Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Terjemah Raudhatu Thalibin Al-Ghazali – 11-12: Kemuliaan Ilmu dan Kewajiban Mencarinya dan Makna Asmaul Husna

Kitab Terjemah Raudhatu Thalibin

Kitab Terjemah Raudhatu Thalibin

BLOGGURU – Kitab berjudul asli Raudhatut Thalibin wa Umdatus Salikin karangan Imam Ghazali ini menjadi salah satu karya besar yang mempengaruhi ulama sufi setelahnya, seperti Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Ibnu Arabi, Ibnu Atha’illah as-Sakandari, dan lain-lain.

Dalam pengantarnya, Imam Ghazali mengatakan, kitab risalah ditulis utuk dijadikan pegangan bagi para pencari kebenaran, dan membantu umat Islam dalam menempuh suluk atau perjalanan spiritual. Di dalam masterpiece Imam Ghazali ini, terdapat segala hal yang dibutuhkan untuk mengantarkan diri menuju Sang Ilahi.

Berikut ini terjemah Bagian Pertama dan Kedua dari Kitab Raudhatu Thalibin Imam al-Ghazali (11): Kemuliaan Ilmu dan Kewajiban Mencarinya, (12) Makna Asmaul Husna

Bagian Kesebelas: Kemuliaan Ilmu dan Kewajiban Mencarinya

KETAHUILAH, KARENA ILMU dan amal diciptakanlah langit dan bumi beserta segala isinya. Allah swt. berfirman, “Allahlah) yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kau mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. ath-Thalag (65): 12)

Cukuplah ayat di atas menjadi dalil atas kemuliaan ilmu dan kewajiban mencarinya, terlebih ilmu tauhid. Allah swt. berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat (51): 56)

Cukuplah ayat ini menjadi petunjuk atas kemuliaan ibadah dan senantiasa melaksanakannya. Jadi, alangkah agung kedua hal ini karena menjadi tujuan diciptakannya dunia dan akhirat. Maka, hak seorang hamba agar tidak menyibukkan diri kecuali untuk keduanya, ilmu dan ibadah, serta tidak mengikuti selain keduanya. Namun, ilmu adalah hal yang paling mulia dari kedua mutiara ini, tetapi harus disertai ibadah. Jika tidak, ilmu akan sia-sia.

Pahamilah, adalah wajib untuk mendahulukan ilmu daripada ibadah. Hal ini karena dua alasan, pertama, agar ibadahmu menjadi sah dan benar, kedua, ilmu yang bermanfaat akan membuahkan takut dan segan kepada Allah dalam hati hamba. Takut dan segan ini akan melahirkan ketaatan dan mencegah maksiat atas taufik dan pertolongan Allah swt. Selain kedua hal ini, tak ada yang dituju oleh hamba dalam beribadah kepada Allah swt. Maka dari itu, engkau harus mencari ilmu yang bermanfaat.

“HAK SEORANG HAMBA AGAR TIDAK MENYIBUKKAN DIRI KECUALI UNTUK ILMU DAN IBADAH, SERTA TIDAK MENGIKUTI SELAIN KEDUANYA.”

Pertama-tama, engkau harus mengetahui dan mengenal sesembahanmu, lalu menyembahnya. Bagaimana bisa kau menyembah Dzat yang tidak kaukenal Asma dan sifatsifat Dzat-Nya, sifat wajib dan mustahil bagi-Nya. Atau, barangkali engkau meyakini sesuatu dalam sifat-sifat-Nya dengan keyakinan yang tidak benar sehingga ibadahmu sia-sia.

Setelah itu, engkau dituntut mengetahui kewajibankewajiban syariat yang wajib kaukerjakan agar dapat menunaikan apa yang telah diperintahkan. Engkau pun wajib mengenali larangan-larangan syariat yang harus kautinggalkan supaya kaubisa meninggalkannya.

Ketahuilah, ilmu yang menjadi kewajiban setiap mukalaf itu ada tiga macam. Pertama, ilmu tauhid. Kewajibanmu adalah sejauh mengetahui dasar-dasar agama dan kaidah-kaidah akidah. Kedua, ilmu sirri, yaitu ilmu yang berhubungan dengan hati beserta peran-perannya, baik kewajiban maupun larangan.

Ketiga, ilmu ibadah lahiriah yang berkaitan dengan tubuh dan harta. Kemudian, Allah mewajibkanmu untuk mengetahui apa yang wajib kauketahui dan menunaikan apa yang wajib kaukerjakan, serta meninggalkan segala hal yang wajib kautinggalkan.

Dengan demikian, engkau telah menunaikan semua yang diwajibkan Allah kepadamu sehingga jadilah kau ahli ilmu yang beramal. Dan, hanya kepada Allah tempat meminta pertolongan.

Bagian kedua Belas: Makna al-Asma’ al-Husna

PAHAMILAH, MENURUT MAZHAB Ahlus Sunnah seluruh Asmaul Husna itu merujuk kepada Dzat dan tujuh sifat. Ini berbeda dengan kelompok Muktazilah dan para filosof. Asma tersebut bukanlah penyematan, bukan pula yang diberi nama. Demikianlah pandangan yang benar karena pengertian nama adalah lafazh yang diciptakan untuk menunjukkan sesuatu yang diberi nama.

Ketahuilah, kesempurnaan dan kebahagiaan hamba itu hanya dengan berakhlak seperti akhlak Allah, serta berhias dengan makna-makna Asma dan sifat-sifat-Nya sejauh yang bisa ia gambarkan. Janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa kemiripan dalam setiap sifat menghendaki kesamaan. Itu sangat jauh.

Tidakkah kautahu Allah itu berada tidak pada suatu tempat. Dia Hidup, Maha Mengetahui, Mahakuasa, Maha Berkehendak, Maha Mendengar, Maha Berbicara dan Aktif, dan manusia juga demikian. Akankah engkau melihat bahwa yang menetapkan sifat-sifat tersebut bagi manusia serupa dan sama. Persoalannya tidak demikian. Tetapi kesamaan itu berarti kesamaan dalam jenis dan esensi.

Sementara itu, keistimewaan Allah adalah Dia itu wujud yang Wajibul Wujud dengan Dzat. Dengan kekuasaan-Nya maka wujudlah segala sesuatu yang mungkin wujud dengan keteraturan dan kesempurnaan yang paling indah.

Keistimewaan ini sama sekali tak terbayangkan kemiripan maupun kesamaannya, bahkan tidak ada yang mengetahuinya selain Allah swt. Jadi, seluruh makhluk tidak akan mengetahui selain kebutuhan alam yang teratur dan sempurna ini terhadap Pencipta Yang Hidup, Mengetahui, dan Kuasa.

“MAKNA ASMA-ASMA ALLAH ITU TERANGKUM DALAM EMPAT KATA YANG TERMASUK AL-BAAIYAT ASHSHALIHAT, YAITU: SUBHANALLAH WALHAMDULILLAH WA LA ILAHA ILLA ALLAH WA ALLAHU AKBAR.”

Makrifat semacam ini memiliki duajalan: Pertama, berhubungan dengan ilmu, dan yang diketahui membutuhkan perancang. Kedua, berkaitan dengan Allah dan yang Dia ketahui, yaitu asma-asma yang diturunkan dari sifat-sifat yang tidak termasuk dalam hakikat dan esensi Dzat.

Jika kita katakan bahwa Dia Hidup, Mengetahui, dan Kuasa, itu berarti sesuatu yang samar (mubham) yang memiliki sifat hidup dan kuasa karena hamba tidaklah mengetahui selain dirinya terlebih dahulu, kemudian membandingkan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat dirinya.

Mahasuci sifat-sifat Allah yang menyerupai sifatsifat kita. Dengan demikian, mustahil untuk mengetahui Allah secara hakiki selain Allah sendiri. Bahkan, mustahil mengenali kenabian, kecuali sang nabi sendiri. Sehingga selain nabi tidak akan mengetahui kenabian melainkan sekadar namanya.

Jika dikatakan, “Lantas, apakah puncak makrifat kaum arifin terhadap Allah swt.?” Kami menjawab, “Puncak makrifat mereka, jika tersingkap kemustahilah pengetahuan hakikat Dzat Allah bagi selain Allah. Dan, keluasan makrifat orang-orang yang telah menggapai marifatullah dengan mengetahui asma dan sifat-sifat-Nya.

Maka, sejauh apa pengetahuan dan keajaiban kekuasaan-Nya, serta keindahan ayat-ayat-Nya di dunia maupun di akhirat yang tersingkap bagi mereka. Di sinilah Jetak perbedaan derajat makrifat kepada Allah swt. Allah Maha Mengetahui.

Ketahuilah, keseluruhan Asma Allah al-Husna itu merujuk pada sepuluh hal:

  1. Asma yang hanya menunjukkan Dzat-Nya, seperti ucapanmu, “Allah,” dan yang mendekati nama al-Haqq, jika dimaksudkan sebagai Dzat yang Wajibul Wujud.
  2. Asma yang merujuk pada Dzat disertai penegasian (salab), seperti al-Quddus, as-Salam, al-Ghaniy, al-Ahad, dan lain-lain. Karena al-Quddus adalah Dzat yang dari-Nya dicabut segala sesuatu yang terpikir dalam benak dan masuk dalam dugaan. As-Salam merupakan Dzat yang dari-Nya tercabut segala aib dan kekurangan. Al-Ghaniy yaitu Dzat yang dari-Nya tercabut semua hajat. Dan, alAhad bermakna Dzat yang dari-Nya tercabut padanan dan keterbagian.
  3. Asma yang merujuk Dzat dengan penyandaran, seperti al-‘Ali, al-‘Azhim, al-Awwal, al-Akhir, azh-Zhahir, al-Bathin, dan lain-lain. Karena al-‘Ali adalah Dzat yang mengatasi segala Dzat dalam segi derajat, daninimerupakan bentuk penyandaran. Al-Azhim yaitu sifat yang menunjukkan Dzat yang melampaui batas-batas penangkapan indra. Al-Awwal berarti yang mendahului segala yang wujud. Al-Akhir adalah yang menjadi tempat kembali seluruh wujud. Azh-Zhahir bermakna Dzat yang disandarkan kepada dalil akal. Dan, al-Bathin merupakan Dzat yang disandarkan kepada pengetahuan indra dan ilusi.
  4. Asma yang merujuk kepada Dzat disertai pencabutan (salab) dan penyandaran (izhafah), seperti al-Malik dan al-‘Aziz. Al-Malik yaitu Dzat yang tidak membutuhkan apa pun, tetapi segala sesuatu membutuhkan-Nya, Sedangkan al-Aziz berarti Dzat yang tiada duanya: sangat dibutuhkan, tapi sulit diraih dan digapai.
  5. Asma yang merujuk pada Dzat disertai sifat ketetapanNya, seperti al-Hay, al-Alim, al-Gadir, al-Murid, as-Sami’ al-Bashir, dan al-Mutakallim.
  6. Asma yang merujuk kepada ilmu disertai penyandaran, seperti al-Hakim, al-Khabir, asy-Syahid, dan al-Muhshi. Karena al-Hakim menunjukkan ilmu yang disandarkan kepada objek ilmu yang paling mulia. Al-Khabir menunjukkan ilmu yang disandarkan pada hal-hal batin (tidak tampak). Asy-Syahid menunjukkan Sang Maha Mengetahui yang disandarkan kepada apa yang disaksikan. Dan al-Muhshi mengindikasikan ilmu yang mencakup objek-objek yang diketahui yang terbatas dan terhingga.
  7. Asma yang merujuk kepada kekuasaan disertai tambahan penyandaran, seperti al-Qawiy, al-Matin, dan al-Qahhar. Sebab, al-quwwah adalah kesempurnaan kekuasaan, al-matanah menunjukkan kuatnya kekuasaan, al-qahr menjadi pengaruh dominasi kekuasaan terhadap hal yang dikuasai.
  8. Asma yang merujuk kepada kehendak (iradah) disertai perbuatan dan penyandaran, seperti ar-Rahman, arRahim, ar-Ra’uf, dan al-Wadud. Karena ar-Rahman merujuk kepada kehendak yang disandarkan pada pemenuhan hajat orang yang butuh danlemah.Ar-Ra’fah menunjukkan kuatnya rahmah, yaitu keberlebihan dalam rahmat. Sementara al-Wadud merujuk kepada kehendak yang disandarkan kepada ihsan dan pemberian nikmat. Pelaksanaan rahmat menuntut adanya orang yang butuh, sedangkan pelaksanan alwudd tidak memerlukan hal ini, memberi nikmat sejak awal (tanpa sebab).
  9. Asma yang merujuk kepada Dzat disertai sifat sandaran, seperti al-Khalig, al-Bari, al-Mushawwir, al-Wahhab, Ar-Razzaq, al-Fattah, al-Basith, al-Qabidh, al-Khafidh, ar-Rafi’, al-Mu’iz, al-Muzhil, al-‘Adl, al-Mugit, al-Mughits, al-Mujib, al-Wasi’, al-Bahits, al-Mubdi, al-Mu’id, al-Muhyi, al-Mumit, al-Muqaddim, al-Mu ‘akhir, al-Waliy, al-Barr, at-Tawwahb, al-Muntaqim, al-Muqsith, al-Jami’, al-Mu thi, al-Mani’, al-Mughni, al-Hadi, dan lain-lain.
  10. Asma yang merujuk kepada makna perbuatan disertai penyandaran, seperti al-Majid, al-Karim, dan al-Lathif. Karena al-Majid menunjukkan luasnya penghormatan disertai kemuliaan Dzat. Demikian pula al-Karim. Adapun al-Lathif menunjukkan perbuatan disertai kelembutan.

Asma-asma di atas dan lainnya tidak keluar dari sepuluh bagian ini. Maka, analogikan asma yang belum kami sebutkan dengan yang telah kami sebutkan. Hal itu sebagai bentuk keluarnya asma-asma dari kesamaan arti, serta merujuk kepada sifat-sifat yang masyhur dan terhingga. Dan Allah Mahatahu. Mengertilah, makna asma-asma Allah itu terangkum dalam empat kata yang termasuk al-bagiyat ash-shalihat, yaitu: Subhanallah walhamdulillah wa la ilaha illa Allah wa Allahu Akbar (Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah: tiada Tuhan selain Allah: dan Allah Mahabesar).

Kalimat pertama, subhanallah. Dalam kalam Arab kalimat ini berarti penyucian dan pencabutan, peniadaan kekurangan dan aib dari Dzat dan sifat-sifat Allah swt Maka, di antara asma Allah yang berarti penegasian terma. suk kalimat seperti al-Guddus yang berarti suci dari aib, dan as-Salam yang bermakna selamat dari segala penyakit.

Kalimat kedua, al-hamdulillah. Kalimat ini mencakup penerimaan (itsbat) berbagai macam kesempurnaan pada Dzat Allah dan sifat-sifat-Nya. Jadi, asma Allah yang mengandung makna penegasan, seperti al-Alim, al-Qadir, asSami’, dan al-Bashir, termasuk ke dalam kalimat ini. Dengan kalimat subhanallah, kita menafikan segala macam aib yang kita pikirkan dan segala kekurangan yang kita pahami.

Dan dengan alhamdulillah, kita tegaskan segala jenis kesempurnaan yang kita kenal dan segala bentuk keagungan yang kita ketahui. Di balik sifat yang kita tanggalkan dan sematkan terdapat hal-hal agung yang tak kita lihat dan saksikan. Karena itu, kita memastikannya secara menyeluruh dengan ucapan “Allahu Akbar.”

Allahu Akbar adalah kalimat ketiga. Artinya, Dia lebih Agung dari apa yang kita tiadakan dan yang kita adakan. Inilah makna sabda Rasulullah saw.,“Aku tak bisa menghitung pujian terhadap-Mu. Engkau sebagaimana Engkau puji diri-Mu sendiri.”

Jadi, Asma Allah yang mengandung hal-hal yang tidak kita kenal dan tak kita ketahui, seperti al-A’la dan al-Muta’ali, tercakup dalam ucapan “Allahu Akbar” dalam wujud. Kita menafikan jika di antara maujud ini ada yang menyerupai atau menandingi Allah. Maka dari itu, kita pastikan hal ini dengan ucapan “La ilaha illa Allah.”

Kalimat keempat, Ia ilaha illa Allah. Karena uluhiyyah (ketuhanan) itu merujuk kepada hak untuk disembah, dan “TAK SATU PUN PENGUASA YANG TIDAK DIRENDAHKAN OLEH ALLAH KARENA MENGIKUTI HAWA NAFSU, MELAMPAUI BATAS, DAN DURHAKA KEPADA TUANNYA.” tak ada yang berhak disembah melainkan Dzat yang memiliki semua sifat yang telah kami tuturkan di atas. Jadi, Asma Allah yang mengandung semuanya secara global, seperti al-Wahid, al-Ahad, dan Dzul Jalal wa al-Ikram terangkum dalam ucapan “La ilaha illa Allah.”

Sesungguhnya, Dialah yang berhak disembah karena harus memiliki sifat-sifat keindahan dan kesempurnaan yang tak bisa digambarkan oleh orang-orang yang menggambar, dan tak bisa dihitung oleh orang-orang yang menghitung. Jika kita memasuki al-bagiyat ash-shalihat dalam satu kalimat global, maka kalimat tersebut adalah “Alhamdulillah.” Semuanya terangkum di dalamnya.

Hal ini sebagaimana dikatakan as-Sayyid al-Jalil alImam al-Hafizh “Ali bin Abi Thalib ra., “Andai aku menghendaki untuk menenangkan unta dengan ucapan alhamdulillah, tentu akan kulakukan.”

Karena Alhamdulillah adalah pujian, dan pujian itu kadangkala terjadi dengan memastikan kesempurnaan terkadang dengan menampik (mencabut) kekurangan, kadang-kadang dengan mengakui ketidakberdayaan untuk menangkap pengetahuan, dan tidak jarang dengan mene. gaskan kesendirian dalam kesempurnaan. Dengan kata lain, kesendirian dalam kesempurnaan pujian dan kesem. purnaan puncak.

Sebagaimana telah kami sampaikan, kalimat alham, dulillah ini mencakup al-bagiyat ash-shalihat karena huruf alif dan lam (.  ) pada kalimat ini berfungsi menyapu-bersih seluruh jenis sanjungan dan pujian, baik yang kita ketahui maupun tidak.

Pujian ini tak akan sedikit pun keluar dari apa yang telah kami jelaskan. Tidak ada yang memiliki hak ketuhanan, kecuali Dzat yang memiliki semua sifat yang telah kami sampaikan. Tidak ada yang keluar dari keyakinan ini, bahkan malaikat yang didekatkan maupun nabi yang diutus.

Tak satu pun penguasa yang tidak direndahkan oleh Allah karena mengikuti hawa nafsu, melampaui batas, dan durhaka kepada Tuannya. Mereka adalah kaum yang diliputi rendahnya hijab, diusir dari pintu, dan dijauhkan darisisi (Allah). Oleh sebab itu, manusia yang terhijab dari pengagungan dan makrifat kepada-Nya di dunia, ia layak terhijab dari penghormatan dan penyaksian-Nya di akhirat.

(***)

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR