Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Terjemah Raudhatu Thalibin Al-Ghazali – 1: Pengantar dan Pendahuluan

Kitab Terjemah Raudhatu Thalibin

Kitab Terjemah Raudhatu Thalibin

BLOGGURU – Kitab berjudul asli Raudhatut Thalibin wa Umdatus Salikin karangan Imam Ghazali ini menjadi salah satu karya besar yang mempengaruhi ulama sufi setelahnya, seperti Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Ibnu Arabi, Ibnu Atha’illah as-Sakandari, dan lain-lain.

Dalam pengantarnya, Imam Ghazali mengatakan, kitab risalah ditulis utuk dijadikan pegangan bagi para pencari kebenaran, dan membantu umat Islam dalam menempuh suluk atau perjalanan spiritual. Di dalam masterpiece Imam Ghazali ini, terdapat segala hal yang dibutuhkan untuk mengantarkan diri menuju Sang Ilahi.

Berikut ini terjemah Pengantar dan Pendahuluan (1) dari Kitab Raudhatu Thalibin Imam al-Ghazali

Pengantar

Asy-Syaikh al-Imam al-‘Alim al-‘Allamah al-Auhad Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi ra. berkata: segala puji bagi Allah yang telah membakar hati para kekasih-Nya dengan api cinta kepada-Nya.

Yang memenuhi semangat dan jiwa mereka dengan kerinduan untuk bertemu dan menyaksikan-Nya. Yang memberi kemampuan mata dan nurani mereka untuk menyaksikan keindahan-Nya, hingga mereka “mabuk” karena jiwa mereka telah sampai kepada-Nya. Hati mereka takjub karena menyaksikan keagungan dan kewibawaan-Nya, sehingga mereka tak melihat apa pun di alam ini kecuali Dia.

Walaupun mata mereka melihat berbagai gambar dan bentuk yang mengantarkan mata hati mereka kepada Allah: meskipun telinga mereka mendengar langgam yang membuat batin mereka berlari menuju Sang Kekasih, kendati mereka mendengar suara yang mengejutkan atau menggelisahkan, menggembirakan atau menyedihkan, menggelorakan atau merindukan, namun, ketakjuban mereka hanyalah kepada-Nya, kebahagiaan mereka hanyalah bersama-Nya, kegelisahan mereka hanyalah karena-Nya, kesedihan mereka hanya karena-Nya, kerinduan mereka hanya pada apa yang ada di sisi-Nya, dan semangat mereka hanya untuk-Nya.

Mereka tidak datang dan pergi melainkan di sekeliling Nya. Pendengaran mereka berasal dari-Nya dan mereka has nya mendengarkan-Nya, karena mata dan telinga mereka telah ditutup dari selain-Nya. Merekalah orang-orang yang Dia pilih untuk menjadi kekasih-Nya di antara orang-orang pilihan dan istimewa bagi-Nya.

Semoga shalawat dan salam Allah selalu tercurah kepada sosok yang diutus membawa risalah-Nya, beserta keluarga, para sahabat, dan para pempimpin menuju kebenaran.

Selanjutnya, aku menulis risalah ini sebagai pegangan bagi para pencari kebenaran, dan membantu mereka dalam menempuh suluk, insya Allah. Dalam menulisnya, aku memohon pertolongan kepada Allah swt. agar terhindar dari kekurangan dan kesalahan. Dialah Penolong dan Pembantu Terbaik.

Risalah ini kuberi nama “Raudhatut Thalibin wa Umdatus Salikin.” Kepada-Nya aku meminta agar risalah ini bermanfaat. Sesungguhnya, Dia sangat dekat dan Maha Mengabulkan Doa.

Pendahuluan

Ketahuilah, keterputusan makhluk dari Allah dikarenakan mereka bergantung kepada makhluk, diri sendiri, memandang amal, dan menyimpang dari akidah yang benar melalui berbagai keinginan yang menjadi kodrat nafsu setiap orang.

Demikian pula karena cinta kepada kedudukan, harta, dunia, kekuasaan, ketenaran, suka berangan-angan, suka menunda-nunda, kikir, hawa nafsu, kesombongan, makanan dan minuman, pakaian, keduniaan mereka yang rusak, dikuasainya hati mereka oleh keinginan nafsu.

Mengabaikan perjuangan melawan hawa nafsu (mujahadatu an-nafs) juga turut andil dalam meningkatkan syahwat dan kebodohan diri, menghias diri karena manusia, berperangai dengan sifat-sifat tercela seperti dengki, iri hati, bodoh, dungu, riya”, dan munafik.

Selain itu, mengabaikan mujahadatu an-nafs juga menyebabkan anggota tubuh seperti mata, telinga, lidah, tangan, dan kaki berbuat di luar ketaatan kepada Allah, mengakibatkan kemalasan, kelalaian, dan hal-hal lain yang dapat menjauhkan diri dari Allah swt.

Dia berfirman, “Semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya.” (QS. al-Isra’ (17): 36)

Ruang Lingkup Kajian

Risalah ini terdiri atas beberapa bagian, pendahuluan, dan fasal. Bagian pertama berbicara perihal fondasi agama: bagian kedua makna adab, bagian ketiga makna suluk dan tasawuf, bagian keempat, wushul dan wishal, bagian kelima arti tauhid dan makrifat, bagian keenam jiwa, ruh, hati, dan akal, bagian ketujuh makna cinta (mahabbah), bagian kedelapan makna kedamaian bersama Allah swt.: bagian kesembilan arti malu (haya”) dan muragabah, bagian kesepuluh makna gurb (kedekatan).

Selain itu, kitab ini juga membicarakan berbagai aspek lain, seperti: bagian kesebelas, kemuliaan ilmu dan kewajiban mencarinya, bagian kedua belas, makna Asmaul Husna, bagian ketiga belas, meyakini dan berpegang teguh kepada akidah yang benar, bagian keempat belas, sifat-sifat Allah swt.

Bagian kelima belas, hakikat ikhlas: bagian keenam belas, bantahan terhadap kemungkinan berbuat dosa kecil bagi Nabi saw., bagian ketujuh belas, bisikan dan jenis-jenisnya, bagian kedelapan belas, makna ketergelinciran lidah (afat lisan), bagian kesembilan belas, menjaga perut, bagian kedua puluh, setan dan tipu muslihatnya,

Bagian kedua puluh satu, segala hal yang wajib dijaga: bagian kedua puluh dua, makna perilaku baik dan buruk, bagian kedua puluh tiga, arti berpikir, bagian kedua puluh empat, makna tobat, bagian kedua puluh lima, pengertian sabar, bagian kedua puluh enam, makna khauf (ketakutan): bagian kedua puluh tujuh, arti raja” (berharap), bagian kedua puluh delapan, makna fakir, bagian kedua puluh sembilan, pemahaman zuhudj: bagian ketiga puluh: makna muhasabah:

Bagian ketiga puluh satu, makna syukur, bagian ketiga puluh dua, arti tawakal: bagian ketiga puluh tiga, niat, bagian ketiga puluh empat, makna jujur, bagian ketiga puluh lima, pengertian ridha, bagian ketiga puluh enam, larangan ghibah, bagian ketiga puluh tujuh, makna futuwwah (kedermawanan).

Bagian ketiga puluh delapan, arti akhlak mulia: bagian ketiga puluh sembilan, rnakna qana’ah, bagian keempat puluh, perihal orang yang bertanya, bagian keempat puluh satu, berbelas kasih terhadap makhluk Allah swt.: bagian keempat puluh dua, keterjerumusan ke lembah dosa: dan bagian keempat puluh tiga, gambaran shalat orang-orang yang dekat dengan Allah swt.

Hal-hal Selain Allah Menjadi Penghalang dari-Nya

Ketahuilah, bersanding bersama makhluk dan hawa nafsu menjadi penghalang dari Allah swt. Sedangkan melihat perbuatan (diri sendiri) termasuk syirik, karena seluruh perbuatan hamba hanya layak diatributkan kepada Allah, penciptaan maupun pewujudannya.

Adapun yang diatributkan kepada hamba hanyalah usahanya, agar dia mendapat pahala jika taat kepada-Nya dan memeroleh hukuman jika bermaksiat. Ketika hamba bergantung kepada sesuatu yang diwujudkan Allah swt. maka hal itu disebut kasb (usaha). Karena kemampuan hamba hanyalah saat melakukan pekerjaan, bukan sebelumnya. Inilah pandangan Ahlus Sunnah.

