
Oleh: Muhammad Farid Wajdi
Related Post: “Manusia Bissu” Mengulas Komunitas Transgender Spiritual dalam Masyarakat Bugis
BLOGGURU – Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri dapat menghimpun beberapa teman pegiat seni budaya untuk berkumpul dan rapat Perdana membahas Rencana Pesta Budaya Mappalili Segeri 2025 yang diinisiasi oleh Aji Bissu Eka. Rapat diadakan di tempat penulis, Rabu siang (15/10/2025) di Hotspot Center dalam lingkungan Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.
Apa itu Mappalili dan siapa itu Bissu? Mappalili adalah upacara ritual adat “turun sawah” dalam masyarakat Bugis, khususnya di Kecamatan Segeri, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan. Secara Etimologi: Kata Mappalili (Bugis) atau Appalili (Makassar) berasal dari kata Palili, yang artinya berkeliling atau menjaga (yaitu menjaga tanaman padi dari gangguan, hama, atau bencana), sedang Secara Makna, Mappalili adalah ritual mengawali musim tanam padi. Ini adalah tanda bagi seluruh petani di wilayah tersebut untuk memulai membajak dan menanam padi di sawah. Masyarakat percaya bahwa kesuksesan panen padi sangat bergantung pada pelaksanaan Mappalili secara benar dan sakral.
Bagaimana Prosesi Mappalili? Mappalili adalah upacara sakral yang dipimpin oleh kelompok Bissu dan berpusat pada benda pusaka (Arajang). Prosesinya meliputi beberapa tahapan kunci yang berlangsung meriah dan khidmat, biasanya sekitar bulan Oktober atau November, saat musim hujan tiba.
Umumnya Proses Mappalili dimulai dengan:
Pertama, Matteddu Arajang (Membangunkan Pusaka). Ritual ini dilakukan para Bissu di Rumah Adat Arajang. Tujuannya adalah membangunkan dan membersihkan benda pusaka. Di Segeri, Arajang yang diyakini turun dari langit ini berupa Bajak Sawah (alat untuk menggemburkan tanah).
Kedua, Ritual Maggiri. Ini adalah bagian yang paling menarik perhatian. Para Bissu menari dengan menusukkan keris (badik) ke bagian tubuh mereka (seperti tangan, perut, atau leher) tanpa terluka, sebagai manifestasi kekebalan dan kesaktian yang didapat dari Dewata.
Ketiga, Mappalesso Arajang: Pusaka diletakkan di ruang terbuka (pendopo) dan dihias dengan persembahan.
Keempat, Mallekke Wae dan Labulalle: Pengambilan air dari sungai Segeri dan batang pisang yang akan digunakan dalam ritual.
Kelima, Arak-arakan (Palili): Ini adalah puncak upacara. Benda pusaka (Bajak Sawah) diarak dan dibawa berjalan berkeliling kampung dan sawah yang akan dibajak, sebagai simbol dimulainya masa tanam.
Keenam, Makecce-kecce (Siram-siraman): Rombongan Bissu dan Arajang disambut warga dengan siram-siraman air sebagai simbol suka cita dan harapan akan hujan.
Siapa itu Bissu? Bissu adalah poros spiritual dan aktor utama dalam ritual Mappalili dan berbagai upacara adat Bugis kuno. Bissu juga adalah pemimpin ritual adat dalam kepercayaan tradisional masyarakat Bugis. Kata Bissu sering dikaitkan dengan kata Bessi atau Mabessi yang berarti bersih atau suci. Hal ini merujuk pada kepercayaan bahwa mereka “tidak kotor” (tidak mengalami menstruasi dan tidak berpayudara).
Bissu memiliki identitas gender yang unik. Dalam konsep lima jenis kelamin Bugis, mereka digolongkan sebagai Calabai (laki-laki yang berpenampilan dan berperilaku seperti perempuan). Namun, mereka tidak dapat disamakan dengan waria biasa, karena penampilan mereka adalah bagian dari fungsi ritual dan spiritual, dan pakaian mereka memadukan elemen laki-laki dan perempuan yang sesuai untuk kasta mereka. Bissu dipercaya sebagai mediator yang menghubungkan dunia manusia dengan dunia Dewata (Tuhan Yang Maha Tunggal dalam kepercayaan Bugis Kuno, Dewata SeuwaE).
Dalam upacara Mappalili, peran Bissu sangat vital, sebagai Pelaksana Ritual. Kaum atau Komunitas Bissu adalah satu-satunya yang diamanatkan untuk memimpin seluruh tahapan ritual, mulai dari membangunkan Arajang hingga mengaraknya. Salah satu tugas penting Bissu adalah memelihara dan menjaga benda-benda pusaka kerajaan yang diyakini memiliki kekuatan magis dan keberkahan untuk pertanian. Pemimpin tertinggi kelompok Bissu disebut Puang Matoa (misalnya, Puang Matoa Saidi atau Puang Matoa Nani di Segeri), yang memegang pengetahuan ritual secara turun-temurun. Masyarakat meyakini bahwa penyimpangan atau ketiadaan ritual yang dipimpin Bissu akan berakibat pada kegagalan panen (puso).
***
Sebagai sosok yang selama ini dikenal luas sebagai Budayawan, maka Aji Bissu Eka meminta tolong kepada penulis untuk membantu penyelenggaraan Pesta Budaya Mappalili 2025, terkait pengaturan acara, administrasi dan proposal bantuan untuk pendanaan kegiatan Mappalili tersebut, sedangkan terkait Upacara Adat dan Ritualnya, tetap menjadi urusan Komunitas Bissu. Beberapa teman pegiat budaya yang mendampingi penulis juga memahami kondisi dan pembantuan ini, diantaranya Andi Surya Dewan dan Suriadi Ansar (Diadi Kasiwiang) yang juga merupakan Ketua II dan Sekretaris Dewan Kesenian dan Pemajuan Kebudayaan (DKPK) Kabupaten Pangkep.
Karena penulis diamanahkan sebagai Ketua Panitia dalam Pesta Budaya Mappalili Segeri yang rencananya akan dilaksanakan pada Tanggal 8-12 November 2025, maka beberapa item kegiatan yang digagas mengiringi kegiatan Mappalili ini adalah Seminar Sejarah, dan Beberapa Workshop: Seni Tradisional, Permainan Rakyat, Sastra Daerah dan Kemah Budaya. Bissu Eka yang bertindak sebagai Penanggung Jawab, tetap memusatkan kegiatan inti Mappalili dan Ritual Bissu di Bola Arajang (Rumah Pusaka) di Segeri.
Demikian sedikit catatan terkait kegiatan penulis yang akan membersamai kegiatan Pesta Budaya Mappalili Segeri 2025. Hal ini tentunya juga akan menjadi catatan penting dan refleksi bersama, betapa dinamisnya persentuhan budaya dan agama dalam ruang sosial kita bersama. Semoga bermanfaat adanya. Salamakki Tapada Salama’. Barakallahu fiikum. (*)
Minasatene-Pangkep, 15 Oktober 2025
(* Muhammad Farid Wajdi, Ketua I Dewan Kesenian dan Pemajuan Kebudayaan (DKPK) Kabupaten Pangkep/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.