Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Hukum Bacaan Mad: Mad Wajib Muttasil

Hukum Bacaan Mad: Mad Wajib Muttasil

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Kali ini kita akan membahas tentang salah satu hukum tajwid, yaitu tentang hukum bacaan mad, dalam hal ini mad wajib muttasil. Apa itu Mad Wajib Muttasil? Sebagaimana kita ketahui bahwa Membaca Al-Qur’an dapat dianggap sudah baik dan benar jika memperhatikan ilmu atau kaidah tajwidnya. Mad wajib muttasil menjadi salah satu hukum mad yang kerap dijumpai dalam Al-Qur’an. Lantas, seperti apa hukum mad wajib muttasil?

Mad wajib muttasil ialah mad thabi’i yang bertemu dengan hamzah (ء) dalam satu kalimat. Panjang bacaan mad wajib muttasil ialah 4-5 harakat (ketukan) atau sampai dua setengah alif. Karena itu sebelum kita mempelajari tentang mad wajib muttasil, terlebih dahulu tentu harus memahami terlebih dahulu mengenai mad thabi’i.

Apa itu Mad thabi’i? Mad Tabi’i memiliki ketentuan dasar bacaan mad, yakni apabila huruf alif (ا) terletak sesudah fathah (ـَـ), jika huruf ya’ mati (يْ) setelah harakat kasrah (ـِـ) dan bila huruf wawu sukun (وْ) berada sesudah dhammah (ـُـ), maka cara pelafalannya dengan dipanjangkan sebanyak dua harakat.  Contohnya seperti dalam Qs. An Naas: 1, قُلْ اَعُوْذُ, dibaca: Qul a’uụżu. Dalam ayat ini, huruf wau sukun (وْ) berada sesudah dhammah (ـُـ) sehingga disebut mad thabi’i.

Sementara itu, mad wajib muttasil memiliki ketentuan mad thabi’i bertemu dengan hamzah dalam satu kalimat atau katanya. Panjang bacaannya mencapai lima harakat. Berikut ini contoh-contohnya dalam Al-Qur’an:

1. Qs. At Taubah: 37,  dimana Mad thabi’i (wau) bertemu hamzah berharakat dhammah

لَهُمْ سُوءُ أَعْمَالِهِمْ  dibaca: lahum sū`u a’mālihim

2. Qs Al Mursalaat: 43, dimana Mad thabi’i (ya) bertemu hamzah berharakat fathatain

وَاشْرَبُوا هَنِيئًا  dibaca:  wasyrabụ hanī`am

3. Qs. Al Quraisy: 2, dimana Mad thabi’i (alif) bertemu hamzah berharakat kasrah

رِحْلَةَ الشِّتَاءِ  dibaca:  riḥlatasy-syitā`i

4. Qs. Al Bayyinah: 5, dimana Mad thabi’i (alif) bertemu hamzah berharakat fathah

حُنَفَآءَ  dibaca: ḥunafā`a

5. Qs. Al Baqarah: 13, dimana Mad thabi’i (alif) bertemu hamzah berharakat dhammah

هُمُ السُّفَهَاءُ  dibaca: humus-sufahā`

6. Qs. Al Maun: 6, dimana Mad thabi’i (alif) bertemu hamzah berharakat dhammah

يُرَآءُونَ  dibaca: yurā`ụn

7. Qs. An Nasr: 1, dimana Mad thabi’i (alif) bertemu hamzah berharakat fathah

اِذَا جَآءَ  dibaca: iżā jā`a

8. Qs. An-Naziat: 27, dimana Mad thabi’i (alif) bertemu hamzah berharakat dhammah

أَمِ السَّمَاءُ  dibaca: amis-samā`

9. Qs. An-Naba : 14, dimana Mad thabi’i (alif) bertemu hamzah berharakat fathah

مَاءً ثَجَّاجً  dibaca: mā`an ṡajjājā

10.  Qs. Fushilat: 44, dimana Mad thabi’i (alif) bertemu hamzah berharakat dhammah

وَشِفَاءٌ  dibaca:  wasyifaa’

Demikianlah sedikit pembahasan mengenai mad wajib muttasil serta contoh-contohnya dalam Al-Qur’an. Semoga bermanfaat adanya dan dapat dipahami. Barakallahu fiikum. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Al-Qur’an-Hadits/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep, Sulsel.

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

PHBS di Pondok Pesantren
Oleh : Immim pangkep

PHBS di Pondok Pesantren

Pengantar Mengakrabi Nahwu
Oleh : Immim pangkep

Pengantar Mengakrabi Nahwu

0 Komentar

KELUAR