
Kitab Terjemah Raudhatu Thalibin
BLOGGURU – Kitab berjudul asli Raudhatut Thalibin wa Umdatus Salikin karangan Imam Ghazali ini menjadi salah satu karya besar yang mempengaruhi ulama sufi setelahnya, seperti Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Ibnu Arabi, Ibnu Atha’illah as-Sakandari, dan lain-lain.
Dalam pengantarnya, Imam Ghazali mengatakan, kitab risalah ditulis utuk dijadikan pegangan bagi para pencari kebenaran, dan membantu umat Islam dalam menempuh suluk atau perjalanan spiritual. Di dalam masterpiece Imam Ghazali ini, terdapat segala hal yang dibutuhkan untuk mengantarkan diri menuju Sang Ilahi.
Berikut ini terjemah Bagian Pertama dan Kedua dari Kitab Raudhatu Thalibin Imam al-Ghazali (24): Makna Tobat dan Buahnya: Lari, Kembali, dan Rendah Hati
Bagian Kedua Puluh Empat: Makna Tobat dan Buahnya: Lari, Kembali, dan Rendah Hati
HAKIKAT TOBAT ADALAH kembali dari maksiat menuju taat, dari jalan yang jauh menuju jalan yang dekat, serta mengatur ilmu, hal, dan amal, begitu juga dalam pengaturan pada setiap maqam. Ilmu merupakan salah satu pengikat keimanan kepada Allah swt. Sementara itu, hal adalah perasaan yang lahir dari tobat, dan amal yaitu perbuatan-perbuatan yang lahir dari perasaan di dalam hati dan anggota tubuh.
Tobat didahului dua kewajiban. Pertama, memastikan bahwa dosa yang ditinggalkan benar-benar dosa. Kedua, tidak menganggap bahwa tobat itu semata-mata karena dirinya sendiri. Sebab, Allahlah yang menciptakan tobat itu di dalam dirinya dan memudahkannya untuk bertobat.
Kesadaran bahwa Allahlah yang membuatnya bertobat ini termasuk bentuk keimanan kepada Allah, karena erat kaitannya dengan kuasa Allah. Selain itu, juga berkaitan erat dengan kabar-kabar dari Allah.
Rukun tobat ada empat: mengetahui, menyesal, bertekad, dan meninggalkan. Adapun batasan penyesalan yang wajib, yaitu penyesalan yang mendorong untuk meninggalkan dosa. Sementara hakikat berlari artinya meninggalkan maksiat menuju taat.
Inilah lari yang wajib dan didasarkan atas fondasi keimanan. Artinya, kembalinya hamba dari kesibukan-kesibukan yang melalaikan Allah, dan dari kebaikan menuju yang lebih baik. Ini juga merupakan tobat dan kembali, serta menjadi syarat kebahagiaan di akhirat. Demikianlah lari yang wajib yang didasarkan atas kesempurnaan iman. Tiada akhir bagi derajat dan tingkatan tobat.
Selain dikenal dengan tobat, kondisi di atas juga disebut sebagai inabah (kembali) karena hakekatnya adalah kembali kepada Allah secara berulang-ulang, meski tanpa didahului dosa. Dengan begitu, tobat adalah menyesali setiap dosa, bukan tanpa dosa. Terakhir, tawadhu dalam konteks ini berarti tunduk dan patuh pada kebenaran secara mudah. Allah Mahatahu.
(***)