
Kitab Terjemah Raudhatu Thalibin
BLOGGURU – Kitab berjudul asli Raudhatut Thalibin wa Umdatus Salikin karangan Imam Ghazali ini menjadi salah satu karya besar yang mempengaruhi ulama sufi setelahnya, seperti Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Ibnu Arabi, Ibnu Atha’illah as-Sakandari, dan lain-lain.
Dalam pengantarnya, Imam Ghazali mengatakan, kitab risalah ditulis utuk dijadikan pegangan bagi para pencari kebenaran, dan membantu umat Islam dalam menempuh suluk atau perjalanan spiritual. Di dalam masterpiece Imam Ghazali ini, terdapat segala hal yang dibutuhkan untuk mengantarkan diri menuju Sang Ilahi.
Berikut ini terjemah Bagian Pertama dan Kedua dari Kitab Raudhatu Thalibin Imam al-Ghazali (31): Syukur dan Kebahagiaan sebagai Ahwal dan Hikmah seb agai Amalannya
Bagian Ketiga Puluh Satu: Syukur dan Kebahagiaan sebagai Ahwal dan Hikmah seb agai Amalannya
SAAT ENGKAU MENGETAHUI bahwa seluruh kenikmatan semata-mata berasal dari Allah swt. maka inilah ilmu yang mendorong lahirnya rasa syukur. Ilmu ini hukumnya wajib karena termasuk bagian keimanan kepada Allah swt. Dia berfirman, “Dan apa saja nikmat yang ada pada kalian. Maka (semua itu) dari Allahlah (datangnya).” (QS. an-Nahl (16): 53) Bersyukur kepada pemberi nikmat merupakan hal wajib karena termasuk bagian dari keimanan. Karena itu, ahwal yang tumbuh dari ilmu ini berupa kegembiraan dan kebahagiaan yang disebabkan oleh nikmat-nikmat Allah Swt,
Dalam konteks ini, kegembiraan berarti syukur sebab ditujukan untuk dirinya sendiri. Hukumnya pun wajib, dan termasuk bagian serta buah dari iman kepada Allah swt. Demikian pula dengan perilaku syukur yang ditujukan Untuk dirinya sendiri maupun selain dirinya. Ditujukan untuk dirinya sendiri sebab memanfaatkan kenikmatan sesuai tujuan penciptaan dan menjadi kesempurnaan hikmah.
Sedangkan yang ditujukan untuk selain dirinya guna memelihara nikmat-nikmat yang ada sekaligus menambahkannya. Singkat kata, syukur artinya menggunakan nikmat sesuai tujuan pemberiannya.
Dengan begitu, barang siapa memiliki ahwal yang sedang, hingga mampu meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, berarti ia adalah orang bijak. Sebab hikmah itu (kebijaksanaan) sama halnya meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, baik ilmu maupun amal. Dan Allahlah Pemberi pertolongan. (*)