Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Terjemah Kitab Irsyadul ‘Ibad (2): Iman

Terjemah Kitab Irsyadul ‘Ibad (2): Iman

Related Post:  Mengakrabi Kitab Irsyadul Ibad

BLOGGURU –  Allah swt berfirman:

 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ فِرَٰشٗا وَٱلسَّمَآءَ بِنَآءٗ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ

مَآءٗ فَأَخۡرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ رِزۡقٗا لَّكُمۡۖ فَلَا تَجۡعَلُواْ لِلَّهِ أَندَادٗا وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ

 

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu, dan orang-orang yang sebelum- mu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap.

Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Oleh karena itu, janganlah kamu mengadakan sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (Qs. Al-Baqarah: 21 – 22).

Maksud sekutu-sekutu, yaitu Tuhan-tuhan selain Allah swt yang disembah. Padahal kamu mengetahui bahwa sekutu itu hanya sekedar makhluk, mereka tidak menciptakan dan tidak akan bisa menjadi Tuhan kecuali yang menciptakan.

Allah swt berfirman:

 

وَمَن لَّمۡ يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ فَإِنَّآ أَعۡتَدۡنَا لِلۡكَٰفِرِينَ سَعِيرٗا

 

Artinya:

“Dan barangsiapa yang tidak beriman kepada Allah swt dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya kami menyediakan untuk orang-orang kafir neraka yang bernyala-nyala. (Qs. Al-Fath: 13).

 

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضًا قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ

,بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ, لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم

:فأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ, وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ، وَ قَالَ : يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِسْلاَمِ, فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم

اَلإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً

,قَالَ : صَدَقْتُ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْئَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ، قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلاَئِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ

وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الآخِرِ، وَ تُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ. قَالَ : صَدَقْتَ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ، قَالَ : أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ

,فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ السَّاعَةِ قَالَ : مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِهَا

,قَالَ : أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا, وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِيْ الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ، فَلَبِثْتُ مَلِيًّا

ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرُ، أَتَدْرِيْ مَنِ السَّائِل؟ قُلْتُ : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ : فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

 

Dari Umar bin Khatthab ra berkata: “Pada suatu hari, kami berada di sisi Rasulullah saw, tiba-tiba datanglah seorang lelaki yang mengenakan pakaian yang sangat putih, rambutnya hitam-kelam, tidak tampak bekas bahwa dia dari bepergian.

Disamping tidak seorangpun dari kita yang mengenalnya, lalu duduk di hadapan Nabi saw, lalu menyandarkan kedua lututnya kepada dua lutut Nabi saw dan meletakkan kedua telapak tangannya pada kedua pahanya sendiri, lalu berkata, “Wahai Muhammad, beritahukan aku tentang Islam.

Lalu Rasulullah saw bersabda: ‘Islam ialah hendaknya kamu menyaksikan bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah swt dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah swt. Kamu mendirikan shalat, berpuasa di Bulan Ramadhan, menjalankan haji ke baitullah apabila kamu mampu pergi ke sana.’

Lalu seorang lelaki itu menjawab: ‘Betul.’ Perawi berkata: ‘Lalu kami merasa heran, dia bertanya kepada Nabi saw, lalu dia yang mengatakan betul terhadap jawaban Nabi saw.’ Lalu dia bertanya lagi: ‘Beritahukanlah aku tentang iman.’ Nabi saw menjawab: ‘Iman ialah hendaklah kamu beriman kepada Allah swt, malaikatNya, kitab-kitab-Nya, utusan-utusan-Nya, hari kemudian, kamu beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk (dari Allah swt).’

Lelaki itu berkata: ‘Betul (apa yang kamu katakan)’ Lalu dia bertanya lagi: “Berilah tahukan aku tentang ihsan.’ Lalu Nabi menjawab: ‘Ihsan ialah hendaklah kamu menyembah kepada Allah swt seolah-olah kamu melihat-Nya, apabila kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Allah swt melihatmu.’

Lalu lelaki itu bertanya lagi: ‘Beritahulah aku tentang terjadinya hari kiamat.’ Nabi bersabda: “Tidaklah orang yang ditanya lebih mengetahui tentang terjadinya kiamat) daripada orang yang bertanya.’ Lalu lelaki itu berkata lagi: ‘Beritahulah aku tentang tanda- tandanya (hari kiamat).

Nabi menjawab: “Hendaklah budak wanita melahirkan majikannya. Dan kamu lihat orang-orang yang biasanya tidak beralas kaki, telanjang, fakir miskin, penggembala kambing berlomba-lomba dalam membangun gedung.’ Kemudian lelaki itu pergi, aku masih pun tetap duduk di situ.

Kemudian Nabi bersabda: ‘Wahai Umar, apakah kamu mengetahui siapakah orang yang bertanya tadi?’ Aku (Umar) berkata: “Allah swt dan RasulNya lebih mengetahui.’ Lalu Nabi saw bersabda: Sesungguhnya lelaki tadi adalah Jibril yang datang padamu untuk mengajarimu tentang agama”.

Attaj Assubki berkata: “Islam adalah perbuatan yang dilakukan oleh anggota tubuh dan tidak sah kecuali disertai dengan keimanan. Iman adalah membenarkan dengan hati dan tidak akan diterima kecuali disertai dengan mengucapkan dua kalimat syahadat terlebih dahulu.”

Dalam syarah Muslim, Imam Nawawi pernah mengutip permufakatan pendapat ahlis sunah, ahli hadits, ahli fikih dan ahli tauhid bahwa seorang yang beriman dengan hatinya, tapi lidahnya tidak mau mengucapkan kalimat syahadat, padahal dia bisa mengucapkannya, (maka bila meninggal dunia) akan dilemparkan ke neraka untuk selamanya (dia mati kafir).

Ketahuilah, sesungguhnya seorang kafir tidak bisa dikatakan muslim apabila tidak mau mengucapkan dua kalimat syahadat. Tidak disyaratkan mengatakan: Aku bersaksi. Jadi menurut pendapat yang mashur cukup membaca: Lailaha illallahu muhammadur rasulullah. Demikianlah menurut pendapat Imam Nawawi di dalam kitab Raudhah.

Namun menurut yang mu’tamad di kalangan ulama mutaakhirin (ulama yang terakhir) diharuskan mengucapkan: Aku bersaksi, demikian menurut keterangan di dalam kitab Al Ubab. Kalau menurut keterangan yang terakhir ini, seandainya seorang kafir yang akan masuk Islam hanya mengucapkan ‘Aku mengetahui bahwa tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah!

Atau tidak memakai kalimat: Aku bersaksi atau kalimat aku mengetahui. Tapi langsung berkata: Tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, maka dia masih belum dikatakan muslim. Untuk pendapat kalangan imam-imam kita ada pendapat yang ketiga: Yaitu bagi seorang katir yang ingin masuk Islam disarankan mengucapkan:

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah. Oleh karena itu, bagi seorang kafir yang masuk Islam hendaknya berniat hati, dan berkata: Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah swt dan aku bersaksi sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah swt.

Disyaratkan tertib dalam beriman. Oleh karena itu tidak sah beriman kepada Nabi terlebih dahulu sebelum beriman kepada Allah, juga tidak disyaratkan beruntun (setelah beriman kepada Allah swt, lalu beriman kepada Rasulullah) juga tidak disyaratkan mengucapkan syahadat dengan bahasa arab sekalipun orang yang masuk Islam itu bisa mengucapkan dua kalimat syahadat dengan bahasa arab,

Bagi seorang kafir yang masuk Islam hendaknya mengerti arti dua kalimat syahadat yang dia ucapkan, yaitu tidak ada Tuhan yang disembah dengan benar di alam ini kecuali Allah Yang Maha Esa.

Bagi seorang musyrik yang masuk Islam setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, harus ditambah aku ingkar terhadap Tuhan-Tuhan yang telah kujadikan sekutu dan aku telah lepas dari seluruh agama yang bertentangan dengan agama Islam. Jadi seorang musyrik tidak dikatakan mu’min, sehingga mengucapkan kalimat tersebut setelah bacaan dua kalimat syahadat.

Demikian menurut keterangan yang terdapat di Kitab Raudhah dan Ubab. Namun menurut sebagian pendapat ulama yang lain. Tambahan tersebut tidak diwajibkan Ketahuilah bahwa pengertian iman kepada Allah swt adalah beritikad bahwa sesungguhnya Tuhan adalah tunggal, esa, tidak ada yang menyamai padaNya baik sifat maupun Dzat-Nya, tidak ada sekutu dalam ketuhananNya.

Maksud ketuhanan di sini adalah yang berhak di sembah. Juga percaya bahwa Allah swt itu qadim (dahulu) tidak ada permulaannya dan kekal tidak ada batas akhirnya. Juga beriman kepada para malaikat, bahwa mereka itu makhluk yang mulia, tidak pernah durhaka terhadap apa yang diperintahkan oleh Allah swt kepada mereka, mereka selalu mengerjakannya dengan baik, dan benar apa yang diberitakan oleh mereka.

Beriman pula kepada kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah swt, percaya bahwa kitab-kitab itu merupakan firman Allah swt yang ‘azali yang berdiri sendiri, tidak menggunakan huruf dan suara dan apa yang dimuatnya adalah benar. Dan sesungguhnya Allah swt menurunkan kitab-Nya kepada sebagian rasul dahulu dengan menggunakan lafaz yang tertulis pada papan atau dengan melewati lidah malaikat.

Beriman kepada para rasul, percaya bahwa mereka itu diutus oleh Allah swt kepada manusia dan mereka dibersihkan dari perbuatan yang tidak layak dan kekurangan. Jadi mereka terjaga dari perbuatan dosa kecil atau dosa besar, sebelum diangkat menjadi nabi atau sesudahnya.

Beriman kepada hari akhir, ia dimulai dari hari kematian sampai akhir apa yang terjadi di dalamnya. Seseorang hendaknya mempunyai i’tikad bahwa hari akhir itu ada dan percaya apa yang terjadi di dalamnya seperti pertanyaan dua-malaikat munkar dan nakir, kenikmatan dan siksaan di alam kubur, hari kebangkitan, balasan perbuatan manusia di dunia, hisab, timbangan amal perbuatan, jembatan di atas neraka jahanam, surga neraka dan lain-lain.

Beriman kepada Takdir, percaya bahwa apa yang telah ditakdirkan oleh Allah swt pada zaman ‘azali mesti terjadi dan apa yang tidak ditakdirkan tidak akan terjadi. Percaya bahwa Allah swt telah mentakdirkan kebaikan dan keburukan sebelum menciptakan makhluk dan sesungguhnya terciptanya seluruh alam ini dengan qadha’ dan takdir-Nya

Rasulullah saw bersabda:

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَدِّدُوْا اِيْمَانَكُمْ قِيْلَ وَكَيْفَ نُجَدِّدُ اِيْمَانَنَا یَا رَسُوْلَ الله

؛ قَالَ اَكْثِرُوْا مِنْ قَوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهِ. رواه أحمد والحاكم

 

Artinya:

“Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda: ‘Perbaruilah imanmu. Dikatakan: ‘Bagaimana kita memperbarui iman kita wahai Rasulullah. Beliau saw bersabda: Perbanyaklah membaca La Ilaha Illallah.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim).

Rasulullah saw bersabda:

 

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللهَ حَرَّمَ النَّارَ عَلَى

مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللهِ . رواه الشيخان

 

Artinya:

“Dari Usman bin Malik berkata, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah swt telah mengharamkan api neraka untuk membakar orang yang mengatakan La Ilaha Illallah dengan hati yang ikhlas untuk mencari keridaan Allah swt.” (HR. Bukhari Muslim).

Rasulullah saw bersabda:

 

عَنْ عَلِی رَضِیَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنِی جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ قَالَ يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ حِصْنِي فَمَنْ دَخَلَهُ اَمِنَ مِنْ عَذَابِی. رواه ابن عساکر

 

Artinya:

“Dari Ali bin Abi Thalib berkata, Nabi saw bersabda: Jibril pernah bicara (padaku), Allah swt berfirman: La Ilaha Ilallah adalah benteng-Ku, barangsiapa yang memasukinya maka akan aman dari siksaan-Ku.” (HR. Ibnu Asakir).

Rasulullah saw bersabda:

 

عَنْ أَبِي الدَرْدَاءِ رَضِیَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَقُوْلُ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ مِائَةَ مَرَّةٌ اِلَّا بَعَثَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

وَوَجْهُهُ كَالْقَمَرِ لَيْلَةَ الَبَدْرِ وَلَمْ يَرْفَعْ لِاَحَدٍ يَوْمَئِذٍ عَمَلٌ اَفْضَلُ مِنْ عَمَلِهِ اِلَّا مَنْ قَالَ مِثْلَ قَوْلِهِ اَوْ زَادَ. رواه الطبراني

 

Artinya:

“Dari Abud darda’ ra dari Nabi saw bersabda: Tidak ada seorang hamba yang membaca la ilaha Illallah seratus kali kecuali Allah swt membangunkannya di hari kiamat, sedang wajahnya bersinar seperti bulan purnama di waktu malam.

Pada hari itu tidak ada amal perbuatan seorangpun yang diangkat (ke sisi Allah) yang lebih baik dari amalannya (orang yang membaca La Ilaha Illallah seratus kali) kecuali orang-orang yang turut membacanya atau mau menambah bacaannya.” (HR. Thabrani).

Rasulullah saw bersabda:

 

عَنْ أُمِّ هَانِئ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ لَا يَسْبِقُهَا عَمَلٌ وَلَا تَتْرُكُ ذَنْبًا. رواه ابن ماجة

 

Artinya:

“Dari Ummu hani’ ra dari Nabi saw bersabda: Membaca La Ilaha Illallah mempunyai pahala yang tidak bisa dikejar dengan amal perbuatan yang lain, dan tidak meninggalkan dosa (bisa menghapus dosa-dosa orang-orang yang membacanya).” (HR. Abnu Majah).

Rasulullah saw bersabda:

 

عَنْ جَابِرٍ رَضِیَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اَفْضَلُ الذِّكْرَ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَاَفْضَلُ الدُّعَاءِ اَلْحَمْدُ لله . رواه الترمذي والنسائی

 

Artinya:

“Dari Jabir ra dari Nabi saw bersabda: ‘Dzikir yang afdhal adalah membaca La Ilaha Illallah, sedang do’a yang afdhal adalah membaca Alhamdulillah (pada permulaan dan terakhirnya).” (HR. Tirmidzi dan Annasa’i).

 

,عَنْ اَبِی سَعِیْدٍ الخُدْرِی رَضِیَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ مُوْسَی عَلَیْهِ السَّلاَمُ یَا رَبِّ عَلِّمْنِى شَيْئًا أَذْكُرُكَ بِهِ

فَقَالَ: قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ فَقَالَ یَا رَبِّ كُلُّ عِبَادُكَ يَقُوْلُ هَذَا اِنَّمَا السَّمَوَاتُ السَبْعُ وَ عَامِرَ هُنَّ غَيْرِي وَالاَرْضِيْنَ السَبْعَ جَعَلْتُ فِي كِفَّةٌ

وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ فِي كِفَّةٍ لَمَالَتْ بِهِنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ رواه النسائی

 

Artinya:

“Dari Abu Said Al Khudri dari Nabi saw bersabda: ‘Nabi Musa as pernah berdo’a: ‘Wahai Tuhanku berilah pelajaran aku sesuatu bacaan yang aku gunakan untuk dzikir kepada-Mu, lalu Allah swt berfirman: Bacalah ‘La Ilaha Illallah.’Lalu Musa berkata: ‘Wahai Tuhanku, seluruh hamba-hamba-Mu mengatakan seperti itu, sesungguhnya aku menghendaki sesuatu yang khusus kamu berikan untukku.

Lalu Allah swt berfirman: ‘Wahai Musa seandainya seluruh langit yang tujuh penduduknya selain aku dan tujuh bumi diletakkan pada sebelah timbangan dan pahala La Ilaha Illallah diletakkan pada sebelahnya maka bobot pahala La Ilaha Illallah akan lebih berat.” (HR. Nasa’i).

Rasulullah saw bersabda:

 

عَنْ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَلَيْكُمْ بِلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَالاِسْتِغْفَارِ وَاَكْثِرُوْا مِنْهَا فَاِنَّ اِبْلِيْسَ قَالَ أَهْلَكْتُ النَّاسَ بُالذُّنُوْبِ

وَأَهْلَكُوْنِي بِلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَالِاسْتِغْفَارِ فَلَمَّا رَاَيْتُ ذَلِكَ اَهْلَكْتُهُمْ بِالْأَهْوَاِء وَهُمْ يَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ مُهْتَدُوْنَ. رواه ابو یعلی

 

Artinya:

“Dari Sayyidina Abubakar ra berkata: ‘Hendaklah kamu selalu membaca Laa Ilaha Illallah dan istighfar. Usahakan kamu membaca keduanya yang banyak. Sesungguhnya Iblis pernah bilang: ‘Aku telah merusak manusia dengan beberapa dosa yang dijalankan, dan mereka membinasakan aku dengan bacaan Laa Ilaha Illallah dan istighfar.

Ketika aku melihat mereka berbuat sedemikian rupa maka aku membinasakan mereka dengan beberapa keinginan hawa nafsu yang diikuti. Sedang mereka mengira mendapat petunjuk.'(HR. Abu Ya’la).

Rasulullah saw bersabda:

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ حَضَرَ مَلَكُ الْمَوْتِ رَجُلًا يَمُوْتُ فَشَقَّ أَعْضَاءَهَ فَلَمْ يَجِدْ عَمَلًا خَيْرًا ثُمَّ شَقَّ قَلْبَهُ فَلَمْ يَجِدْ فِيْهِ

خَيْرًا فَفَكَّ لِحْيَيْهِ فَوَجَدَ طَرَفَ لِسَانِهِ لَاصِقًا بِحَنَكِهِ يَقُوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ فَغَفَرَ لَهُ بِكَلِمَةِ الْإِخْلَاصِ. ابن ابي الدنيا و البيهقي

 

Artinya:

“Abu Hurairah berkata: Ada malaikat maut datang kepada seorang lelaki yang mati, lalu dia membedah anggota tubuh mayat itu, ternyata dia tidak menjumpai amal baik. Kemudian membedah hati mayat, ternyata di sana tidak ada amal kebaikan. Lalu dia buka mulutnya, lantas di temui ujung lidahnya melekat ke langit mulutnya yang membaca Laa Ilaha Illallah. Lalu mayat itu diampuni dosanya, lantaran kalimat ikhlas.” (HR. Ibnu Abiddunya dan Al Baihaqi).

Rasulullah saw bersabda:

 

عَنْ مُعَاذٍ رَضِیَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كَانَ آَخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ اِلَّا اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ. رواه أبو داود واحمد

 

Artinya:

“Dari sahabat Muadz ra dari Nabi saw bersabda: ‘Barangsiapa yang akhir perkataannya (di waktu akan meninggal dunia) adalah bacaan Laa Ilaha Illallah maka masuk surga.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad).

Kami memohon kepada Allah swt Yang Maha Pengasih lagi Maha Pemurah hendaknya mengakhiri perkataan kita dengan kalimat tauhid (bacaan Laa Ilaha Illallah).

Kisah Pertama:

Imam Syafi’i (Muhammad bin Idris) pernah bercerita: ‘Aku pernah melihat di Mekkah seorang yang dahulunya beragama Nasrani (boleh dibilang) dia sudah mempunyai gelar uskup. Pada kali ini sedang menjalankan thawaf. Aku berkata kepadanya: ‘Apa yang membikinmu enggan terhadap agama nenek moyangmu.’ ‘

Lalu dia berkata: ‘Aku telah menggantinya dengan jalan yang lebih baik.’ Aku (Imam Syafi’i) berkata: ‘Bagaimana kisahnya sampai demikian?’ Lalu dia bercerita kepadaku: ‘Pada suatu hari aku pergi dengan kapal laut, ketika sampai pada pertengahannya, tiba-tiba karena satu dan lain sebab, kapal itu terbelah, akhirnya aku berupaya untuk mencari keselamatan, aku bertautan dengan sepotong papan.

Kulihat gelombang laut bergumpalan, laksana gunung-gunung yang tampak dari kejauhan, aku hanya mengikuti arusnya. Akhirnya akupun terpental ke tepi laut. Lantas aku berjalan-jalan di pulau itu, di sana terdapat banyak pepohonan yang berdaun rindang, buahnya lebih manis dari madu, lebih empuk daripada keju.

Di sana juga ada sungai yang mengalir dengan indahnya, airnya tawar. Aku berkata: Alhamdulillah, aku bisa makan buah-buahan ini, aku juga bisa minum dari air sungai ini, sehingga aku memperoleh jalan petunjuk dan musibahku dipudarkan oleh Allah swt. Pada kala itu, yang paling menyusahkan, di kala matahari mulai terbenam, kegelapan telah menyelimuti alam

Aku takut apabila nanti ada binatang buas yang datang dan memakan tubuhku. Aku ingin perlindungan, lalu aku memanjat pohon di sampingku, aku duduk di atas tangkainya, akupun tertidur setelah tubuhku kuikat dengan tali, hingga pada suatu saat akupun tidak sampai terjatuh.

Namun di saat pertengahan malam telah tiba, tak kuduga, akupun melihat binatang yang berenang di air, membaca tasbih, lidahnya fasih. Dia membaca lailaha illahal Ghaffar, Muhammadun Rasulullah Annabiyyul mukhtar   (لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ الغَفَّارُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ اَلنَّبِىُّ الْمُخْتَارُ)     artinya Tidak adaTuhan selain Allah Yang Maha Pengampun, dan Muhammad adalah Rasulullah sebagai Nabi yang terpilih.

Ketika binatang tersebut mendekat ke pantai, tiba-tiba lain dari binatang biasanya, berkepala burung kasuari bertampan manusia, berkaki unta dan ekornya seperti ikan. Akupun takut kebinasaan diriku, aku turun dari pohon dan aku lari.

Lalu dia memandangku dan berkata: ‘Berhentilah, bila kamu masih tetap berlari kamu akan binasa.’ Akupun berhenti, lalu berkata: ‘Apakah agamamu?’ Aku berkata: ‘Kristen.’ Lalu dia berkata lagi: ‘Celaka kamu wahai orang yang merugi, kembalilah memeluk agama yang lurus.’

Sesungguhnya kamu sekarang bertempat di daerah jin yang mukmin, tidak akan bisa selamat kecuali orang yang muslim. Aku berkata: ‘Bagaimana caranya memeluk Islam?” Dia berkata: ‘Bacalah Asyhadu anla ilaha illallah wa anna Muhammadan Rasulullah.’ Lalu aku membacanya.

Kemudian binatang itu berkata: ‘Kamu berkehendak untuk tinggal di tempat ini atau kembali kepada keluargamu?’ Lalu aku menjawab: ‘Aku kembali kepada keluargaku.’ Kemudian dia berkata: ‘Berdiamlah di tempatmu, sebentar lagi ada kapal yang lewat di mukamu, akupun berdiam dan binatang itu juga turun ke laut lagi, hingga pergi menghilang dari pandanganku.’

Lalu ada kapal yang lewat di mukaku, akupun melambaikan tanganku untuk menyetopnya, lalu kapal itu berhenti dan membawaku. Setelah aku sampai di dalamnya, aku berjumpa dengan dua belas orang yang seluruhnya lagi memeluk agama Nasrani, lalu aku ceritakan apa yang menimpa pada diriku dan merekapun mulai sadar dan mau memeluk agama Islam.

Kisah kedua

Syekh Abdullah Al-Yafi’i (Almarhum) pernah menulis cerita dalam kitabnya Raudhur rayaahin bahwasanya pada waktu dahulu ada seorang raja yang binal, banyak melakukan perbuatan durja. Lantas kaum muslimin menyerangnya dan dapat ditangkap sebagai tawanan perang.

Lalu mereka berkata: Dengan cara bagaimana kita membunuhnya, lalu mereka bersepakat meletakkannya ke dalam bejana besar untuk memanaskan air. Lalu dibakarnya dari bawah bejana itu. Dengan cara ini mereka tidak membunuhnya tapi siksaan ini lebih bisa dirasakan terus menerus.

Akhirnya mereka melakukan apa yang telah disepakati di dalam perkumpulan, lantas si raja yang tertawan itu memanggil tuhan-tuhannya satu persatu, rupanya tuhan-tuhan itu tetap membisu, tuli tidak mendengarkan ucapannya. Dia berkata wahai fulan sesungguhnya aku menyembahmu agar kamu menyelamatkan aku dari bencana yang menimpaku.

Rupanya setelah harapannya kepada tuhan-tuhan sudah putus, lalu dia mengangkat kepalanya ke langit dan membaca Laa Ilaha Illallah serta berdoa dengan hati yang ikhlas. Lalu do’anya mendapat tanggapan dari Allah swt dan hujanpun turun seketika sehingga bisa memadamkan api itu.

Kemudian ada angin kencang yang datang dari arah yang tidak diketahui, lalu bisa membawa bejana itu ke atas berputar-putar antara langit dan bumi. Raja tadi tetap membaca Laa Ilaha Illallah. Lalu dilemparkan ke daerah dimana penduduknya tidak menyembah kepada Allah swt. Akhirnya mereka mengeluarkannya dari bejana itu dan berkata: ‘Ada apa kamu?’

Lalu dia berkata: ‘Aku ini raja bani fulan, aku pernah mengalami peristiwa yang amat pedih.’ Lalu diceritakanlah apa yang dialaminya, akhirnya penduduk daerah itu beriman seluruhnya.

Kisah ketiga

Syekh Abu Zaid Al Quthubi pernah bercerita bahwa dia pernah mendengar dari orang-orang tua dahulu yaitu ada atsar yang mengatakan: Barangsiapa yang membaca Laa Ilaha Illallah tujuh puluh ribu kali maka bisa digunakan tebusan dari api neraka.

Dengan demikian seorang yang membacanya akan masuk surga, akupun tidak segan-segan melakukannya, lantaran menginginkan mendapatkan janji yang menyenangkan itu. Aku membaca Laa Ilaha Illallah sebanyak tujuh puluh ribu kali dengan niat untuk keluargaku agar diselamatkan dari api neraka dan yang lain aku simpan untuk diriku sendiri.

Ada seorang pemuda yang ketepatan menginap di rumahku. Ada orang bilang pemuda itu bisa melihat surga dan neraka dengan kasyaf. Tapi tidak seterusnya, namun pada suatu saat belaka. Orang-orang juga mengakui atas kelebihan pemuda itu sekalipun usianya masih pendek. Ada sesuatu yang perlu kubuktikan kepada pemuda itu.

Pada suatu hari ada sebagian teman mengundang kami agar pergi ke rumahnya, kitapun bertemu dengan pemuda itu lagi. Lalu kita sama-sama memakan hidangan, dan meminumnya. Tiba-tiba pemuda itu menjerit dengan suara yang keras. Dia berkata: Wahai pamanku ini ibuku sedang berada di neraka.

Lalu pemuda itu menjerit dengan suara yang keras lagi, orang-orang yang mendengarkan bahwa di balik jeritannya itu ada sesuatu yang mengejutkan. Aku berkata: Pada hari aku ingin mencoba atas kebenaran anggapan pemuda itu.

Lalu Allah menurunkan ilham padaku agar aku membaca Laa Ilaha Illallah tujuh puluh ribu kali sebagai tebusan untuk ibunya pemuda ini, tidak ada seorangpun yang mengetahui bahwa aku diberi ilham seperti itu.

Aku berkata: Atsar atau hadis tersebut jelas benar, perawi-perawinya juga orang-orang yang bersungguh-sungguh, tidak bohong. Aku berkata: ‘Ya Allah sesungguhnya bacaan Laa Ilaha Illallah sebanyak tujuh puluh ribu itu sebagai tebusan ibu pemuda ini.’ Kata hati itu masih belum berhenti, pemuda itu berkata: ‘Wahai pamanku ini ibuku dikeluarkan dari api neraka dan Alhamdulillah. (*)

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

Reminder Shalat Dhuha
Oleh : Immim pangkep

Reminder Shalat Dhuha

0 Komentar

KELUAR