{"id":9239,"date":"2022-08-02T09:29:47","date_gmt":"2022-08-02T01:29:47","guid":{"rendered":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/?post_type=prestasi&#038;p=9239"},"modified":"2025-07-31T10:14:41","modified_gmt":"2025-07-31T02:14:41","slug":"meraih-ijazah-sanad-kitab-fikih-dasar-syafinatun-naja","status":"publish","type":"prestasi","link":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/prestasi\/meraih-ijazah-sanad-kitab-fikih-dasar-syafinatun-naja\/","title":{"rendered":"Meraih Ijazah Sanad Kitab Fikih Dasar: Syafinatun Naja&#8217;"},"content":{"rendered":"<p>Oleh: <strong>Muhammad Farid Wajdi<\/strong> *)<\/p>\n<p>Related Post: <a href=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/mengenal-kitab-fikih-safinatun-najah\/\"><strong>Mengenal Kitab Fikih Syafinatun Naja&#8217;<\/strong><\/a><\/p>\n<p><strong>BLOGGURU<\/strong> &#8211; Ilmu Fikih adalah salah satu khazanah keilmuan Islam yang harus dipahami dengan baik, sebagai dasar pelaksanaan perintah dan larangan Allah SWT. Dalam Ilmu Fiqih ini tidak hanya dipahamkan tentang tata cara beribadah yang tepat dan benar, tetapi juga berkenaan dengan hal lainnya seperti urusan muamalah, jual beli, dan lain sebagainya. Suatu kesyukuran bahwa penulis masih diberikan kesempatan dan kesehatan untuk selalu menimba ilmu fikih ini, terutama sekali karena keharusan mengambil sanad secara bersambung sampai kepada penulis kitab fikih.<\/p>\n<p>Nah, salah satu kitab fikih dasar dan populer di kalangan pelajar Islam dan para santri adalah Kitab Safinatun Naja. Kitab ini boleh dibilang kitab fiqih madzhab Syafi\u2019i, penulisnya adalah Syekh Salim bin Abdullah bin Sa\u2019ad bin Sumair Al Hadhrami yang berhasil meringkaskan beragam hukum dalam ilmu ilmu fiqih secara jelas, lugas dan mudah dipahami. Itulah mengapa, kitab ini sering diperuntukkan bagi para santri pemula di pondok pesantren.<\/p>\n<p>Kitab Safinatun Naja&#8217;, lengkapnya berjudul &#8220;Safinatun Najah Fiima Yajibu ala Abdi li Maulah&#8221;, yang artinya adalah \u2018<i>Perahu Keselamatan dalam Mempelajari Kewajiban Seorang Hamba Kepada Tuhannya<\/i>\u2019 ini\u00a0 merangkum berbagai dalil atau hukum fiqih dasar,\u00a0 dari tanda-tanda baligh, cara berwudhu yang benar, apa itu rukun islam, cara mandi wajib, bagaimana niat shalat yang benar, waktu larangan shalat,\u00a0 puasa,\u00a0 zakat, hingga cara pelaksanaan dan pengurusan jenazah.<\/p>\n<div class=\"entry-content\">\n<p>Isi kitab Safinatun Najah ini dibagi dalam beberapa bagian, bab dan sub bab dengan sistematika yang akan penulis jelaskan satu persatu, masing-masing dalam tulisan terpisah sebagai hasil\/pendalaman dari Dauroh Kitab Syafinatun Naja&#8217; yang dibawakan oleh Syaikhuna, Syaikh Dr Labib Najib Abdullah. Pada bagian akhir dari catatan ini, penulis juga mencantumkan link rekaman dari Dauroh Syafinatun Naja&#8217; tersebut.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-9649 aligncenter\" src=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/289643714_1233974614008091_1792751015381288949_n.jpg\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"582\" srcset=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/289643714_1233974614008091_1792751015381288949_n.jpg 640w, https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/289643714_1233974614008091_1792751015381288949_n-300x273.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/p>\n<p>Lihat pula: <a href=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/blog\/kitab-shalat-madzhab-syafii\/\"><strong>Kitab Shalat Madzhab Syafi&#8217;i<\/strong><\/a><\/p>\n<p><strong>BAB I\u00a0 PENDAHULUAN: Rukun Islam dan Rukun Iman<\/strong><\/p>\n<h4><strong>Pembahasan 1 : Rukun Islam<\/strong><\/h4>\n<p>Rukun Islam ada lima perkara, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah Subhanahu wa Ta\u2019ala dan Nabi Muhammad Shollalloohu \u2018Alayhi wa Sallam adalah utusanNya.<\/li>\n<li>Mendirikan sholat (lima waktu).<\/li>\n<li>Menunaikan zakat.<\/li>\n<li>Puasa Ramadhan.<\/li>\n<li>Ibadah haji ke baitullah bagi yang mampu melaksanakannya.<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 2: Rukun Iman<\/strong><\/h4>\n<p>Rukun iman ada enam, yakni:<\/p>\n<ol>\n<li>Beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta\u2019ala.<\/li>\n<li>Beriman kepada sekalian Malaikat<\/li>\n<li>Beriman dengan segala kitab-kitab suci.<\/li>\n<li>Beriman dengan sekalian Rosul-rosul.<\/li>\n<li>Beriman dengan hari kiamat.<\/li>\n<li>Beriman dengan ketentuan baik dan buruknya dari Allah Subhanahu wa Ta\u2019ala.<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 3: Makna \u201cLaa Ilaaha Illallah\u201d<\/strong><\/h4>\n<p>Adapun arti dari \u201cLaa Ilaaha Illallah\u201d yakni:\u00a0<i>Tidak ada Tuhan yang berhak disembah dalam kenyataan selain Allah.<\/i><\/p>\n<div id=\"grame-1506586786\" class=\"grame-amp-9\">\n<div><strong>BAB II: Pembahasan Tahara (Bersuci dari Hadats)<\/strong><\/div>\n<\/div>\n<h4><strong>Pembahasan 1 : Tanda-Tanda Baligh<\/strong><\/h4>\n<p>Tanda-tanda baligh ada 3, yakni:<\/p>\n<ol>\n<li>Usia telah mencapai 15 tahun bagi laki-laki atau perempuan.<\/li>\n<li>Bermimpi (junub) bagi laki-laki dan perempuan ketika melewati umur sembilan tahun.<\/li>\n<li>Keluar darah haid bagi perempuan sesudah berumur sembilan tahun.<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 2: Syarat Menggunakan Batu Untuk Beristinja<\/strong><\/h4>\n<p>Syarat diperbolehkannya menggunakan batu untuk beristinja ada 8, yakni:<\/p>\n<ol>\n<li>\u00a0Menggunakan tiga batu.<\/li>\n<li>Mensucikan tempat keluar najis dengan batu tersebut.<\/li>\n<li>Najis tersebut tidak kering.<\/li>\n<li>Najis tersebut tidak berpindah.<\/li>\n<li>Tempat istinja tersebut tidak terkena benda yang lain sekalipun tidak najis. 6. Najis tersebut tidak berpindah tempat istinja (lubang kemaluan belakang dan kepala kemaluan depan).<\/li>\n<li>Najis tersebut tidak terkena air .<\/li>\n<li>Batu yang digunakan harus suci.<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 3: Rukun Wudhu<\/strong><\/h4>\n<p>Rukun wudhu ada 6, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Niat.<\/li>\n<li>Membasuh muka.<\/li>\n<li>Membasuh kedua tangan sampai siku.<\/li>\n<li>Menyapu sebagian kepala.<\/li>\n<li>Membasuh kedua kaki sampai mata kaki.<\/li>\n<li>Tertib.<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 4: Niat Wudhu<\/strong><\/h4>\n<p>Niat adalah menyengaja di dalam hati (untuk melakukan) suatu perbuatan bersamaan ketika melakukannya.<\/p>\n<p>Adapun mengucapkan niat tersebut hukumnya sunnah, dan waktunya ketika pertama kali membasuh sebagian muka. Adapun tertib yang dimaksud adalah tidak mendahulukan satu anggota wudhu terhadap anggota wudhu yang lain.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-9650 aligncenter\" src=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/Screenshot_20220110_053834.jpg\" alt=\"\" width=\"600\" height=\"528\" srcset=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/Screenshot_20220110_053834.jpg 600w, https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/Screenshot_20220110_053834-300x264.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 600px) 100vw, 600px\" \/><\/p>\n<h4><strong>Pembahasan 5: Macam-Macam Air<\/strong><\/h4>\n<p>Air ada dua macam; Air yang sedikit dan air yang banyak. Air yang sedikit adalah air yang kurang dari dua qullah dan air yang banyak adalah yang sampai dua qullah atau lebih. Air yang sedikit akan menjadi najis jika kejatuhan najis kedalamnya, sekalipun tidak berubah.<\/p>\n<p>Adapun air yang banyak maka tidak akan menjadi najis kecuali air tersebut telah berubah rasa, warna atau baunya.<\/p>\n<div id=\"grame-754235084\" class=\"grame-adsss\">\n<div><\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<div id=\"aswift_4_host\" tabindex=\"0\" title=\"Advertisement\" aria-label=\"Advertisement\"><strong>Pembahasan 6: Sebab-Sebab yang Mewajibkan Mandi<\/strong><\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<\/div>\n<p>Perkara yang mewajibkan mandi ada 6 , yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Memasukkan kepala kemaluan (laki-laki) ke dalam farji (kemaluan perempuan).<\/li>\n<li>Keluar air mani.<\/li>\n<li>Keluar darah haid (datang bulan).<\/li>\n<li>Keluar darah nifas (darah yang keluar setelah melahirkan).<\/li>\n<li>Melahirkan.<\/li>\n<li>Meninggal dunia.<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 7: Rukun Mandi<\/strong><\/h4>\n<p>Kewajiban dalam mandi wajib ada dua, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Niat mandi wajib.<\/li>\n<li>Meratakan air ke seluruh bagian tubuh dengan sempurna.<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 8: Syarat Sah Wudhu<\/strong><\/h4>\n<p>Syarat-syarat wudhu ada sepuluh, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Islam.<\/li>\n<li>Tamyiz (cukup umur dan berakal).<\/li>\n<li>Suci dari haid dan nifas.<\/li>\n<li>Bersih dari segala sesuatu yang bisa menghalangi sampainya air ke kulit.<\/li>\n<li>Tidak ada sesuatu di salah satu anggota wudhu yang merubah keaslian air.<\/li>\n<li>Mengetahui bahwa hukum wudhu` tersebut adalah wajib.<\/li>\n<li>Tidak boleh beri`tiqad (berkeyakinan) bahwa salah satu dari fardhu\u2013fardhu wudhu` hukumnya sunnah (tidak wajib).<\/li>\n<li>Kesucian air wudhu` tersebut.<\/li>\n<li>Masuk waktu sholat yang dikerjakan.<\/li>\n<li>Terus-menerus<\/li>\n<\/ol>\n<p>Dua syarat terakhir ini khusus untuk da`im al-hadats.<\/p>\n<h4><strong>Pembahasan 9: Pembatal Wudhu<\/strong><\/h4>\n<p>Perkara yang membatalkan wudhu ada empat, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Apabila keluar sesuatu dari salah satu dari dua alat kelamin; depan (qubul) belakang (dubur)seperti angin dan lainnya, kecuali air mani.<\/li>\n<li>Hilang akal seperti tidur dan lain lain, kecuali tidur dalam keadaan duduk yang mantap dengan merapatkan duduknya ke tanah.<\/li>\n<li>Bersentuhan antara kulit laki\u2013laki dengan kulit perempuan dewasa yang bukan muhrim tanpa ada penghalang.<\/li>\n<li>Menyentuh kemaluan atau menyentuh bundaran dubur dengan telapak tangan atau telapak jarinya.<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 10: Perbuatan yang Tidak Boleh Dilakukan Dalam Keadaan Berhadats<\/strong><\/h4>\n<p><b>Orang yang batal wudhunya (hadats kecil), dilarang melakukan empat hal berikut:\u00a0<\/b><\/p>\n<ol>\n<li>Shalat.<\/li>\n<li>Thawaf (keliling ka\u2019bah tujuh kali).<\/li>\n<li>Menyentuh Mushaf Al-Quran.<\/li>\n<li>Membawa Mushaf Al-Quran.<\/li>\n<\/ol>\n<p><b>Orang yang junub (hadas besar) dilarang untuk melakukan enam hal berikut:\u00a0<\/b><\/p>\n<ol>\n<li>Shalat.<\/li>\n<li>Thawaf.<\/li>\n<li>Menyentuh Mushaf Al Quran.<\/li>\n<li>Membawa Mushaf Al-Quran.<\/li>\n<li>Berdiam diri (I\u2019tikaf) di Masjid.<\/li>\n<li>Membaca Al Quran.<\/li>\n<\/ol>\n<p><b>Wanita yang sedang haid tidak boleh melakukan sepuluh hal berikut:\u00a0<\/b><\/p>\n<ol>\n<li>Shalat.<\/li>\n<li>Thawaf.<\/li>\n<li>Menyentuh Mushaf Al-Quran.<\/li>\n<li>Membawa Mushaf Al-Quran.<\/li>\n<li>Berdiam diri (I\u2019tikaf) di Masjid.<\/li>\n<li>Membaca Al Quran.<\/li>\n<li>Puasa.<\/li>\n<li>Cerai.<\/li>\n<li>Berjalan di dalam masjid \u2013 jika ia takut akan mengotorinya.<\/li>\n<li>Bersenang \u2013 senang dengan istri di antara pusar dan lutut.<\/li>\n<\/ol>\n<div id=\"attachment_9651\" style=\"width: 610px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-9651\" class=\"size-full wp-image-9651\" src=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/Ijazah-Syafinatun-Najah.png\" alt=\"Ijazah Syafinatun Najah\" width=\"600\" height=\"619\" srcset=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/Ijazah-Syafinatun-Najah.png 600w, https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/Ijazah-Syafinatun-Najah-291x300.png 291w\" sizes=\"auto, (max-width: 600px) 100vw, 600px\" \/><p id=\"caption-attachment-9651\" class=\"wp-caption-text\"><em>Ijazah Syafinatun Najah (foto: ist\/*)<\/em><\/p><\/div>\n<h4><strong>Pembahasan 11: Kondisi yang Dibolehkan Tayamum<\/strong><\/h4>\n<p>Sebab-sebab yang membolehkan tayammum ada tiga hal, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Tidak ada air untuk berwudhu.<\/li>\n<li>Ada penyakit yang mengakibatkan tidak boleh memakai air.<\/li>\n<li>Ada air hanya sekedar mencukupi kebutuhan minum manusia atau binatang yang Muhtaram (yang dihormati) .<\/li>\n<\/ol>\n<p>Adapun selain Muhtaram, ada 6 macam Manusia atau hewan yang tidak dihormati ada enam macam, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Orang yang meninggalkan sholat wajib.<\/li>\n<li>Orang yang sudah menikah yang berzina.<\/li>\n<li>Murtad.<\/li>\n<li>Kafir Harbiy (Orang yang memerangi muslimin)<\/li>\n<li>Anjing liar (suka menggigit).<\/li>\n<li>Babi.<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 12: Syarat-Syarat Tayamum<\/strong><\/h4>\n<p>Syarat-syarat mengerjakan tayammum ada sepuluh, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Bertayamum dengan tanah.<\/li>\n<li>Menggunakan tanah yang suci tidak terkena najis.<\/li>\n<li>Tanahnya tidak pernah dipakai sebelumnya.<\/li>\n<li>Murni dari campuran yang lain seperti tepung dan seumpamanya.<\/li>\n<li>Meniatkan tayamum.<\/li>\n<li>Menyapu muka dan dua tangannya dengan dua usapan berbeda.<\/li>\n<li>Menghilangkan segala najis di badan terlebih dahulu.<\/li>\n<li>Berusaha mencari arah kiblat sebelum memulai tayamum.<\/li>\n<li>Tayamum dilakukan setelah masuk waktu shalat.<\/li>\n<li>Bertayamum untuk setiap satu shalat wajib.<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 13: Kewajiban dalam Tayamum<\/strong><\/h4>\n<p>Rukun-rukun tayammum ada lima, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Memindahkan debu.<\/li>\n<li>Niat.<\/li>\n<li>Mengusap wajah.<\/li>\n<li>Mengusap kedua belah tangan sampai siku.<\/li>\n<li>Tertib antara dua usapan.<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 14: Pembatal Tayamum<\/strong><\/h4>\n<p>Pembatal tayamum ada tiga, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Semua yang membatalkan wudhu.<\/li>\n<li>Murtad.<\/li>\n<li>Ragu-ragu terdapatnya air, apabila dia bertayamum karena tidak ada air.<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 15: Najis yang Bisa Menjadi Suci<\/strong><\/h4>\n<p>Najis-najis yang bisa menjadi suci ada tiga, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Khamr (air yang diperah dari anggur) yang menjadi bentuk lain (misal: cuka) dengan sendirinya.<\/li>\n<li>Kulit bangkai yang telah disamak.<\/li>\n<li>Semua najis yang telah berubah menjadi binatang.<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 16: Jenis-Jenis Najis<\/strong><\/h4>\n<p>Najis ada tiga, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Najis besar (Mughallazhah), yaitu anjing, babi atau yang lahir dari salah satunya.<\/li>\n<li>Najis ringan (Mukhaffafah), yaitu air kencing bayi laki-laki yang tidak makan selain air susu ibunya dan umurnya belum sampai dua tahun.<\/li>\n<li>Najis sedang (Mutawassithah), yaitu semua najis selain dua najis yang telah disebutkan.<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 17: Cara Mensucikan Najis<\/strong><\/h4>\n<p>Najis besar (Mughallazah), mensucikannya dengan membasuhnya sebanyak tujuh kali, salah satunya menggunakan debu, setelah hilang zat najisnya.<\/p>\n<p>Najis ringan (Mukhaffafah), mensucikannya dengan memercikkan air secara menyeluruh dan menghilangkan zat najisnya.<\/p>\n<p>Najis sedang (Mutawassithoh) terbagi dua bagian, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>\u2018Ainiyyah yaitu najis yang masih nampak warna, bau, atau rasanya, maka cara mensucikan najis ini dengan menghilangkan warna, bau, dan rasanya.<\/li>\n<li>Hukmiyyah, yaitu najis yang tidak nampak warna, bau dan rasanya, maka cara menyucikan najis ini cukup dengan mengalirkan air pada benda yang terkena najis tersebut.<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 18: Darah Haid (Menstruasi)<\/strong><\/h4>\n<p>Masa menstruasi yang paling cepat adalah sehari semalam, namun pada umumnya selama enam atau tujuh hari, dan paling lama adalah 15 hari. Masa suci antara dua haid paling cepat adalah 15 hari, tetapi pada umumnya 24 atau 23 hari, dan tidak ada batasan masa paling lamanya.<\/p>\n<p>Masa nifas paling cepat adalah sekejap, pada umumnya 40 hari, dan paling lama adalah 60 hari.<\/p>\n<p><strong>BAB III: SHALAT<\/strong><\/p>\n<h4><strong>Pembahasan 1: Udzur Shalat<\/strong><\/h4>\n<ol>\n<li>Tidur<\/li>\n<li>Lupa<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 2: Syarat Sah Shalat<\/strong><\/h4>\n<p><b>Syarat sah shalat ada delapan, yaitu:\u00a0<\/b><\/p>\n<ol>\n<li>Suci dari hadats besar dan kecil.<\/li>\n<li>Suci pakaian, badan dan tempat dari najis.<\/li>\n<li>Menutup aurat.<\/li>\n<li>Menghadap kiblat.<\/li>\n<li>Masuk waktu sholat.<\/li>\n<li>Mengetahui rukun-rukun shalat.<\/li>\n<li>Tidak meyakini bahwa diantara rukun-rukun shalat sebagai sunnah.<\/li>\n<li>Menjauhi semua yang membatalkan shalat.<\/li>\n<\/ol>\n<p><b>Macam-Macam Hadas<\/b><\/p>\n<p>Hadats ada dua macam, yaitu: Hadats Kecil dan Hadats Besar.<\/p>\n<ol>\n<li>Hadats kecil adalah hadats yang mewajibkan seseorang untuk berwudhu,<\/li>\n<li>Hadats besar adalah hadats yang mewajibkan seseorang untuk mandi.<\/li>\n<\/ol>\n<p><b>Batasan Aurat Laki-Laki dan Wanita<\/b><\/p>\n<p>Aurat ada empat macam, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Aurat semua laki-laki (merdeka atau budak) dan budak perempuan ketika shalat adalah antara pusar dan lutut.<\/li>\n<li>Aurat perempuan merdeka ketika shalat, yaitu seluruh badan kecuali muka dan telapak tangan.<\/li>\n<li>Aurat perempuan merdeka dan budak terhadap laki-laki yang ajnabi (bukan muhrim), yaitu seluruh badan.<\/li>\n<li>Aurat perempuan merdeka dan budak terhadap laki-laki muhrimya dan perempuan, yaitu antara pusar dan lutut.<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 3: Rukun-Rukun Shalat<\/strong><\/h4>\n<p>Rukun shalat ada tujuh belas, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Niat.<\/li>\n<li>Takbiratul ihram (mengucapkan \u201c<i>Allahu Akbar<\/i>\u201d).<\/li>\n<li>Berdiri bagi yang mampu pada shalat fardhu.<\/li>\n<li>Membaca Surat Al Fatihah.<\/li>\n<li>Ruku\u2019 .<\/li>\n<li>Thuma\u2019ninah (diam sejenak) waktu ruku\u2019.<\/li>\n<li>I\u2019tidal (berdiri setelah ruku\u2019).<\/li>\n<li>Thuma\u2019ninah (diam sejenak waktu i\u2019tidal).<\/li>\n<li>Bersujud dua kali.<\/li>\n<li>Thuma\u2019ninah (diam sejenak waktu sujud).<\/li>\n<li>Duduk diantara dua sujud.<\/li>\n<li>Thuma\u2019ninah (diam sejenak ketika duduk).<\/li>\n<li>Tasyahud (tahiyat) akhir.<\/li>\n<li>Duduk di waktu tasyahud akhir.<\/li>\n<li>Bershalawat kepada nabi ketika tasyahud akhir.<\/li>\n<li>Salam.<\/li>\n<li>Tertib (berurutan).<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 4: Tata Cara Niat<\/strong><\/h4>\n<p>Niat itu ada tiga derajat, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Jika sholat yang dikerjakan fardhu, diwajibkanlah niat qasdul fi\u2019li (mengerjakan shalat tersebut), ta\u2019yin (nama sholat yang dikerjakan) dan fardhiyah (kefardhuannya).<br \/>\n2. Jika sholat yang dikerjakan sunnah yang mempunyai waktu atau mempunyai sebab, diwajibkanlah niat mengerjakan sholat tersebut dan nama sholat yang dikerjakan seperti sunnah Rawatib (sebelum dan sesudah fardhu-fardhu).<br \/>\n3. Jika shalat yang dikerjakan sunnah Mutlaq (tanpa sebab), diwajibkanlah niat mengerjakan sholat tersebut saja.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Yang dimaksud dengan\u00a0<b><i>qasdul fi\u2019li<\/i><\/b>\u00a0adalah\u00a0<i>\u201caku berniat sembahyang (menyenghajanya)\u201d<\/i>, dan yang dimaksud\u00a0<b><i>ta\u2019yin<\/i><\/b>\u00a0adalah seperti dzuhur atau ashar, adapun fardiyah adalah niat fardhu.<\/p>\n<p><strong>Pembahasan 5: Syarat Takbiratul Ihram<\/strong><\/p>\n<p>Syarat takbirotul ihrom ada enam belas, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Dilakukan dalam keadaan berdiri jika shalat fardhu.<\/li>\n<li>Diucapkan dengan bahasa Arab.<\/li>\n<li>Menggunakan lafal \u201cAllah\u201d.<\/li>\n<li>Menggunakan lafal \u201cAkbar\u201d.<\/li>\n<li>Berurutan antara dua lafal tersebut.<\/li>\n<li>Tidak memanjangkan huruf \u201cHamzah\u201d dari lafal \u201cAllah\u201d.<\/li>\n<li>Tidak memanjangkan huruf \u201cBa\u201d dari lafal \u201cAkbar\u201d.<\/li>\n<li>Tidak mentasdidkan huruf \u201cBa\u201d tersebut.<\/li>\n<li>Tidak menambahkan huruf \u201cWaw berharakat\u201d atau \u201cwau sukun\u201d diantara dua lafal tersebut.<\/li>\n<li>Tidak menambah huruf \u201cWaw\u201d sebelum lafal \u201cAllah\u201d.<\/li>\n<li>Tidak berhenti antara dua kata tersebut baik lama maupun sebentar.<\/li>\n<li>Ucapan \u201cAllahu Akbar\u201d dapat didengar oleh dirinya sendiri.<\/li>\n<li>Masuk waktu sholat jika shalat tersebut memiliki waktu tertentu.<\/li>\n<li>Mengucapkan takbiratul ihram sambil menghadap kiblat.<\/li>\n<li>Tidak salah dalam mengucapkan salah satu dari huruf kalimat tersebut.<\/li>\n<li>Takbiratul ihram makmum harus dilakukan sesudah takbiratul ihram sang imam.<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 6: Syarat Sah Membaca Surat Al-Fatihah<\/strong><\/h4>\n<p>Syarat-syarat membaca surat Al Fatihah ada sepuluh, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Tertib (sesuai urutan ayatnya).<\/li>\n<li>Terus menerus (tanpa terputus oleh perbuatan lain).<\/li>\n<li>Memperhatikan huruf-hurufnya (makhraj) serta tempat-tempat tasydid.<\/li>\n<li>Memperhatikan tasydid-tasydidnya.<\/li>\n<li>Tidak lama terputus antara ayat-ayat Al Fatihah ataupun terputus sebentar dengan niat memutuskan bacaan.<\/li>\n<li>Membaca semua ayat Al Fatihah dan basmalah termasuk salah satu ayat Al Fatihah.<\/li>\n<li>Tidak menggunakan lahn (nada\/irama bacaan) yang dapat merubah makna.<\/li>\n<li>Membaca surat Al Fatihah dalam keadaan berdiri ketika sholat fardhu.<\/li>\n<li>Memperdengarkan bacaan Al Fatihah untuk dirinya sendiri.<\/li>\n<li>Tidak terganggu oleh dzikir orang lain.<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 17: Tasydid Pada Surat Al-Fatihah<\/strong><\/h4>\n<p>Tasydid huruf \u201cLam\u201d jalalah pada lafal (<b>\u0627\u0644\u0644\u0647<\/b>\u00a0).<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li>Tasydid huruf \u201cRa\u2019\u201d pada lafal (\u00a0<b>\u0627\u0644\u0631\u0651\u062d\u0645\u0646\u00a0<\/b>).<\/li>\n<li>Tasydid huruf \u201cRa\u2019\u201d pada lafal (\u00a0<b>\u0627\u0644\u0631\u0651\u062d\u064a\u0645<\/b>).<\/li>\n<li>Tasydid \u201cLam\u201d jalalah pada lafal\u00a0<b>( \u0627\u0644\u062d\u0645\u062f \u0644\u0644\u0647)<\/b>.<\/li>\n<li>Tasydid huruf \u201cBa\u2019\u201d pada kalimat\u00a0<b>(\u0631\u0628\u0651 \u0627\u0644\u0639\u0627\u0644\u0645\u064a\u0646 )<\/b>.<\/li>\n<li>Tasydid huruf \u201cRa\u2019\u201d pada lafal (<b>\u0627\u0644\u0631\u0651\u062d\u0645\u0646<\/b>\u00a0).<\/li>\n<li>Tasydid huruf \u201cRa\u2019\u201d pada lafal (\u00a0<b>\u0627\u0644\u0631\u0651\u062d\u064a\u0645<\/b>).<\/li>\n<li>Tasydid huruf \u201cDal\u201d pada lafal (<b>\u0627\u0644\u062f\u0651\u064a\u0646<\/b>\u00a0).<\/li>\n<li>Tasydid huruf \u201cYa\u2019\u201d pada kalimat\u00a0<b>( \u0625\u064a\u0651\u0627\u0643 \u0646\u0639\u0628\u062f).<\/b><\/li>\n<li>Tasydid huruf \u201cYa\u201d pada kalimat (<b>\u0648\u0625\u064a\u0651\u0627\u0643 \u0646\u0633\u062a\u0639\u064a\u0646 ).<\/b><\/li>\n<li>Tasydid huruf \u201cShad\u201d pada kalimat (<b>\u00a0\u0627\u0647\u062f\u0646\u0627 \u0627\u0644\u0635\u0651\u0631\u0627\u0637 \u0627\u0644\u0645\u0633\u062a\u0642\u064a\u0645<\/b>).<\/li>\n<li>Tasydid huruf \u201cLam\u201d pada kalimat<b>\u00a0(\u0635\u0631\u0627\u0637 \u0627\u0644\u0651\u0630\u064a\u0646 ).<\/b><\/li>\n<li>Tasydid \u201cDhad\u201d pada kalimat (<b>\u0648\u0644\u0627 \u0627\u0644\u0636\u0627\u0644\u064a\u0646).<\/b><\/li>\n<li>Tasydid huruf \u201cLam\u201d pada kalimat\u00a0<b>(\u0648\u0644\u0627 \u0627\u0644\u0636\u0627\u0644\u064a\u0646).<\/b><\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 8: Kapan Kita Mengangkat Tangan Dalam Shalat?<\/strong><\/h4>\n<p>Tempat yang disunahkan mengangkat tangan ketika shalat ada empat, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Ketika takbiratul ihram.<\/li>\n<li>Ketika ruku\u2019.<\/li>\n<li>Ketika bangkit dari ruku\u2019 (I\u2019tidal).<\/li>\n<li>Ketika bangkit dari tasyahud awal.<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 9: Syarat Sah Sujud<\/strong><\/h4>\n<p>Syarat sah sujud ada tujuh, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Sujud dengan tujuh anggota sujud.<\/li>\n<li>Dahi terbuka (tidak ada yang menutupi dahi).<\/li>\n<li>Menekan berat ke kepala.<\/li>\n<li>Tidak ada maksud lain kecuali sujud.<\/li>\n<li>Tidak sujud ke tempat sujud yang bergerak jika ia bergerak.<\/li>\n<li>Mengangkat bagian bawah (punggung) melebihi bagian atas (kepala).<\/li>\n<li>Thuma\u2019ninah (berhenti sejenak) pada sujud.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Penutup (Masalah Sujud)<\/p>\n<p>Anggota tubuh yang wajib di letakkan di tempat sujud ada tujuh, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Dahi.<\/li>\n<li>Telapak tangan kanan.<\/li>\n<li>Telapak tangan kiri.<\/li>\n<li>Lutut kaki kanan.<\/li>\n<li>Lutut kaki kiri.<\/li>\n<li>Telapak jari-jari kaki kanan.<\/li>\n<li>Telapak jari-jari kaki kiri.<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 10: Tasydid Pada Tasyahud Akhir<\/strong><\/h4>\n<p>Dalam kalimat\u00a0<i>tasyahud<\/i>\u00a0terdapat dua puluh satu harakah (baris) tasydid, enam belas di antaranya terletak di kalimat\u00a0<b><i>tasyahud<\/i><\/b>\u00a0yang wajib di baca, dan lima yang tersisa dalam kalimat yang menyempurnakan tasyahud (yang sunah dibaca), yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>\u201cAttahiyyat\u201d: harakah tasydid terletak di huruf \u201cTa\u2019\u201d.<\/li>\n<li>\u201cAttahiyyat\u201d: harakah tasydid terletak di huruf \u201cYa\u2019\u201d.<\/li>\n<li>\u201cAlmubarakatusshalawat\u201d: harakah tasydid di huruf \u201cShad\u201d.<\/li>\n<li>\u201cAtthayyibaat\u201d: harakah tasydid di huruf \u201cTha\u2019\u201d.<\/li>\n<li>\u201cAtthayyibaat\u201d: harakah tasydid di huruf \u201cya\u2019\u201d.<\/li>\n<li>\u201cLillaah\u201d: harakah tasydid di \u201cLam\u201d jalalah.<\/li>\n<li>\u201cAssalaam\u201d: di huruf \u201cSin\u201d.<\/li>\n<li>\u201cA\u2019laika ayyuhannabiyyu\u201d: di huruf \u201cYa\u2019\u201d.<\/li>\n<li>\u201cA\u2019laika ayyuhannabiyyu\u201d: di huruf \u201cNun\u201d.<\/li>\n<li>\u201cA\u2019laika ayyuhannabiyyu\u201d: di huruf \u201cYa\u2019\u201d.<\/li>\n<li>\u201cWarohmatullaah\u201d: di \u201cLam\u201d jalalah.<\/li>\n<li>\u201cWabarakatuh, assalaam\u201d: di huruf \u201cSin\u201d.<\/li>\n<li>\u00a0\u201cAlainaa wa\u2019alaa I\u2019baadillah\u201d: di \u201cLam\u201d jalalah.<\/li>\n<li>\u201cAsshalihiin\u201d: di huruf shad.<\/li>\n<li>\u201cAsyhaduallaa\u201d: di \u201cLam alif\u201d.<\/li>\n<li>\u201cIlaha Illallaah\u201d: di \u201cLam alif\u201d.<\/li>\n<li>\u201cIllallaah\u201d: di \u201cLam\u201d jalalah.<\/li>\n<li>\u201cWaasyhaduanna\u201d: di huruf \u201cNun\u201d.<\/li>\n<li>\u201cMuhammadarrasulullaah\u201d: di huruf \u201cMim\u201d.<\/li>\n<li>\u201cMuhammadarrasulullaah\u201d: di huruf \u201cRa\u2019\u201d.<\/li>\n<li>\u201cMuhammadarrasulullaah\u201d: di huruf \u201cLam\u201d jalalah.<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 11: Tasydid Pada Ucapan Shalawat pada Tasyahud<\/strong><\/h4>\n<p>Sekurang-kurang kalimat shalawat nabi yang memenuhi standar kewajiban di tasyahud akhir adalah\u00a0<i>Alloohumma sholliy \u2019alaa Muhammad<\/i><i>.<\/i><\/p>\n<p>(Adapun)\u00a0<b><i>harakat tasydid<\/i><\/b>\u00a0yang ada di kalimat shalawat nabi tersebut ada di huruf \u201cLam\u201d dan \u201cMim\u201d di lafal \u201cAllahumma\u201d. Dan di huruf \u201cLam\u201d di lafal \u201cShalli\u201d; dan di huruf \u201cMim\u201d pada Muhammad.<\/p>\n<h4><strong>Pembahasan 12: Lafal Salam Pada Tasyahud Akhir<\/strong><\/h4>\n<p>Lafal Salam pada tasyahud akhir yang paling minimal adalah \u201c<i>Assalamu\u2019alaikum<\/i>\u201d. Terdapat tasydid pada huruf sin dari lafal \u201c<i>Assalamu<\/i>\u201d.<\/p>\n<h4><strong>Pembahasan 13: Waktu-Waktu Shalat Wajib<\/strong><\/h4>\n<p><b>Waktu-waktu shalat wajib ada lima:<\/b><\/p>\n<ol>\n<li>Waktu shalat dzuhur: Dimulai dari tergelincirnya matahari (dari tengah-tengah langit ke arah barat) dan berakhir ketika panjang bayangan suatu benda sama dengan panjang benda tersebut.<\/li>\n<li>Waktu shalat Ashar: Dimulai ketika panjang bayangan suatu benda sedikit lebih besar dari panjang benda tersebut dan berakhir ketika matahari terbenam.<\/li>\n<li>Waktu shalat Maghrib: Dimulai ketika matahari terbenam dan berakhir dengan hilangnya mega (sinar matahari senja) merah.<\/li>\n<li>Waktu shalat Isya: Dimulai dengan hilangnya mega merah berakhir dengan terbitnya fajar shadiq.<\/li>\n<li>Waktu shalat Subuh: Dimulai dari terbitnya fajar shadiq dan berakhir dengan terbitnya matahari.<\/li>\n<\/ol>\n<p><b>Warna sinar matahari senja (mega) ada tiga, yaitu:\u00a0<\/b><\/p>\n<ol>\n<li>Mega merah muncul ketika magrib.<\/li>\n<li>mega kuning dan putih muncul di waktu Isya.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Disunnahkan untuk menunda (mengakhirkan) shalat Isya sampai hilangnya sinar kuning dan putih.<\/p>\n<h4><strong>Pembahasan 14: Waktu-Waktu yang Tidak Diperbolehkannya Untuk Shalat<\/strong><\/h4>\n<p>Seseorang tidak boleh melakukan shalat sunnah yang tanpa sebab atau shalat sunnah muthlaq pada waktu-waktu berikut ini:<\/p>\n<ol>\n<li>Ketika matahari terbit sampai naik sekira-kira sama dengan ukuran tombak.<\/li>\n<li>Ketika matahari berada tepat di tengah tengah langit sampai bergeser sedikit kecuali pada hari Jum\u2019at.<\/li>\n<li>Ketika matahari kekuning-kuningan sampai tenggelam.<\/li>\n<li>Sesudah shalat Subuh sampai matahari terbit.<\/li>\n<li>Sesudah shalat Ashar sampai matahari terbenam.<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 15: Waktu-Waktu Jeda Saat Shalat<\/strong><\/h4>\n<p>Tempat saktah (berhenti sebagai jeda dari satu perbuatan ke perbuatan yang lain-pent.) pada waktu shalat ada enam tempat, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Antara takbiratul ihram dan do\u2019a iftitah.<\/li>\n<li>Antara doa iftitah dan ta\u2019awudz.<\/li>\n<li>Antara ta\u2019awudz dan membaca Surat Al Fatihah.<\/li>\n<li>\u00a0Antara akhir Surat Al Fatihah dan mengucapkan amin.<\/li>\n<li>Antara mengucapkan amin dan membaca surat Al Qur\u2019an.<\/li>\n<li>Antara membaca surat Al Qur\u2019an dan ruku\u2019.<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 16: Rukun Shalat yang Diharuskan Thuma\u2019ninah<\/strong><\/h4>\n<p>Rukun-rukun shalat yang diwajibkan mengerjakannya dengan tuma\u2019ninah ada empat, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Ketika ruku\u2019.<\/li>\n<li>Ketika i\u2019tidal.<\/li>\n<li>Ketika sujud.<\/li>\n<li>Ketika duduk antara dua sujud.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Thuma\u2019ninah adalah diam sejenak setelah bergerak (dari posisi sebelumnya) sampai semua anggota badan tetap (tidak bergerak) dengan waktu kurang lebih seperti mengucapkan tasbih (subhanallah).<\/p>\n<h4><strong>Pembahasan 17: Sebab-Sebab yang Mengharuskan Sujud Sahwi<\/strong><\/h4>\n<p>Sebab sujud sahwi ada empat, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Meninggalkan sebagian dari ab\u2019adus shalat (pekerjaan sunnah dalam shalat yang buruk jika seseorang meninggalkannya).<\/li>\n<li>Mengerjakan sesuatu yang membatalkan (padahal ia lupa), jika dikerjakan dengan sengaja dan tidak membatalkan jika ia lupa.<\/li>\n<li>Memindahkan rukun qauli (yang diucapkan) kebukan tempatnya.<\/li>\n<li>Mengerjakan rukun Fi\u2019li (yang diperbuat) dengan kemungkinan kelebihan.<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 18: Perbuatan Dalam Shalat yang Termasuk Sunnah Ab\u2019adh<\/strong><\/h4>\n<p>Sunnah Ab\u2019adh ada enam, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Tasyahud awal.<\/li>\n<li>Duduk tasyahud awal.<\/li>\n<li>Shalawat untuk nabi Muhammad ketika tasyahud awal.<\/li>\n<li>Shalawat untuk keluarga nabi ketika tasyahud akhir.<\/li>\n<li>Do\u2019a qunut.<\/li>\n<li>Berdiri untuk do\u2019a qunut.<\/li>\n<li>Shalawat dan Salam untuk nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya ketika do\u2019a qunut.<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 19: Pembatal Shalat<\/strong><\/h4>\n<p>Perkara yang membatalkan shalat ada empat belas, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Berhadats (seperti kencing dan buang air besar-pent.).<\/li>\n<li>Terkena najis, jika tidak dihilangkan seketika, tanpa memegang najis tersebut.<\/li>\n<li>Terbuka aurat, jika tidak ditutup seketika.<\/li>\n<li>Mengucapkan dua huruf atau satu huruf yang dapat dipahami dengan sengaja.<\/li>\n<li>Makan (sedikit) dengan sengaja.<\/li>\n<li>Makan yang banyak sekalipun lupa.<\/li>\n<li>Bergerak dengan tiga gerakan berturut-turut sekalipun lupa.<\/li>\n<li>Melompat yang merusak shalat.<\/li>\n<li>Memukul yang melampaui batas.<\/li>\n<li>Menambah rukun fi\u2019li dengan sengaja.<\/li>\n<li>Lebih cepat atau lebih lambat dua rukun shalat dari imam dengan tanpa udzur.<\/li>\n<li>Berniat menghentikan shalat.<\/li>\n<li>Menggantungkan shalat nya dengan suatu hal.<\/li>\n<li>Ragu-ragu dalam menghentikan shalat (antara diteruskan atau dihentikan).<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 20: Kapan Diwajibkan Berniat Sebagai Imam Shalat?<\/strong><\/h4>\n<p>Seorang imam diwajibkan berniat menjadi imam pada empat keadaan, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Menjadi Imam shalat jumat.<\/li>\n<li>Menjadi imam dalam shalat i`aadah (shalat yang diulang).<\/li>\n<li>Menjadi imam shalat nadzar berjamaah.<\/li>\n<li>Menjadi imam shalat jamak taqdim dengan sebab hujan<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 21: Syarat Makmum Mengikuti Imam<\/strong><\/h4>\n<p>Syarat \u2013 Syarat makmum mengikut imam ada sebelas, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Tidak mengetahui batalnya shalat imam dengan sebab hadats atau yang lain nya.<\/li>\n<li>Tidak meyakini bahwa imam wajib mengqadha (mengganti) shalat tersebut.<\/li>\n<li>Seorang imam tidak sedang menjadi makmum.<\/li>\n<li>Seorang imam tidak buta huruf (harus baik bacaan Al Qur\u2019annya).<\/li>\n<li>Posisi makmum tidak melebihi tempat berdiri imam.<\/li>\n<li>Makmum harus mengetahui perpindahan gerakan shalat imam.<\/li>\n<li>Berada dalam satu masjid (tempat) atau berada dalam jarak kurang lebih tiga ratus hasta.<\/li>\n<li>Makmum berniat mengikuti imam atau niat berjamaah.<\/li>\n<li>Shalat imam dan makmum harus sama cara dan kaifiyatnya.<\/li>\n<li>Makmum tidak menyelisihi imam dengan perbuatan sunnah yang sangat berlainan atau sangat berbeda.<\/li>\n<li>Makmum harus mengikuti imam.<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 22: Model Berjamaah yang Sah dan Tidak Sah<\/strong><\/h4>\n<p><b>Ada 9 model shalat berjamaah. Model berjamaah yang sah ada 5, yaitu:<\/b><\/p>\n<ol>\n<li>Laki \u2013laki mengikuti laki \u2013 laki.<\/li>\n<li>Perempuan mengikuti laki \u2013 laki.<\/li>\n<li>Banci mengikuti laki \u2013 laki.<\/li>\n<li>Perempuan mengikuti banci.<\/li>\n<li>Perempuan mengikuti perempuan.<\/li>\n<\/ol>\n<p><b>Model berjamaah yang tidak sah ada empat, yaitu:<\/b><\/p>\n<ol>\n<li>Laki \u2013 laki mengikuti perempuan.<\/li>\n<li>Laki \u2013 laki mengikuti banci.<\/li>\n<li>Banci mengikuti perempuan.<\/li>\n<li>Banci mengikuti banci.<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 23: Syarat Sah Jamak Taqdim<\/strong><\/h4>\n<p>Ada empat, syarat sah jamak taqdim (menggabung dua shalat diwaktu yang pertama), yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Dimulai dari shalat yang lebih dulu waktunya.<\/li>\n<li>Niat jamak.<\/li>\n<li>Berturut-turut.<\/li>\n<li>Udzurnya terus menerus.<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 24: Syarat Sah Jamak Takhir<\/strong><\/h4>\n<p>Syarat sah jamak takhir ada dua, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Niat ta\u2019khir pada saat masih tersisa waktu shalat yang pertama sekedar lamanya waktu menyelesaikan shalat tersebut.<\/li>\n<li>Udzurnya terus menerus sampai selesai waktu shalat kedua<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 25: Syarat Meng-qashar (meringkas) Shalat<\/strong><\/h4>\n<p>Syarat qashar ada tujuh, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Jarak perjalanan mencapai dua marhalah atau lebih (Sekitar 80 km).<\/li>\n<li>Perjalanan yang dilakukan adalah perjalanan yang mubah (bukan perjalanan untuk mengerjakan maksiat).<\/li>\n<li>Mengetahui hukum kebolehan qashar.<\/li>\n<li>Niat qashar ketika takbiratul `ihram.<\/li>\n<li>Shalat yang diqashar adalah shalat ruba`iyah (shalat yang berjumlah empat rakaat).<\/li>\n<li>Perjalanan dilakukan terus menerus sampai selesai shalat tersebut.<\/li>\n<li>Tidak mengikuti orang yang itmam (orang yang shalatnya tidak di-qashar) dalam sebagian shalatnya.<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 26: Syarat Sah Shalat Jumat<\/strong><\/h4>\n<p>Syarat sah shalat Jum\u2019at ada enam, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Khutbah dan shalat Jumat dilaksanakan setelah masuk waktu Dzuhur.<\/li>\n<li>Shalat Jum\u2019at dilaksanakan dalam batasan wilayah.<\/li>\n<li>Dilaksanakan secara berjamaah.<\/li>\n<li>Jamaah Jum\u2019at minimal berjumlah empat puluh (40) laki-laki merdeka, baligh dan penduduk asli daerah tersebut.<\/li>\n<li>Tidak ada jama\u2019ah jum\u2019at lain yang mendahului dan menandingi pada satu wilayah yang sama.<\/li>\n<li>Shalat jum\u2019at dilaksanakan setelah dua khutbah jum\u2019at.<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 27: Rukun Khutbah Jumat<\/strong><\/h4>\n<p>Rukun khutbah Jum\u2019at ada lima, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Memuji Allah (mengucapkan\u00a0<i>Alhamdulillah<\/i>) dalam dua khutbah tersebut.<\/li>\n<li>Bershalawat kepada Nabi Muhammad dalam dua khutbah tersebut.<\/li>\n<li>Mewasiatkan jamaah untuk bertakwa kepada Allah.<\/li>\n<li>Membaca ayat Al Qur\u2019an dalam salah satu khutbah.<\/li>\n<li>Mendoakan seluruh umat muslim pada akhir khutbah.<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 28: Syarat Sah Khutbah Jumat<\/strong><\/h4>\n<p>Syarat sah khutbah jum\u2019at ada sepuluh, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Suci dari hadas kecil dan hadas besar.<\/li>\n<li>Pakaian, badan dan tempat harus bersih dari semua najis.<\/li>\n<li>Menutup aurat.<\/li>\n<li>Khutbah disampaikan dengan berdiri bagi yang mampu.<\/li>\n<li>Kedua khutbah dipisahkan dengan duduk dengan lama seperti thuma\u2019ninah dalam shalat tetapi lebih lama sedikit.<\/li>\n<li>Kedua khutbah dilaksanakan dengan berurutan.<\/li>\n<li>Khutbah dan shalat Jum\u2019at dilaksanakan secara berurutan.<\/li>\n<li>Kedua khutbah disampaikan dengan bahasa Arab.<\/li>\n<li>Khutbah Jum\u2019at didengarkan oleh 40 orang laki-laki (yang merdeka, baligh serta penduduk asli daerah tersebut).<\/li>\n<li>Semuanya dilaksanakan setelah masuk waktu shalat Dzuhur.<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>BAB IV: Pengurusan Jenazah<\/strong><\/p>\n<h4><strong>Pembahasan 1: Kewajiban Kaum Muslimin Terhadap Jenazah Kaum Muslimin<\/strong><\/h4>\n<p>Kewajiban muslim terhadap saudaranya yang meninggal dunia ada empat perkara, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Memandikan.<\/li>\n<li>Mengkafani.<\/li>\n<li>Menshalatkan.<\/li>\n<li>Menguburkan.<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 2: Cara Memandikan Jenazah<\/strong><\/h4>\n<p>Cara memandikan jenazah sekurang-kurangnya adalah dengan membasahi seluruh badan jenazah dengan air. Adapun cara memandikan jenazah yang paling sempurna adalah dengan membersihkan qubul dan duburnya, membersihkan kotoran dari hidungnya, me-wudhu-kannya, memandikannya sambil digosok dengan air daun bidara dan menyiramnya dengan air sebanyak tiga (3) kali.<\/p>\n<h4><strong>Pembahasan 3: Cara Mengkafani Jenazah<\/strong><\/h4>\n<p>Kafan itu paling minimal dengan sehelai kain yang menutupi seluruh tubuh.<\/p>\n<p>Adapun cara yang sempurna bagi laki-laki adalah dengan menutup seluruh badannya dengan tiga helai kain, sedangkan untuk wanita yaitu dengan baju, khimar (penutup kepala), sarung dan 2 helai kain.<\/p>\n<h4><strong>Pembahasan 4: Rukun Shalat Jenazah<\/strong><\/h4>\n<p>Rukun shalat jenazah ada tujuh (7), yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Niat.<\/li>\n<li>Empat kali takbir.<\/li>\n<li>Berdiri bagi yang mampu.<\/li>\n<li>Membaca Surat Al-Fatihah.<\/li>\n<li>Membaca shalawat atas Nabi sesudah takbir yang kedua.<\/li>\n<li>Berdo\u2019a untuk si mayyit sesudah takbir yang ketiga.<\/li>\n<li>Salam.<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 5: Cara Menguburkan Jenazah<\/strong><\/h4>\n<p>Cara mengubur jenazah sekurang-kurangnya adalah dalam lubang yang mampu menutup bau mayat dan menjaganya dari binatang buas. Cara yang paling sempurna adalah dengan menguburnya di tanah yang cukup dalam dan cukup luas, serta pipinya diletakkan di atas tanah dan wajib menghadapkannya ke arah kiblat.<\/p>\n<h4><strong>Pembahasan 6: Keadaan yang Diperbolehkan Untuk Membongkar Makam<\/strong><\/h4>\n<p>Mayat boleh digali kembali pada empat keadaan, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Untuk dimandikan apabila belum berubah bentuk.<\/li>\n<li>Untuk menghadapkannya ke arah kiblat.<\/li>\n<li>Untuk mengambil harta yang terpendam bersama mayat.<\/li>\n<li>Wanita yang janinnya terkubur bersamanya dan ada kemungkinan janin tersebut masih hidup.<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>Pembahasan 7: Hukum Meminta Bantuan Orang Lain dalam Berwudhu (Isti\u2019anah)<\/strong><\/p>\n<p>Hukum isti\u2019anah ada empat, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Mubah.<\/li>\n<li>Khilaf Aula (menyelisihi yang lebih utama)<\/li>\n<li>Makruh.<\/li>\n<li>Wajib.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Mubah jika hanya meminta untuk diambilkan air. Khilaf aula jika meminta dituangkan air atas orang yang berwudhu. Makruh jika meminta dituangkan air bagi orang yang membasuh anggota-anggota wudhu nya. Wajib meminta dituangkan air bagi orang yang sakit ketika ia lemah.<\/p>\n<p><strong>BAB V: Zakat<\/strong><\/p>\n<p><strong>Pembahasan 1: Harta yang Wajib Dikeluarkan Zakat<\/strong><\/p>\n<p>Harta yang wajib dikeluarkan zakatnya ada enam macam, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Binatang ternak.<\/li>\n<li>Emas dan perak.<\/li>\n<li>Biji-bijian (yang menjadi makanan pokok).<\/li>\n<li>Harta perdagangan. Zakatnya yang wajib dikeluarkan adalah 4\/10 (2,5%) dari hasil perdagangan.<\/li>\n<li>Harta yang terpendam.<\/li>\n<li>Hasil tambang.<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>BAB VI: Puasa<\/strong><\/p>\n<h4><strong>Pembahasan 1: Cara Menentukan Awal Ramadhan<\/strong><\/h4>\n<p>Puasa Ramadhan diwajibkan dengan salah satu ketentuan-ketentuan berikut ini:<\/p>\n<ol>\n<li>Dengan menggenapkan bulan Sya\u2019ban 30 hari.<\/li>\n<li>Dengan melihat bulan, bagi yang melihatnya sendiri, sekalipun ia fasik.<\/li>\n<li>Dengan menetapkannya dengan persaksian yang adil bagi orang yang tidak melihatnya langsung.<\/li>\n<li>Dengan kabar dari seseorang yang adil riwayatnya juga dipercaya kebenarannya, baik yang mendengar kabar tersebut membenarkan ataupun tidak, atau bila yang membawa kabar tidak dipercaya namun orang yang mendengar membenarkannya.<\/li>\n<li>Dengan berijtihad masuknya bulan Ramadhan bagi orang yang meragukan hal tersebut.<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 2: Syarat Sah Puasa<\/strong><\/h4>\n<p>Syarat sah puasa ramadhan ada empat (4), yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Islam.<\/li>\n<li>Berakal.<\/li>\n<li>Suci dari misal darah haid.<\/li>\n<li>Mengetahui waktu yang diperbolehkan untuk berpuasa<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 3: Syarat Wajib Puasa Ramadhan<\/strong><\/h4>\n<p>Syarat wajib puasa ramadhan ada lima, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Islam.<\/li>\n<li>Taklif (dibebankan untuk berpuasa).<\/li>\n<li>Mampu berpuasa.<\/li>\n<li>Sehat.<\/li>\n<li>Muqim (tidak sedang bepergian).<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 4: Rukun Puasa Ramadhan<\/strong><\/h4>\n<p>Rukun puasa ramadhan ada tiga, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Niat pada setiap malamnya.<\/li>\n<li>Menjauhkan diri dari segala yang membatalkan puasa ketika masih dalam keadaan ingat, bisa memilih (tidak ada paksaan) dan tidak dalam ketidaktahuan yang dimaafkan.<\/li>\n<li>Berpuasa.<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 5: Qadha, Kafarat, dan Imsak<\/strong><\/h4>\n<p>Hukuman bagi orang yang membatalkan puasanya satu hari di bulan Ramadhan dengan sebab bersetubuh adalah diwajibkan baginya untuk mengqadha puasanya dan wajib membayar kafarat udzma serta teguran keras karena telah merusak puasanya.<\/p>\n<p>Diwajibkan mengqadha puasa disertai harus menahan diri (dari makan dan minum sampai waktu berbuka-pent.) pada enam kondisi:<\/p>\n<ol>\n<li>Orang yang membatalkan puasa dengan sengaja. Ini hanya berlaku di bulan Ramadhan saja.<\/li>\n<li>Orang yang meninggalkan niat pada malam hari untuk puasa yang wajib.<\/li>\n<li>Orang yang bersahur karena menyangka masih malam, padahal fajar telah terbit.<\/li>\n<li>Orang yang berbuka puasa karena menduga matahari sudah terbenam, padahal matahari belum terbenam.<\/li>\n<li>Orang yang meyakini bahwa hari tersebut akhir bulan Sya\u2019ban tanggal tiga puluh, padahal sudah tanggal satu ramadhan.<\/li>\n<li>Orang yang terlanjur meminum air dari kumur-kumur atau dari air yang dimasukkan ke hidung.<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 6: Pembatal Puasa<\/strong><\/h4>\n<p>Pembatal puasa ada 6, yakni:<\/p>\n<ol>\n<li>Murtad.<\/li>\n<li>Haid.<\/li>\n<li>Nifas.<\/li>\n<li>Melahirkan.<\/li>\n<li>Gila sekalipun sebentar<\/li>\n<li>Pingsan dan mabuk yang disengaja jika terjadi sepanjang siang.<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 7: Hukum Membatalkan Puasa dan Hukumannya<\/strong><\/h4>\n<p><b>Membatalkan puasa di siang Ramadhan terbagi empat macam, yaitu:\u00a0<\/b><\/p>\n<ol>\n<li>Diwajibkan, seperti wanita yang haid atau nifas.<\/li>\n<li>Diperbolehkan, seperti orang yang bepergian dan orang yang sakit.<\/li>\n<li>Tidak diwajibkan, tidak pula diperbolehkan kan, seperti orang gila.<\/li>\n<li>Diharamkan, seperti orang yang menunda qadha Ramadhan, padahal sebenarnya ia kemungkinan dapat melaksanakannya sampai waktu qadha tersebut habis.<\/li>\n<\/ol>\n<p><b>Orang-orang yang membatalkan puasanya diwajibkan mengganti puasanya dengan 4 cara, yaitu:\u00a0<\/b><\/p>\n<ol>\n<li>Orang yang diwajibkan mengqadha dan membayar fidyah . Ada dua macam: (a) wanita yang membatalkan puasanya karena mengkhawatirkan keadaan bayinya dan (b) orang yang menunda qadha puasanya sampai tiba Ramadhan berikutnya.<\/li>\n<li>Orang yang diwajibkan mengqadha tanpa membayar fidyah, seperti orang yang pingsan.<\/li>\n<li>Orang yang diwajibkan membayar fidyah tanpa meng-qadha, seperti orang yang sangat tua (yang tidak mampu lagi berpuasa).<\/li>\n<li>Orang yang tidak diwajibkan mengqadha dan tidak perlu membayar fidyah, seperti orang gila yang tidak dibuat-buat.<\/li>\n<\/ol>\n<h4><strong>Pembahasan 8: Makan dan Minum yang Tidak Membatalkan Puasa<\/strong><\/h4>\n<p>Keadaan-keadaan yang tidak membatalkan puasa meskipun (makanan\/minuman) sudah masuk ke rongga mulut (tertelan) ada tujuh macam, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Melakukannya dalam keadaan lupa.<\/li>\n<li>Tidak mengetahui hukumnya.<\/li>\n<li>Dipaksa oleh orang lain.<\/li>\n<li>Ketika kemasukan sesuatu ke dalam rongga mulut, sebab air liur yang mengalir di antara gigi-giginya, sedangkan ia tidak mungkin mengeluarkannya.<\/li>\n<li>Ketika kemasukan debu jalanan ke dalam rongga mulut.<\/li>\n<li>Ketika kemasukan sesuatu dari ayakan tepung ke dalam rongga mulut.<\/li>\n<li>Ketika kemasukan lalat yang sedang terbang ke dalam rongga mulut.<\/li>\n<\/ol>\n<\/div>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"9Ht6UrfdJm\"><p><a href=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/pengumuman\/link-rekaman-webinar-daurah-syafinatun-naja\/\">Link Rekaman Webinar Daurah Syafinatun Naja&#8217;<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;Link Rekaman Webinar Daurah Syafinatun Naja&#8217;&#8221; &#8212; Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\" src=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/pengumuman\/link-rekaman-webinar-daurah-syafinatun-naja\/embed\/#?secret=LYmcAHRR36#?secret=9Ht6UrfdJm\" data-secret=\"9Ht6UrfdJm\" width=\"600\" height=\"338\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>Demikian sebagai catatan tentang Isi Kitab Syafinatun Naja&#8217; dan Perolehan Ijazah sanad kitab dari Daurah Syafinatun Naja&#8217; . Wallahu &#8216;alam bish-shawab. (*)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>(* <strong>Muhammad Farid Wajdi<\/strong>, Guru Al-Qur&#8217;an-Hadits\/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.<\/p>\n","protected":false},"featured_media":9146,"template":"","class_list":["post-9239","prestasi","type-prestasi","status-publish","has-post-thumbnail","hentry"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.6 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Meraih Ijazah Sanad Kitab Fikih Dasar: Syafinatun Naja&#039; - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) Related Post: Mengenal Kitab Fikih Syafinatun Naja&#039; BLOGGURU - Ilmu Fikih adalah salah satu khazanah keilmuan Islam yang\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/prestasi\/meraih-ijazah-sanad-kitab-fikih-dasar-syafinatun-naja\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Meraih Ijazah Sanad Kitab Fikih Dasar: Syafinatun Naja&#039; - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) Related Post: Mengenal Kitab Fikih Syafinatun Naja&#039; BLOGGURU - Ilmu Fikih adalah salah satu khazanah keilmuan Islam yang\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/prestasi\/meraih-ijazah-sanad-kitab-fikih-dasar-syafinatun-naja\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-07-31T02:14:41+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/IMG20200505190503.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"650\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"431\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"22 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/prestasi\\\/meraih-ijazah-sanad-kitab-fikih-dasar-syafinatun-naja\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/prestasi\\\/meraih-ijazah-sanad-kitab-fikih-dasar-syafinatun-naja\\\/\",\"name\":\"Meraih Ijazah Sanad Kitab Fikih Dasar: Syafinatun Naja' - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/prestasi\\\/meraih-ijazah-sanad-kitab-fikih-dasar-syafinatun-naja\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/prestasi\\\/meraih-ijazah-sanad-kitab-fikih-dasar-syafinatun-naja\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/01\\\/IMG20200505190503.jpg\",\"datePublished\":\"2022-08-02T01:29:47+00:00\",\"dateModified\":\"2025-07-31T02:14:41+00:00\",\"description\":\"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) Related Post: Mengenal Kitab Fikih Syafinatun Naja' BLOGGURU - Ilmu Fikih adalah salah satu khazanah keilmuan Islam yang\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/prestasi\\\/meraih-ijazah-sanad-kitab-fikih-dasar-syafinatun-naja\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/prestasi\\\/meraih-ijazah-sanad-kitab-fikih-dasar-syafinatun-naja\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/prestasi\\\/meraih-ijazah-sanad-kitab-fikih-dasar-syafinatun-naja\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/01\\\/IMG20200505190503.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2023\\\/01\\\/IMG20200505190503.jpg\",\"width\":650,\"height\":431,\"caption\":\"Mengikuti Daurah Online. (foto: ist\\\/*)\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/prestasi\\\/meraih-ijazah-sanad-kitab-fikih-dasar-syafinatun-naja\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Prestasi\",\"item\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/prestasi\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":3,\"name\":\"Meraih Ijazah Sanad Kitab Fikih Dasar: Syafinatun Naja&#8217;\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\",\"name\":\"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep\",\"description\":\"Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#organization\",\"name\":\"IMMIM Pangkep\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/06\\\/cropped-immim.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/06\\\/cropped-immim.png\",\"width\":512,\"height\":512,\"caption\":\"IMMIM Pangkep\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/immimpangkep.ponpes.id\\\/blogguru\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Meraih Ijazah Sanad Kitab Fikih Dasar: Syafinatun Naja' - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","description":"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) Related Post: Mengenal Kitab Fikih Syafinatun Naja' BLOGGURU - Ilmu Fikih adalah salah satu khazanah keilmuan Islam yang","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/prestasi\/meraih-ijazah-sanad-kitab-fikih-dasar-syafinatun-naja\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Meraih Ijazah Sanad Kitab Fikih Dasar: Syafinatun Naja' - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","og_description":"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) Related Post: Mengenal Kitab Fikih Syafinatun Naja' BLOGGURU - Ilmu Fikih adalah salah satu khazanah keilmuan Islam yang","og_url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/prestasi\/meraih-ijazah-sanad-kitab-fikih-dasar-syafinatun-naja\/","og_site_name":"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","article_modified_time":"2025-07-31T02:14:41+00:00","og_image":[{"width":650,"height":431,"url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/IMG20200505190503.jpg","type":"image\/jpeg"}],"twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Estimasi waktu membaca":"22 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/prestasi\/meraih-ijazah-sanad-kitab-fikih-dasar-syafinatun-naja\/","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/prestasi\/meraih-ijazah-sanad-kitab-fikih-dasar-syafinatun-naja\/","name":"Meraih Ijazah Sanad Kitab Fikih Dasar: Syafinatun Naja' - Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","isPartOf":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/prestasi\/meraih-ijazah-sanad-kitab-fikih-dasar-syafinatun-naja\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/prestasi\/meraih-ijazah-sanad-kitab-fikih-dasar-syafinatun-naja\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/IMG20200505190503.jpg","datePublished":"2022-08-02T01:29:47+00:00","dateModified":"2025-07-31T02:14:41+00:00","description":"Oleh: Muhammad Farid Wajdi *) Related Post: Mengenal Kitab Fikih Syafinatun Naja' BLOGGURU - Ilmu Fikih adalah salah satu khazanah keilmuan Islam yang","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/prestasi\/meraih-ijazah-sanad-kitab-fikih-dasar-syafinatun-naja\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/prestasi\/meraih-ijazah-sanad-kitab-fikih-dasar-syafinatun-naja\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/prestasi\/meraih-ijazah-sanad-kitab-fikih-dasar-syafinatun-naja\/#primaryimage","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/IMG20200505190503.jpg","contentUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/IMG20200505190503.jpg","width":650,"height":431,"caption":"Mengikuti Daurah Online. (foto: ist\/*)"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/prestasi\/meraih-ijazah-sanad-kitab-fikih-dasar-syafinatun-naja\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Prestasi","item":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/prestasi\/"},{"@type":"ListItem","position":3,"name":"Meraih Ijazah Sanad Kitab Fikih Dasar: Syafinatun Naja&#8217;"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#website","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/","name":"Blog Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep","description":"Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan","publisher":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#organization","name":"IMMIM Pangkep","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/cropped-immim.png","contentUrl":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/cropped-immim.png","width":512,"height":512,"caption":"IMMIM Pangkep"},"image":{"@id":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/#\/schema\/logo\/image\/"}}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/prestasi\/9239","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/prestasi"}],"about":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/types\/prestasi"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9146"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/immimpangkep.ponpes.id\/blogguru\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9239"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}