{"id":15003,"date":"2025-07-06T21:33:44","date_gmt":"2025-07-06T13:33:44","guid":{"rendered":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/?post_type=prestasi&#038;p=15003"},"modified":"2025-07-06T21:45:45","modified_gmt":"2025-07-06T13:45:45","slug":"ijazah-sanad-10-muharram-1447-h-seluruh-kutub-karya-syaikh-muqbil-bin-hadi-bin-qayidah-al-hamdany-al-wadii-rahimahullah","status":"publish","type":"prestasi","link":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/prestasi\/ijazah-sanad-10-muharram-1447-h-seluruh-kutub-karya-syaikh-muqbil-bin-hadi-bin-qayidah-al-hamdany-al-wadii-rahimahullah\/","title":{"rendered":"Ijazah &#038; Sanad 10 Muharram 1447 H: Seluruh Kutub karya Syaikh Muqbil bin Hadi bin Qayidah al-Hamdany al-Wadi&#8217;i Rahimahullah"},"content":{"rendered":"<p>Oleh: <em><strong>Muhammad Farid Wajdi<\/strong><\/em> *)<\/p>\n<p>Related Post: <a href=\"https:\/\/palontaraq.id\/2022\/08\/06\/muharram-di-persimpangan-jalan-pemikiran\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>Muharram di Persimpangan Jalan Pemikiran<\/strong><\/a><\/p>\n<p><strong>BLOGGURU<\/strong> &#8211; Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri dapat menerima ijazah dan sanad seluruh kitab (kutub) karya Syaikh Muqbil bin Hadi bin Qayidah al-Hamdany al-Wadi&#8217;i <em>Rahimahullah<\/em>. Ijazah dan sanad ini diberikan sebagai hadiah 10 Muharram 1447 H dari Ustadzuna, Ustadz Dhani al-Farisi, Abu Abdillah al-Batawy, Founder Markaz Thalabul Ilmi (MTI).<\/p>\n<p>Beliau mengatakan, &#8220;Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah was Shalatu was Salamu &#8216;ala Rasulillah wa Ba&#8217;du. Saya ijazahkan seluruh penghuni grup ini (Anggota Group MTI) atau yang membaca tulisan ini, dengan Ijazah Khusus dan syarat yang mu&#8217;tabar, serta mendoakan ampunan, keluasan rezeki dan kesehatan untuk saya dan keluarga, serta para guru saya.<\/p>\n<p>Berikut sanadnya :<\/p>\n<h4 style=\"text-align: center;\">\u0636\u0627\u0646\u064a \u0627\u0644\u0641\u0627\u0631\u0633\u064a \u0639\u0646 \u0627\u0644\u0634\u064a\u062e \u0642\u0627\u0633\u0645 \u0628\u0646 \u0623\u062d\u0645\u062f \u0627\u0644\u062a\u0639\u0632\u064a \u0639\u0646\u0647 \u0631\u062d\u0645\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647<\/h4>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Semoga ustadzuna, Ustadz Dhani al-Farisi, Abu Abdillah al-Batawy senantiasa selalu diberikan ridho, kesehatan dan keberkahan dalam hidup, diampunkan segala dosanya, diluaskan rezekinya, serta diberikan kesehatan untuk selalu mengajarkan khazanah keilmuan Islam dan mewariskan sanad (riwayah dan dirayah) yang telah diperolehnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">***<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Siapa Syaikh Muqbil bin Hadi bin Qayidah al-Hamdany al-Wadi&#8217;i Rahimahullah? Berikut ini kutipan dari Wikipedia (Suntingan Terbuka), dengan editan penulis seperlunya untuk tulisan ini.<\/p>\n<p>Syaikh\u00a0<b>Muqbil bin Hadi bin Qayidah al-Hamdany al-Wadi&#8217;i al-Khilaly<\/b> <strong>Al-Yamaniy<\/strong> ( <span lang=\"ar\">\u0645\u0642\u0628\u0644 \u0628\u0646 \u0647\u0627\u062f\u064a \u0627\u0644\u0648\u0627\u062f\u0639\u064a<\/span>) adalah salah seorang ulama besar kontemporer, Ahli Hadits dari Yaman. Nama kunniahnya adalah Abi Abdirrahman, lebih dikenal dengan Syaikh Muqbil (atau: Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi&#8217;i). Beliau lahir pada tahun 1932 di Dammaj, Yaman, dan merupakan Founder sekaligus Mudir (rektor) pertama Ma&#8217;had Darul Hadits Dammaj, yang pernah menjadi markas gerakan Salafiyah di Yaman. Beliau berpulang ke rahmatullah pada tahun 2001 dan dimakamkan di kota Makkah, Arab Saudi. (<span class=\"reference-text\">Biografi tentang Syaikh Muqbil bisa dibaca di kitab Nubdzah Yasir min Hayati Ahadi \u2019Alamil Jazirah, oleh Abu Hammam Muhammad bin Ali bin Ahmaf ash-Shauma\u2019i al-Baidhani).\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Al Imam \u0631\u062d\u0645\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 memulai menuntut ilmu di Al Maktab hingga menyelesaikan masa belajar di sana, kemudian ia pergi ke masjid Al Hadi, tetapi ia tidak terbantu untuk menuntut ilmu. Sekian lama setelah itu ia pergi ke\u00a0 Tanah Suci dan Najd, lalu meminta nasihat pada sebagian pemberi nasihat tentang apa sajakah kitab-kitab yang berfaidah untuk ia beli? Maka sang penasihat membimbing ia untuk membeli \u201cShohihul Bukhori\u201d, \u201cBulughul Marom\u201d, \u201cRiyadhush Sholihih\u201d dan \u201cFathul Majid\u201d. Ketika itu ia \u0631\u062d\u0645\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 bekerja sebagai penjaga gedung di Hajun. Lalu ia tekun membaca kitab-kitab tadi dan menjadikannya sebagai amalan di negerinya berlainan dengan apa yang ada di dalam kitab itu, terutama \u201cFathul Majid\u201d.<\/p>\n<div class=\"mw-heading mw-heading3\"><\/div>\n<p>Selang waktu kemudian ia pulang ke negerinya, dan mulai mengingkari perkara-perkara yang ia dapati ada di masyarakat seperti penyembelihan untuk selain Allah, pembangunan kubah di atas kuburan, seruan kepada orang mati, dan minta bantuan pada orang mati. Maka berita itu sampai kepada orang Syiah sehingga membuat mereka marah. Di antara mereka ada yang berkata: \u201cBarangsiapa menukar agamanya, maka bunuhlah dia.\u201d Dan di antara mereka ada yang mengirim utusan pada kerabatnya dan berkata: \u201cJika kalian tidak menghalanginya maka kami akan memenjarakannya.\u201d Setelah terjadi berbagai tekanan, mereka membikin ketetapan yang tidak bisa dielakkan oleh ia yaitu: mereka menetapkan untuk memasukkannya ke \u201cJami\u2019ul Hadi.\u201d<\/p>\n<div class=\"mw-heading mw-heading3\"><\/div>\n<p>Ketika terjadi pemberontakan kaum republik, beliau \u0631\u062d\u0645\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 dan keluarganya meninggalkan negerinya dan tinggal di Najran. Beliau tekun menyertai syaikh ia Abul Husain Majduddin Al Muayyad hingga mengambil faidah darinya terutama ilmu Bahasa Arab. Ia tinggal di sana sekitar dua tahun.<\/p>\n<div class=\"mw-heading mw-heading3\"><\/div>\n<p>Setelah dua tahun di Najran, beliau kemudian pergi ke Tanah Suci dan Najd. Beliau tinggal di Najd sekitar satu setengah bulan di Madrasah Tahfizhil Qur\u2019an di bawah pengelolaan Asy Syaikh Muhammad bin Sinan Al Hadaiy \u0631\u062d\u0645\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647. Syaikh ini sangat memuliakan ia dikarenakan melihat ia sangat bisa mengambil faidah ilmu.<\/p>\n<p><strong>Di Mekkah dan Madinah<\/strong><\/p>\n<div class=\"mw-heading mw-heading3\">Kemudian ia berangkat ke Mekkah. Jika mendapatkan pekerjaan, ia bekerja, dan menuntut ilmu di malam hari, hadir di majelis ta\u2019lim Asy Syaikh Yahya bin Utsman Al Bakistaniy pada pelajaran Tafsir Ibnu Katsir, Shahih Bukhari]] dan Shahih Muslim. Beliau juga belajar syaikh yang mulia dan tinggi ilmunya: Hakim Yahya Al Asywal Al Yamaniy di pelajaran \u201cSubulussalam\u201d dan yang lainnya. Ia juga belajar syaikh yang mulia dan tinggi ilmunya: Abdurrozzaq Asy Syahidziy Al Mahwitiy, di sebagian kitab-kitab yang ia minta untuk diajarkan.<\/div>\n<div class=\"mw-heading mw-heading3\"><\/div>\n<p>Ketika Ma\u2019hadul Haromil Makkiy dibuka, ia masuk kesana dan belajar di sebagian masyayikh yang terkemuka seperti:\u00a0 Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Humaid, dan demikian pula Asy Syaikh Muhammad As Subayyil.\u00a0Setelah ia menetap di ma\u2019had itu, berangkatlah ia ke Najron untuk mengambil keluarganya, kemudian ia tinggal di Makkah sepanjang masa belajar di Ma\u2019had itu selama enam tahun. Ia belajar di antara waktu maghrib dan \u2018Isya kepada Asy Syaikh Abdul \u2018Aziz bin Rosyid An Najdiy. Dan belajar ke Asy Syaikh Muhammad bin Abdillah Ash Shoumaliy sekitar enam bulan, syaikh ini merupakan ayat Alloh dalam mengenal para rowi \u201cShohihain\u201d. Ia mengambil faidah yang banyak dari syaikh tadi dalam ilmu hadits.<\/p>\n<div class=\"mw-heading mw-heading3\"><\/div>\n<p>Kemudian ia pindah ke Madinah ke Al Jami\u2019atul Islamiyyah di kuliah Da\u2019wah Wal Ushuluddin. Dan termasuk syaikh ia yang paling menonjol adalah Asy Syaikh As Sayyid Muhammad Al Hakim Al Mishriy, Asy Syaikh Mahmud Abdul Wahhab Faid Al Mishriy. Dan pada musim liburan ia masuk ke kuliah syari\u2019ah, sehingga ia \u0631\u062d\u0645\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 menyelesaikan dua kuliah dan diberi dua ijazah. Ia \u0631\u062d\u0645\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 berkata: \u201cDan aku dengan pujian kepada Allah tidaklah diriku peduli dengan dua ijazah itu. Yang terpandang di sisiku adalah ilmu.\u201d<\/p>\n<p>Dan pada tahun itu dibukalah di universitas itu pendidikan tinggi yang dinamakan dengan Majister. Maka ia masuk ke pendidikan itu, yang mengkhususkan pada bagian ilmu hadits. Dan Asy Syaikh Muhammad Al Amin Al Mishriy, Asy Syaikh As Sayyid Muhammad Al Hakim Al Mishriy, Asy Syaikh Hammad bin Muhammad Al Anshoriy. Dan di sebagian malam ia menghadiri pelajaran Al Imam Abdul \u2018Aziz ibnu Baz di Al Haromul Madaniy dalam \u201cShohih Muslim\u201d, juga pelajaran Al Imam Al Albaniy dalam majelis-majelis ia yang khusus untuk para pelajar untuk mengambil faidah.<\/p>\n<div class=\"mw-heading mw-heading2\"><\/div>\n<p>Sejak ia tinggal di Al Haromil Makkiy ia senantiasa mengajari sebagian penuntut ilmu kitab \u201cQothrun Nada\u201d, dan \u201cAt Tuhfatus Saniyyah\u201d. Di Madinah ia mengajari para penuntut ilmu kitab \u201cAt Tuhfatus Saniyyah\u201d, dan di rumahnya ia mengajarkan \u201cJami\u2019ut Tirmidziy\u201d, \u201cQothrun Nada\u201d dan \u201cBa\u2019itsul Hatsits\u201d. Maka tersebarlah dakwah yang besar di Madinah sepanjang enam tahun itu, yang dilaksanakan oleh ia dan sebagian rekan ia. Dan berlangsunglah safari dakwah di seluruh penjuru kerajaan Saudi, sehingga masyarakat bisa mengambil faidah dan mencintai dakwah.<\/p>\n<p><strong>Pulang ke Yaman\u00a0<\/strong><\/p>\n<p>Ketika fitnah Juhaiman dan gerombolannya menyala, pemerintah Saudi memerintahkan untuk memulangkan seluruh orang asing. Ketika tiba di Yaman, pulanglah Al Imam Al Wadi\u2019iy \u0631\u062d\u0645\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 ke desa ia dan tinggal di sana sambil mengajarkan Al Qur\u2019an pada anak-anak, dan menegakkan dakwah. Maka syi\u2019ah dan para musuh Islam mulai menyerang ia.<\/p>\n<p>Pada suatu hari salah seorang pejabat memanggil ia, maka masuklah ia menemuinya disertai dengan Husain bin Qoid Majalli, lalu mulailah ia bicara tentang syi\u2019ah, dan menerangkan bahwasanya syaikh dan orang-orang yang bersama ia itu mengajak orang kepada Al Kitab dan As Sunnah, dan bahwasanya Syi\u2019ah merasa dengki pada mereka dengan dakwah tadi, syi\u2019ah takut akan munculnya kebenaran. Maka sang pejabat berkata, \u201cSesungguhnya syi\u2019ah telah membikin hitam sejarah Yaman. Selama dakwah Anda adalah demikian tadi, maka teruslah berdakwah, kami bersama Anda.\u201d<\/p>\n<p>Setelah itu ia \u0631\u062d\u0645\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 tinggal di perpustakaan ia. Dalam waktu sebentar tiba-tiba saja datang beberapa orang Mesir, maka ia \u0631\u062d\u0645\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 membuka pelajaran dari kitab-kitab hadits dan bahasa untuk mereka. Dan terus-menerus para pelajar berkunjung dari Mesir, Kuwait, Tanah Suci dan Najd, Aljazair, Libia, Somalia, Belgia, dan dari banyak negri Islam dan yang selainnya.<\/p>\n<div class=\"mw-heading mw-heading2\"><\/div>\n<p>Al Imam \u0631\u062d\u0645\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 terus bersemangat dalam ilmu. Ia sangat memperhatikan pendidikan. Ia punya sejumlah pelajaran. Dulu ia mengajarkan satu jam sebelum zhuhur kitab ia \u201cAsh Shohihul Musnad Mimma Laisa Fish Shohihain.\u201d Seusai itu ia mulai mengajarkan \u201cAl Jami\u2019ush Shohih Mimma Laisa Fish Shohihain.\u201d Setelah sholat zhuhur ia mengajarkan sehari \u201cTafsir Ibnu Katsir\u201d, sehari kitab ia \u201cAsh Shohihul Musnad Min Asbabin Nuzul.\u201d Seusai itu ia menjadikan posisi kitab tadi dengan kitab \u201cAl Jami\u2019ush Shohih Mimma Laisa Fish Shohihain,\u201d maka jadilah sehari \u201cTafsir Ibnu Katsir\u201d, sehari \u201cAl Jami\u2019ush Shohih Mimma Laisa Fish Shohihain.\u201d<\/p>\n<p>Setelah ashr ia mengajarkan \u201cShohih Bukhori\u201d, setelah maghrib mengajarkan \u201cShohih Muslim\u201d dan kitabnya \u201cAhadits Mu\u2019allah Zhohiruhash Shihhah\u201d. Setelah selesai dari kitab itu, ia mengajarkan kitabnya \u201cGhorotul Fishol \u2018Alal Mu\u2019tadina \u2018Ala Kutubil \u2018Ilal\u201d. Setelah selesai dari kitab itu, ia mengajarkan kitabnya \u201cDzammul Mas\u2019alah\u201d hanya saja ia sering tidak hadir manakala penyakit beliau mulai parah. Kitabnya semuanya diajarkan bersama \u201cShohih Muslim\u201d. Setelah selesai dari kitab \u201cDzammil Mas\u2019alah\u201d, beliau mengajarkan kitab \u201cAsh Shohihul Musnad Min Dalailun Nubuwwah\u201d, dan dijadikannya sehari kitab itu dan sehari \u201cShohih Muslim\u201d. Bersamaan dengan dua kitab ini, beliau juga mengajarkan kitab \u201cAl Mustadrok\u201d dan kitab \u201cAsh Shohihul Musnad Fil Qodar\u201d. Inilah dars Al Imam Al Wadi\u2019iy \u0631\u062d\u0645\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 yang khusus di Markaz Darul Hadits.<\/p>\n<p>Jika ia pindah ke rumah, ia mengajari putri ia Ummu Abdillah kitab \u201cQothrun Nada\u201d, kemudian para istrinya membaca di hadapan ia satu hadits dari kitab ia \u201cDalailun Nubuwwah\u201d. Ia juga mengajari mereka imla\u2019 (dikte). Ia juga mengajari istri ia Ummu Syu\u2019aib \u201cAl Mutammimah\u201d sebelum tidur.