{"id":16139,"date":"2025-12-26T21:22:29","date_gmt":"2025-12-26T13:22:29","guid":{"rendered":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/?post_type=ekskul&#038;p=16139"},"modified":"2025-12-31T19:33:14","modified_gmt":"2025-12-31T11:33:14","slug":"catatan-kuliah-s2-non-reguler-41-studi-hadits","status":"publish","type":"ekskul","link":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/ekskul\/catatan-kuliah-s2-non-reguler-41-studi-hadits\/","title":{"rendered":"Catatan Kuliah S2 Non Reguler (41): Studi Hadits"},"content":{"rendered":"<p>Oleh: <em><strong>Muhammad Farid Wajdi<\/strong><\/em> *)<\/p>\n<p><strong>BLOGGURU<\/strong> &#8211; Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri, karena ingin memastikan perkuliahan pada keesokan harinya, Sabtu (27\/12\/2025), penulis menghubungi dosen pengampu mata kuliah Studi Hadits, Prof Dr Tasbih Hanafiah. Beliau merespon cepat dan mengungkapkan bahwa perkuliahan tidak dapat dilakukan besok, karena ada kegiatan penting beliau, sehingga beliau minta agar perkuliahan dilaksanakan pada hari ini, Jumat (26\/12\/2025) dengan waktu kuliah antara Ba&#8217;da Maghrib-Jelang Isya.<\/p>\n<p>Perkuliahan Studi Hadits ini merupakan perkuliahan akhir Semester 1, Pemakalahnya adalah penulis sendiri dengan topik, Tokoh\/Ulama Hadits Kontemporer (Indonesia dan Dunia). Lihat disini: <a href=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Tokoh-dan-Ulama-Hadits-Kontemporer.docx\">Tokoh dan Ulama Hadits Kontemporer<\/a>. Usai pemaparan makalah, banyak yang Prof Tasbih Hanafiah ungkapkan terkait tokoh\/ulama hadits kontemporer, yang dikenal luas di dunia maupun ulama hadits di Indonesia. Beberapa diantaranya yang sempat penulis catat dan pertanyakan, yaitu sebagai berikut:<\/p>\n<p>1.\u00a0Benarkah Syaikh Muhammad Abduh dan Syaikh Rasyid Ridha adalah termasuk ulama hadits kontemporer? Kurang tepat jika menyebut mereka sebagai &#8220;Ulama Hadits&#8221; (Muhaddits) dalam pengertian tradisional, namun mereka sangat berpengaruh dalam studi hadits kontemporer.\u00a0Syaikh Muhammad Abduh dan Syaikh Rasyid Ridha lebih dikenal sebagai\u00a0Tokoh Pembaharu (Mujaddid)\u00a0dan\u00a0Mufassir (Ahli Tafsir). Fokus utama mereka adalah membangkitkan umat Islam melalui rasionalitas, pendidikan, dan pemurnian ajaran dari khurafat. Syaikh Muhammad Abdul lebih menitikberatkan pada pendekatan rasional (<i data-path-to-node=\"4,0,0\" data-index-in-node=\"64\">aqli<\/i>) dalam memahami teks agama, sedang muridnya Syaikh Rasyid Ridha yang mendokumentasikan pemikiran gurunya dalam <i data-path-to-node=\"4,1,0\" data-index-in-node=\"79\">Tafsir al-Manar<\/i>. Ia memiliki perhatian lebih besar pada teks hadits dibandingkan gurunya.<\/p>\n<p>2. Terkait Syaikh al-Albani dan Syaikh Syuaib Al-Arnaut,\u00a0meskipun bukan &#8220;Muhaddits&#8221; murni (seperti Syaikh Al-Albani atau Syaikh Syu&#8217;aib Al-Arnaut), mereka memberikan kontribusi besar pada metodologi kritik hadits di era modern. Mereka memelopori penguatan kembali kritik\u00a0<i data-path-to-node=\"8,0,0\" data-index-in-node=\"63\">matan<\/i>. Jika suatu hadits (meskipun sanadnya sahih) dianggap bertentangan dengan akal sehat yang eksplisit, prinsip Al-Qur&#8217;an, atau fakta ilmiah yang pasti, mereka cenderung bersikap kritis atau menakwilkannya. Bagaimana sikap beliau terhadap Hadits Ahad?\u00a0Mereka seringkali berhati-hati dalam menggunakan\u00a0<i data-path-to-node=\"8,1,0\" data-index-in-node=\"77\">hadits ahad<\/i>\u00a0(hadits yang diriwayatkan sedikit orang) dalam masalah akidah atau hukum yang bersifat fundamental.<\/p>\n<div id=\"e157e4b2b0bd0791\" class=\"conversation-container message-actions-hover-boundary ng-star-inserted\">\n<div class=\"response-container ng-tns-c3007217911-228 response-container-with-gpi ng-star-inserted\" data-hveid=\"1\">\n<div class=\"presented-response-container ng-tns-c3007217911-228\" data-hveid=\"3\">\n<div class=\"response-container-content ng-tns-c3007217911-228\">\n<div class=\"response-content ng-tns-c3007217911-228\">\n<div class=\"container\">\n<div id=\"model-response-message-contentr_e157e4b2b0bd0791\" class=\"markdown markdown-main-panel enable-updated-hr-color\" dir=\"ltr\" aria-live=\"off\" aria-busy=\"false\">\n<p>3. Apakah syaikh muhammad al-ghazali, pemikir dari mesir (guru dari Dr Yusuf Qardhawi) dapat dikategorikan sebagai ulama hadits kontemporer?\u00a0Syaikh Muhammad al-Ghazali (1917\u20131996) memiliki posisi yang unik dalam diskursus keislaman, namun secara keilmuan, beliau lebih tepat dikategorikan sebagai\u00a0Pemikir Islam (Mufakkir)\u00a0dan\u00a0Ahli Dakwah\u00a0yang memiliki perhatian besar pada metodologi pemahaman hadits, daripada seorang pakar teknis sanad (peneliti rantai transmisi) murni.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<div id=\"2b817c001a6dce1a\" class=\"conversation-container message-actions-hover-boundary ng-star-inserted\">\n<div>\n<div class=\"response-container ng-tns-c3007217911-231 response-container-with-gpi ng-star-inserted\" data-hveid=\"1\">\n<div class=\"presented-response-container ng-tns-c3007217911-231\" data-hveid=\"3\">\n<div class=\"response-container-content ng-tns-c3007217911-231 has-thoughts\">\n<div class=\"response-content ng-tns-c3007217911-231\">\n<div class=\"container\">\n<div id=\"model-response-message-contentr_2b817c001a6dce1a\" class=\"markdown markdown-main-panel enable-updated-hr-color\" dir=\"ltr\" aria-live=\"off\" aria-busy=\"false\">\n<p data-path-to-node=\"4\">Berbeda dengan ulama hadits tradisional yang fokus pada keshahihan rantai periwayatan (sanad), Syaikh Muhammad al-Ghazali sangat menekankan pada\u00a0<b data-path-to-node=\"4\" data-index-in-node=\"145\">Kritik Matan<\/b> (analisis isi teks). Karya fenomenalnya yang memicu debat besar adalah buku, <i data-path-to-node=\"5,0\" data-index-in-node=\"0\">\u201cAs-Sunnah an-Nabawiyyah Baina Ahl al-Fiqh wa Ahl al-Hadits\u201d<\/i> (Sunnah Nabi di Antara Ahli Fiqh dan Ahli Hadits).\u00a0Dalam buku ini, beliau mengkritik kelompok yang menurutnya terlalu terpaku pada keshahihan sanad tanpa mempedulikan apakah isi hadits tersebut logis atau sesuai dengan prinsip universal Islam.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"8\">Syaikh Muhammad Al-Ghazali menawarkan beberapa parameter untuk menguji sebuah hadits, terutama jika hadits tersebut dianggap kontradiktif. Misal pada aspek\u00a0Kesesuaian dengan Al-Qur&#8217;an<b data-path-to-node=\"9,0,0\" data-index-in-node=\"0\">.<\/b> Al-Qur&#8217;an adalah barometer utama. Jika hadits (meskipun sanadnya shahih) dianggap bertentangan dengan prinsip eksplisit Al-Qur&#8217;an, maka maknanya harus ditinjau ulang atau ditolak.\u00a0Beliau juga meyakini hadits tidak mungkin bertentangan dengan kebenaran ilmiah yang sudah pasti atau fakta sejarah yang kuat.\u00a0Beliau berargumen bahwa memahami maksud Nabi (aspek\u00a0<i data-path-to-node=\"9,2,0\" data-index-in-node=\"79\">dirayah<\/i>) lebih penting daripada sekadar menghafal nama-nama perawi (aspek\u00a0<i data-path-to-node=\"9,2,0\" data-index-in-node=\"153\">riwayah<\/i>).<\/p>\n<p data-path-to-node=\"16\">Jadi, jika mendefinisikan &#8220;Ulama Hadits&#8221; sebagai orang yang mahir dalam ilmu <i data-path-to-node=\"16\" data-index-in-node=\"88\">Jarh wa Ta&#8217;dil<\/i>\u00a0(menilai kredibilitas perawi) dan takhrij, maka Syaikh Muhammad al-Ghazali\u00a0<b data-path-to-node=\"16\" data-index-in-node=\"178\">tidak termasuk<\/b>\u00a0di dalamnya. Namun, jika Anda melihatnya sebagai tokoh yang mengembangkan\u00a0<b data-path-to-node=\"16\" data-index-in-node=\"267\">metodologi kritik hadits kontemporer<\/b>, maka beliau adalah salah satu tokoh paling berpengaruh di abad ini. Syaikh Muhammad al-Ghazali memiliki pandangan yang sangat vokal dan &#8220;khas&#8221; dalam studi hadits kontemporer. Jika sebagian besar ahli hadits memfokuskan energi mereka pada <b data-path-to-node=\"0\" data-index-in-node=\"170\">Sanad<\/b>\u00a0(rantai perawi), Syaikh Al-Ghazali justru menekankan pada\u00a0<b data-path-to-node=\"0\" data-index-in-node=\"234\">Matan<\/b>\u00a0(isi teks).<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<div id=\"819d919fc23ab378\" class=\"conversation-container message-actions-hover-boundary ng-star-inserted\">\n<div>\n<div class=\"response-container ng-tns-c3007217911-235 response-container-with-gpi ng-star-inserted\" data-hveid=\"1\">\n<div class=\"presented-response-container ng-tns-c3007217911-235\" data-hveid=\"3\">\n<div class=\"response-container-content ng-tns-c3007217911-235 has-thoughts\">\n<div class=\"response-content ng-tns-c3007217911-235\">\n<div class=\"container\">\n<div id=\"model-response-message-contentr_819d919fc23ab378\" class=\"markdown markdown-main-panel enable-updated-hr-color\" dir=\"ltr\" aria-live=\"off\" aria-busy=\"false\"><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<div id=\"012a5d70631177fa\" class=\"conversation-container message-actions-hover-boundary ng-star-inserted\">\n<div class=\"user-query-container\">\n<div id=\"user-query-content-3\" class=\"query-content ng-star-inserted\" data-hveid=\"0\" data-ved=\"0CAAQ3ucQahgKEwjExfO7t-WRAxUAAAAAHQAAAAAQtAM\">\n<div class=\"query-text gds-body-l\" dir=\"ltr\" role=\"heading\" aria-level=\"2\">\n<p class=\"query-text-line ng-star-inserted\">4. Benarkah Syaikh Ahmad Amin dari Mesir disebut sebagai &#8220;ingkaru sunnah&#8221; atau &#8220;ingkaru hadits&#8221;?\u00a0 Ahmad Amin bukanlah pengingkar hadits secara total (seperti kelompok <i data-path-to-node=\"4\" data-index-in-node=\"69\">Quranists<\/i>), namun ia memiliki pandangan yang sangat skeptis dalam bukunya yang terkenal,\u00a0<b data-path-to-node=\"4\" data-index-in-node=\"158\"><i data-path-to-node=\"4\" data-index-in-node=\"158\">Fajr al-Islam<\/i><\/b>. Beberapa poin yang membuatnya dituduh demikian adalah: (a)\u00a0<b data-path-to-node=\"5,0,0\" data-index-in-node=\"0\">Meragukan Autentisitas.<\/b> Ia berpendapat bahwa sebagian besar hadits baru muncul atau &#8220;dibuat&#8221; pada abad ke-2 Hijriah untuk mendukung kepentingan politik dan mazhab tertentu. (b)\u00a0<b data-path-to-node=\"5,1,0\" data-index-in-node=\"0\">Kritik terhadap Sahabat.<\/b> Ia berani melontarkan kritik terhadap beberapa sahabat Nabi yang dikenal banyak meriwayatkan hadits, seperti Abu Hurairah, dengan mempertanyakan daya ingat atau akurasi riwayat mereka. (c)\u00a0<b data-path-to-node=\"5,2,0\" data-index-in-node=\"0\">Pendekatan Historis-Kritis.<\/b>\u00a0Ia menggunakan metode kritik sejarah ala Barat dalam memandang hadits, yang bagi ulama tradisional dianggap sebagai cara untuk meruntuhkan wibawa Sunnah Nabi.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<div>\n<div class=\"response-container ng-tns-c3007217911-239 response-container-with-gpi ng-star-inserted\" data-hveid=\"1\">\n<div class=\"presented-response-container ng-tns-c3007217911-239\" data-hveid=\"3\">\n<div class=\"response-container-content ng-tns-c3007217911-239 has-thoughts\">\n<div class=\"response-content ng-tns-c3007217911-239\">\n<div class=\"container\">\n<div id=\"model-response-message-contentr_012a5d70631177fa\" class=\"markdown markdown-main-panel enable-updated-hr-color\" dir=\"ltr\" aria-live=\"off\" aria-busy=\"false\">\n<p data-path-to-node=\"7\">Jika &#8220;Ingkar Sunnah&#8221; didefinisikan sebagai menolak Sunnah sebagai sumber hukum secara mutlak, maka tuduhan itu\u00a0<b data-path-to-node=\"7\" data-index-in-node=\"111\">kurang tepat<\/b> bagi Ahmad Amin. Beliau tetap mengakui bahwa Sunnah adalah sumber hukum Islam kedua setelah Al-Qur&#8217;an.\u00a0Namun, beliau sangat selektif dan menganggap banyak hadits dalam kitab-kitab induk (seperti\u00a0<i data-path-to-node=\"8,1,0\" data-index-in-node=\"92\">Shahih Bukhari<\/i>) perlu diteliti ulang secara kritis menggunakan akal dan data sejarah.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"14\">Tuduhan &#8220;Ingkar Sunnah&#8221; biasanya dialamatkan kepada\u00a0<b data-path-to-node=\"14\" data-index-in-node=\"52\">Ahmad Amin<\/b>\u00a0oleh kalangan ulama hadits karena pendekatannya yang sangat skeptis terhadap sejarah kodifikasi hadits. Beliau dianggap membuka pintu bagi gerakan pengingkar hadits modern karena memberikan landasan intelektual untuk meragukan keshahihan hadits-hadits yang sudah mapan.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<div class=\"response-container-footer ng-tns-c3007217911-239\">\n<div class=\"actions-container-v2 ng-tns-c1927598164-240\">\n<div class=\"buttons-container-v2 ng-tns-c1927598164-240 ng-star-inserted\">\n<div class=\"spacer ng-tns-c1927598164-240 ng-star-inserted\">5. Kaidah mayor dan kaidah minor dalam studi hadits?\u00a0Dalam studi hadits kontemporer, istilah\u00a0<b data-path-to-node=\"0\" data-index-in-node=\"40\">Kaidah Mayor<\/b>\u00a0dan\u00a0<b data-path-to-node=\"0\" data-index-in-node=\"57\">Kaidah Minor<\/b>\u00a0sering muncul sebagai metodologi untuk menguji keabsahan sebuah riwayat. Istilah ini dipopulerkan untuk membedakan antara pengujian pada rantai transmisi (<b data-path-to-node=\"0\" data-index-in-node=\"225\">Sanad<\/b>) dan pengujian pada isi pernyataan (<b data-path-to-node=\"0\" data-index-in-node=\"267\">Matan<\/b>).<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<div id=\"87c5425cb14ebe43\" class=\"conversation-container message-actions-hover-boundary ng-star-inserted\">\n<div>\n<div class=\"response-container ng-tns-c3007217911-243 response-container-with-gpi ng-star-inserted\" data-hveid=\"1\">\n<div class=\"presented-response-container ng-tns-c3007217911-243\" data-hveid=\"3\">\n<div class=\"response-container-content ng-tns-c3007217911-243\">\n<div class=\"response-content ng-tns-c3007217911-243\">\n<div class=\"container\">\n<div id=\"model-response-message-contentr_87c5425cb14ebe43\" class=\"markdown markdown-main-panel enable-updated-hr-color\" dir=\"ltr\" aria-live=\"off\" aria-busy=\"false\">\n<p data-path-to-node=\"4\">Kaidah Mayor adalah standar utama yang bersifat\u00a0<b data-path-to-node=\"4\" data-index-in-node=\"48\">eksternal<\/b>\u00a0dan\u00a0<b data-path-to-node=\"4\" data-index-in-node=\"62\">formal<\/b>. Ini adalah pengujian yang dilakukan terhadap jalur sampainya hadits dari Nabi Muhammad hingga ke tangan pencatat hadits (Imam Bukhari, Muslim, dll).\u00a0Ada 5 kriteria utama (syarat hadits shahih) dalam Kaidah Mayor:\u00a0<b data-path-to-node=\"6,0,0\" data-index-in-node=\"0\">Ittishal as-Sanad (Persambungan Sanad):<\/b> Rantai perawi tidak terputus; setiap guru bertemu langsung dengan muridnya,\u00a0<b data-path-to-node=\"6,1,0\" data-index-in-node=\"0\">&#8216;Adalah ar-Ruwat (Keadilan Perawi):<\/b>\u00a0Perawi harus muslim, baligh, berakal, taat, dan tidak melakukan dosa besar atau perbuatan yang menjatuhkan martabat (<i data-path-to-node=\"6,1,0\" data-index-in-node=\"153\">muru\u2019ah<\/i>),\u00a0<b data-path-to-node=\"6,2,0\" data-index-in-node=\"0\">Dhabt ar-Ruwat (Keakuratan Perawi):<\/b> Perawi memiliki hafalan yang kuat atau catatan yang akurat,\u00a0<b data-path-to-node=\"6,3,0\" data-index-in-node=\"0\">&#8216;Adam al-&#8216;Illah (Tidak ada cacat tersembunyi):<\/b> Tidak ditemukan kesalahan samar yang bisa merusak keshahihan hadits, dan\u00a0<b data-path-to-node=\"6,4,0\" data-index-in-node=\"0\">&#8216;Adam asy-Syudzudz (Tidak ada kejanggalan):<\/b>\u00a0Riwayat tersebut tidak bertentangan dengan riwayat dari orang yang lebih kredibel (<i data-path-to-node=\"6,4,0\" data-index-in-node=\"127\">tsiqah<\/i>).<\/p>\n<p data-path-to-node=\"4\">Kaidah Minor (Al-Qawa\u2019id as-Sughra) dalam konteks pemikiran tokoh seperti <b data-path-to-node=\"9\" data-index-in-node=\"64\">Syaikh Muhammad al-Ghazali<\/b>\u00a0atau\u00a0<b data-path-to-node=\"9\" data-index-in-node=\"96\">Yusuf Qardhawi<\/b>, kaidah ini justru sangat krusial. Kaidah Minor berfokus pada\u00a0<b data-path-to-node=\"9\" data-index-in-node=\"173\">analisis isi (Matan)<\/b> secara internal.\u00a0Kaidah ini digunakan untuk memastikan isi hadits tidak &#8220;cacat&#8221; secara logika atau prinsip agama, dengan parameter sebagai berikut:\u00a0<b data-path-to-node=\"11,0,0\" data-index-in-node=\"0\">Konformitas dengan Al-Qur&#8217;an:<\/b>\u00a0Hadits tidak boleh bertentangan dengan ayat-ayat Al-Qur&#8217;an yang bersifat jelas (<i data-path-to-node=\"11,0,0\" data-index-in-node=\"110\">sharih<\/i>),\u00a0<b data-path-to-node=\"11,1,0\" data-index-in-node=\"0\">Kesesuaian dengan Akal Sehat:<\/b> Hadits tidak boleh mengandung pernyataan yang mustahil secara logika atau fakta ilmiah yang sudah pasti,\u00a0<b data-path-to-node=\"11,2,0\" data-index-in-node=\"0\">Keselarasan dengan Prinsip Syariat:<\/b>\u00a0Hadits tidak boleh bertentangan dengan semangat umum Islam (<i data-path-to-node=\"11,2,0\" data-index-in-node=\"96\">Maqasid Syariah<\/i>), serta\u00a0<b data-path-to-node=\"11,3,0\" data-index-in-node=\"0\">Akurasi Bahasa:<\/b>\u00a0Redaksi hadits harus mencerminkan gaya bahasa kenabian (<i data-path-to-node=\"11,3,0\" data-index-in-node=\"72\">jawami&#8217;ul kalim<\/i>) dan bukan bahasa yang buruk atau kasar.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"17\">Dalam sejarahnya, banyak hadits yang\u00a0<b data-path-to-node=\"17\" data-index-in-node=\"37\">lolos Kaidah Mayor<\/b>\u00a0(sanadnya tampak sempurna\/shahih), namun ternyata\u00a0<b data-path-to-node=\"17\" data-index-in-node=\"106\">gagal dalam Kaidah Minor<\/b> (isinya aneh atau bertentangan dengan Al-Qur&#8217;an).\u00a0Para pembaharu seperti Syaikh Muhammad al-Ghazali berpendapat bahwa kelemahan studi hadits belakangan ini adalah terlalu memuja Kaidah Mayor sehingga sering mengabaikan kritik terhadap Kaidah Minor.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<div id=\"e25955918d76d1e6\" class=\"conversation-container message-actions-hover-boundary ng-star-inserted\">\n<div class=\"user-query-container\">\n<div id=\"user-query-content-5\" class=\"query-content ng-star-inserted\" data-hveid=\"0\" data-ved=\"0CAAQ3ucQahgKEwjExfO7t-WRAxUAAAAAHQAAAAAQuAM\">\n<div class=\"query-text gds-body-l\" dir=\"ltr\" role=\"heading\" aria-level=\"2\">\n<p class=\"query-text-line ng-star-inserted\">6. Siapa yang mempopulerkan kaidah mayor dan kaidah minor dalam studi hadits. Berikan contohnya?\u00a0Istilah\u00a0<b data-path-to-node=\"0\" data-index-in-node=\"8\">Kaidah Mayor<\/b>\u00a0dan\u00a0<b data-path-to-node=\"0\" data-index-in-node=\"25\">Kaidah Minor<\/b>\u00a0dalam studi hadits kontemporer paling populer muncul dari pemikiran\u00a0<b data-path-to-node=\"0\" data-index-in-node=\"106\">Syaikh Muhammad al-Ghazali<\/b>\u00a0melalui bukunya yang sangat kontroversial,\u00a0<b data-path-to-node=\"0\" data-index-in-node=\"176\"><i data-path-to-node=\"0\" data-index-in-node=\"176\">As-Sunnah an-Nabawiyyah Baina Ahl al-Fiqh wa Ahl al-Hadits<\/i><\/b> (1989).\u00a0Istilah ini kemudian dipertegas dan disistematiskan oleh muridnya,\u00a0<b data-path-to-node=\"1\" data-index-in-node=\"67\">Dr. Yusuf al-Qardhawi<\/b>, dalam bukunya\u00a0<b data-path-to-node=\"1\" data-index-in-node=\"104\"><i data-path-to-node=\"1\" data-index-in-node=\"104\">Kaifa Nata\u2019amal ma\u2019as Sunnan al-Nabawiyyah<\/i><\/b> (Bagaimana Berinteraksi dengan Sunnah Nabawiyyah).<\/p>\n<p class=\"query-text-line ng-star-inserted\">Kaidah Mayor (Kritik Sanad\/Transmisi), Fokusnya\u00a0Memastikan berita itu benar-benar berasal dari Nabi melalui rantai perawi yang terpercaya.\u00a0<b data-path-to-node=\"5\" data-index-in-node=\"98\">Contoh:<\/b>\u00a0Seorang ahli hadits memeriksa riwayat tentang\u00a0<i data-path-to-node=\"5\" data-index-in-node=\"152\">&#8220;Tinta para ulama lebih utama dari darah para syuhada.&#8221;<\/i>\u00a0* Secara\u00a0<b data-path-to-node=\"5\" data-index-in-node=\"217\">Kaidah Mayor<\/b>, hadits ini dinyatakan\u00a0<b data-path-to-node=\"5\" data-index-in-node=\"253\">palsu (maudhu&#8217;)<\/b> atau sangat lemah karena dalam sanadnya terdapat perawi yang dianggap pendusta atau tidak dikenal. Meskipun isinya terlihat bagus dan memotivasi ilmu, Kaidah Mayor menolaknya karena jalur komunikasinya cacat.<\/p>\n<p class=\"query-text-line ng-star-inserted\">Kaidah Minor (Kritik Matan\/Isi), Fokusnya Memastikan isi berita tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip yang lebih tinggi (Al-Qur&#8217;an, Logika, atau Maqasid).\u00a0<b data-path-to-node=\"8\" data-index-in-node=\"124\">Contoh 1: Hadits tentang Kepemimpinan Perempuan<\/b>\u00a0Ada hadits shahih yang berbunyi:\u00a0<i data-path-to-node=\"8\" data-index-in-node=\"205\">&#8220;Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan.&#8221;<\/i>\u00a0(HR. Bukhari).<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<div>\n<div class=\"response-container ng-tns-c3007217911-246 response-container-with-gpi ng-star-inserted response-container-has-multiple-responses\" data-hveid=\"1\">\n<div class=\"presented-response-container ng-tns-c3007217911-246\" data-hveid=\"3\">\n<div class=\"response-container-content ng-tns-c3007217911-246\">\n<div class=\"response-content ng-tns-c3007217911-246\">\n<div class=\"container\">\n<div id=\"model-response-message-contentr_e25955918d76d1e6\" class=\"markdown markdown-main-panel enable-updated-hr-color\" dir=\"ltr\" aria-live=\"polite\" aria-busy=\"false\">\n<p data-path-to-node=\"9,0,0\"><b data-path-to-node=\"9,0,0\" data-index-in-node=\"0\">Kaidah Mayor:<\/b>\u00a0Hadits ini\u00a0<b data-path-to-node=\"9,0,0\" data-index-in-node=\"25\">Shahih<\/b>\u00a0(Lolos). Sanadnya sampai ke Abu Bakrah dan tercantum dalam kitab paling otentik.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"9,1,0\"><b data-path-to-node=\"9,1,0\" data-index-in-node=\"0\">Kaidah Minor (Perspektif Al-Ghazali):<\/b>\u00a0Beliau mengkritik penerapan hadits ini sebagai hukum mutlak. Beliau membandingkannya dengan\u00a0<b data-path-to-node=\"9,1,0\" data-index-in-node=\"130\">Al-Qur&#8217;an<\/b>\u00a0yang memuji kepemimpinan Ratu Balqis yang bijaksana. Menurut Al-Ghazali, hadits ini adalah respons Nabi terhadap runtuhnya Dinasti Persia, bukan larangan abadi bagi perempuan untuk memimpin di era modern.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"10\"><b data-path-to-node=\"10\" data-index-in-node=\"0\">Contoh 2: Hadits &#8220;Matahari Bersujud di Bawah Arsy&#8221;<\/b>\u00a0Ada hadits yang menyebutkan bahwa saat terbenam, matahari pergi bersujud di bawah Arsy lalu meminta izin untuk terbit kembali.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"11,0,0\"><b data-path-to-node=\"11,0,0\" data-index-in-node=\"0\">Kaidah Mayor:<\/b>\u00a0Hadits ini\u00a0<b data-path-to-node=\"11,0,0\" data-index-in-node=\"25\">Shahih<\/b>\u00a0(Lolos). Terdapat dalam\u00a0<i data-path-to-node=\"11,0,0\" data-index-in-node=\"56\">Shahih Bukhari<\/i>\u00a0dan\u00a0<i data-path-to-node=\"11,0,0\" data-index-in-node=\"75\">Muslim<\/i>.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"11,1,0\"><b data-path-to-node=\"11,1,0\" data-index-in-node=\"0\">Kaidah Minor:<\/b>\u00a0Syaikh Muhammad al-Ghazali dan beberapa pemikir modern melakukan pendekatan &#8220;takwil&#8221;. Secara astronomi, matahari tidak pernah berhenti bergerak. Jika hadits ini dipahami secara tekstual-literal, ia akan bertentangan dengan\u00a0<b data-path-to-node=\"11,1,0\" data-index-in-node=\"237\">Fakta Ilmiah<\/b>. Maka, Kaidah Minor mengharuskan hadits ini dipahami sebagai bahasa kiasan tentang ketundukan alam semesta kepada Allah, bukan gerakan fisik matahari.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"11,1,0\">7. Mengapa Disebut &#8220;Mayor&#8221; dan &#8220;Minor&#8221;?\u00a0Istilah ini sebenarnya adalah sebuah\u00a0<b data-path-to-node=\"14\" data-index-in-node=\"37\">sindiran metodologis<\/b> dari Syaikh Al-Ghazali.\u00a0<b data-path-to-node=\"15,0,0\" data-index-in-node=\"0\">Mayor:<\/b> Disebut demikian karena selama berabad-abad, ulama hadits terlalu menghabiskan energi di sini (cek biografi perawi, hafalan, dsb), sedang\u00a0<b data-path-to-node=\"15,1,0\" data-index-in-node=\"0\">Minor:<\/b>\u00a0Disebut demikian karena sering diabaikan atau dianggap sebagai langkah kedua saja, padahal menurut Al-Ghazali, pengujian isi (Matan) jauh lebih penting agar agama tidak terlihat bertentangan dengan akal sehat.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"17\">Syaikh Muhammad al-Ghazali mempopulerkan ini untuk mendobrak kekakuan kelompok yang ia sebut sebagai &#8220;Ahli Hadits Tekstualis&#8221; yang sering meloloskan hadits aneh hanya karena sanadnya bagus.<\/p>\n<p data-path-to-node=\"18\">Demikian catatan singkat Studi Hadits pada perkuliahan malam ini, Jumat (26\/12\/2025) sebagai pengingat kegiatan akademik yang telah diikuti. Barakallahu fiikum. (*)<\/p>\n<p data-path-to-node=\"18\">Minasatene-Pangkep, 26 Desember 2025<\/p>\n<p data-path-to-node=\"18\">(* <em><strong>Muhammad Farid Wajdi<\/strong><\/em>, Guru\/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"featured_media":16141,"template":"","class_list":["post-16139","ekskul","type-ekskul","status-publish","has-post-thumbnail","hentry"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.6 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Catatan Kuliah S2 Non Reguler (41): Studi Hadits - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) BLOGGURU - Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri, karena ingin memastikan perkuliahan pada keesokan\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/ekskul\/catatan-kuliah-s2-non-reguler-41-studi-hadits\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Catatan Kuliah S2 Non Reguler (41): Studi Hadits - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) BLOGGURU - Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri, karena ingin memastikan perkuliahan pada keesokan\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/ekskul\/catatan-kuliah-s2-non-reguler-41-studi-hadits\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-12-31T11:33:14+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/dfsgryrtjh.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"774\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"423\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"8 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/ekskul\\\/catatan-kuliah-s2-non-reguler-41-studi-hadits\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/ekskul\\\/catatan-kuliah-s2-non-reguler-41-studi-hadits\\\/\",\"name\":\"Catatan Kuliah S2 Non Reguler (41): Studi Hadits - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/ekskul\\\/catatan-kuliah-s2-non-reguler-41-studi-hadits\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/ekskul\\\/catatan-kuliah-s2-non-reguler-41-studi-hadits\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/12\\\/dfsgryrtjh.png\",\"datePublished\":\"2025-12-26T13:22:29+00:00\",\"dateModified\":\"2025-12-31T11:33:14+00:00\",\"description\":\"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) BLOGGURU - Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri, karena ingin memastikan perkuliahan pada keesokan\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/ekskul\\\/catatan-kuliah-s2-non-reguler-41-studi-hadits\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/ekskul\\\/catatan-kuliah-s2-non-reguler-41-studi-hadits\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/ekskul\\\/catatan-kuliah-s2-non-reguler-41-studi-hadits\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/12\\\/dfsgryrtjh.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/12\\\/dfsgryrtjh.png\",\"width\":774,\"height\":423},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/ekskul\\\/catatan-kuliah-s2-non-reguler-41-studi-hadits\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ekskul\",\"item\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/ekskul\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":3,\"name\":\"Catatan Kuliah S2 Non Reguler (41): Studi Hadits\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\",\"name\":\"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\",\"description\":\"Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#organization\",\"name\":\"IMMIM Pangkep\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/06\\\/cropped-immim.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/06\\\/cropped-immim.png\",\"width\":512,\"height\":512,\"caption\":\"IMMIM Pangkep\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Catatan Kuliah S2 Non Reguler (41): Studi Hadits - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","description":"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) BLOGGURU - Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri, karena ingin memastikan perkuliahan pada keesokan","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/ekskul\/catatan-kuliah-s2-non-reguler-41-studi-hadits\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Catatan Kuliah S2 Non Reguler (41): Studi Hadits - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","og_description":"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) BLOGGURU - Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri, karena ingin memastikan perkuliahan pada keesokan","og_url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/ekskul\/catatan-kuliah-s2-non-reguler-41-studi-hadits\/","og_site_name":"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","article_modified_time":"2025-12-31T11:33:14+00:00","og_image":[{"width":774,"height":423,"url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/dfsgryrtjh.png","type":"image\/png"}],"twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Estimasi waktu membaca":"8 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/ekskul\/catatan-kuliah-s2-non-reguler-41-studi-hadits\/","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/ekskul\/catatan-kuliah-s2-non-reguler-41-studi-hadits\/","name":"Catatan Kuliah S2 Non Reguler (41): Studi Hadits - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","isPartOf":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/ekskul\/catatan-kuliah-s2-non-reguler-41-studi-hadits\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/ekskul\/catatan-kuliah-s2-non-reguler-41-studi-hadits\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/dfsgryrtjh.png","datePublished":"2025-12-26T13:22:29+00:00","dateModified":"2025-12-31T11:33:14+00:00","description":"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) BLOGGURU - Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri, karena ingin memastikan perkuliahan pada keesokan","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/ekskul\/catatan-kuliah-s2-non-reguler-41-studi-hadits\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/ekskul\/catatan-kuliah-s2-non-reguler-41-studi-hadits\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/ekskul\/catatan-kuliah-s2-non-reguler-41-studi-hadits\/#primaryimage","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/dfsgryrtjh.png","contentUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/dfsgryrtjh.png","width":774,"height":423},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/ekskul\/catatan-kuliah-s2-non-reguler-41-studi-hadits\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ekskul","item":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/ekskul\/"},{"@type":"ListItem","position":3,"name":"Catatan Kuliah S2 Non Reguler (41): Studi Hadits"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#website","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/","name":"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","description":"Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan","publisher":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#organization","name":"IMMIM Pangkep","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/cropped-immim.png","contentUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/cropped-immim.png","width":512,"height":512,"caption":"IMMIM Pangkep"},"image":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#\/schema\/logo\/image\/"}}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/ekskul\/16139","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/ekskul"}],"about":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/types\/ekskul"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/media\/16141"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=16139"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}