Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Dakwah di Jalan Dakwah dan Akhlak Da’i

Dakwah di Jalan Dakwah dan Akhlak Da'i

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Bagi seorang penuntut ilmu tentu tidak samar lagi bahwa berdakwah di jalan Allah adalah salah satu perkara yang paling penting dalam agama. Dengan dakwah, agama ini akan tinggi. Dengan dakwah, manusia menjadi tahu mana yang hak dan mana yang batil. Dengan dakwah, kebaikan tersebar dan keburukan hilang atau berkurang.

 

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

Artinya:

Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar . Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami (QS. As Sajdah: 24).

Hukum berdakwah di jalan Allah adalah wajib sesuai kemampuan masing-masing. Dalil-dalil yang menunjukan akan hal tersebut sangat banyak. Diantaranya firman Allah,

 

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya:

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar . merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali ‘Imran: 104)

Para ulama juga menjelaskan bahwa berdakwah di jalan Allah adalah fardhu kifayah. Sehingga jika di suatu tempat atau suatu masa tidak ada yang berdakwah dijalan Allah, maka semua yang tinggal di masa dan waktu tersebut mendapat dosa. Mengajak manusia kepada agama Allah subhanahu wa ta’ala (berdakwah) adalah sebaik-baik amalan. Orang yang menjalankannya merupakan manusia pilihan.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

 

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحاً وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

 

Artinya:

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushilat: 33)

Ayat yang mulia ini menjelaskan keutamaan Da’i, yaitu Mereka yang berdakwah di jalan Allah dan pujian atas mereka yang mana tidak ada seorang pun yang lebih baik perkataannya dari pada mereka.

Berdakwah adalah tugas mulia yang diemban oleh para nabi dan para pengikutnya. Dakwah juga harus ada terlebih dahulu sebelum jihad/ memerangi musuh di jalan Allah subhanahu wa ta’ala. Seperti inilah dahulu keadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum memerangi Orang-orang kafir. Beliau mengajak mereka terlebih dahulu untuk masuk ke dalam agama yang mulia ini. Dengan ini pula, dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepada para komandan pasukan sebelum berperang dengan musuh. Siapa yang mau menerima ajakan Islam, dia disambut dengan baik. Sebaliknya, siapa yang menolak, ia diperangi.

Rasulullah SAW bersabda,

 

من دل على خير فله مثل أجر فاعله

Artinya:

Barangsiapa menujukkan atas kebaikan maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya. (Diriwayatkan imam Muslim dalam Shahihnya).

Rasulullah SAW juga bersabda,

 

فوالله ! لأن يهدي الله بك رجلا واحدا خير لك من أن يكون لك حمر النعم

 

Artinya:

Demi Allah! Seandainya Allah menunjuki seseorang karenamu lebih baik bagimu daripada kamu mendapat onta merah. (Muttafaqun ‘alaih)

Dua hadist di atas sudah cukup menunjukan betapa besar keutamaan berdakwah di jalan Allah. Bahwasanya berdakwah di jalan Allah didalamnya terdapat kebaikan yang sangat banyak, dan seorang da’i akan mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang-orang yang mendapatkan hidayah melaluinya.

Seorang mukmin yang telah mendapat petunjuk dari Allah subhanahu wa ta’ala tentu menginginkan agar orang lain juga mendapat petunjuk. Sebab, keimanan seseorang tidak dianggap sempurna sampai dia mencintai untuk saudaranya kebaikan yang ia cintai bagi dirinya. Karena cintanya yang tulus kepada saudaranya seiman secara khusus dan belas kasihannya kepada seluruh manusia, ia berusaha sekuat tenaga untuk menunjuki dan membimbing manusia.

Akan tetapi, agar ajakannya mendapat sambutan positif, hendaknya dia mengerti faktor-faktor diterimanya dakwah. Setelah ketentuan dari Allah subhanahu wa ta’ala, ada beberapa faktor yang sangat menentukan keberhasilan suatu dakwah, yaitu baiknya akhlak dan budi pekerti pelaku dakwah. Ketika kita membicarakan akhlak yang mulia, tentu tidak terbatas pada hubungan seorang dengan orang lain saja. Akan tetapi, termasuk di dalamnya ialah hubungan yang baik antara seorang hamba dan Penciptanya. Bahkan, hal ini tergolong yang paling pokok dan paling penting.

