{"id":15992,"date":"2025-12-09T13:20:07","date_gmt":"2025-12-09T05:20:07","guid":{"rendered":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/?post_type=blog&#038;p=15992"},"modified":"2025-12-13T00:31:34","modified_gmt":"2025-12-12T16:31:34","slug":"bahan-diskusi-studi-hadits-tentang-penelitian-rijal-al-hadits-dan-al-jarh-wa-al-tadil-studi-hadits","status":"publish","type":"blog","link":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/bahan-diskusi-studi-hadits-tentang-penelitian-rijal-al-hadits-dan-al-jarh-wa-al-tadil-studi-hadits\/","title":{"rendered":"Bahan Diskusi Studi Hadits tentang Penelitian Rijal al-Hadits dan al-Jarh wa al-Ta\u2019dil (Studi Hadits)"},"content":{"rendered":"<p>Oleh: <em><strong>Muhammad Farid Wajdi<\/strong><\/em> *)<\/p>\n<p><strong>BLOGGURU<\/strong> &#8211; Dalam studi hadits di bangku perkuliahan S2 Dirasah Islamiyah, sudah menjadi kebiasaan umum bahwa pada setiap selesai penyajian makalah maka akan dilanjutkan dengan sesi mengajukan pertanyaan, tanggapan dan konfirmasi. Terkait hal tersebut, pada topik pembahasan tentang\u00a0Penelitian Rijal al-Hadits dan al-Jarh wa al-Ta\u2019dil, penulis mengajukan pertanyaan sebagai bahan diskusi bersama terkait topik Studi Hadits yang menarik ini.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"3\"><b>Pertanyaan:<\/b><\/p>\n<p data-path-to-node=\"4\">Dalam disiplin <i>al-Jarh wa al-Ta\u2019dil<\/i>, dikenal kaidah kritis <b>&#8220;al-Jarh al-Mufassar Muqaddam \u2018ala al-Ta\u2019dil al-Mubham&#8221;<\/b> (Celaan yang dijelaskan sebabnya didahulukan atas Pujian yang samar\/tidak dijelaskan).\u00a0Namun, terdapat pengecualian yang kompleks terhadap kaidah ini, terutama ketika seorang perawi dinilai secara keras (<i>Jarh<\/i>) oleh kritikus yang dikenal sangat ketat (<i>mutasyaddid<\/i>), tetapi secara bersamaan dipuji (<i>Ta\u2019dil<\/i>) oleh ulama mayoritas yang diakui sebagai kritikus yang moderat (<i>mu\u2019tadil<\/i>) dan dijadikan rujukan oleh Imam al-Bukhari atau Muslim.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"6\">Bagaimana peneliti Hadits seharusnya melakukan <i>tarjih<\/i> (penentuan hukum terkuat) dalam situasi ambigu ini? Jelaskan secara kritis, berdasarkan pendapat para <i>muhadditsin<\/i> klasik, tentang faktor-faktor yang menentukan apakah <i>Jarh<\/i> yang dijelaskan oleh kritikus <i>mutasyaddid<\/i> masih dapat ditolak demi mempertahankan <i>Ta\u2019dil<\/i> mayoritas ulama moderat, dan sebutkan satu contoh konkret perawi yang menunjukkan dilema ini.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"6\"><strong>Jawaban:<\/strong><\/p>\n<p data-path-to-node=\"6\">A. Analisis Kaidah dan Dilema<\/p>\n<p data-path-to-node=\"10\">Prinsip dasar <b>&#8220;al-Jarh al-Mufassar Muqaddam \u2018ala al-Ta\u2019dil al-Mubham&#8221;<\/b> adalah logis: informasi yang spesifik (sebab <i>jarh<\/i> dijelaskan, misalnya &#8220;perawi ini sering <i>tadlees<\/i>&#8221; atau &#8220;sering keliru\/gagal hafal&#8221;) harus diprioritaskan di atas pernyataan umum (<i>ta\u2019dil<\/i>), karena informasi spesifik itu menunjukkan adanya cacat yang luput dari pengetahuan ulama yang memuji.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"11\">Namun, dilema muncul ketika kita berhadapan dengan <b>kritikus <i>mutasyaddid<\/i><\/b> (seperti Yahya bin Ma&#8217;in, Ibnu Hibban, atau kadang Abu Hatim ar-Razi), yang standarnya sangat tinggi sehingga mereka cenderung mencela perawi yang sebenarnya cukup dapat diterima menurut standar mayoritas ulama. Pengecualian dan <i>tarjih<\/i> harus dilakukan berdasarkan pemahaman kritis terhadap status perawi dan metodologi para kritikus itu sendiri.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"11\">B. Faktor-Faktor Penentu <i>Tarjih<\/i><\/p>\n<p data-path-to-node=\"14\">Peneliti S2 harus mempertimbangkan tiga faktor utama untuk menolak <i>Jarh al-Mufassar<\/i> dari kritikus <i>mutasyaddid<\/i> demi <i>Ta\u2019dil<\/i> Mayoritas:<\/p>\n<p data-path-to-node=\"14\">1. Sifat Sebab <i>Jarh<\/i> (Jenis Cacat)<\/p>\n<p data-path-to-node=\"16\">Pengecualian dapat dilakukan jika sebab <i>Jarh<\/i> yang dijelaskan (<i>mufassar<\/i>) ternyata hanya berkaitan dengan <b>kekuatan <i>dhabt<\/i><\/b> (kecermatan hafalan) yang masih berada dalam batas toleransi.<\/p>\n<ul data-path-to-node=\"17\">\n<li>\n<p data-path-to-node=\"17,0,0\"><b>Jika <i>Jarh<\/i> berkaitan dengan <i>\u2018adalah<\/i> (integritas moral),<\/b> seperti tuduhan dusta (<i>kadzib<\/i>) atau pemalsuan (<i>wad\u2019<\/i>), maka <i>Jarh al-Mufassar<\/i> <b>wajib didahulukan<\/b> tanpa kecuali, meskipun kritikusnya <i>mutasyaddid<\/i>. Integritas adalah syarat mutlak.<\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p data-path-to-node=\"17,1,0\"><b>Jika <i>Jarh<\/i> berkaitan dengan <i>dhabt<\/i> (kecermatan),<\/b> seperti <i>kasrat al-wahm<\/i> (banyak keliru) atau <i>su\u2019 al-hifz<\/i> (buruk hafalan), <i>Jarh<\/i> ini dapat diabaikan atau diturunkan bobotnya jika:<\/p>\n<ul data-path-to-node=\"17,1,1\">\n<li>\n<p data-path-to-node=\"17,1,1,0,0\">Kesalahan yang dimaksud kritikus <i>mutasyaddid<\/i> adalah kesalahan minor yang masih ditoleransi oleh ulama moderat (menjadikan perawi berstatus <b><i>Shaduq<\/i><\/b> atau <b><i>Hasan al-Hadis<\/i><\/b>).<\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p data-path-to-node=\"17,1,1,1,0\">Perawi tersebut memiliki riwayat kuat dalam periwayatan tertulis (<i>dhabt al-kitab<\/i>), meskipun <i>dhabt al-shadr<\/i>-nya lemah.<\/p>\n<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p data-path-to-node=\"17,1,1,1,0\">2. Status Perawi dalam Kitab Otentik (<i>Sahihain<\/i>)<\/p>\n<p data-path-to-node=\"19\">Jika perawi yang dicela (<i>majr\u016bh<\/i>) oleh kritikus <i>mutasyaddid<\/i> adalah perawi yang telah digunakan oleh <b>Imam al-Bukhari atau Muslim<\/b> (perawi <i>\u2018ala Syarth al-Syaikhain<\/i>), khususnya sebagai perawi utama (<i>ashl<\/i>), maka <i>Ta\u2019dil<\/i> yang bersifat implisit ini <b>didahulukan<\/b>.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"20\">Alasan: Imam al-Bukhari dan Muslim dikenal sangat selektif dan ketat dalam menerima perawi. Penggunaan riwayat mereka oleh <i>al-Syaikhain<\/i> (dua Imam) menunjukkan bahwa mereka telah melalui <i>saringan kritik<\/i> yang lebih ketat daripada penilaian satu kritikus, meskipun ia <i>mutasyaddid<\/i>. Ini adalah bentuk <i>Ta\u2019dil Fi\u2019li<\/i> (pujian secara perbuatan) yang kuat.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"20\">3. Konsensus <i>Mu\u2019tadil<\/i> (Kritikus Moderat)<\/p>\n<p data-path-to-node=\"22\">Jika kritikus <i>mutasyaddid<\/i> hanya sendirian dalam mencela, sementara mayoritas kritikus yang dikenal <b>moderat dan berwibawa<\/b> (seperti Ahmad bin Hanbal, \u2018Ali bin al-Madini, atau Ibnu Hajar al-Asqalani) memuji perawi tersebut (<i>Ta\u2019dil<\/i>), maka <b>konsensus <i>Ta\u2019dil<\/i> mayoritas lebih kuat<\/b>. Hal ini didasarkan pada prinsip <b><i>Hukm al-Jumhur Muqaddam<\/i><\/b> (Hukum Mayoritas Didahulukan), karena kritik yang terlalu ketat (<i>tasyaddud<\/i>) cenderung tidak merepresentasikan standar penerimaan Hadits secara umum.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"22\">Kesimpulannya,\u00a0<i>Jarh al-Mufassar<\/i> dari <i>mutasyaddid<\/i> <b>dapat ditolak<\/b> jika sebab <i>jarh<\/i> tersebut berkaitan dengan <i>dhabt<\/i> minor, dan perawi tersebut telah digunakan oleh <i>al-Syaikhain<\/i> serta dipuji oleh mayoritas kritikus moderat. Dalam hal ini, <i>Ta\u2019dil<\/i> mayoritas dianggap sebagai <i>Ta\u2019dil<\/i> yang lebih teruji.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"22\">C. Contoh Konkret: Muhammad bin Ishaq (Ibnu Ishaq)<\/p>\n<p data-path-to-node=\"26\">Dilema ini dapat dilihat pada kasus <b>Muhammad bin Ishaq bin Yasar<\/b> (w. 151 H), seorang ahli sejarah dan <i>Sirah Nabawiyyah<\/i>.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"27,0,0\"><b>Terkait Jarh (Celaan),\u00a0<\/b><b>Imam Malik bin Anas<\/b> mencelanya karena <i>qadar<\/i> (pandangan teologis) dan <i>tadlees<\/i> (menyembunyikan nama guru) dan\u00a0<b>Hisyam bin \u2018Urwah<\/b> mencelanya karena <i>hawa<\/i> (kecenderungan pribadi).<\/p>\n<p data-path-to-node=\"27,1,0\"><b>Ta\u2019dil (Pujian). <\/b><b>Imam Ahmad bin Hanbal, Sufyan bin \u2018Uyaynah, dan Syu\u2019bah<\/b> memujinya sebagai <i>Hujjah<\/i> (otoritas) dan <i>Shaduq<\/i> (jujur).<\/p>\n<p data-path-to-node=\"27,2,0\"><b>Tarjih dan Hasil. <\/b>Meskipun ia dicela secara <i>mufassar<\/i> karena <i>tadlees<\/i> oleh Imam Malik (yang dikenal <i>mu\u2019tadil<\/i>), ia dipertahankan oleh kritikus Hadis moderat lainnya.\u00a0<b>Ibnu Hajar al-Asqalani<\/b> dalam <i>Taqrib al-Tahdhib<\/i> menyimpulkan statusnya adalah <b><i>Shaduq<\/i><\/b> (jujur) dan hanya bermasalah jika riwayatnya <i>mu\u2019an\u2019an<\/i> (menggunakan lafaz &#8216;dari&#8217;), tetapi diterima untuk <i>Sirah<\/i>.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"28\">Contoh ini menunjukkan bahwa <i>Jarh al-Mufassar<\/i> tidak selalu menghasilkan penolakan total. Peneliti harus membedakan antara <i>Jarh<\/i> yang berkaitan dengan integritas (<i>\u2018adalah<\/i>)\u2014yang sifatnya final\u2014dengan <i>Jarh<\/i> yang berkaitan dengan kecermatan (<i>dhabt<\/i>)\u2014yang sifatnya dapat dinegosiasikan atau diperbaiki melalui <i>mutaba\u2019ah<\/i> (jalur pendukung) atau analisis konteks (seperti riwayat <i>Sirah<\/i>).<\/p>\n<p data-path-to-node=\"28\">(* <em><strong>Muhammad Farid Wajdi<\/strong><\/em>, Guru\/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel<\/p>\n<p data-path-to-node=\"28\"><em>Referensi:<\/em><\/p>\n<p data-path-to-node=\"31,0,0\"><b>Al-\u2018Asqalani, Ahmad bin \u2018Ali bin Hajar.<\/b> <i>Nuzhat al-Nazar fi Tawdih Nukhbat al-Fikar<\/i>. Riyad: Maktabat al-Rushd, 2007. (Bagian tentang <i>al-Jarh wa al-Ta\u2019dil<\/i> dan <i>Tarjih<\/i>)<\/p>\n<p data-path-to-node=\"31,1,0\"><b>Al-\u2018Asqalani, Ahmad bin \u2018Ali bin Hajar.<\/b> <i>Tahdhib al-Tahdhib<\/i>. Beirut: Dar al-Fikr, 1984. (Lihat biografi perawi yang kontroversial, seperti Muhammad bin Ishaq).<\/p>\n<p data-path-to-node=\"31,2,0\"><b>Al-Khatib, Muhammad \u2018Ajjaj.<\/b> <i>Ushul al-Hadis: \u2018Ulumuhu wa Mustalahuhu<\/i>. Beirut: Dar al-Fikr, 1989. (Pembahasan detail mengenai kritikus <i>Mutasyaddid<\/i> vs. <i>Mu\u2019tadil<\/i>).<\/p>\n<p data-path-to-node=\"31,3,0\"><b>Al-Razi, Abu Muhammad \u2018Abdurrahman bin Muhammad bin Idris bin al-Mundzir (Ibnu Abi Hatim).<\/b> <i>Kitab al-Jarh wa al-Ta\u2019dil<\/i>. Hyderabad: Majlis Dairah al-Ma\u2019arif al-\u2018Utsmaniyah, 1952. (Digunakan sebagai rujukan untuk mengidentifikasi pandangan kritikus).<\/p>\n<p data-path-to-node=\"31,4,0\"><b>Al-Sayyid, Mahmud.<\/b> <i>Dirasat fi Manahij al-Muhadditsin<\/i>. Kairo: Dar al-Salam, 2008. (Analisis metodologi ulama <i>Jarh wa Ta\u2019dil<\/i> dan prinsip-prinsip <i>Tarjih<\/i>).<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":6744,"comment_status":"open","ping_status":"closed","template":"","blog-kat":[61,193],"class_list":["post-15992","blog","type-blog","status-publish","has-post-thumbnail","hentry","blog-kat-al-hadits","blog-kat-kitab-hadits"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.6 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Bahan Diskusi Studi Hadits tentang Penelitian Rijal al-Hadits dan al-Jarh wa al-Ta\u2019dil (Studi Hadits) - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) BLOGGURU - Dalam studi hadits di bangku perkuliahan S2 Dirasah Islamiyah, sudah menjadi kebiasaan umum bahwa pada setiap\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/bahan-diskusi-studi-hadits-tentang-penelitian-rijal-al-hadits-dan-al-jarh-wa-al-tadil-studi-hadits\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Bahan Diskusi Studi Hadits tentang Penelitian Rijal al-Hadits dan al-Jarh wa al-Ta\u2019dil (Studi Hadits) - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) BLOGGURU - Dalam studi hadits di bangku perkuliahan S2 Dirasah Islamiyah, sudah menjadi kebiasaan umum bahwa pada setiap\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/bahan-diskusi-studi-hadits-tentang-penelitian-rijal-al-hadits-dan-al-jarh-wa-al-tadil-studi-hadits\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-12-12T16:31:34+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/dhabit-dalam-hadis.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1600\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"891\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"5 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/bahan-diskusi-studi-hadits-tentang-penelitian-rijal-al-hadits-dan-al-jarh-wa-al-tadil-studi-hadits\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/bahan-diskusi-studi-hadits-tentang-penelitian-rijal-al-hadits-dan-al-jarh-wa-al-tadil-studi-hadits\\\/\",\"name\":\"Bahan Diskusi Studi Hadits tentang Penelitian Rijal al-Hadits dan al-Jarh wa al-Ta\u2019dil (Studi Hadits) - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/bahan-diskusi-studi-hadits-tentang-penelitian-rijal-al-hadits-dan-al-jarh-wa-al-tadil-studi-hadits\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/bahan-diskusi-studi-hadits-tentang-penelitian-rijal-al-hadits-dan-al-jarh-wa-al-tadil-studi-hadits\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/08\\\/dhabit-dalam-hadis.png\",\"datePublished\":\"2025-12-09T05:20:07+00:00\",\"dateModified\":\"2025-12-12T16:31:34+00:00\",\"description\":\"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) BLOGGURU - Dalam studi hadits di bangku perkuliahan S2 Dirasah Islamiyah, sudah menjadi kebiasaan umum bahwa pada setiap\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/bahan-diskusi-studi-hadits-tentang-penelitian-rijal-al-hadits-dan-al-jarh-wa-al-tadil-studi-hadits\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/bahan-diskusi-studi-hadits-tentang-penelitian-rijal-al-hadits-dan-al-jarh-wa-al-tadil-studi-hadits\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/bahan-diskusi-studi-hadits-tentang-penelitian-rijal-al-hadits-dan-al-jarh-wa-al-tadil-studi-hadits\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/08\\\/dhabit-dalam-hadis.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/08\\\/dhabit-dalam-hadis.png\",\"width\":1600,\"height\":891,\"caption\":\"Al-Hadits\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/bahan-diskusi-studi-hadits-tentang-penelitian-rijal-al-hadits-dan-al-jarh-wa-al-tadil-studi-hadits\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Blog Guru\",\"item\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":3,\"name\":\"Bahan Diskusi Studi Hadits tentang Penelitian Rijal al-Hadits dan al-Jarh wa al-Ta\u2019dil (Studi Hadits)\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\",\"name\":\"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\",\"description\":\"Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#organization\",\"name\":\"IMMIM Pangkep\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/06\\\/cropped-immim.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/06\\\/cropped-immim.png\",\"width\":512,\"height\":512,\"caption\":\"IMMIM Pangkep\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Bahan Diskusi Studi Hadits tentang Penelitian Rijal al-Hadits dan al-Jarh wa al-Ta\u2019dil (Studi Hadits) - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","description":"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) BLOGGURU - Dalam studi hadits di bangku perkuliahan S2 Dirasah Islamiyah, sudah menjadi kebiasaan umum bahwa pada setiap","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/bahan-diskusi-studi-hadits-tentang-penelitian-rijal-al-hadits-dan-al-jarh-wa-al-tadil-studi-hadits\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Bahan Diskusi Studi Hadits tentang Penelitian Rijal al-Hadits dan al-Jarh wa al-Ta\u2019dil (Studi Hadits) - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","og_description":"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) BLOGGURU - Dalam studi hadits di bangku perkuliahan S2 Dirasah Islamiyah, sudah menjadi kebiasaan