{"id":11372,"date":"2022-02-04T09:21:28","date_gmt":"2022-02-04T01:21:28","guid":{"rendered":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/?p=11372"},"modified":"2023-06-18T09:38:49","modified_gmt":"2023-06-18T01:38:49","slug":"terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-3-makna-suluk-dan-tasawuf","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2022\/02\/04\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-3-makna-suluk-dan-tasawuf\/","title":{"rendered":"Terjemah Raudhatu Thalibin Al-Ghazali \u2013 3: Makna Suluk dan Tasawuf"},"content":{"rendered":"<p><strong>BLOGGURU<\/strong>\u00a0\u2013 Kitab berjudul asli Raudhatut Thalibin wa Umdatus Salikin karangan Imam Ghazali ini menjadi salah satu karya besar yang mempengaruhi ulama sufi setelahnya, seperti Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Ibnu Arabi, Ibnu Atha\u2019illah as-Sakandari, dan lain-lain.<\/p>\n<p>Dalam pengantarnya, Imam Ghazali mengatakan, kitab risalah ditulis utuk dijadikan pegangan bagi para pencari kebenaran, dan membantu umat Islam dalam menempuh suluk atau perjalanan spiritual. Di dalam masterpiece Imam Ghazali ini, terdapat segala hal yang dibutuhkan untuk mengantarkan diri menuju Sang Ilahi.<\/p>\n<p>Berikut ini terjemah Bagian Pertama dan Kedua dari Kitab Raudhatu Thalibin Imam al-Ghazali (3): <strong>Makna Suluk dan Tasawuf<\/strong><\/p>\n<p><strong>Bagian Ketiga: Makna Suluk dan Tasawuf<\/strong><\/p>\n<p>PAHAMILAH, SULUK ADALAH proses penyucian akhlak, amal, dan pengetahuan. Suatu kesibukan untuk membangun lahir dan batin. Dalam kondisi ini, seorang hamba akan dibuat lupa kepada Tuhannya, tetapi ia sibuk membersihkan batin agar siap untuk wushul.?<\/p>\n<p>Adapun hal-hal yang merusak suluk seorang salik ada dua macam, mengambil keringanan (rukhshah) melalui berbagai takwil, dan bermakmum kepada para pengikut syahwat yang kerap berlaku salah.<\/p>\n<p>Barang siapa menyia-nyiakan hikmah waktunya, ia adalah orang bodoh, barang siapa gegabah dengan waktunya, berarti ia orang lalai, siapa pun yang mengabaikan waktunya, maka ia orang yang lemah.<\/p>\n<p>Keinginan seorang murid belum benar sebelum Allah dan Rasul-Nya menjadi bisikan hatinya, di siang hari ia berpuasa, lidahnya tak bicara. Sebab banyak makan, bicara, dan tidur, membuat hati keras. Keinginannya juga belum benar sebelum punggungnya melakukan rukuk, keningnya bersujud, matanya berlinang dan terpejam, hatinya bersedih, dan lidahnya berzikir.<\/p>\n<p>Dengan ungkapan yang lebih sederhana, seluruh anggota tubuhnya sibuk karena Allah swt, memerhatikan tugas yang diberikan Allah dan Rasul-Nya, serta meninggalkan apa yang tak disukai Allah dan Rasul-Nya. Ia memegang erat sifat wara, meninggalkan sepenuhnya segala hasrat, dan melihat semua anugerah yang dikaruniakan Allah kepadanya.<\/p>\n<p>Ia berusaha dengan sungguh-sungguh agar semuanya bertujuan mencari ridha Allah, bukan mencari pahala: sebagai ibadah, bukan kebiasaan. Karena, siapa yang melihat sosok yang menjadi tujuan amalnya, ia akan sibuk terhadapnya, bukan sibuk tak melihat amalnya. Selain itu, dirinya pun meninggalkan seluruh syahwat.<\/p>\n<p>Sehingga, kehendak seseorang menjadi benar ketika ia meninggalkan upaya pribadinya dan menerima aliran takdir, seperti dikatakan, Aku ingin bertemu dengannya tapi ia ingin meninggalkanku maka kutinggalkan apa yang kukehendaki, untuk apa yang ia kehendaki<\/p>\n<p>Dengan demikian, lenyaplah dari makhluk dengan hukum Allah, dari keinginanmu melalui perintah Allah, dari kehendakmu dengan perbuatan Allah. Maka, saat itulah engkau layak menjadi wadah ilmu Allah.<\/p>\n<p>Karena tanda kefana\u2019an (kelenyapan)-mu dari makhluk adalah keterputusanmu dari mereka, berhubungan dengan mereka, dan putus asa terhadap apa yang ada di tangan mereka. Tanda kelenyapanmu dari dirimu dan hawa nafsumu adalah meninggalkan amal dan ketergantungan kepada sebab dalam mendatangkan manfaat dan menolak bahaya.<\/p>\n<p>Maka dari itu, jangan menggerakkan sesuatu untukmu denganmu, jangan bersandar padamu untukmu, jangan membela, jangan membahayakan dirimu. Akan tetapi, serahkanlah semua itu kepada Dzat yang sejak awal telah menguasainya agar terus menguasainya sampai akhir, sebagaimana Dia menguasainya saat engkau tak sadar dalam rahim dan menyusu dalam buaian.<\/p>\n<p>Di samping itu, tanda lenyapmu dari kehendakmu dengan perbuatan Allah yaitu jika engkau sama sekali tak menghendaki sesuatu. Sebab, engkau tidak akan menghendaki kehendak lain bersamaan dengan kehendak Allah, tetapi perbuatan-Nya berlangsung padamu, hingga engkau menjadi kehendak dan perbuatan-Nya.<\/p>\n<p>Engkau tenang dan tenteram, lapang dada, wajahmu bercahaya, dan sejahtera. Engkau dikendalikan oleh qudrah, diseru oleh lidah azali, diajar oleh Pemilik kerajaan, yang memberimu pakaian dari cahaya halal, serta menempatkanmu pada kedudukan para orang-orang saleh terdahulu dan pemilik ilmu.<\/p>\n<p><strong>Menekuni Uzlah\u2019<\/strong><\/p>\n<p>Seorang salik wajib menekuni uzlah agar dapat mengalahkan musuh-musuhnya. Uzlah ada dua macam, wajib dan keutamaan. Uzlah wajib adalah uzlah dari keburukan beserta segala hal yang mengikutinya. Sedangkan uzlah keutamaan adalah uzlah dari sikap berlebihan dan yang menyertainya.<\/p>\n<p>Ada yang mengatakan bahwa khalwat bukan termasuk uzlah. Khalwat berarti menghindar dari orang lain, Sementara uzlah yaitu menjauhi nafsu dan apa yang ia Serukan serta yang melalaikan dari Allah.<\/p>\n<p>Ada yang mengatakan, keselamatan itu ada sepuluh bagian, satu bagian dalam uzlah, sembilan lainnya terletak dalam diam. Ada pula yang mengungkapkan, hikmah ada sepuluh bagian, sembilan di antaranya dalam diam terha dap apa yang tak berguna, dan yang kesepuluh terletak dalam uzlah dari manusia.<\/p>\n<p>Berkaitan dengan yang terakhir, kebanyakan orang menyesal karena bicara, tetapi sedikit orang yang menyesal sebab diam. Demikian pula ada yang mengatakan, khalwat adalah asal dan bergaul dengan orang lain (khalatah) merupakan hal baru. Maka, seseorang yang menekuni khalwat berarti ia berpegang kepada asal, dan tidak bergaul kecuali secukupnya. Kalau pun bergaul, ia selalu diam karena diam adalah asal.<\/p>\n<p>Jika ada orang bersih dari zamanku itulah yang dicari lantas, di manakah satu orang itu. Ada yang berkata, \u201cKhalwat itu dengan hati sehingga ia tenggelam sepenuhnya bersama Allah swt. Hatinya iktikaf, terpesona, dan rindu kepada-Nya, seraya meyakini seakanakan Dia hadir di hadapannya.\u201d Seseorang mengatakan bahwa prinsip pertama bagi salik hendaknya ia memperbanyak zikir dengan hati dan lidah, hingga zikir itu mengalir ke seluruh tubuh dan otot-ototnya.<\/p>\n<p>Lalu, zikir itu beralih ke hatinya. Saat itulah lidahnya diam dan hatinya tetap berzikir dengan mengucapkan \u201cAllah\u2026 Allah\u201d dalam hati tanpa melihat zikirnya. Kemudian, hatinya diam dan tetap melihat apa yangia cari. Ia tenggelam dan iktikaf kepada-Nya, terpesona dan menyaksikan-Nya. Lantas hilang dari dirinya karena menyaksikan-Nya. Ia Fana\u2019 dari keseluruhan dirinya karena totalitas-Nya, hingga seolah-olah ia di hadapan-Nya, sebagaimana firman Allah, \u201cKepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini? Kepunyaan Allah yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.\u201d (QS. Ghafir (40): 16)<\/p>\n<p>Ketika itu, Allah ber-tajalli menuju hatinya hingga ia bergetar dan terpesona. Mengalami kemabukan dan kehadiran (hudhur), menghormati dan mengagungkan. Hatinya tak lagi bisa menampung selain tujuannya yang paling agung, seperti dikatakan, \u201cOrang-orang yang sampai pada puncak kehadiran (ahlul hudhur) tak membutuhkan selain kesaksian-Nya.\u201d Allah swt. berfirman, \u201cDan yang menyaksikan dan yang disaksikan.\u201d (QS. al-Buruj (85): 3)<\/p>\n<p>Berkaitan dengan firman ini, ada yang mengatakan bahwa yang menyaksikan adalah Allah, dan yang disaksikan merupakan pantulan keindahan kehadiran Allah sebagai puncak bergantungnya segala sesuatu (Hadhrah Shamadiyyah). Jadi, Dialah yang menyaksikan dan yang disaksikan.<\/p>\n<p>Duhai kekasihku, tutuplah kedua pelupuk matamu, dan saksikanlah apa yang kaulihat. Jika engkau berkata \u201cKetika itu aku tak bisa melihat\u201d, maka hal itu menjadi salah sebab kau melihat dengan mata. Namun, gelapnya wujud yang begitu dekat dengan mata hatimu tidak kauketahui. Jika kauingin melihat dan menyaksikannya di depanmu, sementara kedua pelupuk matamu tertutup, kurangilah sedikit wujudmu, atau jauhilah wujudmu. Sedangkan cara untuk sedikit menqurangi dan menjauhinya dengan mujahadah.<\/p>\n<p>Makna mujahadah yaitu mengerahkan upaya untuk mengusir yang lain, wujud, nafsu, dan setan. Sementara mengerahkan usaha itu ditentukan dengan cara-cara berikut:<\/p>\n<p>Pertama, menqurangi makanan secara bertahap. Halini dikarenakan kekuatan wujud, nafsu, dan setan, berasal dari makanan sehingga bila makanan dikurangi, berkuranglah kekuatan mereka.<\/p>\n<p>Kedua, meninggalkan dan meleburkan pilihan di dalam pilihan guru yang tepercaya supaya ia memilihkan sesuatu yang lebih maslahat. Hal ini dikarenakan murid ibarat bocah yang belum mencapai perolehan orang dewasa, atau orang bodoh yang boros. Keduanya harus memiliki washi, wali, gadhi, atau penguasa yang mengatur urusan mereka.<\/p>\n<p>Ketiga, cara berikutnya seperti cara al-Junaid ra., yaitu dengan delapan syarat: Melanggengkan wudhu, melestarikan puasa: membakakan diam, melanggengkan khalwat: meneruskan zikir \u201cLa ilaha illa Allah\u201d, melanggengkan hubungan hati dengan guru dan memanfaatkan ilmu darinya dengan meleburkan perbuatan dalam tindakan guru, menetapkan penafian pemikiran, mengekalkan untuk tidak membantah Allah dalam segala hal yang datang dari-Nya, baik bahaya maupun manfaat, dan meninggalkan permintaan surga atau berlindung dari neraka kepada-Nya.<\/p>\n<p>Selanjutnya, perbedaan antara wujud, nafsu, dan setan pada magam penyaksian (nusyahadah) bahwa pada mulanya wujud itu sangat gelap: jika sedikit jernih, ia tampak di depanmu dalam bentuk mendung hitam, bila menjadi singgasana setan, ia akan berwarna merah: manakala sudah membaik dan kerendahannya menghilang, tinggallah kebenarannya.<\/p>\n<p>Sehingga ia semakin jernih dan putih layaknya kapas. Apabila nafsu itu terlihat, warnanya biru ibarat langit. Ia memiliki sumber seperti memancar dari pusat mata air. Apabila ia menjadi singgasana setan, ia seolah mata kegelapan dan api. Mata airnya lebih kecil karena setan sama sekali tak membawa kebaikan.<\/p>\n<p>Sementara itu, pancaran nafsu itu kepada wujud, dan wujud dididik olehnya. Jika nafsu ini jernih dan bersih, ia pancarkan kebaikan kepada wujud. Ketika nafsu memancarkan keburukan, maka lahirlah keburukan dari wujud.<\/p>\n<p>Dengan demikian, setan adalah api yang tak jernih, bercampur dengan gelapnya kekufuran tingkat tinggi. Sehingga terkadang setan mewujud di depanmu dalam bentuk lelaki tinggi yang berwibawa. Ia berjalan seakan mencari jalan masuk ke dalam dirimu.<\/p>\n<p>Jika kau menghendakinya pergi, ucapkanlah dalam hatimu \u201cWahai yang Maha Menolong orang-orang yang meminta pertolongan, berilah pertolongan kepadaku.\u201d Maka setan pun meninggalkanmu.<\/p>\n<p><strong>Tasawuf<\/strong><\/p>\n<p>Tasawuf berarti mencampakkan nafsu dalam ibadah dan menggantungkan hati dengan hal-hal Ilahiah. Ada yang mengatakan, tasawuf adalah menyembunyikan kemiskinan dan melawan penyakit.<\/p>\n<p>Berkaitan dengan hukum seorang sufi, selayaknya kefakiran menjadi perhiasannya, sabar menjadi minumannya, ridha menjadi binatang tunggangannya, dan tawakal menjadi tingkah lakunya. Hanya Allah swt. yang memberinya kecukupan. Ia gunakan anggota tubuhnya untuk ketaatan.<\/p>\n<p>Ia potong syahwat dan bersikap zuhud terhadap dunia, wara\u2019 pada segala jatah nafsu, dan sama sekali tak memiliki keinginan pada dunia. Jika ia harus mengambil dunia, keinginan tersebut tidak melampui batas kecukupannya. Hatinya bersih dari noda, sangat mencintai Tuhannya, dan berlari kepada Allah dengan sirri-nya. Segala sesuatu berlindung dan damai bersamanya, tetapi ia sama sekali tidak berlindung kepada sesuatu.<\/p>\n<p>Dalam arti, ia tidak memiliki kecenderungan terhadap apa pun, tidak merasa tenteram bersama apa pun selain sesembahannya, sembari berpegang kepada yang lebih utama dan lebih penting. Ia pun senantiasa lebih berhati-hati dalam urusan agama, dan mendahulukan Allah atas segalanya.<\/p>\n<p>Sahl bin \u201cAbdullah berkata, \u201cSeorang sufi adalah orang yang hatinya bersih dari noda-noda dan penuh pikiran. Baginya, tak ada bedanya antara emas dan batu.\u201d Ada pula yang mengatakan, \u201cTasawuf berarti menjernihkan hati dari pertemanan dengan makhluk, meninggalkan akhlak yang biasa, memadamkan sifat-sifat kemanusiaan, melawan ajakan-ajakan nafsu, menetapi sifat-sifat ruhaniah, berpegang kepada ilmu-ilmu hakiki, dan mengikuti syariat Rasulullah saw.\u201d<\/p>\n<p>Seseorang berkata, \u201cSufi adalah orang yang selalu membersihkan waktu dari noda dengan menyucikan hati dari kotoran nafsu. Sedangkan yang membantunya adalah kefakirannya yang terus-menerus kepada tuannya. Dengan kefakirannya yang terus-menerus, ia mampu mengetahui noda.<\/p>\n<p>Setiap kali nafsu bergerak dan muncul dalam satu perilaku, ia segera mengetahui dengan mata hatinya yang waskita, lalu segera berlari dari nafsu menuju Tuhannya. Dengan selalu membersihkan hati terjadi kesatuan, dan dengan gerak nafsu terjadi perpecahan dan noda. Dia berpijak kepada hati bersama Tuhannya, dan dengan berpijak pada nafsu bersama hatinya. Allah swt. berfirman, \u201cWahaiorang-orang yangberiman, hendaklah kalian menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil.\u201d (QS. al-Ma \u2018idah (5): 8) Inilah kewajiban nafsu kepada Allah yang dapat terwujud melalui tasawuf.<\/p>\n<p>Dasar-dasar Tasawuf<\/p>\n<p>Dasar-dasar tasawuf di antaranya: Mengonsumsi makanan halal, mengikuti akhlak, perbuatan, perintah, dan sunah Rasulullah saw. Dalam hal ini, barang siapa tidak menghafal al-Quran dan tidak menulis hadis, maka ia tak bisa dijadikan panutan. Karena ilmu kita terikat oleh Kitab dan Sunah. Dan mazhab ini diambil dengan wara\u2019 dan ketakwa, an, bukan dengan pengakuan-pengakuan.<\/p>\n<p>Pada awalnya tasawuf adalah ilmu, tengahnya amal dan akhirnya pemberian. Ilmu bisa mengungkap tujuan, amal membantu mencari, dan pemberian mencapai puncak harapan. Sementara pengikut tasawuf ada tiga tingkatan, ting. katan murid yang sedang mencari, tingkatan menengah yang sedang berjalan, dan tingkatan puncak yang telah wushul. Murid adalah pemilik waktu, yang menengah pemilik hal, dan tingkat puncak adalah pemilik keyakinan. Hal yang paling utama bagi mereka adalah menghitung nafas.<\/p>\n<p>\u201cKEBANYAKAN ORANG MENYESAL KARENA BICARA, TETAPI SEDIKIT ORANG YANG MENYESAL SEBAB DIAM.\u201d<\/p>\n<p>Magam murid adalah mujahadah dan mukabadah (bersusah payah), mencicipi kepahitan dan melawan kesenangan, serta hal-hal yang mengikuti nafsu. Magam golongan menengah, mengalami berbagai kesulitan dalam mencari murad (yang dikehendaki), memelihara kejujuran, dan mengenakan adab dalam berbagai magam.<\/p>\n<p>Ia dituntut berpegang pada adab dari berbagai tingkatan, dan termasuk orang yang mengalami bermacam-macam hal karena masih berpindah dari satu hal ke hal lain. Maka, inilah yang disebut pertambahan.<\/p>\n<p>Keadaan golongan puncak adalah kejernihan, keteguhan, memenuhi setiap panggilan Allah, dan telah melampaui berbagai magam. Ia berada pada posisi yang kokoh (tamkin): tidak berubah oleh berbagai kesulitan, dan tidak terpengaruh dengan beragam ahwal.<\/p>\n<p>Tak ada bedanya antara keadaan sulit maupun lapang, ditahan maupun diberi, kesulitan maupun kesetiaan. Makannya seperti laparnya, tidurnya layaknya terjaganya. Semua kebahagiaannya (huzhuzh) telah Fana\u201d dan yang tersisa tinggal hak-haknya (hugug).<\/p>\n<p>Lahirnya bersama makhluk, sedangkan batinnya bersama Allah. Inilah ahwal Nabi saw. Sekiranya seseorang dari tingkatan puncak ini berdiri di atas dataran bumi tertinggi, lalu tertiup angin kencang, ia tetap bergeming seujung rambut pun.<\/p>\n<p>Sehingga ada yang mengatakan bahwa mereka disebut sufi karena berada di barisan terdepan di hadapan Allah, dengan ketinggian tekad dan penghadapan mereka kepada Allah. Berdiri di hadapan Allah dengan hati mereka.<\/p>\n<p>Golongan Malamafiyah:<\/p>\n<p>Dalam hukum Mulamati, seseorang dituntut untuk tidak memamerkan kebaikan dan tidak menyembunyikan keburukan. Dengan ungkapan lain, otot-otot seorang Mulamati telah mencicipi rasa ikhlas dan mengetahui kejujuran secara pasti. Ia merasa tidak senang ketika ada seseorang yang mengetahui ahwal dan amalnya.<\/p>\n<p>Bagi mereka, Malamatiyah merupakan keistimewaan yang lebih dalam berpegang teguh dan ikhlas. Mereka berpandangan untuk menyembunyikan ahwal dan menikmati penyembunyian tersebut sehingga jika amal dan ahwal mereka terlihat seseorang, mereka merasa gerah layaknya orang durhaka yang merasa gerah karena perbuatan maksiatnya terungkap. Jadi, Mulamati adalah markas terbesar untuk tempat dan posisi ikhlas, serta berpegang dan bersandar kepadanya. Dan, seorang sufi akan lebur dalam keikhlasan.<\/p>\n<p>Abu Ya\u2019qub as-Sausi berkata, \u201cKetika mereka menyaksikan ikhlas dalam keikhlasan mereka, maka keikhlasan tersebut membutuhkan keikhlasan.\u201d Seorang sufi berkata, \u201cKebenaran ikhlas adalah lupa melihat makhluk karena selalu menyaksikan Allah swt., sedangkan Mulamati itu melihat makhluk hingga amal dan ahwal-nya tak tampak.\u201d<\/p>\n<p>Selain itu, Ja\u2019far al-Khaladi berkata, \u201cAku bertanya kepada Abu Oasim al-Junaid, \u201cApakah ada perbedaan antara ikhlas dan jujur?\u201d Ia menjawab, \u201cBenar, kejujuran adalah pangkal dan yang pertama, sedangkan ikhlas merupakan cabang yang mengikutinya.\u201d Lantas, ia berkata, \u201cAda perbedaan antara keduanya.<\/p>\n<p>Karena ikhlas itu tidak terjadi melainkan setelah melakukan amal.\u201d Ia juga berkata, \u201cSesungguhnya, itu tiada lain adalah pemurnian keikhlasan, dan kemurnian keikhlasan terletak dalam pemurnian. Oleh karena itu, di dalam keikhlasan ini terletak hal orang Mulamati, dan pemurnian keikhlasan merupakan hal orang sufi.<\/p>\n<p>Kemurnian yang berada dalam pemurnian menjadi buah akhir (mukhalasah) keikhlasan, yaitu fana -nya hamba dari bentuk dirinya karena melihat keberdiriannya. Sebab yang Maha Berdiri, bahkan tidak melihat keberdiriannya karena tenggelam dalam Dzat darijejak-jejak dan lepas dari noda ketertutupan. Inilah ahwal seorang sufi. Sementara seorang Mulamati tinggal di dalam ruang-ruang keikhlasannya, tanpa melihat hakikat keikhlasannya.<\/p>\n<p>Inilah perbedaan tegas antara Mulamati dan sufi. Seorang Mulamati, meski berpegang teguh kepada tali keikhlasan dan beralaskan hamparan kejujuran, ia masih mengalami sisa penglihatan terhadap makhluk.<\/p>\n<p>Alangkah bagusnya sisa tersebut mewujudkan keikhlasan dan kejujuran. Dan, sufi adalah kebersihan dari sisasisa amal ini. Meninggalkan dan beruzlah dari makhluk secara total dengan mata fana\u201d dan tidak abadi. Ia melihat kejernihan tauhid dan menyaksikan rahasia firman Allah, \u201cSegala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah\u201d (QS. al-Qashash (28): 83)<\/p>\n<p>Sebagaimana seorang sufi dalam ketidaksadarannya mengatakan, \u201cDi dunia dan akhirat ini tidak ada wujud selain Allah,\u201d penyembunyian ahwal oleh seorang Mularmnati karena salah satu dari dua hal: pertama, untuk memastikan keikhlasan dan kejujuran, kedua \u2014yang lebih sempurnauntuk menutupi ahwal dari selainnya dengan jenis selain dirinya.<\/p>\n<p>\u201cHIKMAH ADA SEPULUH BAGIAN: SEMBILAN DI ANTARANYA DALAM DIAM TERHADAP APA YANG TAK BERGUNA, DAN YANG KESEPULUH TERLETAK DALAM UZLAH DARI MANUSIA.\u201d<\/p>\n<p>Sebab, orang yang menyepi bersama kekasih tidak suka dilihat oleh selain dirinya. Bahkan karena kesungguhan cintanya, sampai-sampai ia tidak rela seseorang melihat cintanya kepada kekasih. Halini meski sudah tinggi, tetapi di jalan orang sufi masih ada penyakit dan kekurangan. Dengan demikian, seorang Mulamati lebih maju dari orang yang bertasawuf, dan lebih tertinggal daripada seorang sufi.<\/p>\n<p>Ada yang mengatakan, salah satu dasar para penganut Malamatiyah adalah zikir yang terdiri dari empat macam, zikir secara lisan, zikir dengan hati, zikir dengan sirri, dan zikir secara ruh. Jika zikir ruh sudah benar, hati dan lidah berhenti berzikir. Kondisi ini disebut zikir haibah. Apabila zikir hati sudah benar maka lisan tak mampu berzikir. Inilah zikir anugerah dan nikmat. Dan, jika hati lalai dari zikir maka lisan mulai berzikir, dan ini menjadi zikir kebiasaan.<\/p>\n<p>Masing-masing zikir di atas memiliki penyakit. Penyakit zikir ruh adalah dilihat oleh sirri. Penyakit zikir sirri dilihat oleh hati, penyakit zikir hati dilihat oleh nafsu, penyakit zikir nafsu yaitu melihat zikir dan mengagungkannya sekaligus meminta pahala, atau menyangka dengan zikir itu ia telah mencapai suatu magam.<\/p>\n<p>Bagi mereka, manusia yang paling rendah nilainya adalah orang yang ingin menampakkan zikirnya, dan menarik simpati manusia dengan berzikir. Rahasia dari prinsip yang mereka jadikan pijakan adalah zikir ruh merupakan zikir kenikmatan: zikir sirri adalah zikir sifat-sifat: zikir hati dari anugerah dan kenikmatan yaitu zikir terhadap jejak-jejak sifat, zikir nafsu itu terancam penyakit.<\/p>\n<p>Jadi, arti ucapan mereka, \u201cMelihatnya sirri kepada ruh\u201d menunjukkan kesungguhan fana\u201d ketika zikirnya Dzat. Pada saat itulah, zikir kebesaran (haihah) adalah zikir sifatsifat atau hadirnya kebesaran. Sedangkan adanya haibah menuntut wujud atau bekas, dan hal itu berlawanan dengan kondisi fana\u201d.<\/p>\n<p>Dengan demikian, zikir sirri disebabkan hadirnya kebesaran. Ia adalah zikir sifat-sifat yang menyadarkan kedekatan. Sementara itu, zikir kedekatan yang juga zikir anugerah dan kenikmatan menyadarkan akan jauhnya sesuatu yang menyibukkan, guna mengingatkan kenikmatan dan kelalaian terhadap Pemberi nikmat. Sibuk dalam melihat pemberian dan lupa terhadap Sang Pemberi merupakan bentuk jauhnya derajat.<\/p>\n<p>Dan, memerhatikan nafsu karena melihat tujuan menjadi persiapan bagi wujudnya amal. Inilah kekurangan sesungguhnya. Demikian macam-macam golongan sufi. Sebagian lebih tinggi dari sebagian lain. Dan, Allah Mahatahu.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>(***)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BLOGGURU\u00a0\u2013 Kitab berjudul asli Raudhatut Thalibin wa Umdatus Salikin karangan Imam Ghazali ini menjadi salah satu karya besar yang mempengaruhi ulama sufi setelahnya, seperti Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Ibnu Arabi, Ibnu Atha\u2019illah as-Sakandari, dan lain-lain. Dalam pengantarnya, Imam Ghazali mengatakan, kitab risalah ditulis utuk dijadikan pegangan bagi para pencari kebenaran, dan membantu umat Islam dalam menempuh suluk atau perjalanan spiritual. Di dalam masterpiece Imam Ghazali ini, terdapat segala hal yang dibutuhkan untuk mengantarkan diri menuju Sang Ilahi. Berikut ini terjemah Bagian Pertama dan Kedua dari Kitab Raudhatu Thalibin Imam al-Ghazali (3): Makna Suluk dan Tasawuf Bagian Ketiga: Makna Suluk dan Tasawuf PAHAMILAH, SULUK ADALAH proses penyucian akhlak, amal, dan pengetahuan. Suatu kesibukan untuk membangun lahir dan batin. Dalam kondisi ini, seorang hamba akan dibuat lupa kepada Tuhannya, tetapi ia sibuk membersihkan batin agar siap untuk wushul.? Adapun hal-hal yang merusak suluk seorang salik ada dua macam, mengambil keringanan (rukhshah) melalui berbagai takwil, dan bermakmum kepada para pengikut syahwat yang kerap berlaku salah. Barang siapa menyia-nyiakan hikmah waktunya, ia adalah orang bodoh, barang siapa gegabah dengan waktunya, berarti ia orang lalai, siapa pun yang mengabaikan waktunya, maka ia orang yang lemah. Keinginan seorang murid belum benar sebelum Allah dan Rasul-Nya menjadi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":11367,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[59,234],"tags":[430,432,433],"class_list":["post-11372","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-islamic-studies","category-ulasan-kitab","tag-imam-al-ghazali","tag-raudhatu-thalibin","tag-taman-kebenaran"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.6 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Terjemah Raudhatu Thalibin Al-Ghazali \u2013 3: Makna Suluk dan Tasawuf - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"BLOGGURU\u00a0\u2013 Kitab berjudul asli Raudhatut Thalibin wa Umdatus Salikin karangan Imam Ghazali ini menjadi salah satu karya besar yang mempengaruhi ulama sufi\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2022\/02\/04\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-3-makna-suluk-dan-tasawuf\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Terjemah Raudhatu Thalibin Al-Ghazali \u2013 3: Makna Suluk dan Tasawuf - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"BLOGGURU\u00a0\u2013 Kitab berjudul asli Raudhatut Thalibin wa Umdatus Salikin karangan Imam Ghazali ini menjadi salah satu karya besar yang mempengaruhi ulama sufi\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2022\/02\/04\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-3-makna-suluk-dan-tasawuf\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-02-04T01:21:28+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2023-06-18T01:38:49+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/Kitab-Raudhatu-Thalibin.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"640\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"492\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Immim pangkep\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Immim pangkep\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"14 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/2022\\\/02\\\/04\\\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-3-makna-suluk-dan-tasawuf\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/2022\\\/02\\\/04\\\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-3-makna-suluk-dan-tasawuf\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"Immim pangkep\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/b79603c8c8e8d557fd1f48d979ff6b51\"},\"headline\":\"Terjemah Raudhatu Thalibin Al-Ghazali \u2013 3: Makna Suluk dan Tasawuf\",\"datePublished\":\"2022-02-04T01:21:28+00:00\",\"dateModified\":\"2023-06-18T01:38:49+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/2022\\\/02\\\/04\\\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-3-makna-suluk-dan-tasawuf\\\/\"},\"wordCount\":2801,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/2022\\\/02\\\/04\\\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-3-makna-suluk-dan-tasawuf\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/06\\\/Kitab-Raudhatu-Thalibin.jpg\",\"keywords\":[\"Imam al-ghazali\",\"raudhatu thalibin\",\"taman kebenaran\"],\"articleSection\":[\"Islamic Studies\",\"Ulasan Kitab\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/2022\\\/02\\\/04\\\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-3-makna-suluk-dan-tasawuf\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/2022\\\/02\\\/04\\\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-3-makna-suluk-dan-tasawuf\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/2022\\\/02\\\/04\\\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-3-makna-suluk-dan-tasawuf\\\/\",\"name\":\"Terjemah Raudhatu Thalibin Al-Ghazali \u2013 3: Makna Suluk dan Tasawuf - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/2022\\\/02\\\/04\\\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-3-makna-suluk-dan-tasawuf\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/2022\\\/02\\\/04\\\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-3-makna-suluk-dan-tasawuf\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/06\\\/Kitab-Raudhatu-Thalibin.jpg\",\"datePublished\":\"2022-02-04T01:21:28+00:00\",\"dateModified\":\"2023-06-18T01:38:49+00:00\",\"description\":\"BLOGGURU\u00a0\u2013 Kitab berjudul asli Raudhatut Thalibin wa Umdatus Salikin karangan Imam Ghazali ini menjadi salah satu karya besar yang mempengaruhi ulama sufi\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/2022\\\/02\\\/04\\\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-3-makna-suluk-dan-tasawuf\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/2022\\\/02\\\/04\\\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-3-makna-suluk-dan-tasawuf\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/2022\\\/02\\\/04\\\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-3-makna-suluk-dan-tasawuf\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/06\\\/Kitab-Raudhatu-Thalibin.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/06\\\/Kitab-Raudhatu-Thalibin.jpg\",\"width\":640,\"height\":492,\"caption\":\"Kitab Terjemah Raudhatu Thalibin\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/2022\\\/02\\\/04\\\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-3-makna-suluk-dan-tasawuf\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Terjemah Raudhatu Thalibin Al-Ghazali \u2013 3: Makna Suluk dan Tasawuf\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\",\"name\":\"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\",\"description\":\"Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#organization\",\"name\":\"IMMIM Pangkep\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/06\\\/cropped-immim.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/06\\\/cropped-immim.png\",\"width\":512,\"height\":512,\"caption\":\"IMMIM Pangkep\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/b79603c8c8e8d557fd1f48d979ff6b51\",\"name\":\"Immim pangkep\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/17353ddbae7a22bb48d2c23fb3b49096141954c685b560c6cebb8763ebbb178e?s=96&d=wp_user_avatar&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/17353ddbae7a22bb48d2c23fb3b49096141954c685b560c6cebb8763ebbb178e?s=96&d=wp_user_avatar&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/17353ddbae7a22bb48d2c23fb3b49096141954c685b560c6cebb8763ebbb178e?s=96&d=wp_user_avatar&r=g\",\"caption\":\"Immim pangkep\"},\"sameAs\":[\"http:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blog\"]}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Terjemah Raudhatu Thalibin Al-Ghazali \u2013 3: Makna Suluk dan Tasawuf - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","description":"BLOGGURU\u00a0\u2013 Kitab berjudul asli Raudhatut Thalibin wa Umdatus Salikin karangan Imam Ghazali ini menjadi salah satu karya besar yang mempengaruhi ulama sufi","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2022\/02\/04\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-3-makna-suluk-dan-tasawuf\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Terjemah Raudhatu Thalibin Al-Ghazali \u2013 3: Makna Suluk dan Tasawuf - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","og_description":"BLOGGURU\u00a0\u2013 Kitab berjudul asli Raudhatut Thalibin wa Umdatus Salikin karangan Imam Ghazali ini menjadi salah satu karya besar yang mempengaruhi ulama sufi","og_url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2022\/02\/04\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-3-makna-suluk-dan-tasawuf\/","og_site_name":"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","article_published_time":"2022-02-04T01:21:28+00:00","article_modified_time":"2023-06-18T01:38:49+00:00","og_image":[{"width":640,"height":492,"url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/Kitab-Raudhatu-Thalibin.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Immim pangkep","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Immim pangkep","Estimasi waktu membaca":"14 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2022\/02\/04\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-3-makna-suluk-dan-tasawuf\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2022\/02\/04\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-3-makna-suluk-dan-tasawuf\/"},"author":{"name":"Immim pangkep","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#\/schema\/person\/b79603c8c8e8d557fd1f48d979ff6b51"},"headline":"Terjemah Raudhatu Thalibin Al-Ghazali \u2013 3: Makna Suluk dan Tasawuf","datePublished":"2022-02-04T01:21:28+00:00","dateModified":"2023-06-18T01:38:49+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2022\/02\/04\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-3-makna-suluk-dan-tasawuf\/"},"wordCount":2801,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2022\/02\/04\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-3-makna-suluk-dan-tasawuf\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/Kitab-Raudhatu-Thalibin.jpg","keywords":["Imam al-ghazali","raudhatu thalibin","taman kebenaran"],"articleSection":["Islamic Studies","Ulasan Kitab"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2022\/02\/04\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-3-makna-suluk-dan-tasawuf\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2022\/02\/04\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-3-makna-suluk-dan-tasawuf\/","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2022\/02\/04\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-3-makna-suluk-dan-tasawuf\/","name":"Terjemah Raudhatu Thalibin Al-Ghazali \u2013 3: Makna Suluk dan Tasawuf - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","isPartOf":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2022\/02\/04\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-3-makna-suluk-dan-tasawuf\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2022\/02\/04\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-3-makna-suluk-dan-tasawuf\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/Kitab-Raudhatu-Thalibin.jpg","datePublished":"2022-02-04T01:21:28+00:00","dateModified":"2023-06-18T01:38:49+00:00","description":"BLOGGURU\u00a0\u2013 Kitab berjudul asli Raudhatut Thalibin wa Umdatus Salikin karangan Imam Ghazali ini menjadi salah satu karya besar yang mempengaruhi ulama sufi","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2022\/02\/04\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-3-makna-suluk-dan-tasawuf\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2022\/02\/04\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-3-makna-suluk-dan-tasawuf\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2022\/02\/04\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-3-makna-suluk-dan-tasawuf\/#primaryimage","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/Kitab-Raudhatu-Thalibin.jpg","contentUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/Kitab-Raudhatu-Thalibin.jpg","width":640,"height":492,"caption":"Kitab Terjemah Raudhatu Thalibin"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2022\/02\/04\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-3-makna-suluk-dan-tasawuf\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Terjemah Raudhatu Thalibin Al-Ghazali \u2013 3: Makna Suluk dan Tasawuf"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#website","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/","name":"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","description":"Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan","publisher":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#organization","name":"IMMIM Pangkep","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/cropped-immim.png","contentUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/cropped-immim.png","width":512,"height":512,"caption":"IMMIM Pangkep"},"image":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#\/schema\/person\/b79603c8c8e8d557fd1f48d979ff6b51","name":"Immim pangkep","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/17353ddbae7a22bb48d2c23fb3b49096141954c685b560c6cebb8763ebbb178e?s=96&d=wp_user_avatar&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/17353ddbae7a22bb48d2c23fb3b49096141954c685b560c6cebb8763ebbb178e?s=96&d=wp_user_avatar&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/17353ddbae7a22bb48d2c23fb3b49096141954c685b560c6cebb8763ebbb178e?s=96&d=wp_user_avatar&r=g","caption":"Immim pangkep"},"sameAs":["http:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blog"]}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11372","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11372"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11372\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11373,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11372\/revisions\/11373"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11367"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11372"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11372"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11372"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}