Barang siapa mengatributkan kehendak dan usaha kepada diri sendiri, berarti ia termasuk golongan Qadariyah, Barang siapa menafikan kehendak dan usaha dirinya, ia tergolong Jabariyah. Dan siapa saja yang mengatributkan kehendak kepada Allah dan menyandarkan usaha kepada hamba, maka ia seorang Sunni sekaligus sufi yang lurus.

Demikianlah, permbahasan ini memerlukan dialog panjang, tetapi di sini bukan tempat yang tepat. Permasalahan ini akan kami bicarakan segera, insya Allah.

Adapun terjadinya penyimpangan akidah yang benar, disebabkan dominasi hawa nafsu terhadap hati dan fana tisme terhadap mazhab ahli bidah. Seorang imam berkata, “Banyak kaum yang diselamatkan oleh akidah, meskipun amalan mereka sedikit. Namun, tidak sedikit pula yang binasa karena akidah, walaupun amalan mereka banyak. Cinta kedudukan, harta, dan dunia adalah racun yang mematikan. Kekuasaan dan ketenaran melahirkan kesombongan dan menjerumuskan hamba ke dalam keduniaan. Keduanya merupakan perusak agama.”

Seorang imam lain mengatakan, “Aku tak melakukan satu pun amal yang disaksikan orang, kecuali amal tersebut kugugurkan (karena takut riya ‘, ed).”

Selain itu, panjang angan-angan akan menghalangi perbuatan baik dan kebenaran. Menunda-nunda amal menjadi salah satu tentara setan yang paling besar. Kikir, hawa nafsu, dan kesombongan adalah hal-hal yang menghancurkan.

Makanan haram membuat hati gelap dan keras, serta menjauhkan diri dari Allah swt. Sebaliknya, rnakanan yang baik (halal) membuat hati terang dan lembut, serta mendekatkan diri kepada Allah. Hal ini sebagaimana firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.” (QS. al-Bagarah (2): 172)

Kata ath-thayyibat (yang baik-baik) dalam ayat di atas berarti makanan yang halal. Karena itu, perbaikilah makanan dan minumanmu. Jangan kautinggalkan shalat malam dan puasa di siang hari. Makanan yang baik menjadi fondasi utama bagi perjalanan suatu kaum.

Sekiranya seorang hamba melakukan shalat layaknya shalatnya budak, hal itu tak berguna sepanjang ia tidak mengetahui apa yang masuk ke dalam perutnya. Manusia yang paling cepat menyeberangi titian akhirat adalah yang paling wira’i terhadap dunia. Allah swt. berfirman,

“Hai hamba-Ku, laparkanlah dirimu niscaya kau melihat-Ku, bersikap wara’-lah pasti kau mengenal-Ku, dan telanjanglah (dari dunia) niscaya kau akan sampai kepada-Ku.”

Dan Dia berfirman, “Adapun orang-orang yang wara’, Aku malu untuk menyiksa mereka.”

Salah seorang ulama kenamaan berkata, “Pegang teguhlah ilmu, lapar, rendah diri, dan puasa. Karena ilmu adalah cahaya yang menerangi, dan lapar adalah hikmah.” Abu Yazid al-Busthami pernah mengatakan, “Tak sehari pun aku berpuasa karena Allah, melainkan aku melihat satu pintu hikmah di hatiku yang belum pernah kulihat sebelumnya.”

Kerendahan diri adalah ketenangan dan keselamatan, dan puasa merupakan sifat abadi yang tiada bandingannya, Seperti firman Allah swt., “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.” (QS. asy-Syura (42): 11)

Oleh karena itu, barang siapa mengenakan sifat ini, ia akan mewarisi ilmu, makrifat, dan musyahadah (menyaksikan Allah).

Dalam sebuah hadis qudsi Allah berfirman, “Setiap amal anak Adam untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa untuk-Ku, dan Akulah yang membalasnya.”

Bagi Allah, bau tak sedap yang keluar dari mulut orang berpuasa itu lebih harum daripada aroma misik. Sedangkan kesibukan dunia dan dominannya syahwat pada hati akan melahirkan semua sifat tercela. Maka, tak ada lagi harapan mendekat (kepada Allah) selama sifat-sifat tercela itu tak digantikan dengan sifat-sifat terpuji.

Seorang ulama berkata, “Selama hamba masih dikotori oleh selain Allah, ia tak pantas mendekat dan bersanding dengan-Nya sebelum menyucikan hati dari selain Dia.” Utsman ra. berkata, “Jika hati itu suci, ia tak akan kenyang membaca al-Quran. Sebab, dengan kesucian itu, hati akan naik menyaksikan Sang Pembicara (Allah). Tak ada yang lain.”

