Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Menyoal Generasi ke-24 dalam Silsilah Sanad dan Periwayatan Al-Qur’an

Sanad Keilmuan dalam Islam - Mata Rantai hubungan Guru-Murid yang tak boleh putus. (foto: ist/*)

Sanad Keilmuan dalam Islam – Mata Rantai hubungan Guru-Murid yang tak boleh putus. (foto: ist/*)

Oleh: Ustadz Muhammad Laili Al-Fadhli

BLOGGURU – Apabila ada yang bertanya, “Apakah zaman sekarang masih ada generasi ke-24 dalam silsilah sanad dan periwayatan Al-Quran?”

Maka jawabannya : tidak ada.

Berikut rinciannya:

Sebagaimana kita ketahui bahwa periwayatan Al-Quran yang disepakati keshahihannya hari ini semuanya bermuara pada Ibnul Jazari. Jalur yang tidak melalui Ibnul Jazari belum bisa dipastikan keabsahannya.

Adapun silsilah sanad Ibnul Jazari untuk riwayat Hafsh dari Ashim adalah sebagai berikut:

Nabi ﷺ

1. Sahabat (Zaid bin Tsabit, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud, dan Ubay bin Ka’b) ridhwanullahi alaihim ajmain.
2. Abu Abdirrahman As-Sulami
3. Ashim
4. Hafsh
5. Ubaid Ash-Shabbah
6. Ahmad bin Sahl Al-Usynani
7. Abul Hasan Al-Hasyimi
8. Abul Hasan Thahir bin Ghalbun
9. Abu Amr Ad-Dani
10. Abu Dawud Sulaiman bin An-Najah
11. Abul Hasan Ali Al-Hudzail
12. Al-Qasim bin Fiyrruh Asy-Syathibi
13. Abul Hasan Ali bin Syuja
14. Muhammad bin Abdil Khaliq Ash-Shaigh
15. Muhammad bin Abdirrahman Ash-Shaigh, Abu Muhammad Abdurrahman Al-Baghdadi, dan Muhammad bin Ahmad Al-Labban
16. Muhammad Ibnul Jazari

Jadi, Ibnul Jazari merupakan generasi ke-16 dalam silsilah sanad dan periwayatan Al-Quran untuk riwayat Hafsh jalur Asy-Syathibiyah. Jarak (perawi yang ada) antara beliau dengan Nabi ﷺ adalah 15 orang. Silsilah ini disepakati keabsahannya oleh para ulama. Karena selain dicatat sendiri oleh Ibnul Jazari, juga sudah diteliti oleh para ulama generasi setelahnya.

Adapun silsilah sanad dari Ibnul Jazari hingga sampai kepada para ulama masa kini terdapat sedikit perbedaan. Adapun yang masyhur dan dinilai paling tinggi sanadnya adalah periwayatan yang melalui:

17. Ahmad bin Al-Asad Al-Umyuthi
18. Muhammad bin Ibrahim As-Samadisi
19. Ali bin Muhammad Ghanim Al-Maqdisi
20. Abdurrahman Syihadzah Al-Yamani
21. Muhammad bin Qasim Al-Baqari
22. Ahmad Al-Baqari
23. Abdurrahman bin Hasan Al-Ujhuri (w. 1198 H.)
24. Ibrahim Al-Ubaidi (w. 1237 H.)

Sampai di sini dapat kita perhatikan bahwa generasi ke-24 dalam silsilah sanad dan periwayatan Al-Quran yang paling masyhur sudah wafat sejak lebih dari 200 tahun yang lalu. Sedangkan generasi ke-23 sudah wafat kurang lebih 50 tahun sebelumnya atau sekitar 250 tahun yang lalu.

Maka, tidak masuk akal apabila ada seseorang pada hari ini yang tercatat sebagai generasi ke-24. Karena artinya ia belajar dan mengambil riwayat kepada seseorang yang telah wafat 250 tahun yang lalu!

Apabila ada yang mengatakan, “Apakah mungkin terdapat jalur lain yang silsilah sanadnya lebih pendek daripada yang telah disebutkan di atas?”

Jawabannya adalah bahwa kemungkinan itu akan tetap ada, namun belum pernah terbukti sampai hari ini. Karena beberapa kabar yang terdengar dalam persoalan ini tidak memiliki argumentasi yang kokoh. Bahkan, sebagian besar di antaranya ternyata merupakan kekeliruan dalam menghitung atau kekeliruan dalam mencantumkan nama. Sebagian di antaranya disebabkan oleh saqath (beberapa nama yang tidak tertulis), sehingga jaraknya tampak dekat. Padahal realitanya memiliki jarak yang jauh pada saat nama-nama yang saqath tadi telah dicantumkan kembali.

Oleh karena itu, sebagai penuntut ilmu, kita hendaknya tidak begitu saja menerima mentah-mentah informasi seperti ini, karena sebagian besar persoalan ini telah tuntas dikaji oleh para ulama sehingga tidak memungkinkan bagi seseorang untuk menampilkan jalur-jalur baru yang tidak dikenal oleh para ulama.

Sehingga apabila ada informasi seperti ini, hendaknya kota segera cek dan ricek. Misalnya dengan melihat silsilah sanad yang bersangkutan. Dilihat siapa gurunya, guru dari gurunya, serta silsilah sanadnya sampai kepada Ibrahim Al-Ubaidi. Lalu hitung berapa orang yang ada di antaranya dengan Al-Ubaidi. Maka kita akan menemukan berapa jarak sesungguhnya.

Apabila tidak ada nama Al-Ubaidi, maka artinya jalur tersebut bukanlah jalur yang masyhur, sehingga butuh ketelitian lebih lanjut untuk menghitungnya.

Wallahu a’lam bish-shawab. (*)

 

(* Ustadz Muhammad Laili Al-Fadhli, Pengajar ‘Ulumul Qur’an/Ilmu Tajwid

Sumber: WA Group Markaz Qiroat Ashim, Pekanbaru

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR