{"id":16606,"date":"2026-04-04T06:46:45","date_gmt":"2026-04-03T22:46:45","guid":{"rendered":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/?post_type=blog&#038;p=16606"},"modified":"2026-04-09T11:51:15","modified_gmt":"2026-04-09T03:51:15","slug":"terjemah-nurul-yaqin-15-hamzah-masuk-islam","status":"publish","type":"blog","link":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/terjemah-nurul-yaqin-15-hamzah-masuk-islam\/","title":{"rendered":"Terjemah Nurul Yaqin (15): Hamzah Masuk Islam"},"content":{"rendered":"<p><strong>BLOGGURU<\/strong> \u2013 Berikut ini lanjutan dari Part 14 dari Kitab Nurul Yaqin fi Sirah Sayyidil Mursalin.<\/p>\n<div id=\"elementor-tab-title-56025\" class=\"elementor-tab-title elementor-active\" tabindex=\"0\" role=\"button\" data-tab=\"25\" aria-controls=\"elementor-tab-content-56025\" aria-expanded=\"true\" aria-selected=\"true\"><a class=\"elementor-toggle-title\" tabindex=\"0\">HAMZAH MASUK ISLAM<\/a><\/div>\n<div id=\"elementor-tab-content-56025\" class=\"elementor-tab-content elementor-clearfix elementor-active\" role=\"region\" data-tab=\"25\" aria-labelledby=\"elementor-tab-title-56025\">\n<p>Sebagian perlakuan dari orang-orang Quraisy yang menyakitkan tersebut . merupakan penyebab yang mendorong Hamzah ibnu \u2018Abdul-Muththalib, \u2014 paman Rasulullah saw., masuk Islam. Kefanatikan Hamzah terbakar ketika pada suatu hari ia dicela oleh sebagian kaum wanita karena dia diam saja sewaktu Abu Jahal menyakiti keponakannya sendiri (yaitu Rasulullah saw.) Segera ia berangkat menemui orang yang celaka itu, lalu ia memarahi dan memaki-makinya seraya mengatakan, \u201cMengapa engkau mencaci-maki Muhammad, sedangkan aku memeluk agamanya? Kemudian Allah memberikan cahaya keyakinan ke dalam hatinya sehingga ia menjadi orang yang paling baik keislamannya dan paling besar rasa ghirah-nya terhadap kaum Muslimin, serta paling kuat permusuhannya terhadap musuh-musuh agama sehingga ia dijuluki Asadullah (Harimau Allah).<\/p>\n<p>Sebagaimana Rasulullah saw. menerima perlakuan yang menyakitkan dari kaumnya, para sahabat pun mendapat perlakuan yang sama karena mereka mengikuti Rasulullah saw. Terutama sekali sahabat yang tidak memiliki keluarga yang dapat melindungi dirinya dari serangan musuh. Semua perlakuan yang menyakitkan itu dianggap remeh oleh mereka karena menyadari bahwa sikap mereka itu diridai oleh Allah swt. Keyakinan mereka terhadap agama Islam tetap kuat dan tidak goyah serta tidak terkena fitnah. Allah swt, menegakkan keimanan mereka sehingga akhirnya Dia menyempurnakan agama-Nya di tangan mereka, dan mereka akhirnya menjadi raja-raja di muka bumi yang sebelumnya mereka adalah orangorang lemah sebagaimana yang telah disebutkan dalam firman-Nya:<\/p>\n<p>Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi). (Q.S. 28 AlQashash: 5)<\/p>\n<p>Allah swt. mewujudkan apa yang telah dikehendaki-Nya itu. Di antara orang-orang yang disakiti di jalan Allah ialah Sahabat Bilal ibnu Rabbah. Dahulu ia seorang hamba sahaya milik Umayyah ibnu Khalaf al-Jumahi al-Qurasyi. Umayyah ibnu Khalaf memasang tali pada leher Bilal, kemudian ia menyerahkannya kepada anak-anak untuk dipermainkan. Akan tetapi, Bilal masih tetap mengucapkan, \u201cAhad, Ahad,\u201d dan ja sama sekali tidak menghiraukan apa yang dialaminya. Ia tetap mengesakan Allah.<\/p>\n<p>Pada suatu hari yang panas sekali Umayyah pergi membawa Bilal menuju padang pasir yang hanya terdiri dari pasir yang panas sekali, andaikata diletakkan daging di atasnya, pasti daging itu akan matang. Lalu Umayyah memerintahkan orang-orangnya supaya meletakkan batu besar di atas dada Bilal. Kemudian ia berkata kepada Bilal, \u201cEngkau akan tetap dalam keadaan begini hingga mati kecuali jika engkau ingkar kepada Muhammad. Kemudian kembali menyembah Latta dan \u2018uzza.\u201d Akan tetapi, bilal hanya mengucapkan, \u201cAhad, Ahad.\u201d<\/p>\n<p>Lewatlah Sahabat Abu Bakar dan ia melihat Bilal dalam keadaan demikian. Kemudian Abu Bakar berkata, \u201cHai Umayyah, tidakkah engkau takut kepada Allah terhadap orang miskin ini? Sampai kapan engkau menyiksanya?\u201d Umayyah menjawab, \u201cEngkau telah merusaknya.\u201d Sahabat Abu Bakar menolongnya. Ia membeli Bilal dari tangan Umayyah dan langsung memerdekakannya. Selanjutnya Allah swt. menurunkan firmanNya sehubungan dengan Umayyah ini yaitu:<\/p>\n<p>Maka Kami memperingatkan kalian dengan neraka yang menyalanyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya selain orang yang celaka, yang mendustakan (kebenaran), dan berpaling (dari iman). Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkah hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seorang pun memberikan nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari | keridaan Rabb-Nya yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan. (Q.S. 92 Al-Lail: 14-21)<\/p>\n<p>Al-asyqa artinya orang yang celaka, dan yang dimaksud adalah Umayyah ibnu Khalaf.<\/p>\n<p>Al-atqa artinya orang yang paling takwa, dan yang dimaksud ialah Sahabat Abu Bakar.<\/p>\n<p>Walasaufayardha artinya dia benar-benar akan mendapat kepuasan dari pahala yang diberikan Allah kepadanya, kelak di akhirat, sebagai balasan dari amal-amalnya yang baik itu.<\/p>\n<p>Dengan ayat-ayat di atas Allah telah mengingatkan bahwa harta yang telah disumbangkan oleh Sahabat Abu Bakar untuk membeli Bilal dan kemudian memerdekakannya, tiada lain demi mendapat keridaan Allah swt. Kiranya cukuplah bagi Sahabat Abu Bakar dengan kehormatan dan keutamaan ini.<\/p>\n<p>Di samping itu, Sahabat Abu Bakar r.a. telah memerdekakan pula budak-budak lain kecuali Bilal, kemudian mereka masuk Islam, tetapi bekas majikan-majikan mereka mencela perbuatan itu. Di antara mereka yang dimerdekakan oleh Sahabat Abu Bakar r.a. ialah Hammamah, ibu Sahabat Bilal, dan \u2018Amir ibnu Fuhairah. \u2018Amir ibnu Fuhairah disiksa oleh majikannya sehingga ia tidak menyadari apa yang dikatakannya. Abu Bakar r.a telah memerdekakan pula hamba sahaya lainnya yang bernama Abu Fuhaihah. Sebelum dibeli,ia adalah hamba sahaya milik shafwan ibnu Umayyah ibnu Khalaf.<\/p>\n<p>Yang lainnya yang telah dimerdekakan oleh Sahabat Abu Bakar ialah seorang wanita bernama Zanirah. Ia disiksa karena memeluk agama Islam hingga matanya buta, tetapi hal tersebut justru makin menambah keimanannya. Abu Jahal pernah mengatakan, \u201cTidakkah kalian heran melihat kelakuan mereka (para Sahabat) dan para pengikutnya. Seandainya apa yang didatangkan kepada Muhammad itu baik, niscaya mereka tidak akan dapat mendahului kami untuk beriman kepadanya. Apakah pantas Zanirah mendahului kami kepada petunjuk itu?\u201d Kemudian Allah swt. menurunkan firman-Nya :<\/p>\n<p>Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman, \u201cKalau sekiranya dia (Al-Quran) adalah sesuatu yang baik, tentulah mereka tidak mendahului kami (beriman) kepadanya.\u201d Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk daripadanya, maka mereka akan berkata, \u201cIni adalah dusta yang lama.\u201d (Q.S. 46 Al-Ahgaf : 11)<\/p>\n<p>Di antara hamba sahaya lain yang dimerdekakan oleh Sahabat Abu Bakar sesudah terlebih dahulu dibelinya ialah Ummu \u2018Unais. Sebelumnya \u2018Unais adalah hamba sahaya perempuan milik Bani Zahrah, dan orang yang sering menyiksanya adalah Al-Aswad ibnu \u2018Abdu Yaghuts.<\/p>\n<p>Di antara orang-orang yang disiksa karena memeluk agama Islam ialah \u2018 Ammar ibnu Yasir berikut saudara, ayah dan ibunya. Mereka disiksa dengan api, kemudian datang kepada mereka Rasulullah saw. seraya bersabda:<\/p>\n<p>Bersabarlah, hai keluarga Yasir, karena sesungguhnya surga adalah tempat kalian. Ya Allah, ampunilah keluarga Yasir, sungguh mereka sedang menghadapi cobaan yang berat. Adapun ayah dan ibu \u2018Ammar keduanya meninggal dunia sewaktu dalam siksaan. Sedangkan \u2018Ammar sendiri, karena tidak tahan menghadapi siksaan yang keras dan bertubi-tubi itu, akhirnya terpaksa mengucapkan kalimat kekufuran. Sebelum itu Abu Jahal memakaikan kepada \u2018Ammar baju besi, sedangkan pada waktu itu hari panas sekali hingga \u2018Ammar tidak mampu menahan panas, lalu melisankan kata-kata kekafiran. Kaum Muslimin berkata,\u201d Ammar telah kafir.\u201d Akan tetapi, dijawab oleh Rasulullah saw. bahwa \u2018Ammar dipenuhi dengan keimanan mulai dari atas kapalanya hingga kedua telapak kakinya. Sehubungan dengan peristiwa itu Allah swt. menurunkan firman-Nya sebagai pengecualian dalam hukum kemurtadan, yaitu:<\/p>\n<p>Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. (Q.S. 16 An-Nahl: 106)<\/p>\n<p>Orang lainnya yang disakiti karena memeluk agama Islam ialah Khabbab ibnul-Art. Pada Zaman Jahiliah ia menjadi tawanan, kemudian dibeli oleh Ummu Ammar. Ia adalah seorang pandai besi, dan Muhammad sering berkunjung kepadanya sebelum diangkat menjadi nabi. Tatkala Allah swt. mengangkatnya menjadi nabi, Khabbab ibnul-Art langsung masuk Islam.<\/p>\n<p>Majikannya pernah menyiksanya dengan api: diambilnya sepotong besi yang membara, lalu ditempelkannya di punggung Khabbab. Akan tetapi, hal itu tidak menggoyahkan keimanan Khabbab, bahkan makin menarnbah keimanannya. Pada suatu hari Khabbab datang menemui Rasulullah saw. yang pada waktu itu sedang rebah-rebahan berbantalkan kain jubahnya di bawah naungan Ka\u2019bah. Lalu ia berkata, \u201cWahai Rasulullah, tidakkah engkau berdoa untuk kemenangan kita?\u201d Mendengar pertanyaan itu Rasulullah saw. langsung bangkit dan mukanya merah padam (menandakan marah, pen.) seraya berkata:<\/p>\n<p>Sesungguhnya dahulu, di antara orang-orang sebelum kalian seseorang dikuliti dengan sisir yang terbuat dari besi di antara daging dan tulangnya, dan ada pula yang diletakkan gergaji di tengah-tengah kepala mereka kemudian dibelah, tetapi hal tersebut sama sekali tidak mampu membelokkannya dari agamanya. Dan sungguh niscaya Allah akan menampakkan (memenangkan) agama ini (Islam) sehingga seorang musafir berangkat dari Shan\u2019a hingga Hadhralmaut tidak lagi merasa takut kecuali kepada Allah dan kepada serigala atas dombanya.