Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Terjemah Raudhatu Thalibin Al-Ghazali – 10: Makna Kedekatan

Kitab Terjemah Raudhatu Thalibin

Kitab Terjemah Raudhatu Thalibin

BLOGGURU – Kitab berjudul asli Raudhatut Thalibin wa Umdatus Salikin karangan Imam Ghazali ini menjadi salah satu karya besar yang mempengaruhi ulama sufi setelahnya, seperti Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Ibnu Arabi, Ibnu Atha’illah as-Sakandari, dan lain-lain.

Dalam pengantarnya, Imam Ghazali mengatakan, kitab risalah ditulis utuk dijadikan pegangan bagi para pencari kebenaran, dan membantu umat Islam dalam menempuh suluk atau perjalanan spiritual. Di dalam masterpiece Imam Ghazali ini, terdapat segala hal yang dibutuhkan untuk mengantarkan diri menuju Sang Ilahi.

Berikut ini terjemah Bagian Pertama dan Kedua dari Kitab Raudhatu Thalibin Imam al-Ghazali (10): Makna Kedekatan

Bagian Kesepuluh: Makna Kedekatan

ALLAH SWT. BERFIRMAN, “Dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan). (QS. al-‘Alag (96): 19). Sujud adalah posisi paling dekat antara hamba dengan Tuhannya. Ia menjadi dekat ketika merasakan nikmatnya sujud. Dengan sujudnya, ia telah melipat hamparan semesta, baik yang ada maupun yang akan ada. Ia bersujud di ujung selendang keagungan, lalu mendekat.

Sebagian sufi berkata, “Aku tidak merasakan kehadiran. Maka kukatakan, Ya Allah, Ya Tuhan. Lantas, aku merasakan hal itu lebih berat daripada gunung.” Lalu ditanya, “Mengapa demikian?” Ia menjawab, “Karena seruan itu datang dari balik hijab. Lantas, apakah engkau melihat teman: duduk memanggil sahabatnya?” Itu tiada lain merupakan isyarat, pengawasan, kehalusan, dan kelembutan.

Inilah yang digambarkan magam yang mulia. Di dalamnya ada kedekatan, tetapi ia memberi kesadaran penghapusan dan menunjukkan kemabukan. Demikian itu terjadi bagi orang yang jiwanya hilang dalam cahaya ruhnya karena dominasi kemabukan dan kuatnya penghapusan. Ketika bangun dan sadar, maka ruhnya melepaskan diri dari jiwa, dan jiwanya melepaskan diri dari ruh.

Kemudian, setiap hamba kembali ke posisi dan magamnya masing-masing, seraya berkata, “Ya Allah, Ya Rabb” dengan lidah jiwa yang tenang, kembali ke magam hajatnya dan posisi kehambaannya. Sementara ruh tak mampu berkata-kata karena disibukkan berbagai penyingkapan dalam kesempurnaan ahwal. Keadaan ini lebih sempurna dan lebih dekat daripada yang pertama.

Sebab, dengan lepasnya ruh melalui berbagai penyingkapan ia berada dalam kedekatan, dan membangun gambaran kehambaan dengan kembalinya kekuasaan jiwa ke posisi kefakiran. Bagi ruh, bagian kedekatan tetap terpenuhi dengan cara menegakkan gambaran kehambaan dari jiwa.

Imam al-Junaid berkata, “Sesungguhnya Allah swt. mendekati hati hamba sejauh kedekatan mereka kepadaNya. Maka, lihatlah apa yang dekat dari hatimu.” Abu Ya ‘gub as-Susi berkata, “Selama hamba berada dalam kedekatan, ia tak akan menjadi orang dekat selama tidak melihat kedekatan karena kedekatan. Jika ia tidak sanggup melihat kedekatan karena kedekatan, maka itulah kedekatan.”

Seorang sufi berkata, Telah kutemukan Engkau dalam sirri, lalu lidahku bermunajat kepada-Mu kami berkumpul sebab beragam makna dan berpisah karena berbagai arti jika aibmu bukanlah mengagungkan pandangan mataku maka cinta akan membuatmu dekat dari berbagai penjuru

Dzun Nun berkata, “Semakin dekat seseorang kepada Allah, ia akan semakin segan.” Sahl berkata, “Di antara magam kedekatan, magam terendah adalah malu.” Nashr Abadi berkata, “Dengan mengikuti sunah akan diraih makrifat, dengan menunaikan ibadah wajib akan dicapai kedekatan, dengan membiasakan sunah akan digapai cinta.” Segala puji hanya milik Allah semata.

(***)

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR