Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep

Jl. H Fadeli Luran, Biraeng, Minasatene-Pangkep

Bersatu dalam Aqidah,Toleransi Masalah Furuiyah dan Khilafiyah

Dua Pengasuh Ponpes Putri IMMIM Bahas Bissu

Minggu, 24 Februari 2019 - Oleh Immim Pangkep - Dibaca 32 Kali

 

PANGKEP – Eksistensi komunitas tradisional Bissu Dewatae' di Pangkep menarik perhatian mahasiswa untuk mendialogkannya. Bertempat di Ruang Pola Kantor Bupati Pangkep, Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Pangkep (IPPMP) Koordinator Universitas Muslim Maros (UMMA) menyelenggarakan Dialog Kebudayaan bertema Revitalisasi Budaya Bissu, Senin (18/2/2019).

Ketua IPPMP Koordinator UMMA, Arman menuturkan bahwa Bissu di Pangkep semakin hari berkurang, pemerintah juga mulai tidak memperhatikan Bissu lagi sebagai potensi wisata budaya. Padahal Bissu ini adalah aset kebudayaan yang dimiliki Pangkep. “Kami mengundang pelajar SMA/SMK, sanggar seni dan pemerhati budaya untuk mendialogkan masalah Revitalisasi Bissu ini, sebagai wujud perhatian terhadap Kebudayaan khas Pangkep,” ungkapnya.

Kegiatan Dialog Kebudayaan ini dibuka oleh Staf Ahli Bupati, Ir H. Djafar, M.Si dan menampilkan pembicara M. Farid W Makkulau, Pemerhati Budaya, Ustadz Mahrus Amri, Lc, MA, Akademisi, Asri Taliu, Pemerhati Budaya dan Suryana, SE, Kabid Kebudayaan Disbudpar setempat. Sebelumnya ditampilkan seni tari maggiri oleh dua orang Bissu.
Foto bersama Pembicara dengan Panitia Dialog Kebudayaan Pangkep.

Menarik apa yang dikemukakan oleh dua pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep, yaitu Muhammad Farid Wajdi dan Ustadz Mahruz Amri dalam dialog kebudayaan bertema Revitalisasi Budaya Bissu tersebut. Bissu di Pangkep dalam konteks kekinian sangat berbeda jauh dengan Bissu pada masa lampau, terkait fungsi dan perannya, jumlah dan apresiasi sosial yang didapatnya, dari segi teknis pelaksanaan upacara adat yang dilaksanakannya, serta dari aspek kehidupan ekonominya.

"Revitalisasi terhadap Eksistensi Komunitas Bissu hanya bisa dilakukan oleh Bissu itu sendiri, karena ada unsur ritualisme yang melekat pada komunitas ini, yang tidak bisa sepenuhnya dipahami oleh orang dari luar komunitasnya, termasuk panggilan spiritual menjadi Bissu dan kesakralan terkait kepercayaan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari seni tari maggiri yang ditampilkannya,” jelas M. Farid W Makkulau, Pemerhati Budaya yang juga Humas Ponpes Putri IMMIM Pangkep.

Sementara itu, Ustadz Mahruz Amri yang juga Pengajar di Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep mengungkapkan bahwa antara agama dan budaya tidak bisa disandingkan. "Agama itu payung. Budaya dibawah dan tidak boleh bertentangan dengan agama. Agama (Islam) sebagai Produk Ilahi (Tuhan), sedangkan Budaya adalah Produk Manusia. Budaya bisa saja berubah sesuai perkembangan pikiran dan kemajuan manusia, sedangkan agama, dalam hal ini Islam kebenarannya bersifat mutlak dan tidak bisa diganggu gugat, jelas Alumni Universitas Al-Azhar Mesir ini. (*)

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT