
Hafidz Qur’an. (foto: ist/*)
BLOGGURU – Imam Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Al-Quran ini telah dibaca oleh para hamba dan anak-anak yang tidak mengerti takwilnya, tak memahami persoalan dari awalnya. Allah Ta’ala berfirman:
Artinya:
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memerhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapat pelajaran.” (QS Shad [38]: 29)
Tidaklah merenungkan ayat-ayat Allah kecuali orang yang mengikuti-Nya. Demi Allah, tidaklah ia menghafal huruf-huruf-nya, tetapi melupakan batasan-batasannya hingga seseorang berkata, “Aku telah membaca al-Quran, seluruhnya. Aku tak meninggalkan satu huruf pun,” padahal demi Allah ia telah meninggalkan semuanya. Tidaklah al-Quran ditampakkan dalam makhluk maupun amal hingga seseorang berkata, “Demi Allah sesungguhnya aku membaca satu surat dalam sekali napas.” “Tidak, demi Allah mereka bukanlah pembaca, bukan pala ulama, bukan hukama’ (hakim) dan bukan pula wira’i. Kapankah bacaan menjadi seperti ini? Atau ia berkata demikian? Semoga Allah tidak memperbanyak orang seperti mereka.”
[Sumber: al-Bidayah wa an-Nihayah, jilid 9, hlm. 270]
Kaya dengan al-Quran
Imam Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Demi Allah tak ada kekayaan tanpa al-Quran dan tak ada kemelaratan selain meninggalkan al-Quran”
[Sumber: Ihya Ulum ad-Din, jilid 1, hlm. 274]
Keutamaan Membaca al-Quran
al-Imam as-Sya’bi – ‘Amir bin Syarahil rahimahullahu ta’ala berkata:
Artinya:
“Barangsiapa yang membaca al-Quran, niscaya tidak menimpanya penyakit pikun.”
[Sumber: Ibnu Abid Dunya, al-‘Umur Wasy Syaib, no. 79]
Penghafal al-Quran
Imam Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Penghafal al-Quran ada tiga orang:
Pertama, orang yang membawa barang dagangan lalu membawanya dari kota ke kota untuk mendapatkan apa yang dimiliki orang.
Kedua, orang yang menghafal huruf-huruf al-Quran dan melalaikan hukum-hukumnya, kemudian digunakan untuk mendukung para penguasa dan mencela anak negerinya. Penghafal al- Quran semacam ini juga banyak dan semoga Allah tidak memperbanyak mereka lagi.
Ketiga, ada orang yang membaca al-Quran lalu meletakkan obatnya pada penyakit hatinya, begadang malam, kedua matanya bercucuran air mata, berhias khusyuk, berpakaian ketenangan dan merasakan kesedihan. Demi Allah, penghafal al-Quran semacam ini sangat sedikit. Karena mereka Allah menyiramkan hujan, menurunkan pertolongan, dan mengusir bencana.”
[Sumber: al-Tad al-Farid, jilid 2, hlm. 89]