{"id":8093,"date":"2021-05-07T00:50:46","date_gmt":"2021-05-06T16:50:46","guid":{"rendered":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/?post_type=blog&#038;p=8093"},"modified":"2022-07-03T01:29:44","modified_gmt":"2022-07-02T17:29:44","slug":"mengenal-imam-abu-muzahim-al-khaqani-dan-al-qashidah-al-khaqaniyah","status":"publish","type":"blog","link":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/mengenal-imam-abu-muzahim-al-khaqani-dan-al-qashidah-al-khaqaniyah\/","title":{"rendered":"Mengenal Imam Abu Muzahim al-Khaqani dan Al-Qashidah al-Khaqaniyah"},"content":{"rendered":"<p>Oleh: <strong>Muhammad Farid Wajdi<\/strong> *)<\/p>\n<p><strong>BLOGGURU<\/strong> &#8211; Dahulu kaum salaf mempraktikkan Dasar-dasar (ushul) tajwid secara amaliah. Mereka menukil qiraah dengan cara talqin dan musyafahah (langsung mengambil dari lisan guru-gurunya). Seperti generasi pertama umat ini dari kalangan Sahabat dan Tabi\u2019in yang tidak belajar ilmu ini dalam kitab-kitab, tetapi langsung bertalaqqi (berguru) kepada para ulama mereka dengan tajwidnya, di samping kefasihan bahasa dan bersihnya lisan mereka dari \u2018ujmah (gagap dan ketidakfasihan).<\/p>\n<p>Berkenaan dengan hal ini, Syaikh Muhammad al Mar\u2019 asyi pernah berkata: \u201cTajwid al-Qur\u2019an terkadang didapatkan oleh seorang penuntut ilmu dengan cara musyafahah (secara lisan) dari Syaikh mujawwid (ahli tajwid) dengan tanpa mengenal permasalahan \u2013 permasalahan ilmu ini, bahkan musyafahah menjadi landasan dalam mendapatkannya. Akan tetapi, dengan perantara ilmu tersebut akan memudahkannya dalam musyafahah, bertambah kemahirannya serta (ilmu) yang diambil terjaga dari keraguan dan tahrif (perubahan).\u201d<\/p>\n<p>Siapakah ulama yang pertama kali menulis ilmu tajwid?\u00a0Para ulama menjelaskan bahwa Abu Muzahim al-Khaqani adalah ulama yang pertama kali menulis kitab tajwid. Nama lengkapnya Musa bin Ubaidilah bin Yahya bin Khaqan, yang lahir tahun 248 H dan wafat tahun 325 H. Imam Ibnul Jazari berkata,\u00a0\u201cDialah orang yang pertama kali menulis tentang tajwid.\u201d\u00a0Ulama yang pertama kali menulis kitab tajwid yakni Abu Muzahim al-Khaqani. Hal ini disampaikan dalam buku Tajwid Lengkap Asy-Syafi&#8217;i karya Abu Ya&#8217;la Kurnaedi. Para ulama menjelaskan bahwa Abu Muzahim al-Khaqani merupakan ulama yang pertama kali menulis kitab tajwid. Nama lengkapnya Musa bin Ubaidullah bin Yahya bin Khaqan, yang lahir tahun 248 Hijriah dan wafat tahun 325 Hijriah.<\/p>\n<p>Imam Ibnul Jazari rahimahullah berkata,\u00a0&#8220;Dialah orang yang pertama kali menulis tentang tajwid&#8221; (Haji Khalifah berkata: &#8220;Orang yang pertama kali menulis tentang Tajwid adalah Musa bin Ubaidullah bin Yahya Khaqan al-Khaqani al-Baghdadi al-Muqri (wafat 325 hijriah), sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Jazari&#8221;. Dia seorang ulama terkenal, bahkan al-Khatib berkata tentangnya: &#8220;Seorang yang tsiqah, taat, dan berasal dari kalangan Ahlus Sunnah&#8221; (Abhats fi Ilmit Tajwid).<\/p>\n<p>Tulisannya dikenal juga dengan nama al-Qashidah al-Khaqaniyah. Demikianlah sebagian ulama menyebutnya. Dan, pada bait yang ke-5 dari kasidahnya dikatakan:\u00a0&#8216;Wahai qari Alquran, baguskanlah bacaannya, niscaya Allah melipatgandakan untukmu pahala yang banyak&#8217;.\u00a0Tulisan Abu Muzahim ini sangat berpengaruh bagi perkembangan ilmu tajwid pada masanya dan masa-masa berikutnya. Terbukti setelah itu, bermunculanlah para ulama yang menulis kitab-kitab serupa.<\/p>\n<p>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h4 style=\"text-align: right;\">\u0648\u064e\u0642\u064f\u0631\u0652\u0621\u064e\u0627\u0646\u064b\u0627 \u0641\u064e\u0631\u064e\u0642\u0652\u0646\u064e\u0670\u0647\u064f \u0644\u0650\u062a\u064e\u0642\u0652\u0631\u064e\u0623\u064e\u0647\u064f\u06e5 \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649 \u0671\u0644\u0646\u0651\u064e\u0627\u0633\u0650 \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649\u0670 \u0645\u064f\u0643\u0652\u062b\u064d \u0648\u064e\u0646\u064e\u0632\u0651\u064e\u0644\u0652\u0646\u064e\u0670\u0647\u064f \u062a\u064e\u0646\u0632\u0650\u064a\u0644\u064b\u0627<\/h4>\n<p>Artinya:<\/p>\n<p>&#8220;Dan Alquran (Kami turunkan) berangsur-angsur agar engkau (Muhammad) membacakannya kepada manusia perlahan-lahan dan Kami menurunkannya secara bertahap&#8221; (Alquran surat Al Isra ayat 106).<\/p>\n<p>Dalil tersebut menunjukkan adanya tata cara atau sifat tertentu dalam qiraah Alquran, tidak seperti membaca buku-buku biasa ataupun koran berbahasa Arab. Akan tetapi, ia dibaca dengan kaifiyat atau tata cara yang diajarkan Nabi \ufdfa. Tata cara itu dirangkum oleh para ulama, hingga mereka mengistilahkannya dengan ilmu tajwid.<\/p>\n<p>Perhatian umat terhadap ilmu ini sangat besar. Ini dapat menyaksikan bagaimana para ulama dari dahulu sampai sekarang menulis tentang ilmu tajwid dan ilmu qiraah. Tulisan-tulisan mereka begitu menakjubkan dan bermanfaat bagi umat, yang bisa ditemui di dalam perpustakaan-perpustakaan kaum muslimin.<\/p>\n<p>Dahulu kaum salaf mempraktikkan ushul (dasar-dasar) tajwid secara amaliah. Mereka menukil qiraah dengan cara talqin dan musyafahah (langsung mengambil dari lisan guru-gurunya). Seperti generasi pertama umat ini dari kalangan Sahabat dan Tabi&#8217;in, yang tidak belajar ilmu ini dalam kitab-kitab, tetapi langsung ber-talaqqi (berguru) kepada guru-guru mereka dengan tajwidnya, di samping kefasihan bahasa dan bersihnya lisan mereka dari &#8216;ujmah (gagap atau ketidakfasihan).<\/p>\n<p><strong>Mengenal Imam Abu Muzahim al-Khaqani<\/strong><\/p>\n<p>Para ulama menjelaskan bahwa Abu Muzahim al-Khaqani merupakan ulama yang pertama kali menulis kitab tajwid. Nama lengkapnya Musa bin Ubaidullah bin Yahya bin Khaqan. Dia lahir tahun 248 Hijriah dan wafat tahun 325 Hijriah (862-937 M). Beliau satu zaman dengan Imam Abu Bakr bin Musa, yang lebih dikenal dengan nama Ibn Mujahid (wafat 324 H) penyusun kitab as-Sab\u2019ah fil Qiraat. Keduanya memiliki banyak memiliki guru dan murid yang sama.<\/p>\n<p>Imam Ibnul Jazari rahimahullah berkata tentang Abu Muzahim al-Khaqani:<\/p>\n<p>\u201cDialah orang yang pertama kali menulis tentang tajwid\u201d (Haji Khalifah berkata: \u201cOrang yang pertama kali menulis tentang Tajwid adalah Musa bin Ubaidullah bin Yahya Khaqan al-Khaqani al-Baghdadi al-Muqri (wafat 325 hijriah), sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Jazari\u201d.<\/p>\n<p>Dia seorang ulama terkenal, bahkan al-Khatib berkata tentangnya: \u201cSeorang yang tsiqah, taat, dan berasal dari kalangan Ahlus Sunnah\u201d (Abhats fi Ilmit Tajwid).<\/p>\n<p>Menurut Syekh Ibn Al-Jazari, keluarga Abu Muzahim merupakan keluarga bangsawan pada masa Kesultanan Dinasti \u2018Abbasiyyah. Ayahnya \u2018Ubaydillah adalah seorang menteri pada masa Khalifah Al-Mutawakkil (Ja\u2019far bin Mu\u2019tashim bin Rasyid 205-247 H.). Begitupula saudaranya Abu \u2018Ali Muhammad bin \u2018Ubaidillah. Jabatan ayahnya sebagai menteri masih berlanjut pada masa pemerintahan Khalifah Ahmad bin Ja\u2019far Al-Mutawakkil.<\/p>\n<p>Abu Muzahim menghabiskan hari-harinya di Baghdad, menurut beberapa riwayat, beliau juga pernah tinggal di Makkah dan Madinah. Pada saat usianya 15 tahun ayahnya wafat, namun ia tetap berada dalam lingkungan kesultanan karena salah seorang saudaranya juga merupakan seorang menteri. Namun yang patut ditiru dan diteladani dari sosok Abu Muzahim adalah sikap acuhnya pada dunia. Beliau meninggalkan dunia dan menyibukkan dirinya dalam mensyiarkan Ajaran Islam.<\/p>\n<p>Selain semangat dalam menekuni qiraat Al-Qur\u2019an, Abu Muzahim Al-Khaqani juga semangat untuk mengambil riwayat hadits dari para ulama ahli hadits, di antaranya adalah: Syekh Abbas bin Muhammad Ad-Duri, Syekh Muhammad bin Ismail At-Tirmidziy, Syekh \u2018Ubaidillah bin Abi Sa\u2019d Al-Warraq, Syekh Ishaq bin Ya\u2019qub Al-Aththar, Al-Harits bin Abi Salamah, Imam \u2018Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, dan ulama lainnya pada masa itu.<\/p>\n<p>Tulisannya tentang Tajwid diberinya nama Al-Qashidah al-Khaqaniyah, sangat berpengaruh pada pengembangan ilmu tajwid pada masanya dan masa-masa berikutnya. Terbukti setelah itu, bermunculanlah para ulama yang menulis kitab-kitab serupa seperti:<\/p>\n<p>1. Abul Hasan Ali bin Ja\u2019far bin Muhammad as-Sa\u2019idi ar \u2013 Razi yang wafat pada tahun 410 H. Dia menulis kitab at \u2013 Tanbih \u2018ala al-Lahnil Jaliy wal-Lahnil Khafiy.<\/p>\n<p>2. Abu Muhammad Makki bin Abu Thalib al-Qaisi yang wafat pada tahun 437 H. Dia menulis kitab ar-Ri\u2019ayah li Tajwidil Qiraah wa Tahqiqi Lafzhit Tilawah.<\/p>\n<p>3.Abu Amr Utsman bin Said ad-Dani yang wafat tahun 444 H. Dia menulis kitab at-Tahdid fil-Itqan wat-Tajwid.<\/p>\n<p>Ulama ini menyebutkan dalam muqaddimah tentang latar belakang penulisan kitab itu, bahwa ia melihat para qari dan muqri di zamannya menyepelekan tajwid dalam tilawah al-Qur\u2019an.\u00a0Tiga ulama tadi menulis tentang tajwid setelah Abu Muzahim Musa al-Khaqani dan mereka adalah generasi pertama ulama tajwid. Tiga ulama inilah yang mempopulerkan istilah tajwid dalam kitab-kitabnya. Secara khusus, mulai zaman, ad-Dani, istilah tajwid telah ditetapkan dan menjadi nama yang dikenal bagi ilmu yang berhubungan makharijul huruf (tempat keluarnya huruf) dan sifat-sifatnya.<\/p>\n<p><strong>Peletak Dasar Ilmu Tajwid<\/strong><\/p>\n<p>Sebenarnya Ilmu yang membahas cara baca Al-Qur\u2019an ini telah bermula sejak awal mula datangnya Islam, yaitu pada masa Rasulullah. Sebab, ia diperintah oleh Allah untuk membaca Al-Qur\u2019an dengan tajwid dan tartil. Hanya saja, pada masa itu belum ditemukan pengodifikasian secara khusus.\u00a0 Bacaan-bacaan Rasulullah tentu menjadi referensi paling solid bagi para sahabat. Semua permasalahan tentang cara membaca Al-Qur\u2019an langsung diputuskan oleh mereka berdasarkan arahan secara langsung dari Rasulullah yang diturunkan kepadanya.<\/p>\n<p>Oleh karenanya, belum ditemukan satu kodifikasi ilmu yang membahas secara khusus tentang cara baca Al-Qur\u2019an saat itu. Cara baca mereka masih kuat dan utuh dengan mengacu pada bacaan Rasulullah secara langsung saat bersamanya.\u00a0Masa sahabat pun selesai, dan diganti oleh masa tabiin (orang-orang yang menututi sahabat). Pada masa itu perkembangan Islam semakin luas, tentu juga banyak pemeluknya yang semakin beragam; dari berbagai bangsa dengan tipikal sosial dan geografis yang plural.<\/p>\n<p>Akibatnya, terjadilah asimilasi bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lainnya sehingga banyak umat Islam yang membaca Al-Qur\u2019an dengan gaya dan kehendak sendiri, tanpa metode dan tanpa ilmu. Penyebaran Islam yang terus meluas tidak lantas bersamaan dengan menjadikan pemeluknya bisa membaca Al-Qur\u2019an dengan benar dan tepat sesuai dengan bacaan yang dicontohkan oleh Rasulullah. Dari sinilah, ilmu yang membahas secara khusus perihal cara membaca Al-Qur\u2019an dengan benar mulai dibutuhkan.<\/p>\n<p>Tepat pada abad kedua setelah hijrah, lahirlah ulama tersohor yang berhasil mengkodifikasikan ilmu tajwid, dia adalah Imam Abu Muzahim Al-Khaqani, yang kemudian dikenal dengan kitab karangannya yang berjudul Qashidah Raiyyah fil Qurra wa Husnil Ada. Pendapat ini sebagaimana ditegaskan oleh Syekh Al-Jazari dalam kitabnya, beliau mengatakan:<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h4 style=\"text-align: right;\">\u0647\u064f\u0648\u064e \u0623\u064e\u0648\u0651\u064e\u0644\u064f \u0645\u064e\u0646\u0652 \u0635\u064e\u0646\u0651\u064e\u0641\u064e \u0641\u0650\u064a \u0627\u0644\u062a\u0651\u064e\u062c\u0652\u0648\u0650\u064a\u0652\u062f\u0650<\/h4>\n<p>Artinya:<\/p>\n<p>\u201cDia (Abu Muzahim) adalah orang pertama yang menyususun perihal (ilmu) tajwid.\u201d (Syekh Al-Jazari, Ghayatun Nihayah fi Thabqatil Qurra, [maktabah syamilah], halaman 418).<\/p>\n<p>Jika ditanya, \u201cKapankah Abu Muzahim al-Khaqani memulai menulis ilmu tajwid?\u201d Maka sejarah menjawab, bahwa ia sudah alim sejak usia muda dan mulai menulis dan mengkodifikasikan ilmu tajwid sejak usianya yang juga muda.<\/p>\n<p>Ilmu tajwid secara istilah adalah ilmu yang menerangkan hukum serta kaidah-kaidah yang harus diterapkan saat membaca Al Quran. Hukum dan kaidah ini sesuai dengan apa yang diwarisi oleh umat Islam (para shahabat) dari Rasulullah shallallahu\u2019alaihi wa sallam, dengan memberi hak bagi setiap huruf, baik makhroj (tempat keluar huruf), sifat, maupun harokat, tanpa unsur takalluf (memberat-beratkan diri) atau ta\u2019assuf (memaksa).<\/p>\n<p>Peletak ilmu tajwid bisa dibagi menjadi dua, yaitu peletak dari sisi amaliah dan dari sisi ilmiah. Dari sisi amaliah, adalah Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam. Karena beliaulah yang menyampaikan Al Qur\u2019an yang diturunkan oleh Allah Ta\u2019ala. Ketika beliau menyampaikan al-Qur\u2019an kepada para shahabat, maka beliau membacakan ayat-ayat al-Qur\u2019an tersebut dengan bacaaan yang benar dan tepat, baik secara makhraj dan sifat huruf maupun harakatnya.\u00a0Para sahabat radhiyallahu anhum mempelajari Al Qur\u2019an langsung dari beliau shallallahu \u2018alaihi wa sallam, dengan bacaan yang benar dan tepat pula. Kemudian ilmu ini diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya, yaitu para tabi\u2019in, tabi\u2019ut tabi\u2019in hingga akhir zaman. Kemudian dari bacaan yang benar dan tepat itulah disusun kaidah-kaidah ilmu tajwid.<\/p>\n<p>Dari sisi ilmiah, yaitu ilmu tajwid sebagai salah satu cabang disiplin ilmu al-Qur\u2019an. Maka yang merumuskannya pertama kali adalah Al Khalil bin Ahmad. Dia meletakkan ilmu tajwid sebagai bidang ilmu khusus. Bidang ilmu ini membahas kaidah-kaidah dan istilah-istilah dari ilmu tajwid. Bukan maknanya bahwa Al-Khalil bin Ahmad yang mengarang atau menciptakan ilmu tajwid. Namun beliau hanyalah orang yang pertama kali menyimpulkan dan menuliskan kaidah-kaidah tajwid yang diambil dari bacaan Al-Qur\u2019an yang dipraktekkan dan diwariskan oleh para shahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Al Khalil bin Ahmad adalah Abu \u2018Abdirrahman Al Khalil bin Ahmad Al Farahidi Al Azdy lahir di Bashrah pada tahun 100 H kemudian wafat pada tahun 170 H. Beliau merupakan guru Sibawaih.<\/p>\n<p>Menurut pendapat lain peletak pertama dari sisi ilmiah adalah Abul Aswad Ad Dualiy dan Al Qaasim bin Sallam.\u00a0Abul Aswad Ad Dualiy, adalah Zhalim bin \u2018Amru, tabi\u2019iy mukhadhram termasuk Bashriyyun. Mengambil qiro`ah dari \u2018Utsman bin \u2018affan dan \u2018Ali bin Abi Thalib. Wafat tahun 69 H. Dia dikenal sebagai peletak pertama ilmu nahwu menurut ijma\u2019 ulama nahwu, sedang Al Qaasim bin Sallam, adalah Abu \u2018Ubayd Al Khurasany Al Anshari. Beliau lahir di Herat (dalam wilayah Afghanistan saat ini) pada tahun 154 H dan wafat pada 224 H.<\/p>\n<p>Abu Muzahim al Khaqani adalah Musa bin \u2018Ubaydillah bin Yahya bin Khoqon, muqri\u2019 negeri Baghdad. Beliau lahir pada tahun 248 H dan wafat pada tahun 325 H. Beliau menulis syair yang terdiri dari 51 bait yang dikenal dengan \u201cRa\u2019iyatul Khaqaniy\u201d atau \u201cQashidah Khaqaniyah fii Tajwid\u201d<\/p>\n<p><strong>Pujian Ulama kepada Imam Abu Muzahim al-Khaqani <\/strong><\/p>\n<p>Lahirnya Abu Muzahim Al-Khaqani memberikan pengaruh yang sangat besar pada keberlangsungan ajaran Islam, khususnya dalam ilmu Al-Qur\u2019an.\u00a0Oleh karenanya, kecerdasan, kehebatan dan luasnya ilmu pengetahuan yang dimiliki Abu Muzahim Al-Khaqani mendapatkan apresiasi dan pujian dari para ulama, di antaranya dari Syekh Abu Umar ad-Dani (wafat 440 H), dalam salah satu kitabnya ia memujinya dengan pujian yang sangat istimewa, beliau mengatakan,<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h4 style=\"text-align: right;\">\u0643\u064e\u0627\u0646\u064e \u0641\u0650\u064a \u0623\u064e\u0628\u0650\u064a \u0645\u064f\u0632\u064e\u0627\u062d\u0650\u0645 \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0652\u0645\u064e\u0646\u064e\u0627\u0642\u0650\u0628\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0645\u064e\u062d\u0652\u0645\u064f\u0648\u0652\u062f\u064e\u0629\u0650 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u0623\u064e\u062e\u0652\u0644\u064e\u0627\u0642\u0650 \u0627\u0644\u0634\u0651\u064e\u0631\u0650\u064a\u0652\u0641\u064e\u0629\u0650 \u0638\u064e\u0627\u0647\u0650\u0631\u0650 \u0627\u0644\u0646\u0651\u064f\u0633\u064f\u0643\u0650 \u0645\u064e\u0634\u0652\u0647\u064f\u0648\u0652\u0631\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0641\u064e\u0636\u0652\u0644\u0650 \u0648\u064e\u0627\u0641\u0650\u0631\u0650 \u0627\u0644\u0652\u062d\u064e\u0638\u0650\u0651 \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u062f\u0650\u0651\u064a\u0652\u0646\u0650 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u0639\u0650\u0644\u0652\u0645\u0650 \u062d\u064f\u0633\u0652\u0646\u0650 \u0627\u0644\u0637\u0651\u064e\u0631\u0650\u064a\u0652\u0642\u064e\u0629\u0650 \u0633\u064f\u0646\u0650\u0651\u064a\u064b\u0627 \u062c\u064e\u0645\u064e\u0627\u0639\u0650\u064a\u064b\u0627<\/h4>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Artinya;<\/p>\n<p>\u201cDalam diri Abu Muzahim terdapat karakter yang terpuji, akhlak yang mulia, ahli ibadah yang nyata, terkenal keutamaannya, pengetahuan yang luas dalam agama dan gudangnya ilmu, memiliki thariqah yang baik, seorang sunni, seorang jama\u2019i (Ahlussunnah wal Jamaah).\u201d (Abu Umar ad-Dani, Syarah Qasidah Al-Khaqani, [Beirut, Darul Kutubil \u2018Ilmiah], halaman 18).<\/p>\n<p>Syekh Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman adz-Dzahabi (wafat 748 H) juga memberikan apresiasi dan pujian kepada Imam Abu Muzahim, dalam kitabnya dinyatakan,<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h4 style=\"text-align: right;\">\u0627\u064e\u0644\u0652\u0627\u0650\u0645\u064e\u0627\u0645\u064f \u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u0642\u0652\u0631\u0650\u0626\u064f \u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u062d\u064e\u062f\u0650\u0651\u062b\u064f\u060c \u0623\u064e\u0628\u064f\u0648\u0652 \u0645\u064f\u0632\u064e\u0627\u062d\u0650\u0645 \u0645\u064f\u0648\u0652\u0633\u064e\u0649 \u0628\u0650\u0646\u0652 \u0639\u064f\u0628\u064e\u064a\u0652\u062f\u0650 \u0627\u0644\u0644\u0647\u0650 \u0628\u0646 \u064a\u064e\u062d\u0652\u064a\u064e\u0649 \u0628\u0646 \u062e\u064e\u0627\u0642\u064e\u0627\u0646\u0652\u060c \u0627\u064e\u0644\u0652\u062e\u064e\u0627\u0642\u064e\u0627\u0646\u0650\u064a \u0627\u064e\u0644\u0652\u062d\u064e\u0627\u0641\u0650\u0638\u064f \u0627\u0644\u0628\u064e\u063a\u0652\u062f\u064e\u0627\u062f\u0650\u064a<\/h4>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Artinya:<\/p>\n<p>\u201cSeorang imam, pakar qiraat, pakar hadits, Abu Muzahim Musa bin \u2018Ubaidillah bin Yahya bin Khaqan Al-Khaqani, seorang hafizh, berkebangsaan Baghdad.\u201d (Ad-Dzahabi, Siyaru A\u2019lamin Nubala\u2019, [Mu\u2019assasah ar-Risalah, cetakan ketiga: 1985 M\/1405 H, tahqiq: Syekh Syu\u2019ib], juz XV, halaman 94).<\/p>\n<p>Maka demikianlah, Imam Abu Muzahim dikenal sebagai peletak dasar Ilmu Tajwid. Sampai kini, karyanya &#8220;Raiyatul Khaqani&#8221; atau juga dikenal dengan &#8220;Qashidah Abi Muzahim Al-Khaqani allati Qalaha fil Qurrai wa Husnil Ada&#8221; masih dipelajari hingga kini dan banyak pelajar\/guru qiraah berburu sanadnya. Pada generasi di belakangnya, usaha Imam Abu Muzahim menggiatkan pemahaman Tajwid dan cara membaca Al-Qur\u2019an diteruskan oleh ulama klasik lainnya, dengan matan Muqaddimah Al-Jazariyyah; dan Tuhfatul Athfal. (*)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>(* <strong>Muhammad Farid Wajdi<\/strong>, Guru\/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":8094,"comment_status":"open","ping_status":"closed","template":"","blog-kat":[140,150],"class_list":["post-8093","blog","type-blog","status-publish","has-post-thumbnail","hentry","blog-kat-kepesantrenan","blog-kat-tajwid"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.6 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Mengenal Imam Abu Muzahim al-Khaqani dan Al-Qashidah al-Khaqaniyah - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) BLOGGURU - Dahulu kaum salaf mempraktikkan Dasar-dasar (ushul) tajwid secara amaliah. Mereka menukil qiraah dengan cara\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/mengenal-imam-abu-muzahim-al-khaqani-dan-al-qashidah-al-khaqaniyah\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Mengenal Imam Abu Muzahim al-Khaqani dan Al-Qashidah al-Khaqaniyah - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) BLOGGURU - Dahulu kaum salaf mempraktikkan Dasar-dasar (ushul) tajwid secara amaliah. Mereka menukil qiraah dengan cara\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/mengenal-imam-abu-muzahim-al-khaqani-dan-al-qashidah-al-khaqaniyah\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2022-07-02T17:29:44+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/khaqaniy.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1600\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"10 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/mengenal-imam-abu-muzahim-al-khaqani-dan-al-qashidah-al-khaqaniyah\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/mengenal-imam-abu-muzahim-al-khaqani-dan-al-qashidah-al-khaqaniyah\\\/\",\"name\":\"Mengenal Imam Abu Muzahim al-Khaqani dan Al-Qashidah al-Khaqaniyah - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/mengenal-imam-abu-muzahim-al-khaqani-dan-al-qashidah-al-khaqaniyah\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/mengenal-imam-abu-muzahim-al-khaqani-dan-al-qashidah-al-khaqaniyah\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/07\\\/khaqaniy.jpg\",\"datePublished\":\"2021-05-06T16:50:46+00:00\",\"dateModified\":\"2022-07-02T17:29:44+00:00\",\"description\":\"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) BLOGGURU - Dahulu kaum salaf mempraktikkan Dasar-dasar (ushul) tajwid secara amaliah. Mereka menukil qiraah dengan cara\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/mengenal-imam-abu-muzahim-al-khaqani-dan-al-qashidah-al-khaqaniyah\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/mengenal-imam-abu-muzahim-al-khaqani-dan-al-qashidah-al-khaqaniyah\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/mengenal-imam-abu-muzahim-al-khaqani-dan-al-qashidah-al-khaqaniyah\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/07\\\/khaqaniy.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/07\\\/khaqaniy.jpg\",\"width\":2560,\"height\":1600,\"caption\":\"Qasidah al-khaqaniyah\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/mengenal-imam-abu-muzahim-al-khaqani-dan-al-qashidah-al-khaqaniyah\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Blog Guru\",\"item\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/blog\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":3,\"name\":\"Mengenal Imam Abu Muzahim al-Khaqani dan Al-Qashidah al-Khaqaniyah\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\",\"name\":\"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\",\"description\":\"Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#organization\",\"name\":\"IMMIM Pangkep\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/06\\\/cropped-immim.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/06\\\/cropped-immim.png\",\"width\":512,\"height\":512,\"caption\":\"IMMIM Pangkep\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Mengenal Imam Abu Muzahim al-Khaqani dan Al-Qashidah al-Khaqaniyah - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","description":"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) BLOGGURU - Dahulu kaum salaf mempraktikkan Dasar-dasar (ushul) tajwid secara amaliah. Mereka menukil qiraah dengan cara","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/mengenal-imam-abu-muzahim-al-khaqani-dan-al-qashidah-al-khaqaniyah\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Mengenal Imam Abu Muzahim al-Khaqani dan Al-Qashidah al-Khaqaniyah - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","og_description":"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) BLOGGURU - Dahulu kaum salaf mempraktikkan Dasar-dasar (ushul) tajwid secara amaliah. Mereka menukil qiraah dengan cara","og_url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/mengenal-imam-abu-muzahim-al-khaqani-dan-al-qashidah-al-khaqaniyah\/","og_site_name":"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","article_modified_time":"2022-07-02T17:29:44+00:00","og_image":[{"width":2560,"height":1600,"url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/khaqaniy.jpg","type":"image\/jpeg"}],"twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Estimasi waktu membaca":"10 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/mengenal-imam-abu-muzahim-al-khaqani-dan-al-qashidah-al-khaqaniyah\/","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/mengenal-imam-abu-muzahim-al-khaqani-dan-al-qashidah-al-khaqaniyah\/","name":"Mengenal Imam Abu Muzahim al-Khaqani dan Al-Qashidah al-Khaqaniyah - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","isPartOf":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/mengenal-imam-abu-muzahim-al-khaqani-dan-al-qashidah-al-khaqaniyah\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/mengenal-imam-abu-muzahim-al-khaqani-dan-al-qashidah-al-khaqaniyah\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/khaqaniy.jpg","datePublished":"2021-05-06T16:50:46+00:00","dateModified":"2022-07-02T17:29:44+00:00","description":"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) BLOGGURU - Dahulu kaum salaf mempraktikkan Dasar-dasar (ushul) tajwid secara amaliah. Mereka menukil qiraah dengan cara","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/mengenal-imam-abu-muzahim-al-khaqani-dan-al-qashidah-al-khaqaniyah\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/mengenal-imam-abu-muzahim-al-khaqani-dan-al-qashidah-al-khaqaniyah\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/mengenal-imam-abu-muzahim-al-khaqani-dan-al-qashidah-al-khaqaniyah\/#primaryimage","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/khaqaniy.jpg","contentUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/khaqaniy.jpg","width":2560,"height":1600,"caption":"Qasidah al-khaqaniyah"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/mengenal-imam-abu-muzahim-al-khaqani-dan-al-qashidah-al-khaqaniyah\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Blog Guru","item":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/"},{"@type":"ListItem","position":3,"name":"Mengenal Imam Abu Muzahim al-Khaqani dan Al-Qashidah al-Khaqaniyah"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#website","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/","name":"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","description":"Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan","publisher":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#organization","name":"IMMIM Pangkep","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/cropped-immim.png","contentUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/cropped-immim.png","width":512,"height":512,"caption":"IMMIM Pangkep"},"image":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#\/schema\/logo\/image\/"}}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/blog\/8093","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/blog"}],"about":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/types\/blog"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8093"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8094"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8093"}],"wp:term":[{"taxonomy":"blog-kat","embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/blog-kat?post=8093"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}