<\/p>\n<p>Rasulullah saw. mengatakan demikian karena dalam keadaan menerima tekanan yang sangat keras dari pihak kaum musyrikin, yang tidak akan dapat diramalkan oleh orang yang pandai dan orang yang bijaksana mana pun bahwa di balik itu telah menunggu suatu kekuatan atau kebahagiaan masa depan. Tiada lain ramalan tersebut hanyalah merupakan wahyu yang diturunkan kepadanya. Kemudian Allah swt. menurunkan firman-Nya guna memperteguh keimanan kaum mukminin yaitu:<\/p>\n<p>Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, \u201cKami telah beriman,\u201d sedangkan mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar, dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (Q.S. 29 \u2018Ankabut: 1-3)<\/p>\n<p>Orang lainnya lagi yang disakiti di jalan Allah ialah Sahabat Abu Bakar Shiddig. Tatkala tekanan yang dilancarkan oleh: kaum musyrikin terhadap dirinya kian bertambah keras, ia bertekad untuk melakukan hijrah dari Makkah ke Abesinia (Etiopia sekarang). Kemudian ia berangkat untuk melaksanakan maksudnya itu.<\/p>\n<p>Ketika ia sampai ke suatu daerah yang dikenal dengan nama Barkul Ghimad, ia bertemu dengan Ibnud-Daghmah, pemimpin suatu kabilah yang besar, yaitu kabilah Al-Garah. Ibnud-Daghnah bertanya kepadanya, \u201cKe mana engkau hendak pergi, hai Abu Bakar?\u201d Sahabat Abu Bakar menjawab, \u201cKaumku telah mengusirku, maka aku bermaksud untuk mengembara di bumi dan menyembah Rabb-ku.\u201d Ibnud-Daghnah berkata, \u201cOrang yang seperti engkau tidak boleh diusir. Sesungguhnya engkau adalah orang yang suka membantu orang yang miskin, menghubungkan silaturrahim, menanggung beban, menjamu tamu, dan menolong orang-orang yang tertimpa bencana. Maka aku adalah orang yang melindungi engkau. Sekarang kembalilah engkau ke tanah tumpah darah engkau, dan sembahlah Rabbmu di negerimu.\u201d Kemudian Abu Bakar kembali sedangkan Ibnud-Daghnah berangkat pula mendampinginya. Ibnud-Daghnah berkeliling mengunjugi orang-orang terkemuka dari kabilah Quraisy seraya mengatakan kepada mereka.\u201d Orang yang seperti Abu Bakar tidak boleh diusir. Apakah kalian mengusir seorang lelaki yang suka membantu orang miskin, selalu menghubungkan silaturrahim, suka menanggung beban, gemar menjamu tamu, dan suka menolong orang-orang yang tertimpa bencana?\u201d<\/p>\n<p>Tidak seorang pun yang menentang jaminan yang diberikan oleh Ibnud-Daghnah. Lalu mereka berkata, \u201cPerintahkanlah Abu Bakar supaya ia menyembah Rabb-nya di dalam rumahnya saja. Silakan dia melakukan salat sesukanya, dan silakan ia membaca ayat-ayat yang disukainya. Akan tetapi, janganlah dia menyakiti kami, dan jangan pula ia menonjolkan dirinya, sebab sesungguhnya kami khawatir wanitawanita dan anak-anak kami terhasut olehnya.\u201d<\/p>\n<p>Kemudian Ibnud-Daghnah menyampaikan hal tersebut kepada Abu Bakar. Abu Bakar berdiam di rumahnya, menyembah Rabb-nya, dan ia tidak menonjolkan salat serta bacaan Al-QQur\u2019an selain di dalam rumahnya sendiri, sesuai dengan apa yang diminta oleh mereka. Lama-kelamaan Abu Bakar mempunyai pikiran untuk membangun sebuah langgar di halaman rumahnya. Lalu ia mewujudkan niatnya itu. Sejak saat itu ia mulai melakukan salat dan membaca Al-Quran di dalam langgar tersebut. Setiap kali Abu Bakar melakukan salat dan membaca Al-Guran, kaum wanita orangorang musyrik dan anak-anak mereka datang mengerumuni karena merasa takjub dengan apa yang dilakukan oleh Abu Bakar, dan mereka merasa senang melihat apa yang dilakukannya. Suhabat Abu Bakar mudab menangis bila membaca Al-Guran. Orang-orang terkemuka kabilah Quraisy terkejut melihat hal tersebut, lalu mereka mengirimkan utusan kepada Ibnud Daghnah.<\/p>\n<p>Setelah utusan kaum Quraisy menemui Ibnud-Daghnah, mereka berkata, \u201cSesungguhnya kami telah melindungi Abu Bakar atas jaminan engkau dengan syarat hendaknya dia menyembah Rabb-nya di dalam rumahnya saja. Akan tetapi, ternyata ia telah melebihi hal tersebut. Kini ia membangun langgar di halaman rumahnya: ia menonjolkan salat dan bacaannya di dalam langgar. Sesungguhnya kami merasa khawatir wanitawanita dan anak-anak kami termakan oleh hasutannya. Bila ia mau menyembah Rabb-nya di halaman rumahnya saja, ia boleh melakukan hal itu. Bila ia membangkang serta tetap bersikeras untuk menonjolkan diri, maka mintalah kembali jaminan engkau daripadanya. Sesungguhnya kami tidak suka melanggar jaminan yang telah engkau berikan, dan kami pun tidak suka Abu Bakar menonjolkan dirinya.\u201d<\/p>\n<p>Ibnud-Daghnah pun mendatangi Abu Bakar, lalu berkata, \u201cEngkau tentunya telah mengetahui perjanjian yang telah aku buat untuk menjamin keamanan engkau. Hendaknya engkau membatasi diri sesuai dengan syarat tersebut, atau engkau mengembalikan jaminanku. Sesungguhnya aku tidak suka bila orang-orang Arab mendengar bahwa aku telah melanggar janjiku terhadap seseorang yang aku beri janji untuk memberikan perlindungan kepadanya.\u201d<\/p>\n<p>Sahabat Abu Bakar menjawab, \u201cKini aku kembalikan kepada engkau perlindungan itu, dan aku rela hanya berlindung kepada Allah.\u201d<\/p>\n<p>Demikianlah menurut hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Hal tersebut akhirnya merupakan penyebab pertama yang mengakibatkan Sahabat Abu Bakar tertimpa perlakuan yang menyakitkan sekali dari pihak kaum musyrikin. Kesimpulannya, tiada seorang pun dari kaum Muslimin yang selamat dari perlakuan keras kaum musyrikin. Akan tetapi, kesemuanya itu hancur-luluh di hadapan keteguhan dan kebesaran iman mereka. Sesungguhnya mereka masuk Islam bukan karena tujuan duniawi yang mereka harap-harapkan untuk dapat meraihnya sehingga dengan mudah mereka dapat dijadikan murtad kembali. Akan tetapi, mereka adalah orang-orang yang mendapat taufik dari Allah swt. sehingga mereka menemukan hakikat keimanan. Dengan demikian maka segala suatu yang menghambatnya terasa amat mudah untuk mereka lalui.<\/p>\n<p>Orang-orang kafir Quraisy melihat bahwa perlakuan menyakitkan yang mereka lancarkan tidak memperoleh hasil apa-apa, bahkan setiap kali kaum Muslimin mendapat tekanan, keyakinan dan iman mereka semakin bertambah kuat. Maka mereka sepakat untuk mengadakan rausyawarah di antara mereka. Lalu berkata kepada mereka seseorang yang dikenal dengan nama \u2018Atabah ibnu Rabi\u2019ah al-\u2018Absyamiy dari Bani \u2018Abdusy-Syama seorang yang ditaati di kalangan kaumnya, \u201cHai orang-orang Quraisy bolehkah aku mendatangi Muhammad, kemudian aku berbicara kepada. nya untuk menawarkan beberapa hal? Mudah-mudahan dia mau mene. rima sebagian daripadanya, kemudian kita berikan hal tersebut, lalu dia mencegah dirinya dari kita.\u201d Mereka menjawab, \u201cHai Abul-Walid (nama panggilan \u2018Atabah), berangkatlah, dan bicarakan hal tersebut kepadanya.\u201d<\/p>\n<p>Atabah pergi menemui Rasulullah saw. yang pada saat itu sedang men. jalankan salatnya. Lalu \u2018Atabah berkata, \u201cHai anak saudaraku, sesungguh. nya engkau di kalangan kami seperti yang telah engkau ketahui sendiri, termasuk orang yang memiliki nasab dan kedudukan terhormat. Sesung. guhnya engkau telah mendatangi kaum engkau dengan membawa perkara yang besar. Engkau telah memecah belah persatuan mereka, dan engkau telah membodoh-bodohkan orang-orang pandai mereka, dan engkau telah mencela tuhan-tuhan mereka serta agama mereka, dan engkau telah ing:kar terhadap nenek-moyang mereka. Sekarang dengarlah perkataanku, aku menawarkan kepada engkau beberapa hal agar engkau mempertimbangkannya, barangkali saja engkau mau menerima sebagian daripadanya.\u201d Rasulullah saw. menjawab, \u201cSilakan kau katakan, hai Abul-Walid, aku akan mendengarkannya.\u201d<\/p>\n<p>Abul-Walid berkata, \u201cHai anak saudaraku, bilamana dengan apa yang telah engkau datangkan itu engkau menghendaki harta-benda, kami akan mengumpulkannya dari harta-benda kami buat engkau sehingga engkau akan menjadi orang yang paling kaya di antara kami. Bilamana engkau menghendaki kedudukan, kami akan menjadikanmu pemimpin kami hingga kami tidak berani memutuskan suatu perkara tanpa restu engkau. Bilamana engkau menghendaki kerajaan, kami akan menjadikanmu sebagai raja kami. Bilamana hal (wahyu) yang datang kepada engkau itu merupakan gangguan dari jin yang engkau tidak mampu mengusirnya dari diri engkau kami akan mencari seorang tabib buat engkau, dan untuk itu kami siap mengorbankan harta kami sehingga engkau sembuh dari gangguannya. Sesungguhnya terkadang seseorang tidak mampu mengalahkan gangguannya selain harus diobati.\u201d<\/p>\n<p>Kemudian Rasulullah saw. berkata, \u201cApakah kata-kata engkau sudah cukup, hai Abul-Walid.\u201d Abul-Walid menjawab, \u201cYa.\u201d Rasulullah saw. berkata kepadanya. \u201cSekarang engkau dengarkan aku.\u201d Lalu Rasulullah saw. membacakan ayat-ayat pertama dari surat Fushshilat:<\/p>\n<p>Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Haa miim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (daripadanya): maka mereka tidak (mau) mendengarkan. Mereka berkata, \u201cHati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kalian seru kami kepadanya, dan telinga kami ada sumbatan, dan antara kami dan kalian ada dinding, maka bekerjalah kalian. Sesungguhnya kami bekerja (pula). Katakanlah, \u201cBahwasannya aku hanyalah seorang manusia seperti kalian, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Mahaesa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya, dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan(-Nya), (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh itu mendapat pahala yang tiada putus-putusnya.\u201d<\/p>\n<p>Katakanlah, \u201cSesungguhnya patutlah kalian kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kalian adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Rabb semesta alam.\u201d Dan Dia menciptakan di bumi ini gunung. gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya, dan Dia menen. tukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)-nya dalam empa masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang ber. tanya. Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit, dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, \u201cDatanglah kalian keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.\u201d<\/p>\n<p>Lalu keduanya menjawab, \u201cKami datang dengan suka hati.\u201d Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa, dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang, dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui. Jika mereka berpaling, maka katakanlah, \u201cAku telah memperingatkan kalian dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum \u2018Aad dan kaum Tsamud.\u201d Ketika rasul-rasul datang kepada mereka dari depan dan dari belakang mereka (dengan menyerukan), \u201cJanganlah kalian menyembah selain Allah,\u201d Mereka menjawab, \u201cKalau Rabb kami menghendaki, tentu Dia akan menurun. kan malaikat-malaikat-Nya, maka sesungguhnya kami kafir kepada wahyu yang kamu diutus membawanya.\u201d (Q.S. 41 Fushshilat: 1-14)<\/p>\n<p>Kemudian \u2018Atabah menutup mulut Rasulullah saw. dengan tangannya seraya memohon supaya Rasulullah saw. menghentikan bacaannya itu demi hubungan silaturrahim (kekerabatan) di antara dirinya dengan Rasulullah saw. Setelah \u2018Atabah kembali, orang-orang Quraisy bertanya kepadanya. Ia berkata, \u201cDemi Allah, aku telah mendengar suatu kalam yang belum pernah aku dengar bandingannya. Demi Allah, ia bukan syair, bukan ramalan, dan bukan pula sihir. Hai orang Quraisy, taatlah kalian. Aku mohon kalian mau menjadikan dia di bawah perlindunganku. Biarkanlah dia (Muhammad) dan apa yang sedang dilakukannya, dan (jika kalian tidak suka) janganlah kalian mempergaulinya. Demi Allah, sungguh dalam kalam yang baru aku dengar itu terkandung berita yang besar. Bila dia dikalahkan oleh orang-orang Arab (selaian kabilah Quraisy), berarti kalian tidak usah bersusah-payah menghadapinya, cukup hanya dengan orang-orang selain kalian. Bilamana ternyata ia menang atas orang-orang Arab yang lain, maka kejayaannya berarti sama juga dengan kejayaan kalian (kaum Quraisy) Mereka menjawab, \u201cSungguh kamu ini telah terkena sihir Muhammad: \u2018Atabah berkata, \u201cIni hanya pendapatku sendiri.\u201d<\/p>\n<p>Setelah peristiwa itu kaum Quraisy mengajak Rasulullah sama-sama menyembah apa yang mereka sembah, dan mereka pun akan bersama gama pula menyembah apa yang disembah oleh Rasulullah. Lalu Allah swt. menurunkan firman-Nya sehubungan dengan peristiwa ini, yaitu:<\/p>\n<p>Katakanlah, \u201cHai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kalian sembah, dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untuk kalianlah agama kalian, dan untukkulah, agamaku.\u201d (Q.S. 109 Al-Kafirun: 1-6)<\/p>\n<p>Janganlah kalian menduga bahwa aku mau mengabulkan permintaan kalian untuk melakukan kemusyrikan terhadap Allah.<\/p>\n<p>Setelah peristiwa itu mereka berputus asa untuk membujuk Rasulullah saw. Akhirnya mereka meminta supaya Rasulullah saw. menghentikan bacaan Al-Qur\u2019an yang mengandung celaan terhadap berhala-berhala sesembahan mereka karena hal itu sangat mereka benci. Kemudian mereka meminta kepada Rasulullah saw. agar membaca Al-Qur\u2019an selain itu atau menggantinya dengan yang lain. Sebagai jawaban atas permintaan mereika Allah swt. menurunkan firman-Nya.<\/p>\n<p>Katakanlah, \u201cTidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. (Q.5. 10 Yunus: 15)<\/p>\n<p>Ada peristiwa yang jarang terjadi antara Rasulullah dengan orang Quraisy. Peristiwa itu dapat dijadikan pelita bagi orang yang menganggap remeh terhadap drang yang lemah. Pada suatu hari Rasulullah saw. sedang menghadapi para pemimpin kabilah Quraisy dalam rangka mengajak mereka untuk masuk Islam sambil membeberkan Al-Quran dan ajaran agama Islam kepada mereka.<\/p>\n<p>Pada saat yang bersamaan datang pula menghadap \u201cAbdullah ibnu Ummi Maktum yang kedua matanya telah buta. Dia termasuk orang-orang yang lebih dahulu masuk Islam. Pada waktu itu Nabi saw. sedang sibuk menghadapi para pemimpin Quraisy, dan Nabi kali ini melihat mereka ramah sekali sehingga Nabi saw. bersemangat untuk mengajak mereka masuk Islam. Lalu \u201cAbdullah berkata kepada Rasulullah, \u201cWahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku apa yang telah diajarkan Allah kepadamu.\u201d \u2018Abdullah terus-menerus mengucapkan permintaan itu se. hingga dirasakan amat berat oleh Rasulullah. Rasulullah tidak suka \u2018Abdullah memotong pembicaraannya karena ia merasa khawatir bahwa bila perhatiannya dipalingkan untuk meladeni \u2018Abdullah yang miskin itu, hal tersebut akan mengakibatkan mereka antipati terhadap Islam. Akhirnya Rasulullah saw. memutuskan untuk tidak meladeninya. Maka turunlah firman-Nya sebagai teQur\u2019an atas sikapnya yaitu:<\/p>\n<p>Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapat pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapat penggjaran), sedangkan ia takut kepada (Allah), kamu mengabaikannya. (Q.S. 80 \u2018Abasa: 1-10)<\/p>\n<p>Setelah peristiwa itu Rasulullah saw. sama sekali tidak berani bermuka masam terhadap orang miskin. Bilamana datang menghadap kepadanya \u2018Abdullah ibnu Ummi Maktum, Rasulullah saw. selalu menyambutnya dengan kata-kata:<\/p>\n<p>Selamat datang orang yang menyebabkan aku ditegur oleh Rabb-ku. Tatkala kaum musyrikin telah melihat bahwa tuntutan-tuntutan yang mereka ajukan tidak diterima, mereka bermaksud menggunakan cara lain, yaitu meminta kepada Rasulullah saw. untuk megeluarkan bukti-bukti yang menurut dugaan mereka Rasulullah saw. tidak akan mampu melakukannya. Kemudian mereka sepakat untuk melakukan hal itu, lalu mereka berkata kepada Rasulullah saw., \u201cHai Muhammad, jika engkau memang benar-benar (seorang rasul), perlihatkanlah kepada kami suatu mukjizat yang kami minta supaya engkau mendatangkannya, Yaitu hendaknya engkau membelah bulan menjadi dua bagian. \u201cMaka Allah memberikan mukjizat ini kepada Rasulullah saw. sehingga terbelahlah bulan purnama menjadi dua bagian. Lalu Rasulullah berkata, \u201cSaksikanlah oleh kalian.\u201d Hadis mengenai kisah ini diriwayatkan oleh Sahabat \u2018Abdullah ibnu Mas\u2019ud yang termasuk salah seorang yang paling dahulu masuk Islam, dan hadis ini diriwayatkan olehnya melalui banyak jalur sanad. Hadis mengenai kisah ini diriwayatkan pula oleh Sahabat \u2018Abdullah ibnu \u2018Abbas r.a. dan sahabat-sahabat lainnya. Kemudian diriwayatkan oleh mereka melalui banyak perawi sehingga hadis ini sama kedudukannya dengan hadis yang mutawatir. Peristiwa ini disebutkan pula melalui firman-Nya:<\/p>\n<p>Telah dekat (datangnya) saat itu, dan terbelahlah bulan. (Q.S. 54 Al-Gamar: 1)<\/p>\n<p>Tatkala orang-orang yang ingkar melihat mukjizat yang besar ini, di antara mereka ada yang berkata, \u201cSungguh kalian telah terkena pengaruh sihir anak Abu Kabsyah.\u201d Maka Allah menurunkan firman-Nya yang lain, yaitu :<\/p>\n<p>Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukJizat), mereka berpaling dan berkata, \u201c(Ini adalah) sihir yang terusmenerus.\u201d (Q.5. 54 Al-Gamar: 2)<\/p>\n<p>Kemudian mereka meminta supaya Rasulullah saw. mengeluarkan mukjizat-mukjizat lainnya. Mereka meminta hal tersebut tiada lain hanya karena terdorong oleh rasa ingkar dan keras hati mereka. Di antara permintaan yang mereka ajukan itu ialah seperti yang disebutkan dalam surat Al-Isra\u2019:<\/p>\n<p>Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami, atau kamu mempunyai sebuah kebun kurma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah-celah kebun yang deras airnya, atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami sebagaimana kamu katakan, atau kamu datangkan Allah mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca. (Q.S. 17 Al-Isra\u2019 : 90. 93)<\/p>\n<p>Akan tetapi, Allah swt. tidak mengabulkan permintaan mereka selain hanya menjawab permintaan mereka itu melalui firman selanjutnya, yaitu :<\/p>\n<p>Katakanlah, \u201cMahasuci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?\u201d (Q.S. 17 Al-Isra\u2019 : 93)<\/p>\n<p>Allah mengetahui bahwa apa yang tersimpan dalam hati mereka tiada lain hanyalah kefanatikan jahiliah dan keingkaran. Sekalipun didatangkan kepada mereka mukjizat-mukjizat yang jelas, mereka tetap tidak akan mau beriman seperti yang disebutkan dalam firman-Nye<\/p>\n<p>Dan apakah yang memberitahukan kepada kalian bahwa apabila mukJizat datang (kepada orang-orang musyrik itu maka mereka mau beriman, tidak) mereka tidak akan beriman. (Q.S. 6 Al-An\u2019am: 109)<\/p>\n<p>Mana mungkin kita mengharapkan mendapat kebaikan dari orang-orang yang berani mengatakan hal-hal berikut ini, yaitu seperti yang diceritakan oleh firman-Nya:<\/p>\n<p>Ya Allah, jika betul (Al-Quran) ini dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih. (Q.S. 8 Al-Anfal: 32)<\/p>\n<p>Mereka tidak mengatakan \u201cbila hal ini (Al-Quran) benar dari sisi Engkau, berilah kami petunjuk kepadanya.\u201d Memang demikianlah kebiasaan yang sering dialami oleh para nabi bilamana mereka melihat adanya tandatanda keingkaran dalam hati orang-orang yang meminta agar mukjizat mukjizat ditampakkan. Mereka meminta hal tersebut hanya untuk tujuan memperolok-olokan saja. Maka para nabi tidak mau meminta kepada Allah swt. untuk menampakkan mukjizat-mukjizat yang mereka minta agar kaum mereka yang ingkar tidak tertimpa kebinasaan seperti apa yang dialami oleh kaum Tsamud dan kaum-kaum lainnya yang ingkar terhadap para nabi mereka. Pengertian tersebutlah yang dimaksud olet firman-Nya<\/p>\n<p>Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasaan Kami), melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orangorang dahulu. (Q.S. 17 Al-Isra\u2019: 59)<\/p>\n<p>Hal tersebut pernah dialami oleh Al-Masih a.s., yaitu tatkala ia dihadapkan kepada Kaisar Herodes. Herodes meminta kepadanya supaya mengadakan suatu mukjizat, tetapi Al-Masih a.s. tidak mengabulkan permintaannya. Lalu mulailah Herodes dan orang-orangnya memperolok-olokkannya. Setelah itu Herodes mengembalikan Al-Masih ke tangan Pilatus, musuhnya, setelah Herodes putus asa karena permintaannya tidak dikabulkan, padahal sebelumnya ia sangat ingin bertemu dengan Al-Masih. Kisah mengenai peristiwa ini disebutkan dalam Injil Lukas pasal 23.<\/p>\n<p>Demikianlah, manakala kaum musyrikin melihat dirinya sudah tidak mampu lagi menghadapi kaum Muslimin dengan argumentasi, maka mereka memakai siasat lain, yaitu dengan memakai kekuatan dan senjata seperti apa yang pernah dilakukan oleh kaum Nabi Ibrahim terhadap Nabi Ibrahim. Mereka mengatakan seperti yang diwahyukan dalam firmanNya:<\/p>\n<p>Bakarlah dia (Nabi Ibrahim), dan bantulah tuhan-tuhan kalian. (Q.S. 21 Al-Anbiya: 68)<\/p>\n<p>Langkah-langkah yang diambil oleh kaum musyrikin terhadap para sahabat semakin menambah gencar tekanannya terhadap setiap orang yang masuk Islam. Mereka bertindak demikian untuk menghalangi orang-orang supaya tidak mengikuti Rasulullah. Mereka sama sekali tidak pernah meninggalkan setiap kesempatan untuk menyiksa kaum muslimin. Akhirnya Rasulullah saw.berkata kepada para Sahabatnya, \u201cBerpencarlah kalian di bumi ini. Sesungguhnya Allah kelak akan mengumpulkan kalian kembali.\u201d Lalu mereka bertanya kepada Rasulullah saw., arah mana yang harus, mereka tempuh. Maka Rasulullah saw. mengisyaratkan kepada Merek, supaya berangkat ke Habsyah (Etiopia). (*)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":13157,"comment_status":"open","ping_status":"closed","template":"","blog-kat":[73,180],"class_list":["post-16606","blog","type-blog","status-publish","has-post-thumbnail","hentry","blog-kat-sejarah-kebudayaan-islam","blog-kat-sirah-nabawiyah"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.6 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Terjemah Nurul Yaqin (15): Hamzah Masuk Islam - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"BLOGGURU \u2013 Berikut ini lanjutan dari Part 14 dari Kitab Nurul Yaqin fi Sirah Sayyidil Mursalin. HAMZAH MASUK ISLAM Sebagian perlakuan dari orang-orang\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/terjemah-nurul-yaqin-15-hamzah-masuk-islam\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Terjemah Nurul Yaqin (15): Hamzah Masuk Islam - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"BLOGGURU \u2013 Berikut ini lanjutan dari Part 14 dari Kitab Nurul Yaqin fi Sirah Sayyidil Mursalin. HAMZAH MASUK ISLAM Sebagian perlakuan dari orang-orang\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/terjemah-nurul-yaqin-15-hamzah-masuk-islam\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-04-09T03:51:15+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/ilustrasi-puasa.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"600\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"389\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"21 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/terjemah-nurul-yaqin-15-hamzah-masuk-islam\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/terjemah-nurul-yaqin-15-hamzah-masuk-islam\\\/\",\"name\":\"Terjemah Nurul Yaqin (15): Hamzah Masuk Islam - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/terjemah-nurul-yaqin-15-hamzah-masuk-islam\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/terjemah-nurul-yaqin-15-hamzah-masuk-islam\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/03\\\/ilustrasi-puasa.jpeg\",\"datePublished\":\"2026-04-03T22:46:45+00:00\",\"dateModified\":\"2026-04-09T03:51:15+00:00\",\"description\":\"BLOGGURU \u2013 Berikut ini lanjutan dari Part 14 dari Kitab Nurul Yaqin fi Sirah Sayyidil Mursalin. HAMZAH MASUK ISLAM Sebagian perlakuan dari orang-orang\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/terjemah-nurul-yaqin-15-hamzah-masuk-islam\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/terjemah-nurul-yaqin-15-hamzah-masuk-islam\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/terjemah-nurul-yaqin-15-hamzah-masuk-islam\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/03\\\/ilustrasi-puasa.jpeg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/03\\\/ilustrasi-puasa.jpeg\",\"width\":600,\"height\":389,\"caption\":\"Bulan Ramadhan. (foto: ist\\\/*)\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/terjemah-nurul-yaqin-15-hamzah-masuk-islam\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Blog Guru\",\"item\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":3,\"name\":\"Terjemah Nurul Yaqin (15): Hamzah Masuk Islam\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\",\"name\":\"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\",\"description\":\"Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#organization\",\"name\":\"IMMIM Pangkep\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/06\\\/cropped-immim.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/06\\\/cropped-immim.png\",\"width\":512,\"height\":512,\"caption\":\"IMMIM Pangkep\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Terjemah Nurul Yaqin (15): Hamzah Masuk Islam - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","description":"BLOGGURU \u2013 Berikut ini lanjutan dari Part 14 dari Kitab Nurul Yaqin fi Sirah Sayyidil Mursalin. HAMZAH MASUK ISLAM Sebagian perlakuan dari orang-orang","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/terjemah-nurul-yaqin-15-hamzah-masuk-islam\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Terjemah Nurul Yaqin (15): Hamzah Masuk Islam - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","og_description":"BLOGGURU \u2013 Berikut ini lanjutan dari Part 14 dari Kitab Nurul Yaqin fi Sirah Sayyidil Mursalin. HAMZAH MASUK ISLAM Sebagian perlakuan dari orang-orang","og_url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/terjemah-nurul-yaqin-15-hamzah-masuk-islam\/","og_site_name":"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","article_modified_time":"2026-04-09T03:51:15+00:00","og_image":[{"width":600,"height":389,"url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/ilustrasi-puasa.jpeg","type":"image\/jpeg"}],"twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Estimasi waktu membaca":"21 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/terjemah-nurul-yaqin-15-hamzah-masuk-islam\/","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/terjemah-nurul-yaqin-15-hamzah-masuk-islam\/","name":"Terjemah Nurul Yaqin (15): Hamzah Masuk Islam - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","isPartOf":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/terjemah-nurul-yaqin-15-hamzah-masuk-islam\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/terjemah-nurul-yaqin-15-hamzah-masuk-islam\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/ilustrasi-puasa.jpeg","datePublished":"2026-04-03T22:46:45+00:00","dateModified":"2026-04-09T03:51:15+00:00","description":"BLOGGURU \u2013 Berikut ini lanjutan dari Part 14 dari Kitab Nurul Yaqin fi Sirah Sayyidil Mursalin. HAMZAH MASUK ISLAM Sebagian perlakuan dari orang-orang","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/terjemah-nurul-yaqin-15-hamzah-masuk-islam\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/terjemah-nurul-yaqin-15-hamzah-masuk-islam\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/terjemah-nurul-yaqin-15-hamzah-masuk-islam\/#primaryimage","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/ilustrasi-puasa.jpeg","contentUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/ilustrasi-puasa.jpeg","width":600,"height":389,"caption":"Bulan Ramadhan. (foto: ist\/*)"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/terjemah-nurul-yaqin-15-hamzah-masuk-islam\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Blog Guru","item":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/"},{"@type":"ListItem","position":3,"name":"Terjemah Nurul Yaqin (15): Hamzah Masuk Islam"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#website","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/","name":"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","description":"Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan","publisher":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#organization","name":"IMMIM Pangkep","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/cropped-immim.png","contentUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/cropped-immim.png","width":512,"height":512,"caption":"IMMIM Pangkep"},"image":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#\/schema\/logo\/image\/"}}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/blog\/16606","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/blog"}],"about":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/types\/blog"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=16606"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13157"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=16606"}],"wp:term":[{"taxonomy":"blog-kat","embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/blog-kat?post=16606"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}