
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
BLOGGURU – Alhamdulillah, Segala puji hanya kepada Allah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri, malam ini, Selasa malam (25/11/2025), penulis menyempatkan diri menulis puisi buat anakda santriwati Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene Pangkep yang akan mengikuti Lomba Membaca Puisi Berantai di Pekan Budaya Arab IV bertema “Menapaki Jejak Budaya Arab dalam Kreativitas Seni dan Sastra” yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Sastra Asia Barat Keluarga Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (Himab KMFIB UNHAS).
Lomba Puisi Berantai merupakan salah satu item kegiatan dalam Pekan Budaya Arab IV UNHAS yang akan diselenggarakan pada Tanggal 1-3 Desember 2025. Terkait rencana mengikuti lomba ini penulis telah menyeleksi dan menunjuk 3 santriwati. Penulisan puisi berjudul “Fondasi Damai dalam Nurani” ini merupakan karya spontan penulis, merujuk kepada salah satu tema lomba puisi dimaksud, “Keadilan adalah Dasar Perdamaian”. Sungguh sebuah tema yang mendalam dan penting. Berikut adalah puisi yang merangkai keadilan dan perdamaian, menempatkan keadilan sebagai fondasi utama yang lahir dari nurani yang bersih.
Fondasi Damai dalam Nurani
karya: Muhammad Farid Wajdi
Di medan waktu yang penuh gejolak, Jiwa merintih, merindukan teduh yang abadi, Mencari nama dari keheningan hakiki.
Ia seharusnya tak datang sekadar dari janji, Bukan pula dari titah senjata yang terhenti
Ia adalah bunga yang menuntut tanah subur
Damai tak bersemi di ladang ketidaksetaraan, Ia tak tumbuh di bawah naungan penindasan, Sebab setiap luka, setiap hak yang terenggut, Akan menjadi bara, menyulut dendam yang tersulut.
Aku menuntut hadirnya kini, Keadilan sejati, Bukan sekadar pelajaran dan hukum di kertas atau di kursi, ataupun nasehat dalam penjara suci
Bukan pula neraca palsu yang condong pada kuasa, Melainkan timbangan hati, Adil dalam Jiwa.
Akulah santri, Kami adalah santri, perindu keadilan sejati, bening tak bercela, Yang lahir dari pikiran yang jernih dan terbuka,
Dalam Pondok, kami telah diajarkan bagaimana menyaring kebenaran dari keruhnya kebisingan.
Keadilan harus mengalir dalam tindakan, tegas tanpa pamrih, dipandu oleh nurani yang mengabdi pada kemanusiaan,
Akulah santri, Kami adalah santri, kami telah diajarkan tidak melihat warna, tidak menghitung untung rugi, Hanya melihat martabat, hanya menghitung kemuliaan.
Adil adalah keberanian mengakui salah, Kekuatan menempatkan hak pada tempatnya, Menjunjung tinggi suara yang lemah dan terpinggirkan, Menjadi pilar bagi mereka yang tak berdaya.
Jika keadilan ini bersemayam di sanubari pemimpin, menjadi napas di setiap keputusan rakyat, Maka fondasi perdamaian telah tertanam kokoh, Bebas dari akar getir sengketa dan khianat.
Akulah santri, Kami adalah santri, menyemai benih keadilan yang tulus, menyiramnya dengan empati,
Kami telah diajarkan menjaga integritas. Hanya dari jiwa yang bersih, yang melepaskan ego, Perdamaian akan datang dan bermekar indah.
Dengan Keadilan, Perdamaian bukan lagi fatamorgana, Ia akan menyelimuti bumi dengan harmoni abadi dan keadilan akan bersemi selamanya diatas dasar Kebenaran Hati.
(* Muhammad Farid Wajdi, Penulis Buku Antologi Puisi “Penjara Suci” dan “Menjawab Waktu”/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.