
Kitab Terjemah Raudhatu Thalibin
BLOGGURU – Kitab berjudul asli Raudhatut Thalibin wa Umdatus Salikin karangan Imam Ghazali ini menjadi salah satu karya besar yang mempengaruhi ulama sufi setelahnya, seperti Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Ibnu Arabi, Ibnu Atha’illah as-Sakandari, dan lain-lain.
Dalam pengantarnya, Imam Ghazali mengatakan, kitab risalah ditulis utuk dijadikan pegangan bagi para pencari kebenaran, dan membantu umat Islam dalam menempuh suluk atau perjalanan spiritual. Di dalam masterpiece Imam Ghazali ini, terdapat segala hal yang dibutuhkan untuk mengantarkan diri menuju Sang Ilahi.
Berikut ini terjemah Bagian Pertama dan Kedua dari Kitab Raudhatu Thalibin Imam al-Ghazali (29): Zuhud dan Mendahulukan Orang Lain
Bagian Kedua Puluh Sembilan: Zuhud dan Mendahulukan Orang Lain
Futuwwah sebagai Akhlak dan Magam Murad sebagai Peninggalan. ILMU YANG MELAHIRKAN sikap zuhud terhadap dunia adalah keimanan kepada Allah swt., seperti firman-Nya, “Tetapi kalian (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. alAla (87): 16-17) Dan ahwal yang lahir dari ilmu ini ialah berpalingnya kehendak dari dunia karena mengagungkan segala hal yang ada di sisi Allah swt.
Adapun pemantik sikap zuhud terhadap hal-hal selain Allah, seperti kenikmatan surga dan lain-lain karena menganggap remeh wujud (selain Allah) dan mengagungkan kesempurnaan Allah swt. Inilah zuhud yang ditujukan untuk dirinya sendiri, dan merupakan bagian dari keimanan kepada Allah sebab berhubungan dengan keagungan dan kesempurnaan.
Sebelum itu, zuhud yang ditujukan untuk selain dirinya yaitu dengan konsentrasi hati terhadap makrifat ini. Sementara kadar zuhud yang wajib yang ditujukan untuk selain dirinya yaitu mendorong untuk berkonsentrasi pada waktu-waktu yang wajib. Karena zuhud itu hanya berhubungan dengan hal-hal mubah, dan salah satu syaratnya adalah jika hal tersebut bisa dilakukan.
Buah dari zuhud adalah mendahulukan orang lain (itsar), sekaligus bentuk kedermawanan (futuwwah) paling tinggi. Kedermawanan berarti mempersembahkan sesuatu yang tidak dibutuhkan secara suka rela, bukan terpaksa. Dan itsar bermakna mencurahkan segala sesuatu yang dibutuhkan orang lain tanpa ganti dan tanpa tujuan, selain meniru akhlak Allah swt.
Selain itu, kedermawanan bersumber dari akhlak mulia. Jadi, barang siapa menunaikan kewajiban syariat dan bersikap mulia, ia termasuk orang-orang yang dermawanan. Barang siapa berbaur dengan anak-anak dunia tentang apa yang mereka alami, ia sama halnya orang yang tak memiliki kemurahan hati maupun akhlak mulia.
Sedangkan magam murad yaitu keadaan seseorang yang mengenali hakikat persoalan tanpa penyangkalan (munaz?) maupun pertentangan (mudaft). Karena tak ada sesuatu pun yang mampu melalaikannya dari Allah swt. Dan, Allah Mahatahu. (*)