
Basmalah. (foto: ist/*)
Oleh: Muhammad Farid Wajdi
BLOGGURU – Kemampuan “meng-i’rab” merupakan kemampuan yang diperoleh dari pemahaman kaidah nahwu, yaitu salah satu ilmu terpenting dari ilmu tata bahasa dalam memahami Bahasa Arab. Dalam dunia kepesantrenan, ilmu ini menjadi aspek yang paling utama dipelajari dalam tradisi membaca dan memahami kitab kuning (kitab klasik tanpa sakl).
Oleh karenanya banyak sekali macam kitab yang membahas kaidah-kaidah dalam bidang Ilmu Nahwu, seperti kitab Awamil, Matn ‘Imrithi, Matn Al-AJurumiyah, Mukhtshor Jidan, Mulhatul I’rab, Mutammimal Ajurumiyah, Qatrunnada wa Bhallushada sampai Matn Alfiyah Ibnu Malik.
Nah, istilah ‘ngi’rab’ adalah salah satu bentuk keahlian dalam Ilmu Nahwu. Ngi’rab dalam istilah pesantren adalah mengetahui jabatan kata dalam kalimat dan bentuk huruf atau harkat terakhir dari suku kata dalam Bahasa Arab. Sebagai bahan latihan, kita mulai dari i’rab paling sederhana dari bacaan yang sering kita ucapkan, yaitu Basmalah atau Bismillahir Rahmaanir Raahim.
Itulah contoh ngi’rab kalimat Basmalah dalam Ilmu Nahwu, atau lazim disebut ‘Narkib’.
I’rab Basmalah:
atau dengan penjelasan yang lebih detail:
ب : huruf jar yang tetap kasrohnya
اسم : majrur karena ba’, tanda jarnya kasroh dan dia menjadi mudhof
الله : mudhof ilaih majrur, tanda jarnya kasroh dan dia menjadi man’ut
الرحمن : na’at majrur, tanda jarnya kasroh (pendapat lain : badal dari الله majrur, tanda jarnya kasroh)
الرحيم : na’at majrur, tanda jarnya kasroh (pendapat lain : badal dari الله majrur, tanda jarnya kasroh)
Dalam jumlah seperti ini, dianggap ada kalimat yang dihilangkan. Posisinya ada di depan jumlah, yaitu أبدأ (aku memulai) sehingga maknanya menjadi (aku memulai dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang). Dan jumlah tersebut termasuk jumlah fi’liyah.
Macam-macam I’rab Bismillah
بسم الله الرحمن الرحيم
Terdiri dari lima kalimat, yaitu:
ب- اسم – الله – الرحمن- الرحيم
I’rabnya ada beberapa macam:
بِ = Huruf Jar Asliyyah
اِسْمِ = Majrur dengan بAlamat jarnya kasrah yang ada di ujungnya. ب muta’allaq dengan fi’il yang buang. Takdirnya أؤلف
بِ = Huruf Jar ziyadah
اِسْمِ = Mubtada, marfu’ dengan ibtida’, alamat rafa’nya dhammah yang ditakdirkan, tidak mungkin dinampakkan demi menghormati huruf jar ziyadah. Huruf jar ziayadah tidak butuh muta’allaq.
Khabar ismi adalah مَبْدُوْءٌ بِهِ yang dibuang. Takdirnya adalah : اِسْمُ اللهِ مَبْدُوْءٌ بِهِ
اللهِ – Mudhaf ilaih. Alamat jarnya kasrah yang ada pada akhirnya.
الرحمنِ – الرحيمِ
الرحمنِ = Disifatkan kepada lafadh Allah. Alamat jarnya kasrah.
الرحيمِ = Disifatkan kepada lafadh Allah. Alamat jarnya kasrah.
Susunan lengkapnya menjadi:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Cara ini sesuai dengan qaidah Arabiyah dan seperti inilah mesti dibaca pada basmalah dalam al-Qur’an.
الرحمنِ – الرحيمُ
الرحمنِ = Disifatkan kepada lafadh Allah. Alamat jarnya kasrah.
الرحيمُ= Khabar mubtada yang dibuangkan. Alamat rafa’anya dhammah.
Takdirnya هُوَ الرَّحِيْمُ =
Susunan lengkapnya menjadi:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمُ
Cara ini sesuai dengan qaidah Arabiyah tapi tidak boleh dibaca pada basmalah dalam al-Qur’an.
الرحمنِ – الرحيمَ
الرحمنِ = Disifatkan kepada lafadh Allah. Alamat jarnya kasrah.
الرحيمَ = Mansub dengan ta’dhim. Alamat nasabnya fatah.
Susunan lengkapnya menjadi:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمَ
Cara ini sesuai dengan qaidah Arabiyah tapi tidak boleh dibaca pada basmalah dalam al-Qur’an.
الرحمنَ – الرحيمَ
الرحمنَ = Mansub dengan ta’dhim. Alamat nasabnya fatah.
الرحيمَ = Mansub dengan ta’dhim. Alamat nasabnya fatah.
Susunan lengkapnya menjadi:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنَ الرَّحِيْمَ
Cara ini sesuai dengan qaidah Arabiyah tapi tidak boleh dibaca pada basmalah dalam al-Qur’an.
الرحمنَ – الرحيمُ
الرحمنَ = Mansub dengan ta’dhim. Alamat nasabnya fatah.
الرحيمُ = Khabar mubtada yang dibuangkan. Alamat rafa’anya dhammah.
Takdirnya هُوَ الرَّحِيْمُ =
Susunan lengkapnya menjadi:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنَ الرَّحِيْمُ
Cara ini sesuai dengan qaidah Arabiyah tapi tidak boleh dibaca pada basmalah dalam al-Qur’an.
الرحمنُ – الرحيمُ
الرحمنُ = Khabar mubtada yang dibuangkan. Alamat rafa’anya dhammah.
Takdirnya هُوَ الرَّحِيْمُ =
الرحيمُ = Khabar mubtada yang dibuangkan. Alamat rafa’anya dhammah.
Takdirnya هُوَ الرَّحِيْمُ =
Susunan lengkapnya menjadi:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ
Cara ini sesuai dengan qaidah Arabiyah tapi tidak boleh dibaca pada basmalah dalam al-Qur’an.
الرحمنُ – الرحيمَ
الرحمنُ= Khabar mubtada yang dibuangkan. Alamat rafa’anya dhammah.
Takdirnya هُوَ الرَّحِيْمُ =
الرحيمَ = Mansub dengan ta’dhim. Alamat nasabnya fatah.
Susunan lengkapnya menjadi:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمَ
Cara ini sesuai dengan qaidah Arabiyah tapi tidak boleh dibaca pada basmalah dalam al-Qur’an.
الرحمنُ – الرحيمِ
Susunan lengkapnya menjadi:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمِ
Cara ini tidak sesuai dengan qaidah Arabiyah dan tidak boleh dibaca pada basmalah dalam al-Qur’an.
الرحمنَ – الرحيمِ
Susunan lengkapnya menjadi:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنَ الرَّحِيْمِ
Cara ini tidak sesuai dengan qaidah Arabiyah dan tidak boleh dibaca pada basmalah dalam al-Qur’an.
Kesimpulan: Ada Sembilan wajah membaca basmalah dan terbagi tiga:
Pertama, Sesuai dengan qaidah Arabiyah dan boleh dibaca dalam al-Qur’an, yaitu: بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Kedua, Sesuai dengan qaidah Arabiyah tapi tidak boleh dibaca dalam al-Qur’an, yaitu:
Ketiga, Tidak sesuai dengan qaidah Arabiyah dan tidak boleh dibaca dalam al-Qur’an, yaitu:
Lihat: Syarh Syeikh Hasan al-Kafrawi Ala Matn al-Ajrumiyah, hal. 5 -6.
Demikianlah I’rab Basmalah. Apa keistimewaan seorang muslim setiap mengucap lafadz Bismillah? Setiap perbuatan baik yang diawali dengan membaca basmalah maka akan mendapatkan pahala dan keberkahan. Sebaliknya sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW bahwa setiap perbuatan baik yang tidak diawali dengan basmalah maka akan terputus nilai keberkahan dan kemuliaannya. “Setiap perkara penting yang tidak dimulai dengan ‘bismillah’, maka amalan tersebut terputus (kurang) keberkahannya.” (HR Al Khatib).
Meski begitu Surah At Taubah (dikenal juga dengan surat Bara’ah) dalam Al-Qur’an tidak diawali dengan bismillah dan para ulama melarangnya. Mengapa demikian? Pertama, karena surah tersebut mengandung ancaman kepada Orang-orang musyrik, sedang lafadz Basmalah sendiri mengandung makna rahmat. Maka, tak wajar bila membaca basmalah untuk ayat-ayat yang ditujukan kepada mereka (Orang-orang Musyrik).
Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)
Assalamualaikum ustadz, maaf alasan lafadznya dinasobkan karena tadzim itu mksdnya gimana ya ustadz, boleh terangkan secara rinci?🙏
[…] I’rob Basmalah dan Segala Hal tentang Basmalah […]