Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Terjemah Raudhatu Thalibin Al-Ghazali – 28: Kefakiran beserta Variannya

BLOGGURU – Kitab berjudul asli Raudhatut Thalibin wa Umdatus Salikin karangan Imam Ghazali ini menjadi salah satu karya besar yang mempengaruhi ulama sufi setelahnya, seperti Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Ibnu Arabi, Ibnu Atha’illah as-Sakandari, dan lain-lain.

Dalam pengantarnya, Imam Ghazali mengatakan, kitab risalah ditulis utuk dijadikan pegangan bagi para pencari kebenaran, dan membantu umat Islam dalam menempuh suluk atau perjalanan spiritual. Di dalam masterpiece Imam Ghazali ini, terdapat segala hal yang dibutuhkan untuk mengantarkan diri menuju Sang Ilahi.

Berikut ini terjemah Bagian Pertama dan Kedua dari Kitab Raudhatu Thalibin Imam al-Ghazali (28): Kefakiran beserta Variannya

Bagian Kedua Puluh Delapan: Kefakiran beserta Variannya

Tebattul, Fana’, dan Tajrid. KEFAKIRAN ADALAH KEHILANGAN dan butuh. Dalam konteks ini, “butuh” ada dua macam: mutlak dan terbatas. “Butuh” mutlak adalah butuhnya seorang hamba kepada pencipta yang menciptakannya, kepada keabadian setelah diciptakan, dan kepada hidayah menuju penciptanya.

Inilah kefakiran kepada Allah swt. Karena Allahlah Penciptanya, yang mengabadikannya, dan memberinya hidayah. Kefakiran semacam ini hukumnya wajib sebab termasuk bagian keimanan kepada Allah dan karena Allah. Dan ahwal yang lahir dari makrifat ini pun menjadi kesaksian hamba terhadap kefakiran dan hajat kepadaNya selama-lamanya.

Adapun “butuh” yang terbatas yaitu kebutuhan hamba kepada sarana-sarana yang membuat dirinya mampu berdiri tegak dan bisa diraih dengan harta. Ia adalah sesuatu yang hilang sekaligus dibutuhkan.

Kefakiran mutlak dimaksudkan untuk Zatnya sendiri karena ia berhubungan dengan Allah, sedangkan kefakiran terbatas ditujukan untuk selain dirinya dengan menyendiri dan mengasingkan diri menuju Allah swt.

Keduanya merupakan sarana untuk menjadi kaya kareha Allah, yaitu kebergantungan hati kepada-Nya. Kekayaan karena Allah menjadi perantara untuk melepaskan diri dari selain Allah. Maka dari itu, tak ada kewajiban dalam tajrid selain meyakini bebasnya al-Oadim dari yang baru (makhluk). Allah Mahatahu. (*)

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR