
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
BLOGGURU – Perjalanan hidup manusia, menurut ulama, selalu berada dalam penjara. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah. “Penjara” apa yang sebenarnya yang dimaksud? Apakah penjara manusia ketika dinayatakan telah berbuat kesalahan dan pelanggaran di mata hukum dan pengadilan negara, ataukah penjara yang lain?
Manusia Senantiasa Hidup dalam Penjara Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata:
Artinya:
Sesungguhnya, engkau senantiasa hidup dalam penjara. Penjara pertama adalah tulang sulbi ayahmu. Penjara kedua adalah perut ibumu. Penjara ketiga adalah kain untuk menggendong dan menimangmu. Penjara keempat adalah maktabmu (tempat belajar, sekolah, madrasah, dan lain-lain). Penjara kelima adalah kewajibanmu menafkahi keluargamu. Penjara keenam adalah sakit yang mengantarkan menuju kematianmu Penjara ketujuh adalah kuburanmu. Namun, jika engkau masuk ke penjara kedelapan, engkau akan melupakan pahitnya seluruh penjara yang telah disebutkan. Masuklah ke dalam penjara takwa dengan kerelaanmu beberapa hari saja (seumur hidupmu di dunia), agar engkau mendapatkan kebebasan abadi (di akhirat). Janganlah engkau mencoba melepaskan dirimu darinya hanya untuk mendahulukan hawa nafsu yang engkau sukai. Sebab, hal itu akan mengantarkanmu kepada penjara yang abadi (di akhirat). [Sumber: Bada’iul Fawaid, jilid 3, hlm. 1209]
Demikianlah perjalanan hidup manusia yang senantiasa dalam penjara, dan tentu saja dalam dilema, karena sekecil apapun perbuatan dan perkataan, amal kebaikan dan tanggung jawab, dan bahkan prasangka ada pertanggung jawabannya di hadapan Allah SWT. Sekecil apapun gerak dan dampak dari gerak kehidupan itu akan diperhitungkan di hari akherat kelak. Lantas bagaimana seharusnya menyikapinya?
Berikut ini beberapa nasehat ulama bagi kita semua dalam menjalani kehidupan sesuai panduan islam di dunia yang fana’ ini:
1. Mengenali Tanda Kebahagiaan dan Kesengsaraan
Imam Malik bin Anas rahimahullah, berkata:
Artinya:
“Di antara kebahagiaan seseorang adalah diberi taufik untuk mengikuti kebenaran dan kebaikan. Sedangkan termasuk kesengsaraan seseorang adalah terus-menerus dalam kesalahan.” [Sumber: Ibnu Abdil Barr, dalam Jami’ Bayanil Ilmi, jilid 2, hlm. 884]
2. Mengejar Keridhaan Allah Ta’ala
Abu Hazim rahimahullah berpesan:
Artinya:
“Allah meridhai manusia jika mereka mengamalkan ilmu, dan mengerjakan apa yang mereka ucapkan.” [Sumber: Shifatush Shafwah, hlm. 383]
3. Tawakal yang Sebenarnya
Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah menjelaskan:
Artinya:
Al-Marudzi mengisahkan bahwa Abu Abdillah (yaitu Imam Ahmad) pernah ditanya, “Apa itu tawakal yang sebenarnya?” Jawab beliau, “Seseorang bertawakal (percaya penuh dan bersandar) kepada Allah, tidak terlintas sedikit pun di hatinya ada seseorang yang akan datang memberinya. Jika sudah demikian, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepadanya, dan saat itulah dia dianggap bertawakal.” [Sumber: Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, jilid 2, hlm. 503]
4. Amalan yang Sesuai Sunnah Nabi
Said bin Jubair rahimahullah memberikan nasihat:
“لا يقبل قول إلا بعمل، ولا يقبل قول وعمل إلا بنية، ولا يقبل قول وعمل ونية إلا بموافقة السنة.”
Artinya:
“Sebuah ucapan tidak akan diterima kecuali disertai dengan amalan. Ucapan dan amalan juga tidak akan diterima kecuali dengan niat yang benar. Sementara itu, ucapan, amalan, dan niat tidak akan diterima kecuali apabila sesuai dengan sunnah (tuntunan Nabi).” [Sumber: al-Amru bil Ma’ruf, hlm. 78]
5. Perbanyak Istighfar
Keutamaan Istighfar menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah:
Artinya:
“Istighfar merupakan kebaikan terbesar. Jadi, siapa yang merasakan kekurangan pada ucapannya, perbuatannya, rezekinya, atau begitu mudahnya hatinya berbolak-balik, maka hendaklah dia membenahi tauhidnya dan banyak istighfar.” [Sumber: Majmu’ul Fatawa, jilid 11, hlm. 698]
6. Meminta Segala Kebutuhan hanya kepada Allah Ta’ala
Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah menjelaskan:
Artinya:
“Segala apa yang dibutuhkan oleh seorang hamba, jika ia memintanya kepada Allah, perbuatannya tersebut akan menampakkan rasa butuh dan betapa fakirnya ia kepada Allah. Hal semacam inilah yang dicintai oleh Allah.” [Sumber: Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, jilid 2, hlm. 38]
7. Tingkatkan Ilmu, Amal, dan Keikhlasan
Sahl bin Abdillah at-Tasturi rahimahullah berkata:
Artinya:
“Dunia seluruhnya adalah kebodohan kecuali berilmu padanya, dan Ilmu seluruhnya adalah bencana kecuali beramal dengannya, dan amalan seluruhnya adalah debu yang beterbangan kecuali ada keikhlasan padanya, dan ikhlash itu adalah engkau berada dalam kekhawatiran, hingga engkau mengetahui apakah diterima darinya ataukah tidak.” [Sumber: Abu Nuaim al-Asfahani, dalam al-Hilyah, jilid 10, hlm. 194]
Maka demikianlah segelintir nasehat ulama dalam menapaki kehidupan dunia yang fana’ ini. Perumpamaan Kehidupan Dunia menurut Imam al-Hasan al-Bashri:
Artinya:
“Sabarkanlah dan kuatkanlah dirimu. Kehidupan dunia hanyalah beberapa malam yang bisa dihitung. Kalian hanyalah kafilah yang sedang singgah. Hampir-hampir salah seorang di antara kalian dipanggil (untuk berangkat) lalu dia memenuhi panggilan tersebut tanpa sempat menoleh. Kembalilah kalian dengan mengambil bekal yang baik-baik yang ada di sisi kalian. Sesungguhnya kebenaran ini memberatkan manusia dan menghalangi mereka dari syahwat mereka. Orang yang bisa bersabar di atas al-haq (kebenaran) ini hanyalah orang yang mengetahui keutamaan al-haq (kebenaran) dan akibatnya.” [Sumber: al-Bidayah wan Nihayah, jilid 9, hlm. 272].
Semoga bermanfaat adanya. Wallahu ‘alam bish-shawab.