Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Resolusi 2026

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Apa dan Bagaimana itu Internet Archive?

BLOGGURU – Bagaimana sebaiknya Resolusi 2026 bagi mahasiswa pascasarjana yang juga seorang guru/akademisi, blogger dan budayawan? Apakah harus memiliki penerbitan jurnal sendiri, ataukah karya lain? Bagaimana dari sisi penghasilan untuk menopang kegiatannya dalam bidang seni budaya dan eksplorasi sejarah? Ya, pertanyaan ini saya ajukan kepada beberapa teman, juga “curhat” kepada platform AI, dalam hal ini GeminiAI. Berikut ini beberapa masukan dan pandangan yang penulis terima:

Bahwa Memasuki tahun 2026, bagi seorang mahasiswa pascasarjana yang memegang tiga peran sekaligus (Guru/Akademisi, Blogger, dan Budayawan), resolusinya tidak boleh hanya sekadar “bertahan,” melainkan harus tentang “Integrasi dan Monetisasi Intelektual.”

1. Strategi Karya: Perlukah Memiliki Jurnal Sendiri?

Memiliki jurnal ilmiah sendiri (sebagai pengelola/editor) adalah pekerjaan administratif yang sangat berat dan menyita waktu. Untuk level Anda, tidak disarankan membuat jurnal sendiri, kecuali Anda memiliki institusi/yayasan besar. Alternatif yang lebih baik (The High-Impact Route) adalah: (1) Publikasi di Jurnal Bereputasi (Scopus/Sinta 2). Sebagai mahasiswa pascasarjana, memiliki artikel di jurnal orang lain jauh lebih bernilai untuk karier akademik Anda daripada memiliki jurnal sendiri yang belum terindeks. (2) Menerbitkan Buku Ber-ISBN (Karya Monumental). Fokuslah pada Buku Referensi atau Buku Populer tentang Sejarah Peradaban Islam (SPI) atau kebudayaan lokal. Buku ini adalah “kartu nama” terbaik bagi seorang budayawan. (3) Blogging Berbasis Riset. Jadikan blog Anda sebagai pre-print atau versi populer dari penelitian tesis Anda. Ini akan menarik audiens umum sekaligus akademisi atau kalangan terdidik.

2. Sisi Penghasilan: Menopang Eksplorasi Budaya

Seorang budayawan tidak boleh “lapar” agar idealismenya tetap terjaga. Di tahun 2026, manfaatkan ekosistem digital untuk mendanai kegiatan seni budaya dan sejarah.

Pertama, Monetisasi Konten dan Keahlian. Bisa dilakukan dengan mengakrabi Newsletter Berbayar (Substack). Kirimkan tulisan mendalam tentang sejarah/budaya ke email pelanggan berbayar. Orang mau membayar untuk “pemikiran orisinal” yang tidak ada di Google. Bisa pula dengan membuat konten YouTube/TikTok Dokumenter. Dokumentasikan eksplorasi sejarah Anda dalam video pendek berkualitas tinggi. Penghasilan bisa datang dari AdSense dan Brand Partnership (misal: kerja sama dengan Dinas Pariwisata).

Kedua, Konsultasi & Jasa Intelektual. Manfaatkan Kandungan Kurikulum/Materi. Jual modul sejarah atau kebudayaan ke sekolah-sekolah swasta atau komunitas. Bisa pula dengan jalan menjadi Expert Guide. Menjadi pemandu sejarah “Premium” untuk tur sejarah/budaya. Ini sangat diminati oleh kalangan menengah ke atas yang ingin belajar sejarah secara mendalam.

Ketiga, Grant & Hibah Budaya. Pantau hibah dari LPDP (Dana Indonesiana) atau lembaga internasional (seperti Ford Foundation atau UNESCO) untuk riset budaya. Gunakan status mahasiswa pascasarjana Anda sebagai penguat proposal.

3. Resolusi Integratif 2026 (Action Plan)

Bidang Target Utama
Akademik Menyelesaikan Tesis dan menerbitkan 2 artikel di Jurnal Internasional/Sinta 2.
Blog/Media Transformasi blog menjadi media otoritas (niche: Sejarah Islam & Budaya) dengan 10k+ pembaca bulanan.
Budaya Menyelenggarakan satu pameran, pertunjukan, atau seminar budaya hasil riset sendiri.
Finansial Membangun satu sumber passive income (misal: e-book atau kursus online sejarah).

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR