
Kitab Terjemah Raudhatu Thalibin
BLOGGURU – Kitab berjudul asli Raudhatut Thalibin wa Umdatus Salikin karangan Imam Ghazali ini menjadi salah satu karya besar yang mempengaruhi ulama sufi setelahnya, seperti Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Ibnu Arabi, Ibnu Atha’illah as-Sakandari, dan lain-lain.
Dalam pengantarnya, Imam Ghazali mengatakan, kitab risalah ditulis utuk dijadikan pegangan bagi para pencari kebenaran, dan membantu umat Islam dalam menempuh suluk atau perjalanan spiritual. Di dalam masterpiece Imam Ghazali ini, terdapat segala hal yang dibutuhkan untuk mengantarkan diri menuju Sang Ilahi.
Berikut ini terjemah Bagian Pertama dan Kedua dari Kitab Raudhatu Thalibin Imam al-Ghazali (39): Qana’ah
Bagian Ketiga Puluh Sembilan: Qana’ah
ALLAH SWT. BERFIRMAN, “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. an-Nahl (16): 97)
Sebagian besar pakar tafsir mengatakan, kehidupan yang baik (al-hayah ath-thayyibah) di dunia dalam ayat di atas adalah qana’ah karena merupakan anugerah Allah swt., Sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Qana’ah adalah kekayaan yang tiada pernah sirna.”
Nabi saw. juga mengatakan, “Barang siapa menginginkan teman maka Allah cukup baginya. Siapa yang menginginkan penghibur maka al-Quran cukup baginya. Barang siapa menginginkan kekayaan maka qana’ah cukup baginya. siapa pun menginginkan penasihat maka kematian cukup baginya. Dan, barang siapa yang empat hal ini tidak mencukupi baginya maka neraka akan cukup baginya.”
Diceritakan dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda, “Jadilah orang yang wara’ niscaya engkau menjadi orang yang paling taat beribadah. Jadilah orang yang ganaah, pastilah engkau menjadi manusia muslim yang paling bersyukur, dan sedikitkanlah tertawa karena banyak tertawa mematikan hati.”
Allah swt. berfirman, “Allah benar-benar akan memberikan rezeki yang baik (surga) kepada mereka.” (QS. al-Hajj (221: 58). Berkenaan dengan ayat ini, ada yang mengatakan bahwa maksud ungkapan rezeki yang baik (rizqan hasana) berarti sikap qanaah.
Wahb berkata perihal ayat di atas, “Kehormatan dan kekayaan itu keluar dan berkeliling, lalu mereka bertemu dengan qanaah, dan menetap di dalamnya.” Dalam Kitab Zabur disebutkan, “Orang yang qana’ah itu kaya, meskipun lapar. Demikian pula dalam Kitab Taurat dikatakan, “Anak Adam bersikap ganaah hingga menjadi kaya, beruzlah dari manusia hingga selamat, dan tidak dengki hingga tampak muru ‘ah-nya.
Ia merasa lelah sebentar, lantas menikmati istirahat panjang.” Ada yang mengatakan, “Allah swt. meletakkan lima hal pada lima tempat, kehormatan dalam taat, kehinaan dalam maksiat, kewibawaan dalam shalat malam, hikmah dalam perut yang kosong, dan kekayaan dalam ganaah.”
Seorang ulama berkata, “Balaslah orang yang rakus terhadapmu dengan sikap ganaah, layaknya menuntut balas terhadap musuhmu dengan gishash.” Ada juga yang mengatakan, “Barang siapa kedua matanya lelah karena melihat apa yang ada di tangan orang maka panjanglah kesedihannya.”
Konon dikatakan bahwa Abu Yazid mencuci bajunya di padang sahara bersama sahabatnya, lalu sahabat tersebut berkata kepadanya, “Kita gantungkan baju di atas tembok kebun anggur.” Abu Yazid pun membalas ucapannya, Janganlah kautancapkan tiang di tembok orang.” Lalu sahabat itu berkata, “Kita gantungkan di atas pohon.” Abu Yazid menjawab, “Tidak, karena itu akan merusak dahan pohon.”
Sahabat itu berkata lagi, “Kita bentangkan di atas rumput. Abu Yazid menjawab, “Tidak, rumput itu makanan ternak.” Akhirnya, ia hadapkan punggung ke arah matahari, sementara bajunya di atas punggung tersebut sampai kering salah satu sisinya, lalu membaliknya hingga kedua sisinya kering.” (**)