{"id":11377,"date":"2022-02-06T09:43:43","date_gmt":"2022-02-06T01:43:43","guid":{"rendered":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/?p=11377"},"modified":"2023-06-18T09:49:33","modified_gmt":"2023-06-18T01:49:33","slug":"terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-5-makna-tauhid-dan-penyingkapan-mukasyafah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2022\/02\/06\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-5-makna-tauhid-dan-penyingkapan-mukasyafah\/","title":{"rendered":"Terjemah Raudhatu Thalibin Al-Ghazali \u2013 5: Makna Tauhid dan Penyingkapan (Mukasyafah)"},"content":{"rendered":"<div id=\"attachment_11367\" style=\"width: 650px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-11367\" class=\"size-full wp-image-11367\" src=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/Kitab-Raudhatu-Thalibin.jpg\" alt=\"Kitab Terjemah Raudhatu Thalibin\" width=\"640\" height=\"492\" srcset=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/Kitab-Raudhatu-Thalibin.jpg 640w, https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/Kitab-Raudhatu-Thalibin-300x231.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><p id=\"caption-attachment-11367\" class=\"wp-caption-text\"><em>Kitab Terjemah Raudhatu Thalibin<\/em><\/p><\/div>\n<p><strong>BLOGGURU<\/strong>\u00a0\u2013 Kitab berjudul asli Raudhatut Thalibin wa Umdatus Salikin karangan Imam Ghazali ini menjadi salah satu karya besar yang mempengaruhi ulama sufi setelahnya, seperti Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Ibnu Arabi, Ibnu Atha\u2019illah as-Sakandari, dan lain-lain.<\/p>\n<p>Dalam pengantarnya, Imam Ghazali mengatakan, kitab risalah ditulis utuk dijadikan pegangan bagi para pencari kebenaran, dan membantu umat Islam dalam menempuh suluk atau perjalanan spiritual. Di dalam masterpiece Imam Ghazali ini, terdapat segala hal yang dibutuhkan untuk mengantarkan diri menuju Sang Ilahi.<\/p>\n<p>Berikut ini terjemah Bagian Pertama dan Kedua dari Kitab Raudhatu Thalibin Imam al-Ghazali (5): <strong>Makna Tauhid dan Penyingkapan (Mukasyafah)<\/strong><\/p>\n<p><strong>Bagian Kelima: Makna Tauhid dan Penyingkapan (Mukasyafah)<\/strong><\/p>\n<p>TAUHID DAN PENYINGKAPAN menjadi sandaran sekaligus buah dari bashirah, mukasyafah, musyahadah, muayanah, hidup, yakin, ilham, firasat. Selain itu, tauhid berarti memisahkan yang dahulu (gadim) dengan yang baru (huduts), berpaling dari makhluk, dan menghadap kepada yang Mahadahulu, hingga tak melihat keunggulan diri dibanding orang lain.<\/p>\n<p>Sebab, sekiranya ia melihat diri dalam keadaan mengesakan Allah atau yang lain, hal itu sama halnya telah menduakan, bukan mengesakan Dzat Allah yang kadim dengan sifat keesaan dan ciri ketunggalan.<\/p>\n<p>Di antara tabiat makhluk yaitu memiliki kesamaan, kemiripan, pertemuan, perpisahan, perbandingan, bersebelahan, berbaur, hulul, keluar, masuk, berubah, hilang, berganti, berpindah dari kesucian diri, serta kebersihan sifat-sifat-Nya yang telah terampas. Kekurangan tak bisa disandarkan kepada kesempurnaan keindahan-Nya.<\/p>\n<p>Kesempurnaan keindahan keesaan-Nya suci dari pengamatan pikiran. Keagungan keabadian-Nya bersih dari desakan kerancuan zikir. Bahkan, ungkapan-ungkapan para punggawa kefasihan pun tak mampu menggambarkan kebesaran-Nya.<\/p>\n<p>Mereka yang terlebih dahulu berada dalam belantara makrifat tidak mampu mendefinisikan Dzat Allah swt. Mahasuci Ilmu-Nya untuk diketahui indra dan pencarian analogis. Para pemilik mata hati (bashirah) yang berada dalam sinar keagungan-Nya tidak mempunyai jalan untuk pura-pura buta dan tak sadar.<\/p>\n<p>Jika engkau bertanya di mana? Maka tempat adalah makhluk-Nya. Bila engkau bertanya kapan? Waktu juga ciptaan-Nya. Ketika engkau bertanya bagaimana? Persamaan dan bagaimana merupakan kreasi-Nya. Dan tatkala engkau bertanya berapa? Maka ukuran dan kuantitas juga termasuk makhluk-Nya.<\/p>\n<p>\u201cALLAH MEMBUAT KEPUTUSAN MENURUT TUNTUTAN HIKMAH, DAN SESUATU YANG LAHIR BERDASARKAN HIKMAH TAK ADA YANG MERUBAHNYA.\u201d<\/p>\n<p>Ajal dan keabadian termasuk dalam keluasan-Nya. Alam semesta dan tempat terlipat dalam hamparan-Nya. Dzat Allah itu suci dari segala yang termuat akal, pemahaman, indra, dan analogi. Karena semuanya adalah baru, maka yang baru tidak mengetahui kecuali yang baru sebagai dalil wujudnya dan bukti penyaksiannya.<\/p>\n<p>Mengenali magam ini merupakan bentuk ketidakmampuan, dan ketidakmampuan mengetahui pengetahuan adalah pengetahuan. Tak ada yang bisa mengetahui esensi Yang Esa kecuali Yang Esa sendiri. Semua yang dicapai oleh pengetahuan seseorang yang mengesakan sekadar menjadi puncak pengetahuannya, bukan puncak Yang Esa. Mahasuci Allah dari semua itu.<\/p>\n<p>Maka, siapa pun yang mengaku mengetahui Yang Esa, pada hakikatnya ia adalah orang yang teperdaya dan tertipu. Allah swt. berfirman, \u201cDan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu.\u201d (QS. al-Hadid (57): 14). Inilah isyarat ketertipuan tersebut.<\/p>\n<p><strong>Tauhid<\/strong><\/p>\n<p>Pada awalnya, tauhid adalah menafikan pembedaan dan berdiri di atas segalanya. Akhirnya, ketika orang yang bertauhid melakukan pemilahan, ia tenggelam dalam mata semua, dan di mata keseluruhan dengan mata semua seraya memandang pemilahan.<\/p>\n<p>Masing-masing menjadi bagian dari semua, dan pemilahan tersebut tidak mencegahnya dari yang lain. Inilah kesempurnaan tauhid, manakala tauhid menjadi sifat paten pada diri orang yang bertauhid.<\/p>\n<p>Kegelapan gambaran wujudnya memudar dan melemah dalam tumpukan pancaran cahaya tauhid. Dan cahaya ilmu tauhid bersembunyi dan tenggelam dalam cahaya ahwalnya, seperti tenggelamnya bintang-bintang ke dalam cahaya matahari.<\/p>\n<p>Ketika pagi merekah, cahayanya mengalahkan sinar bintang-bintang. Dalam magam ini, wujud ahli tauhid tenggelam dalam persaksian keindahan Sang Maha Esa dalam pandangan semua. Ia tidak menyaksikan selain Dzat Yang Esa beserta sifat-sifat-Nya, dan ditarik oleh gelombang lautan tauhid dan tenggelam dalam mata penyatuan.<\/p>\n<p>Al-Junaid berkata, \u201cItu artinya, gambaran-gambaran memudar dalam dirinya, dan ilmu-ilmu masuk ke dalamnya. Dan Allah swt. tak pernah berubah.\u201d Ada yang mengatakan, \u201cBarang siapa jatuh ke dalam lautan tauhid, maka dari waktu ke waktu ia akan semakin haus.\u201d<\/p>\n<p><strong>Macam-macam Tauhid<\/strong><\/p>\n<p>Pahamilah, tauhid menegaskan lima prinsip yang har , diyakini oleh setiap mukalaf (orang dewasa yg wajib menjalankan hukum agama). Pertama, Wujud Allah untuk membebaskan diri dar pandangan ateisme, kedua, keesaan Allah untuk membebaskan diri dari kemusyrikan, ketiga, penyucian Allah dar keberadaan sebagai substansi maupun aksiden, akibat dari keduanya, sekaligus membebaskan diri dari penyerupaan keempat, penciptaan Allah dengan kekuasaan dan kehen dak-Nya terhadap segala sesuatu selain Dia, dan untuk membebaskan diri dari ungkapan sebab dan akibat, kelima perancangan Allah terhadap semua ciptaan-Nya guna membebaskan diri dari pengaturan tabiat, bintang-bintang, dan malaikat. Sedangkan firman Allah, \u201cTiada Tuhan selain Allah\u201d, menunjukkan kelima hal ini.<\/p>\n<p>Kaum Muslimin sepakat, Allah swt. memiliki segala kesempurnaan dan bersih dari segala kekurangan, tetapi mereka berselisih pendapat tentang beberapa sifat Allah. Sebagian mereka meyakini bahwa sifat-sifat itu adalah kesempurnaan. Sementara yang lain memandang sifat-sifat tersebut sebagai kekurangan sehingga mereka pun menafikan sifat Allah swt.<\/p>\n<p>Berikut ini beberapa contoh terkait perihal di atas:<\/p>\n<p>Pertama, pendapat kaum Muktazilah bahwa manusia adalah pencipta perbuatan-perbuatannya. Sebab, sekiranya Allah menciptakan perbuatan-perbuatan itu, lalu menisbatkannya kepada manusia, atau seandainya Dia melakukan, padahal manusia tidak melakukan, lantas Dia menyiksanya karena itu, padahal Dia tidak menciptakan perbuatan itu, berarti Dia telah menzalimi manusia.<\/p>\n<p>Dan kezaliman merupakan kekurangan. Bagaimana bisa Dia melakukan sesuatu, lalu mencela orang lain karena sesuatu itu seraya berkata, \u201cBagaimana kau melakukannya? Mengapa kau melakukannya?\u201d<\/p>\n<p>Adapun golongan Ahlus Sunnah mengatakan, \u201cKami menemukan kesempurnaan Allah dalam kesendirian. Menafikan kehendak merupakan suatu aib dan kekurangan. Penyiksaan Allah terhadap apa yang telah Dia ciptakan bukanlah kezaliman, dengan dalil penyiksaan terhadap binatang, orang-orang gila, dan anak-anak. Karena di dalam kera jaan-Nya, Allah bebas berbuat semau-Nya seperti firman-Nya, \u201cDia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya.\u201d (QS. al-Anbiya\u2019 (211: 23)<\/p>\n<p>Sehingga pendapat yang menganggap baik dan buruk adalah batil karena mereka berpendapat bahwa Dia adalah Pencipta perbuatan-perbuatan manusia. Mereka juga berpandangan, penyiksaan terhadap mereka atas sesuatu yang tidak mereka ciptakan bisa jadi merupakan perbuatan Allah, dan itu tidak buruk.<\/p>\n<p>Kedua, perbedaan sekte Mujassimah\u2019 dan Munazzihah.? Kaum Mujassimah mengatakan, \u201cAndaikan Dia bukan materi (jisim), berarti Dia tiada. Dan tidak ada aib yang lebih buruk dibanding ketiadaan.\u201d Begitu pula, mereka yang menafikan arah Allah sama halnya mengatakan ketiadaan Nya. Karena sesuatu yang tidak ada dalam arah berart:j keberadaannya tak bisa dibayangkan.<\/p>\n<p>Golongan Munazzihah mengatakan, \u201cSekiranya Dia adalah materi, berarti Dia baru, dan tentu akan kehilangan kesempurnaan azalinya. Menafikan semua arah tiada lain meniadakan Dzat yang terbatas dan terkungkung dalam arah. Sedangkan Dzat yang maujud dan kadim itu tetap dan tidak berada pada arah, hingga tak bisa dinafikan.\u201d<\/p>\n<p>Ketiga, golongan Muktazilah mengharuskan Allah untuk meneguhkan orang-orang taat agar Dia tidak menzaliminya karena kezaliman berarti kekurangan. Sementara itu, pengikut Mazhab Asy\u2019ari mengatakan, \u201cHal itu bukanlah kezaliman karena Dia tidak memiliki kewajiban terhadap selain Dia. Sebab, jika Dia memiliki kewajiban terhadap hak orang lain, itu artinya Dia terbatas oleh yang lain, dan pembatasan tersebut menjadi sebuah kekurangan.<\/p>\n<p>Keempat, pendapat Muktazilah bahwa Allah menghendaki perbuatan taat meskipun tidak terjadi. Karena menghendaki perbuatan taat adalah kesempurnaan. Sebaliknya, Dia membenci kemaksiatan walaupun telah terjadi karena menghendaki perbuatan maksiat adalah kekurangan.<\/p>\n<p>Sedangkan ungkapan Mazhab Asy\u2019ari yang menyatakan bahwa sekiranya Dia menghendaki sesuatu yang tidak terjadi, berarti itu kekurangan dalam kehendak-Nya. Karena kehendak ini tidak terlaksana dalam hal-hal yang berhubungan dengannya. Andaikan Dia menghendaki maksiat, tetapi terjadi, hal itu adalah ketumpulan dalam kebencianNya. Dan ini juga suatu kekurangan.