
Related Post: Terjemah Kitab Irsyadul ‘Ibad (5): Bab Wudhu’
BLOGGURU – Berikut ini sambungan dari terjemahan sebelumnya dari Kitab Irsyadul ‘Ibad, Bab Wudhu, Pasal Sunnah-sunnah Wudhu’
Sunnah-sunnah wudhu’ adalah:
1. Membaca bismillah sebelum berwudhu.’ Dalam hal ini, Rasulullah saw bersabda:
Artinya:
“Shalat tidak sah bagi orang yang tidak berwudhu’ dan wudhu’ tidak sempurna bagi orang yang tidak membaca bismillah (tidak menyebut nama Allah swt).” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).
2. Membasuh kedua telapak tangan sebelum dimasukkan ke tempat air.
3. Bersiwak (menggosok gigi) dengan sesuatu yang kasar kecuali bagi seseorang yang berpuasa setelah matahari condong ke barat. Dalam hal ini, Rasulullah saw bersabda:
Artinya:
“Seandainya aku tidak membikin berat kepada umatku, niscaya kuperintahkan mereka untuk bersiwak pada tiap-tiap berwudhu.” (HR. Imam Malik dan Syafi’i).
4. Berkumur
5. Menghirup air dengan hidung, lebih afdhal lagi apabila di masukkan ke hidung hingga bagian dalam bagi orang yang tidak berpuasa. Untuk cara yang terbaik dalam berkumur dan menghirup air dengan hidung hendaklah mengambil air tiga kali dengan telapak tangan, lantas digunakan untuk keduanya dan air itu disemprotkan keluar.
6. Mengusap seluruh kepala.
7. Mengusap kedua telinga, luar dan dalam.
8. Membasuh sela sela rambut jenggot dan godek yang tebal begitu juga membasuh sela-sela jari-jari tangan dengan cara menjalin jari-jari yang kiri ke jari-jari yang kanan.
9. Membasuh sela-sela jari-jari dua kaki dari arah bawah dengan jari kelingking tangan yang kiri. Dalam hal ini, Rasulullah saw bersabda:
Artinya:
“Malaikat Jibril pernah datang kepadaku, lalu berkata: “Apabila engkau berwudhu,’ maka basuhlah sela-sela jenggotmu.” (HR. Ibnu Abi Syaibah).
Rasulullah saw juga bersabda:
Artinya:
“Basuhlah sela-sela jarimu, Allah swt tidak akan membakarnya dengan api. Kemudian beliau saw bersabda: “Celaka bagi tumit dari ancaman api neraka.” (HR. Addaraquthni).
10. Menggosok anggota wudhu.’
11. Hendaklah seorang yang berwudhu’ (setelah selesai) menghadap kiblat, mengangkat kedua tangannya dan mengarahkan pandangannya ke langit, sekali-pun orang buta lalu membaca do’a sebagai berikut:
Setelah itu membaca Surat Inna Anzalnahu.
Rasulullah saw juga bersabda:
Artinya:
“Barangsiapa berwudhu’ lalu dilakukannya dengan dan ( أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ ) baik, kemudian melihat ke langit, membaca seterusnya) maka delapan pintu surga dibuka untuknya, dia boleh masuk dari pintu yang mana yang dikehendaki.” (HR. Muslim).
Dalam hadis lainnya, Rasulullah saw bersabda:
Artinya:
“Barangsiapa yang berwudhu,’lalu membaca:
Artinya:
Maka pahalanya ditulis pada kulit, kemudian dicap dan tidak akan robek sampai hari kiamat.” (HR. Al-Hakim).
Rasulullah saw bersabda, yang artinya: “Barangsiapa yang membaca Surat Inna anzalnaahu dan seterusnya setelah wudhu’ sekali maka termasuk orang-orang yang siddiq (bersungguh dalam menjalankan agama).
Dan barangsiapa yang membacanya dua kali maka ditulis dalam setambuk orang-orang mati syahid. Dan barangsiapa yang membacanya tiga belas kali, maka Allah swt kelak akan menghimpunnya bersama paranabi di padang mahsyar kelak.” (HR. Addailami).
12. Membasuh atau mengusap anggota wudhu’ tiga kali. Dan menghadap kiblat dalam membasuh masing-masing anggota wudhu.
13. Berniat pada waktu mengerjakan sunah wudhu’ yang pertama kali agar diberi pahala karenanya, begitu juga membacanya dengan pelan-pelan.
14. Memperhatikan kulit yang mengkerut, saluran air mata dan ekor mata dan menggosoknya dengan air, kalau tidak kotoran mata yang bisa menghalangi sampainya air pada kulit. Kalau memang ada tahi matanya maka menggosoknya dengan telunjuk adalah wajib.
15. Apabila membasuh wajah, hendaknya mengambil air dengan dua telapak tangan secara bersamaan, tidak usah di tamparkan dan mulai membasuhnya hendaknya dari atas sendiri, jangan dari pertengahan wajah.
Untuk membasuh dua kaki dan kedua tangan disunahkan membasuhnya dari jari-jari, sekalipun ada orang lain yang menuangkan air padanya. Untuk kepala Disunahkan membasuhnya dari arah muka.
16. Memanjangkan basuhan kedua tangan dan kaki. Dalam hal ini, Baginda Rasullah saw bersabda:
Artinya:
“Sesungguhnya umatku di datangkan di hari kiamat dalam keadaan bersinar kedua tangan dan kedua kakinya lantaran bekas air wudhu.’ Oleh karena itu barangsiapa yang bisa memperpanjang cahayanya maka kerjakanlah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
17. Mendahulukan yang kanan daripada anggota wudhu.’
18. Berturut-turut.
19. Tidak berbicara atau minta tolong di waktu wudhu’ dan setelah wudhu’ juga tidak dihanduki atau dikibas-kibas agar airnya jatuh apabila tidak ada keperluan.
20. Tidak menggunakan ceret.
21. Minum air yang tersisa setelah dibuat wudhu.’
22. Bersungguh-sungguh dalam menyempurnakan wudhu.
Dalam hal ini, Baginda Rasulullah saw bersabda:
Artinya:
“Batas pakaian orang-orang mukmin (pada hari kiamat) adalah sampai dimana batas air wudhu’nya.” (HR. Muslim).
Rasulullah saw bersabda:
Artinya:
“Seseorang tidak akan berwudhu’ dengan sempurna kecuali dosa yang dahulu dan yang mendatang akan di ampuni.”
23. Memercikkan air ke sarungnya yang berdekatan dengan kemaluan setelah berwudhu,’ seperti orang yang habis istinja lalu berwudhu.’ Dalam hal ini, Baginda Rasulullah saw bersabda:
Artinya:
“Malaikat Jibril pernah datang kepadaku, pada masa permulaan aku diberi wahyu, lalu mengajariku tentang tata cara berwudhu, maka ketika selesai wudhu,” lalu mengambil air satu telapak tangan, lalu dipercikkan pada kemaluannya.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim).
Tidak disunahkan membasuh leher atau membaca do’a di waktu membasuh anggota wudhu.’ Sebab hadisnya sangat lemah, sehingga tidak perlu dijalankan.
Catatan Kecil:
Seseorang hendaknya berwudhu’ dan membasuh anggota yang wajib belaka, lantaran waktu shalat hampir berakhir, sehingga tidak bisa melakukan shalat secara keseluruhan pada waktunya. Atau boleh juga dikarenakan ketinggalan jama’ah, sebab shalat berjama’ah jelas lebih afdhal dari menigakalikan basuhan kepada anggota wudhu. Begitu juga daripada menjalankan kesunatan wudhu’ yang lain, kecuali menggosok anggota wudhu’ dengan tangan. Keterangan tersebut diatas berlaku apabila seseorang tidak mengharapkan jama’ah lain. (*)