
Kitab Terjemah Raudhatu Thalibin
BLOGGURU – Kitab berjudul asli Raudhatut Thalibin wa Umdatus Salikin karangan Imam Ghazali ini menjadi salah satu karya besar yang mempengaruhi ulama sufi setelahnya, seperti Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Ibnu Arabi, Ibnu Atha’illah as-Sakandari, dan lain-lain.
Dalam pengantarnya, Imam Ghazali mengatakan, kitab risalah ditulis utuk dijadikan pegangan bagi para pencari kebenaran, dan membantu umat Islam dalam menempuh suluk atau perjalanan spiritual. Di dalam masterpiece Imam Ghazali ini, terdapat segala hal yang dibutuhkan untuk mengantarkan diri menuju Sang Ilahi.
Berikut ini terjemah Bagian Pertama dan Kedua dari Kitab Raudhatu Thalibin Imam al-Ghazali (42): Penjelasan Perihal Bahaya Dosa
Bagian Keempat Puluh Dua: Penjelasan Perihal Bahaya Dosa
BERUNTUNGLAH BAGI SIAPA yang, ketika mati, mati pula dosa-dosanya. Ada yang mengatakan, “Dosa yang paling besar adalah orang yang menzalimi orang lain yang tak mengenal dan melihatnya.” Barang siapa taat kepada Allah, Dia akan menundukkan segala sesuatu kepadanya.
Dan, siapa yang durhaka kepada-Nya maka Dia tundukkan orang itu kepada semua hal dan menjadikan segala sesuatu menguasainya. Andaikan dalam keterusmenerusan melakukan dosa tidak ada balasan, melainkan segala hal yang menimpanya, seperti keluasan, kesempitan, sehat, dan sakit itu menjadi hukumannya, maka cukuplah itu untuknya. Sekiranya dalam meninggalkan maksiat tidak ada balasan selain kebalikannya, hal itu pun sudah mencukupinya.
Sesungguhnya, seorang hamba benar-benar akan terhalang rezekinya karena dosa yang ia lakukan. Laknat itu bukan berupa hitam di wajah atau berkurangnya harta, tetapi laknat adalah setiap kali orang keluar dari suatu dosa, lajatuh kembali ke dalam dosa yang sama, atau lebih buruk.
Karena itu, jangan sampai ketika tobat engkau lebih lemah daripada saat berbuat dosa, sepanjang engkau mengingkari bergantinya masa, saudara, dan istri. Karena dosa-dosa melahirkan itu semua.
Lebih dari itu, dosa-dosa itu akan melahirkan pengingkaran terhadap penciptaan binatang melata dan tikus rumah, melupakan al-Quran atau sebagian ilmu, serta bacaan al-Quran dari orang-orang merdeka.
Sehingga hukuman itu menjadi tempat untuk kesulitan dan keberatan. Hukuman masing-masing dari segi kesamaan sampai dalam persoalan mimpi. Bisa jadi hukuman bagi dosa adalah dosa yang setimpal manakala dosa itu besar. Seperti halnya pahala ketaatan. Dan, tiada daya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah swt.
(***)