<\/p>\n<p>Kelima, kaum Muktazilah menghendaki Allah untuk memerhatikan yang lebih maslahat bagi para hamba-Nya karena meninggalkan halitu adalah kekurangan. Sementara Mazhab Asy\u2019ari mengatakan, hal ini tidak wajib atas Allah karena keharusan merupakan kekurangan, dan kesempurnaan-Nya. Jika Dia tidak terbelenggu oleh hamba, maka pertolongan adalah milik Allah.<\/p>\n<p>Pahamilah, barang siapa menisbatkan kehendak dan usaha kepada diri sendiri, ia termasuk Qadariyah. Dan siapa pun yang menafikan usaha dan kehendak ini dari dirinya berarti ja seorang Jabariyah. Barang siapa menisbatkan kehendak kepada Allah dan menisbatkan usaha kepada hamba, berarti ia seorang Sunni dan sufi yang benar. Karena kekuasaan dan gerak hamba termasuk makhluk Allah. Keduanya menjadi sifat dan usaha seorang hamba.<\/p>\n<p>Selain itu, takdir (gadar) adalah nama untuk sesuatu yang terjadi dengan ketentuan perbuatan Sang Mahakuasa, sedangkan gadha\u201d merupakan makhluk-Nya. Perbedaan antara gadha dan gadar: gadar lebih umum dan gadha lebih khusus.<\/p>\n<p>Perencanaan adalah gadar, dan menuntun gadar dengan segala ukuran dan keadaan menuju sesuatu yang dituntutnya termasuk gadha\u2019. Dengan demikian, gadar adalah pengukuran sesuatu sebelum terjadi, dan gadha\u2019 yaitu pemutusan persoalan, sebagaimana dikatakan, \u201cHakim telah memutuskan.\u201d<\/p>\n<p><strong>Hawa Nafsu<\/strong><\/p>\n<p>Ketahuilah, para pengikut hawa nafsu itu ada enam sekte. Setiap dua di antaranya berlawan satu sama lain. Enam kelompok tersebut adalah: Tasybih dan Ta\u2019thil, Jabariyah dan Qadariyah, menolak dan mendukung. Tasybih dan Ta\u2019thil berlawanan, Jabariyah dan Qadariyah bertentangan: yang menolak dan yang mendukung berseberangan. Masing. masing terpecah menjadi dua belas sekte. Mereka semua menyimpang dari jalan lurus, dan hanya satu kelompok yang selamat, yaitu kelompok tengah-tengah, Ahlus Sunnah wal Jamaah.<\/p>\n<p>Kelompok Musyabihah dianggap berlebihan dan keterlaluan dalam memastikan sifat-sifat Allah, hingga menyerupakan-Nya dan menganggap mungkin bahwa Dia berpindah, hinggap, menetap, duduk, dan lain-lain. Kelompok Muathilah juga keterlaluan dalam menafikan penyerupaan Allah sehingga mereka terjerumus dalam penegasian (ta\u2019thil).<\/p>\n<p>Sedangkan Jabariyah maupun Qadariyah sama-sama jauh dari jalan lurus. Karena siapa pun yang menafikan kehendak dan usaha dari dirinya, maka ia seorang Jabariyah, dan siapa pun yang menisbatkan kehendak dan usaha pada diri sendiri, berarti ia termasuk Qadariyah. Lantas, barang siapa menisbatkan kehendak kepada Allah dan menyandarkan usaha kepada hamba berarti ia seorang Sunni.<\/p>\n<p>Selain itu, kalangan Rafidhah dan Nashibah sama-sama jauh dari jalan yang lurus. Mazhab Rafidhah mengaku cinta kepada Ahlul Bait, tetapi berlebihan dalam memaki dan membenci para sahabat. Sebaliknya, mazhab Nashibah berlebihan dalam sikap fana tik terhadap para sahabat, hingga terjerumus dalam memusuhi Ahlul Bait dan menuduh Ali ra. sebagai orang zalim dan kufur.<\/p>\n<p>Maka, dalam hal ini Ahlus Sunnah menempuh jalan tengah. Mereka mencintai Ahlul Bait maupun para sahabat, dan Allah menjaga lidah mereka dari membicarakan salah satu dari keduanya, kecuali untuk menyanjung dan memujinya. Segala puji, sanjungan, dan syukur bagi Allah swt.<\/p>\n<p>Tentang Qadha\u2019 Kadangkala, kata gadha\u201d diartikan sebagai sesuatu yang pasti terjadi (mubram), seperti firman Allah swt., \u201cMaka apabila Dia menetapkan suatu urusan, Dia hanya berkata kepadanya, \u201cJadilah,\u201d makajadilah ia.\u201d (QS. Ghafir (40): 68)<\/p>\n<p>Selain itu, tidak jarang pula ditujukan untuk memberitahu tentang wajibnya hukum wajib bagi Allah, sebagaimana firman-Nya, \u201cDan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kalian jangan menyembah selain Dia.\u201d (QS. al-Isra (17): 23) Sebab, jika ini berarti ketentuan yang pasti, tentu tak ada sesuatu selain Allah yang disembah. Karena mustahil bila pengaruh tidak mengikuti pemberi pengaruh. Demikian pula firman-Nya, \u201cDan tidaklah aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.\u201d (QS. adz-Dzariyat (51): 56) Ayat ini berlaku sebagai pemberitahuan. Sebab, jika merupakan gadha\u201d dan hukum yang wajib atas seluruh hamba, maka akan terjadi perselisihan karena tak ada sesuatu yang membedakan.<\/p>\n<p>Pahamilah, Allah swt. telah memutuskan perkara sejak Zaman azali bahwa segala perbuatan dan perkataan terikat dan bergantung kepada hamba. Apa yang Dia putuskan maka Dia laksanakan sehingga tidak mungkin diubah, dan tak bisa juga dikatakan bahwa Allah merubah apa yang telah Dia putuskan.<\/p>\n<p>Karena Allah tidak mempertentangkan diri sendiri dalam perkara yang telah Dia putuskan, dan Dia tak main-main serta tidak mengikuti hasrat. Dia membuat keputusan menurut tuntutan hikmah, dan sesuatu yang lahir berdasarkan hikmah tak ada yang merubahnya, apa yang Dia tentukan menurut perbuatan hamba layaknya menanam dan kawin, apa yang Dia tetapkan berdasarkan perbuatan hamba seperti doa dan istigfar.<\/p>\n<p>Ketahuilah, Allah swt. telah menegaskan perbuatan hamba di beberapa tempat dalam al-Quran, seperti firmanNya, \u201cSebagai Balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.\u201d (QS. al-Waqi\u2019ah (56): 24) Atau dalam firman-Nya, \u201cMaka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kaujumpai mereka.\u201d (QS. at-Taubah (9): 5) Akan tetapi, Dia juga menegasikan perbuatan hamba di beberapa tempat lain, seperti firman-Nya, \u201cMaka (yang sebenarnya) bukan kalian yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kalian yang melempar ketika kalian melempar, tetapi Allahlah yang melempar.\u201d (QS. al-Anfal (8): 17)<\/p>\n<p>Ayat di atas mengandung hikmah bahwa Allah swt. menciptakan dan menentukan perbuatan hamba, sementara hamba-lah yang berusaha sekaligus menjadi sebab. Karena hamba yang melakukan ibadah, maka Allah yang membalasnya.<\/p>\n<p>Andaikan bukan karena penisbatan perbuatan-perbuatan tersebut dalam penciptaan maupun usaha, tentu takda yang menyembah dan yang disembah. Jadi, tampak jelas bahwa manusia adalah yang menyembah dan berusaha, sedangkan Allah adalah Dzat Yang Disembah dan Menciptakan.<\/p>\n<p>Ketahuilah, perbuatan itu ada dua macam: (1) apa yang dilakukan hamba berupa usaha yang dinisbatkan kepadanya. Karena itulah diturunkan kitab-kitab dan diutus para rasul as. Juga dipastikan hajat terhadap akal guna menegakkan hujjah dan menjelaskan sasarannya, (2) apa yang diperoleh hamba sebagai balasan, yaitu apa yang ada di tangan Allah dan di tangan hamba. Keduanya tidak terjadi, kecuali selaras dengan yang diusahakan hamba, sesuai firman-Nya, \u201cDan apa saja musibah yang menimpamu maka hal itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahankesalahanmu).\u201d (QS. asy-Syura (42): 30), beserta ayat-ayat lain yang serupa.<\/p>\n<p>\u201cILMU ITU LAYAKNYA MELIHAT API, DAN MAKRIFAT LAKSANA MENGGUNAKAN API GUNA MENGHANGATKAN TUBUH.\u201d<\/p>\n<p>Maka dari itu, barang siapa memahami kalimat di atas, ia dapat memahami maksud firman Allah yang dinisbatkan kepada hamba. Sebagai contoh, algojo memotong tangan pencuri. Bisa dikatakan yang memotong adalah si algojo karena dialah yang berusaha.<\/p>\n<p>Dapat juga dikatakan yang memotong adalah Allah melalui tangan algojo karena Allahlah yang membalas tangan yang dipotong tersebut ketika terlihat si algojo. Bisa juga dikatakan bahwa si pencuri adalah orang yang memotong tangannya sendiri karena dialah yang memulai kejahatan sehingga tidak memperoleh selain apa yang telah ia perbuat. Jadi, perbuatan yang muncul dari Allah merupakan ba. lasan bagi pihak yang dipotong, sedangkan dari orang yang memotong berupa usaha. Hal tersebut tidak bertentangan satu sama lain.<\/p>\n<p>Berkaitan dengan hal di atas, banyak dalil tegas yang di. nyatakan dalam al-Quran. Barang siapa memahami kalimat ini dengan sungguh-sungguh, ia tidak akan takut kecuali kepada diri sendiri, dan tak akan berharap selain kepada Allah swt.\u00a0 la berkata, \u201cDi manakah hamba Allah? Kita semua dalam Dzat Allah adalah orang-orang tolol.\u201d Dalam arti, pandangan kita terhadap gadha \u2018-Nya menyiratkan prasangka bahwa hamba akan dimaafkan atas apa yang ia lakukan.<\/p>\n<p>Di samping itu juga menyiratkan suatu pandangan terhadap perintah dan larangan serta pilihan bebas hamba, yang mengantarkan dugaan bahwa hamba diperbudak melalui apa yang ia lakukan. Namun demikian, pernyataan yang benar berkenaan dengan hal ini jika diyakini bahwa hamba itu butuh kepada Allah dalam seluruh perbuatan, ucapan, dan ahwal-nya.<\/p>\n<p>Bahkan, ia bergerak dalam kehendak-Nya, tidak terpaksa dan tidak ditundukkan layaknya binatang dan bendabenda mati. Akan tetapi, ia memperoleh pertolongan dalam naungan sebab-sebab kebahagiaan dan kerendahan, atau tercampakkan dalam naungan sebab-sebab kesengsaraan. Apabila dikatakan, kehendak (gudrat) yang baru memiliki jejak pada hal-hal yang dikuasai. Dan hal ini adalah kemusyrikan yang samar. Bila kehendak tak memiliki jejak pada sesuatu yang dikuasai, hal itu berarti Jabariyah.<\/p>\n<p>Selain itu, ada pula yang mengatakan, \u201cDisebut syirik hanya jika kehendak memiliki jejak pada penciptaan, sedangkan pengaruhnya ada pada usaha. Dan, Allah swt. bukanlah Dzat yang berusaha sehingga menciptakan persekutuan. Sebaliknya, apabila kehendak tidak memiliki jejak pada sesuatu yang dikuasai, berarti wujud-Nya sama dengan tiada. Itu sama halnya Dia Mahakuasa tanpa gudrat. Dan, ini mustahil.<\/p>\n<p>Pahamilah, barang siapa menyangka Allah telah menurunkan kitab-kitab, mengutus para rasul, memerintah dan melarang, menasihati dan memberi janji kepada makhluk yang tak memiliki kekuatan dan pilihan bebas, berarti Dia berperangai cacat dan perlu diobati.<\/p>\n<p>Demikian ini disebabkan oleh perbedaan manusia dalam menggali dalil al-Quran sebelum memahaminya, hingga mereka terjerumus ke dalam Jabariyah dan Qadariyah. Karena mereka tak mampu membedakan antara kehendak Allah yang kadim dengan kehendak manusia yang baru.<\/p>\n<p>Perbedaan kedua kehendak ini bahwa kehendak yang kadim berdiri sendiri dalam menciptakan dan tak bisa diusahakan. Sementara kehendak yang baru berdiri sendiri dalam bekerja, serta tidak memiliki kuasa untuk menciptakan.<\/p>\n<p>Kedzaliman hanya dinisbatkan pada kehendak yang baru, sedangkan kehendak yang kadim bebas dari kezaliman, sebagaimana firman Allah swt., \u201cSesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikit pun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri.\u201d (QS. Yunus (10): 44)<\/p>\n<p><strong>Perbedaan Anfara Ilmu dan Makrifaf<\/strong><\/p>\n<p>Makrifat adalah kedekatan itu sendiri, atau adanya sesuaty yang menyentuh hati dan meninggalkan pengaruh padanya, lalu berpengaruh kepada anggota-anggota tubuh lainnya. Dengan kata lain, ilmu itu layaknya melihat api, dan makrifat laksana menggunakan api guna menghangatkan tubuh. Secara bahasa, makrifat berarti ilmu yang tidak mengandung keraguan. Sedangkan menurut istilah, ilmu yang tidak mengandung keraguan karena yang diketahui adalah Dzat Allah swt. beserta sifat-sifat-Nya.<\/p>\n<p>Jika ditanyakan, \u201cApakah makrifat Dzat dan sifat itu?\u201d Maka jawabannya, \u201cMakrifat Dzat, jika seseorang mengetahui bahwa Allah itu Wujud, Esa, Sendiri, Dzat, Sesuatu Yang Agung, berdiri sendiri, dan tak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya. Sedangkan makrifat sifat-sifat yaitu bila engkau mengetahui Allah swt. itu Hidup, Maha Mengetahui, Mahakuasa, Maha Mendengar, Maha Melihat, dan sifat-sifat lainnya.\u201d<\/p>\n<p>Apabila ditanyakan, \u201cApakah rahasia makrifat itu?\u201d Jawabannya, \u201cRahasia dan ruh makrifat adalah tauhid. Caranya, engkau menyucikan Hidup, Ilmu, Oudrat, Iradah, Pendengar, Penglihatan, dan Kalam-Nya dari keserupaan dengan sifat-sifat makhluk, tak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.\u201d<\/p>\n<p>Ketika ditanyakan, \u201cApakah tanda makrifat itu?\u201d Jawabnya, \u201cHidupnya hati bersama Allah karena Dia telah mewahyukan kepada Daud as., \u201cTahukah engkau apakah makrifat kepada-Ku itu? Nabi Daud menjawab, Tidak. Maka Allah menjelaskan, \u201cHidupnya hati dalam menyaksikan Aku.\u201d<\/p>\n<p>Apabila ditanyakan, \u201cLantas, pada magam apakah bisa terjadi makrifat hakiki?\u201d Maka jawabannya, \u201cPada magam ruyah dan musyahadah dengan sirri hati. Ia tiada lain menyaksikan mmakrifat (pengenalan) karena makrifat hakiki itu berada pada kedalaman kehendak.<\/p>\n<p>Kemudian, Allah menghilangkan beberapa hijab dan menunjukkan kepada mereka cahaya Dzat dan sifat-sifatNya dari balik hijab tersebut agar mereka mengenal-Nya. Tetapi, Dia tidak melenyapkan seluruh hijab supaya orangorang yang menyaksikan-Nya itu tidak terbakar. Dengan ungkapan ahwal, seorang sufi berkata, Oh\u2026 andai Aku tampak tanpa hijab tentulah Aku melelehkan seluruh makhluk tapi hijab itu lembut maknanya dengan hijab ini hiduplah hati para pecinta.<\/p>\n<p>Ada yang mengatakan, \u201cMatahari hati seorang makrifat itu lebih terang dan lebih cerah daripada matahari siang. Karena matahari siang itu terkadang mengalami gerhana, sedangkan matahari hati tak pernah mengalami gerhana: matahari siang tenggelam pada petang hari, sementara matahari hati tidak pernah tenggelam.\u201d Berkaitan dengan hal ini, mereka melantunkan syair berikut, Sungguh, matahari siang tenggelam pada malam hari tapi matahari hati tak pernah tenggelam, siapa mencintai kekasih ia terbang kepadanya karena rindu bertemu kekasihnya<\/p>\n<p>Dzun Nun berkata, \u201cHakikat makrifat yaitu melihat Allah dalam asrar, dikarenakan datangnya cahaya-cahaya yang halus.\u201d Karena itu, mereka melantunkan, Para ahli makrifat memiliki hati yang bisa mengetahui cahaya Allah dengan sirru sirri dalam hijab tuli dari makhluk, dan buta dari pandangan mereka bisu mengucapkan pengakuan dusta<\/p>\n<p>Sebagian orang bertanya, \u201cKapankah hamba mengetahui dirinya telah mencapai makrifat?\u201d Ia menjawab, Jika di dalam hatinya sudah tak ada lagi ruang untuk selain Tuhannya.\u201d Seorang ulama sufi berkata, \u201cHakikat makrifat adalah mengetahui Allah tanpa perantara, tanpa gambaran, dan tanpa kekaburan.\u201d<\/p>\n<p>Hal ini sebagaimana ketika \u201cAli bin Abi Thalib ditanya, \u201cWahai Amirul Mukminin, apakah engkau menyembah Dzat yang engkau lihat atau tak kaulihat?\u201d Ali menjawab, \u201cTidak, namun aku menyembah Dzat yang aku lihat tapi tidak dengan penglihatan mata, melainkan penglihatan hati.\u201d<\/p>\n<p>Demikian pula saat Ja\u2019far ash-Shadiq ditanya, \u201cApakah engkau telah melihat Allah?\u201d Ia menjawab, \u201cAku tidaklah menyembah Tuhan yang tak kulihat\u201d Kemudian ia ditanya, \u201cBagaimana kaubisa melihat-Nya, sementara Dia adalah Dzat yang tak bisa ditangkap mata?\u201d Ia berkata, \u201cPenglihatan mata tak bisa melihat-Nya, tapi hati melihatNya dengan kesungguhan iman. Dia tak bisa diketahui dengan indra dan tak bisa diukur oleh manusia.\u201d<\/p>\n<p>Seorang bijak ditanya tentang hakikat makrifat, ia pun menjawab, \u201cPengosongan sirri dari segala kehendak, meninggalkan kebiasaan, ketenangan hati di sisi Allah tanpa ikatan, dan tidak berpaling dari Allah kepada selain-Nya. Tidak mungkin mengetahui hakikat Dzat Allah maupun hakikat sifat-sifat-Nya, dan tak ada yang mengetahui siapa Dia kecuali Dia sendiri. Dan, keagungan hanya milik Allah semata.\u201d<\/p>\n<p><strong>Bashirah, Mukasyafah, Musyahadah, dan Mu\u2019ayanah<\/strong><\/p>\n<p>Pada dasarnya, empat kata ini sinonim dan memiliki arti sama. Namun, terdapat perbedaan pada kesempurnaan penampakannya, bukan pada asalnya. Kedudukan bashirah terhadap akal seperti kedudukan sinar mata bagi mata.<\/p>\n<p>Kedudukan makrifat terhadap bashirah layaknya kedudukan bola matahari bagi sinar mata, yang menjadikannya bisamengetahui hal-hal yang tampak maupun tersembunyi. Sedangkan hidup adalah tauhid itu sendiri, seperti firman Allah swt., \u201cDan apakah orang yang sudah mati kemudian ia Kami hidupkan.\u201d (QS. al-An\u2019am (6): 122)<\/p>\n<p>Adapun yagin adalah manakala keyakinan dan ilmu telah menguasai hati serta tak ada lagi sesuatu yang berlawanan, hingga keduanya melahirkan makrifat dalam hati. Inilah yang disebut dengan yagin. Karena hakikatnya yaitu jernihnya ilmu yang diusahakan (muktasab), hingga menjadi layaknya ilmu primer (dharuri).<\/p>\n<p>Lalu hati menyaksikan segala hal yang disampaikan syariat, baik urusan dunia maupun akhirat, sebagaimana ungkapan, \u201cAir itu meyakinkan (aigana al-ma\u201d)\u201d jika bersih dari kekeruhan. Selanjutnya, ilham berarti tercapainya makrifat tanpa disertai sebab maupun usaha, melainkan melalui ilham dari Allah karena sucinya hati dari menganggap baik segala hal yang berada di dua alam (kaunain). Sedangkan firasat (farasah) yaitu memahami pertanda atau sinyal yang datang dari Allah yang menjadi penghubung antara Dia dan hamba.<\/p>\n<p>Dia mempergunakannya untuk menunjukkan hukumhukum batin. Hal ini tak bisa terjadi, kecuali dalam tingkat perkiraan yang lebih rendah daripada ilham. Karena ilham tidak memerlukan pertanda, sedangkan firasat membutuh. kan pertanda. Begitu pula dengan ilham, ada yang Umum dan yang khusus. Dan Allah swt. Mahatahu.<\/p>\n<p>(***)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BLOGGURU\u00a0\u2013 Kitab berjudul asli Raudhatut Thalibin wa Umdatus Salikin karangan Imam Ghazali ini menjadi salah satu karya besar yang mempengaruhi ulama sufi setelahnya, seperti Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Ibnu Arabi, Ibnu Atha\u2019illah as-Sakandari, dan lain-lain. Dalam pengantarnya, Imam Ghazali mengatakan, kitab risalah ditulis utuk dijadikan pegangan bagi para pencari kebenaran, dan membantu umat Islam dalam menempuh suluk atau perjalanan spiritual. Di dalam masterpiece Imam Ghazali ini, terdapat segala hal yang dibutuhkan untuk mengantarkan diri menuju Sang Ilahi. Berikut ini terjemah Bagian Pertama dan Kedua dari Kitab Raudhatu Thalibin Imam al-Ghazali (5): Makna Tauhid dan Penyingkapan (Mukasyafah) Bagian Kelima: Makna Tauhid dan Penyingkapan (Mukasyafah) TAUHID DAN PENYINGKAPAN menjadi sandaran sekaligus buah dari bashirah, mukasyafah, musyahadah, muayanah, hidup, yakin, ilham, firasat. Selain itu, tauhid berarti memisahkan yang dahulu (gadim) dengan yang baru (huduts), berpaling dari makhluk, dan menghadap kepada yang Mahadahulu, hingga tak melihat keunggulan diri dibanding orang lain. Sebab, sekiranya ia melihat diri dalam keadaan mengesakan Allah atau yang lain, hal itu sama halnya telah menduakan, bukan mengesakan Dzat Allah yang kadim dengan sifat keesaan dan ciri ketunggalan. Di antara tabiat makhluk yaitu memiliki kesamaan, kemiripan, pertemuan, perpisahan, perbandingan, bersebelahan, berbaur, hulul, keluar, masuk, berubah, hilang, berganti, berpindah dari kesucian diri, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":11367,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[59,234],"tags":[432,433],"class_list":["post-11377","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-islamic-studies","category-ulasan-kitab","tag-raudhatu-thalibin","tag-taman-kebenaran"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.6 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Terjemah Raudhatu Thalibin Al-Ghazali \u2013 5: Makna Tauhid dan Penyingkapan (Mukasyafah) - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"BLOGGURU\u00a0\u2013 Kitab berjudul asli Raudhatut Thalibin wa Umdatus Salikin karangan Imam Ghazali ini menjadi salah satu karya besar yang mempengaruhi ulama sufi\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2022\/02\/06\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-5-makna-tauhid-dan-penyingkapan-mukasyafah\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Terjemah Raudhatu Thalibin Al-Ghazali \u2013 5: Makna Tauhid dan Penyingkapan (Mukasyafah) - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"BLOGGURU\u00a0\u2013 Kitab berjudul asli Raudhatut Thalibin wa Umdatus Salikin karangan Imam Ghazali ini menjadi salah satu karya besar yang mempengaruhi ulama sufi\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2022\/02\/06\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-5-makna-tauhid-dan-penyingkapan-mukasyafah\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-02-06T01:43:43+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2023-06-18T01:49:33+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/Kitab-Raudhatu-Thalibin.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"640\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"492\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Immim pangkep\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Immim pangkep\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"17 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/2022\\\/02\\\/06\\\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-5-makna-tauhid-dan-penyingkapan-mukasyafah\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/2022\\\/02\\\/06\\\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-5-makna-tauhid-dan-penyingkapan-mukasyafah\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"Immim pangkep\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/b79603c8c8e8d557fd1f48d979ff6b51\"},\"headline\":\"Terjemah Raudhatu Thalibin Al-Ghazali \u2013 5: Makna Tauhid dan Penyingkapan (Mukasyafah)\",\"datePublished\":\"2022-02-06T01:43:43+00:00\",\"dateModified\":\"2023-06-18T01:49:33+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/2022\\\/02\\\/06\\\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-5-makna-tauhid-dan-penyingkapan-mukasyafah\\\/\"},\"wordCount\":3430,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/2022\\\/02\\\/06\\\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-5-makna-tauhid-dan-penyingkapan-mukasyafah\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/06\\\/Kitab-Raudhatu-Thalibin.jpg\",\"keywords\":[\"raudhatu thalibin\",\"taman kebenaran\"],\"articleSection\":[\"Islamic Studies\",\"Ulasan Kitab\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/2022\\\/02\\\/06\\\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-5-makna-tauhid-dan-penyingkapan-mukasyafah\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/2022\\\/02\\\/06\\\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-5-makna-tauhid-dan-penyingkapan-mukasyafah\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/2022\\\/02\\\/06\\\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-5-makna-tauhid-dan-penyingkapan-mukasyafah\\\/\",\"name\":\"Terjemah Raudhatu Thalibin Al-Ghazali \u2013 5: Makna Tauhid dan Penyingkapan (Mukasyafah) - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/2022\\\/02\\\/06\\\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-5-makna-tauhid-dan-penyingkapan-mukasyafah\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/2022\\\/02\\\/06\\\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-5-makna-tauhid-dan-penyingkapan-mukasyafah\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/06\\\/Kitab-Raudhatu-Thalibin.jpg\",\"datePublished\":\"2022-02-06T01:43:43+00:00\",\"dateModified\":\"2023-06-18T01:49:33+00:00\",\"description\":\"BLOGGURU\u00a0\u2013 Kitab berjudul asli Raudhatut Thalibin wa Umdatus Salikin karangan Imam Ghazali ini menjadi salah satu karya besar yang mempengaruhi ulama sufi\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/2022\\\/02\\\/06\\\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-5-makna-tauhid-dan-penyingkapan-mukasyafah\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/2022\\\/02\\\/06\\\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-5-makna-tauhid-dan-penyingkapan-mukasyafah\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/2022\\\/02\\\/06\\\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-5-makna-tauhid-dan-penyingkapan-mukasyafah\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/06\\\/Kitab-Raudhatu-Thalibin.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/06\\\/Kitab-Raudhatu-Thalibin.jpg\",\"width\":640,\"height\":492,\"caption\":\"Kitab Terjemah Raudhatu Thalibin\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/2022\\\/02\\\/06\\\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-5-makna-tauhid-dan-penyingkapan-mukasyafah\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Terjemah Raudhatu Thalibin Al-Ghazali \u2013 5: Makna Tauhid dan Penyingkapan (Mukasyafah)\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\",\"name\":\"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\",\"description\":\"Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#organization\",\"name\":\"IMMIM Pangkep\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/06\\\/cropped-immim.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/06\\\/cropped-immim.png\",\"width\":512,\"height\":512,\"caption\":\"IMMIM Pangkep\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/b79603c8c8e8d557fd1f48d979ff6b51\",\"name\":\"Immim pangkep\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/17353ddbae7a22bb48d2c23fb3b49096141954c685b560c6cebb8763ebbb178e?s=96&d=wp_user_avatar&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/17353ddbae7a22bb48d2c23fb3b49096141954c685b560c6cebb8763ebbb178e?s=96&d=wp_user_avatar&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/17353ddbae7a22bb48d2c23fb3b49096141954c685b560c6cebb8763ebbb178e?s=96&d=wp_user_avatar&r=g\",\"caption\":\"Immim pangkep\"},\"sameAs\":[\"http:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blog\"]}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Terjemah Raudhatu Thalibin Al-Ghazali \u2013 5: Makna Tauhid dan Penyingkapan (Mukasyafah) - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","description":"BLOGGURU\u00a0\u2013 Kitab berjudul asli Raudhatut Thalibin wa Umdatus Salikin karangan Imam Ghazali ini menjadi salah satu karya besar yang mempengaruhi ulama sufi","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2022\/02\/06\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-5-makna-tauhid-dan-penyingkapan-mukasyafah\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Terjemah Raudhatu Thalibin Al-Ghazali \u2013 5: Makna Tauhid dan Penyingkapan (Mukasyafah) - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","og_description":"BLOGGURU\u00a0\u2013 Kitab berjudul asli Raudhatut Thalibin wa Umdatus Salikin karangan Imam Ghazali ini menjadi salah satu karya besar yang mempengaruhi ulama sufi","og_url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2022\/02\/06\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-5-makna-tauhid-dan-penyingkapan-mukasyafah\/","og_site_name":"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","article_published_time":"2022-02-06T01:43:43+00:00","article_modified_time":"2023-06-18T01:49:33+00:00","og_image":[{"width":640,"height":492,"url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/Kitab-Raudhatu-Thalibin.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Immim pangkep","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Immim pangkep","Estimasi waktu membaca":"17 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2022\/02\/06\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-5-makna-tauhid-dan-penyingkapan-mukasyafah\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2022\/02\/06\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-5-makna-tauhid-dan-penyingkapan-mukasyafah\/"},"author":{"name":"Immim pangkep","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#\/schema\/person\/b79603c8c8e8d557fd1f48d979ff6b51"},"headline":"Terjemah Raudhatu Thalibin Al-Ghazali \u2013 5: Makna Tauhid dan Penyingkapan (Mukasyafah)","datePublished":"2022-02-06T01:43:43+00:00","dateModified":"2023-06-18T01:49:33+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2022\/02\/06\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-5-makna-tauhid-dan-penyingkapan-mukasyafah\/"},"wordCount":3430,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2022\/02\/06\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-5-makna-tauhid-dan-penyingkapan-mukasyafah\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/Kitab-Raudhatu-Thalibin.jpg","keywords":["raudhatu thalibin","taman kebenaran"],"articleSection":["Islamic Studies","Ulasan Kitab"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2022\/02\/06\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-5-makna-tauhid-dan-penyingkapan-mukasyafah\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2022\/02\/06\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-5-makna-tauhid-dan-penyingkapan-mukasyafah\/","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2022\/02\/06\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-5-makna-tauhid-dan-penyingkapan-mukasyafah\/","name":"Terjemah Raudhatu Thalibin Al-Ghazali \u2013 5: Makna Tauhid dan Penyingkapan (Mukasyafah) - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","isPartOf":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2022\/02\/06\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-5-makna-tauhid-dan-penyingkapan-mukasyafah\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2022\/02\/06\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-5-makna-tauhid-dan-penyingkapan-mukasyafah\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/Kitab-Raudhatu-Thalibin.jpg","datePublished":"2022-02-06T01:43:43+00:00","dateModified":"2023-06-18T01:49:33+00:00","description":"BLOGGURU\u00a0\u2013 Kitab berjudul asli Raudhatut Thalibin wa Umdatus Salikin karangan Imam Ghazali ini menjadi salah satu karya besar yang mempengaruhi ulama sufi","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2022\/02\/06\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-5-makna-tauhid-dan-penyingkapan-mukasyafah\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2022\/02\/06\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-5-makna-tauhid-dan-penyingkapan-mukasyafah\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2022\/02\/06\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-5-makna-tauhid-dan-penyingkapan-mukasyafah\/#primaryimage","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/Kitab-Raudhatu-Thalibin.jpg","contentUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/Kitab-Raudhatu-Thalibin.jpg","width":640,"height":492,"caption":"Kitab Terjemah Raudhatu Thalibin"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/2022\/02\/06\/terjemah-raudhatu-thalibin-al-ghazali-5-makna-tauhid-dan-penyingkapan-mukasyafah\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Terjemah Raudhatu Thalibin Al-Ghazali \u2013 5: Makna Tauhid dan Penyingkapan (Mukasyafah)"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#website","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/","name":"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","description":"Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan","publisher":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#organization","name":"IMMIM Pangkep","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/cropped-immim.png","contentUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/cropped-immim.png","width":512,"height":512,"caption":"IMMIM Pangkep"},"image":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#\/schema\/person\/b79603c8c8e8d557fd1f48d979ff6b51","name":"Immim pangkep","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/17353ddbae7a22bb48d2c23fb3b49096141954c685b560c6cebb8763ebbb178e?s=96&d=wp_user_avatar&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/17353ddbae7a22bb48d2c23fb3b49096141954c685b560c6cebb8763ebbb178e?s=96&d=wp_user_avatar&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/17353ddbae7a22bb48d2c23fb3b49096141954c685b560c6cebb8763ebbb178e?s=96&d=wp_user_avatar&r=g","caption":"Immim pangkep"},"sameAs":["http:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blog"]}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11377","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11377"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11377\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11379,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11377\/revisions\/11379"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11367"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11377"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11377"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11377"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}