Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani (13): Nasehat yang Berisi Tiga Perkara

Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani (13): Nasehat yang Berisi Tiga Perkara

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Kitab Nashoihul ‘Ibad ( نصائح العباد ) adalah salah satu kitab klasik dalam literatur Islam, dalam bidang tasawwuf dan etika Islam yang ditulis oleh salah satu ulama Nusantara Abad ke-19 dari Banten, yaitu Syekh Nawawi al-Bantani rahimahullah. Kitab Nashoihul Ibad berisi banyak nasehat dalam berbagai aspek kehidupan dan panduan praktis tentang kehidupan spiritual, moralitas, dan etika bagi umat Islam.

Salah satu fokus utama kitab Nashoihul ‘Ibad adalah penekanan pada pentingnya berakhlakul karimah dan menjalani kehidupan yang bermartabat sesuai dengan Tuntunan Islam. Syekh Nawawi al-Bantani mengajarkan Nilai-nilai kesederhanaan, kejujuran, tolong-menolong, dan kasih sayang sebagai pondasi yang kuat dalam membangun masyarakat yang harmonis dan berkeadilan. Kitab ini juga mengulas masalah-masalah etika dan perilaku yang sering dihadapi oleh umat Islam dalam kehidupan sehari-hari, terkait bagaimana menghadapi cobaan, mengendalikan emosi, dan mengatasi godaan dalam menjalani kehidupan spiritual.

Berikut ini Seri Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani, dan untuk Bagian ketiga belas ini memuat Terjemah dari Bab (2): Nasehat yang Berisi Tiga Perkara, sambungan dari Bab yang sama dari seri sebelumnya.

 

Dari Ali r.a., “Jadilah engkau orang yang paling bagus menurut Allah dan orang yang paling jelek di matamu sendiri dan jadilah orang sewajarnya di mata orang lain.”

Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Asy-Syekh Abdul Qadir AlJailani -qaddasa sirrahu- sebagai berikut:

“Apabila engkau menjumpai seseorang yang lebih utama darimu, maka berucaplah: Bisa jadi ia menurut Allah lebih bagus daripada aku dan lebih tinggi derajatnya. Jika orang itu lebih kecil, maka ucapkanlah: Anak ini belum durhaka kepada Allah, tapi aku sudah, maka jelas dia lebih bagus daripada aku. Jika orang itu besar, maka katakanlah: Orang ini sudah mengabdi kepada Allah sejak sebelum aku. Jika orang itu alim, maka ucapkanlah: Orang ini dianugerahi ilmu yang belum aku ketahui dan mencapai sesuatu yang belum aku capai juga mengetahui sesuatu yang aku belum tahu dan dia pun berbuat atas dasar ilmunya itu. Jika orang itu bodoh, maka ucapkanlah: Orang ini durhaka kepada Allah, karena belum tahu, sedangkan aku mendurhakai-Nya justru aku dalam keadaan sudah tahu. Aku pun tidak tahu bagaimana nanti akhir hayatku dan akhir hayatnya. Jika orang itu kafir, maka katakanlah: Saya tidak tahu pasti, boleh jadi dia masuk Islam dan mati husnul khatimah, bisa jadi pula aku kafir dan mati suul khatimah.”

 

 

Dikatakan, bahwa Allah telah menurunkan wahyu kepada Nabi Uzair a.s. Dia berfirman, “Wahai, Uzair, apabila kamu berbuat suatu dosa kecil, maka janganlah kamu melihat kecilnya, namun kepada Tuhan yang kamu berbuat dosa kepada-Nya! Apabila kamu mendapatkan yang sedikit, janganlah kamu .melihat kecilnya, namun kamu harus melihat siapakah yang memberi rezeki kepadamu. Apabila kamu ditimpa suatu bencana, janganlah kamu mengadukan-Ku kepada makhluk-Ku, sebagaimana Aku pun tidak mengadukan kepada para malaikat-Ku bila kejelekankejelekanmu dilaporkan kepada-Ku.”

Imam Ibnu Uyainah berkata: Orang yang mengadu kepada manusia, tapi hatinya sabar dan rela dalam menerima takdir, maka dia tidak termasuk orang yang berkeluh kesah. Hal ini berdasarkan sabda Nabi dalam menjawab pertanyaan Jibril ketika beliau sedang sakit. Jibril bertanya: “Apakah yang kamu rasakan terhadap dirimu?” Beliau bersabda:

“Ya, Jibril, aku merasakan gelisah dan sedih.”

 

 

Dari Hatim Al-A’sham, “Tiada suatu pagi pun berlalu melainkan setan bertanya kepadaku: Apakah yang akan kamu makan! Apakah yang akan kupakai? Dan .. di manakah kamu akan tinggal? Kemudian aku menjawab kepadanya: “Aku akan memakan maut, aku akan memakai kafan dan aku akan tinggal di kubur. Kemudian setan itu lari dariku.”

Hatim Al-A’sham ialah Abu Abdurrahman Hatim bin Alwan: Pendapat lain mengatakan Hatim bin Yusuf. Beliau termasuk Syekh besar daerah Khurasan, Hatim juga, murid Syaqiq.

Diriwayatkan: seorang wanita pernah datang kepadanya dan bertanya tentang suatu hal. Pendapat itu juga wanita tersebut kentut, sehingga : tampak malu dan tersipu. Lalu Hatim berkata: “Keraskanlah suaramu sedikit!”, untuk bergura-pura tuli. Wanita itu pun gembira dan tidak lagi merasa malu atas kentutnya tersebut. Malah wanita itu bilang: “Tuan Hatim tidak lagi mendengar suara.” Mulai saat inilah, Hatim digelari “Al-Asham” (yang tuli).

 

 

 

Dari Nabi saw., “Barangsiapa keluar dari kehinaan maksiat menuju kemuliaan taat, maka Allah akan menjadikan ia kaya tanpa harta, kuat tanpa tentara dan menang tanpa bala.”

Maksudnya, orang yang sudi meninggalkan maksiat dan melakukan taat, maka Allah memberinya tiga sifat yang terpuji:

1. Ia kaya tanpa harta, sebab mempunyai hati yang tenang walau tanpa kekayaan;

2. Ia kuat tanpa tentara, karena mendapat kekuatan dari Allah SWT;

3. Ia dapat mengalahkan musuhnya tanpa bantaun orang lain, sebab dibantu oleh Allah secara langsung.

 

 

Diriwayatkan, bahwa suatu hari Nabi Muhammad SAW menemui para sahabatnya, beliau bertanya, “Bagaimana keadaanmu di pagi mi?” Para sahabat menjawab: “Di pagi ini kami tetap beriman kepada Allah SWT.” Nabi Muhammad SAW bertanya lagi: “Apakah tanda iman kalian?” Mereka menjawab: “Kami bersabar atas musibah, bersyukur atas kelapangan dan rida dalam menerima gadha (ketetapan).” (adha adalah ketentuan Allah SWT yang ditetapkan sejak azali (sebelum terjadi sesuatu) dan berlaku selamanya. Sebagian orang yang telah makrifat kepada Allah berkata: Sabar itu ada tiga tingkatan:

1. Tidak mungkin, tingkatan ini adalah tingkatan tabiin.

2. Ridha menerima takdir, tingkatan ini adalah tingkatan orang-orang zuhud (orang-orang yang menjauhkan diri dari kesenangan dunia untuk beribadah).

3. Senang menerima cobaan, tingkatan ini adalah tingkatan Shiddiqin (orang-orang yang berbakti serta selalu mempercayai).

Nabi saw. bersabda, “Kalian adalah benar-benar orang yang beriman, demi Allah, Tuhan Ka’bah.”

Dalam suatu hadis dikatakan, “Beribadahlah kamu kepada Allah dengan ikhlas, apabila kamu tidak mampu, maka bersabarlah kamu terhadap perkara yang tidak kamu sukai, karena dalam hal itu terdapat kebaikan yang banyak.” [*]

 

(Bersambung …. )

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Pembelajar Khazanah Keilmuan Islam

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

Puasa di Bulan Muharram dan Asyura
Oleh : Immim pangkep

Puasa di Bulan Muharram dan Asyura

0 Komentar

KELUAR