
Webinar Internasional seri Literasi Keagamaan Lintas Budaya
Diselenggarakan oleh: Masjid Istiqlal dan Institut Leimena
Didukung oleh: Templeton Religion Trust
RABU, 26 OKTOBER 2022
Pukul 19.00 – 21.00 WIB
Disiapkan terjemahan dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
Pembicara Kunci: Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A., Imam Besar, Masjid Istiqlal
Narasumber: Gracia Paramitha, Ph.D., G20 Analyst dan Co-founder Indonesian Youth Diplomacy (IYD)
Faisal Ilyas, Finalis Y20 Awards 2022 (Pakistan)
Dr. Faried F. Saenong, M.A., Kabid Pendidikan dan Pelatihan, Masjid Istiqlal
BRAj. Gayatri Kusumawardhani, Finalis Y20 Awards 2022 (Indonesia)
Zeenat Rahman, Executive Director, Institute of Politics, University of Chicago
Moderator: Karim Bakri, S.Sos., Pendidikan Kader Ulama, Masjid Istiqlal
SUMPAH PEMUDA adalah satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ditengah kondisi bangsa Indonesia yang masih dijajah dan terpecah belah oleh perbedaan suku, ras, agama dan bahasa, para pemuda di tahun 1928 telah bersumpah untuk bertumpah darah yang satu – tanah air Indonesia; berbangsa yang satu – bangsa Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan – Bahasa Indonesia.
Semangat dan nilai-nilai dari Sumpah Pemuda ini telah membawa bangsa Indonesia untuk sampai kepada pintu gerbang kemerdekaan Indonesia di tahun 1945. Kemerdekaan Indonesia tercapai berkat kompetensi para pendiri bangsa dari berbagai latar belakang agama dan kepercayaan untuk dapat bekerjasama mencapai tujuan bersama tanpa harus mengorbankan iman kepercayaannya masing-masing atau berusaha mendominasi yang lain. Seiring berjalannya waktu, kompetensi mendasar bagi kerjasama yang damai dalam masyarakat plural ini nampaknya ikut tergerus oleh berbagai faktor. Menurut Pew Research populasi dunia menjadi lebih religius. Namun ditemukan juga bahwa agama seringkali menjadi isu yang memecah belah, bahkan di negara maju, ada persepsi yang tinggi tentang konflik antar kelompok di mana agama adalah salah satu dari tiga yang paling sering dianggap sebagai sumber konflik.
Literasi Keagamaan Lintas Budaya adalah sebuah pendekatan baru yang kreatif dalam memetakan kompetensi mendasar ini, sehingga kita dapat mengembangkannya dalam diri kita untuk mampu bekerjasama dalam konteks multi-agama tanpa kehilangan identitas agama atau kepercayaan kita masing-masing. Webinar internasional akan fokus pada peran kaum muda dalam memperkuat kohesi sosial terutama di antara orang-orang yang berbeda agama atau kepercayaan dalam masyarakat yang beragam agama yang semakin terpecah dan terpolarisasi. Bagaimana kita dapat membangun cara pandang bahwa sekalipun kita hidup di masyarakat multireligius, kita dapat tetap bekerjasama untuk kemanusiaan tanpa harus merasa agama kita terancam? Peran pemuda seperti apa saja yang dapat dilakukan dalam melakukan literasi keagamaan lintas budaya? Kita akan membahas berbagai pertanyaan ini, serta menelusurinya dari berbagai perspektif dengan tambahan beberapa pengalaman anak-anak muda dari dalam negeri dan internasional.
Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A., sebagai pembicara kunci akan memaparkan pentingnya nilai-nilai dan semangat Sumpah Pemuda untuk terus dipelihara ditengah menguatnya polarisasi berbasis suku, ras, dan agama baik di Indonesia maupun global. Gracia Paramitha, Ph.D. akan merefleksikan nilai-nilai Sumpah Pemuda dalam konteks Indonesia masa kini dan global. Dr. Faried F. Saenong, M.A., akan memaparkan peran penting pemuda dalam memperkuat kohesi sosial terutama dalam konteks Indonesia masa kini. Faisal Ilyas dan BRAj. Gayatri Kusumawardhani, sebagai finalis Y20 Awards 2022 akan menceritakan tentang proyek-proyek membangun kemanusiaan yang beradab yang dilakukan mereka di Pakistan dan Indonesia. Zeenat Rahman, akan menyampaikan perspektifnya tentang bagaimana kaum muda dapat memainkan peran unik dalam membangun rasa saling menghormati dan kolaborasi antara orang-orang yang berbeda agama atau kepercayaan, alih-alih terlibat dalam dunia yang semakin terpolarisasi. (*)