Ketahuilah, segala hal selain Allah menjadi penghalang dari-Nya. Andaikan bukan karena gelapnya semesta, cahaya Sang Gaib (Allah) pasti akan tampak. Sekiranya bukan karena fitnah nafsu, semua hijab pasti tersingkap.

Jika bukan karena rintangan-rintangan, seluruh hakikat pasti terungkap. Sekiranya bukan karena berbagai penyakit diri, kuasa Allah pasti akan terlihat jelas. Andaikata bukan karena ketamakan, cinta-Nya pasti akan tertancap tajam.

Bila tak ada bagian yang abadi, kerinduan pasti membakar ruh. Jika manusia tidak jauh dari-Nya, tentu Tuhan bisa disaksikan. Jadi, ketika hijab tersingkap, sebab-sebab pasti terungkap. Seluruh rintangan akan hilang dengan memutus ikatan-ikatan ini.

Kau menyaksikan rahasia yang telah lama tersembunyi darimu pagi telah menyingsing Setelah kau menjadi gulitanya kaulah penghalang hati dari rahasia Sang Gaib

Jika bukan karena engkau, Penghujung hati itu tak akan menjadi tabiatmu jika kau jauh darinya, ia akan ditempati di atas pundak kasyf yang terlindungi tenda-tendanya tibalah pembicaraan yang tak membosankan didengarkan, Natsr dan nazham-nya menarik bagi kami

Seorang ulama lain mengatakan, “Jika Allah menghendaki keburukan terhadap hamba, niscaya Dia akan menutup pintu amal dan membuka pintu kemalasan untuknya.”

Suatu kala, seorang laki-laki mendatangi Mu’adz, lalu berkata, “Beritahu aku tentang dua orang. Pertama, yang bersungguh-sungguh dalam beribadah, banyak beramal, dan sedikit dosa, tetapi keyakinannya lemah dan senantiasa diselimuti keraguan.”

Mu’adz menjawab, “Keraguannya itu pasti akan menghilangkan amalnya.” “Lalu yang kedua, beritahu aku tentang seseorang yang sedikit amalnya, banyak dosanya, tetapi memiliki kuat keyakinannya,” lanjut laki-laki itu. Mu’adz pun diam.

Sejurus kemudian ia berkata, “Demi Allah, jika keraguan orang pertama menghapus amal-amal kebaikannya, tentulah keyakinan orang kedua akan menghapus semua dosanya.” Lantas Mu’adz memegang tangannya dan berkata, “Aku tak pernah bertemu orang yang lebih mengerti agama dari orang ini.”

Amalan Abu Yazid al-Busthami

Abu Yazid al-Busthami ra. berkata, “Aku tinggal selama 12 tahun untuk mengasah diri, lima tahun menggosok cermin hati, dan satu tahun melihat antara keduanya. Ternyata dalam diriku terdapat ikatan, dan selama 50 tahun aku bekerja untuk memutuskannya. Aku mencari cara bagaimana memutuskannya. Aku pun mengalami penyingkapan. Aku melihat semua makhluk adalah mayat. Lalu, kubaca takbir empat kali untuk mereka.”

Ungkapan ini mengandung makna—hanya Allah yang Maha tahu —bahwa Abu Yazid berusaha melakukan mujahadatu an-nafs (perang melawan hawa nafsu), menghilangkan noda dan kotoran hawa nafsu beserta sifat-sifat yang menyelimutinya, seperti ujub, sombong, rakus, iri, dengki, dan lain-lain yang menjadi kebiasaan hawa nafsu.

Ia pun berusaha menghilangkan semua itu dengan memasukkan hawa nafsunya ke dalam tungku ancaman Allah. Ia pukul nafsu itu dengan palu-palu perintah dan larangan hingga kelelahan. Ia mengira nafsunya telah bersih, lalu melihat cermin keikhlasan hatinya.

Ternyata, masih adasisa-sisasyirik tersembunyi, seperti riya, melihat amal, memperhitungkan pahala dan hukuman, serta mengharap karamah dan pemberian. Inilah syirik dalam keikhlasan bagi orang-orang khawash. Ini ikatan yang dimaksud Abu Yazid dan berusaha dia putuskan tadi.

Artinya, Abu Yazid berusaha memutus hawa nafsu dan “menyapihnya” dari segala penghalang dan penghambat. Ia berpaling dari makhluk, sampai-sampai ia “membunuh” semua nafsunya yang masih hidup, dan menghidupkan hatinya yang mati. la melakukan itu sampai mantap hanya Sang Oidam dan menganggap selain Dia tiada. Saat itulah, ia bertakbir empat kali untuk makhluk dan lari kepada Allah al-Hagg.

Ungkapan, “Aku bertakbir empat kali untu mereka,” maksudnya adalah, setiap orang yang mati itu dibacakan takbir empat kali. Selain itu, penghalang makhluk dari Allah pun ada empat hal: nafsu, keinginan, setan, dan dunia. Maka, ia mematikan hawa nafsu dan keinginannya serta mengusir setan dan dunianya. Ia pun membaca takbir untuk setiap yang telah mati dari dirinya sekali takbir, karena Dialah yang Mahaagung. Selain Dia adalah hina dan kecil.

Selanjutnya, pahamilah bahwa engkau tak akan mencapai posisi kedekatan (dengan Allah) sebelum memutus enam rintangan:

Pertama, mencegah anggota tubuh dari pembangkangan syariat, kedua, mencegah hawa nafsu dari kebiasaan, ketiga, mencegah hati dari kesenangan hawa nafsu, keempat, mencegah sirri (batin) dari noda-noda tabiat: kelima, mencegah ruh dari asap indrawi: keenam, mencegah akal dari imajinasi-imajinasi ilusif.

Dari rintangan pertama, engkau akan dapat meraih Sumber-sumber kebijaksanaan dalam hati. Dari rintangan kedua, kau akan mengetahui rahasia ilmu-ilmu laduni. Dari rintangan ketiga, akan tampak olehmu tanda-tanda munajat alam Malakut. Cahaya-cahaya munazalat gurbiyyah (kedekatan dengan Allah) akan muncul di hadapanmu pada rintangan keempat.

Lalu, pada rintangan kelima, purnama penyaksian (musyahadah) cinta akan muncul di hadapanmu. Dan dari rintangan terakhir, kau akan turun ke taman-taman kesucian (hadhrah qudsiyyah). Di sini, karena menyaksikan lembutnya kedamaian, kau “lenyap” dari hal-hal indrawi.

Bila Allah menghendaki untuk memilihmu, Dia akan memberimu seteguk minuman dari gelas cinta-Nya. Tetapi dengan minuman itu kau semakin haus. Dengan rasa minuman itu, kau semakin rindu. Kau semakin ingin mendekat, dan dengan ketenteraman itu kau semakin gelisah.

Seandainya kemabukan ini telah menguasaimu, kau akan dibuat kagum. Jika kau telah kagum, maka kau akan dibuat bingung. Di sini kau adalah murid (yang menginginkan). Manakala kebingunganmu bertahan lama, Dia akan mengambil dan menarikmu dari dirimu sendiri, sehingga kau tetap dalam keadaan majlub dan majdzub. Saat itulah kau menjadi murad (yang diinginkan).

Ketika dzatmu telah fana” (lenyap) dan sifat-sifatmu musnah, dan kau pun telah fana” dari kefana’anmu karena keabadian-Nya, maka Dia menganugerahimu pakaian “Dengan-Ku ia mendengar dan dengan-Ku ia melihat.” Dia pun menjadi pengendali dan pelindungmu.

Apabila kau berbicara, maka kau berbicara dengan ucapan-Nya, jika kau melihat, maka kau melihat dengan cahaya-Nya, bila kau bergerak, itu karena kemampuan dariNya, dan bila kau memukul, itu karena kekuatan dari-Nya.

Di sini, tak ada lagi dualisme atau jarak. Jika kakimu telah berdiri kokoh dan batinmu telah mantap, maka lenyaplah kemabukanmu itu. Kukatakan, Jika rasa cintamu telah menguasaimu, dan batasan dirimu telah melampaui batasan diam, maka kau pun akan berkata, Pada kondisi pertama kau menjelma pribadi yang memiliki kedudukan kokoh (mutamakkin), dan kedua kau menjadi pribadi yang terus berubah-ubah (mutalawwin). Sampai di sini, pemahaman pun akan mengalami kemuskilan untuk mengurai simbol perbincangan ini.

 

(***)

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR