Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Mashdar Muawwal dan Contohnya

Mashdar Muawwal dan Contohnya

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Apa sebenarnya yang dimaksud Masdar Muawwal dalam Ilmu Nahwu, dan bagaimana contohnya? Mashdar muawwal adalah susunan huruf mashdariyyah dan jumlah mufidah serta bisa ditakwil dengan mashdar sharih. Yang bisa ditakwil disini adalah bahwa mashdar muawwal sebanding atau semakna dengan mashdar sharihnya, atau dalam pengertian sederhananya, Mashdar Muawwal (المَصْدَرُ المُؤَوَّل) yaitu mashdar yang ditakwil dari Huruf-huruf Mashdar, disebut juga Huruf Mausulah.

Huruf mashdariyyah ada 7 (tujuh), yaitu:

1. (أَنْ) mashdariyyah, apabila bersambung dengan fi’il mutasorrif, sama saja fiil madhi, mudhori’ ataupun amr, contohnya :

 

أَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لكم

atau

أَنْ تُصَلِّيَ خَيْرٌ لَكَ (صَلَاتُكَ خَيْرٌ لَكَ)

Artinya: Engkau shalat lebih baik bagimu.

Yaitu takdirnya صَوْمُكم atau صِيَامُكم pada mahalnya rofa’ sebagai mubtada’.

Contoh lainnya dalam hadits Rasulullah SAW:

 

الغِيْبَةُ أنْ تَذْكُرَ أخاك بما يكره

Artinya:

“Ghibah itu, Engkau menyebutkan sesuatu tentang saudaramu yang ia benci.” (Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 2589)

Yaitu takdirnya ذِكْرَك أخاك pada mahalnya rofa’ sebagai khobar.

Contoh lainnya : وَيُرِيْدُ اللّهُ أن يُحِقَّ الحقَ

Yaitu takdirnya إحْقاقَ الحقِّ pada mahalnya nashob sebagai maf’ul bih.

Contoh lainnya : يَسُرُّنِيْ أنْ تَجْتَهِد

Yaitu takdirnya اجْتِهادُك pada mahalnya rofa’ sebagai fail.

Contoh lainnya : عَجِبْتُ أنْ تأخّرْتَ

Yaitu takdirnya تأخُّرَك yaitu pada mahal nashob sebagai maf’ul bih.

Cara mentakdirkannya adalah dengan cara mencari mashdar dari fi’il tersebut, kemudian merubah dhomir fail pada fi’il menjadi dhomir jar muttasil, kemudian diidhofakan mashdar padanya. Kecuali apabila failnya sama, maka cukup cari mashdarnya saja, contohnya adalah:

أرِيْدُ أنْ أُسافرَ

 

Fail dari أريد dan أسافر adalah sama, maka cukup ditakdirkan أريد السَّفَرَ

Apabila pada fiil terdapat dhomir nashob muttashil, maka datangkan dhomir nashob munfasil, semisal :

 

أريد أنْ تَضْرِبَهُ

 

Maka takdirnya ضَرْبَك إيّاهُ yaitu maknanya “aku ingin engkau memukulnya”.

2.  Huruf (أَنَّ),  isim dan khobarnya, contohnya :

 

سَرَّنِيْ أنك مُجتَهِد

 

Maka takdirnya اجْتِهادُك yaitu pada mahalnya rofa’ sebagai fail.

Contoh dalam Qur’an :

 

ولا تَخافُوْن أنّكم أشْركْتُم بالله

 

Yaitu إشْرَاكَكُم pada mahalnya nashob sebagai maf’ul bih.

Cara mentakdirkan mashdar untuk أنَّ isim dan khobarnya :

– Apabila khobarnya dari fi’il mutasharrif atau isim mustaq, maka datangkan mashdarnya dan idhofakan pada isim أنّ seperti contoh yang telah lewat.

– Apabila khobarnya isim atau fi’il jamid, maka ditakwil dengan lafadz كَوْن yang diidhofakan pada isim أنّ contohnya adalah:

 

بَلَغَنِيْ أنَّ زيدًا أخُوْك

 

Maka takdirnya كَوْنُ زيدٍ أخاك yaitu pada mahal rofa’ sebagai fail.

• Apabila berupa jar majrur atau dzorof, maka ditakwil dengan lafadz استِقْرار atau semisalnya, kemudian diidhofakan pada isimnya أنّ contohnya adalah:

 

بَلَغَنيْ أن زيدًا في المسجد

 

Yaitu takdirnya استقرارُ زيدٍ في المسجد yaitu pada mahalnya rofa sebagai fail.

• Apabila khobar أنّ manfi, maka didatangkan lafadz عَدَم kemudian diidhofakan pada mashdar, contohnya :

 

وَثَقْتُ أنَّك لا تُهمِل

 

Yaitu takdirnya عدمَ إهمالِك pada mahalnya nashob maf’ul bih.

Apabila mashdar muawwal terletak setelah fi’il yang menashobkan dua maf’ul, maka mashdar muawwal pada mahalnya dua maf’ul tersebut, contohnya :

 

ظنَنْتُ أنَّ زيدًا قائم

 

Takdirnya كوْنَ زيدٍ قائمًا pada kedudukan nashob sebagai 2 maf’ulnya ظَنّ

3.  Huruf  (مَا) mashdariyyah,  ما المصدرِيّة digunakan dalam dua bentuk :

• Mashdariyah bukan dzorof ما المصدريّة غيْرُ الظرفيّة contohnya adalah:

 

ﻭَﺩُّﻭﺍ ﻣﺎ ﻋَﻨِﺘُّﻢ

 

Yaitu ﻭَﺩُّﻭﺍ ﻋَﻨَﺘَﻜُﻢ pada mahalnya nashob sebagai maf’ul bih.

• Mashdariyah dzorfiyah ما المصدرية الظرفيّة contohnya :

 

ﻭﺃَﻭْﺻَﺎﻧِﻲ ﺑﺎﻟﺼَّﻼﺓ ﻭﺍﻟﺰَّﻛﺎﺓِ ﻣﺎ ﺩُﻣْﺖُ ﺣﻴًّﺎ ‏

 

Yaitu ﻣُﺪَّﺓَ ﺩَﻭﺍﻣِﻲْ ﺣﻴّﺎ pada mahalnya nashob zorof zaman.

Contoh lainnya:

 

أَتَمَسَّكُ بِدِيْنِيْ مَا عِشْتُ (أَتَمَسَّكُ بِدِينِي مُدَّةَ عَيْشِيْ)

 

Artinya: Aku akan berpegang teguh dengan agamaku selama aku hidup.

4. Huruf كَيْ mashdariyah menjadi huruf mashdariyah, dengan syarat didahului huruf jar lam, baik tampak ataupun ditakdirkan :

 

احترم الناس لِكَيْ يَحْتَرِمُوْك

 

Yaitu لِاحْتِرامِك majrur dengan huruf lam.

Contoh huruf jarnya ditakdirkan :

 

ذهَبْتُ كَيْ أدرُسَ

 

Takdirnya لِلدراسةِ

Contoh dalam Qur’an :

 

لِكَيْ لا يكون دُوْلةً

 

Yaitu لِعدم كونِه دولةً majrur dengan lam.

Contoh lainnya:

 

اِجْتَهِدْ لِكَيْ تَنْجَحَ (اِجْتَهِدْ لِنَجَاحِكَ)

 

Artinya: Bersungguh-sungguhlah supaya engkau berhasil!

5. Huruf لو mashdariyah kebanyakan terjadi pada fi’il وَدّ dan mudori’nya يوَدّ contohnya :

 

ودّوا لو تدهن فيدهنون

 

Yaitu إدهانَك pada mahal nashob sebagai maf’ul bih.

 

يودّ أحدهم لو يُعمَّر ألف سنة

 

Yaitu تعبيرَه pada mahal nashob maf’ul bih.

Contoh lainnya:

 

وَدَّ أَبُوكَ لَوْ نَجَحْتَ (وَدَّ أَبُوكَ نَجَاحَكَ)

 

Artinya: Ayahmu menginginkan supaya kamu berhasil.

6. Hamzah taswiyah همزة التسوية hamzah ini terletak setelah lafadz سواء contohnya :

 

سواء عليهم أأنذرتهم أم لم تنذرهم

 

Takdirnya :

 

سواء عليهم إنذارُك إياهم أم عدم إنذارِك إياهم

 

Yaitu إنذارُك yang pertama sebagai mubtada’ dan إنذارِك sebagai mudhof ilaih.

Contoh lainnya :

 

سواء علينا أوعظت أم لم تكن من الواعظين

 

Yaitu takdirnya وعْظُك pada mahalnya rofa’ mubatada’ muakkhor.

Contoh lainnya:

 

سَوَاءٌ عَلَيَّ أَجَلَسْتَ أَمْ لَمْ تَجْلِسْ (سَوَاءٌ عَلَيَّ جُلُوْسُكَ أَمْ عَدَمُ جُلُوْسِكَ)

 

Artinya: Sama saja bagiku apakah engkau duduk atau tidak duduk.

7. Huruf الذي disebutkan oleh beberapa Ulama Nahwu, semisal Yunus, al-Faraa’, dan Ibnu Malik, mereka membawakan contoh :

 

وَخُضْتم كالذي خاضوا

 

Yaitu كخوضِهم majrur dengan huruf jar kaf.

Namun yang rojih bahwa الذي pada ayat di atas adalah isim maushul, bukan huruf mashdariyah.

Dari ketujuh huruf mashdariyyah di atas, kata (أَنَّ) setelahnya harus jumlah ismiyyah. Adapun selain (أَنَّ) setelahnya adalah jumlah’ fi’liyyah.

Kedudukan ‘Irab Mashdar Muawwal

Adapun ‘irabnya tergantung kedudukannya dalam kalimat. Tentunya sebagai isim bisa menduduki sebagai marfu’, manshub, atau majrur. Berikut contoh kedudukan mashdar muawwal dalam kalimat:

1. Mubtada’

 

أَنْ تَصُومُوا خَيرٌ لَكُمْ (صِيَامُكُمْ خَيرٌ لَكُمْ)

 

‘Irabnya rafa’ karena berkedudukan sebagai mubtada’.

2. Fa’il

 

يَسُرُّنِيْ أَنَّكَ مُجْتَهِدٌ (يَسُرُّنِيْ اِجْتِهَادُكَ)

 

‘Irabnya rafa’ karena berkedudukan sebagai fa’il.

3. Naibul Fa’il

 

عُلِمَ أَنَّكَ نَجَحْتَ (عُلِمَ نَجَاحُكَ)

 

‘Irabnya rafa’ karena berkedudukan sebagai naibul fa’il.

4. Maf’ul Bih

 

أُحِبُّ أَنْ تَصُوْمَ (أُحِبُّ صِيَامَكَ)

 

‘Irabnya nashab karena berkedudukan sebagai maf’ul bih.

5. Majrur

اِجْلِسْ كَمَا جَلَسَ العَالِمُ (اِجْلِسْ كَجُلُوْسِ العَالِمِ)

‘Irabnya jar karena berkedudukan sebagai majrur.

Mentakwil Mashdar Muawwal

1. Bila sesudah huruf mashdariyyah adalah fi’il, maka mentakwilnya adalah dengan mengambil bentuk mashdar dari fi’il tersebut dan diidhafahkan dengan fa’ilnya.

 

أَنْ تَصُوْمَ (صِيَامُكَ)

 

2. Bila huruf mashdariyyahnya (أَنَّ), maka berikut kaidahnya:

  • Apabila khabarnya berupa fi’il mutasharrif atau isim musytaq mutasharrif (isim fa’il, isim maf’ul, syifah musyabbahah), maka kita dimaknai dengan mashdarnya.

 

يَسُرُّنِيْ أَنَّكَ مُجْتَهِدٌ (يَسُرُّنِيْ اِجْتِهَادُكَ)

 

  • Apabila khabarnya berupa isim jamid atau fi’il jamid, maka ditakwil dengan (كَوْن) yang diidhafahkan kepada isim anna.

 

أَعْلَمُ أَنَّ زَيدًا أَخُوكَ (أَعْلَمُ كَونُ زَيدٍ أَخَاكَ)

 

  • Apabila khabarnya berupa jar dan majrur atau zharaf, maka ditakwil dengan (اِستِقْرَار) atau yang semakna kemudian diidhafahkan dengan isim anna.

 

أَعْلَمُ أَنَّ زَيْدًا فِي الْمَدْرَسَةِ (أَعْلَمُ اسْتِقْرَارُ زَيدٍ فِي الْمَدْرَسَةِ)

 

  • Apabila khabarnya dinafikan, maka kita datangkan kata (عَدَم) kemudian diidhafahkan kepada mashdar.

 

أَعْلَمُ أَنَّكَ لَا تُهْمِلُ  (أَعْلَمُ عَدَمَ إِهْمَالِكَ)

Demikian penjelasan singkat tentang Mashdar Muawwal dan Contoh-contohnya. Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)

 

Referensi:

– Kitab Nahwu al-Wafi, Jilid 1, dan Nahwu Tathbiqi. 

 

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

1 Komentar

Muhid, Senin, 22 Jul 2024

Mantaaap.. terima kasih penjelasannya Yai, barakallaaah dr muhid Demak

Reply

KELUAR