{"id":10948,"date":"2023-05-25T21:27:45","date_gmt":"2023-05-25T13:27:45","guid":{"rendered":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/?p=10948"},"modified":"2023-05-25T21:31:19","modified_gmt":"2023-05-25T13:31:19","slug":"apa-bedanya-syarh-dengan-hasyiyah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2023\/05\/25\/apa-bedanya-syarh-dengan-hasyiyah\/","title":{"rendered":"Apa Bedanya &#8220;Syarh&#8221; dengan &#8220;Hasyiyah&#8221;?"},"content":{"rendered":"<div class=\"entry-content\">\n<div id=\"attachment_10949\" style=\"width: 650px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-10949\" class=\" wp-image-10949\" src=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/hasyiyah-al-bajuri.jpg\" alt=\"Hasyiyah-al-bajuri\" width=\"640\" height=\"413\" srcset=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/hasyiyah-al-bajuri.jpg 1024w, https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/hasyiyah-al-bajuri-300x194.jpg 300w, https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/hasyiyah-al-bajuri-768x496.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><p id=\"caption-attachment-10949\" class=\"wp-caption-text\"><em>Hasyiyah-al-bajuri. (foto: ist\/*)<\/em><\/p><\/div>\n<p>Oleh: <strong>Ustadz Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin\/M.R.Rozikin)<\/strong><\/p>\n<p><strong>BLOGGURU<\/strong> &#8211; Secara umum bisa dikatakan bahwa \u201c<em>syarah<\/em>\u201d (\u0627\u0644\u0634\u0631\u062d) dan \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d (\u0627\u0644\u062d\u0627\u0634\u064a\u0629) itu bisa saja dibedakan, akan tetapi tetap akan sangat susah dipisah tegas karena memang ada banyak sisi yang beririsan. Karenanya, banyak orientalis Barat yang menganggap dua macam gaya karangan ini sama saja karena begitu tidak mudahnya menemukan titik-titik perbedaan di antaranya keduanya.<\/p>\n<p>Dalam bahasa singkat bisa dikatakan bahwa \u201c<em>syarah<\/em>\u201d adalah penjelasan dari sebuah kitab \u201c<em>matan<\/em>\u201d. Adapun \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d, ia merupakan penjelasan dari \u201c<em>syarah<\/em>\u201d itu. Dengan kata lain \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d adalah \u201c<em>syarah<\/em>\u201dnya \u201c<em>syarah<\/em>\u201d.<\/p>\n<p>Kita ambil contoh umpamanya kitab \u201c<em>matan<\/em>\u201d Abu Syuja\u2019 (penjelasan definisi \u201c<em>matan<\/em>\u201d silakan dibaca catatan saya yang berjudul\u00a0<a href=\"https:\/\/irtaqi.net\/2017\/08\/24\/mengenal-berbagai-macam-gaya-penulisan-kitab-fikih\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">\u201cMengenal Berbagai Macam Gaya Penulisan Kitab Fikih\u201d<\/a>). Kitab ini dijelaskan dan diuraikan isinya oleh Ibnu Qosim Al-Ghozzi dalam kitab yang bernama \u201c<em>Fathu Al-Qorib<\/em>\u201d. Oleh karena kitab \u201c<em>Fathu Al-Qorib<\/em>\u201d adalah penjelas \u201c<em>matan<\/em>\u201d Abu Syuja\u2019 maka bisa kita katakan bahwa kitab \u201c<em>Fathu Al-Qorib<\/em>\u201d adalah kitab \u201c<em>syarah<\/em>\u201d. Kemudian kitab \u201c<em>Fathu Al-Qorib<\/em>\u201d ini di\u201d<em>syarah<\/em>\u201d lagi oleh Al-Bajuri dalam karya yang terkenal dengan nama \u201c<em>Hasyiyah Al-Bajuri<\/em>\u201d. Oleh karena karya Al-Bajuri itu adalah penjelasan dari sebuah \u201c<em>syarah<\/em>\u201d, maka karyanya kita golongkan dalam kitab \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d. Demikianlah gambaran umum perbedaan antara \u201c<em>syarah<\/em>\u201d dengan \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d.<\/p>\n<p>Adapun perbedaan lebih detail, berikut ini akan dipaparkan karakteristik utama \u201c<em>syarah<\/em>\u201d dan \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d sehingga dengan demikian akan lebih terlihat titik-titik perbedaan dan persamaan di antara keduanya.<\/p>\n<p><strong>\u201c<em>SYARAH<\/em>\u201d<\/strong><br \/>\n\u201c<em>Syarah<\/em>\u201d adalah komentar penjelas (<em>explanation commentary<\/em>) untuk sebuah kitab \u201c<em>matan<\/em>\u201d. Lafaz \u201c<em>syarah<\/em>\u201d dijamakkan menjadi\u00a0<em>syuruh\u00a0<\/em>(\u0627\u0644\u0634\u0631\u0648\u062d). Ulama yang mengarang kitab \u201c<em>syarah<\/em>\u201d disebut dengan\u00a0<em>syarih\u00a0<\/em>(\u0627\u0644\u0634\u0651\u064e\u0627\u0631\u0650\u062d).<\/p>\n<p>\u201c<em>Syarah<\/em>\u201d melaksanakan tugas \u201c<em>tafshil mujmal<\/em>\u201d (memerinci yang global), \u201c<em>tabyin mubham<\/em>\u201d (menjelaskan yang belum jelas), \u201c<em>taqyidul muthlaq<\/em>\u201d (membatasi yang masih mutlak), \u201c<em>tash-hihul khotho\u2019<\/em>\u00a0(mengoreksi kesalahan), \u201c<em>fakkul \u2018ibaroh<\/em>\u201d (menyibak makna ungkapan), dan \u201c<em>ta\u2019lilat<\/em>\u201d (memberikan\u00a0<em>reasoning-reasoning<\/em>).<\/p>\n<p>\u201c<em>Syarah<\/em>\u201d juga menyajikan \u201c<em>i\u2019tirodhot<\/em>\u201d (sanggahan-sanggahan\/keberatan-keberatan\/<em>objections<\/em>). Kadang \u201c<em>syarah<\/em>\u201d juga memperkuat penjelasan \u201c<em>matan<\/em>\u201d dengan cara menyajikan dalil-dalil, istinbath dan wajhul istidlal. Kadang \u201csyarah\u201d juga memperluas bahasan dengan cara membahas \u201c<em>ushul<\/em>\u201d (dasar-dasar) yang dipakai oleh pengarang matan dalam menurunkan hukum-hukum cabang. Kadang pengarang \u201c<em>syarah<\/em>\u201d juga mengkritik beberapa cara penyajian yang ditulis oleh pengarang \u201c<em>matan<\/em>\u201d. Kadang \u201c<em>syarah<\/em>\u201d juga menonjol dalam memberikan contoh-contoh penjelas (\u201c<em>amtsilah<\/em>\u201d) dan \u201csyawahid\u201d.<\/p>\n<p>Mengkaji \u201c<em>syarah<\/em>\u201d adalah tingkatan\/level kedua setelah pelajar mengkaji \u201c<em>matan<\/em>\u201d. Orang yang sudah bisa membuat \u201c<em>syarah<\/em>\u201d dan sanggup menyajikan \u201c<em>i\u2019tirodhot<\/em>\u201d, artinya dia sudah mencapai level ulama, karena dia sudah mampu membaca kritis yang sifatnya bertanggungjawab dan berargumentasi. Bahkan bisa dikatakan, orang yang sudah mencapai level men\u201d<em>syarah<\/em>\u201d sesungguhnya dia sudah merasakan dirinya selevel dengan pengarang kitab yang di\u201d<em>syarah<\/em>\u201di sehingga sanggup menyajikan keberatan-keberatan. Karena itulah, orang yang membaca kitab \u201c<em>syarah<\/em>\u201d, levelnya bukan lagi orang yang sedang menimba ilmu untuk pertama kali, tapi level yang sudah masuk ke alam pikir seorang ulama yang sedang mendebat ulama yang lain dan cara ulama tersebut membaca pikiran ulama lain.<\/p>\n<p>Adapun teknik penulisan \u201c<em>syarah<\/em>\u201d, maka para ulama menempuh jalan yang berbeda-beda. Ada ulama yang menulis \u201c<em>syarah<\/em>\u201d dengan cara langsung dicampur dengan \u201c<em>matan<\/em>\u201d. Untuk kepentingan pembedaan, \u201c<em>matan<\/em>\u201d hanya ditandai dengan cara diletakkan di dalam kurung. Cara ini dipakai oleh Ibnu Qosim Al-Ghozzi saat mengarang \u201c<em>Fathu Al-Qorib<\/em>\u201d (\u201c<em>syarah<\/em>\u201d \u201c<em>matan<\/em>\u201d Abu Syuja\u2019). Kadang cara yang ditempuh adalah dengan mengutip terlebih dahulu satu kalimat dalam kitab \u201c<em>matan<\/em>\u201d atau satu paragraf, kemudian baru di\u201d<em>syarah<\/em>\u201d. Cara ini dilakukan oleh Ibnu Qudamah saat menulis kitab \u201c<em>Al-Mughni<\/em>\u201d (\u201c<em>syarah<\/em>\u201d \u201c<em>Mukhtashor Al-Khiroqi<\/em>\u201d). Terkadang, pengarang sengaja tidak mengutip \u201c<em>matan<\/em>\u201d secara lafaz, tetapi hanya mementingkan maknanya sehingga yang ditulis juga hanya makna \u201c<em>matan<\/em>\u201d. Ini adalah cara Al-Mawardi saat mengarang \u201c<em>Al-Hawi Al-Kabir<\/em>\u201d (\u201c<em>syarah<\/em>\u201d \u201c<em>Mukhtashor Al-Muzani<\/em>\u201d) termasuk juga cara Al-Juwaini saat mengarang \u201c<em>Nihayatu Al-Mathlab<\/em>\u201d (\u201c<em>syarah<\/em>\u201d \u201c<em>Mukhtashor Al-Muzani<\/em>\u201d).<\/p>\n<p>Dari sisi tingkat keluasan penjelasan, \u201c<em>syarah<\/em>\u201d ada yang ringkas (<em>wajiz<\/em>), pertengahan (<em>mutawassith<\/em>) dan ada yang panjang lebar (<em>muthowwal<\/em>\/<em>mabsuth<\/em>).<\/p>\n<p><strong>\u201c<em>HASYIYAH<\/em>\u201d<\/strong><\/p>\n<p>\u201c<em>Hasyiyah<\/em>\u201d (\u0627\u0644\u062d\u0627\u0634\u064a\u0629)\/\u201d<em>note<\/em>\u201d adalah penjelas \u201c<em>syarah<\/em>\u201d. Dengan kata lain bisa dikatakan \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d adalah \u201c<em>syarah<\/em>\u201d untuk \u201c<em>syarah<\/em>\u201d. \u201c<em>Hasyiyah<\/em>\u201d dijamakkan menjadi \u201c<em>hawasyi<\/em>\u201d (\u0627\u0644\u062d\u0648\u0627\u0634\u064a). Ulama yang mengarang kitab \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d disebut \u201c<em>muhasysyi<\/em>\u201d (\u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u062d\u064e\u0634\u0651\u0650\u064a\u0652) dan aktifitasnya disebut \u201c<em>tahsyiyah<\/em>\u201d (\u0627\u0644\u062a\u062d\u0634\u064a\u0629). Istilah yang sinonim dengan \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d atau mendekatinya adalah \u201c<em>ta\u2019liq<\/em>\u201d\/\u201d<em>ta\u2019liqoh<\/em>\u201d, \u201c<em>qoul \u2018ala<\/em>\u201d, \u201c<em>kalam \u2018ala<\/em>\u201d, \u201c<em>nukat<\/em>\/<em>tankit<\/em>\u201d, \u201c<em>thorroh<\/em>\/<em>thuror<\/em>\u201d, dan \u201c<em>taqrir<\/em>\u201d . \u201c<em>Hasyiyah<\/em>\u201d biasanya diletakkan pada pinggir kitab. Peletakan dipinggir ini sesuai dengan makna bahasa \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d yang memang secara bahasa bisa dimaknai \u201ccatatan pinggir\u201d. Kadang\u00a0<em>hasyiyah\u00a0<\/em>juga diletakkan di bawah kitab.<\/p>\n<p>Makna asal \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d adalah seperti ini, lalu dikalangan\u00a0<em>mutaakhirin\u00a0<\/em>ada yang memperluas makna istilah \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d sehingga sebagian dari mereka ada yang menggunakan istilah \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d dengan makna \u201c<em>syarah<\/em>\u201d. Jadi tidak usah heran jika ada kitab yang dinamai \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d, tapi isinya sama dengan \u201c<em>syarah<\/em>\u201d atau mirip dengan \u201c<em>syarah<\/em>\u201d. Kadang \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d juga langsung disebut \u201c<em>syarah<\/em>\u201d jika isinya memang seperti \u201c<em>syarah<\/em>\u201d. \u201c<em>Hasyiyah<\/em>\u201d kadang juga ditulis hanya untuk mentakhrij ayat, hadis dan \u201c<em>syarah<\/em>\u201d kata-kata sulit.<\/p>\n<p>Di zaman sekarang, \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d kadang juga dimaknai \u201c<em>footnote<\/em>\u201d. Tapi istilah yang lebih populer untuk \u201c<em>footnote<\/em>\u201d adalah \u201c<em>hamisy<\/em>\u201d (\u0627\u0644\u0647\u0627\u0645\u0634) -yang dijamakkan menjadi \u201c<em>hawamisy<\/em>\u201d-, bukan \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d.<\/p>\n<p>\u201c<em>Hasyiyah<\/em>\u201d pasti muncul sesudah \u201c<em>syarah<\/em>\u201d. Tidak mungkin ada \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d yang dikarang sebelum \u201c<em>syarah<\/em>\u201d, karena hakikat \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d adalah \u201c<em>syarah<\/em>\u201d untuk sebuah \u201c<em>syarah<\/em>\u201d.<\/p>\n<p>Ciri utama \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d adalah tidak mengomentari semua ungkapan dalam kitab yang di\u201d<em>hasyiyah<\/em>\u201di. Penulis \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d hanya mengomentari hal-hal yang dianggap perlu saja. Titik ini menjadi perbedaan terpenting dengan \u201c<em>syarah<\/em>\u201d, karena \u201c<em>syarah<\/em>\u201d itu menyajikan seluruh \u201c<em>matan<\/em>\u201d kemudian dijelaskan, sementara \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d hanya menyajikan sebagian saja, tidak semuanya.<\/p>\n<p>Sebagai konsekuensinya, \u201c<em>syarah<\/em>\u201d akan selalu memperhatikan \u201c<em>munasabah<\/em>\u201d (kesesuaian konteks) antara satu bagian dengan bagian yang lain, sementara \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d tidak. Sangat biasa jika dalam \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d itu antara penjelas satu hal dengan yang lain terputus sama sekali. Dengan deskripsi demikian, berarti bisa disimpulkan bahwa umumnya \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d seharusnya pasti lebih kecil\/tipis daripada \u201c<em>syarah<\/em>\u201d jika yang di\u201d<em>syarah<\/em>\u201d dan di\u201d<em>hasyiyah<\/em>\u201di adalah kitab yang sama.<\/p>\n<p>\u201c<em>Hasyiyah<\/em>\u201d tidak selalu berupa komentar terhadap \u201c<em>syarah<\/em>\u201d. \u201c<em>Hasyiyah<\/em>\u201d bisa juga komentar terhadap \u201c<em>matan<\/em>\u201d. Hanya saja ciri utama \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d tetap terwujud, yakni hanya mengomentari yang dianggap perlu. Tidak mengomentari semua isi kitab.<\/p>\n<p>Umumnya \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d ditulis ulama bukan untuk dipublikasikan secara khusus, tetapi untuk koleksi pribadi agar lebih memudahkan mengkaji atau mengajarkan kitab. Memang, kemunculan \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d biasanya diawali dari seorang ulama yang mengkaji sebuah kitab, atau mengajarkannya, atau memuroja\u2019ahinya, lalu timbul \u201c<em>khowathir<\/em>\u201d (lintasan-lintasan ilmu), \u201c<em>thoro-if<\/em>\u201d (ilmu-ilmu unik), \u201c<em>nukat<\/em>\u201d (ilmu-ilmu halus), dan \u201c<em>lafatat jamilah<\/em>\u201d (catatan-catatan yang menarik perhatian nan indah).<\/p>\n<p>Kemudian generasi berikutnya, setelah tahu nilai ilmu \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d seperti ini, mereka memandang penjelasannya yang sangat berharga itu terasa sayang jika dibiarkan hanya menjadi catatan pribadi. Dari situ itu, \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d tersebut kemudian dipisah-sendirikan dan disebarkan sebagai karya\u00a0<em>mustaqill<\/em>. Oleh karena itu, sering kita temui dalam penjelasan karya-karya ulama ungkapan seperti, \u201c<em>lahu hasyiyah \u2018ala kadza jurridat fi mujallad<\/em>\u201d (beliau mengarang \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d untuk kitab \u201cX\u201d yang dipisahkan menjadi kitab tersendiri dalam satu jilid).<\/p>\n<p>Berdasarkan paparan di atas, bisa dipahami bahwa dalam konteks tingkat kedalaman ilmu, \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d itu umumnya lebih tinggi daripada \u201c<em>syarah<\/em>\u201d. Karena orang yang menulis \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d, sudah pasti telah mengkaji \u201c<em>matan<\/em>\u201d dan mengkaji \u201c<em>syarah<\/em>\u201d. Tidak mungkin orang bisa menulis \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d jika tidak paham betul apa isi \u201c<em>matan<\/em>\u201d dan apa isi \u201c<em>syarah<\/em>\u201dnya.<\/p>\n<p>Jadi pengarang \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d adalah ulama yang sanggup mengkaji kritis ilmu penulis \u201c<em>matan<\/em>\u201d dan ilmu penulis \u201c<em>syarah<\/em>\u201d sehingga kadang-kadang setuju dengan penulis \u201c<em>matan\u00a0<\/em>+\u00a0<em>syarah<\/em>\u201d dan menguatkannya, kadang-kadang juga bisa tidak setuju dengan penulis \u201c<em>matan\u00a0<\/em>+<em>syarah<\/em>\u201d dan membantahnya. Pengarang \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d juga bisa berpendapat untuk menambahkan sejumlah hal yang belum dijelaskan oleh penulis \u201c<em>syarah<\/em>\u201d.<\/p>\n<p>Dengan demikian, pekerjaan penulis \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d kalau di zaman sekarang adalah bagaikan seorang editor isi. Hanya saja, kualitas seorang pengarang \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d bukan sekedar seperti editor isi formalitas, tapi editor isi yang sangat serius mengkaji paragraf demi paragraf, kalimat demi kalimat, bahkan kata demi kata sehingga sanggup menemukan hal-hal yang bahkan tidak sanggup ditemukan oleh penulis \u201c<em>syarah<\/em>\u201d. Oleh karena ketinggian tingkat informasi dalam \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d seperti ini, maka hanya pengkaji level \u201c<em>expert<\/em>\u201d yang bisa \u201c<em>menelan<\/em>\u201d \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d. Untuk pemula jelas akan kesulitan.<\/p>\n<p>Sudah dikenal sejak zaman dulu bahwa pelajar pemula akan dianggap menyia-nyiakan waktu jika langsung mencoba menelaah \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d. Hal itu karena ungkapan-ungkapan yang dipakai dalam \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d memang diperuntukkan untuk pengkaji fikih level tinggi. Bagi pemula, seharusnya mereka mempelajari \u201c<em>matan<\/em>\u201d\/<em>muktashor\u00a0<\/em>dan menghafalnya, lalu naik ke \u201c<em>syarah<\/em>\u201d, bukan langsung mengkaji \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d. Ahmad bin Hasan Al-\u2018Atthos (w.1334 H) berkata,<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<div>\n<h4 style=\"text-align: right;\">\u0645\u064e\u0646\u0652 \u0642\u064e\u0631\u064e\u0623\u064e \u0627\u0644\u0652\u062d\u064e\u0648\u064e\u0627\u0634\u0650\u064a \u0645\u064e\u0627 \u062d\u064e\u0648\u064e\u0649 \u0634\u064e\u064a\u0652<\/h4>\n<\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Artinya:<\/p>\n<p>\u201cBarangsiapa (di kalangan pemula) mengkaji \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d, maka dia tidak akan mendapatkan apa-apa\u201d<\/p>\n<p>\u201c<em>Hasyiyah<\/em>\u201d hanya akan bermanfaat bagi orang yang level keilmuannya sudah tingkat lanjut\/<em>advanced<\/em>, karena hal-hal yang umumnya sudah diketahui oleh pelajar tingkat lanjut tidak akan diterangkan oleh pengarang \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d. Pengarang \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d hanya akan menerangkan hal-hal yang paling sulit sehingga tetap bermanfaat bagi pelajar tingkat lanjut itu.<\/p>\n<p>Adapun dari sisi fungsinya, -mirip \u201c<em>syarah<\/em>\u201d-, \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d juga melakukan aktifitas \u201c<em>tafshil mujmal<\/em>\u201d (memerinci yang global), \u201c<em>tabyin mubham<\/em>\u201d (menjelaskan yang belum jelas), \u201c<em>taqyidul muthlaq<\/em>\u201d (membatasi yang masih mutlak), \u201c<em>tash-hihul khotho\u2019<\/em>\u00a0(mengoreksi kesalahan), \u201c<em>fakkul \u2018ibaroh<\/em>\u201d (menyibak makna ungkapan), dan \u201c<em>ta\u2019lilat<\/em>\u201d (memberikan\u00a0<em>reasoning-reasoning<\/em>). Dalam \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d terkadang juga disajika \u201c<em>ziyadat<\/em>\u201d (tambahan-tambahan) yang tidak dibahas oleh \u201c<em>syarah<\/em>\u201d. Jadi bisa juga dikatakan bahwa \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d itu sifatmya melengkapi kekurangan \u201c<em>syarah<\/em>\u201d, mengoreksi penjelasan kelirunya, atau memperjelas ungkapan yang masih ambigu atau sulit dipahami\/terpecahkan (<em>mughlaq<\/em>). Penjelasan lafaz yang dianggap susah ini biasanya menjadi ciri yang menonjol dari \u201c<em>hasyiyah<\/em>\u201d.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<div>\n<h4 style=\"text-align: right;\">\u0631\u062d\u0645 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0644\u0645\u0627\u0621\u0646\u0627 \u0631\u062d\u0645\u0629 \u0648\u0627\u0633\u0639\u0629<\/h4>\n<h4 style=\"text-align: right;\">\u0627\u0644\u0644\u0647\u0645 \u0627\u062c\u0639\u0644\u0646\u0627 \u0645\u0646 \u0645\u062d\u0628\u064a \u0627\u0644\u0639\u0644\u0645\u0627\u0621 \u0627\u0644\u0635\u0627\u0644\u062d\u064a\u0646<\/h4>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Ustadz Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin\/M.R.Rozikin) BLOGGURU &#8211; Secara umum bisa dikatakan bahwa \u201csyarah\u201d (\u0627\u0644\u0634\u0631\u062d) dan \u201chasyiyah\u201d (\u0627\u0644\u062d\u0627\u0634\u064a\u0629) itu bisa saja dibedakan, akan tetapi tetap akan sangat susah dipisah tegas karena memang ada banyak sisi yang beririsan. Karenanya, banyak orientalis Barat yang menganggap dua macam gaya karangan ini sama saja karena begitu tidak mudahnya menemukan titik-titik perbedaan di antaranya keduanya. Dalam bahasa singkat bisa dikatakan bahwa \u201csyarah\u201d adalah penjelasan dari sebuah kitab \u201cmatan\u201d. Adapun \u201chasyiyah\u201d, ia merupakan penjelasan dari \u201csyarah\u201d itu. Dengan kata lain \u201chasyiyah\u201d adalah \u201csyarah\u201dnya \u201csyarah\u201d. Kita ambil contoh umpamanya kitab \u201cmatan\u201d Abu Syuja\u2019 (penjelasan definisi \u201cmatan\u201d silakan dibaca catatan saya yang berjudul\u00a0\u201cMengenal Berbagai Macam Gaya Penulisan Kitab Fikih\u201d). Kitab ini dijelaskan dan diuraikan isinya oleh Ibnu Qosim Al-Ghozzi dalam kitab yang bernama \u201cFathu Al-Qorib\u201d. Oleh karena kitab \u201cFathu Al-Qorib\u201d adalah penjelas \u201cmatan\u201d Abu Syuja\u2019 maka bisa kita katakan bahwa kitab \u201cFathu Al-Qorib\u201d adalah kitab \u201csyarah\u201d. Kemudian kitab \u201cFathu Al-Qorib\u201d ini di\u201dsyarah\u201d lagi oleh Al-Bajuri dalam karya yang terkenal dengan nama \u201cHasyiyah Al-Bajuri\u201d. Oleh karena karya Al-Bajuri itu adalah penjelasan dari sebuah \u201csyarah\u201d, maka karyanya kita golongkan dalam kitab \u201chasyiyah\u201d. Demikianlah gambaran umum perbedaan antara \u201csyarah\u201d dengan \u201chasyiyah\u201d. Adapun perbedaan lebih detail, berikut ini akan dipaparkan karakteristik utama [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":10949,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[59,234],"tags":[350,349,348],"class_list":["post-10948","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-islamic-studies","category-ulasan-kitab","tag-hasyiyah","tag-syarah","tag-syarh"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.6 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Apa Bedanya &quot;Syarh&quot; dengan &quot;Hasyiyah&quot;? - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Oleh: Ustadz Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin\/M.R.Rozikin) BLOGGURU - Secara umum bisa dikatakan bahwa \u201csyarah\u201d (\u0627\u0644\u0634\u0631\u062d) dan \u201chasyiyah\u201d (\u0627\u0644\u062d\u0627\u0634\u064a\u0629) itu bisa\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2023\/05\/25\/apa-bedanya-syarh-dengan-hasyiyah\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Apa Bedanya &quot;Syarh&quot; dengan &quot;Hasyiyah&quot;? - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Ustadz Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin\/M.R.Rozikin) BLOGGURU - Secara umum bisa dikatakan bahwa \u201csyarah\u201d (\u0627\u0644\u0634\u0631\u062d) dan \u201chasyiyah\u201d (\u0627\u0644\u062d\u0627\u0634\u064a\u0629) itu bisa\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2023\/05\/25\/apa-bedanya-syarh-dengan-hasyiyah\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-05-25T13:27:45+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2023-05-25T13:31:19+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/hasyiyah-al-bajuri.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1024\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"661\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Immim pangkep\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Immim pangkep\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"7 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/2023\\\/05\\\/25\\\/apa-bedanya-syarh-dengan-hasyiyah\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/2023\\\/05\\\/25\\\/apa-bedanya-syarh-dengan-hasyiyah\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"Immim pangkep\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/b79603c8c8e8d557fd1f48d979ff6b51\"},\"headline\":\"Apa Bedanya &#8220;Syarh&#8221; dengan &#8220;Hasyiyah&#8221;?\",\"datePublished\":\"2023-05-25T13:27:45+00:00\",\"dateModified\":\"2023-05-25T13:31:19+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/2023\\\/05\\\/25\\\/apa-bedanya-syarh-dengan-hasyiyah\\\/\"},\"wordCount\":1462,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/2023\\\/05\\\/25\\\/apa-bedanya-syarh-dengan-hasyiyah\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/05\\\/hasyiyah-al-bajuri.jpg\",\"keywords\":[\"Hasyiyah\",\"Syarah\",\"Syarh\"],\"articleSection\":[\"Islamic Studies\",\"Ulasan Kitab\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/2023\\\/05\\\/25\\\/apa-bedanya-syarh-dengan-hasyiyah\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/2023\\\/05\\\/25\\\/apa-bedanya-syarh-dengan-hasyiyah\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/2023\\\/05\\\/25\\\/apa-bedanya-syarh-dengan-hasyiyah\\\/\",\"name\":\"Apa Bedanya \\\"Syarh\\\" dengan \\\"Hasyiyah\\\"? - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/2023\\\/05\\\/25\\\/apa-bedanya-syarh-dengan-hasyiyah\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/2023\\\/05\\\/25\\\/apa-bedanya-syarh-dengan-hasyiyah\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/05\\\/hasyiyah-al-bajuri.jpg\",\"datePublished\":\"2023-05-25T13:27:45+00:00\",\"dateModified\":\"2023-05-25T13:31:19+00:00\",\"description\":\"Oleh: Ustadz Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin\\\/M.R.Rozikin) BLOGGURU - Secara umum bisa dikatakan bahwa \u201csyarah\u201d (\u0627\u0644\u0634\u0631\u062d) dan \u201chasyiyah\u201d (\u0627\u0644\u062d\u0627\u0634\u064a\u0629) itu bisa\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/2023\\\/05\\\/25\\\/apa-bedanya-syarh-dengan-hasyiyah\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/2023\\\/05\\\/25\\\/apa-bedanya-syarh-dengan-hasyiyah\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/2023\\\/05\\\/25\\\/apa-bedanya-syarh-dengan-hasyiyah\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/05\\\/hasyiyah-al-bajuri.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/05\\\/hasyiyah-al-bajuri.jpg\",\"width\":1024,\"height\":661,\"caption\":\"Hasyiyah-al-bajuri\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/2023\\\/05\\\/25\\\/apa-bedanya-syarh-dengan-hasyiyah\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Apa Bedanya &#8220;Syarh&#8221; dengan &#8220;Hasyiyah&#8221;?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\",\"name\":\"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\",\"description\":\"Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#organization\",\"name\":\"IMMIM Pangkep\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/06\\\/cropped-immim.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/06\\\/cropped-immim.png\",\"width\":512,\"height\":512,\"caption\":\"IMMIM Pangkep\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/b79603c8c8e8d557fd1f48d979ff6b51\",\"name\":\"Immim pangkep\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/17353ddbae7a22bb48d2c23fb3b49096141954c685b560c6cebb8763ebbb178e?s=96&d=wp_user_avatar&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/17353ddbae7a22bb48d2c23fb3b49096141954c685b560c6cebb8763ebbb178e?s=96&d=wp_user_avatar&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/17353ddbae7a22bb48d2c23fb3b49096141954c685b560c6cebb8763ebbb178e?s=96&d=wp_user_avatar&r=g\",\"caption\":\"Immim pangkep\"},\"sameAs\":[\"http:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blog\"]}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Apa Bedanya \"Syarh\" dengan \"Hasyiyah\"? - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","description":"Oleh: Ustadz Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin\/M.R.Rozikin) BLOGGURU - Secara umum bisa dikatakan bahwa \u201csyarah\u201d (\u0627\u0644\u0634\u0631\u062d) dan \u201chasyiyah\u201d (\u0627\u0644\u062d\u0627\u0634\u064a\u0629) itu bisa","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2023\/05\/25\/apa-bedanya-syarh-dengan-hasyiyah\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Apa Bedanya \"Syarh\" dengan \"Hasyiyah\"? - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","og_description":"Oleh: Ustadz Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin\/M.R.Rozikin) BLOGGURU - Secara umum bisa dikatakan bahwa \u201csyarah\u201d (\u0627\u0644\u0634\u0631\u062d) dan \u201chasyiyah\u201d (\u0627\u0644\u062d\u0627\u0634\u064a\u0629) itu bisa","og_url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2023\/05\/25\/apa-bedanya-syarh-dengan-hasyiyah\/","og_site_name":"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","article_published_time":"2023-05-25T13:27:45+00:00","article_modified_time":"2023-05-25T13:31:19+00:00","og_image":[{"width":1024,"height":661,"url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/hasyiyah-al-bajuri.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Immim pangkep","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Immim pangkep","Estimasi waktu membaca":"7 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2023\/05\/25\/apa-bedanya-syarh-dengan-hasyiyah\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2023\/05\/25\/apa-bedanya-syarh-dengan-hasyiyah\/"},"author":{"name":"Immim pangkep","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#\/schema\/person\/b79603c8c8e8d557fd1f48d979ff6b51"},"headline":"Apa Bedanya &#8220;Syarh&#8221; dengan &#8220;Hasyiyah&#8221;?","datePublished":"2023-05-25T13:27:45+00:00","dateModified":"2023-05-25T13:31:19+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2023\/05\/25\/apa-bedanya-syarh-dengan-hasyiyah\/"},"wordCount":1462,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2023\/05\/25\/apa-bedanya-syarh-dengan-hasyiyah\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/hasyiyah-al-bajuri.jpg","keywords":["Hasyiyah","Syarah","Syarh"],"articleSection":["Islamic Studies","Ulasan Kitab"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2023\/05\/25\/apa-bedanya-syarh-dengan-hasyiyah\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2023\/05\/25\/apa-bedanya-syarh-dengan-hasyiyah\/","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2023\/05\/25\/apa-bedanya-syarh-dengan-hasyiyah\/","name":"Apa Bedanya \"Syarh\" dengan \"Hasyiyah\"? - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","isPartOf":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2023\/05\/25\/apa-bedanya-syarh-dengan-hasyiyah\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2023\/05\/25\/apa-bedanya-syarh-dengan-hasyiyah\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/hasyiyah-al-bajuri.jpg","datePublished":"2023-05-25T13:27:45+00:00","dateModified":"2023-05-25T13:31:19+00:00","description":"Oleh: Ustadz Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin\/M.R.Rozikin) BLOGGURU - Secara umum bisa dikatakan bahwa \u201csyarah\u201d (\u0627\u0644\u0634\u0631\u062d) dan \u201chasyiyah\u201d (\u0627\u0644\u062d\u0627\u0634\u064a\u0629) itu bisa","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2023\/05\/25\/apa-bedanya-syarh-dengan-hasyiyah\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2023\/05\/25\/apa-bedanya-syarh-dengan-hasyiyah\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2023\/05\/25\/apa-bedanya-syarh-dengan-hasyiyah\/#primaryimage","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/hasyiyah-al-bajuri.jpg","contentUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/hasyiyah-al-bajuri.jpg","width":1024,"height":661,"caption":"Hasyiyah-al-bajuri"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2023\/05\/25\/apa-bedanya-syarh-dengan-hasyiyah\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Apa Bedanya &#8220;Syarh&#8221; dengan &#8220;Hasyiyah&#8221;?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#website","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/","name":"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","description":"Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan","publisher":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#organization","name":"IMMIM Pangkep","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/cropped-immim.png","contentUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/cropped-immim.png","width":512,"height":512,"caption":"IMMIM Pangkep"},"image":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#\/schema\/person\/b79603c8c8e8d557fd1f48d979ff6b51","name":"Immim pangkep","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/17353ddbae7a22bb48d2c23fb3b49096141954c685b560c6cebb8763ebbb178e?s=96&d=wp_user_avatar&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/17353ddbae7a22bb48d2c23fb3b49096141954c685b560c6cebb8763ebbb178e?s=96&d=wp_user_avatar&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/17353ddbae7a22bb48d2c23fb3b49096141954c685b560c6cebb8763ebbb178e?s=96&d=wp_user_avatar&r=g","caption":"Immim pangkep"},"sameAs":["http:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blog"]}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10948","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10948"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10948\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10952,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10948\/revisions\/10952"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10949"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10948"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10948"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10948"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}