
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
BLOGGURU – Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri, akhirnya penulis dapat menuntaskan Kelas Sejarah Intensif Batch 1 (Edwah Historical School) dengan tema, “Relasi Tatar Sunda dan Dunia Islam Internasional” yang diadakan oleh Yayasan Edu Dakwah dan Student Rihlah Indonesia dalam 2 pertemuan dari Tanggal 4 – 24 Juni 2022.
Berikut adalah kerangka materi untuk “Kelas Sejarah Intensif #1: Relasi Tatar Sunda dan Dunia Islam Internasional” yang dapat dibagi menjadi empat pokok pembahasan, yaitu tentang:
1. Akar dan Transmisi Islam di Tatar Sunda (Abad ke-15 hingga ke-17). Pembahasan ini berfokus pada kedatangan dan proses Islamisasi awal di wilayah Jawa Barat, yang dikenal sebagai Tatar Sunda atau Pasundan. Dimulai materi tentang Kedatangan Awal dan Jalur Perdagangan, menyangkut Jalur Maritim Global, yaitu soal Analisis peran pelabuhan-pelabuhan utama Sunda (terutama Kalapa dan Cirebon) sebagai bagian integral dari jaringan perdagangan maritim Asia Tenggara yang menghubungkan Nusantara dengan Timur Tengah, India (Gujarat), dan Tiongkok, serta Peran Para Dai dan Sufi, yaitu soal Pengaruh pedagang Muslim dari Gujarat, Persia, dan Hadramaut. Diskusi mengenai hipotesis masuknya Islam melalui jalur tasawuf yang lebih akomodatif terhadap kepercayaan lokal.
Mengenai hal ini, dibahas pula Figur Kunci Islamisasi, dalam hal ini Wali Songo. Membahas peran Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) sebagai tokoh sentral yang mengintegrasikan kekuasaan politik (Kesultanan Cirebon) dengan penyebaran dakwah di Jawa Barat. Ada Perubahan Sosial dan Politik yang menyertainya, yaitu Transisi dari kerajaan bercorak Hindu-Buddha (terutama Kerajaan Sunda Pajajaran) ke kesultanan Islam. Analisis Konflik Demak-Cirebon dengan Pajajaran (jatuhnya Kalapa dan perubahan nama menjadi Jayakarta).
Mengenai Sinkretisme dan Akulturasi Budaya, dimunculkan pembahasan tentang Akulturasi Arsitektur, dimana contohnya adalah arsitektur masjid awal di Cirebon (Masjid Sang Cipta Rasa) yang menunjukkan pengaruh lokal dan Tiongkok. Begitu pula terkait Tradisi dan Hukum Islam, terkait Bagaimana unsur-unsur adat Sunda (seperti hukum pikis) disesuaikan dengan ajaran syariah.
2. Hubungan Politik dan Keilmuan dengan Pusat Islam (Abad ke-17 hingga ke-19), berfokus pada bagaimana Kesultanan Sunda (terutama Banten) berinteraksi secara politik dan keilmuan dengan kekuatan Islam global di tengah ekspansi kolonial. Dibahas (1) Geopolitik dan Perdagangan Lada yang memunculkan peran Kesultanan Banten. Analisis Kesultanan Banten di bawah Sultan Ageng Tirtayasa sebagai kekuatan maritim dan perdagangan lada yang signifikan, yang berulang kali bersinggungan dan berkonflik dengan VOC Belanda, serta peran Diplomasi Internasional, dimana Menggali upaya diplomasi Banten dengan kekuatan Islam lain (misalnya, Kesultanan Mughal di India atau Kesultanan Utsmani di Turki) untuk mencari bantuan militer dan politik melawan Belanda. (2) Jaringan Ulama dan Haji, dimana Peran Mekkah dan Madinah sebagai pusat intelektual utama yang menarik ulama dari Sunda. Pembahasan mengenai Jawi Network (jaringan ulama Nusantara di Timur Tengah), Figur-figur ulama Sunda terkemuka yang belajar, mengajar, atau menulis di Mekkah (misalnya, Syekh Nawawi al-Bantani, meskipun beliau dari Banten, karya dan pengaruhnya bersifat Sunda/Jawa Barat) serta Dampak Intelektualnya, terkait bagaimana perkembangan mazhab fikih, tasawuf, dan kalam dari Timur Tengah memengaruhi tradisi keilmuan di pesantren-pesantren Sunda. (3) Kebangkitan Tarekat dan Perlawanan Kolonial. Dibahas peran tarekat. Diskusi mengenai peran tarekat (seperti Naqsyabandiyah atau Qadiriyah wa Naqsyabandiyah) sebagai wadah perlawanan sipil dan spiritual terhadap kekuasaan Belanda (misalnya, pemberontakan yang dipimpin oleh tokoh tarekat).
3. Gerakan Pembaharuan dan Identitas Modern (Abad ke-20 Awal)
Topik ini mengeksplorasi respons masyarakat Sunda terhadap modernitas dan perkembangan ideologi Islam transnasional, terutama menyangkut: (1) Pengaruh Gerakan Pembaharuan Global. Masuknya ide-ide pembaharuan dari Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha (Mesir) melalui media cetak dan jaringan ulama yang pulang dari Timur Tengah, serta Dua Kutub Intelektual. Kontras antara pesantren tradisional yang teguh pada kitab kuning dan munculnya madrasah modernis yang mengadopsi kurikulum baru (misalnya, lembaga-lembaga yang dipengaruhi oleh Persatuan Islam/PERSIS). (2) Politik dan Organisasi Islam. Peran penting SI (Syarekat Islam), sebagai gerakan politik massa pertama di Indonesia, di wilayah Sunda dan koneksi ideologisnya dengan gerakan anti-kolonialisme Pan-Islamisme global, serta Persatuan Islam (PERSIS). Analisis peran PERSIS (didirikan di Bandung) dalam melakukan purifikasi ajaran Islam dan perdebatan sengit mereka melawan tradisi lokal dan golongan lain, seringkali terinspirasi oleh gerakan Salafi/Wahhabi di Timur Tengah. (3) Bahasa, Budaya, dan Nasionalisme. Terjadi Pembentukan Identitas, terkait Bagaimana Islam memengaruhi pembentukan identitas kebangsaan Indonesia (nasionalisme) di kalangan tokoh-tokoh Sunda, serta peran bahasa Sunda dalam penulisan sastra dan dakwah Islam.
(4) Tatar Sunda Kontemporer dan Isu Transnasional (Post-Reformasi). Topik penutup membahas isu-isu Islam kontemporer di Jawa Barat, dengan fokus pada relasinya dengan tren global pasca-Reformasi. Membedah diantaranya aspek: (1) Islam dan Politik Lokal, terkait bagaimana media sosial dan platform digital memfasilitasi penyebaran ideologi Islam transnasional (Salafi, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir) di Jawa Barat, serta Sentralitas Jawa Barat. Pembahasan mengenai mengapa Jawa Barat sering dianggap sebagai salah satu provinsi dengan tingkat konservatisme dan mobilisasi politik Islam yang tinggi di Indonesia. (2) Isu-isu Transnasional Kontemporer, mengupas Ekonomi Islam Global, terkait Perkembangan perbankan syariah, halal industry, dan dampaknya terhadap perekonomian Sunda. (3) Respon Terhadap Radikalisme Global, terkait Upaya deradikalisasi dan peran ormas Islam Sunda (NU dan Muhammadiyah) dalam menghadapi penyebaran ekstremisme yang terinspirasi oleh konflik di Timur Tengah.
Demikian catatan singkat ini, merangkum pelajaran sejarah dari relasi Sunda-Islam Internasional dan relevansinya untuk pemahaman isu-isu sosial dan politik di Indonesia saat ini. Kelas ini memberikan pandangan yang komprehensif bagi penulis perjalanan dari awal Islamisasi hingga dinamika kontemporer, dengan selalu mengaitkan peristiwa lokal di Tatar Sunda dengan tren, jaringan, dan ideologi dari Dunia Islam yang lebih luas. Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)
Minasatene-Pangkep, 24 Juni 2022
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Sejarah/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep