Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Rincian Hukum Mengusap Wajah Sesudah Berdo’a (3-Habis)

Berdoa. (foto: ist/*)

Berdoa. (foto: ist/*)

BLOGGURU – Imam ‘Abdurrazzaq ash-Shan‘ani rahimahullah meriwayatkan dalam Mushannaf,

 

عن ابن جريج، عن يحيى بن سعيد: أن ابن عمر كان يبسط يديه مع العاص، وذكروا أن من مضى كانوا يدعون، ثم يردون أيديهم على وجوههم ليردوا الدعاء والبركة

 

Artinya:

“Dari Ibn Juraij, dari Yahya bin Sa’id, bahwa Ibnu ‘Umar pernah bersama al-‘Ash mengangkat kedua tangannya untuk berdoa dan mereka menyebutkan bahwa orang-orang yang terdahulu berdoa, kemudian mengembalikan tangan-tangan mereka ke wajah untuk mendapatkan doa dan keberkahannya.” [Mushannaf ‘Abdurrazzaq, 2/253]

Imam ‘Abdurrazzaq ash-Shan‘ani rahimahullah juga mengatakan di dalam Mushannaf,

 

عن معمر، عن الزهري، قال: كان رسول الله -ﷺ- يرفع يديه عند صدره في الدعاء، ثم يمسح بهما وجهه. وفعله معمر، وأنا فعلته

 

Artinya:

“Dari Ma’mar, dari az-Zuhri, ia mengatakan, ‘Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya di dadanya saat berdoa, lalu mengusapkan wajahnya dengan kedua tangannya,’ maka Ma’mar pun melakukannya. Aku juga melakukannya.” [Mushannaf ‘Abdurrazzaq, 2/247]

Imam Ibnul Mundzir an-Naisaburi rahimahullah mengatakan,

 

ذكر مسح الوجه باليدين عند الفراغ من الدعاء … وروي عن الحسن أنه كان يفعله

 

Artinya:

“Mengusap wajah dengan kedua tangan ketika selesai berdoa… diriwayatkan dari al-Hasan bahwasanya beliau dulu melakukannya.” [al-Ausath, 5/217]

Imam Taqiyyuddin al-Maqrizi asy-Syafi‘i rahimahullah meriwayatkan dalam Mukhtashar Kitab al-Witr,

 

وعن المعتمر رأيت أبا كعب صاحب الحرير يدعو رافعا يديه فإذا فرغ من دعائه يمسح بهما وجهه فقلت له من رأيت يفعل هذا فقال الحسن

 

Artinya:

“Dari al-Mu’tamar: Aku melihat Abu Ka’ab, pemilik kitab al-Harir, berdoa dengan mengangkat kedua tangannya, lalu ketika dia selesai berdoa, dia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Lalu aku bertanya kepadanya, ‘Siapa orang yang kau lihat melakukan ini?’ Beliau menjawab, ‘al-Hasan.’” [Mukhtashar Kitab al-Witr, hlm. 152]

Riwayat yang serupa juga diriwayatkan oleh Imam Jalaluddin as-Suyuthi asy-Syafi‘i rahimahullah di dalam Fadhdh al-Wi‘a.

Beliau mengatakan,

 

اسناده حسن

 

Artinya:

“Sanad-sanadnya hasan.” [Fadhdh al-Wi‘a, hlm. 102]

Syaikh ‘Allamah Ibnu Jibrin rahimahullah berkata,

 

أما مسألة مسح الوجه فقد ورد فيها أحاديث لا تخلو من مقال، وإن كان مجموعها حسناً، فقد حسنها الحافظ ابن حجر ، بمجموعها لا بأفرادها، يقول

الحافظ رحمه الله: إنها تبلغ درجة الحسن كما نبه على ذلك في آخر بلوغ المرام، لكن ورد العمل بها عن الصحابة وعن الأئمة وعن التابعين وعلماء

الأمة، فورد أنهم كانوا يرفعون أيديهم ثم يمسحون بها وجوههم، فأصبح العمل بها من الصحابة دليل على أنهم تأكدوا من مشروعية ذلك

 

Artinya:

“Adapun masalah mengusap wajah, maka terdapat beberapa hadis tentang masalah ini, namun tidak sepi dari pembicaraan ulama yang jika semuanya dikumpulkan, maka hadis tersebut menjadi hasan. Hafizh Ibnu Hajar telah menghasankannya dengan terkumpulnya hadis itu, bukan hanya satu saja. Hafizh rahimahullah berkata, ‘Sesungguhnya hadits tersebut telah sampai derajat hasan,’ sebagaimana yang beliau peringatkan pada akhir kitab Bulughul Maram. Namun, disebutkan juga bahwa perkara ini diamalkan oleh para sahabat, para imam, para tabiin, dan ulama umat. Disebutkan bahwa mereka mengangkat kedua tangan lalu mengusap wajah mereka dengan kedua tangan mereka. Artinya, para sahabat telah melakukan perbuatan ini dan itu menjadi dalil bahwa mereka menguatkan disyariatkannya perbuatan ini.” [Syarh ‘Umdah al-Ahkam, 21/37]

Adapun fatwa Imam al-‘Izz bin ‘Abdussalam asy-Syafi’i rahimahullah yang melarang mengusap wajah dengan kedua tangan sesudah berdoa di mana beliau berkata,

 

ولا يمسح وجهه بيديه عقيب الدعاء إلا جاهل

 

Artinya:

“Tidak ada yang mengusap wajahnya dengan kedua tangannya sesudah berdoa selain orang bodoh.” [Fatawa al-’Izz bin ‘Abdussalam, hlm. 47]

Maka Imam al-Khathabi asy-Syafi‘i rahimahullah berkata,

 

وَقَوْل بَعْضِ الْفُقَهَاءِ فِي فَتَاوِيهِ : وَلاَ يَمْسَحُ وَجْهَهُ بِيَدَيْهِ عَقِبَ الدُّعَاءِ إِلاَّ جَاهِلٌ ، مَحْمُولٌ عَلَى أَنَّهُ لَمْ يَطَّلِعْ عَلَى هَذِهِ الأْحَادِيثِ

 

Artinya:

“Ucapan sebagian ahli fikih dalam fatwanya, ’Tidaklah mengusap wajah dengan kedua tangannya setelah berdoa melainkan orang bodoh,’ maka bisa jadi beliau belum menelaah hadis-hadis ini.” [al-Futuhat ar-Rabbaniyyah ‘ala al-Adzkar, 7/258]

Begitu juga, Imam az-Zarkasyi asy-Syafi‘i rahimahullah mengatakan,

 

وأما قول العز في فتاويه الموصلية: مسح الوجه باليد بدعة في الدعاء لا يفعله إلا جاهل, فمحمول على أنه لم يطلع على هذه الأحاديث وهي وإن كانت أسانيدها لينة لكنها تقوى باجتماع طرقها

 

Artinya:

“Adapun perkataan al-‘Izz dalam fatwanya, al-Maushiliyyah, ‘Mengusap wajah dengan tangan adalah bidah pada doa dan tidak ada yang melakukannya selain orang bodoh,’ maka bisa jadi beliau belum menelaah hadis-hadis ini. Meski sanad-sanadnya lemah, akan tetapi menjadi kuat dengan mengumpulkan banyak jalurnya.” [al-Juz’ fi Mash al-Wajh, hlm. 26]

Kesimpulan:

Mengusap wajah dengan kedua tangan sesudah berdoa tidak dianjurkan pada doa di dalam salat, sedangkan yang dianjurkan adalah mengusap wajah sesudah berdoa pada doa di luar salat.

Disebutkan dalam al-Mausu‘ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah,

 

فنص الشافعية على أنه يستحب مسح الوجه باليدين في الدعاء ، ومحل استحباب مسح لوجه بهما في الدعاء خارج الصلاة . أما فيها فلا يستحب بل يكره على الصحيح من مذهب الشافعية

 

Artinya:

“Mazhab Syafi‘i menetapkan akan dianjurkannya mengusap wajah dengan kedua tangan sesudah berdoa dan tempat dianjurkannya mengusap wajah dengan kedua tangan adalah pada doa di luar salat. Adapun di dalam salat, maka tidak dianjurkan, bahkan dimakruhkan menurut pendapat yang benar dari mazhab Syafi‘i.” [al-Mausu‘ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, 42/366]

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Ngaji Madzhab Syafi’i, Surakarta, 19 Mei 2023

Post Terkait

Dampak Maksiat
27 Feb 2025

Dampak Maksiat

0 Komentar

KELUAR