Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Nikmatnya Menambah Hafalan Al-Qur’an di Bulan Ramadhan

Hafidz Qur'an

Hafidz Qur’an

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Muraja’ah dan Hafalan Imam Rawatib

BLOGGURU – Syukur Alhamdulillah, kita sekarang berada dalam bulan mulia, Bulan Ramadhan, bulan diturunkannya Al-Qur’anul Karim. Allah –Subhanahu wa Ta’ala– berfirman:

 

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَ بَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَ الْفُرْقَانِ

Artinya:

“Bulan Ramadhan yang di dalamnya –mulai- diturunkannya Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan keterangan-keterangan yang nyata yang menunjuk kepada kebenaran, yang membedakan antara yang haq dan yang bathil.” (QS Al-Baqarah: 185)

Tadarrus, Tilawah dan Tadabbur Al-Qur’an di Bulan Ramadhan adalah momentum interaksi spesial dengan Al-Qur’an. Setiap huruf, kata, dan kalimat Al-Qur’an yang dibaca bernilai pahala, dan di Bulan Ramadhan, pahala itu akan dilipat-gandakan, dan akan semakin berlipat-lipat jika dapat menjaga hafalan, muraja’ah sampai mengkhatamkannya.

Al-Hafizh Ibnu Katsir –rahmatullah ‘alaih Ad-Dimasyqi (700-774) dalam Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim (I/460-461 –Darul Hadits), mengungkapkan bahwa “Allah menyanjung bulan puasa dibanding Bulan-bulan lain dengan dipilihnya sebagai waktu diturunkannya Al-Quran Al-‘Azhim. Karena hal ini pula Allah SWT mengistimewakannya. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Kitab-kitab suci diturunkan kepada para nabi –‘alaihimussalam– di bulan ini.

Imam Ahmad bin Hanbal –rahimahullah– dalam Kitab Al-Musnad VI/107, berkata, Abu Sa’id Maula Bani Hasyim telah bercerita kepada kami, ‘Imran Abul ‘Awwam telah bercerita kepada kami, dari Qatadah, dari Abul Malih, dari Watsilah yaitu Al-Asqa’, bahwasannya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

 

أنزلت صحف إبراهيم في أول ليلة من رمضان ، و أنزلت التوراة لست مضين من رمضان و الإنجيل لثلاث عشر خلت من رمضان و أنزل الله القرآن لأربع و عشرين خلت من رمضان

 

Artinya:

“Suhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama Ramadhan, Taurat diturunkan pada enam Ramadhan, Injil diturunkan pada tiga belas Ramadhan, dan Allah menurunkan Al-Quran pada dua puluh empat Ramadhan.”

Hadits dari Jabir bin ‘Abdullah –radhiyallahu ‘anhu-. menyebutkan bahwa, “Bahwasanya (Kitab) Zabur diturunkan pada dua belas Ramadhan dan Injil pada sepuluh Ramadhan.” Sementara yang lainnya sebagaimana di atas yang diriwayatkan oleh Ibnu Mardawih.

Adapun Shuhuf, Taurat, Zabur, dan Injil, maka diturunkan secara spontan kepada nabi yang menerima. Sedangkan Al-Quran diturunkan secara spontan di Baitul ‘Izzah yang berada di langit bumi. Hal itu terjadi pada bulan Ramadhan di lailatul qadar, berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Kami telah menurunkannya di lailatul qadar,” juga pernyataan-Nya, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya di malam yang penuh keberkahan.” Kemudian setelah itu turun berangsur-angsur berdasarkan peristiwa-peristiwa yang dialami Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.” sebagaimana keterangan Ibnu Katsir.

Maka demikianlah, Bukan hanya Al-Qur’anul Karim yang diturunkan pada Bulan Ramadhan, tapi juga Kitab-kitab lain, Shuhuf Taurat, Zabur, dan Injil yang diturunkan kepada Nabi Musa, Daud dan Isa, semuanya juga diturunkan dalam Bulan Ramadhan. Al-Quran merupakan mukjizat Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– yang paling agung dan akan terus ada hingga akhir zaman. Keberkahannya terus mengalir dan tak akan pernah terputus, sebagai panduan hidup manusia sampai hari akhir.

Al-Qur’an sebagai sebuah kitab suci yang akan selalu membimbing seorang muslim menuju kebahagiaan di dunia dan di akherat. Orang yang menjadikannya imam, akan selamat dengan izin Allah, namun siapa yang tak menghiraukannya, maka cepat atau lambat kebinasaan akan menghampirinya, bukan hanya di dunia, tapi juga sampai di akherat nanti. Keberkahan Al-Quran nampak jelas dengan adanya riwayat-riwayat yang mengabarkan akan keutamaan dan keistimewaannya. Ia merupakan pedoman hidup seorang muslim, obat dari segala penyakit badan dan hati, dan banyak keistimewaan lainnya.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

 

وَ نُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَ رَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ لَا يَزِيْدُ الظَّالِمِيْنَ إِلَّا خَسَارًا

 

Artinya:

“Dan Kami turunkan Al-Quran (Sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, sedangkan bagi orang-orang yang zhalim hanya akan menambah kerugian.” (QS Al-Isra’ : 82)

Menyimak keistimewaan Al-Qur’an diatas, maka sudah sepantas dan selayaknyalah jika setiap muslim memanfaatkan dengan baik momentum Ramadhan ini untuk merasakan nikmatnya berinteraksi dengan Al-Qur’anul Karim. Jangan hanya membacanya, tapi berusahalah sekuat tenaga dan luangkan waktu untuk menghafalkannya. Dari satu ayat ke ayat yang lain, dari satu surah ke surah yang lain, hingga akhirnya hafidz satu surah, satu djuz, 5 djuz, 10 djuz, hingga akhirnya 20 djuz dan 30 djuz.

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu-, beliau menuturkan, Rasulullah –shallalahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah (Al-Quran), maka baginya satu kebaikan. Satu kebaikan dilipat-gandakan menjadi sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf. Namun alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR At-Tirmidzi)

Dari Abu Umamah Al-Bahili –radhiyallahu ‘anhu-, beliau mengatakan, Aku mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Bacalah Al-Quran. Sebab pada hari kiamat ia akan datang sebagai pemberi syafaat bagi pengembannya.” (HR Muslim)

Diriwayatkan pula dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Siapa yang membaca Al-Quran dan mengamalkannya, pada hari kiamat orang tuanya akan dikenakan mahkota yang cahanya lebih bagus daripada cahaya matahari yang masuk ke rumah-rumah di dunia. Lantas bagaimana menurut kalian dengan orang yang mengamalkannya?” (HR Abu Dawud dan Al-Hakim. Al-Hakim berkomentar, “Sanadnya shahih)

Berikutnya, ‘Abdullah bin ‘Amr –radhiyallahu ‘anhuma– meriwayatkan, bahwasannya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Puasa dan Al-Quran akan datang pada hari kiamat untuk mensyafaati hamba. Puasa berkata, ‘Wahai Rabb-ku, aku telah mencegahnya dari makanan dan minuman di siang hari, oleh karena itu izinkanlah aku memberinya syafaat.’ Al-Quran berkata, ‘Wahai Rabb-ku, aku telah mencegahnya tidur malam, oleh sebab itu berilah aku izin untuk memberinya syafaat.’ Maka keduanya pun memberi syafaat.” (HR Ahmad, Ibnu Abid Dun-ya, Ath-Thabrani, dan Al-Hakim)

Nah, pembaca sekalian yang budiman. Tulisan ini lebih kepada berbagi motivasi untuk selalu berinteraksi dengan Al-Qur’an dan setiap dari diri kita untuk mengakrabi Al-Qur’an, dengan cara membaca, menghafalkan, dan mentadabburinya.  Sebagai self reminder, pengingat diri bahwa untuk menjadi Imam Rawatib, penulis menargetkan diri paling tidak memiliki minimal hafalan Al-Qur’an 3-6 Djuz (mutqin). Jumlah hafalan 3-6 Djuz ini juga umumnya digunakan sebagai standar hafalan minimal untuk kaderisasi ulama.

Bagi seorang imam shalat atau santri tahfidzul Qur’an, target minimal jika belum mencapai hafalan 3-6 Djuz, paling tidak hafal dengan mutqin Djuz Amma atau Djuz 30 dan beberapa ziyadah hafalan Al-Qur’an berikut ini:  Qs. Al-Waqiah, Qs. Ar-Rahmaan, Qs. Ad-Dukhan, Qs. Qs. As-sajdah, Qs. Yaasin, Qs. Al-Mulk, Qs. At-Taubah, Qs. al-Kahfi, Qs. Al-Baqarah: 284-286, Qs. Al-Insan: 1-13, Qs. Qaaf: 1-5; 6-11, Qs. Abasa: 1-32; 32-42, Al-Hujurat (49): 10-13, Qs. Al-Hasyr: 18-24, Qs. Maryam: 56-64, Qs. Al-A’raf (7): 1-15; 16-31, dan Qs. Al-Mukminun: 115-116; 117-118.

Mari untuk selalu merasakan nikmatnya menambah Al-Qur’an, Muraja’ah hafalan yang lama dan Ziyadah hafalan baru, terlebih lagi di Bulan ramadhan yang mulia ini, bulannya Al-Qur’an dimana pahala dilipat-gandakan berkali-kali lipat ketika membaca dan menghafalkannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

 

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

 

Artinya:

“Sebaik-baik kalian adalah yang  mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhari dan At-Tirmidzi dari ‘Ali bin Abi Thalib. Dan datang dari hadits ’Utsman bin ‘Affan riwayat Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Semoga dapat menjadi pengingat dan motivasi untuk memutqinkan bacaan/qira’ah Al-Qur’anul Karim. Barakallahu fiikum. (*)

Post Terkait

1 Komentar

[…] 3.  Nikmatnya Menambah Hafalan Al-Qur’an di Bulan Ramadhan […]

Reply

KELUAR