Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Mengakrabi Nadhom Maqsud (Kaidah Tashrif) – 2

Mengakrabi Nadhom Maqsud (Kaidah Tashrif) - 2

Oleh: Muhammad Farid Wajdi  *)

BLOGGURU – Apa yang dimaksud NadhomMaqsud? Nadhom Maqsud ini merupakan sebuah rangkain syair hasil karya Syaikh Ahmad bin Abdurrahim al-Thahthawi (1132-1302 H). Rangkaian nadhom tersebut berjumlah 113 bait yang menjelaskan mengenai ilmu sharaf, yaitu ilmu yang mempelajari tentang perubahan bentuk kata atau kalimat dalam Bahasa Arab.

Berikut ini Bait-bait Nadhom Maqsud (2, bait 6-10):

6- وَلاَمٌ اوْ عَيْنٌ بِـمَا قَـدْ فُـتِحَـا ** حَلْقِيْ سِوَى ذَا بِالشُّذُوذ ِ اتَّضَحَـا

 

Lam fi’il atau ‘ain fi’il dari fi’il yang ‘ain fi’ilnya dibaca fathah (فعل – يفعل) itu harus berupa salah satu huruf halaq, contoh: فخر – يفخر dan سلخ – يسلخ. Jika tidak berupa salah satu huruf halaq, maka hukumnya syadz ( menyimpang dari kaidah yang ditetapkan), contoh: سلى – يسلى dan أبى – يأبى

Pembahasan:

1. Lafadz-lafadz yang ikut bab tiga ( wazan فعل – يفعل) diisyaratkan ‘ain fi’il atau lam fi’ilnya berupa huruf halaq yang jumlahnya ada enam, yaitu: همزة-هاء-حاء-خاء-غين-عين

2. Diisyaratkan demikian karena ‘ain fi’il dalam fi’il madli dan fi’il mudlari’nya dibaca fathah, sedangkan fathah adalah harakat yang sangat ringan, agar bisa ta’addul ( sembarangan) dengan bab lainnya maka diisyaratkan ain atau alam fiilnya berupa huruf yang berat yaitu huruf halaq.

3. Syarat ‘ain atau lam fi’il berupa halaq ini bukan berarti semua lafadz yang ain atau lam fi’ilnya berupa huruf halaq harus diikutkan pada bab tiga ini karena wujudnya syarat tidak mengharuskan wujudnya perkara yang diisyaratkan (masyruth).

4. Diantara lafadz yang menetap isyarat tapi tidak ikut bab ketiga, yaitu:تحت-ينحت، نكح-ينكح، رجع-يرجع، صح-يصح (bab dua), دخل-يدخل (bab satu), فرح-يفرح (bab empat), بعد-يبعد (bab lima).

5. Syadz menurut ulama dibagi menjadi tiga macam, yaitu:

• tidak mencocoki qiyas tapi masih berlaku (digunakan dalam kalam yang fasib) seperti ابى-يأب. Lafadz ini hukumnya syadz mengikuti bab ketiga tetapi masih tergolong kalimat fasih sebagaimana terdapat dalam ayat Alquran: الا ابليس ابى واستكبر

•Tidak mencocoki dalam penggunaan (tidak terpakai dalam kalam fasih) tetapi mencocoki pada qiyas, seperti: ضرب-يضرب

•Tidak mencocoki qiyas dan juga tidak terpakai dalam kalam fasih, seperti: بيع-قول, karena qiyasnya wawu dan ya’ itu diganti alif.

6. Perbedaan syadz, nadzir dan dla’if.

•Syadz adalah kalimat yang banyak digunakan tapi tidak mencocoki qiyas, contoh: ابي-يأبى

•Dla’if adalah kalimat yang tidak diakui kefasihannya oleh ahli bahasa, contoh: دخل-يدخل

Bab Fiil Ruba’I Mujarrad dan Mulhaq Ruba’i

فصل في أبواب الرباعي المجرد والملحق به

7- ثُمَّ الــرُّبَاعِىُّ بِبَــابٍ وَاحِدِ ** وَ الْحِقْ بِـهِ سِتـًّا بِغَـيْرِ زَائِـدِ

8- فَـوْعَـلَ فَعْوَلَ كَذَاكَ فَـيْعَـلاَ ** فَعْـيَلَ فَـعْلَى وَ كَذَاكَ فَـعْـلَـلاَ

Bab fi’il ruba’i mujarrab ada satu yaitu ikut wazan: فعلل- يفعلل dengan mauzun دخرج – يدخرج. Adapun bab fi’il ruba’i mulhaq itu ada 6 yaitu:

Pembahasan:

1. Fi’il ruba’i adalah Kalimat yang huruf asalnya ada empat.

2. Fi’il ruba’i ada tiga macam:

a.) Ruba’i mujarrad, yaitu fi’il yang terdiri dari 4 huruf asal dan bebas dari tambahan, contoh: دحرج-يدخرج

b.) Ruba’i mulhaq, yaitu fi’il yang terdiri dari 4 huruf, yang 3 berupa huruf asal dan yang satu berupa huruf ilhaq ( huruf yang ditambahkan karena ilhaq), contoh: حوقل-يحوقل

c.) Ruba’i mazid, yaitu fi’il yang memuat lebih dari 4 huruf, yang 4 berubah huruf asal dan yang lain berupa huruf tambahan. Contoh: اخرنجم

3. Bab fi’il ruba’i mujarrad hanya ada satu, Bagaimana hasil istiqro’ para ulama’, karena fi’il ruba’i mujarrad iru berat lantaran banyaknya huruf, sehingga ulama’ sharaf tidak mentashrif fi’il ruba’i mujarrad sebagaimana tashrif fi’il tsulasi mujarrad dengan mengharakati kasrah, dlammah, dan fathah pada ain fi’ilnya, namun dengan harakat fathah saja supaya ringan.

4. Ilhaq adalah menambahkan huruf pada suatu kalimat agar sama dengan kalimat lain dalam bilangan huruf jenis harakat, sukun dan dalam semua tashrifnya, شملل disamakan dengan دخرج.

5. Fi’il ruba’i mulhaq pada hakikatnya adalah filtrasi yang disamakan dengan lafadz دخرج dengan menambahkan satu huruf (huruf ilhaq), maka dari itu ruba’i mulhaq disebut juga الملحق بدخرج ( fi’il tsulasi yang disamakan kan dengan lafadz دخرج.

6. Menurut ulama Bashrah babnya fi’il ruba’i mulhaq itu ada enam macam, Tetapi menurut ulama kufah ada delapan dengan menambah dua bab lagi, yaitu:فعنل dan فلفل di dalam kitab amtsilati tashrifiyah ruba’i mulhaq bab-nya ada 7 dengan menggugurkan bab فلفل.

7. Perbedaan فعلل yang ruba’i mujarrod dengan ruba’i mulhaq adalah terletak pada mauzunnya, yaitu: apabila lam fi’il yang pertama dan yang kedua itu sama, disebut ruba’i mulhaq, seperti: جلبب، شملل dan apabila lam fi’il yang pertama dan yang kedua berbeda, disebut ruba’i mujarrad, seperti: دخرج.

 

Bab Fiil Tsulatsi Maziid

 

فصل في أبواب الثلاثي المزيد

9- زَيْـدُ الثُّلاَثِيْ أَرْبَـعٌ مَعْ عَشْـرِ ** وَهْيَ لِأَقْسَـامٍ ثَـلاَثٍ تَـجْــرِي

10- أَوَّلُـهَا الرُّبَـاعِ مِثْلُ أَكْرَمَــا ** وَفَعَّـلَ وَ فَـاعَلاَ كَـخَاصَمَـــا

 

(bersambung)

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

Kekhalifahan Abbasiyah
Oleh : Immim pangkep

Kekhalifahan Abbasiyah

Ramadhan Bulan Jihad
Oleh : Immim pangkep

Ramadhan Bulan Jihad

0 Komentar

KELUAR