
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
BLOGGURU – Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri, penulis hari ini, Ahad (3/5/2026) masih diberikan kesehatan, kesempatan dan waktu luang untuk mengikuti Perkuliahan S2 Non Reguler Program Dirasah Islamiyah Konsentrasi Sejarah Peradaban Islam (SPI) di UIN Alauddin Makassar. Hari ini, Ahad (3/5/2026), perkuliahan Sejarah Islam Indonesia oleh Dosen Pengampu 1, Dr Susmihara, M.Pd meminta agar digeser waktu kuliahnya dari yang seharusnya Pukul 08.00 s.d. 10.00 WITA menjadi dilaksanakan Ba’da Dzuhur, Pukul 13.00 s.d. selesai.
Yang mendapatkan giliran presentasi makalah adalah Sdri Tuti Wahyuni, dengan topik pembahasan, “Islam Sebagai Kerangka Persatuan Nasional Indonesia” dan setelahnya dibuka sesi tanya jawab dan tanggapan dari mahasiswa S2 yang lain serta dosen pengampu. Di akhir perkuliahan online ini, penulis yang bertindak sebagai moderator menutup dengan “Closing statement” sebagai berikut:
“Bahwa Eksistensi Indonesia sebagai bangsa yang majemuk merupakan sebuah keniscayaan sejarah yang unik. Di tengah keberagaman suku, bahasa, dan budaya, Islam—sebagai agama mayoritas penduduk Nusantara—memiliki peran yang sangat fundamental bukan hanya dalam dimensi spiritual, tetapi juga sebagai elemen pemersatu bangsa (integrative factor).
Sejak masa perjuangan kemerdekaan, Islam telah memberikan kerangka nilai bagi persatuan nasional melalui konsep Ukhuwah Wathaniyah (persaudaraan sebangsa). Nilai-nilai Islam yang inklusif dan moderat (Wasathiyah) memungkinkan para tokoh bangsa terdahulu untuk merajut kesepakatan nasional (Kalimatun Sawa) di atas fondasi Pancasila, tanpa harus meniadakan identitas keagamaan. Islam di Indonesia tidak tampil sebagai kekuatan hegemonik yang memecah-belah, melainkan sebagai ruh yang memperkuat struktur bangunan nasionalisme yang adil dan beradab.
Makalah yang disajikan oleh Sdri Tuti Wahyuni telah mengeksplorasi bagaimana prinsip-prinsip Islam, seperti keadilan sosial (al-’adalah al-ijtimaiyyah), musyawarah (asy-syura), dan toleransi (al-tasamuh), secara praktis menjadi jembatan bagi berbagai perbedaan di Indonesia. Dengan memahami Islam dalam kerangka kebangsaan, kita dapat melihat bahwa menjadi Muslim yang taat dan menjadi warga negara Indonesia yang setia adalah satu tarikan napas yang sama demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)”.
Sementara itu, Perkuliahan Sejarah Perkembangan Islam Dunia, yang sedianya dilaksanakan Pukul 16.00 – 18.00 WITA sesuai jadwal yang ada tidak jadi, karena dosen pengampu 1, Prof Dr Syamsuduha, M.Ag berhalangan hadir di ruang zoom.
Demikian catatan singkat ini sebagai pengingat kegiatan akademik yang dilaksanakan. Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)
Minasatene-Pangkep, 3 Mei 2026
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.