<\/p>\n<p><strong>Kemampuan dan Pesan-pesannya\u00a0<\/strong><\/p>\n<p>Al Imam Al Wadi\u2019iy \u0631\u062d\u0645\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 jika berbicara dalam ilmu rowi seakan-akan ia adalah pakarnya, sering mendatangkan faidah yang mengagumkan, dan terkadang ada di sebagian rantai sanad tercantum nama fulan bin fulan, maka ia berkata: \u201cAku khawatir terjadi salah penulisan,\u201d lalu dilakukan penelitian dan memang terjadi salah penulisan sebagaimana yang ia katakan. Jika ia diskusi dengan para murid tentang nahwu seakan-akan tidak ada orang lain yang ahli dalam bidang ini selain ia dikarenakan banyaknya faidah yang ia lontarkan dalam darsnya. Jika ia berbicara tentang \u2018ilal hadits, orang-orang yang di sekelilingnya tergoncang dengan kedalaman ilmunya. Jika datang pertanyaan, ia menjawabnya, dan ia itu cepat dalam mendatangkan dalil-dalil hingga orang-orang tergoncang akan kekuatan hapalan ia. Ia mendatangkan dalil-dalil dari Kitabulloh, dan dari Sunnah Rosul-Nya, menyusunnya dengan rapi, dan mengambil darinya faidah dan pelajaran yang mengagumkan padahal ia itu tidak hapal Al Qur\u2019an secara sempurna. Dan barangsiapa membaca buku ia \u201cAl Jami\u2019ush Shohih\u201d dia akan mengetahui fiqh ia dari sela-sela judul bab yang dicantumkan, dan sebagaimana dikatakan: \u201cFiqh Al Bukhoriy ada pada judul bab-bab yang dicantumkan.\u201d<\/p>\n<div class=\"mw-heading mw-heading2\"><\/div>\n<p>Al Imam Al Wadi\u2019iy \u0631\u062d\u0645\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 sangat bersemangat untuk berdakwah ke jalan AllAh, bersamaan dengan banyaknya kesibukan ia untuk menulis dan mengajar. Ia dulu mengarahkan para murid dan berkata pada mereka, \u201cJanganlah kalian berkonsentrasi total pada ilmu sambil meninggalkan dakwah. Kalian harus berdakwah ke jalan Alloh dengan apa yang telah kalian pelajari.\u201d<\/p>\n<p>Ia beberapa kali keluar dakwah berkali-kali. Di sebagian tahun ia keluar dan berpindah-pindah di banyak kota dan desa di Yaman, naik gunung-gunung dan turun ke lembah-lembah dan dataran rendah. Ia sering disakiti oleh para musuh ia dari jama\u2019ah-jama\u2019ah seperti Ikhwanul Muslimin, Jam\u2019iyyatul Hikmah dan Jam\u2019iyyatul Ihsan, \u2018Ilmaniyyun (sekuler), shufiyyah dan yang lain. Tapi ia tidak terputus dari dakwah ia kepada Al Kitab dan As Sunnah. Sering kali sekumpulan besar orang menghadiri ceramah ia hingga di sebagian acara ceramah masjid-masjid tidak mencukupi hadirin sehingga mereka menjadikan ceramah itu di lapangan sholat \u2018Id.<\/p>\n<p>Ia memperingatkan umat dari seluruh kemungkaran, baik itu syirik, kebid\u2019ahan, hizbiyyah yang memecah-belah umat, dan yang lainnya. Ia juga memberikan nasihat kepada para petani, pengajar, pejabat, para orang tua, anak-anak, para dokter, para pedagang, para wartawan dan pekerja. Be\u2019iau sangat bersemangat agar orang-orang itu mendapatkan hidayah, baik perorangan ataupun kelompok. Datang kepada ia koresponden dari kantor berita London dan meminta ia untuk berbincang-bincang dengannya, maka ia berkata: \u201cBagaimana pendapatmu jika engkau masuk Islam dan aku akan berbincang-bincang denganmu?\u201d ia menasihatinya dan memintanya untuk masuk Islam, tetapi orang itu tak mau. Maka iapun menolak berbincang-bincang dengannya. Orang itu tinggal beberapa hari menghadiri dars-dars dan ingin bisa berbincang-bincang dengan syaikh, sementara syaikh memintanya untuk masuk Islam. Ia ingin sekali orang itu mendapatkan hidayah. Orang itu tinggal beberapa hari lalu pergi.<\/p>\n<p>Ia jika selesai dari ceramahnya berpindah ke rumah salah seorang ikhwah, maka orang-orang berkumpul di situ dan menyampaikan soal-soal pada ia, lalu ia menjawab soal mereka. Jika mereka telah pergi meninggalkan ia, ia membaca Al Qur\u2019an jika masih ada semangat dan giat, tetapi jika tidak (karena capek dengan rangkaian acara tadi) iapun tidur.<\/p>\n<div class=\"mw-heading mw-heading3\"><\/div>\n<p>Beliau sangat bersemangat akan tercurahnya kebaikan pada para pelajar, dan bersedih dan merasa sakit jika ia mengetahui bahwasanya para muridnya membutuhkan sesuatu tetapi mereka tak sanggup mendapatkannya. Ia \u0631\u062d\u0645\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 pernah berkata di sebagian darsnya, \u201cKesulitan terbesar yang menimpa diriku, lebih besar daripada menghadapi mubtadi\u2019ah, dan lebih besar daripada karya tulis, adalah kebutuhan-kebutuhan para pelajar.\u201d<\/p>\n<p>Ia \u0631\u062d\u0645\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 tak pernah bersikap pelit terhadap para murid dengan sesuatu apapun. Pernah ia seusai dars zhuhur keluar dari rumah dengan membawa sepiring nasi dan bejana berisi susu, lalu ia memberikannya kepada sebagian murid. Jika ia telah keluar dari dars setelah zhuhur dan didatangi seorang murid untuk menanyakan sesuatu, ia menjawab: \u201cMasuklah, kita makan siang bersama lalu kita akan berbicara.\u201d<\/p>\n<p>Pernah pada suatu hari ada seorang murid yang mengajukan sepucuk kertas di tengah jam dars, tertulis di dalamnya: {quote|\u201cSaya adalah seorang pelajar, dan saya cinta pada ilmu. Tapi saya terlilit utang dan saya takut utang itu akan memalingkan saya dari belajar.\u201d} Setelah membaca itu, syaikh mulai masuk ke pelajaran, dan sebelum pelajaran usai ia berkata dengan pengeras suara: {quote|\u201cSaudara kita yang mengajukan kertas ini hendaknya pergi ke akh Fulan dan berkata padanya berapa utangnya, dan kita akan lihat apakah kita bisa membantunya.\u201d}<\/p>\n<p>Asy Syaikh Muqbil \u0631\u062d\u0645\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 adalah orang yang dermawan. Ia biasa menjemput para delegasi. Jika para pengunjung datang, ia mengundang mereka kerumah ia untuk makan siang. Jika ada tamu yang datang di akhir waktu, para muridlah yang menyambutnya ke kamar tamu, lalu dirinya berjumpa dengan syaikh. Ia sering kali turun tangan langsung menyediakan makan siang. Sering kali para pengunjung duduk bersama ia seusai sholat shubuh, lalu ia menyediakan untuk mereka zabib (kismis\/anggur kering) dan memuliakan mereka dengan amat sangat. Ia sangat dermawan dengan apa yang ia miliki.<\/p>\n<p>Ia tak pernah menyembunyikan dari para murid suatu harta sedikitpun. Ia menganggap mereka adalah anak-anaknya. Ia \u0631\u062d\u0645\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 sangat menjaga perasaan para murid. Karena itulah termasuk dari penghalang ia membeli baju untuk \u2018id adalah agar tiada sesuatu di hati para murid yang tak punya baju baru untuk \u2018id, dan ia berkata: \u201cBawalah sini apa yang ada.\u201d<\/p>\n<p>Ketika ia keluar dari Yaman pada tahun terakhir, ia merasa sangat rindu pada markiz dan para murid. Terkadang ia mengingat mereka dan menangis seraya berkata: \u201cMereka adalah anak-anakku.\u201d<\/p>\n<p><strong>Sifat Beliau\u00a0<\/strong><\/p>\n<p>Al Imam Al Wadi\u2019iy \u0631\u062d\u0645\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647\u00a0 memiliki akhlaq yang tinggi, tidak menghina orang miskin dan lemah, menyayangi anak kecil, menolong orang tua, mengasihani perempuan yang sholihat, dan menolong mereka dengan semua kemampuan ia.<\/p>\n<p>Termasuk dari tawadhu ia adalah: jika ia dipanggil oleh anak kecil dalam keadaan ia berjalan, ia berhenti untuknya, mengajaknya bicara dan melihat apa yang diinginkannya. Ada pula anak kecil yang mendatangi ia dalam keadaan ia di kursi sedang mengajar, maka ia berhenti mengajar. Anak itu berkata: \u201cSaya ingin membaca satu hadits dengan pengeras suara.\u201d Maka Al Imam Al Wadi\u2019iy mengangkatnya atau memerintahkan seorang murid untuk mengangkatnya, mendudukkannya di hadapan ia, lalu si kecil itu membaca hadits, dan ia tersenyum, tidak merasa jengkel. Ia bersikap lunak dan mudah bersama para murid.<\/p>\n<p>Dan termasuk sikap tawadhu\u2019 ia adalah: jika ada orang awam mendatangi ia, ia mau duduk bersama mereka dalam waktu yang panjang, padahal ia itu sangat memperhatikan waktu, hingga ia berkata di sebagian dars ia: \u201cAda orang-orang awam yang mendatangiku, lalu aku duduk bersama mereka, dan aku mengharapkan pahala pada Alloh atas waktu yang termakan tadi, karena mereka tidak mengetahui besarnya nilai waktu, dan mereka akan berkata bahwasanya aku itu orang yang sombong. Adapun para penuntut ilmu, aku menyikapi mereka berbeda dengan orang awam, karena mereka itu mengetahui besarnya nilai waktu. Ibnul Jauziy \u0631\u062d\u0645\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 dulu sering mengumpulkan pena. Jika para pengunjung mendatanginya, ia duduk bersama mereka sambil meraut pena-pena tadi.\u201d<\/p>\n<div class=\"mw-heading mw-heading3\"><\/div>\n<p>Al Imam Al Wadi\u2019iy \u0631\u062d\u0645\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 itu seorang yang menjaga kehormatan. Ia punya ketinggian harga diri, sampai-sampai ia merasa keberatan untuk menulis surat ke para dermawan dengan permintaan yang dikhususkan demi para murid ia. Lalu hal itu diketahui oleh Asy Syaikh Abdul \u2018Aziz bin Baz \u0631\u062d\u0645\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 maka ia menulis surat kepada Asy Syaikh Muqbil, \u201cWahai Abu Abdirrohman, tulislah, dan Anda akan mendapatkan pahala.\u201d<\/p>\n<p>Jika datang pada ia dana untuk para pelajar, ia bersegera untuk mengalihkannya kepada pengelola urusan para murid. Demikianlah ia \u0631\u062d\u0645\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 berada di atas karakter yang bagus tadi sejak awal dakwah ia.\u00a0 Beliau mengajarkan kitab ia \u201cDzammul Mas\u2019alah\u201d kepada para murid. Ia selalu mencela orang yang pergi mengemis dengan nama dakwah, dan ia memperingatkan muridnya dari perbuatan tadi. Ia berkata di pengantar kitab ia tersebut, \u201cKemudian daripada itu, maka sesungguhnya aku melihat sekelompok orang yang menyatakan bahwasanya diri mereka itu adalah para dai ke jalan Alloh, tetapi mereka mengkhususkan diri untuk mengemis dan meninggalkan kerja. Bisa jadi seorang petani itu memakan makanan yang halal dari hasil kerja tangannya, dan justru amalannya itu termasuk pendekatan diri pada Alloh yang paling utama.&#8221;<\/p>\n<p>Al Bukhoriy dan Muslim telah meriwayatkan dari Anas dari Nabi \u0635\u0644\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0648\u0633\u0644\u0645 bahwasanya ia bersabda, \u201cTiada seorang muslimpun yang menanam suatu tanaman atau tumbuhan, lalu dimakan oleh burung atau manusia atau binatang yang lain, kecuali dia itu mendapatkan pahala sodaqoh dengan itu.\u201d<\/p>\n<p>Dan bisa jadi seseorang itu bekerja di suatu perdagangan, dan itu juga termasuk pendekatan diri pada Allah yang paling utama. Telah tetap dari Nabi \u0635\u0644\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0648\u0633\u0644\u0645 bahwasnya ia ditanya: \u201cPekerjaan apa yang paling baik?\u201d ia menjawab,\u00a0\u201cPekerjaan seseorang dengan tangannya, dan setiap jual beli yang mabrur.\u201d<\/p>\n<p>Bahkan bisa jadi seseorang itu adalah badui, dia memakan dari apa yang dihasilkan oleh kambing dan ontanya, lalu dia melihat para pengemis tadi membuka ruang-ruang pameran dan membangun gedung-gedung, maka orang badui ini mulai memelihara jenggotnya dan menyerupakan diri dengan para dai ke jalan Alloh, lalu bekerja sebagai pengemis. Alangkah memuakkan pekerjaan yang jelek dan buruk ini.<\/p>\n<p>Ia menyebutkan bahwasanya manakala ia belajar di universitas Al Hadi, pernah ia punya sisa sedikit roti, lalu ia meletakkannya di suatu lubang di dinding yang dinamakan sebagai Khizanah. Kemudian pada suatu hari ia tidak mendapatkan makanan, lalu ia mendatangi khizanah tadi. Ia berkata, \u201cAku masukkan tanganku dan kepalaku untuk mencari roti tadi, lalu aku mengeluarkannya. Ternyata laba-laba telah menganyam sarang di atasnya. Maka kubuang debu darinya. Kudapati roti itu telah kering, maka kubasahi dengan air. Jika kudapatkan sebutir tomat, maka itu bagus, tetapi jika tidak, kumakan begitu saja roti tadi.\u201d<\/p>\n<p>Pada suatu hari beberapa orang dermawan datang mengunjungi Al Imam Al Wadi\u2019iy \u0631\u062d\u0645\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647, mereka ingin membangun rumah untuk ia. Maka ia berkata pada mereka: \u201cKemarikan dana itu.\u201d Ia mengambil dana tadi dari mereka, dan membangun masjid serta sebuah kamar yang kecil di atas masjid. Ketika mereka datang mereka bertanya pada ia: \u201cDi manakah rumah itu?\u201d ia menjawab: \u201cInilah rumahku,\u201d ia memperlihatkan masjid itu dan mengisyaratkan ke kamar yang di atas masjid tadi.<\/p>\n<p>Dan termasuk zuhud ia terhadap dunia adalah ia mewaqofkan sebidang tanah yang luas yang menjadi milik ia untuk para pelajar, agar mereka membangun tempat tinggal untuk mereka di situ. Ia berkata: \u201cDan terakhir, sungguh aku nasihatkan pada Ahlussunnah untuk bersabar terhadap kemiskinan. Inilah keadaan yang dipilihkan Alloh untuk Nabi-Nya \u0635\u0644\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0648\u0633\u0644\u0645.<\/p>\n<p>Ia adalah seorang yang wara&#8217;, sehingga di sisi ia harta dakwah, bahkan ia mengalihkannya pada pengurus kas dakwah. Bahkan terkadang ia diberi suatu hadiah dari orang yang tidak ia kenal, maka ia tidak mau mempergunakannya, dan ia memberikannya pada istrinya yang berhak mendapatkannya.<\/p>\n<p><strong>Target Pembunuhan, Sakit dan Wafatnya\u00a0<\/strong><\/p>\n<div class=\"mw-heading mw-heading3\">Sesungguhnya ahli batil berusaha untuk membunuh sang imam yang mulia serta mujahid yang cerdas ini. Ketika ia bersama beberapa masyayikh sunnah ada di kota \u2018Aden, di masjid Ar Rohman, datanglah dua orang yang hendak meletakkan bom di jalan yang syaikh akan keluar dari situ. Tapi sebagaimana firman Alloh, \u201cDan tidaklah menimpa makar yang buruk itu kecuali kepada pelakunya.\u201d<\/div>\n<p>Bom tadi meledak duluan dan mengoyak-koyak badan kedua pelaku dosa tadi. Demikian pula mereka berusaha membunuh ia dan salafiyyun di masjid Jami\u2019ul Khoir di Son\u2019a. beberapa orang yang tak bersalah terbunuh, sebagian yang lain luka-luka, dan syaikh selamat. Semoga Alloh merohmati ia dan mereka semua.<\/p>\n<div class=\"mw-heading mw-heading2\"><\/div>\n<p>Pada suatu hari salah seorang yang mulia masuk menemui Al Imam \u0631\u062d\u0645\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 dalam keadaan ia sedang sakit keras. Ternyata ia ingin keluar untuk melangsungkan dars-dars ia. Maka orang tadi berkata pada ia, \u201cWahai Syaikh, Anda sedang sakit, biarlah yang lain yang menggantikan Anda untuk mengajar.\u201d Ia menjawab: \u201cEnggak, demi Alloh aku tak mau meninggalkan wajah-wajah yang baik itu.\u201d<\/p>\n<p>Pernah pada suatu hari ia keluar untuk untuk melangsungkan dars-dars ia dalam keadaan tangan ia diperban dan diikatkan ke leher ia. Maka seorang murid bertanya pada temannya tentang apa yang terjadi pada ia? Mereka menjawab: \u201cIa jatuh ke tanah di dalam rumahnya.\u201d Dan ia tidak meninggalkan dars-dars sampai sembuh.<\/p>\n<p>Istri ia \u2013Ummu Syu\u2019aib \u062d\u0641\u0638\u0647\u0627 \u0627\u0644\u0644\u0647- bercerita: \u201cIa itu selalu sabar terhadap penyakit, tak mau mengeluh pada seorangpun tentang sakitnya, sampai pada sakit ia yang terakhir, aku merasa sedih dengan keadaan ia, tetapi ia tertawa dan menanyai kami. Aku berkata: \u201cWahai Syaikh, kasihanilah diri Anda.\u201d Ia menjawab: \u201cAku merasa tentram.\u201d<\/p>\n<div class=\"mw-heading mw-heading2\"><\/div>\n<p>Dikarenakan kerasnya sakit ia, berangkatlah ia \u0631\u062d\u0645\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 pada tanggal 16 Robi\u2019uts Tsani 1421 H ke Riyadh, lalu disambut oleh pemerintah Saudi bagaikan penyambutan mereka terhadap para penguasa, dan memuliakan ia dengan puncak pemuliaan (terhadap seorang tamu). Dan di Makkah, Amir yang salafiy: Nayif bin Abdil \u2018Aziz \u0631\u062d\u0645\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 telah menyiapkan untuk ia tempat tinggal yang berjarak sekitar 50 meter dari Masjidil Harom.<\/p>\n<p>Lalu pada akhir-akhir Jumadats Tsaniyah 1431 H ia \u0631\u062d\u0645\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 berangkat berobat ke Amerika dengan biaya dari pemerintah Saudi. Ketika ia sampai di sana, para pecinta dakwah salafiyyah menyambutnya dengan penyambutan agung, dan mereka mencurahkan harta dan jiwa dalam melayani ia, dan memuliakan ia dengan puncak pemuliaan (terhadap seorang tamu).<\/p>\n<p>Pada akhir-akhir bulan Syawwal 1431 H ia sampai lagi ke Jeddah dalam keadaan muhrim dengan umroh tamattu\u2019 sampai haji, di bawah pemuliaan dan pelayanan pemerintah Saudi, hingga ia menyempurnakan amalan haji pada tanggal 13 Dzil Hijjah 1421 H.<\/p>\n<p>Lalu pada tanggal 7 Robi\u2019uts Tsani 1422 H ia berangkat berobat ke Jerman dengan biaya dari pemerintah Saudi. Lalu pada hari Sabtu tanggal 30 Robi\u2019uts Tsani 1422 H ia pulang ke Shon\u2019a. pada malam Ahad antara maghrib dan \u2018Isya wafatlah ia \u0631\u062d\u0645\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 dengan senyum yang memenuhi wajahnya.<\/p>\n<p>Ia telah berwasiat untuk dikuburkan di pekuburan Al \u2018Adl di Jeddah. Maka kementrian dalam negri Saudi mengirimkan tiga orang jendral untuk mengiringi jenazah Al Imam \u0631\u062d\u0645\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 sampai tiba di Makkah. Jenazah ia \u0631\u062d\u0645\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 dimandikan di Jeddah dalam keadaan senyum ia tidak berpisah dari wajah saat dimandikan ataupun setelah itu. Kemudian ia disholatkan di Masjidil Harom seusai sholat shubuh, lalu dikuburkan di pekuburan Al \u2018Adl di Jeddah setelah kerasnya usaha mengeluarkan jenazah ia dari masjid karena banyaknya orang yang sholat dan hadirin.<\/p>\n<p><strong>Karya Kutub\u00a0<\/strong><\/p>\n<p>Di antara karya tulisnya adalah:<\/p>\n<ol>\n<li>Ash Shohihul Musnad Mimma Laisa Fish Shohihain<\/li>\n<li>Al Jami\u2019ush Shohih Mimma Laisa Fish Shohihain<\/li>\n<li>Tarojim Rijalil Hakim Fil Mustadrok<\/li>\n<li>Tatabbu\u2019 Auhamil Hakim Allati Sakata \u2018Alaihadz Dzahabiy (telah dicetak bersama \u201cAl Mustadrok\u201d)<\/li>\n<li>Tarojim Rijalid Daroquthniy Fi Sunanih<\/li>\n<li>Ash Shohihul Musnad Min Dalailin Nubuwwah<\/li>\n<li>Ash Shohihul Musnad Fi Asbabin Nuzul<\/li>\n<li>Ghorotul Fishol \u2018Alal Mu\u2019tadin \u2018Ala Kutubil \u2018Ilal<\/li>\n<li>Al Jami\u2019ush Shohih Fil Qodar<\/li>\n<li>Sho\u2019qotuz Zilzal Li Nasfi Abathilir Rofdh Wal I\u2018tizal<\/li>\n<li>Ijabatus Sail \u2018An Ahammil Masail<\/li>\n<li>Asy Syafa\u2019ah<\/li>\n<li>Riyadhul jannah Fir Rodd \u2018Ala A\u2019dais Sunnah<\/li>\n<li>Ath Tholi\u2019ah Fir Rodd \u2018Ala Ghulatish Shufiyyah, Wa Hukmul Qubbatil Mabniyyah \u2018Ala Qobrir Rosul \u0635\u0644\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0648\u0633\u0644\u0645.<\/li>\n<li>Tuhfatul Mujib \u2018Ala Asilatil Hadhir Wal ghorib<\/li>\n<li>Al Makhroj Minal Fitnah<\/li>\n<li>Rudud Ahlil \u2018Ilmi \u2018Alath Tho\u2019inin Fi Haditsis Sihr<\/li>\n<li>Al Mushoro\u2019ah<\/li>\n<li>Ilhadul Khumainiy Fi Ardhil Haromain<\/li>\n<li>Al Ba\u2019its \u2018Ala Syarhil Hawadits<\/li>\n<li>Irsyadu Dzawil Fithon Li Ib\u2019adi Ghulatir Rowafidh Minal Yaman<\/li>\n<li>Ghorotul Asyrithoh \u2018Ala Ahlil Jahl Was Safsathoh<\/li>\n<li>Al Fawakihul Janiyyah Fil Khuthob Wal Muhadhorotis Saniyyah<\/li>\n<li>Qom\u2019ul Mu\u2019anid Wa Zajrul Hasid<\/li>\n<li>Syar\u2019iyyatush Sholah Fin Ni\u2019al<\/li>\n<li>Tahrimul Khidhob Bis Sawad<\/li>\n<li>Al Jam\u2019u Bainash Sholatain Fis Safar<\/li>\n<li>Idhohul Maqol Fi Asbabiz Zilzal War Rodd \u2018Alal Malahidatil Dhullal<\/li>\n<li>Dzammul Mas\u2019alah<\/li>\n<li>Tuhfatusy Syabbir Robbaniy Fir Rodd \u2018Alal imam Muhammad Bin Alisy Syaukaniy<\/li>\n<li>Fatwa Fi Wihdatil Muslimin Ma\u2019al Kuffar<\/li>\n<li>Iqomatul Burhan \u2018Ala Dholal Abdirrohim Ath Thohhan<\/li>\n<li>Ad Dibaj Fi Marotsi Syaikhil Islam Asy Syaikh Abdil Aziz ibni Baz<\/li>\n<li>Hukmi Tashwir Dzawatil Arwah<\/li>\n<li>Al Muqtaroh Fi Ajwibati As\u2019ilatil Mushtholah<\/li>\n<li>Fadhoih Wa Nashoih<\/li>\n<li>Maqtalusy Syaikh Jamilir Rohman Al Afghoniy Wa Ma\u2019ahu Bahtsun Haula Kalimah Wahhabiy<\/li>\n<li>Iskatul Kalbil \u2018Awi<\/li>\n<li>Tahqiq Tafsir Ibni Katsir (mentahqiq satu jilid, adapun sisanya dilanjutkan oleh sebagian murid)<\/li>\n<li>Ash Shohihul Musnad Minat Tafsir Bil Ma\u2019tsur (belum diselesaikan, dan masih disempurnakan oleh salah seorang istrinya)<\/li>\n<li>Tahqiq Wa Dirosah Kitab Al Ilzamat Wat Tatabbu\u2019 Lil Imam Ad Daroquthniy<\/li>\n<li>Al Burkan Li Nasfi Jami\u2019atil Iman<\/li>\n<li>As Sairul Hatsits Fi Syarhi \u2018Ulumil Hadits.<\/li>\n<li>Majlisusy Syaikhot Fil Yaman<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>Pembaharuan Agama oleh Al-Imam Muqbil rahimahullah di Yaman\u00a0<\/strong><\/p>\n<p>Dari Abu Huroiroh \u0631\u0636\u064a \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0646\u0647 dari Rosululloh \u0635\u0644\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0648\u0633\u0644\u0645 yang bersabda:<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h4 style=\"text-align: center;\">\u00ab\u0625\u0646 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u064a\u0628\u0639\u062b \u0644\u0647\u0630\u0647 \u0627\u0644\u0623\u0645\u0629 \u0639\u0644\u0649 \u0631\u0623\u0633 \u0643\u0644 \u0645\u0627\u0626\u0629 \u0633\u0646\u0629 \u0645\u0646 \u064a\u062c\u062f\u062f \u0644\u0647\u0627 \u062f\u064a\u0646\u0647\u0627\u00bb. (\u0623\u062e\u0631\u062c\u0647 \u0623\u0628\u0648 \u062f\u0627\u0648\u062f (4291) \u0648\u063a\u064a\u0631\u0647).<\/h4>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Artinya:<\/p>\n<p>\u201cSesungguhnya Allah membangkitkan\u21b5 untuk umat ini di setiap ujung seratus tahun orang yang memperbaharui \u21b5untuk mereka agama mereka. ([7])\u201d (HR. Abu Dawud (4291) dan yang lainnya).<\/p>\n<p>Bukanlah makna dari hadits ini bahwasanya para mujaddidun (pembaharu) itu mendatangkan agama baru yang menyelisihi agama Nabi Muhammad \u0635\u0644\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0648\u0633\u0644\u0645. Tapi mereka itu memperbarui untuk umat ini syari\u2019ah dan sunnah ia yang telah luntur.<\/p>\n<p>Al Munawiy \u0631\u062d\u0645\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 berkata: \u201cYaitu: memperbarui hukum-hukum syari\u2019ah yang telah luntur, dan menara-menara sunnah yang telah hilang dan yang ilmu-ilmu agama yang zhohir dan bathin tersembunyi, sebagaimana yang disebutkan oleh berita yang akan datang, yaitu: \u201cSesungguhnya Alloh membangkitkan\u201d hingga akhir hadits. Yang demikian itu adalah bahwasanya Alloh Yang Mahasuci manakala menjadikan Al Mushthofa sebagai penutup para Nabi dan Rosul, dan kejadian-kejadian setiap hari itu tidak terhitung, sementara pengetahuan terhadap hukum-hukum agama itu wajib sampai hari Tanad (hari Kiamat di mana orang saling memanggil), sementara lahiriyyah dari nash-nash itu tidaklah cukup menjelaskannya([8]), bahkan harus ada jalan yang mencukupi perkara tadi, maka hikmah Al Malik (Sang Raja) Al \u2018Allam (Yang Maha Mengetahui) mengharuskan munculnya suatu kaum dari para tokoh di awal setiap seratus tahun untuk memikul beban kejadian-kejadian, untuk melangsungkan pada umat ini \u21b5bersama ulama mereka sebagaimana yang terjadi antara Bani Isroil dengan para Nabi mereka.\u201d (\u201cFaidhul Qodir\u201d\/1\/hal. 10).<\/p>\n<p>Dan bukanlah suatu keharusan bahwasanya mujaddid di setiap zaman itu cuma satu tak boleh lebih. Bahkan bisa saja lebih dari itu. Al Hafizh Ibnu Hajar \u0631\u062d\u0645\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 berkata: \u201c\u2026 tidak lazim bahwasanya di setiap penghujung seratus tahun itu hanya ada satu mujaddid saja. Bahkan masalah ini adalah sebagaimana yang disebutkan dalam masalah thoifah manshuroh. Dan ini adalah pendapat yang kuat, karena terkumpulnya sifat-sifat yang butuh untuk diperbaharui itu tidak terbatas pada satu jenis kebaikan saja. Dan tidaklah diharuskan seluruh karakter kebaikan itu ada pada satu individu, kecuali jika hal itu dikatakan ada pada Umar bin Abdil Aziz, karena dahulunya menjadi penegak urusan umat ini di ujung seratus tahun yang pertama, dengan terkumpulnya pada diri ia seluruh sifat-sifat kebaikan, dan khalifah Umar bin Abdul Aziz maju dengan sifat-sifat tadi. Dari situlah Ahmad menyatakan bahwasanya mereka membawa penunjukan hadits tadi kepada Umar bin Abdil Aziz. Adapun yang datang setelahnya,\u00a0 maka orangnya adalah Asy Syafi\u2019iy, sekalipun ia memiliki sifat-sifat yang indah, akan tetapi \u21b5ia bukanlah pemegang urusan jihad dan hukum dengan keadilan. Maka berdasarkan ini, setiap orang yang memiliki suatu sifat kebaikan di \u21b5ujung seratus tahun, maka dia itulah yang diinginkan, sama saja satu \u21b5orang atau lebih.\u201d (\u201cFathul Bari\u201d\/13\/hal. 295).<\/p>\n<p>Dan barangsiapa memperhatikan sejarah Al Imam Muqbil bin Hadi Al Wadi\u2019iy \u0631\u062d\u0645\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 dengan adil, dia akan mendapati ia termasuk dari mujaddid sejati, terutama di negri Yaman yang penuh dengan aliran Tasyayyu\u2019 dan bid\u2019ah-bid\u2019ah yang gelap yang lain sepanjang seribu tahun.<\/p>\n<p><strong>Di antara Sunnah-Sunnah Yang Beliau \u0631\u062d\u0645\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 Perbarui Adalah Sebagai Berikut:<\/strong><\/p>\n<div class=\"mw-heading mw-heading4\">\n<p id=\"Dalam_ibadah_wudhu\">&#8211; Dalam ibadah wudhu, seperti: Mengusap serban, Mengusap khuff (sepatu yang sampai menutupi mata kaki), Tata cara mengusap kepala saat wudhu, Wudhu setelah makan daging onta, dan beberapa perkara yang lain.<\/p>\n<p>&#8211; Dalam ibadah sholat, seperti: Sholat pada waktunya, Meluruskan barisan, Mendekatkan jarak antara shoff, Tidak sholat di antara dua tiang, dalam sholat jama\u2019ah, Tidak melafazhkan niat, Sholat di belakang sutroh (tabir), Sholat dengan memakai sandal, Membaca basmalah dengan pelan-pelan, Membaca amin seusai bacaan Al Fatihah, Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam sholat, dan Membaca surat \u201cAs Sajdah\u201d dan \u201cAl Insan\u201d di sholat subuh pada hari Jum\u2019ah.<\/p>\n<p>&#8211; Dalam ibadah adzan, seperti: Adzan pertama sebelum fajar, Pada hari Jum\u2019ah cukup satu adzan di waktu zhuhur saat khothib duduk di atas mimbar, Ucapan muadzdzin saat hujan: Shollu fi buyutikum! (sholatlah di rumah-rumah kalian!).<\/p>\n<p>&#8211; Dalam Masalah Kuburan, seperti: Haromnya membuat kubah ataupun bangunan yang lain di atas kuburan, dan Haromnya berjalan di antara kuburan dengan memakai sandal.<\/p>\n<p>&#8211; Dalam Ibadah Puasa, seperti: Menyegerakan berbuka puasa saat matahari terbenam, dan mengakhirkan sahur sampai mendekati waktu subuh.<\/p>\n<p>&#8211; Dalam Masalah Masjid, seperti: Mimbar punya tiga tingkatan saja, dan I\u2019tikaf di masjid di dalam kemah.<\/p>\n<p>&#8211; Dalam Hubungan Sehari-hari, seperti: Haromnya jabat tangan antara lelaki dan perempuan yang bukan mahrom, dan Anjuran untuk menebarkan salam di antara muslimin<\/p>\n<\/div>\n<p>Yang tersebut ini tadi hanyalah sedikit contoh dari pembaharuan yang dilakukan oleh Al Imam Al Wadi\u2019iy \u0631\u062d\u0645\u0647 \u21b5\u0627\u0644\u0644\u0647 di negeri Yaman. Barangsiapa ingin melengkapi pembacaan masalah ini silakan rujuk ke kitab: \u201cAl Bayanul Hasan Bitarjumatil Imam Al Wadi\u2019iy \u21b5Wama Ahyahu Minas Sunan\u201d karya Asy Syaikh Abu Muhammad Abdul Hamid Al \u21b5Hajuriy \u062d\u0641\u0638\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647.<\/p>\n<p><strong>Pandangan\u00a0<\/strong><\/p>\n<div class=\"mw-heading mw-heading3\">Syaikh Muqbil adalah salah satu dari sekian banyak ulama Islam yang secara terang-terangan menyatakan penolakannya terhadap Osama bin Laden (Usamah bin Ladin) serta paham radikal yang ada padanya, salah satu pernyataan ia yang sangat terkenal adalah ketika ia menyatakan bahwa Osama bin Laden adalah penyebab banyaknya masalah yang dihadapi kaum Muslimin pada masa kini, Aksi-aksi kekerasan (teror) dan pemberontakan yang mengatasnamakan Islam dibeberbagai belahan dunia, yang secara drastis membalik pandangan dunia atas Islam, hingga penganut agama Islam pun mendapatkan banyak tekanan secara global, dicurigai oleh aparat negara, serta penindasan oleh aparat dan masyarakat di berbagai belahan dunia. Ia selanjutnya berkomentar pada sebuah wawancara (Sumber: <span class=\"reference-text\">Interview with &#8220;Ar-Rayu Al-Aa\u2019m&#8221; newspaper, issue #11503, 19 December 1998)<\/span><\/div>\n<dl>\n<dd><i>&#8220;Saya telah memberikan nasihat saya dan juga peringatan saya (kepada Bin laden) dan hanya Allah saja yang tahu apakah nasihat-nasihat dan peringatan itu sampai kepadanya atau tidak. Bagaimanapun, sebagian dari mereka benar-benar telah datang kepada kami, menawarkan bantuan dalam berdakwah dan menyebarkan seruan Allah. Sesudah itu, kami melihat mereka mengirimkan uang, meminta kami untuk membagikannya pada setiap pemimpin suku (didaerah kami); mereka meminta kami untuk memanfaatkan uang itu untuk membeli pelontar roket (rocket-launcher) dan senapan mesin. Namun saya menolaknya dan mengatakan pada mereka untuk jangan pernah lagi mendatangi rumah saya. Saya jelaskan pada mereka bahwa kegiatan kami hanya berdakwah dan kami tidak mengizinkan murid-murid kami untuk melakukan hal-hal lain selainnya (tindak kekerasan ataupun makar dan terorisme).&#8221;<\/i><\/dd>\n<\/dl>\n<p>Syaikh Muqbil juga menulis buku, mengacukan Bin Laden sebagai pemimpin gerakan &#8220;Sektarianisme&#8221;, &#8220;keberpihakan&#8221;, &#8220;pendivisian&#8221;, dan &#8220;keawaman dalam ilmu agama&#8221;, serta mencela Bin Laden atas tindakannya yang suka memberikan uang untuk membeli senjata dan mengabaikan agamanya. (Sumber: <span class=\"reference-text\">Tuhfah Al-Mujeeb, from the chapter \u201cWho\u2019s Behind the Bombings in the Two Sanctuaries (Mecca &amp; Medina)?\u201d, 1996)\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Seminar-seminar di Institut Darul Hadits Dammaj sangat terkenal dengan penentangannya terhadap Al-Qaedah, Syaikh Muqbil sendiri menyatakannya ketika diwawancarai oleh seorang reporter bernama Hassan al-Zayidi, dari koran\/majalah Times Yaman pada tahun 2000. (Sumber: <span class=\"reference-text\">Imam Muqbil bin Hadi al-Wadi&#8217;i Interview with Hassan al-Zayidi of the Yemen Times, 2000)<\/span>. Syaikh Muqbil menyatakan suatu pernyataan yang merujuk kepada Al-Qaeda dan gerakan takfiri (kelompok yang mudah mengkafirkan)<\/p>\n<p><i>&#8220;Kalian menghancurkan Agama Allah dan membuat kerusakan pada Syi&#8217;ar Islam di Inggris, Prancis, dan Amerika; sedangkan disisi lain kaum Muslimin menghadapi masalah dengan pemimpin-pemimpin dan aparat negara mereka (masing-masing), karena mereka (pemimpin dan aparat negara itu) berpikir bahwa kaum Muslimin itu semuanya sama dengan kalian (Al-Qaeda dan Bin Laden \/ tuduhan teroris). Mereka berpikir bahwa semua kaum Muslimin adalah sama dengan kalian yang haus darah dan suka menumpahkan darah. Tidak! Tidak! Kami adalah yang paling pertama menolak (pemikiran) mereka (Osama dan Al-Qaeda)!&#8221;<span style=\"font-size: 13.3333px;\"> (Sumber: <span class=\"reference-text\">Imam Muqbil bin Hadi al-Wadi&#8217;i on Osama Bin Laden, audio recorded lecture from the late 1990s).<\/span><\/span><\/i><\/p>\n<p>Dalam hal yang bersifat hukum, Syaikh Muqbil tidak menyetujui didirikannya Sekolah\/Madrasah yang mengajarkan praktik taklid atau menerima apapun dari ulama secara membabi buta tanpa mempertanyakan (keabsahannya\/kebenarannya). Pandangannya ketika berbicara tentang prinsip hukum Islam sama dengan pemahaman para Sahabat Nabi Muhammad SAW, yaitu menolak qiyas, atau penalaran analogis. Untuk mengimplementasikan\/melaksanakan syariat Islam haruslah totalitas dan tidak tebang pilih. Beliau merekomendasikan Kutub dari ulama Zahiri seperti Ibnu Hazm dalam hal ini. (Sumber: <span class=\"reference-text\">Al-Waadi&#8217;ee, Muqbil, &#8220;Ijabat al-Sa`il fi Ahamm al-Masa`il,&#8221; Question #320, pg.562)<\/span><\/p>\n<p><strong>Referensi<\/strong><\/p>\n<p>Tarjumah Abi Abdirrohman Muqbil Bin Hadi Al Wadi\u2019iy ditulis sendiri oleh Al Imam Muqbil Bin Hadi Al Wadi\u2019iy \u0631\u062d\u0645\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647, Ar Rihlatul Akhiroh Li Imamil Jaziroh ditulis oleh Ummu Salamah As Salafiyyah, Nubdzatun Yasiroh Min Hayati Ahad A\u2019lamil Jaziroh Al \u2018Allamah Al Wadi\u2019iy, ditulis oleh Muhammad bin Ali Ash shouma\u2019iy, Al Ba\u2019its \u2018Ala Syarhil Hawadits ditulis sendiri oleh Al Imam Muqbil Bin Hadi Al Wadi\u2019iy \u0631\u062d\u0645\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>(*\u00a0<em><strong>Muhammad Farid Wajdi<\/strong><\/em>, Guru\/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.<\/p>\n","protected":false},"featured_media":15004,"template":"","class_list":["post-15003","prestasi","type-prestasi","status-publish","has-post-thumbnail","hentry"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.6 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Ijazah &amp; Sanad 10 Muharram 1447 H: Seluruh Kutub karya Syaikh Muqbil bin Hadi bin Qayidah al-Hamdany al-Wadi&#039;i Rahimahullah - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) Related Post: Muharram di Persimpangan Jalan Pemikiran BLOGGURU - Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/prestasi\/ijazah-sanad-10-muharram-1447-h-seluruh-kutub-karya-syaikh-muqbil-bin-hadi-bin-qayidah-al-hamdany-al-wadii-rahimahullah\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ijazah &amp; Sanad 10 Muharram 1447 H: Seluruh Kutub karya Syaikh Muqbil bin Hadi bin Qayidah al-Hamdany al-Wadi&#039;i Rahimahullah - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) Related Post: Muharram di Persimpangan Jalan Pemikiran BLOGGURU - Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/prestasi\/ijazah-sanad-10-muharram-1447-h-seluruh-kutub-karya-syaikh-muqbil-bin-hadi-bin-qayidah-al-hamdany-al-wadii-rahimahullah\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-07-06T13:45:45+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/hqdefault.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"700\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"461\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"27 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/prestasi\\\/ijazah-sanad-10-muharram-1447-h-seluruh-kutub-karya-syaikh-muqbil-bin-hadi-bin-qayidah-al-hamdany-al-wadii-rahimahullah\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/prestasi\\\/ijazah-sanad-10-muharram-1447-h-seluruh-kutub-karya-syaikh-muqbil-bin-hadi-bin-qayidah-al-hamdany-al-wadii-rahimahullah\\\/\",\"name\":\"Ijazah & Sanad 10 Muharram 1447 H: Seluruh Kutub karya Syaikh Muqbil bin Hadi bin Qayidah al-Hamdany al-Wadi'i Rahimahullah - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/prestasi\\\/ijazah-sanad-10-muharram-1447-h-seluruh-kutub-karya-syaikh-muqbil-bin-hadi-bin-qayidah-al-hamdany-al-wadii-rahimahullah\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/prestasi\\\/ijazah-sanad-10-muharram-1447-h-seluruh-kutub-karya-syaikh-muqbil-bin-hadi-bin-qayidah-al-hamdany-al-wadii-rahimahullah\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/07\\\/hqdefault.jpg\",\"datePublished\":\"2025-07-06T13:33:44+00:00\",\"dateModified\":\"2025-07-06T13:45:45+00:00\",\"description\":\"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) Related Post: Muharram di Persimpangan Jalan Pemikiran BLOGGURU - Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/prestasi\\\/ijazah-sanad-10-muharram-1447-h-seluruh-kutub-karya-syaikh-muqbil-bin-hadi-bin-qayidah-al-hamdany-al-wadii-rahimahullah\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/prestasi\\\/ijazah-sanad-10-muharram-1447-h-seluruh-kutub-karya-syaikh-muqbil-bin-hadi-bin-qayidah-al-hamdany-al-wadii-rahimahullah\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/prestasi\\\/ijazah-sanad-10-muharram-1447-h-seluruh-kutub-karya-syaikh-muqbil-bin-hadi-bin-qayidah-al-hamdany-al-wadii-rahimahullah\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/07\\\/hqdefault.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/07\\\/hqdefault.jpg\",\"width\":700,\"height\":461},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/prestasi\\\/ijazah-sanad-10-muharram-1447-h-seluruh-kutub-karya-syaikh-muqbil-bin-hadi-bin-qayidah-al-hamdany-al-wadii-rahimahullah\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Prestasi\",\"item\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/prestasi\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":3,\"name\":\"Ijazah &#038; Sanad 10 Muharram 1447 H: Seluruh Kutub karya Syaikh Muqbil bin Hadi bin Qayidah al-Hamdany al-Wadi&#8217;i Rahimahullah\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\",\"name\":\"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\",\"description\":\"Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#organization\",\"name\":\"IMMIM Pangkep\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/06\\\/cropped-immim.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/06\\\/cropped-immim.png\",\"width\":512,\"height\":512,\"caption\":\"IMMIM Pangkep\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ijazah & Sanad 10 Muharram 1447 H: Seluruh Kutub karya Syaikh Muqbil bin Hadi bin Qayidah al-Hamdany al-Wadi'i Rahimahullah - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","description":"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) Related Post: Muharram di Persimpangan Jalan Pemikiran BLOGGURU - Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/prestasi\/ijazah-sanad-10-muharram-1447-h-seluruh-kutub-karya-syaikh-muqbil-bin-hadi-bin-qayidah-al-hamdany-al-wadii-rahimahullah\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Ijazah & Sanad 10 Muharram 1447 H: Seluruh Kutub karya Syaikh Muqbil bin Hadi bin Qayidah al-Hamdany al-Wadi'i Rahimahullah - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","og_description":"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) Related Post: Muharram di Persimpangan Jalan Pemikiran BLOGGURU - Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri","og_url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/prestasi\/ijazah-sanad-10-muharram-1447-h-seluruh-kutub-karya-syaikh-muqbil-bin-hadi-bin-qayidah-al-hamdany-al-wadii-rahimahullah\/","og_site_name":"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","article_modified_time":"2025-07-06T13:45:45+00:00","og_image":[{"width":700,"height":461,"url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/hqdefault.jpg","type":"image\/jpeg"}],"twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Estimasi waktu membaca":"27 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/prestasi\/ijazah-sanad-10-muharram-1447-h-seluruh-kutub-karya-syaikh-muqbil-bin-hadi-bin-qayidah-al-hamdany-al-wadii-rahimahullah\/","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/prestasi\/ijazah-sanad-10-muharram-1447-h-seluruh-kutub-karya-syaikh-muqbil-bin-hadi-bin-qayidah-al-hamdany-al-wadii-rahimahullah\/","name":"Ijazah & Sanad 10 Muharram 1447 H: Seluruh Kutub karya Syaikh Muqbil bin Hadi bin Qayidah al-Hamdany al-Wadi'i Rahimahullah - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","isPartOf":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/prestasi\/ijazah-sanad-10-muharram-1447-h-seluruh-kutub-karya-syaikh-muqbil-bin-hadi-bin-qayidah-al-hamdany-al-wadii-rahimahullah\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/prestasi\/ijazah-sanad-10-muharram-1447-h-seluruh-kutub-karya-syaikh-muqbil-bin-hadi-bin-qayidah-al-hamdany-al-wadii-rahimahullah\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/hqdefault.jpg","datePublished":"2025-07-06T13:33:44+00:00","dateModified":"2025-07-06T13:45:45+00:00","description":"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) Related Post: Muharram di Persimpangan Jalan Pemikiran BLOGGURU - Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/prestasi\/ijazah-sanad-10-muharram-1447-h-seluruh-kutub-karya-syaikh-muqbil-bin-hadi-bin-qayidah-al-hamdany-al-wadii-rahimahullah\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/prestasi\/ijazah-sanad-10-muharram-1447-h-seluruh-kutub-karya-syaikh-muqbil-bin-hadi-bin-qayidah-al-hamdany-al-wadii-rahimahullah\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/prestasi\/ijazah-sanad-10-muharram-1447-h-seluruh-kutub-karya-syaikh-muqbil-bin-hadi-bin-qayidah-al-hamdany-al-wadii-rahimahullah\/#primaryimage","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/hqdefault.jpg","contentUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/hqdefault.jpg","width":700,"height":461},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/prestasi\/ijazah-sanad-10-muharram-1447-h-seluruh-kutub-karya-syaikh-muqbil-bin-hadi-bin-qayidah-al-hamdany-al-wadii-rahimahullah\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Prestasi","item":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/prestasi\/"},{"@type":"ListItem","position":3,"name":"Ijazah &#038; Sanad 10 Muharram 1447 H: Seluruh Kutub karya Syaikh Muqbil bin Hadi bin Qayidah al-Hamdany al-Wadi&#8217;i Rahimahullah"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#website","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/","name":"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","description":"Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan","publisher":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#organization","name":"IMMIM Pangkep","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/cropped-immim.png","contentUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/cropped-immim.png","width":512,"height":512,"caption":"IMMIM Pangkep"},"image":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#\/schema\/logo\/image\/"}}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/prestasi\/15003","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/prestasi"}],"about":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/types\/prestasi"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/media\/15004"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15003"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}