
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
BLOGGURU – Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri, ditengah kesibukan merampungkan tugas akhir 6 mata kuliah Semester 1 pada perkuliahan S2 Non Reguler Program Dirasah Islamiyah Konsentrasi Sejarah Peradaban Islam (SPI), masih sempat-sempatnya penulis menerima tawaran untuk ikut urung rembug, berkolaborasi dengan penulis lainnya untuk naskah/penerbitan buku, “Pendidikan Islam dan Kesadaran Ekoteologis” yang akan diterbitkan oleh Penerbit Al-Haramain, Lombok.
Beberapa waktu lalu (Oktober 2025), penulis berpartisipasi dan turut mempersiapkan diri beberapa santri untuk ikut Expo Eco-Pesantren yang diselenggarakan oleh YASDIC IMMIM Pusat/ Ponpes Modern Putra IMMIM Makassar di Nipah Mal, Makassar dengan beragam kegiatan yang juga turut melibatkan pesantren lainnya di Kota Makassar. Itulah sebabnya, penulis merasa perlu dan bertanggung jawab atas sosialisasi Eco-Pesantren ini. Penulis juga secara khusus menulis dua puisi tentang Eco-Pesantren untuk dipersembahkan dalam Expo Eco-Pesantren tersebut.
Apa dan bagaimana itu Eco-Pesantren? Seberapa penting mengelola dan mensosialisasikan Eco-Pesantren itu? Ya, Mengelola dan mensosialisasikan Eco-Pesantren bukan sekadar tren pelestarian lingkungan hidup, melainkan sebuah manifestasi dari Ajaran Islam tentang tanggung jawab manusia sebagai khalifah fi al-ard (pemimpin di bumi). Pesantren memiliki struktur sosial yang unik dan mandiri, karena itu mengubah atau membentuk pesantren menjadi “Eco-Pesantren” memberikan dampak yang signifikan karena beberapa alasan:
Pertama, Implementasi Teologi Lingkungan (Fiqh al-Bi’ah). Islam mengajarkan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. Eco-Pesantren menerjemahkan konsep abstrak ini menjadi tindakan nyata, seperti pengelolaan limbah air wudhu’, penanaman pohon, dan pelarangan plastik sekali pakai.
Kedua,, Kemandirian Ekonomi Pesantren. Program ekologi sering kali berjalan beriringan dengan ekonomi hijau. Misalnya, pengolahan sampah organik menjadi pupuk atau budidaya ikan dengan sistem akuaponik dapat membantu ketahanan pangan dan finansial pesantren.
Ketiga, Laboratorium Hidup bagi Santri. Santri tidak hanya belajar teori dari kitab kuning, tetapi langsung mempraktikkan gaya hidup berkelanjutan. Ini membentuk karakter santri yang peduli lingkungan sejak dini.
Keempat, Efisiensi Sumber Daya. Dengan manajemen air yang baik (seperti daur ulang air wudu untuk menyiram kebun), pesantren dapat menekan biaya operasional bulanan secara signifikan.
Mengapa Perlu Disosialisasikan secara Masif? Ya, Sosialisasi Eco-Pesantren perlu dilakukan secara luas karena potensi dampaknya yang luar biasa bagi masyarakat umum. Pesantren itu adalah Center of Excellence. Pesantren adalah pusat rujukan masyarakat sekitarnya. Jika sebuah pesantren berhasil menerapkan sistem nol sampah (zero waste), warga di sekitar pesantren cenderung akan meniru perilaku tersebut karena melihat bukti keberhasilannya secara langsung.
Indonesia memiliki ribuan pesantren dengan jutaan santri. Jika sosialisasi ini berhasil, kita akan memiliki jutaan alumni yang ketika kembali ke masyarakat, membawa kesadaran lingkungan yang tinggi. Ini adalah cara paling efektif untuk melakukan revolusi mental di bidang lingkungan hidup. Belum lagi, Umat Islam adalah populasi besar di dunia. Melalui sosialisasi Eco-Pesantren, komunitas Muslim menunjukkan kontribusi nyata dalam upaya global mitigasi perubahan iklim, membuktikan bahwa agama adalah solusi, bukan penghambat kemajuan lingkungan.
Harus diakui, sebagian masyarakat masih memiliki persepsi bahwa pondok pesantren identik dengan lingkungan yang kurang bersih atau “penyakit kulit”. Sosialisasi Eco-Pesantren bertujuan untuk menghapus stigma ini dengan menunjukkan pesantren yang asri, bersih, dan modern. Nah, agar sosialisasi ini efektif, diperlukan pendekatan yang menyentuh aspek emosional dan spiritual, diantaranya adalah Pendekatan Dalil. Mengaitkan pelestarian alam dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits. Hal lain yang diperlukan adalah Keteladanan Kyai/Ustadz/Ustadzah dalam Pondok Pesantren. Jika pengasuh pondok (Kyai/Nyai) sudah mulai menanam pohon dan memilah sampah, santri akan otomatis mengikuti tanpa perlu banyak instruksi. Terakhir, tentu adalah Integrasi Kurikulum. Sangat penting untuk memasukkan isu lingkungan ke dalam pembahasan pelajaran fiqh atau akhlak.
Eco-Pesantren mengajarkan kita bahwa menjaga alam adalah bentuk ibadah yang setara dengan ritual lainnya. Sebagaimana kita tidak ingin sajadah kita kotor saat shalat, begitupun kita seharusnya tidak membiarkan bumi (yang juga tempat sujud kita) rusak oleh tangan-tangan manusia.
Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)
Minasatene-Pangkep, 7 Januari 2026
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.