Di dalam firmanNya, Allah telah menjelaskan tentang tata cara berdakwah di jalanNya:

 

ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

 

Artinya:

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (QS. an Nahl: 125)

Dalam ayat yang mulia tersebut Allah menjelaskan bagaimana seyogyanya dakwah itu dilakukan dengan cara yang benar. Yang pertama dengan hikmah, yaitu dengan dalil-dali yang jelas yang membedakan yang hak dan yang batil. Oleh karena itu sebagian ahli tafsir menafsirkan hikmah dengan al Qur’an dan sebagian yang lain menafsirkannya dengan dalil-dalil dari al Quran dan Sunnah.

Hendaknya seorang da’I hendaknya berdakwah dengan hikmah dan memulai dengannya. Jika mad’u atau orang yang didakwahi adalah orang yang meremehkan syariat dan memiliki penyimpangan-penyimpangan maka hendaknya didakwahi dengan nasehat yang baik (mau’idhah hasanah) yaitu dengan ayat-ayat dan hadist yang berisi peringatan, acaman dan janji dari Allah. Dan seandainya di dalam diri mad’u ada kerancuan berfikir (syubhat) sehingga menolak kebenaran dan bersikukuh dalam kesalahan maka tidak mengapa kita mendebatnya (jidal) dengan cara yang baik sehingga tersingkaplah syubhat tersebut dan kembali kepada kebenaran.

 

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

 

Artinya:

Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. (QS. at Tahriim: 9)

Hendaknya du’at(baca: para da’i) menyeru manusia sebagaimana para Rasul diutus, yaitu menyeru mereka ke jalan Allah sebagaimana firman Allah dalam surat an Nahl diatas, ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ. Jalan Allah adalah islam, yaitu shirat al mustaqim, yaitu agama Allah yang dengannya Nabi Muhammad diutus. Bukan menyeru manusia kepada seseorang atau pendapat seorang, bukan juga pada kelompok tertentu. Hendaknya seorang da’i menyeru manusia kepada aqidah yang benar, untuk mentauhidkanNya dan beriman dengan apa yang telah dikabarkan Allah dan RasulNya. Dan hendaknya juga seorang da’I menyeru manusia untuk menegakkan agamanya yaitu dengan mengamalkan semua yang telah diwajibkan seperti shalat, zakat, puasa, serta menjauhi apa-apa yang telah dilarang seperti zina, minum khamr, permusuhan, riba dan semisalnya. Sehingga manusia masuk ke dalam Islam secara kafah, tidak sepotong-sepotong.

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

 

Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.(QS. al Baqarah: 208)

Keikhlasan dalam berdakwah adalah modal utama disambutnya sebuah ajakan. Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Wahai orang yang menyeru kepada Allah subhanahu wa ta’ala, janganlah engkau bersedih ketika ucapanmu ditolak atau tidak mendapatkan sambutan pada kali yang pertama. Sebab, engkau sudah menunaikan apa yang menjadi kewajibanmu. Ketahuilah, jika engkau mengucapkan yang benar dengan mengharap wajah Allah subhanahu wa ta’ala (ikhlas), tentu ucapan itu ada pengaruhnya. Walaupun (awalnya) mendapatkan penolakan langsung di hadapanmu, pasti (nantinya) akan ada pengaruhnya.” (Syarah Arba’in an-Nawawiyah hlm. 154)

Dakwah memiliki tujuan untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya hidayah, dari kebatilan menuju kebenaran, dari kebodohan menuju cahaya ilmu, dari kemaksiatan menuju ketaatan, dan dari kesyirikan menuju tauhid. Ini semua adalah tujuan yang mulia dari dakwah, sebagaimana Allah berfirman,

 

اللّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُواْ يُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوُرِ

 

Artinya:

Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). (QS. al Baqarah : 257)

Akhlak Seorang Da’i

Agar dakwah yang disampaikan dapat diterima oleh manusia hendaknya seorang da’i memperhatikan sifat dan akhlak yang ia miliki. Allah dan RasulNya telah menjelaskan sifat-sifat yang hendaknya dimiliki oleh seorang da’i, yaitu Ikhlas, bukan karena riya’ atau mengharap pujian manusia atau yang lainnya. Selain itu hendaknya juga diniatkan untuk mengharap wajah Allah semata. Sifat lainnya yang harus dimiliki adalah Berbekal Bashirah (Ilmu).  Dua hal ini adalah syarat utama yang harus dimiliki seorang da’i sebagaimana firmanNya,

 

قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي

 

Artinya:

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. (QS. Yusuf: 108)

Seorang Da’i hendaknya selalu mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan beragam amal ketaatan. Sebab, orang yang mengingat-ingat Allah subhanahu wa ta’ala akan diingat oleh-Nyal. Dia tidak mau menjadi seperti lilin, bisa menyinari orang tetapi dirinya sendiri leleh. Dia sangat takut dengan ancaman Allah subhanahu wa ta’ala,

 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ ٢ كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ ٣

 

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapakah kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan.” (ash-Shaf: 2—3)

Dai yang sukses akan menghiasi dirinya dengan amal kesalehan. Tidak cukup dengan mengerjakan hal-hal yang wajib saja, bahkan amalan-amalan yang sunnah juga dia lakukan. Demikian pula, di samping meninggalkan yang haram, dia menjauhi yang makruh. Ucapannya selaras dengan perbuatan.

Orang yang seperti ini berhak mendapatkan kecintaan yang khusus dari Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman sebagaimana dalam hadits qudsi, “Barang siapa memusuhi kekasih-Ku, Aku mengumumkan perang terhadapnya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku sukai daripada apa yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya….” (HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Apabila seseorang dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dia akan diterima di muka bumi ini. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya), “Sesungguhnya apabila Allah subhanahu wa ta’ala mencintai seorang hamba, Ia memanggil Jibril, ‘Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala mencintai fulan (seseorang), cintailah dia!’ Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril menyeru (para malaikat) yang ada di langit, ‘Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala mencintai fulan, cintailah dia!’ Penduduk langit pun kemudian mencintainya. Dia pun diterima oleh penduduk bumi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Hatinya merasa tenteram dengan mengingat Allah subhanahu wa ta’ala. Sebab, manusia akan menaruh hormat kepada seseorang dan merasa tenteram dengannya sebatas tenteramnya hati orang tersebut dalam mengingat Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagian salaf berkata, “Orang yang matanya merasa sejuk dengan Allah subhanahu wa ta’ala, semua mata akan merasa sejak dengannya.” (al-Wabilush Shayyib karya Ibnul Qayyim rahimahullah)

Tidak diragukan lagi lemah –lembut adalah salah satu faktor diterimanya dakwah. Sebagaimana telah dicontohkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Allah berfirman,

 

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ

 

Artinya:

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. (QS. Ali ‘Imran: 159)

Maka hendaknya seorang da’i tidak bersikap keras atau kasar dalam berdakwah, tidak juga bersikap tergesa-gesa didalamnya. Lihatlah firman Allah dalam kisah Nabi Musa dan Harun saat Allah mengutus mereka berdua kepada Fir’aun,

 

فَقُولَا لَهُ قَوْلاً لَّيِّناً لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

 

Artinya:

Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut. (QS. Thaha: 44)

Selanjutnya, Hendaknya seorang da’i mengamalkan apa yang ia dakwahkan dan menjadi teladan didalamnya. Jangan sampai ia sibuk mendakwahi manusia sedang ia lalai terhadap dirinya sendiri. Allah berfirman,

 

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ

 

Artinya:

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab? Maka tidaklah kamu berpikir?

Hal ini sebagaimana dalam hadist dari Abi Zaid Usamah bin Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu dia mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

 

يؤتى بالرجل يوم القيامة فيلقى في النار فتندلق أقتاب بطنه فيدور بها كما يدور الحمار في الرحا فيجتمع إليه أهل النار فيقولون يا فلان ما لك ألم تكن تأمر بالمعروف وتنهى عن المنكر فيقول بلى كنت آمر بالمعروف ولا آتيه وأنهى عن المنكر وآتيه متفق عليه

 

Artinya:

Pada hari kiamat, didatangkan seorang pria kemudian ia dilemparkan ke dalam neraka hingga usus-ususnya keluar terburai dari perutnya, lalu ia berputar-putar di dalamnya sebagaimana seekor kedelai berputar mengitari penggilingan. Para penghuni neraka pun berkumpul dan berkata kepada orang itu : wahai Fulan, apa gerangan yang terjadi denganmu? Bukankah kamu dulu senantiasa beramar ma’ruf nahi munkar? Ia menjawab : betul, aku dulu memerintahkan kepada yang ma’ruf namun aku tidak melaksanakannya dan aku melarang dari yang munkar namun aku mengerjakannya.  (Muttafaqun ‘alaih)

Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

0 Komentar

KELUAR