Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep

Jl. H Fadeli Luran, Biraeng, Minasatene-Pangkep

Bersatu dalam Aqidah,Toleransi Masalah Furuiyah dan Khilafiyah

Pentingnya berada di Lingkungan yang Tepat

Sabtu, 06 Juni 2020 - Oleh Immim Pangkep - Dibaca 247 Kali

 

Oleh: Muhammad Farid Wajdi

Lihat pula: Mengapa Harus Mondok di Pesantren?

IMMIMPANGKEP - Apa pentingnya menjadi santri? Apa manfaatnya berada di lingkungan pesantren? Apa gunanya berada di lingkungan yang selalu peduli dengan pendidikan dan pengajaran agama?

Mengapa harus menjadi seorang santri dan berada di lingkungan pesantren, jika di luar sana menawarkan begitu banyak kesenangan?

Mengapa harus berada di pesantren, saat di luar sana tidak perlu capek belajar dan menghafal begitu banyak pelajaran, tidak perlu capek menghafal Alqur'an dan Hadits, dan lain sebagainya.

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini seringkali muncul di benak calon santriwati, bahkan mereka yang menjadi santri sekalipun masih sering bertanya pada dirinya sendiri, "Mengapa harus ada di pesantren?"

Lihat pula: Syaikh Sayyid Thanthawi: Cukuplah diri dengan Mengejar Ridha Allah

Saya pribadi, kagum pada orangtua yang tulus dan ikhlas melepas anaknya yang masih belia untuk menuntut ilmu di pesantren. Bukan hanya pertimbangan pergaulan anak jaman sekarang yang mengkhawatirkan, tapi pertimbangan bahwa pada akhirnya segala apa yang kita lakukan di dunia ini, suatu saat akan dimintai pertanggung-jawaban di hadapan Allah SWT, di hari kiamat, di hari perhitungan.

Ya, pada akhirnya tujuan akhir setiap orang adalah hidup sesudah kematian. Dunia ini hanya persinggahan, tempat sementara untuk mendapatkan bekal yang banyak dan berarti untuk perjalanan panjang di Hari Akherat.

Sebaik-baik bekal di dunia adalah yang dapat memaknai dirinya dengan konsep dan tujuan hidup yang jelas. Tempat yang cocok untuk pemaknaan tersebut adalah pesantren, lingkungan keislaman yang terjaga, penjara suci, sebaik-baik pendidikan berbekal pengajaran agama, dan sebaik-baik tempat belajar adab dan ilmu keislaman.

Para ulama telah berpesan, "Belajarlah banyak adab, sebelum belajar ilmu." Ada banyak tempat, sekolah dan lembaga pendidikan yang menawarkan beragam ilmu-ilmu modern, dengan kemampuan berbahasa asing dan fasilitas yang canggih, namun semua sekolah itu menjadi tidak berarti jika tak ada pengajaran adab, akhlak dan budi pekerti, serta ilmu-ilmu al-Qur'an didalamnya.

Lihat pula: Ikatlah Ilmu dengan Menulis

Ingat-ingatlah kisah yang menarik berikut ini,

Suatu waktu seorang santri sedang membersihkan aquarium di rumah ustadznya. Sang santri begitu terkagum-kagum menyaksikan kecantikan dan pesona ikan arwana merah dalam aquarium itu. 

Tak sadar Ustadnya sudah memperhatikannya sejak tadi. Saat berada di belakangnya, sang ustadz bertanya, "Kamu tahu berapa harga ikan itu, nak?"

"Tidak tahu" - Jawab si Santri.

"Cobalah tawarkan kepada tetangga sebelah!". Perintah sang Ustadz.

Santri tadi lalu memotret ikan itu dan menawarkan ke tetangga.

Setelah itu, ia kembali menghadap kepada ustadznya.

"Ditawar berapa nak?" tanya sang Ustadz.

"50.000 Rupiah, Ustadz". Jawab si Santri mantap.



"Tunggu dulu. Coba bawa foto ikan itu kembali, tapi tawarkan ke toko ikan hias!". Perintah sang ustadz lagi.

"Baiklah Ustadz". Jawab si santri. Kemudia ia beranjak ke toko ikan hias.

"Berapa ia menawar ikan hias itu?" Tanya sang ustadz.

"Mahal juga, ustadz. Pemilik Toko Ikan hias itu menawar Rp. 800.000, Ustadz". Jawab si santri.

Si Santri sudah gembira dengan harga yang naik drastis itu, dikiranya Ustadznya akan menjual ikan itu.

"Tunggu dulu. Sekarang coba kamu tawarkan ikan hias arwana merah itu kepada Si Fulan, bawa pula ini sebagai bukti bahwa ikan itu sudah pernah ikut lomba". Perintah sang Ustadz lagi.

"Baik Ustadz". Jawab si Santri.

Kemudian Sang Santri pergi menemui si Fulan seperti yang disebutkan oleh gurunya Setelah selesai, ia pulang menghadap sang guru.

"Berapa Si Fulan menawar ikannya?".

"50 juta Rupiah, Ustadz".

Seperti tak percaya, sang santri melaporkan bahwa Si Fulan benar-benar menawar harga ikan hias arwana merah itu dengan harga Rp.50 juta.

"Bagaimana harga ikan hias itu menjadi berbeda-beda, ustadz?" tanya sang santri.

"Nak, ketahuilah bahwa aku sedang mengajarkan kepadamu pemaknaan tentang pentingnya berada di lingkungan yang tepat. Bahwa kamu hanya akan dihargai dengan benar ketika kamu berada di lingkungan yang tepat".

"Hal ini sama saja dengan sebotol air dalam kemasan, harga bisa hanya Rp. 5000,-. Tapi akan berbeda harganya jika botol kemasan itu diisi dengan sirop, jus, dan madu. Juga akan tidak ada harganya jika botol kemasan itu diisi misalnya dengan comberan".

"Begitu pula dengan harga dirimu. Disinilah pentingnya berada di lingkungan yang tepat, berada di pesantren misalnya, dengan pikiran dan hatimu diisi dengan pelajaran agama, tingkah lakumu terjaga, adab dan pengetahuan senantiasa terpelihara."

"Oleh karena itu, jangan pernah kamu tinggal di tempat yang salah lalu marah karena tidak ada yang menghargaimu. Mereka yang mengetahui nilai kamu itulah yang akan selalu menghargaimu".

 

كُلُّنَا اَشْخَاصٌ عَادِيٌّ فِي نَظْرِ مَنْ لاَ يَعْرِفُنَا

 

Kita semua adalah orang biasa dalam pandangan orang-orang yang tidak mengenal kita.

 

وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ رَائِعُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يَفْهَمُنَا

 

Kita adalah orang yang menarik di mata orang yang memahami kita.


وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ مُمَيِّزُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يُحِبُّنَا

 

Kita istimewa dalam penglihatan orang-orang yang mencintai kita.

 

وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ مَغْرُوْرُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يَحْسُدُنَا

 

Kita adalah pribadi yang menjengkelkan bagi orang yang penuh kedengkian terhadap kita.

 

وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ سَيِّئُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يَحْقِدُ عَلَيْنَا

 

Kita adalah orang-orang jahat di dalam tatapan orang-orang yang iri akan kita.

 

لِكُلِّ شَخْصٍ نَظْرَتُهُ، فَلاَ تَتْعَبْ نَفْسَكَ لِتُحْسِنَ عِنْدَ الآخَرِيْنَ

 

Pada akhirnya, setiap orang memiliki pandangannya masing masing, maka tak usah berlelah-lelah agar tampak baik di mata orang lain.

 

يَكْفِيْكَ رِضَا اللّٰهُ عَنْكَ ، رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لاَ تُدْرَك

 

Cukuplah dengan ridha Allah bagi kita, sungguh mencari ridha manusia adalah tujuan yang takkan pernah tergapai.

 

وَرِضَا اللّٰهُ غَايَةٌ لاَ تُتْرَك ، فَاتْرُكْ مَا لاَ يُدْرَكْ ، وَاَدْرِكْ مَا لاَ يُتْرَكْ

 

Sedangkan Ridha Allah, destinasi yang pasti sampai, maka tinggalkan segala upaya mencari keridhaan manusia, dan fokus saja pada ridha Allah.

Demikian, semoga bermanfaat adanya. Wallahu 'alam bish-shawab. (*)

 

Muhammad Farid Wajdi, Humas dan Penanggung Jawab TIK Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep. 

 

 

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT