
Kitab Terjemah Raudhatu Thalibin
BLOGGURU – Kitab berjudul asli Raudhatut Thalibin wa Umdatus Salikin karangan Imam Ghazali ini menjadi salah satu karya besar yang mempengaruhi ulama sufi setelahnya, seperti Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Ibnu Arabi, Ibnu Atha’illah as-Sakandari, dan lain-lain.
Dalam pengantarnya, Imam Ghazali mengatakan, kitab risalah ditulis utuk dijadikan pegangan bagi para pencari kebenaran, dan membantu umat Islam dalam menempuh suluk atau perjalanan spiritual. Di dalam masterpiece Imam Ghazali ini, terdapat segala hal yang dibutuhkan untuk mengantarkan diri menuju Sang Ilahi.
Berikut ini terjemah Bagian Pertama dan Kedua dari Kitab Raudhatu Thalibin Imam al-Ghazali (32): Tawakal dan Adabnya
Bagian Ketiga Puluh Dua: Tawakal dan Adabnya
Tefwidh, Taslim, Biqah, dan Ridha
MANAKALA ENGKAU MENGETAHUI bahwa Allah swt. itu Berdiri Sendiri dan Maha Mendirikan yang lain, inilah ilmu yang menuntut tindakan tawakal. Kemudian, engkau memahami keluasan ilmu dan hikmah-Nya, serta kesempurnaan kekuasaan-Nya.
Sehingga ahwal yang lahir dari ilmu ini berupa penyandaran dan ketenangan hati kepada Allah, serta tidak kacau karena bergantung kepada-Nya. Tak ada kewajiban terhadap ilmu dan ahwal tawakal selain menahan diri dari sebab-sebab terlarang. Namun meskipun mulia, tawakal ini lebih rendah derajatnya daripada tafwidh dan taslim. Sebab tujuan tawakal untuk mendatangkan keuntungan dan menolak kerugian (bahaya), sedangkan hakikat tafwidh dan taslim berarti patuh dan tunduk terhadap perintah, tanpa pilihan dalam segala yang telah ditentukan Allah swt.
Adapun tsigah artinya mengikatkan hati dan tidak terputus terhadap pembenaran-pembenaran yang dikandunghya. Tsigah merupakan penyempurna bagi semua magam Ian ahwal. Jika ridha itu terjadi setelah adanya sesuatu yang diputuskan, tafwidh dan taslim terjadi sebelum ada Sesuatu yang diputuskan.
Kadar yang wajib dari ridha manakala ia ridha dengan akal, meski tabiatnya tidak senang karena ketidaksenangan berada di luar pilihan hamba. Jadi, barang siapa dalam pikirannya tidak menyukai sesuatu yang digunakan Allah untuk menguji para hamba-Nya di dunia maupun akhirat, atau mengeluh dengan lidahnya maka ia telah berdosa dan melanggar kewajiban ridha. Dan Allahlah Maha Pemberi pertolongan.
(***)