<\/i>)<\/p>\n<p data-path-to-node=\"32\"><b>Keadilan<\/b> adalah nilai aksiologis yang paling ditekankan setelah <i>Tawhid<\/i>. Al-Qur&#8217;an memerintahkan umat Islam untuk berlaku adil dalam segala hal, bahkan terhadap musuh.<\/p>\n<blockquote data-path-to-node=\"33\">\n<p data-path-to-node=\"33,0\"><i>\u201c<span class=\"citation-77 citation-end-77\">Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat ke<\/span>pada takwa.\u201d<\/i> (Q.S. Al-Ma&#8217;idah [5]: 8)<\/p>\n<\/blockquote>\n<p data-path-to-node=\"34\"><b>Implikasi Aksiologis:<\/b> Tafsir harus menghasilkan panduan praktis untuk mencapai keadilan sosial, ekonomi, dan hukum. Ini menuntut mufasir untuk tidak memihak dan menggunakan penafsirannya demi kepentingan kelompok tertentu.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"34\">B. Nilai Persamaan dan Kemuliaan Manusia (<i>Kar\u0101mah Ins\u0101niyah<\/i>)<\/p>\n<p data-path-to-node=\"36\">Al-Qur&#8217;an menetapkan bahwa seluruh manusia, tanpa memandang ras, suku, atau jenis kelamin, memiliki kemuliaan (<i>kar\u0101mah<\/i>) yang diberikan oleh Allah SWT. <b>Nilai kemanusiaan<\/b> adalah nilai intrinsik yang tidak dapat dicabut. <b>Implikasi Aksiologis:<\/b> Penafsiran harus menolak segala bentuk diskriminasi, rasisme, dan tirani. <i>Ulumul Qur&#8217;an<\/i> harus menghasilkan pemahaman yang inklusif dan mengakui pluralitas (<i>al-ta&#8217;addudiyyah<\/i>).<\/p>\n<p data-path-to-node=\"36\">C. Nilai <i>Ihsan<\/i> (Kebaikan Optimal)<\/p>\n<p data-path-to-node=\"38\"><i>Ihsan<\/i> adalah tingkat tertinggi dalam etika, melakukan sesuatu dengan kualitas terbaik, seolah-olah melihat Allah. <b>Implikasi Aksiologis:<\/b> Nilai ini mendorong keunggulan (<i>itqan<\/i>) dalam semua bidang, baik dalam ibadah, ilmu pengetahuan, maupun pekerjaan. Aksiologi di sini mendorong pengembangan ilmu dan teknologi yang berkualitas tinggi, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan, tetapi untuk mencapai kesempurnaan.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"38\">D. Nilai <i>Rahmah<\/i> (Kasih Sayang)<\/p>\n<p data-path-to-node=\"40\">Misi utama Nabi Muhammad SAW adalah membawa rahmat bagi seluruh alam (<i>rahmatan lil-&#8216;alamin<\/i>). <b>Implikasi Aksiologis:<\/b> Tafsir harus mencerminkan <b>nilai belas kasih dan pengampunan<\/b>, terutama dalam menafsirkan ayat-ayat <i>ahkam<\/i> (hukum) dan <i>jihad<\/i>. Penafsiran yang kaku atau ekstrem yang mengabaikan nilai <i>rahmah<\/i> dianggap cacat secara aksiologis.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"40\">4. Peran Aksiologis dalam Ilmu-Ilmu <i>Ulumul Qur&#8217;an<\/i><\/p>\n<p data-path-to-node=\"43\">Aksiologi tidak hanya menjadi tujuan akhir, tetapi juga berfungsi sebagai <b>filter etis<\/b> dan <b>arah metodologis<\/b> dalam setiap cabang <i>Ulumul Qur&#8217;an<\/i>.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"43\">A. Aksiologi dalam <i>Tafsir &#8216;Ilmiy<\/i> (Tafsir Ilmiah)<\/p>\n<p data-path-to-node=\"45\">Tafsir ilmiah yang mencoba menghubungkan ayat-ayat Al-Qur&#8217;an dengan temuan sains modern sangat membutuhkan filter aksiologis.<\/p>\n<ul data-path-to-node=\"46\">\n<li>\n<p data-path-to-node=\"46,0,0\"><b>Nilai Positif:<\/b> Aksiologi mendorong tafsir ilmiah untuk menunjukkan bahwa Al-Qur&#8217;an adalah sumber ilmu yang mendorong riset (<i>tadabbur<\/i> alam) dan menolak dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum, memenuhi <i>Hifz al-&#8216;Aql<\/i>.<\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p data-path-to-node=\"46,1,0\"><b>Filter Etis:<\/b> Aksiologi melarang penggunaan tafsir ilmiah yang <b>memaksakan<\/b> (<i>ta&#8217;wil<\/i> berlebihan) makna ayat hanya untuk mencocokkan teori ilmiah yang bersifat tentatif, karena hal itu dapat merusak <i>Hifz ad-Din<\/i> (kepercayaan pada otoritas mutlak wahyu).<\/p>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p>B. Aksiologi dalam <i>Tafsir Ahkam<\/i> (Tafsir Hukum)<\/p>\n<p data-path-to-node=\"48\">Aksiologi adalah esensi dari <i>Tafsir Ahkam<\/i>. Ketika melakukan <i>istinbath al-ahkam<\/i> (pengambilan hukum), seorang <i>mujtahid<\/i> atau <i>mufasir<\/i> harus selalu kembali pada <i>Maqashid al-Syari&#8217;ah<\/i>. Contohnya dalam menafsirkan ayat-ayat ekonomi, tujuan aksiologisnya bukan hanya menetapkan hukum transaksi, tetapi mencapai <b>keadilan distributif<\/b> dan <b>kemaslahatan umat<\/b> secara umum, bukan hanya keadilan prosedural belaka.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"48\">C. Aksiologi dalam <i>Balaghah al-Qur&#8217;an<\/i> (Retorika Al-Qur&#8217;an)<\/p>\n<p data-path-to-node=\"51\">Ilmu retorika, yang membahas keindahan dan kekuatan bahasa Al-Qur&#8217;an, memiliki tujuan aksiologis yang jelas:<\/p>\n<ul data-path-to-node=\"52\">\n<li>\n<p data-path-to-node=\"52,0,0\"><b>Dampak Emosional dan Spiritual:<\/b> Menjelaskan bagaimana struktur bahasa (<i>i&#8217;jaz<\/i>) mampu menggerakkan jiwa pendengar (<i>tahrik al-nafs<\/i>) untuk menerima kebenaran dan mengubah perilaku menjadi lebih baik (<i>tazkiyat an-nafs<\/i>). Aksiologi di sini adalah fungsi persuasif wahyu.<\/p>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p>D. Aksiologi dalam <i>Qira&#8217;at<\/i> (Rag\u0101m Bacaan)<\/p>\n<p data-path-to-node=\"54\">Meskipun <i>Qira&#8217;at<\/i> berfokus pada otentisitas teks (epistemologis), nilai aksiologisnya terletak pada Penjagaan Teks, demi menegaskan nilai otentik dan ketelitian (<i>itqan<\/i>) dalam melestarikan wahyu, yang merupakan bagian dari <i>Hifz ad-Din<\/i>. Nilai aksiologisnya juga pada\u00a0Kekayaan Makna<b>. <\/b>Ragam bacaan yang sah dapat membuka dimensi hukum dan makna yang berbeda, yang semuanya bertujuan memperluas ruang lingkup kemaslahatan (<i>mashlahah<\/i>) dalam penerapan hukum.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"54\">5. Aksiologi Kontemporer: Menghadapi Krisis Global<\/p>\n<p data-path-to-node=\"58\">Aksiologi <i>Ulumul Qur&#8217;an<\/i> menjadi semakin penting dalam menghadapi krisis etika dan nilai di dunia modern.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"58\">A. Aksiologi dan Isu Lingkungan (Eko-Aksiologi)<\/p>\n<p data-path-to-node=\"60\">Di tengah krisis iklim, aksiologi Al-Qur&#8217;an menawarkan solusi etis yang berakar pada konsep Khalifah (mandat kepemimpinan) dan Amanah (kepercayaan).<\/p>\n<ul data-path-to-node=\"61\">\n<li>\n<p data-path-to-node=\"61,0,0\"><b>Tanggung Jawab Ekologis:<\/b> Penafsiran ayat-ayat alam harus menekankan bahwa manusia memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga keseimbangan alam (<i>mizan<\/i>) dan dilarang melakukan perusakan (<i>fasad<\/i>).<\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p data-path-to-node=\"61,1,0\"><b>Nilai Keseimbangan:<\/b> Konsep <i>mizan<\/i> (keseimbangan) dalam Al-Qur&#8217;an adalah nilai aksiologis yang menuntut pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan, yang sejalan dengan tujuan <i>Hifz an-Nafs<\/i> dan <i>Hifz al-Mal<\/i> secara kolektif.<\/p>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p data-path-to-node=\"61,1,0\">B. Aksiologi dan Pluralisme Agama<\/p>\n<p data-path-to-node=\"63\">Dalam konteks masyarakat majemuk, aksiologi Al-Qur&#8217;an menegaskan nilai <b>kebebasan beragama<\/b> dan <b>toleransi<\/b>.<\/p>\n<ul data-path-to-node=\"64\">\n<li>\n<p data-path-to-node=\"64,0,0\"><b>&#8220;Tidak ada paksaan dalam agama&#8221;<\/b> (Q.S. Al-Baqarah [2]: 256) adalah pernyataan aksiologis yang menolak fanatisme dan ekstremisme.<\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p data-path-to-node=\"64,1,0\">Aksiologi menuntut mufasir untuk menghasilkan penafsiran yang mendukung kerjasama antarumat beragama dalam mencapai <b>nilai-nilai universal<\/b> (seperti keadilan dan kebaikan), tanpa mengorbankan keyakinan tauhid.<\/p>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p data-path-to-node=\"64,1,0\">C. Aksiologi dan Gerakan Ekstremisme<\/p>\n<p data-path-to-node=\"66\">Salah satu tantangan terbesar adalah munculnya tafsir yang membenarkan kekerasan dan ekstremisme.<\/p>\n<ul data-path-to-node=\"67\">\n<li>\n<p data-path-to-node=\"67,0,0\"><b>Penyimpangan Aksiologis:<\/b> Tafsir ekstremis adalah hasil dari <b>penyimpangan aksiologis<\/b> karena mereka mengabaikan nilai <i>Rahmah<\/i> dan <i>Maqashid al-Syari&#8217;ah<\/i> (terutama <i>Hifz an-Nafs<\/i> dan <i>Hifz ad-Din<\/i> yang benar).<\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p data-path-to-node=\"67,1,0\"><b>Peran <i>Ulumul Qur&#8217;an<\/i>:<\/b> <i>Ulumul Qur&#8217;an<\/i> harus secara aksiologis menunjukkan bahwa ayat-ayat perang\/jihad bersifat <b>kontekstual<\/b> dan harus dibaca dalam kerangka nilai <i>Hifz an-Nafs<\/i> dan <i>&#8216;Adl<\/i>, bukan sebagai nilai yang mutlak dan independen.<\/p>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p data-path-to-node=\"67,1,0\">Kesimpulan<\/p>\n<p data-path-to-node=\"70\">Aspek aksiologis dalam <i>Ulumul Qur&#8217;an<\/i> adalah dimensi yang memberikan <b>arti, arah, dan fungsi<\/b> pada seluruh ilmu pengetahuan yang bersumber dari wahyu. Ia berfungsi sebagai kerangka etis tertinggi, yang memastikan bahwa pemahaman Al-Qur&#8217;an tidak berhenti pada level teks (ontologi) atau metode (epistemologi), tetapi menghasilkan <b>tindakan, hukum, dan peradaban<\/b> yang selaras dengan kehendak Ilahi.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"71\">Inti dari aksiologi <i>Ulumul Qur&#8217;an<\/i> adalah menegakkan <b>Tawhid<\/b> sebagai nilai tertinggi, melaksanakannya melalui <b>Maqashid al-Syari&#8217;ah<\/b> (perlindungan lima hal pokok), dan mewujudkannya dalam tindakan sehari-hari melalui nilai-nilai universal seperti <b>Keadilan (<i>&#8216;Adl<\/i>), Kasih Sayang (<i>Rahmah<\/i>), dan Kemanusiaan (<i>Kar\u0101mah<\/i>)<\/b>. Dengan demikian, <i>Ulumul Qur&#8217;an<\/i> tidak hanya menjadi studi akademis, tetapi panduan praktis untuk mencapai kemaslahatan dunia dan akhirat.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"72\">Memahami aksiologi ini adalah jaminan bahwa pengetahuan yang diperoleh dari Al-Qur&#8217;an akan menjadi <b>ilmu yang bermanfaat (<i>&#8216;ilm n\u0101fi&#8217;<\/i>)<\/b> dan bukan sekadar pengetahuan belaka.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"72\">Referensi<\/p>\n<p data-path-to-node=\"75,4,0\"><b>Al-Faruqi, Isma&#8217;il Raji.<\/b> <i>(2005).<\/i> <b>Toward Islamic English.<\/b> The International Institute of Islamic Thought (IIIT). (Membahas konsep nilai dan <i>worldview<\/i> Islam, yang merupakan basis aksiologis).<\/p>\n<p data-path-to-node=\"75,3,0\"><b>Al-Qardhawi, Yusuf.<\/b> <i>(2006).<\/i> <b>Fiqh al-Jihad: Dirasah Muqaranah li Ahkamihi wa Falsafatihi fi Dhau&#8217;il Qur&#8217;an wa al-Sunnah.<\/b> Maktabah Wahbah. (Membahas aksiologi Jihad dalam kerangka nilai <i>Rahmah<\/i> dan <i>Maqashid<\/i>).<\/p>\n<p data-path-to-node=\"75,0,0\"><b>Al-Syatibi, Abu Ishaq.<\/b> <i>(2004).<\/i> <b>Al-Muwafaqat fi Ushul al-Syari&#8217;ah.<\/b> Dar Ibn Affan. (Karya klasik fundamental mengenai <i>Maqashid al-Syari&#8217;ah<\/i>, inti dari aksiologi hukum Islam).<\/p>\n<p data-path-to-node=\"75,1,0\"><b>Jasser Auda.<\/b> <i>(2008).<\/i> <b>Maqasid al-Shari\u2019ah as Philosophy of Islamic Law: A Systems Approach.<\/b> The International Institute of Islamic Thought (IIIT). (Pendekatan kontemporer terhadap <i>Maqashid<\/i> dari sudut pandang aksiologi dan sistem).<\/p>\n<p data-path-to-node=\"75,5,0\"><b>Kartanegara, Mulyadhi.<\/b> <i>(2006).<\/i> <b>Integrasi Ilmu: Sebuah Kajian Epistemologi.<\/b> Penerbit Mizan. (Walaupun fokus pada epistemologi, karya ini juga membahas tujuan akhir dari ilmu, yang merupakan wilayah aksiologi).<\/p>\n<p data-path-to-node=\"75,2,0\"><b>Shihab, M. Quraish.<\/b> <i>(2013).<\/i> <b>Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur&#8217;an.<\/b> Penerbit Lentera Hati. (Mengaplikasikan penafsiran yang berorientasi nilai dan tujuan).<\/p>\n<p data-path-to-node=\"75,6,0\"><b>Zayd, Nasr Hamid Abu.<\/b> <i>(2001).<\/i> <b>Mafhum an-Nash: Dirasah fi Ulum al-Qur&#8217;an.<\/b> Markaz Dirasat al-Wahdah al-Arabiyyah. (Mengulas peran konteks dan orientasi pembaca dalam menghasilkan nilai dari teks).<\/p>\n<p data-path-to-node=\"75,7,0\"><b>Jurnal Ilmiah terkait:<\/b><\/p>\n<ul>\n<li data-path-to-node=\"75,7,0\"><i>Aksiologi Ilmu dalam Perspektif Islam: Membangun Etika Keilmuan <\/i>(Kajian umum tentang aksiologi ilmu Islam)<\/li>\n<li data-path-to-node=\"75,7,0\"><i>Dimensi Aksiologis dalam Penafsiran Al-Qur&#8217;an <\/i>\u00a0(Fokus langsung pada peran nilai dalam proses tafsir)<\/li>\n<li data-path-to-node=\"75,7,0\"><i>Kontribusi Ulumul Qur&#8217;an dalam Mengatasi Kemanusiaan Global <\/i>(Menganalisis Implementasi Nilai Al-Qur&#8217;an terhadap Isu Kontemporer).<\/li>\n<li style=\"list-style-type: none;\"><\/li>\n<\/ul>\n<p>(* <em><strong>Muhammad Farid Wajdi<\/strong><\/em>, Guru Al-Qur&#8217;an-Hadits\/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":6740,"comment_status":"open","ping_status":"closed","template":"","blog-kat":[60,214],"class_list":["post-15891","blog","type-blog","status-publish","has-post-thumbnail","hentry","blog-kat-al-quran","blog-kat-ulumul-quran"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.6 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Aspek Aksiologis dalam Ulumul Qur&#039;an - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) BLOGGURU -\u00a0Aspek Aksiologis (axiology), sebagai cabang filsafat yang mengkaji nilai (value), adalah pilar ketiga dan paling\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/aspek-aksiologis-dalam-ulumul-quran\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Aspek Aksiologis dalam Ulumul Qur&#039;an - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) BLOGGURU -\u00a0Aspek Aksiologis (axiology), sebagai cabang filsafat yang mengkaji nilai (value), adalah pilar ketiga dan paling\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/aspek-aksiologis-dalam-ulumul-quran\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-11-29T01:01:04+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/istimewa-usia-3-tahun-hafidz-sudah-hafal-3-juz-alquran-2AKtkCWWPK.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"490\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"9 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/aspek-aksiologis-dalam-ulumul-quran\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/aspek-aksiologis-dalam-ulumul-quran\\\/\",\"name\":\"Aspek Aksiologis dalam Ulumul Qur'an - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/aspek-aksiologis-dalam-ulumul-quran\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/aspek-aksiologis-dalam-ulumul-quran\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/07\\\/istimewa-usia-3-tahun-hafidz-sudah-hafal-3-juz-alquran-2AKtkCWWPK.jpg\",\"datePublished\":\"2025-11-20T00:53:08+00:00\",\"dateModified\":\"2025-11-29T01:01:04+00:00\",\"description\":\"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) BLOGGURU -\u00a0Aspek Aksiologis (axiology), sebagai cabang filsafat yang mengkaji nilai (value), adalah pilar ketiga dan paling\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/aspek-aksiologis-dalam-ulumul-quran\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/aspek-aksiologis-dalam-ulumul-quran\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/aspek-aksiologis-dalam-ulumul-quran\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/07\\\/istimewa-usia-3-tahun-hafidz-sudah-hafal-3-juz-alquran-2AKtkCWWPK.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/07\\\/istimewa-usia-3-tahun-hafidz-sudah-hafal-3-juz-alquran-2AKtkCWWPK.jpg\",\"width\":800,\"height\":490,\"caption\":\"Hafidz Qur'an\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/aspek-aksiologis-dalam-ulumul-quran\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Blog Guru\",\"item\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":3,\"name\":\"Aspek Aksiologis dalam Ulumul Qur&#8217;an\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\",\"name\":\"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\",\"description\":\"Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#organization\",\"name\":\"IMMIM Pangkep\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/06\\\/cropped-immim.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/06\\\/cropped-immim.png\",\"width\":512,\"height\":512,\"caption\":\"IMMIM Pangkep\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Aspek Aksiologis dalam Ulumul Qur'an - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","description":"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) BLOGGURU -\u00a0Aspek Aksiologis (axiology), sebagai cabang filsafat yang mengkaji nilai (value), adalah pilar ketiga dan paling","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/aspek-aksiologis-dalam-ulumul-quran\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Aspek Aksiologis dalam Ulumul Qur'an - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","og_description":"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) BLOGGURU -\u00a0Aspek Aksiologis (axiology), sebagai cabang filsafat yang mengkaji nilai (value), adalah pilar ketiga dan paling","og_url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/aspek-aksiologis-dalam-ulumul-quran\/","og_site_name":"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","article_modified_time":"2025-11-29T01:01:04+00:00","og_image":[{"width":800,"height":490,"url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/istimewa-usia-3-tahun-hafidz-sudah-hafal-3-juz-alquran-2AKtkCWWPK.jpg","type":"image\/jpeg"}],"twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Estimasi waktu membaca":"9 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/aspek-aksiologis-dalam-ulumul-quran\/","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/aspek-aksiologis-dalam-ulumul-quran\/","name":"Aspek Aksiologis dalam Ulumul Qur'an - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","isPartOf":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/aspek-aksiologis-dalam-ulumul-quran\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/aspek-aksiologis-dalam-ulumul-quran\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/istimewa-usia-3-tahun-hafidz-sudah-hafal-3-juz-alquran-2AKtkCWWPK.jpg","datePublished":"2025-11-20T00:53:08+00:00","dateModified":"2025-11-29T01:01:04+00:00","description":"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) BLOGGURU -\u00a0Aspek Aksiologis (axiology), sebagai cabang filsafat yang mengkaji nilai (value), adalah pilar ketiga dan paling","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/aspek-aksiologis-dalam-ulumul-quran\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/aspek-aksiologis-dalam-ulumul-quran\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/aspek-aksiologis-dalam-ulumul-quran\/#primaryimage","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/istimewa-usia-3-tahun-hafidz-sudah-hafal-3-juz-alquran-2AKtkCWWPK.jpg","contentUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/istimewa-usia-3-tahun-hafidz-sudah-hafal-3-juz-alquran-2AKtkCWWPK.jpg","width":800,"height":490,"caption":"Hafidz Qur'an"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/aspek-aksiologis-dalam-ulumul-quran\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Blog Guru","item":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/"},{"@type":"ListItem","position":3,"name":"Aspek Aksiologis dalam Ulumul Qur&#8217;an"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#website","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/","name":"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","description":"Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan","publisher":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#organization","name":"IMMIM Pangkep","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/cropped-immim.png","contentUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/cropped-immim.png","width":512,"height":512,"caption":"IMMIM Pangkep"},"image":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#\/schema\/logo\/image\/"}}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/blog\/15891","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/blog"}],"about":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/types\/blog"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15891"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6740"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15891"}],"wp:term":[{"taxonomy":"blog-kat","embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/blog-kat?post=15891"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}