
Hafidz Qur’an
Oleh: Ustadz Adhan Sanusi
BLOGGURU – Komunikasi anak berbakti dalam Al-Qur’an di gambarkan dalam bentuk komunikasi anak dan ayahnya dan selalu di dahului kalimat يا أبت.
Empat ayat ini menunjukkan dialog sebagai berikut:
No 1. Dialog nabi Yusuf kepada ayahnya nabi Ya’qub.
No 2. Dialog nabi Ibrahim dengan ayahnya Azar.
No 3 Dialog putri nabi Syuaib dengan ayahnya.
No 4. Dialog putri nabi Ismail dengan ayahnya nabi Ibrahim.
Tentang gambaran anak berbakti ulasan Al-Qur’an yang paling sempurna dan paling menonjol adalah kisah 3 manusia agung yaitu nab Ibrahim, nabi i Ismail dan siti Hajar. Karena langsung menguji tentang kuat lemahnya bakti anak yatu nabi Ismail.
Banyak sekali sebenarnya pelajaran yang bisa di ambil, hanya saja kali ini fokus pada Komunikasi anak berbakti.
“Wahai ayahanda-wahai ibunda, iya ayah -iya ibu, sendiko dawuh ayah-ibu, labbaik wa sa’daik ya Abi -umi, enggih bapak-ibu dll”, berupa kalimat sepadan yang menunjukkan penghormatan kepada orang tua.
Karena itu beberapa bahasa terutama bahasa daerah ada tingkatan berbahasa. Menyapa yang lebih kecil sepeda dan yang di tuakan punya bahasa sendiri -sendiri. Itu semua untuk melatih sikap sopan santun kepada yang lebih tua atsu di tuakan karena nasab.
Kenapa kesopanan bahasa perlu di latih sejak kecil?
Agar nanti ketika besar dan orang tuanya juga sudah sangat tua, seorang anak tidak boleh bersikap kasar dengan membentak orang tuanya dan sebaliknya dia harus mampu memilih diksi dan intonasi yang terbaik dalam komunikasi dengan orang tuanya. Sebagaimana arahan Allah dalam Al-Qur’an:
Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.(Al Isra:23).
**
(* Ustadz Adhan Sanusi, Lc. MA., Trainer Quranic Parenting Nasional, Fasilitator Arabic & Quranic Camp in Yordania, dan Konsultan Manajemen Lembaga Al-Qur’an.
Sumber: Telegram