Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Mengenal Mushannaf Abdurrazaq

Oleh: Eky Wifky Afandi

BLOGGURU – Nama lengkap beliau adalah Abdul ar-Razzaq bin Hammam bin Nafi’ al-Humairy as-Shan’any. Beliau meriwayatkan hadits dari ayahnya, pamannya, Ma’mar, Ubaidillah bin Amr, saudaranya yaitu Abdullah bin Amr, Aiman bin Nabil dan yang lainnya. Murid beliau diantaranya adalah Ibn Uyainah, Mu’tamar bin Sulaiman, Waki’, Abu Usamah, Abu Khoitsamah, Ahmad bin Salih, Ibrahim bin Musa dan yang lainnya.

Banyak sekali pujian yang disampaikan para ulama saat itu terhadap beliau yang diantaranya adalah ucapan dari muridnya Ahmad bin Shalih yang bertanya pada Ahmad bin Hanbal bahwa dia bertanya padanya apakah ada orang yang lebih baik haditsnya dari pada Abdul ar-Razzaq. Maka Imam Ahmad menjawab bahwa tidak ada orang yang lebih baik haditsnya daripada Abdul ar-Razaq.

Metode Penulisan sanad

(1) Menyambungkan beberapa orang guru dalam jalur sanad.

Maksud beliau dari menggabungkan periwayatan semacam ini tidak lain hanya untuk meringkas dan bukan bermaksud untuk memperkuat suatu periwayatan karena beliau sendiri tidak mensyaratkan kesahihan dalam mushannaf ini.[1]

Meskipun beliau tidak mensyaratkan kesahihan hadits dalam Mushannaf ini, namun didalam penggabungan beberapa orang guru ini tidak didapatkan penggabungan antara dua orang guru yang dlaif atau salah satu dari beberapa orang guru tersebut.

Ada dua jenis penggabungan dalam jalur periwayatan ini yaitu :

Menyambungkan dua orang guru (dalam hadits ini Ma’mar dan ats-Tsaury) dalam satu periwayat yang terdapat dalam hadits no. 1365 jilid 1 yaitu:

 

عبد الرزاق عن معمر و الثوري عن هشام بن عروة عن أبيه عن عمر بن أبي سلمة أنه قال رأيت رسول الله صلى الله عليه و سلم إلخ. [2]

 

Juga terdapat diantaranya dalam hadits no. 1439 (ats-Tsaury dan Ibn Uyainah) dan hadit no. 1487 (Ibn Jureij dan Ibn Uyainah).[3]

Menyambungkan tiga orang guru (dalam hadits ini Ibn Jureij, Ma’mar dan ats-Tsaury) dalam satu periwayat yang terdapat dalam hadits no. 16341 jilid 9 yaitu:

 

عبد الرزاق عن بن جريج ومعمر والثوري عن بن طاووس عن أبيه أن رجلا جاء إلى النبي صلى الله عليه و سلم إلخ.[4]

 

Juga terdapat dalam hadits no. 17607 dengan penggabungan guru yang sama.

(2) Menyambungkan beberapa jalur sanad dalam satu periwayatan

Dalam kitab ini, beliau menggabungkan beberapa sanad hadits yang pada umumnya beliau menggabungkan dua sanad dalam satu hadits seperti yang terdapat dalam hadits no. 621 jilid 1 yaitu:

 

عبد الرزاق عن معمر عن رجل عن عطاء وعن بن عيينة عن مالك بن مغول قال سألت عطاء أمسح على الجبائر قال نعم. [5]

 

Juga diantaranya terdapat dalam hadits no. 883, 1210 dan 2142. Patokan penggabungan sanad dalam satu hadits ini tidak selalu harus pada sahabat yang sama. Contohnya beliau juga menggabungkan sanad dengan sahabat yang berbeda pada hadits no. 6523 yaitu:

 

عبد الرزاق عن معمر عن عامر بن عبد الواحد عن عمرو بن شعيب عن أبي هريرة وعن الثوري عن إبراهيم بن المهاجر عن إبراهيم النخعي قالا.

 

Terkadang juga beliau menggabungkan tiga sanad dalam satu hadits seperti yang terdapat dalam hadits no. 13027 yaitu:

 

عبد الرزاق عن عبد الله بن عمر عن نافع والثوري عن عبد الله عن نافع والثوري عن عبيد الله عن نافع عن بن عمر قال

 

(3) Mencantumkan mutabi hadits di akhir redaksi

 Beliau juga dalam beberapa hadits mencantumkan mutabi hadits di akhir hadits itu sendiri. Dalam hal pencantuman mutabi disini, beliau membagi kepada dua bagian yaitu

Pencantuman mutabi hadits yang serupa (تم). Seperti yang terdapat dalam

  : hadits no. 3236 yaitu

عبد الرزاق عن معمر عن أبان عن أنس قال كان النبي صلى الله عليه و سلم يدعو والزمام بين إصبعيه فسقط الزمام فأهوى ليأخذه وقال بإصبعه التي تلي الإبهام فرفعها وذكر بن جريج عن انس نحوه .

Juga antara lain dalam hadits no. 3465 dan 4432.

Pencantuman mutabi hadits yang tidak serupa (ناقص). Seperti yang terdapat dalam hadits no. 2519 yaitu :

عبد الرزاق عن عبد الله بن عمر عن بن شهاب عن سالم قال كان بن عمر إذا قام إلى الصلاة رفع يديه حتى يكونا حذو منكبيه وإذا ركع رفعهما فإذا رفع رأسه من الركعة رفعهما

وإذا قام من مثنى رفعهما ولا يفعل ذلك في السجود قال ثم يخبرهم أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان يفعله قال عبد الله سمعت نافعا يحدث عن بن عمر مثل هذا إلا أنه قال يرفع يديه حتى يكونا حذو أذنيه .

 

Juga terdapat diantaranya dalam hadits no. 2550 dan 2567.

(4) Mencantumkan sanad lain.

Beliau juga dalam beberapa haditsnya mencantumkan sanad lain dalam satu hadits. Ini berbeda dengan menyambungkan seperti apa yang ada pada metode kedua. Metode ini pada umumnya menggunakan jalur sanad lain dari guru atau guru dari guru beliau.

Metode penulisan semacam ini terdapat pada hadits no. 3262 yaitu :

عبد الرزاق عن معمر عن أيوب عن بن سيرين قال كان النبي صلى الله عليه و سلم يرفع رأسه إلى السماء وهو يصلي حتى أنزل الله الذين هم في صلاتهم خاشعون أو غيرها فإن لم تكن تلك

فلا أدري ما هي فضرب برأسه قال معمر فسمعت الزهري يقول في قوله خاشعون قال السكون في الصلاة وقاله الثوري عن منصور عن مجاهد مثله.

 

Dan juga periwayatan lain dari gurunya guru beliau seperti yang terdapat dalam hadits no. 2811 yaitu :

 

عبد الرزاق عن معمر وبن جريج عن الزهري عن سالم بن عبد الله قال يكفيك قراءة الإمام فيما يجهر في الصلاة قال بن جريج وحدثني بن شهاب عن سالم أن بن عمر كان يقول ينصت للإمام فيما يجهر به في الصلاة ولا يقرأ معه.

 

Mushannaf Abdurrazaq

Mushannaf Abdurrazaq (foto: ist/*)

Metode Penulisan matan

(5) Meringkas matan hadits

Dalam meringkas matan hadits, beliau menggnukan dua penggunaan kata yaitu

Menggunakan lafadz ‘mitslu’ (مثل). ini ditujukan untuk matan hadits yang memiliki kesamaan lafadz. Ada dua macam kata yang digunakan dalam istilah penulisan ini yaitu :

Penggunanan lafadz ‘mitsluhu’ dan yang lainnya(مثله, مثل قول و مثل ذالك).

Lafadz ini ditujukan bagi meringkas hadits yang terdapat sebelumnya. Contohnya dalam hadits no. 161 yang maksudnya sama dengan hadits no. 160 yaitu :

 

عبد الرزاق عن معمر عن قتادة مثله .

 

Kemudian dengan redaksi lain dengan maksud yang sama yaitu terdapat dalam hadits no. 195 (مثل قول) dan no. 722 (مثل ذالك) :

195 – عبد الرزاق عن معمر عن قتادة مثل قول إبراهيم

722 – عبد الرزاق عن معمر عن بن طاووس عن أبيه إذا حككت شيئا من جسدك وأنت على وضوء فمسحته بالبصاق فاغسل ذلك المكان بالماء قال معمر وسمعت حمادا يقول مثل ذلك قال أبو بكر ورأيت أبا معمر يفعل ذلك.

 (مثل حديث فلان عن فلان).

 

Penggunaan lafadz ‘mitslu haditsi fulan’

Lafadz ini ditujukan untuk meringkas matan haditS apabila hadits tersebut agak terpotong jaraknya oleh satu atau dua hadits. Contohnya sepeti yang terapat dalam hadits no. 393 yang merujuk pada matan hadits no. 391 yaitu :

 

393 – عبد الرزاق عن بن التيمي عن أبيه عن الحسن مثل حديث معمر عن قتادة عن الحسن

391 – عبد الرزاق عن معمر عن قتادة عن الحسن قال لا بأس بسؤر الحائض أن يشربه و أن يتوضأ منه

Juga diantaranya pada hadits no. 2176 yang merujuk pada hadits no. 2174.

Menggunakan lafadz ‘nahwu’ (نحو). ini ditujukan untuk matan hadits yang memilki kesamaan makna namun berbeda lafadz. Contohnya seperti yang terdapt dalam hadit no. 5472 yang mengikuti makna hadits no. 5471 yaitu:

 

عبد الرزاق عن عبد الله بن عمر عن نافع عن بن عمر نحوه وبه نأخذ أيضا

Juga diantaranya terdapat dalam hadits no. 1075.

(6) Mencantumkan penjelasan matan yang mengiringi hadits

Dalam metode penulisan beliau dalam kitab mushannaf ini, beliau mencantumkan penjelasan d akhir beberapa hadits. Dalam keterangan ini, ada dua macam keterangan yang beliau tulis dalam akhir hadits yaitu :

Menuliskan penjelasan dari pertanyaan muridnya. Contohnya seperti terdapat dalam hadits no. 5003 yaitu :

 

عبد الرزاق عن معمر عن الزهري قال كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يرفع يديه بحذاء صدره إذا دعا ثم يمسح بها وجهه قال ورايت معمرا يفعله قلنا لعبد الرزاق أترفع يديك إذا دعوت في الوتر قال نعم في آخره قليلا .

 

Juga terdapat dalam hadits no. 6074 dan 7288.

Menuliskan penjelasan dari apa yang beliau tanyakan kepada gurunya. Contohnya seperti terdapat dalam hadits no. 2007 yaitu :

عبد الرزاق عن مالك عن سمي عن أبي صالح عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم لو يعلم الناس ما في النداء والصف الأول ( ثم لم يجدوا إلا أن يستهموا عليه لاستهموا ) ولو يعلمون

ما في التهجير لاستبقوا إليه ولو يعلمون ما في شهود العتمة والصبح لأتوهما حبوا قال عبد الرزاق فقلت لمالك ما يكره أن يقول العتمة قال هكذا قال الذي حدثني .

Juga terdapat dalam hadits no. 3552 dan 5452.

Menuliskan penjelasan terhadap kata-kata yang dinilai mubham (samar). Contohnya seperti dalam satu-satunya hadits no. 10709 yaitu :

 

عبد الرزاق عن بن جريج قال أخبرت أن امرأة من صنعاء تزوجها رجل فلم يجمعها حتى جذم فأرسلت إليه أن فارقها ولك صداقها فأبى فكتب في ذلك محمد بن يوسف

إلى عبد الملك فكتب عبد الملك أن فرقبينهما إسم الرجل عوسجة بن أنس بن داود من الأبناء وإسم المرأة أم عمرو بنت برسا بن سعد .

 

Metode penyusunan kitab

Pada umumnya, setiap kitab-kitab hadits memiliki karakter masing-masing dalam menyusun hadits-hadits dalam ktiabnya. Ada ulama yang mendahulukan hadits yang lebih sahih terlebih dahulu, ada juga yang mendahulukan pendapatnya dalam tiap bab sebelum pendapat orang lain, ada juga yang mencantumkan hadits marfu terlebih dahulu dan lain sebagainya.

Lalu bagaimanakah karakter penyusunan dalam kitab ini. Sebagaimana yang kami dapat dalam referensi, ada beberapa langkah yang ditemukan dalam kitab ini yaitu :

Beliau tidak menyusun kitab ini secara keseluruhan mulai dari hadits yang sahih. Bahkan ada juga yang dimulai dengan hadits dlo’if dan diakhiri oleh hadits yang sahih. Contohnya adalah hadits no. 1110 yaitu:

عبد الرزاق عن يحيى بن العلاء عن الاعمش عن إبراهيم قال بلغني أن رسول الله صلى الله عليه و سلم أمر رجلا فصب سجلا من ماء

 

Hadits ini adalah hadits dlo’if yang selanjutnya pada hadits no. 1111 adalah hadits shohih. Begitupun ada juga hadits lain seperti hadits no. 1163 yang mendahului hadits sahih no. 1161.

Beliau terkadang tidak memulai dengan pendapat sendiri mengenai suatu hadits. Contohnya adalah pada hadits no. 2321 beliau mulai berpendapat pada akhir matan hadit seperti :

 

عبد الرزاق عن بن جريج قال أخبرني غير واحد أن النبي صلى الله عليه و سلم بينا هو يصلي بالناس إذ مرت بهمة أو عناق ليجيز أمامه فجعل يدنو

من السارية ويدنو حتى سبقها فألصق بطنه بالسارية فمرت بينه وبين الناس فلم يأمر الناس بشيء قال عبد الرزاق وبه نأخذ

 

Namun dalam bab ini, orang yang pertama kali berpendapat mengenai hadits adalah ats-Tsaury dalam hadits no. 2314 dengan redaksi :

 

عبد الرزاق عن الثوري قال أخبرنا عون بن أبي جحيفة عن أبيه قال رأيت بلالا خرج بالعنزة فغرزها بين يدي رسول الله صلى الله عليه و سلم

بالبطحاء فصلى إليها الظهر والعصر يمر وراءها الكلب والحمار والمرأةفأخبرني عن الثوري أنه قال في هذا الحديث فصلى بنا إليها

 

, Beliau tidak menyusun semua hadits dalam kitab ini dengan menuliskan hadits marfu terlebih dahulu. Contohnya hadits no. 508 (Hadits mauquf) yang mendahului hadits no. 509 (hadits marfu). Dan juga hadits no. 455 (hadits maqthu) yang mendahului hadits no. 456 (marfu)

Namun ada juga beberapa bab yang diawalai dengan hadits marfu seperti bab ‘al-mashu bir-ra’si’ yang memang didahului oleh hadits yang marfu.


[1] Ajjin, Ibrahim Su’ud, Manhaj al-Hafidz Abdul ar-Razzaq fi Mushanifihi, Maktabah Islamiyah, Kairo, Cet : 1. Hal. 224. Yang selanjutnya rujukan inti dari resume ini adalah referensi tersebut.

[2] As-San’any, Abdul ar-Razzaq bin Hammam, Mushannaf Abdul al-Razzaq. Jilid 1 Hal. 349.

[3] Selebihnya bisa dilihat dalam kitab Manhaj al-Hafidz Abdul ar-Razzaq fi Mushanifihi hal. 216.

[4] As-San’any, Op. Cit. Jilid 9 hal. 60.

[5] As-San’any, Op. Cit. Jilid 9 hal. 161.

 

Sumber: DISINI

Post Terkait

Dampak Maksiat
27 Feb 2025

Dampak Maksiat

0 Komentar

KELUAR