Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Permasalahan dan Hukum-hukum yang Berkenaan dengan Hari ‘Asyura

Puasa 9 dan 10 Muharram

Puasa 9 dan 10 Muharram (foto: ist/*)

Oleh: Syeikh Labib Najib Abdullah حفظه الله *)

Related Post: Puasa di Bulan Muharram dan Asyura

BLOGGURU –  Berikut ini Permasalahan dan Hukum-hukum yang Berkenaan dengan Hari ‘Asyura, yaitu:

1. Puasa ‘Asyura, dapat menggugurkan dosa-dosa setahun yang lalu, maksudnya dosa-dosa kecil.

2. Hikmah dianjurkannya puasa ‘Asyura adalah untuk mensyukuri Nikmat Allah SWT yang telah menyelamatkan Nabi Musa beserta kaumnya dari Fir’aun dan bala tentaranya.

3. Tingkatan-tingkatan Puasa ‘Asyura ada tiga:

• Yang paling utama, berpuasa sehari sebelum dan sesudah puasa ‘Asyura (9 dan 11).

• Yang kedua, berpuasa sehari atau sesudah puasa Asyura.

• Yang ketiga, berpuasa hanya pada hari ‘Asyura saja.

4. Hikmah dianjurkannya berpuasa sehari sebelum atau sesudah hari ‘Asyura adalah untuk menyelisihi kaum Yahudi.

5. Tidak ada amalan khusus yang dikerjakan pada hari ‘Asyura kecuali hanya puasa, dan terdapat hadist yang menerangkan anjuran melapangkan kebutuhan keluarga, hadist ini diambil oleh jumhur ulama. Adapun hadist-hadist yang berkenaan tentang mandi, wewangian, dan bercelak di hari ‘Asyura merupakan hadist palsu.

6. Bulan yang paling utama untuk berpuasa setelah Ramadhan: Bulan-bulan Haram; dan bulan haram yang paling utama adalah Muharram, lalu Rajab, lalu Dzulhijjah, kemudian Dzulqaidah, dan setelah bulan haram yaitu Sya’ban.

7. Jikalau seseorang berpuasa pada hari ‘Asyura dengan niat qadha’ dan ‘Asyura, maka ia mendapatkan dua pahala; pahala fardhu (qadha’) dan pahala nafl (‘Asyura).

8. Sah berpuasa ‘Asyura dengan berniat dari tengah-tengah hari sebelum waktu zawal (tergelincir matahari pada siang hari); karena ia merupakan puasa sunnah.

9. Barangsiapa yang ketinggalan puasa ‘Asyura, disunnahkan baginya untuk menqadha’. Telah terdapat nash (perkataan) para Fuqaha Syafi’iyyah atas anjuran untuk mengqadha puasa ratib (sunnah).

10. Pada asalnya seorang istri tidak boleh puasa sunnah sementara kecuali atas izin suami. Akan tetapi puasa yang sunnahnya berulang setiap tahunnya seperti puasa ‘Asyura, maka tidak perlu bagi suami melarang istrinya berpuasa, bahkan juga tidak disyaratkan bagi istri meminta izin kepada suami.

 

(* Diterjemahkan oleh Ibnu Ali al-Indragiri dari tulisan Syeikh Labib Najib Abdullah حفظه الله

 

Artikel/Tulisan terkait:

Hukum Do’a Menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram

Kekeliruan dalam Menyambut Awal Tahun Baru Hijriyah

Fadhilah Bulan Muharram

Keutamaan Bulan Muharram

Muharram di Persimpangan Jalan Pemikiran

Pesan Dakwah Prof. Veni Hadju: Puasa Sunnah

Arab Saudi Terapkan Tradisi Pemasangan Kiswah Ka’bah diubah Jadi 1 Muharram 1444 H

Sepenggal Kisah Inkuisisi dari Keruntuhan Kekuasaan Islam di Andalusia

Parade Tauhid di Bulan Muharram, Momentum Menyambut Islam Kaffah

Benarkah Kalender Islam tak sampai Tahun 1500 Hijriyah

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR