
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
BLOGGURU – Apabila bilangan hari dalam sebulan, Ramadhan pasti berlalu dan sungguh sia-sialah segala waktu, tenaga dan kegiatannya yang tidak memanfaatkannya untuk memuliakan dan mengejar keberkahan Ramadhan. Sebagai seorang muslim yang paham betul fadhilah atau keutamaan Bulan Ramadhan, tentu tidak akan mau menyia-nyiakan sedetikpun untuk membiarkan waktu-waktu ramadhan berlalu tanpa mengejar pahala yang bilangan pahalanya dilipat-gandakan.
Qadarullah, Ramadhan pasti akan pergi, dan kita hanya berharap dapat dipanjangkan umur agar masih mendapati Ramadhan pada tahun depan. Apa yang harus dilakukan di penghujung Ramadhan? Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah ta’ala dalam “Majālis Syahri Ramadhan hal : 119″mengatakan, “Pada penutupan bulan Ramadhan ini, dahulu para salafush shalih mereka Memperbanyak istighfar, Bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan Khawatir tidak diterimanya amalan. Mereka bersungguh-sungguh dalam beribadah pada bulan Ramadhan dan selainnya, kemudian rasa khawatir tidak diterimanya satupun amalan mereka menimpa mereka . Mereka senantiasa beristighfar dan bertaubat kepada Allah “.
Alhamdulillah, suatu kesyukuran yang tak terhingga rasanya jika mendapati diri dan semua saudara muslim tetap konsisten (istiqamah) dalam memuliakan bulan ramadhan. Dari sejak kabar kedatangan ramadhan, memasuki 10 hari pertamanya, 10 hari keduanya, sampai 10 hari ketiganya saat ini, perlu terus dijaga keistiqomahan tersebut.
Bukankah kita selalu diingatkan bahwa istiqomah itu suatu hal yang berat, dan karenanya perlu konsistensi dalam beramal. Para ulama shalafus shaleh selalu menasehatkan agar selalu menjaga keistiqomahan dalam beragama. Sebagaimana diungkapkan oleh Ibnul Qayyim al-Jauziyyah bahwa Amalan tergantung akhirnya.
Al-Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah mengatakan
من أحدث قبل السلام بطل ما مضى من صلاته، ومن أفطر قبل غروب الشمس ذهب صيانه ضائعا، ومن آساء في آخر عمره لقي ربه بذلك الوجه.
Artinya: ‘
“Siapa berhadats sebelum salam, maka shalatnya batal. Siapa yang berbuka sebelum terbenamnya matahari, maka puasanya hilang sia-sia. Dan barang siapa melakukan keburukan di akhir hidupnya, maka dia bertemu Rabbnya semisal itu (merugi, tidak berguna amalannya).” [Sumber: al-Fawaid, hlm. 71]
Demikian, wallahu ‘alam bish-shawab. (*)