umum bahwa pada setiap","og_url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/bahan-diskusi-studi-hadits-tentang-penelitian-rijal-al-hadits-dan-al-jarh-wa-al-tadil-studi-hadits\/","og_site_name":"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","article_modified_time":"2025-12-12T16:31:34+00:00","og_image":[{"width":1600,"height":891,"url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/dhabit-dalam-hadis.png","type":"image\/png"}],"twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Estimasi waktu membaca":"5 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/bahan-diskusi-studi-hadits-tentang-penelitian-rijal-al-hadits-dan-al-jarh-wa-al-tadil-studi-hadits\/","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/bahan-diskusi-studi-hadits-tentang-penelitian-rijal-al-hadits-dan-al-jarh-wa-al-tadil-studi-hadits\/","name":"Bahan Diskusi Studi Hadits tentang Penelitian Rijal al-Hadits dan al-Jarh wa al-Ta\u2019dil (Studi Hadits) - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","isPartOf":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/bahan-diskusi-studi-hadits-tentang-penelitian-rijal-al-hadits-dan-al-jarh-wa-al-tadil-studi-hadits\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/bahan-diskusi-studi-hadits-tentang-penelitian-rijal-al-hadits-dan-al-jarh-wa-al-tadil-studi-hadits\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/dhabit-dalam-hadis.png","datePublished":"2025-12-09T05:20:07+00:00","dateModified":"2025-12-12T16:31:34+00:00","description":"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) BLOGGURU - Dalam studi hadits di bangku perkuliahan S2 Dirasah Islamiyah, sudah menjadi kebiasaan umum bahwa pada setiap","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/bahan-diskusi-studi-hadits-tentang-penelitian-rijal-al-hadits-dan-al-jarh-wa-al-tadil-studi-hadits\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/bahan-diskusi-studi-hadits-tentang-penelitian-rijal-al-hadits-dan-al-jarh-wa-al-tadil-studi-hadits\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/bahan-diskusi-studi-hadits-tentang-penelitian-rijal-al-hadits-dan-al-jarh-wa-al-tadil-studi-hadits\/#primaryimage","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/dhabit-dalam-hadis.png","contentUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/dhabit-dalam-hadis.png","width":1600,"height":891,"caption":"Al-Hadits"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/bahan-diskusi-studi-hadits-tentang-penelitian-rijal-al-hadits-dan-al-jarh-wa-al-tadil-studi-hadits\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Blog Guru","item":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/"},{"@type":"ListItem","position":3,"name":"Bahan Diskusi Studi Hadits tentang Penelitian Rijal al-Hadits dan al-Jarh wa al-Ta\u2019dil (Studi Hadits)"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#website","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/","name":"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","description":"Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan","publisher":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#organization","name":"IMMIM Pangkep","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/cropped-immim.png","contentUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/cropped-immim.png","width":512,"height":512,"caption":"IMMIM Pangkep"},"image":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#\/schema\/logo\/image\/"}}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/blog\/15992","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/blog"}],"about":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/types\/blog"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15992"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6744"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15992"}],"wp:term":[{"taxonomy":"blog-kat","embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/blog-kat?post=15992"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}